Sanubari Teduh – 189 – Enam Keinginan Bagian 3
Saudara se-Dharma sekalian, waktu berlalu detik demi detik. Jiwa kebijaksanaan kita seharusnya juga bertumbuh seiring perjalanan hidup kita. Semua ini tak lepas hubungannya dengan waktu. Jadi, kita harus menghargai waktu. Hasil dalam mempelajari ajaran Buddha diperoleh seiring waktu. Jika kita lengah melewati setiap detik, maka jiwa kebijaksanaan dan hidup kita tidak akan berkembang dan akan berlalu sia-sia. Jadi, kita harus sungguh-sungguh memanfaatkan waktu. Beberapa hari ini, untuk membahas cinta dan pandangan, kita sudah menghabiskan dua hari
Jika cinta tidak digunakan secara tepat, maka akan membunuh jiwa kebijaksanaan kita. Jika digunakan secara tepat, ia akan menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Bedanya sangat tipis. Jika cinta kita ternoda, maka ketamakan dan kemelekatan akan timbul. Contohnya, saat musim dingin, pada waktu subuh, saat matahari belum terbit, udara sangat dingin, tetapi kita semua sudah harus bangun pada pukul tiga lebih. Saat mendengar suara ketukan kayu, di cuaca yang begitu dingin, tentu sulit untuk menyingkirkan selimut dan beranjak dari tempat tidur yang hangat. Kita tamak akan kehangatan. Udara di luar sangat dingin, kita ingin lebih lama berada di tempat tidur yang hangat
Lebih satu detik kita berbaring, berarti waktu kita telah terbuang, terlebih jika kita dalam satu detik itu kembali menarik selimut dan kembali terlelap. Jadi, berbeda satu tindakan hasilnya akan jauh berbeda. Sebaliknya, jika saat mendengar suara ketukan kayu kita segera menyingkirkan selimut dan beranjak dari tempat tidur, maka pada detik itu juga kita dapat mulai melatih diri. Sesungguhnya, setelah beranjak dari tempat tidur dan mengenakan pakaian yang sedikit hangat, kita dapat memulai aktivitas. Tidak ada yang memberatkan. Setelah itu, kita memasuki aula, mengikuti kebaktian, bermeditasi, dll. Semua itu ditentukan dari satu detik tadi. Intinya, sebersit ketamakan, seperti tamak untuk tidur lebih lama atau tamak untuk tetap berselimut, dibandingkan dengan semangat melatih diri, bedanya jauh sekali. Akan tetapi, semua itu hanya bergantung pada sebersit niat. Mengenai kemelekatan dan pandangan pribadi ini, orang-orang kadang berkata, “Pandangan orang ini begitu menyimpang, kemelekatannya begitu tebal
” Semua ini bergantung pada pandangan. Kita harus memiliki pandangan dan pemahaman yang sesuai kebenaran. Melatih diri berarti menyelaraskan diri dengan kebenaran dan menghilangkan tabiat buruk. Tabiat buruk harus kita ubah menjadi kebiasaan baik. Pikiran penuh ketamakan juga harus kita ubah menjadi pikiran yang penuh kerelaan. Inilah yang disebut melatih diri. Sering dikatakan bahwa kunci pelatihan diri hanya terletak pada membina tabiat dan mengubah yang buruk karena hakikat sejati semua orang pada dasarnya adalah murni dan tidak bernoda, hanya saja ia ternoda di kemudian hari dan kita terus memupuk noda itu hingga menjadi tabiat
Tabiat, pandangan, dan pemahaman yang bernoda ini membuat kita mengalami penderitaan tak terkira. Inilah pandangan yang penuh kemelekatan dan diskriminasi. Bagaimana sesungguhnya semua pandangan ini muncul? Dari indra mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh yang dipengaruhi ketamakan. Saat kita membuka mata, kita akan melihat berbagai kondisi. Jadi, lima indra kita akan bersentuhan dengan objek rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan. Selama kita dapat melihat, meraba, atau merasakan suatu objek, berarti objek itu telah bersentuhan dengan indra kita
