Sanubari Teduh – 186 – Enam Praktek Pencerahan Setara Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, melatih diri adalah melatih pikiran, yakni pikiran yang penuh ketulusan. Karena itu, dikatakan, “Orang yang tulus akan memperoleh pencapaian dan dengan sendirinya terbimbing ke jalan benar.” Ketulusan ini bersumber dari hati. Setiap orang sesungguhnya memiliki hati yang murni tanpa noda. Hubungan antarmanusia harus mengandalkan ketulusan hati. Mengenai ketulusan, ketulusan murni yang tanpa ego ini juga sering saya perluas menjadi ketulusan, kebenaran, keyakinan, kesungguhan
Inilah yang harus ada di hati setiap orang. Ketulusan ini pada dasarnya merupakan sifat hakiki yang dimiliki semua orang. Jadi, kita hendaknya sering bertanya di dalam hati sendiri apakah kita sudah tulus terhadap orang lain, apakah kita sudah tulus menghormat pada Buddha, apakah kita sudah tulus saat berdoa. Gatha Pendupaan yang kita lantunkan berbunyi, “Berkat ketulusan yang mendalam, para Buddha menampakkan diri-Nya.” Asalkan kita memiliki ketulusan yang memenuhi batin kita, maka dengan sendirinya para Buddha dan Bodhisattva akan tampak. Ketulusan ini sangatlah penting. “Dengan sendirinya terbimbing ke jalan benar
” Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus memiliki hati yang tulus, melangkah maju di jalan benar tanpa menyimpang. Ini yang belakangan ini sering saya katakan. Jalan kita tak boleh menyimpang sedikit pun. Ini sangat penting bagi pelatihan diri. Jika kita dapat berjalan lurus dan memegang teguh batasan, maka dengan sendirinya kita akan terbimbing ke arah kebenaran dan tidak akan menyimpang. Yang sering kita khawatirkan adalah kita tak dapat mengendalikan diri. Jika begitu, kita akan berjalan menyimpang
Kita merasa tak berdaya mengoreksi. Ini yang disebut pikiran kacau. Pikiran kita telah kacau. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, jika kita telah menemukan jalan, maka janganlah menyimpang sedikit pun. “Dengan sendirinya terbimbing ke jalan benar.” Di manakah jalan benar? Di hati kita. Hati yang bagaimana? Hati yang tulus, yakni hati yang paling tulus untuk berjalan di jalan yang telah kita pilih. Di jalan ini kita harus menjaga pikiran dan membimbing diri sendiri. Jadi, mengenai ketulusan dikatakan, “Ketulusan ada dalam batin sendiri
” Ketulusan ini berasal dari dalam batin. “Saat ketulusan ada dalam batin sendiri, segalanya akan dicapai tanpa dipaksakan, semua akan diperoleh tanpa dipikirkan.” Ketulusan ini telah menjadi sesuatu yang alami di dalam diri, maka tak perlu dipaksakan. Ia sudah ada dengan sendirinya. Dalam pikiran dan tindakan apa pun, dalam hati selalu disertai ketulusan, tidak perlu dipaksakan dengan berkata, “Saya harus tulus.” Ia telah berjalan secara alamiah. Ketulusan telah menyatu dengan tindakan kita
Karena itu, dikatakan, “Tanpa perlu dipaksakan.” Pada dasarnya memang sudah ada. “Tanpa perlu dipikirkan.” Ia tidak perlu diusahakan secara khusus, “Mari, kita harus tulus.” Kita semua sudah tulus sebagaimana mestinya. Untuk apa dipaksa orang lain? Ada orang mengatakan, “Saya ingin melatih diri dengan mengikuti retret tujuh hari.” “Untuk apa mengikuti retret?” “Untuk membuat saya lebih fokus sedikit
” Sesungguhnya, kita memang harus selalu fokus. Fokus di mana? Fokus pada ketulusan. Jika kita memiliki ketulusan di dalam hati, maka kita tak perlu lagi memaksakannya. Secara alami, dalam menghadapi orang dan masalah, dalam ucapan dan tindakan kita sudah terkandung ketulusan. Dengan demikian, kita tak perlu memikirkannya lagi. Begitu sederhana
