Sanubari Teduh – 213 – Sembilan Gangguan Bagian 6
Saudara se-Dharma sekalian, tidak sesaat pun kehidupan ini berhenti berubah. Kadang kita merasa hari yang kita lalui selalu sama. Waktu terus berlalu tanpa disadari, tubuh kita pun tak hentinya bermetabolisme. tak hentinya bermetabolisme. Setelah berselang beberapa waktu, saat mengenang kehidupan kita di masa lalu, saat mengenang kehidupan kita di masa lalu, rasanya sudah jauh berbeda dengan saat ini. Jadi, kapan pun, kita harus menjaga pikiran dengan baik
Jangan sampai tekad kita berubah. Dahulu kita memiliki tekad seperti ini, kini juga harus begitu. Jadi, ada ungkapan berbunyi, “Jika dapat mempertahankan tekad awal, kebuddhaan pasti tercapai.” Segala sesuatu di dunia mengalami pasang surut. Adakalanya kita berada di bawah, adakalanya berada di atas, tetapi tekad di hati tidak boleh berubah. Dengan begitu, baru bisa mencapai keberhasilan. Sebelum membahas gangguan yang dialami Buddha, saya ingin berbagi dengan kalian kondisi manusia zaman sekarang karena yang keenam dari Sembilan Gangguan adalah Buddha pernah tidak mendapat makanan saat pindapatra. Saat Buddha melakukan pindapatra, pernah suatu kali seluruh warga desa tidak memberikan makanan bagi-Nya
Terlebih lagi, kehidupan kita sebagai makhluk awam pasti diliputi perbedaan kaya dan miskin. Namun, apakah kondisi ini abadi? Tidak. Orang yang sekarang sangat kaya, dahulu mungkin pernah mengalami hidup miskin. Kita ambil contoh yang ada di masa kini. Dia adalah orang dunia medis, juga pernah menjadi seorang spesialis torakoplastik. Namun, kini dia sudah berusia lanjut. Di dalam masyarakat kita, banyak orang merasa iri padanya
Dia adalah seorang dokter yang baik. Dia adalah seorang dokter yang baik. Di era 40-an, dia sudah duduk di kelas tiga sekolah menengah. Keluarganya sangat kekurangan. Ayahnya adalah seorang pekerja tambang. Ibunya sangat baik, tetapi tidak sempat mengenyam pendidikan. Ayahnya tidak mengenyam pendidikan, begitu pula dengan ibunya. Jadi, kehidupan yang mereka lalui begitu penuh penderitaan. Ayahnya yang bekerja sebagai pekerja tambang hanya menghasilkan beberapa puluh dolar sehari. Keluarga mereka memiliki tujuh orang anak. Sembilan orang dalam keluarga bergantung hidup dari penghasilan sang ayah
Sang ayah harus membanting tulang demi menghidupi keluarganya. Dapat kita bayangkan betapa menderitanya keluarga ini, terutama sang ibu. Dia melahirkan tujuh orang anak. Kondisi keluarganya pun tidak begitu baik, kebutuhan gizi mereka tidak terpenuhi. Pekerjaan rumah juga harus mengandalkan sang ibu seorang. Jadi, kondisi kesehatannya sangat tidak baik. Tubuhnya lemah dan sakit-sakitan. Dia masih harus mengurus anak-anaknya, terlebih kondisi keluarganya pun serba sulit. Karena itu, sang ayah merasa bersalah terhadap istri dan anaknya. merasa bersalah terhadap istri dan anaknya
Dia merasa tidak bisa membahagiakan anak dan istrinya. Karena itu, dia merasa sangat bersalah. Dia pun semakin giat bekerja. Dia berangkat sebelum matahari terbit dan baru pulang setelah matahari terbenam. Jadi, siang malam dia selalu bekerja di lokasi pertambangan yang gelap. Dua puluh tahun kemudian, putra sulungnya duduk di bangku sekolah menengah. Dia merasa bebannya semakin berat. Anaknya ada yang duduk di bangku sekolah menengah, ada pula yang duduk di sekolah dasar. Karena itu, dia harus lebih giat lagi bekerja. Namun, berhubung sudah lebih dari 20 tahun bekerja di pertambangan, suatu hari dia mengalami batuk. Batuknya semakin hari semakin parah
