Sanubari Teduh – 193 – Tujuh Kebocoran
Saudara se-Dharma sekalian, pelatihan diri membutuhkan matangnya berbagai kondisi. Kita membutuhkan tubuh yang sehat, lingkungan yang damai, dan waktu yang cukup. Semua ini sangat penting bagi orang yang melatih diri, tetapi tanpa terasa malah terabaikan. Apakah tubuh dapat selalu sehat? Tanpa terasa juga, kondisi fisik kita terus melemah. Usia dan tubuh fisik terus mengalami perubahan seiring waktu. Jadi, seiring bertambahnya usia, kesehatan kita terus menurun. Tubuh kita pun semakin menua. Kapan kesehatan kita mulai menurun, kita juga tidak sadar
Terutama dari segi waktu, kapan waktu berganti, kita juga tidak menyadarinya, Setelah satu hari berlalu, kita baru sadar bahwa hari sudah berganti dan usia kita juga sudah berkurang sehari. Akan tetapi, kapan langit berubah terang atau kapan langit menjadi gelap, kita tidak menyadarinya. Jadi, kita juga kerap tak sadar akan waktu. Demikian pula dari segi kesehatan. Selain itu, kondisi alam juga terus berubah tanpa kita sadari. Semuanya berubah dan berlalu tanpa disadari. Kita lihat, batin kita memiliki Tujuh Kebocoran. Tadi kita membahas kondisi luar
Kini kita akan membahas batin kita. Tujuh Kebocoran sama dengan noda batin. Kebocoran adalah nama lain noda batin. Sepertinya ajaran Buddha tak lepas dari istilah noda batin ini karena Dharma adalah obat. Dharma bagaikan air jernih. Obat berguna untuk mengobati penyakit. Kita semua memiliki penyakit batin. Air jernih Dharma berfungsi membersihkan batin
Jadi, saya sering membahas noda batin. Mengenai Tujuh Kebocoran, ia adalah tujuh noda batin. Artinya, noda batin terus mengalir. Mengalir di sini juga berarti bocor. Saat sesuatu dimasukkan, ia kembali bocor ke luar. Contohnya, sebuah ember kotor dan bocor yang diisi air jernih, air itu juga akan terus mengalir keluar. Sama halnya dengan kita yang berkata, “Ada, saya ada mendengar Dharma, saya juga tahu saya penuh noda batin, saya tahu saya harus membersihkannya dengan ajaran Buddha.” “Semua saya tahu
” Namun, kita cepat lupa setelah mendengar Dharma. Setelah lupa, kita bicara cukup tajam dan tanpa disadari melukai orang lain. Kita harus bagaimana? Atau kita mungkin berkata, “Ada, saya sangat memperhatikannya.” “Jelas-jelas saya tidak bermaksud begitu, entah mengapa tindakan itu keluar begitu saja dan membuat orang lain merasa tidak senang.” Ini semua adalah tabiat buruk kita. Tabiat buruk berasal dari noda batin. Noda batin membuat kita yang ingin menyerap Dharma menjadi mudah lupa. Kita sering mendengar orang berkata, “Maaf, saya tidak sengaja “
Saat bersalah pada orang lain, ada orang yang sadar dan segera bertobat dan berkata bahwa dirinya tidak sengaja. Ketidaksengajaan ini sesungguhnya terjadi karena pada dasarnya dia ingin berubah dan ingin menyerap Dharma, tetapi Dharma itu bocor kembali. Karena itu, saat tabiat muncul, dia kembali salah bicara, salah bertindak, atau salah menyampaikan maksud. Ini karena Dharma yang kita serap sangat mudah bocor kembali. Dapat juga dikatakan, kita semua memiliki hakikat kebijaksanaan yang sama dengan Buddha, tetapi kebijaksanaan ini terus tertutupi oleh noda batin atau wawasan kebijaksanaan ini terus mengalami kebocoran
Ini yang disebut kebocoran. Di awal kita sudah membahas ini. Akan tetapi, di sini saya ingin mengingatkan bahwa pandangan juga termasuk noda batin. Ini adalah yang pertama dari Tujuh Kebocoran, disebut pandangan salah. Pandangan salah dapat merusak pelatihan diri kita. Pandangan ini memutus jalan pelatihan diri. Bagaimana kita mengatasi pandangan salah? Kita harus benar-benar menyatu dengan jalan kebenaran dan menambal kebocoran ini