Ketulusan harus menyatu dengan diri kita. Jika kita dapat berlaku tulus terhadap segala sesuatu di luar, baik terhadap benda, masalah, maupun orang, maka dengan ketulusan ini, kualitas diri kita akan terbangun. Kita tidak perlu banyak bicara, orang lain akan datang saat kita butuh karena semua orang tahu bahwa kita tulus. Karena itu, saat kita ingin melakukan sesuatu, semua orang menyambut dengan baik. Ini terhadap segala sesuatu di luar. Baik terhadap orang, masalah, maupun benda, asalkan kita memiliki ketulusan, maka kita tak perlu usaha ekstra
Kita tak perlu banyak bicara, semua orang sudah merespons dengan baik. Kita tidak perlu mengeluarkan usaha besar, segala masalah dengan sendirinya dapat terselesaikan. Inilah kekuatan dari ketulusan hati. Terhadap orang kita harus tulus, dalam melakukan sesuatu juga demikian. “Ke dalam merealisasi tubuh Dharma, ke luar menampakkan kekuatan welas asih agung.” Jadi, ketulusan ini sangat penting. Bagi diri kita sendiri, jika kita senantiasa tulus, kita akan merealisasi Dharma. Bukankah kita melatih diri untuk merealisasi buah pencapaian? Untuk merealisasi buah pencapaian, kita harus memahami Dharma
Jika kita tidak memahami Dharma dan tidak berjalan sesuai dengannya, bagaimana bisa merealisasi buah pencapaian? Jadi, untuk dapat berhasil dalam pelatihan diri, kita harus memahami Dharma dengan terjun ke tengah masyarakat. Untuk menapaki Jalan Bodhisattva dan memperindah kondisi batin, cara apa yang harus kita gunakan? Beberapa hari ini saya terus membahas bahwa semua makhluk memiliki 84.000 noda batin. Bodhisattva harus menggunakan 84.000 metode terampil. Kita harus bisa membuka pintu metode terampil, tetapi hati kita harus tetap memegang teguh ketulusan dan kebenaran
Kita harus sangat tulus sesuai dengan sifat hakiki diri kita. dengan sendirinya kita dapat mengurai 84.000 noda batin ini. Bagi kita sendiri, ini merupakan bukti bahwa cara kita dapat membantu menyelesaikan kesulitan semua makhluk. Ini adalah bukti bagi kita. Dengan begitu, kini kita memiliki Dharma. Memiliki Dharma berarti memiliki cara untuk menyelesaikan berbagai kesulitan. Dengan hati yang tulus, kita menolong orang dengan Dharma
Inilah yang disebut tubuh Dharma. “Ke luar menampakkan kekuatan welas asih agung.” Untuk dapat menyelamatkan semua makhluk dari penderitaan dengan Dharma, kita membutuhkan kekuatan welas asih. Intinya, melatih diri tidak boleh terlepas dari semua makhluk yang menderita. Dengan adanya makhluk yang menderita, kita baru bisa mengembangkan welas asih dan memiliki kekuatan. Jadi, mempelajari ajaran Buddha sangat sederhana. Dengan bersumbangsih dengan cinta kasih yang tulus, secara alami kita akan mendapatkan sukacita dalam Dharma. Ini yang disebut rasa pencapaian. Dalam mempelajari ajaran Buddha, jalan kita harus benar
Kita sudah lama melakukan pembahasan. Mengenai enam praktik saja kita sudah membahasnya sangat lama. Dalam proses melatih diri ini, jika ada sedikit saja penyimpangan, maka hasilnya akan jauh berbeda. Ada istilah enam praktik dalam ajaran Buddha dan enam praktik dalam ajaran luar. Istilahnya sama-sama “enam praktik”, tetapi ada yang sesuai ajaran Buddha, ada pula yang berdasarkan ajaran luar. Dalam Vajra Samadhi Sutra, terdapat kisah tentang Bodhisattva Mahavikramin yang merenung tentang enam praktik dan bertanya-tanya tentang perbedaan antara enam praktik dalam ajaran Buddha dan ajaran luar. Beliau meminta petunjuk Buddha tentang enam praktik dan perbedaan enam praktik itu dalam ajaran Buddha dan ajaran luar
Buddha menjawab, “Pertama adalah praktik Sepuluh Keyakinan.” “Kedua adalah praktik Sepuluh Kediaman.” “Ketiga adalah praktik Sepuluh Praktik.” “Keempat adalah praktik Sepuluh Dedikasi.” “Kelima adalah praktik Sepuluh Bhumi.” “Keenam adalah praktik Pencerahan Setara
