Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 188 – Enam Keinginan Bagian 2

Saudara se-Dharma sekalian, banyak gangguan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, kita sering mendengar banyak orang diliputi kerisauan dan banyak kesulitan dalam hidup mereka. Inilah yang sering kita dengar. Sesungguhnya, dari mana kerisauan bermula? Dari mana pula penderitaan berasal? Dari cinta atau keinginan. Keinginan sungguh menyiksa Dan membuat manusia menderita. Inilah cinta yang ternoda

 Cinta yang penuh nod aini dalam ajaran Buddha disebut noda batin. Kita juga pernah membahas bahwa noda batin berawal dari kemelekatan terhadap objek luar. Akibatnya, batin kita pun semakin gelap dan tidak tahu arah yang benar. Ini sungguh membawa penderitaan tak terkira. Jadi, mempelajari ajaran Buddha Berarti harus paham jelas tentang cinta. Mengenai cinta, apakah cinta kita adalah murni tanpa noda ataukah penuh noda dan kemelekatan? Kita harus memahami ini dengan jelas. Untuk itu, banyak Dharma yang tak habis kita bahas, seperti yang Buddha katakan pada Ananda, “Ananda, engkau telah mendengar banyak Dharma, sesungguhnya berapa banyak yang telah engkau dengar?” Ananda menjawab, “Tak terhitung banyaknya

” “Buddha memberikan ajaran sesuai kondisi.” “Terhadap berbagai noda batin semua makhluk, Buddha memberikan berbagai ajaran yang sesuai.” “Jadi, aku telah mendengar banyak di sisi Buddha.” Buddha berkata kepada Ananda, “Ananda, sesungguhnya Dharma yang Kuketahui bagaikan butiran pasir di bumi ini, sedangkan yang telah engkau dengar hanya bagaikan pasir yang diambil dengan ujung kuku.” Dari sini kita tahu bahwa Dharma yang ingin Buddha babarkan masih sangat banyak, hanya saja waktu tidak mengizinkan. Mengapa diperlukan begitu banyak Dharma? Karena banyaknya noda batin semua makhluk. Jadi, Buddha mengajar sesuai kondisi, memberikan metode terampil sesuai dengan noda batin masing-masing makhluk. Dharma yang dibabarkan sungguh banyak

 Dari sini kita bisa memahami bahwa ajaran Buddha sungguh dalam. Akan tetapi, juga sering dikatakan bahwa puluhan ribu Dharma berasal dari satu. Sesungguhnya, sangat sederhana, kuncinya adalah cinta atau keinginan. Dari sini dapat dijabarkan berbagai noda batin yang tak terhitung yang ada di dunia ini. Contoh skala besar adalah pertikaian antarnegara. Contoh skala menengah adalah pertikaian dalam masyarakat satu negara/ Contoh skala kecil adalah pertikaian dalam keluarga, Yang lebih kecil lagi adalah pertikaian antarindividu. Manakah dari semua itu yang bukan berasal dari kegelapan batin akibat nafsu, kemelekatan,  dan keinginan? Dengan adanya keinginan atau cinta yang penuh noda, terjadilah perselisihan. Semua orang berebut untuk mendapatkan, maka terjadilah perselisihan

 Jadi, kita harus paham tentang “cinta” ini. Mengenai istilah yang sama, yakni “cinta”, jika kita mengubah cara pandang ke arah Jalan Bodhisattva yang lapang, maka “cinta” ini menjadi sesuatu yang dibutuhkan. Kita tidak boleh kekurangan cinta, yakni cinta kasih yang murni tanpa noda. Kita sering melihat insan Tzu Chi di seluruh dunia menjangkau orang-orang yang menderita. Dengan berseragam biru putih, mereka terjun ke tengah masyarakat. Dari pengalaman mereka, kita dapat melihat dua hal, pertama adalah penderitaan, kedua adalah kebahagiaan. Penderitaan dan kebahagiaan dapat kita lihat dalam satu peristiwa yang sama. Orang yang hidup kekurangan, sakit, sudah lanjut usia, atau berketerbatasan fisik, menderita atau tidak? Tentu menderita

 Mereka hidup kekurangan dan sulit bertahan hidup. Ini tentu sangat menderita. Apakah sakit menderita? Menderita. Jika sakit, tidak memiliki obat, dan tidak ada orang yang merawat, tentu menderita. Apakah berketerbatasan fisik menderita? Mereka tidak leluasa menjalankan aktivitas. Orang-orang yang menderita ini, saat dihampiri oleh insan Tzu Chi, saat melihat relawan yang berseragam biru putih, merasa bahagia di tengah penderitaan. Mereka dapat merasakan kebahagiaan. Kita melihat insan Tzu Chi Malaysia yang melakukan kunjungan kasih di komunitas. Mereka mengunjungi seorang nenek yang hidup sebatang kara

 Dapat terlihat bahwa dahulu kehidupannya sangat berkecukupan. Mungkin dia pernah melalui berbagai kesulitan, maka kini meski telah berusia lanjut, dia harus hidup sebatang kara. Beberapa anak muda berseragam biru putih dan Tzu Ching datang mengetuk pintu rumahnya, tetapi tidak ada jawaban. Mungkin mereka sudah sering mengunjunginya sehingga tahu cara membuka pintu rumahnya. Meski dapat dibuka, tetapi berhubung ada rantai yang mengunci, maka daun pintu tidak dapat dibuka lebar. Ini karena rantai pengunci itu dikaitkan pada daun pintu dan kosen pintu. Para anak muda ini membuka sedikit daun pintu, sepertinya sudah sangat mengenal rumah itu

 Mereka menjulurkan tangan untuk melepaskan rantai itu. Saat berhasil membuka pintu itu, mereka berteriak, “Nek, kami datang.” Setelah mereka berteriak, seorang nenek segera keluar. Tubuhnya bungkuk 90 derajat, sangat bungkuk. Rambutnya putih dan tidak tertata rapi. Dia tampak tidak leluasa bergerak. Dia segera berdiri di hadapan cermin dan becermin, lalu merapikan rambutnya. Dia lalu tersenyum. Meski tetap sulit bergerak dan punggungnya tidak bisa ditegakkan, Dia tetap gembira saat bertemu anak-anak muda ini. Untuk apa mereka datang? Untuk mengajaknya jalan-jalan

 Mereka bertemu untuk mengajaknya keluar dan berjemur. Mereka keluar untuk bergembira sejenak. Saat melihatnya, saya merasa tidak tega, tidak tega terhadap nenek itu. Dia hidup sendirian selama bertahun-tahun di dalam rumahnya. Dia hidup sebatang kara di dalam rumah dan terus mengunci pintu rumahnya. Dalam hatinya tentu ada rasa waswas. Dia pun tidak leluasa bergerak, begitu menderita

 Melihat dia menjalani keseharian dengan sendirian dengan tubuh yang memiliki keterbatasan dan bungkuk, saya yakin kesehariannya amat membosankan. Akan tetapi, saat mendengar pintu dibuka, dia merasa tenang karena yang terdengar olehnya adalah suara yang selalu dia nantikan. Para relawan membuka pintu rumahnya. Dari cara mereka membuka pintu, kita dapat mengetahui bahwa mereka sudah biasa melakukannya. Mereka bagai keluarga sang nenek yang juga tinggal di rumah itu. Kita melihat nenek itu terlebih dahulu merapikan rambut sebelum bertemu keluarganya ini. Apakah dia merasa gembira? Gembira. Dia sangat senang

 Jadi, asalkan ada insan Tzu Chi, di tempat yang penuh penderitaan sekalipun juga akan terkandung kebahagiaan. Karena itu, sering dikatakan bahwa penderitaan dan kebahagiaan silih berganti. Begitulah alam manusia. Sesungguhnya, melihat nenek berusia lanjut itu, kita merasa tidak tega. Kita tahu bahwa seumur hidupnya, nenek itu pernah memiliki cinta, memiliki keluarga, hingga akhirnya dia harus hidup sebatang kara. Jadi, apa yang harus dipermasalahkan dalam hidup? Jadi, cinta pribadi mengandung belenggu noda batin

 Intinya, Saat jalinan jodoh matang, cinta tumbuh. Saat jalinan jodoh berakhir, kesendirian muncul. Akan tetapi, sekelompok relawan ini mengubah cinta pribadi menjadi cinta kasih universal. Nenek itu tidak memiliki hubungan apa pun dengan mereka. Orang tua yang hidup sebatang kara seperti nenek tadi sangat banyak dan tidak terhitung. Karena itu, dibutuhkan orang-orang yang memiliki cinta kasih universal untuk mengetuk pintu rumah setiap lansia itu

 Bukan berkunjung setahun sekali, melainkan entah berapa kali dalam sebulan para relawan ini datang mengunjungi para lansia dan mendampingi mereka agar dapat bergembira bersama. Inilah cinta kasih universal, cinta kasih yang diperluas. Istilahnya tetap sama, yakni “cinta”. Sebaliknya, jika mementingkan cinta pribadi, Kita berpikir, “Saya juga punya keluarga, saya sendiri juga ingin bersenang-senang.” Dengan cinta seperti ini, mana mungkin orang dapat memedulikan orang yang tak dikenal. Akan tetapi, insan Tzu Chi sudah menganggap para lansia sebagai keluarga sendiri

 Kehangatan seperti ini sudah mereka sebarkan di masyarakat. Melihat semangat para Bodhisattva Tzu Chi ini, bukankah semua didasarkan pada cinta kasih? Dengan memahami cinta kasih di Jalan Bodhisattva, terciptalah keindahan. Sebelumnya kita membahas keinginan dan pandangan. Terdapat enam keinginan. Enam Keinginan ini berawal dari kontak antara lima indra dan lima objek yang membuat kesadaran pikiran kita mulai membedakan

 Dari sana, muncullah Enam Keinginan. Kita mulai membeda-bedakan kondisi luar. Jadi, jika ketamakan bertambah, penderitaan yang ada akan tak terkira. Ini karena adanya belenggu kemelekatan. Dikatakan, “Mengikuti ketamakan dan nafsu, itulah yang disebut keinginan.” Ketamakan inilah yang disebut keinginan. Asalkan ada ketamakan, kemelekatan akan muncul

 “Mendiskriminasi dan melekat, itulah yang disebut pandangan.” Jika Anda tamak, melekat, serta membeda-bedakan, “Ini orang yang saya cintai,” maka jika tiba-tiba orang itu tidak ada lagi, Anda akan menderita. Atau saat orang yang Anda cintai hatinya tidak sepenuhnya milik Anda dan masih terbagi kepada orang lain, Anda akan cemburu dan risau. Bukankah banyak gejolak di masyarakat masa kini yang disebabkan oleh hal ini? Terutama dalam hubungan pria dan wanita serta hubungan dengan orang yang dikasihi, sungguh menderita. Ini akibat pandangan yang penuh kemelekatan. Jika kita dapat melenyapkan kemelekatan, hidup akan lebih bermakna. Saya melihat laporan berita Da Ai TV tentang seorang anak berusia 17 tahun yang mengalami kecelakaan lalu lintas saat ingin berangkat ke sekolah. Saat dilarikan ke rumah sakit, pihak RS menyatakan dia tak tertolong lagi

 Saat ayah dan ibunya mendengar vonis ini, mereka segera memindahkannya ke RS lain, yakni ke RS Tzu Chi Taipei di Xindian. Akhirnya, mereka melakukan suatu hal, yakni membuat keputusan besar yang penuh cinta kasih. Berhubung pernah menyaksikan Da Ai TV, mereka paham di mana letak makna kehidupan. Saat dibawa ke RS Tzu Chi, dokter segera menangani anak itu dan dia ditempatkan di ruang perawatan intensif. Dokter kembali memvonis bahwa anak tersebut tidak ada harapan. Otaknya mengalami kerusakan parah. Dia sudah mati otak saat tiba di RS Tzu Chi

 Mendengar vonis kali ini, orang tuanya menentukan sebuah pilihan yang sangat bijaksana. Mereka berkata, “Kalau begitu, berhubung anak kami baru berusia 17 tahun, organ tubuhnya tentu masih sangat baik, kami ingin mendonorkannya untuk menolong orang dan membantu keluarga orang lain.” Setelah keputusan ini dibuat, dokter segera melakukan pemeriksaan organ dan menjalankan prosedur dengan cepat. Anak itu pun dibawa ke ruang operasi. Sebelum anak itu dibawa masuk, Lewat siaran berita Da Ai TV saya melihat bahwa kedua orang tuanya berdiri di sisi ranjangnya dan berkata, “Kamu harus kuat sedikit, harus menjaga organ-organmu agar tetap baik agar dapat menolong orang.” “Inilah harapan kami

” “Berhubung kamu tidak bisa kembali lagi, maka lebih baik kita menolong orang.” “Kamu harus berusaha.” Saat anak itu masih berada di kamar pasien, orang tuanya membisikkan pesan cinta kasih itu. Itu adalah cinta kasih yang tulus dan penuh kebijaksanaan. Inilah cinta kasih yang universal dan membuat orang kagum

 Akan tetapi, terhadap anak itu, kita tetap merasa tidak tega. Kita juga masih ingat kasus seorang anak yang juga berusia 17 tahun. Dia juga mengalami suatu kejadian di luar. Ibunya datang dari Taidong ke Hualien untuk mendonorkan organ tubuh anaknya agar dapat menolong orang lain. Kasus anak ini tentu lebih rumit karena kejadian yang menimpa sang anak tidaklah sederhana. Dia dipukuli orang hingga tewas

 Jadi, untuk memecahkan kasus ini, pihak kepolisian dan pengadilan perlu menyelidiki tubuh anak itu. Entah apakah mereka mengizinkan organ tubuh anak itu diangkat secepat itu. Akan tetapi, jika ditunda, begitu anak itu dinyatakan mati otak, maka tidak berapa lama organnya akan rusak. Dia harus berlomba dengan waktu. Berkat keteguhan tekad sang ibu yang terus berunding dengan pihak kepolisian, akhirnya terjadilah kasus pertama di Taiwan di mana dokter forensik kepolisian masuk ke ruang operasi untuk ikut menyaksikan pengangkatan organ sambil memeriksa organ mana yang terluka. organ mana yang tidak terluka, dan luka bagian mana yang merenggut nyawanya. Untuk mengungkap kasus itu, dokter forensik ikut masuk ke ruang operasi untuk melakukan pemeriksaan

 Organ yang telah diangkat tetap dapat didonorkan. Ibu yang berjuang dengan teguh demi mendonorkan organ tubuh anaknya itu Berkunjung ke Aula Jing Si di hari pengangkatan organ. Dia berkata kepada saya, “Terima kasih, Master.” “Terima kasih untuk apa?” “Karena Master telah membuka jalan lewat adanya Da Ai TV.” “Berkat wejangan Master, saya memahami makna dan nilai kehidupan.” “Saya berterima kasih

” “Saya bersyukur atas anak saya.” “Meski dia mengalami kejadian ini, tetapi organ-organ tubuhnya masih dapat menolong enam orang dan meneruskan fungsinya.” “Dengan begitu, berarti dia masih hidup.” “Saya sangat berterima kasih.” Dia berkata, “Karena telah menyaksikan Da Ai TV dan mendengar wejangan Master, Saya dapat memahami makna dan nilai kehidupan.” Saya berkata, “Karena peristiwa ini telah terjadi, hatimu hendaknya

..” Dia memotong, “Master, saya tahu.” “Kini hati saya sangat damai, saya merasa sangat tenang.” “Sedikit pun saya tidak merasa menderita.” “Saya sangat bersyukur dan bersukacita.” Lihatlah, inilah cinta kasih. Inilah cinta kasih universal

 Jadi, banyak kerisauan dan penderitaan di dunia hanya karena cinta. Banyak orang menderita luar biasa karena cinta. Sebaliknya, ada pula orang yang dapat memberikan cinta kasih untuk melenyapkan berbagai penderitaan orang. Jadi, dibutuhkan kebijaksanaan kita untuk memperluas cinta kasih kita agar bisa membantu orang lain yang terbelenggu oleh cinta pribadi. Jadi, mengenai “cinta”, tentu harus ada di dunia ini. Akan tetapi, ada pula orang yang sangat menderita karena cinta. Cinta kasih Bodhisattva yang murni tanpa noda dapat membawa kebahagiaan bagi banyak orang. Intinya, dikatakan bahwa mengikuti ketamakan dan nafsu, itulah yang disebut keinginan

 Keinginan adalah cinta yang didasari ketamakan. Selanjutnya, mendiskriminasi dan melekat, itulah yang disebut pandangan. Kemelekatan sering kali memengaruhi pandangan kita. “Saya ingin begitu, saya tidak mau dimanfaatkan oleh orang lain, saya ingin menguasai semuanya, saya..

” Banyak sekali, sungguh menderita. Bukankah pertikaian dimulai dari sikap seperti ini? Saudara sekalian, waktu dalam kehidupan tidaklah banyak, sedangkan hal yang harus kita lakukan sangat banyak. Janganlah kita terpaku pada keinginan dan pandangan. Jadi, kita harus membuka hati

 Ajaran Buddha harus selalu ada dalam hati kita. Dengan begitu, hati kita akan menyatu dengan alam semesta. Ajaran Buddha tidak terlepas dari cara hidup sehari-hari. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888