Karena itu, lima objek ini sangat mudah menjerat kita ke arah ketamakan. Ketamakan ditambah kemelekatan, itulah “cinta”, cinta yang penuh noda. Fungsi indra pikiran didahului oleh lima indra yang lain. Pikiran berkaitan dengan batin kita dan perasaan kita. Dengan berfungsinya perasaan, barulah pembedaan atau diskriminasi terjadi terhadap objek luar. saat mata melihat objek rupa, itu hanyalah sebuah aktivitas indra, sedangkan perasaan belum muncul. Agar aktivitas itu berfungsi, diperlukan perasaan. Perasaan ini berasal dari kesadaran pikiran kita yang disebut kesadaran keenam. Kita sering melihat contoh kasus orang yang jelas-jelas membuka mata, tetapi saat ditanya, “Ini warna apa,” dia menjawab, “Tidak tahu, saya tidak bisa melihatnya.” Ini karena kesadaran tidak bereaksi
Dengan bahasa masa kini, kesadaran ini disebut saraf penglihatan. Saraf penglihatan bisa mengalami kerusakan. Demikianlah fungsi objek dan indra. Tanpa fungsi kesadaran, kita tak akan dapat membedakan objek luar. Akan tetapi, fungsi kesadaran pikiran kita amat luas. Contohnya, orang yang mengalami gangguan penglihatan atau matanya tidak bisa melihat. Saat kita berbicara dengannya, dia seakan bisa membayangkan dengan jelas kondisi yang kita gambarkan. Dia bahkan bisa membicarakan tentang warna dan memberi pendapat bahwa warna biru dan putih akan terlihat lebih serasi. Saat saya berbicara tentang langit biru dan awan putih, dia bisa merasakan bahwa kondisinya sangat lapang. Meski tak dapat melihatnya langsung, dia dapat membayangkannya dengan jelas
Dia juga tahu bentuk bulat, persegi, persegi panjang, dan bentuk lainya. Dengan kesadaran pikiran ini, dia dapat menjadikan telinga sebagai mata. Dia dapat merasakan dengan pikirannya. Ada orang yang telinganya tak dapat mendengar, tetapi dia mengetahui segala tindakan orang lain dengan sangat jelas. Dia menjadikan matanya sebagai telinga. Karena itu, saya sering berkata kepada kalian untuk mendengar dengan mata dan melihat dengan telinga. Inilah yang disebut “menggunakan hati”, yakni menggunakan pikiran bawah sadar kita. Dengan kesadaran ini, kita mengatasi diskriminasi indra terhadap objek
Terlebih sebagai makhluk awam, akibat perasaan yang timbul akibat kontak antara indra dan objek, ada orang yang berpikir tak sesuai kebenaran. Dengan kata lain, meski jelas-jelas tidak sesuai kebenaran, tetapi karena adanya nafsu dan ketamakan, dia berusaha menguasai objek itu. Inilah yang disebut tak sesuai kebenaran. Contohnya di pengadilan. Meski jelas-jelas bersalah, orang bisa menyewa pengacara dan mengubah yang salah menjadi benar. Ini juga disebut tidak sesuai kebenaran. Dalam masyarakat masa kini, sungguh banyak intrik yang rumit. Bagaimana cara mengembalikan kerumitan ini ke arah hakikat sejati yang murni? Hakikat setiap orang pada dasarnya sederhana dan indah alami
Tentu, semua orang harus menyatukan tekad untuk memahami jalan hidup yang benar dan yang salah. Saat berada di titik awal, kita harus tahu arah yang benar. Saat berdiri di titik awal, kita harus tahu jelas arah yang dituju. Jika kita dapat mengetahui arah dengan jelas, maka sepanjang perjalanan kita tidak akan salah jalan. Akan tetapi, orang-orang masa kini gemar bertindak tak sesuai kebenaran. Mereka sengaja melakukannya. Jelas-jelas tindakan itu tidak benar, tetapi mereka sengaja untuk mengubah yang salah menjadi benar
Jelas-jelas sesuatu itu bukan miliknya, tetapi dia mencari cara untuk menguasainya. Mereka bertindak tak sesuai kebenaran dan membangkitkan pandangan sesat. Semua ini adalah sesat. Pandangan sesat berarti tidak benar, tidak sesuai dengan kebenaran. Inilah yang disebut pandangan sesat, contohnya adalah pemikiran nihilisme dan eternalisme. Yang dimaksud pemikiran adalah apa yang kita pikirkan dalam batin dan bagaimana kita memutuskan sesuatu. Mengenai nihilisme dan eternalisme, sebagian orang merasa, “Mengapa tidak boleh berbuat jahat?” “Berhubung sudah lahir ke dunia ini, maka saya harus menikmati hidup.” “Hidup memang harus dinikmati.” Mereka bertindak sesuka hati dan tidak takut pada hukum sebab akibat. Mengapa mereka tidak takut hukum sebab akibat? Karena menurut mereka, semua selesai saat meninggal, tiada kehidupan selanjutnya. “Ada sebab akibat apa lagi?” “Yang penting sekarang saya menikmati hidup dan berbuat sesuka hati
” Mereka tidak memikirkan konsekuensinya. Tak hanya tidak memikirkan kehidupan mendatang, mereka bahkan berbuat sesuka hati tanpa peduli akibat jangka pendek pada kehidupan ini juga. Mereka hanya bertindak sesuka hati mereka. “Yang penting saya senang, memangnya kenapa?” Mengenai akibat dari perbuatan di masa depan, mereka tidak mengakuinya. Dalam kehidupan ini, mereka tidak berbakti. Jika ditertawakan orang karena tidak berbakti, mereka menjawab, “Lalu kenapa?” “Itu urusan kalian, tak ada hubungannya dengan saya.” Kita pernah melihat Drama Da Ai Seputih Cahaya Rembulan. Di sana ada seorang ibu mertua yang jahat terhadap menantunya. Sang menantu bunuh diri karena mertuanya
Setelah sang menantu bunuh diri, putra sang mertua sangat membenci ibunya. Saat ibunya jatuh sakit, dia juga tak memedulikannya sehingga selama sepuluh sampai dua puluh tahun, sang ibu hidup sendirian dalam kondisi sakit, padahal sang anak tinggal di sebelah rumahnya. Kemudian sekelompok insan Tzu Chi menemukan orang tua yang malang dan menderita sakit parah ini. Para insan Tzu Chi ini dengan penuh cinta kasih memperhatikan dan merawatnya. Setiap kali bertemu dengan putra sang nenek, mereka pasti dimarahi. Dia berkata mereka terlalu ikut campur. “Untuk apa kalian banyak ikut campur?” “Ini urusan keluarga saya.” Pikiran sang anak sangat sulit diubah. Pikirannya hanya ingat kejadian menyedihkan antara ibu dan istrinya sepuluh hingga dua puluh tahun sebelumnya
Saat itu sang ibu punya pandangan sendiri, sang istri juga punya pandangan sendiri. Mereka punya pandangan masing-masing. Karena pilihan yang tidak sesuai kebenaran, sang istri akhirnya bunuh diri dalam kondisi mengandung. Kemudian, sang anak melimpahkan kesalahan pada ibunya. Terhadap ibunya sendiri, dia menaruh kebencian yang sangat dalam. Cinta kasih ibunya saat merawat dan membesarkannya sudah dia lupakan. Saat insan Tzu Chi datang merawat ibunya, dia sangat tidak suka. Saat ibunya ini meninggal, insan Tzu Chi juga yang mengurus semuanya
Dia yang tinggal bersebelahan dengan ibunya hanya melihat saja dan berdiam diri. Insan Tzu Chi memberi nasihat dan berkata kepadanya, “Coba ingat kenangan masa lalu dengan ibumu.” Dari luar rumahnya terdengar lantunan nama Buddha yang diperuntukkan bagi ibunya, sedangkan dia berpikir sendirian di dalam. Akhirnya dia merasa harus menyatakan penghormatan terakhir bagi ibunya. Dia akhirnya berlutut di hadapan ibunya. Saat itu, dia pun menangis. Perasaan bertobat sudah muncul di dalam hatinya
Begitulah mengenai pandangan. Manusia cenderung berpikir negatif. “Dahulu bagaimana dia memperlakukan saya, maka kelak saya pasti membalasnya.” Pemikiran manusia sangat rumit dan selalu ingin menguasai. Inilah pandangan sesat, tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran. Inilah salah satu pandangan sesat yang bernama nihilisme, tidak takut hukum sebab akibat. Ada pula paham eternalisme. “Saat ini saya harus menikmati hidup, urusan melatih diri nanti saja, tunggu kehidupan mendatang.” Saat menjalin jodoh buruk, orang seperti ini juga tidak peduli. Dia tetap saja perhitungan dengan orang lain karena baginya, menjalin jodoh baik adalah urusan di kehidupan mendatang. Mereka mengira bahwa jika kini terlahir sebagai manusia, maka kelak juga pasti terlahir sebagai manusia
Ini tidak benar. Jika pada kehidupan ini banyak harta, mereka berpikir pada kehidupan mendatang juga pasti demikian. Ajaran Buddha membahas tentang enam alam kelahiran kembali. Sesungguhnya, hanya ada lima alam, yakni alam surga, manusia, neraka, setan kelaparan, dan binatang. Yang keenam adalah asura yang tersebar di semua alam. Ada asura di alam surga, ada pula asura di alam manusia. Apakah asura? Makhluk yang gemar berselisih, bertikai, dan mudah marah
Di alam surga juga ada asura. Mereka sering berperang dengan para dewa. Jika dikatakan alam surga sangat damai, sesungguhnya tidak juga karena itu hanyalah sebuah alam yang penuh kenikmatan. Makhluk di sana berusia panjang dan hidup penuh kelimpahan. Sesungguhnya, di alam yang penuh kelimpahan itu juga terdapat asura yang sering membuat onar. Mereka gemar berselisih dan bertikai. Ini bukan tidak ada, terlebih di alam manusia, asura juga ada. Setiap hari, di dalam siaran berita, kapan tidak ada berita kebencian, kapan tidak ada berita pertikaian, kapan tidak ada berita pertumpahan darah? Begitulah asura di alam manusia
Pernahkah kalian melihat orang yang menyabung ayam atau mengadu sapi? Itu juga bentuk asura. Dirangsang sedikit oleh manusia, hewan-hewan itu langsung berkelahi hingga ada yang menang. Orang-orang yang menonton merasa gembira. Sesungguhnya, saat melihat orang saling bertengkar atau binatang saling berkelahi, semuanya sama saja. Semua berkelahi hingga berdarah-darah. Begitulah orang yang melekat pada nihilisme atau eternalisme. Kita harus tahu bahwa di enam alam ini, sungguh sulit untuk terlahir sebagai manusia
Begitu terjatuh dari alam manusia, maka akan sulit untuk kembali. Di alam surga tiada makhluk yang mencapai kebuddhaan. Di neraka pun tidak ada yang bisa melatih diri. Hanya di alam manusialah kita dapat melatih diri. Kenikmatan alam surga membuat kita kehilangan tekad melatih diri. Terlahir di neraka sungguh menderita. Setiap saat selalu menerima penderitaan, bagaimana dapat melatih diri? Di alam binatang dan alam setan kelaparan juga tidak mungkin. Hanya di alam manusia kemungkinan itu ada. Jadi, hidup di alam manusia, kita harus memahami kebenaran
Segala sesuatu tak dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti. Hidup tidak berakhir setelah kematian karena hukum sebab akibat terus berjalan. Karma ini tidak langsung lenyap. Perbuatan yang Anda lakukan pada kehidupan ini akan membawa akibat pada kehidupan mendatang. Mana mungkin sebab tidak membawa akibat. Benih sebab tidak akan hilang begitu saja. Kebajikan akan membuahkan berkah, kejahatan akan mendatangkan akibat. Hukum sebab akibat ini tidak akan berhenti. Jadi, kita tidak boleh berpaham nihilisme, tetapi juga tidak boleh berpaham eternalisme. Jangan berpikir bahwa jika kita tidak melatih diri dengan baik dalam kehidupan ini, maka pasti masih ada kesempatan dalam kehidupan mendatang. Belum tentu, karena karma masa lalu Anda membuat Anda selalu membangkitkan ketamakan saat bertemu dengan kondisi luar
Meski Anda adalah seorang biarawan, tetapi saat indra Anda bersentuhan dengan objek luar, ketamakan pun masih mungkin timbul dalam batin Anda. Tidak ada yang dapat menjamin bahwa jika pada kehidupan ini Anda adalah biarawan, maka pada kehidupan berikutnya Anda masih bisa menjadi biarawan. Meski pada kehidupan ini Anda dapat mengenal ajaran Buddha, di kehidupan mendatang Anda dapat kembali mengenal ajaran Buddha karena dalam kehidupan sekarang Anda tidak benar-benar menyelaminya. Dengan tidak menyelaminya, sama saja dengan tidak menanam benih. Jadi, kita tidak boleh melekat pada paham eternalisme. kondisi kita pada kehidupan sekarang pasti akan berlanjut ke kehidupan mendatang. Jangan berpikir begitu. Kondisi yang kita terima di kehidupan sekarang, jika ingin berubah pada kehidupan mendatang, maka semua itu bergantung pada apakah kita mengubah tabiat buruk masa lalu kita. mengubah tabiat buruk masa lalu kita dan mengembangkan kebiasaan baik. Kita harus kembali pada kebenaran. Apakah kita telah kembali pada sifat hakiki yang murni dan tulus? Kita harus selalu berintrospeksi. Jika ada kesalahan, kita harus segera memperbaikinya
Jika sudah benar, maka kita harus lebih bersemangat. Jadi, jangan berpandangan nihilisme ataupun eternalisme. Jangan pula melekat pada eksistensi ataupun kekosongan. Janganlah kita melekat pada eksistensi. Saya sering berkata bahwa kita tak punya hak milik atas apa pun di dunia, kita hanya memiliki hak guna. Janganlah pula beranggapan bahwa segala sesuatu adalah kosong atau tidak ada. Jelas-jelas ada, malah dikatakan tidak ada. Jika benar-benar tidak ada, lalu apa yang kita gunakan dalam keseharian? Jadi, tidak benar jika kita melekat pada kekosongan ataupun eksistensi. Kita harus memahami eksistensi di balik kekosongan
Akan tetapi, segala eksistensi juga berhakikat kosong. Contohnya, sebuah benda benar-benar ada, tetapi jika komponennya terus diuraikan, maka sesungguhnya tiada yang tersisa. Jadi, Buddha mengajarkan tentang kekosongan. Kekosongan bukan berarti segala sesuatu adalah tidak ada. Itu hanyalah istilah. Jika melekat pada ketidakadaan, maka pandangan dan pemikiran kita akan menyimpang. Dengan kebijaksanaan-Nya, Buddha menjelaskan kepada kita bahwa tiada satu waktu pun yang dapat dihentikan. Tadi, saat saya akan keluar, saya melihat langit masih gelap
Saya baru duduk di sini selama setengah jam, entah kapan langit mulai terang. Sungguh tidak terasa. Tanpa kita sadari, waktu menunjukkan kepada kita bahwa segala kondisi terus berubah, seperti langit yang gelap menjadi terang
Kini kita juga tidak pernah berpikir bagaimana orang-orang memeluk kita saat kita masih kecil. Sesungguhnya, orang tua sering memeluk kita dan selalu menganggap kita buah hati mereka. Apakah hal itu berlangsung sampai sekarang? Jika dilihat, sepertinya tidak. Saat itu orang tua masih muda dan kita masih kecil. saat-saat itu sudah tidak ada lagi. Namun, apakah itu pernah terjadi? Pernah. Mengapa sekarang tidak ada lagi? Karena segala sesuatu berproses seiring waktu
Kita tumbuh dari bayi menjadi anak kecil, remaja, hingga dewasa. Tubuh kita yang merupakan bagian dari materi juga terus berproses dan tak hentinya mengalami perubahan kondisi. Segala benda yang dapat kita lihat merupakan kondisi yang terus berproses. Kondisi pasti selalu berubah. Yang dahulu tidak ada bisa menjadi ada. Contohnya, tadi saat saya keluar langit masih gelap. Kini langit semakin terang. Gelap pun semakin memudar
Kondisi menjadi terang. Akan tetapi, sampai pada sore hari, kondisi terang ini mulai meredup dan menjadi gelap kembali. Sesungguhnya, ada dan tiada terus berputar. Jika dianalisis secara mendalam, pada akhirnya tiada apa pun. Contohnya, bunga dan pohon berasal dari benih
Akan tetapi, jika benih dikupas, juga tak ada pohon di dalamnya. Bunga apa yang akan tumbuh? Tidak tahu. Awalnya tidak ada bunga, tetapi dengan adanya benih dan kondisi pendukung, bunga pun tumbuh
Jadi, jangan melekat pada eksistensi ataupun kekosongan. Jika kita terlalu melekat, maka hati kita tak akan menjadi lapang. Dengan begitu, kita akan diliputi pandangan sesat, ketamakan, dll. dan karma buruk pun akan tercipta. Saudara sekalian, apakah cinta kita adalah cinta yang penuh noda ataukah cinta yang tanpa noda, semuanya bergantung pada sebersit niat yang timbul seketika. Jadi, kita semua harus selalu bersungguh hati.