Sanubari Teduh – 190 – Enam Keinginan Bagian 4
Saudara se-Dharma sekalian, kita terus membahas kontak enam indra dan enam objek dalam keseharian yang pada akhirnya menimbulkan pembedaan dan membuat noda batin berkembang. Demikianlah makhluk awam. Makhluk awam memiliki kebencian dan kecintaan saat menghadapi kondisi baik dan buruk. Terhadap kondisi-kondisi itu, saat merasa tidak suka, kita akan sangat tersiksa. Jika bertemu kondisi yang kita sukai, kita akan sangat gembira. Akan tetapi, apakah kondisi ini bertahan lama? Sebelumnya kita sudah membahas tentang nihilisme dan eternalisme
Ada orang yang melekat pada nihilisme. Mereka beranggapan bahwa setelah kehidupan ini, tiada kehidupan selanjutnya. Mereka hanya peduli kesenangan saat ini, tidak peduli apa yang akan terjadi besok. Inilah pandangan nihilisme. Ada pula orang yang melekat pada pandangan eternalisme. Mereka menganggap semuanya kekal. Mereka berpikir jika pada kehidupan ini terlahir sebagai manusia, maka di kehidupan mendatang juga pasti terlahir sebagai manusia; jika pada kehidupan ini hidup senang, maka di kehidupan mendatang juga pasti senang. Mereka tidak sadar terhadap ketidakkekalan
Kehidupan seperti ini mudah terjerumus. Mereka tidak mengerti untuk giat melatih diri. Kehidupan pada dasarnya tidaklah kekal. Dalam kehidupan ini, segala sesuatu adalah tidak pasti, apalagi kehidupan mendatang. Jadi, menghadapi segala kondisi dalam hidup, kita hendaknya berusaha terus melatih diri lewat segala kondisi ini Baik yang kondisi baik maupun buruk. Buddha mengajarkan kepada kita untuk mengambil pelajaran dari kehidupan sehari-hari. Saya juga sering berkata kepada kalian bahwa di tengah masyarakat, jangan menganggap masalah sebagai masalah. Jika di dalam masyarakat kita dapat menganggap masalah yang muncul sebagai pelajaran, maka inilah yang disebut melatih diri. Dalam hubungan antarmanusia, setiap orang memiliki pandangan masing-masing
Dengan beragamnya pandangan yang ada, perbedaan pendapat tentu sulit dihindari. Setiap orang merasa paling benar, maka terjadilah perselisihan. Jadi, di tengah masyarakat, masalah sulit dihindari. Buddha ingin mengajarkan kepada kita bahwa masalah yang kita hadapi di tengah masyarakat harus kita anggap sebagai pelajaran. Semua orang melekat pada salah satu sisi, maka timbullah noda batin dan terciptalah karma buruk. Jadi, kita harus mengambil pelajaran dari masalah. Begitulah kita harus menghadapi kondisi
Dalam setiap kondisi, kita harus bisa membedakan baik dan buruk. Dengan begitu, kita akan selaras dengan kebenaran. Sesuatu yang benar, sesuatu yang bermanfaat, sesuatu yang baik harus segera kita pelajari untuk memperbaiki kesalahan kita. Inilah yang disebut selaras dengan kebenaran. Jika kita merasa telah melakukan sesuatu yang buruk dan tidak benar, maka kita harus segera berintrospeksi dan mengingatkan diri sendiri untuk menjauhi keburukan itu. Inilah kebijaksanaan hidup yang Buddha ajarkan pada kita. Jadi, kondisi baik dan buruk, bagi orang yang berpandangan salah, akan menimbulkan kebencian atau keinginan dan kemelekatan. Jika ketamakan timbul, orang akan sulit melupakan itu
Akibatnya, ketamakan ini akan terus membuai dan mengganggu batin kita hingga kemelekatan semakin tebal. Kemelekatan ini membuat kita menciptakan karma buruk. Pada zaman Buddha, Di antara murid-murid-Nya, juga ada yang tenggelam dalam ketamakan dan kemelekatan. Akhirnya mereka mampu berintrospeksi dan mengingat tekad awal untuk melatih diri. Akan tetapi, begitu nafsu keinginan bangkit, mereka menyesal dan terjerumus kembali. ada seseorang wanita bernama Gadis Teratai. Wanita ini sangat cantik. Banyak orang yang ingin menjadi pasangannya. Akhirnya, setelah melihat kenyataan hidup dan mendengar ajaran Buddha, dia menyadari ketidakkekalan
“Kecantikan masa mudaku ini bisa bertahan berapa lama?” “Semua tidak kekal, kelak aku juga akan menua.” Jadi, dia bertekad meninggalkan keduniawian. Dia memutuskan untuk memasuki jalan pelatihan diri. Dia lalu berjalan-jalan di sebuah taman. Di sana ada pepohonan yang rindang dan bunga-bunga yang indah. Karena merasa kepanasan, dia mencari air untuk melepas dahaga. Dia menemukan sebuah kolam yang airnya jernih. Dia lalu membungkuk di tepi kolam. Saat akan mengambil air untuk minum, dia tiba-tiba melihat bayangan wajahnya di air. Saat itu, dia merasa bayangan dirinya itu sangat cantik
Terhadap kecantikannya sendiri itu, timbul ketamakan dan kemelekatan dalam dirinya. Jadi, saat itu dia berpikir, “Sekarang aku sangat cantik, apakah tidak terlalu cepat aku meninggalkan keduniawian?” “Masih banyak keindahan di dunia, masih banyak kenikmatan yang belum pernah aku rasakan.” “Saya seharusnya pulang saja, tunggu aku agak tua baru melatih diri.” Setelah membuat keputusan itu, dia pun berjalan ke arah pulang. Saat keluar dari taman itu, dia bertemu dengan seorang wanita yang lebih cantik dari dirinya. Wanita itu juga masih muda. Bukan hanya cantik, dia juga terlihat sangat cerah, membuat suka orang yang melihatnya. Tindak-tanduknya juga sangat baik. Dia bertanya kepadanya, “Ke mana engkau ingin pergi?” Gadis Teratai menjawab, “Hidup penuh penderitaan, banyak perubahan di dalam keluargaku, maka aku ingin pulang ke rumah orang tuaku
” “Karena banyak isi hati tak tercurahkan, maka aku ingin pulang untuk mencurahkan isi hatiku.” Saat bertemu Gadis Teratai, wanita ini merasa cepat akrab, lalu berkata, “Mari kita berjalan bersama.” Mereka pun berjalan berdua. Cuaca sangat panas. Akhirnya, mereka mencari sebuah pohon rindang dan duduk di bawahnya sambil saling mendengar kisah masing-masing. Meski kehidupan mereka memiliki kisah yang berbeda, tetapi intinya sama, yakni tidak kekal dan penuh penderitaan. Saat saling bercerita, sang wanita merasa sangat lelah. Dia bertanya, “Bolehkah aku bersandar padamu untuk tidur sebentar?” “Tubuhku sangat lelah
” “Aku ingin istirahat sebentar.” Gadis Teratai merasa wanita ini cukup menarik. Dia berkata, “Mari, bersandarlah pada lututku.” Gadis Teratai pun duduk dan membiarkan sang wanita bersandar pada lututnya. Lututnya dijadikan sandaran bagi sang wanita. Wanita ini pun tanpa sungkan bersandar pada lutut Gadis Teratai. Gadis Teratai juga menggunakan kedua tangannya untuk memeluk sang wanita. Waktu terus berlalu. Cuaca saat itu sangat panas. Angin dingin mulai bertiup
Matahari pun mulai tenggelam. Akan tetapi, sang wanita belum juga bangun. Saat Gadis Teratai mengamatinya, ternyata dia sudah tak bernapas. Saat itu Gadis Teratai mengamati dengan lebih teliti, ternyata ada belatung keluar dari mulutnya. Kemudian, aroma tidak sedap mulai keluar dari mulut wanita itu. Saat Gadis Teratai membalikkan tubuh sang wanita, terlihat panca indranya sudah mulai membusuk. Melihat kejadian itu, Gadis Teratai sangat terkejut. Dia merasa kehidupan sungguh tidak kekal
“Apakah hidup tak akan berakhir di usia muda?” Dia merasa wanita di hadapannya tadi masih terlihat cantik, kulitnya halus, wajahnya rupawan, tindak-tanduknya anggun. Meski memiliki banyak masalah, dia tetap terlihat cantik dan terlihat memiliki hidup yang baik. Siapa yang menyangka bahwa setelah berhenti bernapas, dalam waktu hanya beberapa jam mulutnya sudah mengeluarkan belatung. Wajahnya pun berubah menjadi menakutkan. Gadis Teratai tahu bahwa wanita itu meninggal dengan menyimpan kebencian. Jadi, Gadis Teratai pun tersadar
“Aku tak boleh menunda lagi.” “Aku harus segera melatih diri.” Dia pun segera berbalik arah dan kembali ke vihara untuk menemui Buddha. Dia dengan tulus menghormat pada Buddha. Buddha bertanya apa yang telah dialaminya. Dia pun menceritakan pergumulan batinnya hingga dia melihat ketidakkekalan hidup dan merasa ketakutan. Dengan penuh welas asih, Buddha berkata pada Gadis Teratai, “Ada empat hal yang tak dapat diandalkan manusia
” “Pertama adalah usia muda yang dapat menua.” Saat masih muda, kita menjalani hidup dengan sembrono. Akan tetapi usia kita terus bertambah dari muda hingga dewasa. Kita tak bisa menahan perubahan usia untuk selalu menjadi muda. Saat mencapai usia pemuda, lambat laun kita juga akan menua
Jadi, usia muda tidak dapat diandalkan karena kita juga akan menua. “Kedua adalah tubuh sehat yang bisa mati.” Kini kita sangat sehat, tetapi kita tidak bisa mengandalkan kesehatan ini. Meski kini tubuh kita sehat, tetapi suatu saat kita juga bisa mati. Tubuh yang sehat juga bisa jatuh sakit. Mengenai kesehatan, kita sudah membahas sang wanita tadi. Saat Gadis Teratai bertemu dengannya, dia tidak menderita sakit apa pun. Setelah mencurahkan isi hatinya dan bersandar untuk beristirahat karena lelah, dia lalu meninggal
Jadi, jangan mengira bahwa tubuh yang sehat akan terus sehat selamanya. Hidup hanya sebatas tarikan napas, kita bisa mati kapan saja. “Ketiga adalah keluarga bahagia yang dapat berpisah.” Betapa pun Anda mengasihi keluarga Anda, orang-orang yang paling Anda kasihi itu suatu saat juga akan berpisah dengan Anda. Meski orang-orang yang paling kita kasihi kini hidup bahagia bersama-sama dengan kita, tetapi di dunia ini ada penderitaan karena berpisah dengan yang dikasihi. Orang-orang yang kita kasihi suatu saat pasti berpisah dengan kita. Semakin kita mengasihi seseorang, saat akan berpisah, maka akan semakin sedih. “Keempat adalah harta yang terkumpul yang bisa hilang
” Reputasi, keuntungan, dan kedudukan yang kita pupuk dan kita miliki, suatu saat akan hilang dari diri kita. Kita lahir tidak membawa apa-apa, juga tidak akan membawa apa-apa saat meninggal. Seberapa pun banyaknya harta dan tingginya reputasi yang kita miliki, suatu saat kita akan kehilangan semuanya. Jadi, keempat hal tadi tidak dapat kita miliki selamanya Semua ini bukanlah sesuatu yang dapat diandalkan. Empat hal ini tidak dapat diandalkan. Jangan mengira kita masih muda, masih sehat, atau masih memiliki keluarga yang bahagia. Sesungguhnya, banyak hal yang tak dapat kita andalkan, terlebih lagi harta dan kedudukan. Karena itu, Buddha mengatakan hal ini
Gadis Teratai berkisah, “Aku merasa wajahku masih cantik.” Dia juga menceritakan kasih wanita tadi. Jadi Buddha berkata, “Kecantikan akan pudar seiring penuaan.” Jangan berpikir kita masih muda. Kecantikan juga akan pudar saat kita menua. Meski sekarang kita terlihat cantik, tetapi seperti apa nanti saat kita tua? Saat semakin tua, tubuh kita pun mengalami perubahan, demikian pula dengan rambut dan kulit. Kulit wajah kita mulai banyak kerutan. Kecantikan akan hilang seiring penuaan
Saat usia tua datang, fungsi anggota tubuh pun mengalami penurunan. Segala penyakit juga dapat menghampiri. Meski kita sangat merawat diri, penuaan tak dapat dicegah. Meski kita tetap merawat diri dengan baik dan mengonsumsi makanan bergizi, penyakit tetap dapat menyerang kita. Jadi, penyakit tetap dapat menghampiri. Bagaimana pun kita merawat diri, fungsi tubuh tetap dapat mengalami penurunan dan kita tetap akan meninggal. Jika tubuh mengalami penurunan fungsi, maka meski belum meninggal, orang dapat mengalami berbagai masalah. Lihatlah di rumah sakit, relawan setiap hari mengunjungi pasien. Ada orang yang menderita penyakit hingga tubuhnya mengeluarkan bau dan kulitnya terkelupas. Mereka sudah mengalami hal itu meski masih hidup
Saat ajal menjelang, tubuh pun membengkak. Cairan kotor pun keluar dan menimbulkan aroma tidak sedap. Jadi, apa gunanya tubuh ini? Tubuh ini selalu mengeluarkan kotoran. Pada tubuh kita ini, ada sembilan lubang yang selalu mengeluarkan kotoran. Coba kalian renungkan baik-baik, tujuh lubang ada di wajah ditambah dua lubang saluran pembuangan. Inilah sembilan lubang yang selalu mengeluarkan kotoran. Dari tujuh lubang yang terlihat saja sudah sering keluar kotoran, seperti air mata, kotoran telinga, lendir hidung, dan dahak
