Sanubari Teduh – 191 – Enam Keraguan Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, saat memasuki pintu pelatihan diri, Ada satu kata kunci, yakni keyakinan. Keyakinan adalah ibu dari segala pahala yang menumbuhkan segala akar kebajikan. Bukankah ini yang sering saya katakan? Sungguh, jika tak memiliki keyakinan, kita tak akan dapat memasuki pintu ajaran Buddha. Jadi, kita harus punya keyakinan yang teguh. Jika memiliki keyakinan yang tidak benar, kita juga akan tersesat. Jadi, kita telah membahas Enam Keinginan. Kini kita akan membahas Enam Keraguan. Keraguan adalah akar dari keburukan. Dengan memiliki keraguan, kita dapat berbuat berbagai keburukan. Apa yang dimaksud keraguan? Yakni sifat yang penuh kebimbangan yang berasal dari karma akibat ketidakyakinan
Karena adanya keraguan, meski ajaran baik ada di depannya, dia tetap ragu dan bimbang serta tidak mampu membuat ketetapan hati. Akibatnya, keyakinannya timbul tenggelam. Adakalanya saat mendengar sesuatu yang masuk akal, dia percaya. Namun, saat bertemu kondisi lain, dia mudah terpengaruh oleh orang lain. Jadi, tidak memiliki keyakinan sangatlah menderita. Jika memiliki keyakinan, tetapi masih ragu dan merasa bimbang, orang juga akan diliputi banyak kerisauan. Ini berasal dari karma akibat ketidakyakinan. Kerisauan ini berasal dari kekuatan karma akibat ketidakyakinan
Kita sering melihat di masyarakat banyak orang yang tidak percaya pada anak istri atau pada saudara. Suami istri juga tidak saling percaya. Begitu pula terhadap teman, saudara, kerabat, dll., banyak orang tidak percaya. Semua orang saling mencurigai. Ini menimbulkan banyak masalah keluarga serta masalah masyarakat. Semua bermula pada kecurigaan. Kecurigaan ada karena adanya keraguan, sehingga tidak dapat menerima dengan pasti
Begitulah kecurigaan muncul. Dikatakan, ” Saat enam indra bersentuhan dengan enam objek, bedakanlah kebaikan dan kejahatan dengan jelas, tidak perlu ragu.” Saat enam indra bersentuhan dengan objek luar, jika kita memiliki kebijaksanaan dan mampu membedakan yang baik dan buruk, maka kita tidak akan memiliki keraguan. Jika kita tidak memahami dengan jelas, maka tentu akan ada keraguan. Dengan begitu, enam objek akan mudah memengaruhi kita yang penuh keraguan. Akibatnya, kesadaran pikiran kita akan mudah menciptakan karma
Ini menciptakan kondisi yang negatif, kondisi yang salah. Sebelumnya kita juga telah membahas, saat indra mata bersentuhan dengan objek rupa, apakah yang dilihat adalah kenyataan? Orang bijaksana dapat membedakan kondisi yang dilihatnya apakah nyata ataukah palsu. Mereka tidak akan terpengaruh dan terbuai oleh apa yang dilihatnya. Di surat kabar ada sebuah contoh kasus. Dikisahkan ada sepasang kekasih. Perasaan di antara mereka sudah sangat dalam. Akan tetapi, si pria berpikir, si wanita yang begitu ceria dan cantik apakah memiliki orang lain di luar. Si pria ingin memiliki si wanita seluruhnya dan ingin mendapatkan seluruh hatinya
Jadi, meski sangat mencintai wanita itu, dia sangat posesif. Mulanya, sang wanita sangat bahagia. Hubungan mereka berdua sangat baik. Akan tetapi, mereka belum bertunangan, apalagi menikah. Seharusnya, dengan siapa si wanita berbicara atau dengan siapa dia bergaul, dia masih bebas. Suatu hari, si wanita dibonceng oleh pria lain. Teman mereka yang lain mengadu kepada si pria, “Saya melihat pacarmu dibonceng oleh orang lain.” Si pria sangat marah saat mendengarnya. Dia menemui sang wanita untuk meminta penjelasan dan terus mencecarnya dengan pertanyaan apakah dia ada hubungan dengan pria lain dan apakah perasaannya telah berubah. Sang wanita tidak membenarkan bahwa pria yang memboncengnya memiliki hubungan khusus dengannya
Kebetulan saat itu tujuan mereka memang searah. Sesederhana itu. Akan tetapi, si pria sudah terlanjur tidak percaya. Dia merasa curiga. Meski sangat mencintai wanita itu, dia tetap tidak percaya
Pada saat-saat itu, si pria sangat berkeras. Akhirnya, si wanita merasa kecewa. Dia berpikir, “Kami belum bertunangan, juga belum menikah, mengapa dia harus banyak mengatur saya?” Akhirnya, perasaannya terhadap si pria pun memudar. Kecurigaan si pria pun menjadi semakin besar. Jadi suatu hari dia bertanya kepada sang wanita, “Jika perasaanmu terhadapku tak mendua dan tidak ada perasaan terhadap pria itu, beranikah kamu mati bersamaku?” Wanita itu menjawab, “Apa alasannya aku harus mati bersamamu?” “Toh aku juga tidak melakukan apa-apa.” “Mengapa aku harus mati bersamamu?” Saat itu, perasaan si pria terhadap si wanita juga telah berubah. Dia sangat kecewa. Dia menyetrum sang wanita hingga tewas, lalu bunuh diri. Dia lalu berhasil ditemukan orang dan dilarikan ke RS
Meski nyawanya selamat, tetapi dia tak bisa bebas dari penjara batinnya. Dia harus menerima hukuman moral masyarakat dan hukuman pengadilan. Setelah menjalani hukuman selama 15 tahun, apakah selesai sampai di sana? Entah sampai kapan penjara batin itu berakhir. Apakah keraguan dan kecurigaannya akan hilang setelah dia mendapat ganjaran itu? Entahlah. Di masyarakat, kasus-kasus serupa juga banyak. Semua ini berawal dari keraguan dan ketidakpercayaan terhadap kondisi yang dilihat, terlebih terhadap yang orang lain lihat. Saat orang lain memberi tahu sesuatu, ketika mendengarnya, dalam batinnya terus merasa ragu. Inilah kondisi yang negatif
Saat kita bersentuhan dengan kondisi luar, baik melihat, mendengar, merasakan, dan lain-lain, adakalanya kita merasa ragu atau curiga. Ini akan menciptakan banyak karma buruk. Ini Karena kita tidak memiliki kebijaksanaan untuk memilih. Jika kita memiliki kebijaksanaan untuk memilih, apa pun kata orang atau apa pun yang kita lihat, kita akan dapat memahami dengan jelas. Inilah yang harus kita miliki di tengah masyarakat, begitu pula dalam mempelajari ajaran Buddha. Dalam mempelajari ajaran Buddha, setelah memilih ajaran Buddha, kita harus menyelaminya
Kita harus meyakini yang Buddha katakan dan meneladani perilaku Buddha. Kita harus yakin sepenuh hati tanpa ragu. Kita harus sepenuh hati tanpa memiliki keraguan bahwa yang kita yakini adalah benar. Jika kita hanya bersembahyang dengan dupa, lalu kita mengatakan kita yakin pada Buddha dan sudah mengambil perlindungan, tetapi hanya terus memohon agar segala hal berjalan lancar, dengan berjanji bahwa setelah semua hal lancar, kita baru akan melakukan sesuatu, maka itu tidaklah benar. Ada pula orang yang suka bersembahyang, juga telah mengambil perlindungan, tetapi terus bertanya mengapa nasibnya tak kunjung berubah dan masih harus menerima buah karma buruk yang berat. Lalu ada orang yang mengajaknya untuk bertanya kepada orang pintar atau dewa. Kita mungkin masih ingat, ada seorang ibu yang matanya tak bisa melihat datang ke Griya Jing Si bersama putridnya. Mengapa dia tak bisa melihat? Karena memiliki keyakinan yang menyimpang. Mulanya dia juga seorang umat Buddha. Karena putranya tak rajin belajar, maka dia bersembahyang di kuil
Akan tetapi, bersembahyang seperti apa pun, putranya tetap tidak rajin belajar. Jadi, ada orang yang mengajaknya mencari orang pintar untuk mengubah nasib anaknya dengan harapan nasib buruk berubah jadi baik dan anak itu dapat sedikit rajin belajar. Dia memasang pelita dengan tujuan menerangi nasib anaknya. Dia mengikuti semua saran orang itu. Akhirnya, segala yang dia dengar tidak lagi dia saring dengan kebijaksanaan. Dia berkata pada orang pintar, “Anak saya nasibnya sangat buruk, saya harus bagaimana?” Orang pintar tersebut mengajarinya untuk mengadakan berbagai upacara. Lama-kelamaan dia semakin tak terkendali dan semakin terjerumus
Dia terus menempuh jalan salah dan akhirnya tersesat. Putranya pun tidak membaik. Dia sendiri juga tersesat hingga semakin jauh. Suatu hari dia mendengar bisikan yang memintanya melakukan ini dan itu. Jadi, keluarganya pun harus mengikutinya ke sana kemari. Suaminya juga tahu ada yang tidak beres, tetapi dia juga tidak bisa tidak mengikuti istrinya. Dia membawa masalah bagi keluarganya. Suatu hari dia meminta suaminya mengantarnya
Saat berada di pegunungan, tiba-tiba dia berkata, “Berhenti, berhenti!” Saat itu mereka sedang berada di tikungan, maka mobil tidak dapat dihentikan. Namun, dia langsung membuka pintu dan berlari. Kemudian, dia mencungkil matanya sendiri dengan kedua tangannya. Mengapa begitu? Saat dilarikan ke rumah sakit, matanya sudah tidak tertolong. Ketika ditanya mengapa dia melakukan itu dan begitu gegabah, dia menjawab bahwa ada yang membisikinya di telinga untuk segera meminta berhenti, jika tidak, akan menabrak dinding. Karena itu, dia meminta suaminya segera menghentikan mobil karena percaya mobil akan menabrak tembok. Sebelum mobilnya berhenti, karena takut tabrakan terjadi, dia segera melompat keluar. Setelah keluar dari mobil, dia mendengar suara berikutnya, “Cungkilah matamu.” “Dengan begitu, baru anakmu akan rajin belajar.” Jadi, setelah melompat keluar dari mobil, saat masih terkejut, dia kembali mendengar suara dan langsung mencungkil matanya dengan jari
Kini matanya tak dapat melihat dan tidak tertolong lagi. Jadi, dia melewati hari-hari yang gelap, tetapi telinganya masih bisa mendengar dan terus mendengar suara-suara tadi. Setelah insan Tzu Chi mengetahui kasus ini, mereka terus membimbingnya. Kemudian, mereka mengajaknya datang ke Griya Jing Si dengan ditemani putrinya. Saya mengatakan banyak hal untuk menenangkan hatinya. Lama-kelamaan, dia menyerap kata-kata itu. Insan Tzu Chi juga selalu mendampinginya, dan dia sudah menjadi relawan daur ulang
Bayangkan, ini akibat penyimpangan keyakinan sedikit saja. Hanya demi masa depan putranya dan agar putranya itu rajin belajar, dia masuk agama Buddha, tetapi hanya terus bersembahyang dan memohon. Apakah cara itu berhasil? Tidak. Setelah tidak berhasil, dia mencari cara lain di luar agama. Apakah berhasil? Selain tidak berhasil, dia malah mengalami gangguan fisik dan batin. Kejiwaannya menjadi terganggu. Dia pun kehilangan kedua matanya. Saat dia datang ke Hualien, saya bertanya kepadanya, “Cara apa yang kamu gunakan untuk mendidik anakmu?” Dia menjawab, “Saya sudah mengeluarkan banyak usaha, tetapi dia tetap tidak patuh.” Saya menjawab, “Anak cucu punya berkahnya sendiri.” “Semakin kamu mengikatnya, dia akan semakin melawan
” “Jika kamu berbagi kepadanya tentang ajaran Buddha, mungkin dahulu dia masih mau mendengarnya.” “Kini, dengan keadaanmu sekarang, jika kamu berbagi tentang ajaran Buddha, dia mungkin tak lagi mau mendengar.” Dia menjawab, “Benar, jika ada relawan datang ke rumah kami, dia tidak senang.” Saya berkata, “Kamu yang merusak citra ajaran Buddha.” “Ini tak akan terjadi jika dahulu kamu benar-benar menjalankan ajaran Buddha dan mendidik anak dengan metode yang tepat.” “Adakalanya saat kita ingin menangkap burung, kita harus sengaja membiarkannya bebas.” “Jika burung itu tahu kita punya makanan untuknya, maka setelah pergi, ia juga akan kembali
” “Kita malah harus memberi kebebasan padanya.” “Dengan begitu, segalanya akan lebih mudah, burung itu pun tahu dia harus kembali.” Dia berkata, “Lalu saya harus bagaimana?” Saya menjawab, “Tidak perlu apa-apa.” “Pertama, jangan lagi meminta belas kasihan darinya.” “Jangan bilang kamu sudah melakukan ini itu, atau karena dia kamu jadi begini.” “Jangan.” “Kamu harus bilang kepada putramu, ‘Nak, ibu sudah berusaha, kini giliran kamu yang memilih
‘” “‘Sesungguhnya, para bibi ini semuanya adalah orang baik.'” “‘Tanpa pendampingan dari mereka, ibu mungkin sudah tidak ada, dan kamu akan lebih menyesal.'” “‘Kini ibu seperti hidup kembali, lebih bahagia daripada sebelumnya.'” Dia menjawab, “Benar!” “Meski kini saya tidak bisa melihat, tetapi saya senang mendengar kata-kata para relawan Tzu Chi.” Saya menjawab, “Ya, katakan pada putramu bahwa kini semuanya bergantung pada dirinya.” Setelah mendengarnya, putranya pun sadar bahwa para relawan yang mendampingi ibunya membuat ibunya bahagia. Dia sendiri pun perlahan-lahan mulai berubah. Melihat ibunya melakukan daur ulang dan tidak lagi suka memarahinya, dia juga sangat bersyukur
Dia melihat ibunya sudah pulih kembali. Meski tak dapat melihat, dia masih memasak, mencuci pakaian, dan memperhatikan keluarga. Jadi, meski putranya ini gagal dalam ujian masuk SMA, tetapi kini dia sudah lebih baik. Dia berkata dia ingin mengikuti les tambahan. Dia ingin mengikuti les tambahan dan memulai dari awal. Ini adalah kisah beberapa tahun lalu. Intinya, inilah akibat dari keraguan yang membuat manusia kehabisan akal
Jika dia dapat berpegang pada ajaran Buddha, meski harapannya belum tentu segera terwujud, tetapi dia dapat belajar banyak cara bijaksana untuk mendidik anak. Keinginan memang tidak dapat segera terwujud. Keyakinan agama bukan tempat untuk meminta. Keyakinan agama adalah untuk dipraktikkan. Dalam hidup yang penuh kesesatan, tidak mudah untuk menemukan keyakinan benar sebagai tempat berlindung. Kita harus tahu bahwa kekuatan karma dari kehidupan lampau kita harus kita terima dengan lapang dada. Saat suatu masalah datang, kita harus menerima dengan sukarela. Kemudian, kita harus menghadapinya dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Dengan demikian, meski harus menghadapi buah karma masa lalu, kita juga dapat mengikis karma ini setelah menerimanya
mempelajari ajaran Buddha adalah belajar bersabar. Jadi, kita diajarkan praktik dana, sila, kesabaran, semangat, konsentrasi, kebijaksanaan. Setelah memasuki pintu ajaran Buddha, kita harus mempelajari Dharma yang benar. Jika dapat mempelajari ajaran ini tanpa ragu, maka di tengah kondisi baik dan buruk, kita tidak perlu menaruh kecurigaan dan akan dapat membuat keputusan dengan jelas. Ini disebut kebijaksanaan untuk memilih. Jika kita kurang kebijaksanaan untuk memilih, maka akan seperti ibu tadi. Meski awalnya beragama Buddha, dia kemudian berpaling dan akhirnya mengalami derita fisik serta batin. Penderitaan ini sungguh tak tertahankan. Jadi, Enam Keraguan yang kita bahas berkaitan dengan aktivitas enam indra kita yang menimbulkan keraguan. Karena itu, disebut Enam Keraguan. Keraguan bagai belenggu atau tali yang mengikat kita
Jadi, jika belenggu ini tidak dilepas, maka keraguan akan terus muncul. Ini seperti kisah sepasang kekasih di awal. Ada juga orang yang setelah menikah masih curiga suami atau istrinya memiliki selingkuhan di luar. Ini membawa ketidakbahagiaan bagi keluarga. Kasus seperti ini juga banyak. Para relawan rumah sakit kita sering melihat pasien yang dirawat karena mencoba bunuh diri dengan berbagai cara. Mengapa mereka ingin bunuh diri? Karena batin mereka diliputi keraguan dan kecurigaan terhadap orang lain serta diri sendiri. Mereka tidak memiliki keyakinan diri. Mereka merasa putus asa sehingga ingin mengakhiri hidup
Penderita depresi sebagian besar kekurangan kepercayaan diri. Jika mereka memiliki kepercayaan diri dan tidak ragu, maka tidak ada lagi yang disebut depresi, dan mereka tidak akan lagi melakukan kesalahan. Jadi, keraguan ini bagai belenggu yang mengikat batin kita. Jadi, batin kita pun terus berkutat di sana. Ini yang disebut batin yang tersesat dan ragu terhadap kebenaran. Akibat batin yang tersesat, kebenaran pun disangkal
Meski ajaran kebenaran ada di depan mata, manusia masih tidak dapat melepaskan kegelapan batin. Kegelapan batin itu tidak dapat mereka lepaskan. Ini adalah sesuatu yang menyiksa. Jadi, ajaran benar tidak dapat diyakini, itulah yang disebut belenggu keraguan. Belenggu ini adalah noda batin. Di surat kabar ada berita mengenai tiga saudara dalam satu keluarga
Sang kakak tertua serta istrinya mengalami gangguan mental. Jadi, mereka tak sepenuhnya sadar Sehingga melahirkan sembilan orang anak. Kakak kedua berpikir, dengan kondisi kakak pertamanya yang seperti itu dan memiliki banyak anak, ditambah harus menanggung orang tua dan saudara yang lain, bagaimana dia harus mencari nafkah. Dia jelas tahu bahwa menjual narkoba adalah pelanggaran berat. Dia juga tahu konsekuensi pengedar narkoba saat terbukti bersalah. Akan tetapi, dia merasa dirinya tidak akan semalang itu. Dia merasa bisnis narkoba paling menguntungkan. Jadi, dia terus menjalankannya
Penghasilannya pun sangat baik. Kemudian, sang kakak ketiga juga merasa, “Benar juga, kakak kedua saya saja selama bertahun-tahun tak pernah dapat masalah dalam bisnis itu.” “Saya sudah akan menikah. apalagi saya sudah punya anak sebelum menikah.” “Jika saya juga masuk dalam bisnis narkoba, saya rasa pendapatan juga akan baik.” Selain menarik adiknya, sang kakak kedua juga menarik kakak pertama mengingat dia menderita gangguan mental dan tak mudah dicurigai. Sang kakak pertama diajari cara untuk mengantarkan barang ke sana kemari
sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Dia akhirnya tertangkap. Ketika kasus itu terungkap, ternyata bukan hanya tiga bersaudara itu yang terlibat, bahkan orang tuanya pun terlibat. Saat tahu anak-anak mereka berbisnis narkoba dengan lancar selama bertahun-tahun dan menghasilkan banyak uang, mereka juga ikut. Jadi, saat kasus itu terungkap, seluruh anggota keluarga itu dijerat hukuman. Tiga bersaudara itu beserta para istri mereka, orang tua mereka, dan adik perempuan mereka, semuanya dipenjara
Hukuman sang kakak kedua pun lebih berat. Bagaimana nasib anak-anak dari ketiga saudara itu yang berjumlah dua belas orang? Ini membuat pekerja sosial kesulitan. Akibat tidak meyakini kebenaran, manusia melanggar hukum dan diberi sanksi. Bahkan kebenaran duniawi saja tidak dia yakini. Dia tidak menghindari perbuatan jahat. Ini juga disebut sesat. Ini juga termasuk belenggu keraguan. Kesesatan timbul karena keraguan
Jika ragu, kita akan tersesat, yakni tersesat dalam pencarian keuntungan. Jadi, keraguan ini sungguh merugikan bagi jiwa kebijaksanaan dan kehidupan kita. Semua ini berawal dari sebuah keraguan. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, dibutuhkan keyakinan, terlebih keyakinan yang benar. Mengenai keyakinan dan keraguan, harap semua dapat membedakan benar salah dengan jelas. Dengan begitu, di Jalan Bodhisattva ini kita dapat berjalan tanpa menyimpang
Ini yang disebut kebijaksanaan dalam memilih. Harap semua lebih bersungguh hati.