Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 184 – Enam Praktek 10 Bhumi Bagian 11

Saudara se-Dharma sekalian, setiap saat kondisi batin kita berubah mengikuti kondisi. Akan tetapi, sebagai praktisi pelatihan diri, kita harus mengendalikan batin sesuai kondisi. Inilah keterampilan yang harus selalu kita asah. Secara perlahan-lahan Buddha membimbing semua makhluk yang memiliki 84.000 noda batin dengan 84.000 metode atau pintu Dharma

 Perlahan-lahan Buddha membuat kita bertekad dan selangkah demi selangkah berjalan dengan mantap dari kesesatan menuju kesadaran. Karena itu, dibabarkanlah Sepuluh Bhumi. Dengan menelusuri Sepuluh Bhumi ini, kita seharusnya dapat memahami berbagai kondisi batin. Dengan melapangkan hati, kita dapat memahami segala sesuatu di dunia. Kita paham bagaimana bekerja, bagaimana membangun kualitas sebagai manusia, dan bagaimana menyatu dengan kebenaran. Semua ini dapat kita pahami dalam perjalanan batin kita. Mengenai Sepuluh Bhumi, kita telah membahas hingga Bhumi Awan Dharma

 Bhumi Awan Dharma adalah yang kesepuluh. Kita memulai pembahasan dari Bhumi Sukacita. Mengenai sukacita, banyak penderitaan dalam kehidupan, bagaimana kita bisa bersukacita? Banyak noda batin dalam kehidupan ini, Sebaliknya, langkah awal belajar ajaran Buddha adalah belajar melapangkan hati. Dengan hati lapang, segala masalah dapat diatasi. Jika begitu, apa lagi yang harus dirisaukan? Asalkan dapat melapangkan hati, maka tiada masalah apa pun yang dapat membuat kita tidak sukacita. Terlebih lagi, rasa sukacita terbesar adalah memperoleh Dharma. Dahulu kita tidak mengenal Dharma. Karena itu, penuh benturan dan noda batin dalam hubungan antarsesama

 Karena pandangan yang berbeda-beda, timbullah berbagai belenggu batin antarsesama, seperti cinta, benci, sayang, dan dendam. Belenggu batin ini pun tidak pernah terurai. Jika kita dapat melapangkan hati, maka segala belenggu cinta, benci, sayang, dan dendam tidak akan ada lagi. Dengan begitu, kita akan selalu bersukacita. Ini karena kita telah memperoleh Dharma, ajaran Buddha telah benar-benar meresap dalam batin kita. Dengan adanya Dharma yang meresap dalam batin kita, maka saat kita melihat kondisi luar, bagaimana pun keadaannya, batin kita tidak akan tercemar olehnya

 Batin kita tidak akan terpengaruh. Sebaliknya, kita dapat mengubah cara pandang terhadap kondisi itu. Kita dapat mengubah dendam menjadi budi, mengubah kebencian menjadi cinta kasih. Cinta kasih yang kita bahas di sini adalah cinta kasih yang murni tanpa noda. Dengan memilikinya, bukankah kita akan dapat menghadapi semua orang dengan sukacita? Bukankah kita dapat menghadapi semua masalah dengan sukacita? Jadi, Bhumi pertama mengajarkan bahwa di dalam batin, kita harus menumbuhkan rasa sukacita. Kita harus bersukacita setiap hari, setiap waktu, setiap bulan, dan setiap tahun

 Inilah Bhumi Sukacita, batin kita senantiasa diliputi rasa sukacita. Bhumi kedua adalah Bhumi Bebas Kotoran. Bagaimana agar kita dapat selalu bersukacita? Kotoran yang dimaksud adalah noda batin. Mengenai noda batin, saat dalam pikiran kita muncul berbagai niat yang bukan-bukan, itulah tanda munculnya noda batin. Jadi, sering dikatakan bahwa hendaklah kita melepaskan segala masalah yang sudah berlalu. Jika kita terus memikirkan yang sudah berlalu, maka sama saja dengan bepikir yang bukan-bukan

 Bagaimana dengan masa depan? Masa depan juga tidak perlu terlalu dipikirkan. Semua itu termasuk pikiran yang bukan-bukan, pikiran yang ilusif dan tercemar. Semua itu adalah noda batin. Kita harus mempertahankan pikiran murni dengan selalu berada di saat ini. Dengan begitu, kita akan bisa bebas kotoran

 Dapat melepaskan segala noda batin, batin selalu murni dan penuh sukacita tanpa ternoda, inilah yang disebut Bhumi Bebas Kotoran. Yang ketiga adalah Bhumi Cahaya Cemerlang. Manusia pada dasarnya memiliki cahaya kebijaksanaan setara Buddha. Kalau begitu, mengapa batin makhluk awam bisa diliputi kegelapan? Kegelapan ini disebabkan oleh ketidaktahuan. Ketidaktahuan adalah sumber dari berbagai kotoran batin. Kegelapan batin ini selalu menutupi kita. Kita sering mengumpamakannya dengan sebuah lampu

 Lampu pada awalnya sangatlah terang. Meski lampu dinyalakan, jika ia ditutupi oleh kain hitam, maka cahayanya tidak dapat memancar ke luar. Meski kita telah mempelajari ajaran Buddha telah mendengar banyak Dharma, dan meski kebijaksanaan dalam batin kita juga sudah terbangkitkan, tetapi kita kurang melakukan praktik nyata. Kita hanya sebatas tahu. Ajaran Buddha dari A sampai Z telah kita ketahui semua, tetapi itu hanya sebatas pengetahuan semata. Kita tidak dapat menyatu dengan kondisi, tidak memiliki pemahaman mendalam. Kita tidak memperoleh pemahaman mendalam karena kita tidak mengembangkan potensi yang ada. Sama seperti saat menyalakan lampu, fungsinya adalah menerangi kondisi di luar

 Jika kita menutupi lampu itu dengan kain, maka seterang apa pun cahayanya di dalam, ia tetap tidak dapat menjalankan fungsinya ke luar. Cahayanya tidak akan memancar ke luar. Jadi, kita harus mengembangkan potensi kebijaksanaan kita agar dapat berfungsi secara nyata. Inilah yang disebut Bhumi Cahaya Cemerlang. Sulit untuk terlahir sebagai manusia, sulit pula menjalin jodoh dengan Dharma. Kita yang telah terlahir sebagai manusia dan telah bertemu ajaran Buddha harus menggenggam jalinan jodoh ini dan kembali menjalin jodoh Dharma yang lebih banyak lagi

 Karena itu, kita harus terjun ke tengah masyarakat dan berbagi Dharma yang telah kita rasakan manfaatnya agar orang-orang yang mengalami kebuntuan pikiran dapat turut memahami kebenaran lewat cerita pengalaman yang kita bagikan. Ini disebut mengembangkan fungsi cahaya. Dengan begitu, kita bagai menyalakan banyak pelita. Dari satu pelita yang kita miliki, banyak orang dapat mengambil api. Untuk membuat keadaan terang-benderang, satu pelita tidaklah cukup. Diperlukan banyak orang yang menyalakan pelita Dahulu kita pernah membahas sebuah kisah. Dikisahkan bahwa Buddha berkata kepada para siswa-Nya, “Jika sebuah pelita dinyalakan, lalu ribuan pelita lainnya dinyalakan dengan mengambil api pelita yang pertama, apakah api dari pelita pertama ini akan berkurang?” Siswa-Nya menjawab, “Tidak, api pelita pertama itu masih tetap menyala.” “Setelah pelita-pelita lain dinyalakan dari api pelita pertama, apakah keadaan akan bertambah terang?” “Ya, jauh lebih terang

” Dengan mengambil api dari satu pelita untuk menyalakan ribuan pelita, keadaan dengan sendirinya menjadi terang-benderang. Jadi, Bhumi Cahaya Cemerlang berarti selain membimbing diri sendiri, kita juga harus membimbing orang lain. Makhluk awam memiliki batin yang gelap. Setiap orang termasuk makhluk awam. Setiap orang diliputi kegelapan

 Kondisi manusia saat ini juga sangat gelap, penuh kekacauan dalam masyarakat. Ini berawal dari kekacauan dalam batin satu orang yang kemudian menyebar ke dalam batin banyak orang. Akibatnya, terjadilah kekacauan masyarakat. Mengapa kekacauan bisa terjadi? Karena manusia tidak memahami kebenaran. Manusia tidak paham. Tidak paham berarti diliputi ketidaktahuan. Ketidaktahuan sama dengan kegelapan. Jadi, kini yang terpenting adalah menyalakan pelita batin setiap orang. Inilah Bhumi Cahaya Cemerlang

 Saat pelita batin telah menyala, dan yang menyala bukan hanya satu, maka sampailah kita pada Bhumi Kebijaksanaan Membara. Jadi, yang menyala bukan hanya satu pelita, yang membuat kita hanya tahu kondisi tertentu saja. Kebijaksaaan membara berarti cahaya kebijaksanaan kita tidak terbatas bagaikan cahaya matahari. Matahari menyinari seluruh bumi, baik gedung bertingkat maupun rumah-rumah yang kecil. Asalkan matahari bersinar pada siang hari, maka baik gedung bertingkat, rumah kecil, gunung, pohon, maupun rerumputan dan bunga di padang, semuanya akan tersinari. Jadi, pada Bhumi Kebijaksanaan Membara, Bodhisattva telah mencapai kebijaksanaan yang merata, sangat cemerlang, dan dapat menyinari setiap sudut yang gelap. Jadi, kebijaksanaan kita harus sampai pada tahap ini. Dengan begitu, kebenaran apa lagi yang tak dipahami? Orang seperti apa lagi yang tak dapat kita bimbing? Kebijaksanaan para Buddha dan Bodhisattva terus-menerus menerangi batin semua makhluk yang penuh kegelapan dan membimbing mereka hingga mencapai kebijaksanaan yang sama dengan Buddha

 Inilah Bhumi Kebijaksanaan Membara. Berikutnya adalah Bhumi Tak Terkalahkan. Untuk mencapai kebijaksanaan membara tentu tidaklah mudah. Sesungguhnya, malah sangat sulit. Akan tetapi, asalkan ada tekad, maka tiada yang sulit. Asalkan Anda memiliki tekad yang teguh, maka tiada yang sulit. Kita harus berpikir seperti itu

 Semua kondisi sesungguhnya tidak lepas dari kehidupan kita. Kesulitan tidak lepas dari pengaruh pikiran kita. Dalam menghadapi masalah, orang, dan segala sesuatu, selalu ada kesulitan. Asalkan kita memiliki tekad yang teguh, memiliki kebijaksanaan, dan memiliki niat, Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, ini adalah salah satu kuncinya. Kita harus punya tekad melatih diri yang teguh. Saya sering mengatakan bahwa kita harus teguh di Jalan Bodhi tanpa tergoyahkan. Kita harus mengembangkan potensi bajik kita. Mengenai potensi bajik, asalkan Anda memiliki tekad, pasti dapat mengembangkan potensi bajik ini. Jadi, kesulitan sesungguhnya hanya terletak pada pikiran

 Begitu tekad Bodhisattva terbangkitkan dan senantiasa kita pertahankan, maka di mana lagi kesulitan itu ada? Kita tak akan dikalahkan oleh kesulitan. Berikutnya adalah Bhumi Manifestasi. Mengenai Bhumi Manifestasi, meski dalam melatih diri kita harus melewati berbagai rintangan, tetapi saat satu rintangan dapat diatasi, maka kita akan menemukan kondisi yang lapang dan cemerlang tanpa batas. Kita sering mendengar bahwa sesuatu sangatlah sulit. Akan tetapi, kita memiliki keyakinan bahwa kita mampu mengatasinya. Ini adalah sebuah keyakinan diri. Saat mampu mengatasi dan menang dari kesulitan, kita akan merasakan perasaan yang sangat bahagia, perasaan yang penuh pencapaian

 Inilah Bhumi Manifestasi. Kita telah membuktikan bahwa setiap orang memiliki potensi kebijaksanaan. Jadi, asalkan ada tekad, maka tiada kesulitan. Ia berisi sebuah pembuktian, membuktikan bahwa dari tingkatan makhluk awam ke tingkatan Buddha, meski banyak kesulitan yang harus dilewati, tetapi asalkan ada tekad, maka keberhasilan juga akan dapat dicapai. Kita dapat mengatasi kesulitan. Ini adalah sebuah pembuktian langsung. Pembuktian dari keberhasilan ini disebut Bhumi Manifestasi

 Berikutnya adalah Bhumi Jangkauan Jauh. Sering dikatakan bahwa Buddha melatih diri selama tiga Asamkhyeya Kalpa. Dari kehidupan ke kehidupan, Beliau terus melatih diri di dunia. Karena itu, dalam Sutra Bunga Teratai Buddha membahas teladan Bodhisattva Sadaparibhuta yang dalam proses-Nya melatih diri, Beliau tidak pernah meremehkan orang lain karena Beliau menganggap semua orang adalah Bodhisattva yang datang kembali ke dunia dan mungkin merupakan calon Buddha. Terhadap siapa pun, kita harus memiliki rasa hormat

 Inilah teladan Bodhisattva Sadaparibhuta, tidak meremehkan siapa pun. Karena itu, saya juga sering berkata bahwa saat berjalan bertiga bersama orang lain, kita pasti dapat menemukan guru. Artinya, dua orang ditambah diri kita sendiri. Selain diri kita sendiri, dua orang lainnya dapat kita jadikan guru. Misalnya, seorang dari mereka berperilaku baik, bermoral, bijaksana, dan berwawasan. Dia adalah orang yang berbudi pekerti luhur, maka kita layak belajar darinya. Dia adalah guru yang positif bagi kita. Kita harus menghormatinya. Kita harus menghormati guru yang memberi ajaran positif ini

 Seorang yang lain mungkin sebaliknya. Kita mungkin melihat orang itu tidak baik. Kita bertanya-tanya mengapa ada orang seperti itu, sama sekali tidak berbudi pekerti. Akan tetapi, orang seperti itu, bolehkah kita remehkan? Tidak. Kita bahkan harus berterima kasih kepadanya

 Jika tidak ada orang seperti dirinya yang berperilaku negatif, kita tidak akan bisa membandingkannya dengan yang positif. Jadi, orang yang satu membimbing kita menuju arah yang positif, sedangkan yang satu lagi menunjukkan kepada kita cerminan orang yang salah jalan. Jadi, kedua orang ini sama-sama merupakan guru kita. Kalian mungkin masih ingat saat berencana membangun rumah sakit, saya harus menghadapi banyak kesulitan. Suatu ketika saya berkunjung ke kediaman Wakil Presiden Xie untuk mengutarakan bahwa saya membutuhkan bantuan berkenaan dengan lahan. Saat itu beliau berkata kepada saya, “Master, Anda sangat polos.” “Apakah Anda benar-benar ingin membangun RS?” “Meski membangun RS adalah hal yang baik, tetapi bagi Anda tentu sangat sulit.” Saya bertanya, “Kesulitan apa yang Anda maksud?” Beliau menjawab, “Saya rasa Anda harus banyak melihat bagaimana orang lain bisa berhasil menjalankan RS.” “Sudahkah Anda meminta petunjuk orang lain bagaimana mereka dapat berhasil?” Saya berterus terang kepada beliau, “Saya tidak pernah bertanya bagaimana orang lain bisa berhasil

” “Sebaliknya, saya terus meminta petunjuk tentang apa yang membuat mereka tidak berhasil.” Beliau berkata, “Aneh sekali.” “Kita harus bertanya bagaimana orang lain bisa berhasil, mengapa Anda malah bertanya bagaimana mereka gagal?” Saya menjawab, “Zaman terus berubah.” “Banyak jalan menuju keberhasilan.” “Saya berpikir, jika sekarang bertanya bagaimana mereka bisa berhasil, maka pada saat RS kami selesai dibangun nanti, keadaannya mungkin sudah berbeda.” “Akan tetapi, ada satu hal yang saya perhatikan, yaitu mengapa orang lain bisa gagal.” “Jika tidak gagal, maka tentu berhasil.” Beliau berkata, “Saya belum pernah mendengar filosofi seperti itu.” “Dipikir-pikir, ada benarnya juga

” “Tidak gagal berarti berhasil.” Benar, perjalanan yang harus dilalui sangatlah panjang. Bagaimana agar bisa berhasil? Sesungguhnya, jika kita dapat teguh menunaikan kewajiban dan memikul tanggung jawab, saya percaya kewajiban ini akan dapat selesai dengan baik. Waktu dan kondisi senantiasa berubah. Bagaimana agar dalam hubungan antarmanusia, kita bisa mencapai keharmonisan dan kesempurnaan? Saya sering berkata bahwa jika dapat menghadapi orang dan masalah dengan harmonis, berarti kita sudah selaras dengan kebenaran. Jika bisa menyelesaikan masalah dengan sempurna, berarti kualitas diri kita pun baik dan sempurna. Dengan kualitas diri yang sempurna, berarti kita selaras dengan kebenaran. Jadi, kita harus tahu bahwa diperlukan waktu yang panjang untuk menyelesaikan perjalanan ini

 Perjalanan ini sangat jauh. Inilah Bhumi Jangkauan Jauh. Kita harus selalu mawas diri. Setelah membuktikan bahwa jalan yang kita tempuh ini tidak salah, maka kita harus mempertahankan tekad di jalan ini. Arah kita tidak boleh menyimpang. Dengan begitu, sejauh apa pun perjalanan kita, kita tidak akan salah jalan. Bhumi Tak Tergoyahkan berarti mempertahankan tekad tanpa goyah. Seiring berlalunya waktu, perjalanan yang panjang dan memakan waktu lama dapat membuat orang merasa lelah

 Akan tetapi, praktisi Pembina diri tidak boleh kenal lelah. Kita harus selalu tekun dan bersemangat. Bersemangat berarti terus maju melangkah. Di tengah proses ini, tekad kita tidak boleh goyah. Karena itu, tadi saya mengatakan bahwa tekad Bodhisattva harus dipertahankan tanpa goyah. Potensi bajik diri kita harus dikembangkan. Inilah Bhumi Tak Tergoyahkan. Mengenai Bhumi Kebijaksanaan Bajik, kita bukan hanya harus memiliki kebijaksanaan, tetapi juga harus melakukan praktik nyata. Kita harus melakukan berbagai kebajikan. Dengan begitu, kita baru bisa membimbing orang lain untuk turut mencapai kebijaksanaan. Karena itu, kita sering membahas tentang praktik welas asih dan kebijaksanaan sekaligus

 Mengenai welas asih dan kebijaksanaan, kebanyakan kita mengedepankan welas asih terlebih dahulu, baru kebijaksanaan. Welas asih adalah kebajikan, kebijaksanaan adalah kearifan. Inilah praktik welas asih dan kebijaksanaan sekaligus. Welas asih dan kebijaksanaan harus dipraktikkan secara bersamaan. Dengan demikian, kita akan mencapai Bhumi Awan Dharma. Sebelumnya kita membahas bahwa Bhumi Awan Dharma adalah batin yang bebas rintangan. Inilah Bhumi Awan Dharma. Saudara sekalian, sebelumnya kita juga pernah membahas bahwa berkah adalah rasa sukacita yang diperoleh saat bersumbangsih. Dari Bhumi Sukacita, Bhumi Bebas Kotoran, Bhumi Cahaya Cemerlang, Kebijaksanaan Membara, hingga Bhumi Tak Terkalahkan, inilah berkah yang didapat dari sukacita dalam bersumbangsih. Jika kita dapat selalu bersukacita, maka tiada kesulitan yang bisa merintangi. Bhumi Manifestasi, Jangkauan Jauh, Bhumi Tak Tergoyahkan, Bhumi Kebijaksanaan Bajik, dan Bhumi Awan Dharma, intinya adalah pengertian

 Pengertian adalah kebijaksanaan. Dari sana, kita memperoleh kebebasan. Karena itu, dahulu saya sering mengatakan bahwa berkah didapat dari rasa sukacita saat bersumbangsih. Setiap hari kita selalu penuh rasa sukacita

 Kebijaksanaan adalah sikap penuh pengertian. Artinya, tiada lagi yang dapat mengganggu kita. Noda batin yang sudah berlalu kita biarkan berlalu. Batin kita tidak lagi penuh noda. Inilah kecemerlangan. kita dapat menyempurnakan Sepuluh Bhumi. Saat melatih diri dalam keseharian, kita harus memahami segala hal dengan jelas, tidak lagi dipengaruhi kegelapan batin. Untuk itu, kita harus bersungguh hati, mengubah cara pandang saat menghadapi kondisi. Jangan biarkan batin terpengaruh kondisi luar. Jadi, semua harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888