” Saudara sekalian, praktik-praktik ini seharusnya telah kita kenal dengan baik. Kita telah menggunakan waktu yang panjang untuk membahas enam praktik dalam ajaran Buddha, mulai dari Sepuluh Keyakinan hingga Pencerahan Setara. Ajaran luar juga memiliki enam praktik. Enam praktik ajaran luar terdiri atas pantang makan, merendam diri di air dingin, membakar diri, duduk tanpa pakaian, pantang berbicara, hidup bagai binatang liar. Dari sini kita bisa mengetahui metode praktik ajaran luar pada zaman Buddha. Di zaman itu banyak metode pelatihan diri. Ajaran luar berpendapat bahwa manusia telah banyak melakukan kesalahan di masa lampau, maka kini harus berlatih dengan menyiksa diri untuk memupuk berkah bagi masa depan
Mereka berlatih menahan lapar dan tidak makan. Mereka tidak makan apa-apa. Inilah ajaran pantang makan. Mereka tidak makan makanan yang dimasak, hanya minum air. Yang kedua adalah praktik merendam diri di air dingin. Mereka sering membenamkan diri di air dingin sebagai cara melatih diri. Yang ketiga adalah membakar diri
Mereka membakar bagian tubuh dengan api. Baik saat cuaca dingin maupun panas, mereka harus menyiksa diri seperti itu. Yang keempat adalah duduk diam tanpa pakaian. Mereka menganggap dengan duduk diam dapat tercerahkan. Jadi, mereka terus duduk diam. Yang kelima adalah pantang berbicara. Mereka tidak berbicara sama sekali
Seumur hidup mereka tidak berbicara. Yang keenam adalah hidup bagai binatang liar. Mereka mengikuti cara hidup sapi atau anjing. Inlah enam praktik ajaran luar. Mereka mengasingkan diri dari masyarakat dan hidup dengan cara yang tidak biasa. Mereka melakukan praktik menyiksa diri dan beranggapan bahwa itulah cara melatih diri. Inilah cara mereka melatih diri, tetapi cara kita berbeda dari mereka. Enam praktik yang kita jalankan adalah cara mengendalikan pikiran dan memberi manfaat bagi semua makhluk
Meski di masyarakat banyak noda batin, tetapi tidak bisa menodai batin kita. Inilah ajaran Buddha kepada para murid-Nya, yakni berharap kita menapaki Jalan Bodhisattva, memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, mencerahkan diri sendiri dan orang lain, sehingga sempurna dalam kesadaran dan praktik. Semangat untuk memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain ini disebut semangat Mahayana. Bagaimana melatih semangat Mahayana? Saya tambahkan di sini bahwa Sebagai praktisi Mahayana, sila adalah yang utama untuk dipegang teguh. Kita tidak boleh lengah. Ada orang berkata, “Praktisi Mahayana tidak melekat pada apa pun, asalkan hati tidak ternoda, melakukan apa pun boleh.” Ini salah
Praktisi Mahayana perlu memiliki ketulusan. Di dalam hati harus ada ketulusan, ke luar harus menjalankan praktik. Tulus di dalam, praktik ke luar. Tidak dapat dikatakan bahwa praktisi Mahayana tidak mementingkan praktik nyata dengan alasan tidak melekat. Tidak boleh begitu. Dahulu ada orang yang sering berkata, “Saya adalah praktisi Mahayana
” “Saya merokok bagai membentuk awan harum, minum alkohol bagai meminum sup kebijaksanaan.” Apakah ini benar? Salah besar. Untuk membimbing orang banyak, praktisi Mahayana harus memberi teladan nyata. Karena itu, kita harus memegang teguh sila. Hati kita harus sangat tulus dalam memperlakukan orang lain dan harus membangun kualitas diri kita. Begitu pula, Konfusius juga berkata, sebagai manusia, dapat dipercaya merupakan kualitas