Dengan adanya kebenaran, barulah pandangan salah bisa dilenyapkan. Jadi, untuk mematahkan pandangan salah, kita harus memiliki cukup kebijaksanaan. Jika pandangan salah muncul, ia akan mematahkan jiwa kebijaksanaan kita. Pandangan bijaksana atau pandangan salah bergantung pada kita sendiri mau memegang yang mana. Jika memilih memegang kebijaksanaan, kita akan dapat mematahkan pandangan salah. Sebaliknya, pandangan salah kuga dapat mematahkan jiwa kebijaksanaan kita
Karena itu, kita harus sangat waspada. Untuk melenyapkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan, kita harus sungguh-sungguh melatih diri. Jika tidak, akan ada kebocoran. Meski kita ingin melatih diri, tetapi segala Dharma yang kita serap akan hilang kembali. Jadi, tekad kita melatih diri harus teguh. Jika tidak, ketamakan, kebencian, dan kebodohan akan menutupi batin kita. Jadi, untuk melenyapkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan, dibutuhkan keteguhan hati untuk sungguh-sungguh melatih diri. Dengan begitu, baru ketiga noda batin ini dapat lenyap
Begitulah cara mengatasinya. Berikutnya adalah Kebocoran Indra. Kebocoran Indra merujuk pada mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dll. Inilah lima indra. Akibat kontak antara indra dan kondisi luar, noda batin pun bangkit. Ini disebut Kebocoran Indra. Selanjutnya dikatakan, “Semua pintu indra menjadi kondisi eksternal penyebab noda batin
” Ini karena kita memiliki indra. Contohnya, indra mata kita. Saat kita membuka pintu indra mata dan melihat kondisi di luar, objek luar punya kemungkinan untuk membuai kita. Lalu, kesadaran keenam kita bereaksi seiring terbukanya indra mata ini. Akibatnya, persepsi terhadap objek masuk dan tersimpan dalam batin kita. Inilah pintu indra. Pintu di sini merujuk pada kesadaran
Ketika perasaan terhadap objek timbul setelah indra mata bersentuhan dengan objek, noda batin atau kebocoran dapat timbul. Jadi, penyebab noda batin ini masuk dari pintu indra. Seharusnya semua mengerti penjelasan ini. Kita menyerap noda batin dari luar lewat kesadaran kita. Inilah yang dimaksud pintu indra sebagai kondisi eksternal yang membentuk lima jenis noda batin. Kesadaran pikiran kitalah yang menyerapnya. Inilah yang ketiga
Berikutnya adalah Kebocoran Keburukan. Keburukan adalah suatu kondisi. Orang yang penuh berkah hidup dalam lingkungan yang baik. Negaranya kaya sumber daya alam dan memiliki pemerintah yang baik yang peduli para rakyatnya. Lingkungan tempat tinggal mereka cukup sandang pangan, terlebih memiliki moralitas yang baik. Ada orang yang berkarma sangat baik sehingga dapat tinggal di tempat seperti itu, sebaliknya ada pula orang yang lahir di tempat yang tidak begitu baik. Kondisi lingkungannya sangat buruk, seperti banyak binatang buas, memiliki raja yang lalim, pendidikan yang buruk, kondisi tanah yang tidak baik, serta berbagai hal buruk lainnya. Akibat berbagai kejahatan warganya, tempat itu menjadi tidak baik
Baik tindakan maupun pandangan orang-orang di sana mengandung penyimpangan. Jadi, banyak kejahatan di sana. Kejahatan ini dapat mempertebal noda batin. Kita ambil satu contoh. Kita seharusnya masih ingat suatu ketika, di dunia ini terjadi sebuah tragedy yang menggemparkan. Tragedi ini dimulai oleh anak muda. Mereka menyulut kerusuhan di Paris, Perancis
Kerusuhan ini berlangsung lama, selama hampir satu setengah bulan. Kerusuhan bermula dari pinggiran kota dan menjalar hingga pusat Kota Paris. Tragedi ini dimulai oleh sekelompok imigran. Mengapa para imigran ini bisa tiba di Perancis? Karena di negara mereka, mereka sulit bertahan hidup. Mereka mendengar bahwa Paris adalah surga dunia. Mereka lalu mencari cara untuk ke sana. Ada orang yang melewati perbatasan secara ilegal. Ada pula orang yang terlebih dahulu mendaftar sebagai tenaga kerja asing