Uangnya bahkan tidak cukup untuk membeli beras, bagaimana bisa dia pergi berobat? Dia tetap bekerja meskipun sakit. Dua sampai tiga tahun kemudian, dia merasa terkena influenza dan mengalami demam tinggi. Batuknya sangat parah. Mau tidak mau, dia harus berobat. Dokter melakukan rontgen untuknya. Kelihatannya dia menderita Pneumonkoniosis. Penyakit itu banyak diderita pekerja tambang akibat terlalu banyak menghirup debu akibat terlalu banyak menghirup debu sehingga tertimbun di paru-paru. Paru-parunya sudah mengalami pengerasan. Dokter memperingatkannya agar tidak terlalu banyak bekerja dan harus banyak beristirahat
Saat itu, siapa yang harus menanggung beban keluarga? Tentu istrinya. Istrinya ini tidak mengenal huruf, kesehatannya juga tak terlalu baik. Kehidupan keluarganya kini harus dipikul oleh istrinya. Namun, anaknya berkata kepada ayahnya, “Saya tidak mau melanjutkan sekolah, sebentar lagi saya tamat dari seklah menengah, setelah tamat saya ingin bekerja.” Ayahnya ini sangat marah kepadanya, lalu berkata, “Tahukah kamu beban rasa bersalah yang harus saya pikul terhadap kalian? “Saya tidak bisa membahagiakan kalian.” “Kini malah menyusahkan ibu kalian.” “Saya tentu tidak tega.” “Namun, kalian tidak boleh putus sekolah.” “Sesulit apa pun keadaan keluarga kita, saya harus bisa menyekolahkan kalian.” “Inilah harapan saya
” Sang ayah mulai menceritakan kisahnya sendiri kepada putranya. Dia bercerita tentang ayahnya, yang berarti kakek anaknya. Saat dirinya lahir, ibunya mengalami kesulitan bersalin sehingga meninggal dunia. Ayahnya menganggapnya sebagai pembawa ketidakberuntungan dalam keluarga. Istrinya meninggal, kondisi keluarganya sulit, dia menganggap semua itu disebabkan oleh anaknya. Kadang, saat hatinya sedang gundah, dia meminum minuman keras. Setelah mabuk, dia memukuli anaknya. Sambil memukul, dia memaki anaknya dan menyebutnya sebagai pembawa sial. Karena itu, dia tidak mau menyekolahkan anaknya. Pekerja tambang itu tumbuh dalam kondisi seperti itu
Dalam hatinya, setiap kali merasa bersalah kepada anak dan istrinya, dia selalu menyesali dirinya yang tak bersekolah. Dia tidak menyesali ayahnya yang memukulinya. Jadi, dia hanya memiliki satu harapan, yakni bagaimana pun kondisi keluarganya, sesulit apa pun dia harus bekerja, anak-anaknya tetap harus bersekolah. Inilah prinsip yang dipegangnya untuk anak-anaknya. Jadi, putranya akhirnya mengerti kehidupan ayahnya di masa lalu kehidupan ayahnya di masa lalu dan perlakuan kakeknya terhadap ayahnya. Karena itulah, kini ayahnya begitu menyayangi mereka dan ibu mereka. Dia bertekad agar anak-anaknya bisa tetap bersekolah dan belajar dengan baik. Dia bisa memahami harapan ayahnya
Jadi, dia pun belajar dengan giat. Tak lama kemudian, ayahnya mengalami kesulitan bernapas dan akhirnya meninggal. Setelah ayahnya meninggal, Ibunya harus kehilangan suaminya di tengah kondisi keluarga yang sulit. Bagaimana delapan orang dalam keluarga itu dapat bertahan hidup? Ibunya pun semakin lama semakin tua, kesehatannya juga tidak begitu baik. Namun, anak-anaknya tetap harus bersekolah. Ini adalah harapan ayah mereka. Akan tetapi, melihat ibunya menderita, anak ini juga tidak tega. Dia akhirnya bersekolah sambil bekerja
Pada pagi hari dia menjadi pengantar Koran, kemudian baru pergi bersekolah. Dia pergi tanpa sarapan terlebih dahulu. Dia sering tidak makan saat bersekolah. Jadi, dia hanya makan sekali sehari. Suatu hari, dia akhirnya lulus dari SMP dan naik ke jenjang SMA. Dia masih harus mengantar Koran, juga harus belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi. Dia harus belajar hingga larut malam, kebutuhan gizinya pun tidak terpenuhi. Pada suatu pagi di musim dingin, saat mengantar Koran, dia tiba di rumah sebuah keluarga. Rumah itu memiliki pagar dan memiliki pintu gerbang. Di atas pintu gerbangnya ada sebuah kotak pos
Dia lalu memasukkan koran ke dalam kotak itu. Tiba-tiba dia merasa semuanya menjadi gelap. Tiba-tiba dia merasa semuanya menjadi gelap. Dia lalu bersandar di pintu dengan tangan tetap memegang kotak pos. Dia bersandar di sisi pintu gerbang. Saat itu, salah satu sisi pintu terbuka. Ternyata yang keluar adalah seorang gadis. Gadis ini bersekolah di SMA Khusus Putri 1 Taipei dan mengenakan seragam sekolah itu. Saat membuka pintu, dia melihat seorang pengantar koran yang masih muda. Melihat pemuda ini menutup mata, dia bertanya padanya, “Kamu kenapa?” “Ada masalah?” Pemuda ini membuka matanya dan berkata, “Saya tidak apa-apa
” Namun, gadis ini berkata padanya, “Kelihatannya air mukamu tidak baik.” “Kamu kedinginan?” “Ada yang perlu saya bantu?” Dia menjawab, “Boleh beri aku segelas air hangat?” Gadis ini segera masuk ke rumah dan mengambil segelas susu kacang panas. Menerima segelas susu kacang panas itu, si pemuda sangat gembira. Setelah meminum susu kacang panas itu, dia nmengangguk dan segera pergi untuk lanjut mengantar koran. Sepanjang jalan dia terus berpikir dan merasa sangat risau karena tidak mengucapkan terima kasih. Namun, saat melihat gadis itu, dia ingat gadis itu bermarga Chen dia ingat gadis itu bermarga Chen Dan bersekolah di SMA Khusus Putri 1 Taipei. Dia selalu memikirkannya. Dia berharap saat mengantar koran, dapat kembali bertemu dengannya untuk mengucapkan terima kasih. Karena tidak mengucapkan terima kasih, dia merasa sangat bersalah. Jadi, setiap kali mengantar koran ke rumah itu, paling tidak dia berdiri di sana selama lebih dari dua menit, tetapi tetap tidak bertemu dengan gadis itu. Kemudian, setelah lulus ujian masuk fakultas kedokteran, dia meninggalkan daerahnya dan berkuliah di Taipei. Setiap kali melewati toko susu kacang dan mencium aroma susu kacang, dia teringat utang budi di mana dia tak mengucapkan terima kasih sepatah pun
Dia terus teringat hal ini. Setelah lulus, dia mulai menjadi dokter. Dia memilih spesialisasi torakoplastik, Ini karena ayahnya meninggal akibat penyakit paru-paru. Dia merasa paru-paru sangat penting. Jika paru-paru sehat, orang pun akan sehat. Karena paru-paru ayahnya tidak sehat, maka ayahnya jatuh sakit hingga suatu hari mengalami kesulitan bernapas, lalu meninggal. Karena itu, dia berharap dapat belajar ilum kedokteran. Dia sangat tekun belajar hingga akhirnya bekerja di rumah sakit besar Sebagai kepala departemen torakoplastik
Suatu hari, dia melihat data seorang pasien baru yang kondisinya cukup gawat. Saat melihat data pasien itu, dia merasa mengenal nama si pasien. Dia merasa nama itu sepertinya selalu ada di pikirannya setiap hari, Dia lalu segera memeriksanya. Meski sudah lama tidak bertemu, dia masih ingat bentuk wajah si gadis. dia masih ingat bentuk wajah si gadis. Dia segera mengambil tindakan medis dan melakukan rontgen. Dari sana, diketahui bahwa paru-parunya membengkak dan pembuluh darahnya membesar. dan pembuluh darahnya membesar. Jadi, foto rontgen masih belum cukup. Dia kembali melakukan pemindaian nuklir. Hasilnya menunjukkan bahwa pasien ini mengalami penyumbatan pembuluh darah di paru-paru. Dia segera melakukan tindakan operasi
Akhirnya, setelah melewati masa kritis, Akhirnya, setelah melewati masa kritis, pasien itu pun tertolong. Dia dirawat di rumah sakit selama sebulan lebih. Dia dirawat di rumah sakit selama sebulan lebih. Pasien ini sangat khawatir. Kondisi keluarganya sedang tidak baik, tetapi dia malah harus dioperasi. Si dokter tidak mengungkit bayaran, malah mengatakan agar dia tak perlu khawatir. malah mengatakan agar dia tak perlu khawatir. Sampai tiba saatnya si pasien keluar dari RS, perawat membawa secarik kertas tagihan. Dia merasa sangat khawatir tentang berapa biaya yang telah dia habiskan dan dari mana dia harus mendapatkan uang. Total tagihannya sangat besar
Akan tetapi, saat diamati lebih lanjut, di bagian bawahnya tertulis, “Segelas susu kacang darimu sudah melunasi semua biaya pengobatan ini.” sudah melunasi semua biaya pengobatan ini.” “Terima kasih atas susu kacang darimu.” “Saya berutang sepatah terima kasih selama 20 tahun lebih.” Cerita ini sungguh membuat orang tersentuh. Anak keluarga kurang mampu di tahun 40-an itu kini telah menjadi dokter ternama. Dia tetap mengingat budi luhur dalam segelas susu kacang yang menolong nyawanya lebih dari 20 tahun lalu. Jadi, ada sebuah ungkapan berbunyi, “Orang yang memberi segelas air harus dibalas dengan berbagai makanan lezat.” “Kebajikan kecil yang dilakukan akan berbuah sepuluh kali lipat.” Sesungguhnya, bukan hanya sepuluh kali lipat. Saudara sekalian, kita harus senantiasa memupuk kebajikan
kita harus senantiasa memupuk kebajikan. Jangan berpikir kebajikan kecil tiada gunanya. Segelas air pun sangat bermakna. Saat orang lain kedinginan, kita bisa segera memberinya segelas air panas untuk sekadar menghangatkan tangannya atau untuk diminumnya, Jangan anggap kebajikan ini bernilai kecil. Lihatlah cerita tadi. Segelas susu kacang dibalas dengan pertolongan yang menyelamatkan nyawa. Cerita ini sungguh menghangatkan hati. Bagaimana dengan Buddha? Meski telah mencapai kebuddhaan, saat melakukan pindapatra di sebuah desa yang berisi pengikut brahmana, berhubung warga di sana antipasti terhadap ajaran Buddha, maka Buddha tidak mendapatkan makanan. Buddha berkata bahwa ini adalah akibat dari sifat kikir-Nya di kehidupan lampau. Jadi, akibat menanam benih kekikiran, Buddha tidak berhasil mendapat makanan yang dibutuhkan-Nya. Beliau hanya membutuhkan semangkuk nasi, tetapi tidak mendapatkannya
Jadi, berdana sangatlah penting. Dana, tindakan bermanfaat, kata-kata penuh cinta kasih, dan kebersamaan disebut Catur-samgraha-vastu. Amal yang sedikit juga termasuk praktik dana. Sedikit bantuan yang bermanfaat bagi orang lain juga termasuk tindakan bermanfaat. Sepatah ucapan yang baik termasuk kata-kata penuh cinta kasih. Interaksi yang baik dan saling membimbing antarsesama manusia disebut kebersamaan. Inilah ajaran Buddha yang disebut Catur-samgraha-vastu. Ini juga sangat penting
Ini juga harus diterapkan dalam keseharian. Jadi, Buddha pernah kelaparan, juga pernah tidak mendapatkan makanan, apalagi kita sebagai makhluk awam. Masalah dan kesulitan tentu tak terhindarkan. Yang terpenting adalah kita dapat segera bersumbangsih. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.