Jika setelah berbicara, kita tidak dapat bertindak sesuai yang kita katakan, berarti kita telah kehilangan integritas. Ini yang dikatakan Konfusius. Kualitas diri harus dibangun. Untuk itu, kita harus menjaga ketulusan dan kejujuran. Inilah kuncinya. Terlebih lagi, kita ingin mencapai kebuddhaan
Untuk mencapai kebuddhaan, tentu diperlukan ketulusan di dalam hati. Kita juga harus melakukan praktik ke luar. Jadi, sila adalah yang utama untuk dipegang teguh. Dalam segala perilaku, tindakan, dan ucapan, kita harus sangat waspada. Saya sering berkata bahwa kita harus menggunakan hati. Dengan menggunakan hati yang tulus, maka kita akan tulus terhadap segala sesuatu. Ini juga ajaran yang harus kita pegang teguh. Jadi, mengenai “sila murni”, sesungguhnya apa yang harus kita pegang teguh? Kemurnian tubuh dan batin kita
Tubuh dan batin kita harus murni. Dalam menghadapi orang dan masalah, kita harus menaati aturan dan bertata krama. Jadi, hal pertama dalam pelatihan diri adalah menjaga kemurnian sila. Inilah langkah pertama dalam pelatihan diri. Berikutnya adalah menjalankan kebajikan. Kita tadi membahas enam praktik. Apa yang dimaksud enam praktik? Kita harus memahaminya lebih dalam lagi
Praktik pertama adalah Sepuluh Keyakinan. Istilah-istilah yang dibahas sangat mendetail. Terhadap Dharma yang luar biasa ini, kita harus paham dengan mendetail. Semua ini ada dalam kehidupan sehari-hari dan tak lepas dari ketulusan. Dalam enam praktik, banyak dibahas mengenai kedemikianan. Sesungguhnya, kedemikianan adalah ketulusan sempurna. Jika kita dapat memperlakukan orang lain dengan hati yang paling tulus, berarti kita telah menggunakan cara yang benar dan tak bernoda. Inilah kebajikan yang luar biasa
Kebajikan ini sangat sempurna. Jika kita mampu melakukan kebajikan ini, berarti kita telah merealisasi kedemikianan, yakni ketulusan sempurna yang sangat halus, murni, dan bebas dari noda. Inilah kebajikan sempurna yang meliputi segala sesuatu. Jadi, kita harus memiliki rasa malu yang kuat serta pandangan dan rasa takut yang dalam. Kita harus memiliki tekad melatih diri yang kuat. Untuk itu, di tengah masyarakat kita harus selalu memiliki rasa malu, malu terhadap diri sendiri dan orang lain. Saat berjalan bertiga dengan orang lain, dua orang lainnya dapat menjadi guru kita. Yang baik harus segera kita pelajari, yang buruk harus menjadi cermin bagi kita
Inilah yang disebut rasa malu. Kini kita tengah berlatih di jalan kebenaran. Jika tak memiliki rasa malu, kita akan berpikir, “Memangnya kenapa?” “Salah pun itu urusan saya.” Saat orang lain menasihati kita, kita tidak bisa berintrospeksi. Inilah orang yang tak memiliki rasa malu. Tidak bisa dinasihati juga sama dengan tidak punya rasa malu. Jadi, kita harus punya tekad yang kuat dan memiliki rasa malu, bahkan harus memiliki pandangan dan rasa takut yang dalam
Pandangan kita janganlah dangkal. Jangan berpikir, “Ini masalah kecil, apa pengaruhnya?” Membiarkan kesalahan terus berlanjut adalah sikap yang tidak benar. Kita harus memiliki pandangan mendalam. Jika melakukan kesalahan, kita harus segera berintrospeksi dan memikirkan cara untuk memperbaiki diri. Kita juga harus memiliki rasa takut. Jangan berpikir, “Ini hanya kesalahan sepele, tidak apa-apa.” Sikap selalu memaafkan dan memaklumi diri sendiri tanpa rasa takut seperti ini tentu tidak boleh ada. Kita harus tahu bahwa dimulai dari kecil, kesalahan dapat berkembang menjadi besar
Sering dikatakan bahwa segala ucapan dan tindakan, semuanya adalah karma, dan karma ini bisa saja karma buruk. Saat kita mengucapkan sesuatu tanpa maksud, orang lain yang mendengar mungkin menganggapnya serius. Sepatah ucapan yang diucapkan tanpa sengaja juga dapat melukai orang lain. Hukum karma ini sangat menakutkan. Kita harus merenungkannya secara mendalam. Jadi, janganlah berpikir, “Tidak apa-apa, jika salah, ya biar saja.” “Sudah berlalu, ya sudah.” Janganlah begitu