Singkat kata, baik yang datang secara ilegal maupun yang datang sebagai tenaga kerja, mereka semua datang demi kehidupan yang lebih baik. Mereka hidup kekurangan. Sebagian besar dari mereka berasal dari Arab, Afrika, Aljazair, atau Maroko. Di negara-negara ini kesenjangan sosial begitu besar. Ada negara yang benar-benar miskin, ada pula yang berkesenjangan sosial tinggi. Orang-orang ini tak mampu lagi bertahan hidup di sana. Dengan membawa harapan, mereka datang ke Perancis
Mereka bekerja sebagai buruh kasar. Kehidupan mereka juga sulit. Mereka bertahan hidup dengan mengandalkan kemampuan fisik. Terlebih lagi, karena berasal dari negara miskin, di Perancis mereka juga menerima diskriminasi. Mereka diremehkan dan ditindas orang. Jadi, kehidupan mereka juga tidak membaik. Mereka sudah bekerja membanting tulang, tetapi masih tetap hidup kekurangan. Pekerja seperti mereka, saat memiliki anak, anak-anak mereka pun akan tetap hidup di lingkungan yang buruk. Mereka tidak memperoleh pendidikan yang baik, hanya berkeliaran di tengah masyarakat
Anak-anak ini juga belum benar-benar dewasa, baru berusia belasan tahun. Namun, dibilang masih kecil juga tidak. Anak-anak ini juga menginginkan kehidupan yang baik. Orang tua mereka tak mampu merawat mereka, tak dapat membiayai pendidikan mereka. Jadi, anak-anak muda ini dibiarkan bertahan hidup sendiri. Sebagian dari mereka ada yang menjadi pengguna narkoba, ada pula yang menjadi pengedar. Oleh karena itu, masyarakat pun menjadi resah dan tidak tenang
Masyarakat merasa sulit mendapat keamanan. Jadi, warga ingin menekan para anak muda itu dan menghentikan peredaran narkoba di sana. Suatu hari, saat terjadi transaksi narkoba, seorang anak tertawan oleh polisi. Saat akan ditangkap, dia melarikan diri. Dia terus berlari. Dia terus berlari hingga ke daerah bertegangan tinggi yang berbahaya. Meski polisi mengejarnya sambil terus memperingatkannya bahwa tempat itu berbahaya, tetapi dia yang sedang panic tidak menggubrisnya sama sekali
Dia hanya berpikir untuk kabur. Saat memasuki daerah bertegangan tinggi itu, dia tersengat listrik hingga tewas. Setelah kejadian itu, sekelompok anak muda tadi mulai menyebarkan berita lewat internet. Mereka mengajak teman-temannya untuk membalas dendam. Cara mereka membalas dendam adalah dengan membakar mobil yang disiram bensin, membakar tumpukan sampah, atau membakar rumah orang. Aksi ini menjadi tidak terkendali. Ini terjadi karena para imigran merasa tidak mendapat perlakuan yang setara
Dari daerah yang miskin, mereka pindah ke sana, tetapi tetap harus hidup sulit. Mereka tidak dihormati di negara asalnya. Setelah datang ke negara lain, mereka tetap tidak mendapat perlakuan setara. Dendam dan kebencian mereka mulai menjalar kepada anak-anak mereka. Anak-anak ini juga tidak mendapat pendidikan yang baik. Akibatnya, tindakan mereka menjadi tidak terkendali. Jadi,sesungguhnya masalah ini telah terpupuk selama lebih dari 20 tahun. Pihak keamanan setempat pun mengalami kesulitan
Sulit untuk mengontrol para imigran ini. Berhubung mereka tahu bahwa di negara itu anak-anak di bawah usia 13 tahun tidak dapat dikenai sanksi kriminal, maka mereka menggerakkan anak-anak di bawah 13 tahun untuk melakukan pelanggaran. Demikianlah manusia yang tinggal dalam lingkungan yang buruk dan penuh kemiskinan. Mereka juga tidak mendapat perlakuan setara. Mereka ditindas dan diremehkan orang lain. Negara mereka sendiri tidak mampu meningkatkan harkat dan martabat mereka