Semua ini adalah sesuatu yang kotor, terlebih lagi air seni dan tinja. Begitulah sembilan lubang sering mengeluarkan kotoran. Jadi, dikatakan, “Selalu mengeluarkan kotoran.” Kotor sekali, tidak bersih. Kita harus merenungkan tidak bersihnya tubuh ini. Ada pula penderitaan akibat penyakit, usia tua, dan kematian. Orang yang menderita penyakit adakalanya tak bisa merawat diri sendiri. Kehidupannya menjadi sangat menderita. Menderita sakit sungguh paling menderita
Jadi, saat penyakit mendera, usia tua dan kematian juga membuat risau. Usia tua dan kematian adalah penderitaan besar dalam hidup Akan tetapi, manusia tak mengerti untuk berintrospeksi. Mereka terus mengumbar nafsu keinginan dan semakin banyak berbuat yang tidak benar. Semua orang masih penuh ketamakan. Mereka masih terus mengejar kenikmatan dan terus berbuat yang tidak benar. Perbuatan tidak benar yang dilakukan semakin banyak. Karma buruk pun semakin bertambah. Orang-orang tidak menyadari perubahan dan ketidakkekalan hidup. Kita semua terus terbuai oleh nafsu keinginan sehingga tidak mampu berintrospeksi. Kita tidak mampu merenungkan ketidakkekalan hidup. Lihatlah, penuh perubahan dalam hidup ini, apakah kita menyadarinya? Ini yang disebut tidak menyadari perubahan
Orang-orang menganggap jika hari ini selamat, maka besok pun pasti demikian hingga seumur hidup. Sesungguhnya, belum tentu. Kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Enam indra selalu bersentuhan dengan enam objek. kita sungguh harus belajar untuk menyadari ketidakkekalan dan meningkatkan kewaspadaan. Jadi, kita harus menyadari perubahan, jangan sebaliknya. Selain itu, kita harus mengingatkan diri sendiri. Jadi, kehidupan tidaklah kekal, orang-orang terkasih pun tidak bisa diandalkan selamanya
Saat seorang ayah sakit, sang anak belum tentu berbakti dan rela merawatnya terus. Saat ajal menjelang, meski masih dapat memeluk orang yang dikasihi, tetapi saat napas terakhir berembus, manusia tetap akan pergi. Jadi, keluarga pun tidak bisa diandalkan. Kepergian mereka juga tidak dapat dicegah. Mereka juga tak bisa selamanya berada di sisi kita. Semua ini tidak mungkin. Jadi, tubuh selalu berubah dan usia tak pernah berhenti. Tubuh kita bagai ilusi. Sesungguhnya, bukankah segala sesuatu di dunia seperti itu? Kemarin saya mengatakan kepada kalian bahwa jika kita tidak menyerap Dharma dengan baik, maka begitu kehidupan kita berakhir, di kehidupan mendatang kita belum tentu dapat kembali melatih diri. Sama halnya, makanan yang kita makan kemarin, setelah habis dicerna, tidak akan ada lagi
Segala hal di dunia jika tidak kita lakukan dengan sungguh-sungguh, maka akan berlalu tanpa makna begitu saja. Lain halnya jika di tengah masyarakat kita sangat bersungguh hati sehingga segala yang dilakukan menjadi bermakna. Dengan begitu, kita akan meninggalkan sejarah. Jadi, Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha berarti harus membuka pandangan kita. kita tidak perlu mencari di luar diri. Segala yang ada pada diri kita mengandung Dharma. Segala perubahan pada tubuh kita hendaknya dapat kita renungkan baik-baik. Dengan begitu, dari tubuh kita saja, kita dapat memperoleh dan membabarkan Dharma. Untuk itu, kita harus mengamatinya dengan sepenuh hati. kita juga harus mengamati dengan sepenuh hati
Melihat kondisi di luar, kita harus berintrospeksi. Jadi, mempelajari ajaran Buddha adalah menyadari bahwa “cinta” atau keinginan dapat membawa penderitaan. Jika kita memiliki keinginan terhadap sesuatu atau melekat pada suatu hal, bukankah pada akhirnya kita akan menderita? Pada akhirnya, apa yang harus kita renungkan? Tubuh ini. Tubuh ini bagai ilusi, usia pun tidak pernah berhenti. Jadi, kita harus menggenggam waktu yang ada, menghargai lingkungan tempat kita berada, dan saling mengasihi dalam hubungan antarmanusia
Saudara sekalian, kita semua harus selalu bersungguh hati. Setiap orang yang kita temui tengah membabarkan Dharma bagi kita. Karena itu, kita harus bersyukur, menghormati, dan mengembangkan cinta kasih bagi mereka. Jadi, harap semua lebih bersungguh hati.