Kita harus selalu berintrospeksi diri, senantiasa mengingatkan diri sendiri, dan takut pada hukum sebab akibat. Benih apa yang ditanam, maka buah itulah yang akan dituai. Meski Anda tidak sengaja, tetapi benih ini sudah tertanam dalam batin orang lain. Saat benih ini bertemu kondisi yang sesuai, ia akan menghasilkan buah. Jadi, kita harus takut akan hukum sebab akibat. Jadi, dikatakan, “Dengan pandangan dan rasa takut yang mendalam terhadap buah penderitaan di kehidupan mendatang, mereka menjauhi segala kejahatan.” Jika kita memiliki rasa malu yang kuat serta pandangan dan rasa takut yang dalam, maka kita tak akan lagi menciptakan benih buruk sehingga tak akan terus menerima buah penderitaan di kemudian hari
Dengan begitu, pada kehidupan ini, kita dapat menyelesaikan segala belenggu dendam, cinta, dan benci. Contohnya, dalam drama Seputih Cahaya Rembulan. A-cua adalah seorang relawan lansia. Lihatlah, dia sangat giat bersumbangsih di Tzu Chi. Saat saya mendengar kisahnya, saya merasa ini sangat luar biasa. Saat kisahnya ditayangkan di Da Ai TV, sungguh sangat menggugah hati orang
Sebelum bergabung dengan Tzu Chi, dia mengalami kehidupan yang sangat sulit. Lalu, ada orang yang mengajaknya ke kuil untuk bertanya tentang masalahnya. Dia kemudian diberi tahu bahwa dirinya memiliki utang karma kepada suaminya. “Kamu berutang karma kepada suamimu di kehidupan lalu.” “Pada kehidupan ini kamu harus membayarnya, begitu pula pada satu kehidupan berikutnya.” Wah, saat mendengarnya, dia berpikir, “Saya tidak tahu kondisi di kehidupan lalu
” “Di kehidupan sekarang saya sudah begitu menderita, lalu masih harus mengalami ini hingga kehidupan mendatang?” “Tidak bisa.” “Lebih baik saya lunasi semuanya di kehidupan ini juga.” Saat itu, kebetulan ada yang mengajaknya ke Hualien. Saya berkata kepadanya, “Jika utang dibayar dengan sukarela, maka dapat diskon 20 persen dan akan lebih cepat lunas.” Sungguh. Jadi, dia membawa pulang suaminya beserta wanita simpanannya. Dia merawat mereka dengan sungguh-sungguh
Dia berkata, “Saya sudah bercerai dengannya.” “Setelah bercerai, kini dia hidup sulit.” “Karena ibu mertua saya meminta, maka saya membawa suami saya pulang kembali.” “Setelah bercerai, utang saya lunas satu kehidupan.” “Kini saya kembali membawanya pulang untuk melunasi utang kehidupan berikutnya.” “Saya ingin segera melunasinya.” Dia menjalani semuanya dengan ikhlas. Suatu hari, insan Tzu Chi Taichung datang
Saya menyarankan mereka untuk menyaksikan drama ini. Kisah ini menggambarkan ketulusan agar dapat dilihat banyak orang. Mereka berkata, “Penderitaannya bukan hanya segitu, masih banyak yang tak diceritakan dalam drama.” Banyak orang tidak dapat menandinginya. Lihatlah, ini adalah bukti nyata dari kisah seseorang yang benar-benar hidup. Orang-orang yang mengenalnya sangat yakin kepadanya. Dengan menjalani semua ini, dia terbebas dari buah karma kehidupan mendatang
Utangnya pada kehidupan mendatang dia lunasi sekarang juga. Dia benar-benar menjauhi segala kejahatan. Di kehidupan lampau, dia mungkin berbuat jahat, tetapi kini sama sekali tidak. Jadi, kita harus memahami bahwa mempelajari ajaran Buddha berarti harus melatih ketulusan
Ketulusan ini berasal dari hati. Jika kita dapat bersungguh hati, maka masa lalu, masa kini, dan masa depan dapat kita lihat dengan jelas dalam kehidupan kita sekarang. Jadi, semua harus selalu bersungguh hati.