Akibatnya, mereka menjadi penyakit masyarakat. Kita sering mengatakan bahwa Paris bagaikan surga dunia. Sesungguhnya, mereka juga memiliki masalah masyarakat yang sulit untuk diatasi dan membuat orang tidak berdaya. Inilah Kebocoran Keburukan. Akibat berbagai faktor luar, terpupuklah kebencian dalam batin manusia. Akibat terpupuknya kebencian ini, ditambah dengan tiadanya pendidikan, maka mereka bertindak buruk terhadap diri sendiri, masyarakat, dan keluarga. Kelima adalah Kebocoran Kebutuhan. Sandang, pangan, papan, pengobatan, dll
adalah hal-hal pokok yang tak boleh kurang dalam kehidupan manusia. Ada orang yang merasa cukup jika memiliki pakaian hangat. Akan tetapi, ada pula orang kaya yang risau hanya karena pakaian. Tidak memiliki pakaian juga risau. Ada pula yang berlebihan, setiap hari selalu merasa kurang pakaian. Mereka risau karena setiap hari selalu berpikir untuk membeli pakaian, risau mencari bahan yang lebih bagus. Ada orang yang kedinginan, bahkan hingga mati pun tidak memiliki pakaian. Ini juga membawa kerisauan
Risau saat memiliki, risau pula jika tidak memiliki. Demikianlah tubuh kita tidak dapat kekurangan pakaian. Begitu pula dengan makanan dan tempat tinggal. Apakah orang sudah puas jika memiliki rumah megah dan mewah? Adakalanya tidak. Sebaliknya, ada pula orang yang tidur tanpa alas dan beratapkan langit. Mereka tak dapat berteduh dari hujan dan tak dapat berlindung dari angin. Pengobatan juga membuat orang risau. Ada orang yang sakit, tetapi tak dapat berobat
Mereka harus bagaimana? Empat hal ini adalah kebutuhan dalam hidup, tetapi juga membuat orang khawatir. Keenam adalah Kebocoran Perasaan. Penderitaan membawa derita, Kesenangan membawa kegembiraan. Kesenangan berlebihan membawa duka. Orang yag tamak akan kesenangan tak akan dapat merasa bahagia dalam kondisi apa pun. Mengenai ketamakan ini, adakalanya manusia sadar itu membawa derita. Mereka ingin melepas dan merelakan, tetapi tidak bisa
Mereka menderita karena terlalu tamak akan kesenangan, tetapi juga tidak mampu melepas. Kemelekatan ini sangat sulit dilepaskan. Ini juga merupakan kebocoran. Ini merupakan noda batin. Tiga jenis perasaan menimbulkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Karena itu, ia disebut kebocoran. Yang ketujuh adalah Kebocoran Pikiran
Ia berkaitan dengan pikiran sesat. Pikiran sesat ini sama dengan pandangan salah yang kita bahas tadi. Pikiran sesat ini berawal dari lima indra yang bersentuhan dengan lima objek luar. Pikiran ini berawal dari kontak antara indra dan objek yang menimbulkan perasaan. Saat kita sulit melupakan kondisi itu, maka pikiran itu disebut pikiran sesat. Kita ingin mendapatkan yang bukan milik kita
Ketika tidak mendapatkannya, kita risau. Inilah Kebocoran Perasaan dan Pikiran. Penyebab utama noda batin adalah perasaan dan pikiran ini. Kita merasakan kondisi luar, menyimpannya di dalam batin, dan tidak dapat melupakannya. Jadi, jika kita memiliki perasaan ini dan tidak dapat melupakannya, maka perasaan dalam batin ini akan menjadi penyebab kita melakukan kesalahan. Kebocoran Keburukan dan Kebocoran Kebutuhan adalah kondisi internal penyebab noda batin. Di awal kita sudah membahas bahwa berbagai kondisi yang buruk memupuk banyak tekanan. Selain itu, kebutuhan sandang, pangan, papan, transportasi, dll
membuat kita tamak akan semua itu. Ketamakan, kebencian, dan kebodohan yang terus timbul ini disebut kondisi internal. kebocoran adalah noda batin. Noda batin ini timbul karena kondisi luar ataupun perasaan di dalam diri, lalu membuat kita menumpahkan berbagai perbuatan buruk. Segala keburukan ini ada karena Dharma tidak ada di dalam batin kita. Akibatnya, berbagai noda batin pun terpupuk. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati