Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 194 – Tujuh Dorongan

Saudara se-Dharma sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita tahu setiap orang pada dasarnya memiliki batin yang murni dan hakikat tanpa noda seperti Buddha. Lalu mengapa kita harus masih harus belajar? Apa yang harus kita pelajari? Ajaran Buddha. Jika kita memiliki hakikat yang sama dengan Buddha, lalu apa lagi yang harus kita pelajari? Belakangan ini kita sering membahas bahwa Kegelapan batin memunculkan tiga aspek halus. Kontak dengan kondisi luar menumbuhkan enam aspek kasar

 Sedikit kegelapan batin saja dapat membuat kita memiliki noda batin yang halus yang tumbuh tanpa kita sadari. Sedikit saja noda batin tumbuh, maka kesesatan yang menjadi dampaknya akan sangat besar bagai hujan badai yang merusak batin kita. Begitu kegelapan batin muncul, maka tumbuhlah noda batin halus yang akhirnya memunculkan enam aspek kasar yang membawa dampak besar. Ini membuat batin kita yang mulanya sama dengan Buddha menjadi rusak. Bukankah di awal setiap pertemuan pagi kita menyanyikan “Menebarkan Cinta Kasih di Dunia”? Liriknya berbunyi, “Sedih melihat umat susah, ratap melihat bumi luka.” Saudara sekalian, terhadap penderitaan semua makhluk, kita merasa tidak sampai hati. Kita pun semakin tak sampai hati saat melihat alam dan seluruh bumi ini mengalami kerusakan

 Kita sungguh tidak tega. Akan tetapi, kita hendaknya berintrospeksi apakah di dalam batin kita juga ada kegelapan batin dan noda batin yang sangat halus yang menyebabkan lahan batin kita rusak sehingga kita jatuh menjadi makhluk awam. Kita sering berbicara tentang menyelamatkan bumi dan menyelamatkan semua makhluk di dunia. Namun, yang lebih penting adalah berintrospeksi dan terlebih dahulu menolong batin sendiri. Kita juga harus menolong batin kita sendiri. Jadi, kita harus menyelamatkan hati kita, menyelamatkan jiwa kebijaksanaan kita. Kita tidak boleh bosan untuk menjalankan ajaran Buddha dengan penuh ketulusan

 Kita harus memiliki tekad yang tulus untuk menjalankan ajaran Buddha. Jika kita tidak memiliki kesungguhan dan ketulusan, maka sebanyak apa pun kita mendengar Dharma, juga tidak ada gunanya sama sekali. Jika kita bersungguh hati, kita akan paham banyak hal saat mendengar satu ajaran. Saat mendengar satu kalimat, kita dapat menyadari banyak hal. Jika kita tidak bersungguh hati dan tidak tulus menerima ajaran Buddha, maka berapa kali pun mendengar tak ada gunanya. Meski mendengar ribuan atau puluhan ribu kali, tiada satu pun yang kita pahami. Jadi, saya harap kita semua dapat benar-benar bersungguh hati

 Kita telah membahas Tujuh Kebocoran. Kini kita akan membahas Tujuh Dorongan. Yang dimaksud “dorongan” di sini adalah desakan yang tak dapat kita kendalikan. Kekuatan kegelapan batinlah yang mendesak kita. Desakan atau dorongan itu ada tujuh jenis. Pertama adalah Dorongan Nafsu Keinginan. Kita sering mendengar istilah ini

 Kita kembali bertemu istilah “nafsu” dan bertemu istilah “keinginan”. Benar, kita hidup di alam nafsu. Di alam nafsu ini, nafsu selalu menjadi pendorong kita. Jika bukan karena ketamakan, nafsu, dan kegelapan batin, bagaimana mungkin kita memiliki banyak noda batin? Bagaimana mungkin batin kita mengalami kerusakan yang begitu besar? Jadi, keinginan dan nafsu dapat mendorong terjadinya semua itu. Jadi, Dorongan Nafsu Keinginan tak lain adalah ketamakan, tamak akan segala yang disuka. Tadi kita sudah membahas dorongan ketamakan. Saat memiliki keinginan, ketamakan cenderung bertambah

 Dengan adanya ketamakan, kita menginginkan yang bukan milik kita. Meski sesuatu itu bukan milik kita, tetapi kita tamak terhadapnya. Jika ketamakan ini tidak terpenuhi, kita akan mencari cara untuk memenuhinya. Di dunia ini banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Sikap tidak menjalankan kewajiban, tidak menaati norma, dan tamak ini akan mengacaukan batasan yang ada, mengacaukan diri sendiri, mengacaukan orang lain, mengacaukan masyarakat suatu daerah

 Semua ini tak lain disebabkan oleh ketamakan, yakni ketamakan terhadap nama, keuntungan, nafsu, cinta, dan sebagainya. Intinya adalah ketamakan. Jadi, ketamakan ini sangat tajam. Begitu bersentuhan dengan kondisi luar, ketamakan ini langsung bereaksi dan mendesak kita. Sebelum kita sempat berpikir, ia sudah menyerang kita. Ini sangat berbahaya

 Jadi, dikatakan, “Tanpa bisa dikendalikan sedikit pun.” Serangan ini sangat tajam. Begitu kita bersentuhan dengan kondisi luar dan ketamakan menjadi sifat kita, kita tak dapat lagi mengendalikan diri. Meski kita ingin berpikir, tetapi bagaimana pun kita berpikir, ketamakan ini tetap muncul. Inilah yang dimaksud “dorongan”. Ia adalah sebuah tekanan atau desakan, sebuah reaksi yang sangat cepat. Ini adalah akibat tabiat buruk kita

 Sejak masa tanpa awal, makhluk awam memiliki tabiat yang didasari oleh ketamakan. Jadi, banyak hal yang tak bisa kita kendalikan. Kita selalu berkata bahwa hakikat diri kita adalah baik, hanya saja entah mengapa tiba-tiba ketamakan bisa muncul. Sesungguhnya, inilah yang disebut tabiat buruk. Bahwa sesuatu tak patut dilakukan, sesungguhnya sudah kita ketahui, tetapi kita tetap melakukannya dan baru sadar setelahnya. Kita baru sadar setelah sesuatu terjadi. Inilah yang disebut “dorongan”

 Doronga ini sangat kuat. Ada orang berkata, “Saya tak bisa menahan diri untuk melakukannya.” Kita lanjut ke yang kedua. Berikutnya juga masih sama, yakni tentang “dorongan” atau desakan. Baik cinta maupun kebencian, semuanya merupakan dorongan. Jadi, yang kedua disebut Dorongan Kebencian

 Kebencian berarti ketidaksukaan. Kita semua sudah tahu tentang kebencian ini, contohnya gemar marah-marah, marah saat melihat yang tak disukai, marah saat mendengar yang tak disukai, marah saat merasakan yang tak disukai, cepat marah dalam hal apa pun, cepat marah dalam segala masalah. Tabiat penuh kebencian ini sungguh mengacaukan diri sendiri dan orang lain. Jadi, kita sering mengingatkan untuk memperbaiki temperamen. “Hati saya sebenarnya baik, hanya saja temperamen saya buruk sedikit.” Bukankah kita sering mengatakan bahwa kebaikan dalam hati tak dapat dilihat orang lain

 Kita harus membuktikannya, barulah orang lain dapat merasakannya. Bukan hanya menjadi orang baik, kita juga harus memperbaiki temperamen. “Suka memaki orang adalah tabiat buruk saya.” “Sebenarnya, saya tak ingin memaki, tetapi entah mengapa nada bicara saya selalu keras.” Ini adalah tabiat buruk. Sesungguhnya, manusia pada hakikatnya adalah baik, hanya saja tabiatnya berbeda-beda

 Saudara sekalian, melatih diri sangatlah sulit. Kedengarannya memang sangat mudah, hanya perlu memperbaiki temperamen, tetapi malah sulit dilakukan. Karena sulit, baru disebut pelatihan diri. Melatih diri berarti harus bisa menjalankan yang sulit dijalankan. Intinya, dapat mengatasi dan menjalankan hal yang sulit, barulah pelatihan diri yang sebenarnya. Kelihatannya memang mudah, tetapi bagi setiap orang sangatlah sulit, tak terkecuali para praktisi pelatihan diri. Kita juga harus bersungguh hati untuk membina kebiasaan kita, mengubah yang buruk menjadi baik, Tabiat baik membawa pada hakikat sejati, sedangkan tabiat buruk membawa pada kesesatan

 Kesesatan ini akan semakin meluas. Kebencian juga semakin lama semakin mendalam. Keburukan juga merupakan sebuah jalan, jalan yang membuat kita tersesat dan tak tahu arah kembali. Sebaliknya, melatih diri adalah berusaha untuk kembali dari kesesatan. Ini adalah sebuah jalan yang lurus dan benar untuk kembali pada hakikat sejati. Jadi, dalam melatih diri, jangan berpikir, “Itu sangat mudah, mengapa harus diucapkan berulang-ulang?” “Hanya soal temperamen dan nafsu keinginan, mengapa harus sering dibahas?” Buddha harus mengajar hingga mulut berbusa karena noda batin semua makhluk bagaikan penyakit berat

 Jadi, obat tak bisa hanya diberikan sekali. Buddha harus terus memberikan obat untuk mengingatkan semua orang agar selalu mengingat ajaran di dalam hati. Baik terhadap kondisi, masalah, dan orang, kita harus membina sifat yang tidak goyah oleh kondisi dan saling mengasihi terhadap sesama manusia. Kita harus berhati lapang terhadap diri sendiri. Kita harus mencari jalan agar tidak bertemperamen buruk. Jadi Dorongan Kebencian adalah kebencian atau temperamen buruk. Ini terus menambah noda dalam batin

 Bagi sebagian orang, ini adalah kebiasaan. Mereka berkata, “Saya akan baik-baik saja setelah marah.” Ada pula orang yang terus menyimpan kebencian di dalam hati. Meski sudah meluapkan kemarahan, mereka masih mencari alasan untuk mencari pembenaran atas sikap mereka. Penyakit seperti ini lebih parah. Jadi, kita harus sangat waspada. Kita harus sungguh-sungguh menjaga batin kita. Selain suka meluapkan kemarahan, yang lebih parah adalah manusia sering mencari pembenaran atas sikap itu. Ini adalah noda batin yang berat

 Berikutnya adalah Dorongan Keinginan Terhadap Rupa. Mengenai keinginan terhadap rupa, ia adalah ketamakan dan kemelekatan terhadap segala yang kita lihat. Kita melekat pada kondisi itu dan tidak bisa melepas. Kita terbuai oleh kondisi tersebut. Meski kondisi itu sudah berlalu, tetapi kita masih terus menyimpannya. Ini adalah kemelekatan

 Jadi, dikatakan bahwa saat kondisi belalu, kita harus merelakannya, tetapi sebagian orang tidak bisa. Mereka masih melekati kondisi itu. Inilah kemelekatan. Kita pernah menyaksikan drama Da Ai Seputih Cahaya Rembulan. Di dalamnya dkisahkan kisah hidup A-chua. Karena di keluarganya sang suami tidak bertanggung jawab dan gemar berselingkuh, maka dia yang harus memikul beban keluarga

 Dia pergi ke Xiamen, Tiongkok. Sesampainya di sana, dia bertemu seorang yang baik yang sangat membantunya. Pada saat itu, orang ini menaruh perasaan pada A-chua. Akan tetapi, A-chua sadar bahwa dirinya sudah berkeluarga. Meski orang itu baik terhadapnya dan telah banyak membantunya, A-chua tetap ingat dirinya memiliki keluarga dan anak

 Dia merasa tak boleh tinggal lama di sana dan harus segera pulang. Dia memutukan untuk pulang ke Taiwan untuk menjaga anak-anaknya dan berbakti pada ibu mertuanya. Meski suaminya tidak baik terhadapnya, dia tetap ingin pulang dan tidak berani berlama-lama di sana. Setelah A-chua pulang, orang tadi masih tidak bisa melupakannya. Meski dia adalah seorang yang baik, dia berjanji kepada A-chua, “Jika kelak kau menemui kesulitan, kapan pun kamu mencariku, aku pasti akan membantumu.” “Aku akan selalu menunggumu.” Mereka pun berpisah hingga lima puluh tahun kemudian. Bapak itu sudah pindah dari Tiongkok ke Amerika Serikat selama puluhan tahun

 Usahanya sangat maju. Akan tetapi, dia tetap tidak bisa melupakan wanita yang dikenalnya di Tiongkok. Lima puluh tahun kemudian, mereka berdua sudah berusia lanjut, sekitar tujuh sampai delapan puluh tahun. Namun, bapak ini masih memiliki satu harapan, yakni datang ke Taiwan untuk melihat wanita yang tak dapat dia lupakan sejak dahulu. Jadi, selama beberapa puluh tahun ini, selama di Amerika Serikat, dia terus mencari tahu

 Akhirnya, dia mendapat nomor telepon A-chua. Dia akhirnya datang ke Taiwan. Dia terus mencoba menelepon A-chua. Dia sangat bersusah payah demi mencari seseorang

 Sebaliknya, orang yang dia cari selama lima puluh tahun ini hidup sangat menderita. Ibu mertua, suami, istri muda sang suami, dan anak-anaknya harus dinafkahi oleh dirinya seorang. Akan tetapi, dia tetap bekerja sepenuh hati demi menafkahi keluarga. Selain itu, dia juga telah menerima Tzu Chi. Dia bersumbangsih di Tzu Chi dengan sukacita. Bebannya pun kini semakin berkurang. Anak-anaknya sudah dewasa dan bisa hidup mandiri. Ibu mertuanya sudah meninggal dunia. Suaminya juga meninggal dunia. Istri muda suaminya pun sama

 Orang-orang yang harus dia rawat telah meninggal satu per satu. Kini dia sepenuh hati bersumbangsih di Tzu Chi. Dia sangat bahagia. Jadi, dia sedikit pun tidak memikirkan hal-hal lima puluh tahun yang lalu. Namun, bapak itu tiba-tiba datang ke Taiwan. Saat bertemu lima puluh tahun kemudian, A-chua berkata kepadanya, “Sudah bertahun-tahun lamanya, kita juga sudah lanjut usia, kini saya mendoakanmu, tetapi hati saya

..” Bapak itu berkata, “Saya tak pernah meninggalkanmu sehari pun.” “Sehari pun saya tak pernah meninggalkanmu.” Dia lalu mengambil sehelai syal yang dibungkus dengan indah. Dia berkata, “Ini membuktikan bahwa saya tak pernah meninggalkanmu

” “Kamu selalu ada di hatiku.” “Dari mana kamu dapat syal ini,” tanya A-chua. “Saat saya mengantarmu ke pelabuhan, kamu menjatuhkannya, lalu saya memungutnya.” “Saya terus menyimpannya hingga sekarang.” “Saat saya merasa sedih, saya akan mengeluarkan dan melihatnya, dan merasa seakan kau berada di sisiku

” Dia mengutarakannya dengan gamblang. Dia lalu bertanya, “Bagaimana keadaanmu sekarang?” “Sekarang saya tinggal sendiri,” jawab A-chua. “Kalau begitu kau tidak ada teman,” jawabnya. A-chua menjawab, “Tidak, saya banyak teman.” Dia menjelaskan apa yang sekarang dia lakukan, lalu memberi bapak itu sebuah buku dan menasihatinya bahwa di usia yang sudah lanjut, hendaknya dia dapat melepas keinginan duniawi. A-chua memberinya sebuah buku karya Master Hong Yi

 Mereka lalu berpisah. Setelah mereka berpisah, putra dan menantu A-chua yang menemani dan menunggu di luar berkata, “Ibu, orang itu kelihatannya boleh juga, bagus juga jika ada teman hidup di masa tua.” A-chua menjawab, “Aduh, mengapa berkata begitu?” “Sekarang saya sangat bahagia di Tzu Chi, juga punya banyak teman.” Lihat, itulah kemelekatan. Selama lima puluh tahun, bapak itu masih belum bisa melepas. Meski dia juga tidak berbuat jahat, tetapi kemelekatan di dalam batin itu juga membawa penderitaan

 Sebagai manusia, kita harus dapat melepas segala sesuatu yang sudah berlalu. Seperti sedang berjalan, saat kaki depan menapak, kaki belakang harus melangkah. Segala keinginan di dunia tidaklah kekal. Berikutnya adalah Dorongan Kesombongan. Mengenai kesombongan, ia juga merupakan noda batin. Dahulu kita pernah membahas Tujuh Kesombongan dan Delapan Keangkuhan. Kesombongan saja ada tujuh jenis, sedangkan keangkuhan ada delapan. Jika dibahas satu per satu sekarang, maka tidak akan ada habisnya. Intinya, kesombongan ini adalah noda batin

 Ini adalah kemelekatan terhadap diri. Akibatnya, orang menjadi sombong. Saat menjadi sombong, orang akan meninggikan diri sendiri, menganggap pandangan sendiri paling benar, pemikiran sendiri paling benar, perbuatan sendiri paling benar, merasa paling hebat, dan tiada yang dapat menandingi. Sikap meninggikan diri seperti inilah yang disebut kesombongan atau keangkuhan. Dorongan kesombongan ini sering kali keluar dari dalam diri sendiri. Akibatnya, manusia membanggakan diri sendiri

 Ini tidak baik. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus belajar untuk memiliki kehidupan yang baik. Dengan mengecilkan ego dan merendahkan hati, barulah potensi kita bisa berkembang. Kelima adalah Dorongan Kegelapan Batin. Kegelapan Batin adalah kebodohan

 Ketamakan, kebencian, dan kebodohan berawal dari kegelapan batin ini. Akar dari noda batin adalah tiga hal ini. Ini diakibatkan oleh kegelapan batin. Sebersit kegelapan batin menimbulkan tiga aspek halus, yakni ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Inilah yang disebut kebodohan. “Merupakan akar segala kejahatan, menjadikan ketidakpahaman sebagai sifat.” Dorongan kegelapan batin ini adalah akar segala kejahatan. Banyak karma buruk berawal dari kebodohan

 Ia membuat manusia tak bisa memahami kebenaran. Ketamakan dan kebencian berawal dari kebodohan. Berikutnya adalah Dorongan Pandangan. Pandangan di sini adalah pandangan salah. “Tidak menyakini hukum karma dan meremehkan Tiga Permata.” Artinya, manusia tidak percaya bahwa berbuat baik berbuah berkah, berbuat jahat berbuah petaka. Mereka tidak percaya

 Mereka juga tidak percaya hukum karma yang berlanjut dari kehidupan lampau, kini, dan mendatang. Mereka tidak mau percaya. Jika hukum sebab akibat saja mereka tak percaya, mana mungkin mereka meyakini Tiga Permata. Jadi, Dorongan Pandangan ini dapat membuat kita melakukan banyak kejahatan karena kita menjadi tak takut apa pun. Ini sangat mengerikan

 Pergolakan di masyarakat dan berbagai bencana akibat ulah manusia sebagian besar disebabkan oleh Dorongan Pandangan atau lima jenis pandangan, terutama pandangan sesat. Ketujuh adalah Dorongan Keraguan. Ragu terhadap apa? Terhadap Empat Kebenaran Mulia atau kebenaran tentang kekekalan, kebahagiaan, aku, dan kemurnian. Saat seseorang memiliki pandangan menyimpang, berarti dia memiliki keraguan. Dia tidak percaya terhadap kebenaran ajaran awal Buddha

 Saat pertama kali membabarkan ajaran, Buddha membabarkan ajaran tentang kekekalan, kebahagiaan, aku, dan kemurnian serta Empat Kebenaran Mulia, yakni penderitaan, sebabnya, akhirnya, dan jalan menuju akhirnya. Ajaran-ajaran awal ini tidak mereka yakini. Mereka ragu. Jika demikian, apa lagi yang dapat mereka pelajari? Jadi, jika kita memiliki keraguan terhadap ajaran-ajaran dasar yang juga berisi kebenaran, maka bagaimana bisa kita belajar lebih jauh? Singkat kata, mempelajari ajaran Buddha sesungguhnya merupakan bagian dari keseharian. Ajaran-ajaran yang dalam sesungguhnya tidak lepas dari enam indra dan enam objek. Sedalam apa pun ajaran itu, ia tidak lepas dari manusia, hal, dan segala sesuatu

 Saudara sekalian, butuh kesungguhan hati dalam mempelajari ajaran Buddha. Sebersit kegelapan batin menimbulkan tiga aspek halus. Akibatnya, timbullah berbagai noda batin yang merusak batin kita dan membuat kita menderita. Jadi, harap semua lebih bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888