Sanubari Teduh – 187 – Enam Keinginan Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, meneladani Buddha berarti harus belajar praktik Mahayana. Untuk itu, kita harus lebih dahulu memahami penderitaan, memahami bahwa dunia ini penuh penderitaan. Dengan begitu, kita baru bisa memahami kebenaran tentang penderitaan. Inilah kebenaran tentang penderitaan. Jadi, setelah orang-orang tahu tentang penderitaan, berikutnya adalah mencari cara untuk bebas dari penderitaan itu. Untuk bebas dari penderitaan, kita harus sungguh-sungguh melatih diri. Setelah itu, kita dapat berbagi dengan orang lain tentang cara kita melatih diri untuk terbebas dari penderitaan
Berhubung terlah terbebas dari penderitaan, batin kita pun merasakan sukacita. Ini pun kita bagikan kepada semua orang. Setelah memahami penderitaan, kita berbagi tentang itu. Setelah memperoleh sukacita, kita juga berbagi caranya kepada semua orang. Inilah cara kita membimbing diri sendiri dan orang lain; membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain; mencerahkan diri sendiri dan orang lain. Inilah kesempurnaan kesadaran dan praktik. Jadi, semangat Mahayana berarti harus senantiasa bersukacita mengembangkan segala kebajikan
Kita harus senantiasa bersukacita dan segera melatih diri. Kita telah membahas bahwa praktisi Mahayana bukan berarti merasa diri telah mencapai tingkatan tertentu, merasa semua adalah kosong dan segalanya tidak ada karena tidak melekat. Bukan begitu. Kita tidak perhitungan dan tidak melekat dalam hubungan antarmanusia. Ini berarti kita membuka hati kita, maka terhadap segala masalah dengan orang lain, kita tidak menyimpannya di dalam hati. Akan tetapi, kita harus membimbing diri sendiri dan orang lain. Untuk itu, kita harus selalu bersukacita mengembangkan segala kebajikan. Kita harus membina segala kebajikan. Menjauhi segala kejahatan dan melakukan segala kebajikan, bukankah ini yang diajarkan Buddha kepada kita? Kita juga harus berwelas asih terhadap semua makhluk
Di dalam batin kita sendiri, kita harus terus mengembangkan welas asih, dan welas asih ini harus universal. Kita harus memiliki hati yang lapang hingga seluas jagat raya. Begitu banyak makhluk yang menderita di dunia. Karena itu, welas asih kita harus meluas. Kita juga harus senantiasa membawa manfaat dan kebahagiaan. Kita bukan hanya berkata kita memiliki welas asih dan iba terhadap semua makhluk di dunia
Apakah ini saja cukup? Tidak cukup. Kita harus melakukan praktik nyata. Praktik nyata seperti apa? Melakukan hal-hal yang membawa manfaat dan kebahagiaan serta berusaha agar semua makhluk di dunia dapat hidup tenteram dan bahagia. Inilah yang harus kita bina selalu. Jadi, terhadap makhluk yang menderita, kita harus menolong dan membebaskan mereka. Penderitaan bukan hanya akibat kekurangan materi. Sesungguhnya, ada pula penderitaan batin, yakni batin yang kosong dan tidak memahami kebenaran. Jadi, kita harus segera menolong dan membebaskan semua makhluk dari segala penderitaan akibat kelahiran dan kematian tanpa mementingkan kesenangan diri sendiri
Dalam bersumbangsih, kita harus menghadapi berbagai kesulitan. Dalam menapaki Jalan Bodhisattva, kita tidak boleh mementingkan kesenangan diri sendiri. Kita tidak boleh perhitungan dengan berkata, “Saya melakukan ini, lalu apa yang saya dapatkan?” Kita berpikir apa yang didapat atau takut energi yang dikeluarkan terlalu banyak dan kita terlalu lelah. Kita tidak boleh berpikir seperti itu. Kita seharusnya hanya berharap membahagiakan semua makhluk. Jika ingin mengejar kebahagiaan, maka harus mengejar kebahagiaan semua makhluk
Dengan begitu, kita baru bisa disebut praktisi Mahayana. Saat membahas tentang Sepuluh Kediaman, bukankah kita telah membahas hal ini? Jadi, tekad melatih diri kita harus diteguhkan untuk berdiam dalam Mahayana. Kita yang tinggal di tengah dunia yang diliputi Lima Kekeruhan, jika tidak sungguh-sungguh menjaga hakikat diri kita yang murni, maka perlahan-lahan kita akan ternoda oleh pengaruh masyarakat. Kita juga akan ternoda kegelapan batin dan diliputi ketidaktahuan. Betapa banyak orang di dunia ini yang diliputi ketidaktahuan, tidak memahami kebenaran, dan tidak menyadari penderitaan di dunia. Mereka terus menanam karma buruk dan menerima buah penderitaan, tetapi masih terus terbuai dalam kesenangan duniawi. Ini sungguh merupakan kesadaran yang terbalik. Begitu kegelapan batin muncul, kita akan menciptakan banyak masalah. Sesungguhnya, segala hal di dunia dapat berjalan harmonis, mengapa kita harus bertikai? Ada orang berkata, “Ada cukup keharmonisan, hanya tidak cukup keberanian
” Sesungguhnya, meski ingin menunjukkan keberanian, kita juga harus mengutamakan keharmonisan. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus belajar untuk menyelesaikan masalah dengan harmonis. Di dunia ini tiada sesuatu pun yang sempurna. Akan tetapi, kita harus berusaha agar masalah akibat kegelapan batin tidak terus bertambah. Akibat ketidaktahuan dan kekeraskepalaan, seseorang tak dapat melenyapkan kegelapan batin sehingga masalah terus bertambah. Inilah kegelapan batin. Kegelapan batin ini mudah menyulut pergolakan
Dalam masyarakat kita sekarang ini telah terjadi banyak pergolakan yang semuanya terjadi akibat kegelapan batin. Ini sangat menakutkan. Inilah yang disebut lingkaran keburukan. Di dunia ini, mengapa begitu banyak lingkaran keburukan yang terus tercipta? Sebelumnya kita telah membahas Enam Praktik. Buddha mengajarkan kepada kita untuk mempraktikkan Jalan Mahayana yang tidak terlepas dari Enam Praktik. Akan tetapi, dalam ajaran luar juga ada istilah enam praktik. Jadi, dalam melatih diri, batas antara benar dan sesat sangat tipis. Jika menyimpang sedikit saja melampaui batasan ini, maka kita akan terjerumus pada kesalahan
Dikatakan bahwa menyimpang sedikit saja, kita akan jauh tersesat. Batasan antara benar dan salah sangat tipis. kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Jadi, kini kita membahas bahwa penyimpangan dalam enam praktik juga dapat menciptakan karma buruk. Jika kita menyimpang dan melekat pada praktik ajaran luar, maka kegelapan batin akan bertambah. Berikutnya dikatakan, Apa yang disebut Enam Keinginan? Keinginan atau “cinta” ini berkaitan dengan pandangan. Kita memiliki banyak pandangan. Mengenai “cinta” ini, kita sering membahas tentang cinta kasih universal
Cinta kasih universal adalah cinta kasih yang murni tanpa noda. Inilah cinta kasih universal. Jika “cinta” timbul akibat buaian kondisi luar, maka ia disebut nafsu keinginan atau ketamakan. Inilah keinginan dan pandangan. Di dalam penjelasan Sutra dikatakan, “Cinta” kita didasarkan pada ketamakan. Inilah kemelekatan dan pandangan
Jadi, dikatakan, “Timbul pembedaan karena kemelekatan, itulah pandangan.” Jika kita memiliki ketamakan, kita akan membedakan mana yang kita suka dan mana yang kita tidak suka. Baik terhadap orang, masalah, dan benda, kita memiliki pandangan yang diskriminatif. Jadi, “cinta” yang penuh ego dan noda disebut keinginan. Dari mana keinginan ini muncul? Dari mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh. Saat mata melihat sesuatu, kita menginginkannya. Kita menjadi tamak terhadapnya. Ini juga berlaku dalam hubungan antarmanusia, seperti nafsu antara pria dan wanita
Betapa banyak kasus seperti ini di dunia yang menyebabkan gejolak rumah tangga dan masyarakat. Ini akibat keinginan yang timbul dari mata. Begitu pula dengan telinga. Saat mendengar ucapan manis, kesadaran seakan menjadi terbalik. Adakalanya, saat mendengar gosip, orang yang bertelinga lemah akan mudah percaya. Ini juga dapat menanamkan noda dalam hubungan yang sebelumnya baik. Akibatnya, akan timbul perselisihan antara satu dengan yang lain. Begitulah telinga
Hidung juga demikian. Kita juga dapat terbuai dengan aroma. Jadi, adakalanya saat indra kita mencium aroma yang tidak dapat kita kenali dengan jelas, kita juga dapat merasa terganggu. Begitu pula dengan lidah. Hidung dan lidah tamak akan rasa. Virus flu burung menyebar lewat unggas, baik yang diternak maupun yang hidup bebas di alam terbuka. Entah rekayasa genetik apa yang manusia lakukan pada unggas sehingga virus itu menjadi cepat bermutasi
Akibatnya, virus yang tadinya hanya menyebar dalam spesies unggas, kini terus bermutasi dan bisa menjangkiti manusia. Sebagian orang berkata, “Saya tidak memelihara burung, juga tidak memelihara ayam, saya tidak takut.” Sesungguhnya, Anda tidak perlu kontak langsung dengan unggas. Kotoran unggas yang penuh virus dan bakteri jika sudah kering akan menjadi debu. Begitu ditiup angin, virus itu akan menyebar. Dengan begitu, manusia mudah terjangkit. Manusia lalu menularkannya pad amanusia lain
Ini sangat berbahaya. Wabah penyakit ini bukan hanya dari unggas, ada pula yang berasal dari babi. Inilah wabah penyakit. Dahulu, wabah penyakit hanya menjangkiti satu spesies tertentu, sedangkan kini bisa menjangkiti spesies lain. Bukankah tadi kita telah membahas bahwa kegelapan dan noda batin manusia yang terus bertambah dapat menyebabkan pergolakan masyarakat? wabah penyakit hewan kini juga bisa menjangkiti manusia. Wabah penyakit fisik kini dapat menular ke spesies lain. Ini adalah sesuatu yang misterius. Jadi, kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan
Saya juga sering mengatakan bahwa penyakit masuk melalui mulut. Demi ketamakan hidung dan lidah, manusia memelihara banyak hewat ternak, baik sapi, babi, kambing, ayam, bebek, maupun yang lainnya. Semakin banyak hewan yang diternak, semakin banyak pula limbah dan polusi yang tercipta. Pencemaran udara pun semakin meluas. Demi memenuhi nafsu makan manusia, barulah hewan-hewan diternak. Dahulu kita juga pernah membahas bahwa hewan sesungguhnya tidak bersalah. Mereka memiliki habitat masing-masing. Manusialah yang bertindak kejam
Mereka beternak dengan berbagai cara yang tidak alami. Mereka terus melakukan rekayasa genetik agar hewan dapat berkembang biak lebih cepat. Semua ini dilakukan oleh manusia. Kini giliran virus-virus bermutasi dan terus menjangkiti manusia. Virus ini tersebar lewat udara dan masuk ke tubuh manusia. Bayangkan, bukankah ini hukum sebab akibat? Virus flu burung yang mewabah adalah akibat tindakan manusia yang terus-menerus melakukan rekayasa genetik sehingga virus pun dapat mudah bermutasi, kemudian terus berkembang dan mencemari udara lewat kotoran ternak. Berhubung kotoran ternak menyatu dengan debu dan debu ada di mana-mana, maka virus mudah menyebar lewat udara
Dengan begitu, penyakit flu burung akhirnya menjangkiti manusia. Virus dari unggas tersebar lewat udara dan menjangkiti manusia. Manusia lalu menulari manusia lain, maka jadilah ia wabah penyakit manusia. Sesungguhnya, ini adalah akibat enam indra manusia yang terus mengumbar ketamakan. Kuncinya adalah ketamakan. Kita mungkin berkata, “Apa hubungannya dengan pola makan saya?” Hubungannya sangat erat
Hubungannya bukan hanya dengan diri sendiri, melainkan dengan masyarakat. Jadi, jika kelima indra, yakni mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh membangkitkan kemelekatan dan ketamakan, maka pikiran kita akan bergejolak. Dengan adanya kontak antara enam indra dengan objek luar, baik dari mata, telinga, hidung, lidah, maupun tubuh, ditambah dengan pandangan dalam pikiran kita, maka muncullah keinginan. Inilah yang disebut ketamakan dan kemelekatan. Ini sungguh membawa penderitaan besar bagi manusia. Karena itu, ada istilah Enam Keinginan. Tadi kita sudah membahas bahwa Akibat kontak enam indra dengan objek luar, muncullah Enam Keinginan. Karena adanya enam indra, maka muncullah Enam Keinginan yang disebut juga Enam Kontak
Indra mengalami kontak dengan objek, contohnya mata mengalami kontak dengan rupa. Karena adanya kontak antara enam indra dan enam objek, maka timbullah ketamakan. Jadi, Enam Keinginan juga disebut Enam Kontak
Akibat indra yang bersentuhan dengan objek, keinginan pun muncul. Sesungguhnya, saat lima indra bersentuhan dengan lima objek, jika tidak ada pandangan yang membedakan dalam pikiran kita, maka tidak akan terjadi apa-apa/ Hanya saja, karena ditambah dengan pandangan kita yang penuh kemelekatan, maka ketamakan pun muncul. Jadi, keinginan ini adalah ketamakan. Ketamakan sesungguhnya tidak berwujud, ia hanyalah bentukan pikiran
Keinginan ini berubah menjadi ketamakan dan menumbuhkan kegelapan batin. Hal ini terus menumbuhkan kegelapan batin. Menumbuhkan berarti mengembangkan. Ambil spons sebagai contoh. Saat Anda meneteskan air pada spons, air itu akan terus menyebar ke seluruh permukaan spons. Semakin banyak air yang diteteskan, permukaan yang basah akan semakin lebar
Ini sama dengan menumbuhkan. “Menumbuhkan kegelapan batin.” Sedikit keinginan dan ketamakan akan terus bertumbuh, kegelapan batin pun akan semakin banyak. Pemikiran subjektif akan terus menjalar hingga sangat luas. Meski semua hanya dimulai dari enam indra atau lima indra, tetapi karena adanya pandangan dalam pikiran kita, maka pemikiran subjektif akan terus meluas
Jadi, dari mana pun kegelapan dan noda batin berasal, pintunya ada pada enam indra. Jika pintu ini terbuka, kegelapan akan terus merasuki batin kita. Pemikiran subjektif pun akan terus meluas
Jadi, Enam Keinginan ini adalah pintu enam indra. Asalkan keinginan ini dapat menyelinap, ia akan terus berkembang. kita harus tahu caranya. Kita harus mempelajari Enam Praktik, mulai dari Sepuluh Keyakinan, Sepuluh Dedikasi, Sepuluh Bhumi, dll., hingga mencapai Pencerahan Setara dan Pencerahan Sempurna
Inilah cara kita melatih diri dalam ajaran Buddha, yakni dengan mencegah kejahatan kecil dan mengembangkan kebajikan kecil. Jadi, jangan melakukan kejahatan meski kecil, jangan pula meremehkan kebajikan kecil. Kita harus giat. Kita harus lebih bersemangat karena kehidupan ada batasnya. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.