Sanubari Teduh – 212 – Sembilan Gangguan Bagian 5
Saudara se-Dharma sekalian, waktu terus berlalu tanpa henti. Kita harus menggunakan hati seorang praktisi dan melewati kehidupan setiap hari dengan langkah yang mantap. Saya sering berkata bahwa Kita harus membina ketulusan, kebenaran, keyakinan, dan kesungguhan. Janganlah kita menipu orang lain sedikit pun
Janganlah membedakan status sosial. Semua makhluk pada dasarnya setara. Kewajiban semua makhluk adalah bersikap tulus antarsesama. Dengan begitu, kehidupan akan tenteram dan damai. Pandangan salah pun akan berkurang. Kita telah membahas bahwa noda batin berasal dari pikiran kita. Adakalanya, kita menciptakan karma tanpa sadar. Benih karma tidak berlalu begitu saja. Ia mungkin akan mengikuti kita dari kehidupan ke kehidupan
Jadi, akumulasi karma ini sungguh menakutkan. Karena itu, janganlah kita terus memupuk karma. Kita tengah membahas Sembilan Gangguan. Ada Sembilan gangguan yang pernah dialami Buddha. Gangguan berarti kesulitan. Kita pun pasti pernah bertemu kesulitan. Adakalanya kita juga bertemu musibah yang tiba-tiba muncul. Semua ini adalah gangguan
Bukan hanya makhluk awam, Buddha juga mengalaminya. Dalam kehidupan-Nya, Buddha bertemu Sembilan gangguan. Kini kita akan membahas yang kelima. Gangguan ini sangat besar, yakni Raja Virudhaka memusnahkan suku Sakya. Meski sudah mencapai kebuddhaan, melihat suku-Nya berada di ambang kehancuran, bukankah juga merupakan gangguan bagi Buddha? Sesungguhnya, apa sebabnya? Di masa Buddha mencapai pencerahan, India terbagi menjadi banyak kerajaan. Jadi, banyak raja berkuasa di sana. Di sana terdengar kabar bahwa pangeran Sakya yang bernama Siddhartha mencapai kebuddhaan dan disebut sebagai Yang Mahasadar. Orang India sangat menghormati tokoh agama, apalagi yang mendirikan aliran tersendiri
Setelah mencapai pencerahan, Buddha mulai menyebarkan ajaran-Nya. Setelah memberi ajaran pertama di Taman Rusa dan mendirikan Sangha, Buddha mulai menyebarkan ajaran. Banyak orang mulai mengakui kebenaran yang diajarkan Pangeran Siddhartha dan meyakini-Nya sebagai Yang Sadar. Raja dari setiap negeri menaruh hormat kepada Yang Sadar ini. Pada masa-masa ini, seorang raja baru naik takhta. Raja ini bernama Prasenajit. Setelah naik takhta, Raja Prasenajit memiliki banyak cita-cita. Selain memikirkan rakyat, dia memikirkan cara memperkuat kekuasaan agar rakyatnya hidup semakin makmur. Dia berpikir, jika raja yang memimpin kelak adalah raja yang murah hati, penuh cinta kasih, dan bijaksana dalam memimpin, maka negeri itu akan penuh berkah. Raja Prasenajit sangat mengagumi Kerajaan Kapilavastu yang memiliki seorang Yang Sadar. Menurut pemikirannya, jika dia menikahi seorang putri Sakya, mungkin kelak keturunannya akan seperti Pangeran Siddhartha yang penuh kebijaksanaan
Jadi, dia segera mengutus orang untuk pergi ke Kapilavastu. Raja Kapilavastu berpikir bagaimana mungkin dia membiarkan putri suku Sakya yang terhormat menikah dengan raja dari kerajaan kecil. menikah dengan raja dari kerajaan kecil. Namun, berhubung yang meminta juga seorang raja, dia tidak ingin menolak dengan kasar. Di sisi lain, dia tidak rela putri Sakya menikah ke kerajaan kecil. Karena itu, raja Kapilavastu memikirkan suatu cara yang menurutnya baik. Mahanaman adalah sepupu Raja Suddhodana. Dia juga merupakan kerabat kerajaan. Dia mengumpulkan seluruh pelayan wanitanya dan memilih yang tercantik di antara mereka
Setelah memilihnya, Mahanaman memanggilnya dan mengangkatnya sebagai putri, lalu menikahkannya dengan Raja Prasenajit. Pelayan ini tentu harus menuruti kata tuannya. Mahanaman mengangkat wanita ini menjadi putrinya, menamainya Mallika, dan menikahkannya dengan Raja Prasenajit. dia dikenal dengan nama Ratu Mallika. Tak lama, dia pun mengandung, lalu melahirkan seorang putra yang diberi nama Virudhaka. Mereka hidup bahagia. Raja Prasenajit sangat mencintai Ratu Mallika dan sangat menyayangi Virudhaka. Setelah Virudhaka berusia delapan tahun, dirasa sudah saatnya dia menuntut ilmu. Raja Prasenajir ingin mengirimnya untuk belajar di Kapilavastu, tempat istrinya berasal
Raja Prasenajit berharap Virudhaka dapat memperoleh kebijaksanaan di Kapilavastu. Pada saat itu, kebetulan suku Sakya di Kapilavastu sedang membangun sebuah ruangan besar untuk Buddha membabarkan Dharma di sana. untuk Buddha membabarkan Dharma di sana. untuk Buddha membabarkan Dharma di sana. Jadi, mereka sangat mengutamakan proyek itu. Jadi, mereka sangat mengutamakan proyek itu. Saat itu pembangunan hampir rampung. Interior ruangan itu tengah ditata. Banyak barang yang dipindahkan ke dalam. Di tengah ruangan diletakkan sebuah kursi untuk membabarkan Dharma. Saat itu, ketika orang-orang meletakkan kursi itu, ketika orang-orang meletakkan kursi itu, Virudhaka sedang bermain
Dia melihat kursi itu begitu megah sehingga timbul rasa senang dalam hatinya. Dia lalu memanjat ke atas kursi itu dan duduk di atasnya. Saat orang-orang Sakya melihatnya, mereka sangat marah. mereka menarik leher Virudhaka untuk menurunkannya dari kursi itu. Mereka mulai berkata kasar dan memaki, “Anak budak ini mana boleh duduk di tempat ini.” “Kamu adalah anak budak, anak dari kasta sudra, mana boleh duduk di kursi ini.” Mereka memaki dengan kasar. Meski anak itu baru berusia delapan tahun, dia didampingi oleh seorang pelayan. dia didampingi oleh seorang pelayan. Pangeran Virudhaka berkata kepada pelayannya, “Ingatlah kejadian hari ini
” “Meski kini aku masih kecil, aku akan tumbuh dewasa.” “Suatu hari, saat aku naik takhta, hal pertama yang harus kau ingatkan adalah saat aku berusia delapan tahun, kapan dan di mana, ada siapa yang menghinaku.” “Kau harus membantuku mengingat semua ini.” “Kau harus membantuku mengingat semua ini.” Ini pesan Pangeran Virudhaka Kepada pelayannya. Dengan begitu, dia sudah menanam benih buruk. Saat itu, orang-orang suku Sakya memandang rendah Raja Prasenajit sehingga menikahkan pelayan dengannya. Meski Ratu Mallika sangat rupawan dan bajik, tetapi karena adanya perbedaan kasta, dalam pandangan suku Sakya dia tetap saja seorang pelayan. Raja Prasenajit tidak mengetahuinya, maka dia pun menikahinya
Hubungan mereka juga sangat baik. Ratu Mallika juga sangat dihormati rakyatnya. Raja Prasenajit menganggap putra yang dilahirkan Ratu Mallika ini sebagai pewaris takhtanya. Karena itu, dia sangat memperhatikannya dan mengirimnya ke Kapilavastu untuk mempelajari kebijaksanaan suku Sakya. Niat awal ini adalah baik. Tak disangka, ternyata pandangan diskriminatif terhadap anak pelayan itu masih ada. Tanpa sengaja, orang-orang di sana mengeluarkan kata-kata yang tidak patut. Tanpa sengaja, mereka mengatakan bahwa Virudhaka adalah anak pelayan. Lihatlah, ini menanam benih bencana bagi masa depan mereka
bagi masa depan mereka. Waktu terus berlalu, pelayan Virudhaka terus mengingatkan tentang kejadian itu setiap saat. Dia mengingatkannya tiga kali dalam sehari. Dia mengingatkannya tiga kali dalam sehari. Pangeran ini menyimpan kebencian yang dalam. Mulanya, dia minta diingatkan saat naik takhta, tetapi malah diingatkan tiga kali sehari. Sekali diingatkan, kebenciannya pun bertambah selapis
Bayangkan, Kebencian dan dendam ini terus dipupuk. Saat dia naik takhta, hal pertama yang ingin dilakukannya adalah memusnahkan suku Sakya. Saat itu, Buddha sudah berusia lanjut. Saat menerima berita bahwa Saat menerima berita bahwa Raja Virudhaka ingin mengirim pasukan untuk memusnahkan suku Sakya, Saat itu Buddha berpikir keras. Beliau juga ingin menolong suku Sakya agar terhindar dari bencana, tetapi Beliau tau itu tidaklah mungkin. Namun, Beliau tetap berusaha. Jadi, di hari Raja Virudhaka mengirim pasukan, Buddha Sakyamuni membawa para murid-Nya ke perbatasan Kapilavastu. Setelah tahu jalur yang akan dilalui pasukan, Buddha duduk di perbatasan. Raja Virudhaka juga menghormati Buddha
Melihat Buddha duduk dari kejauhan, dia segera turun dari kuda dan memberi hormat pada Buddha. Buddha tetap bergeming. Setelah memberi hormat, Raja Virudhaka kembali ke atas kuda dan menarik pasukannya mundur. dan menarik pasukannya mundur. Akan tetapi, dendamnya tidak hilang. Selang beberapa waktu, tepatnya beberapa hari kemudian, dia kembali mengerahkan pasukan. Buddha pun kembali duduk di perbatasan. Buddha pun kembali duduk di perbatasan. Raja Virudhaka melihat Buddha dari kejauhan dan kembali turun dari kuda untuk memberi hormat. Dia pun kembali menarik pasukannya
Kejadian ini berulang hingga ketiga kalinya. Murid Buddha mengabarkan kepada Buddha bahwa Virudhaka kembali mengerahkan pasukan untuk menyerang Kapilavastu. Buddha pun menggelengkan kepala. Beliau tidak memiliki cara lagi. “Aku sudah berkali-kali berusaha.” “Aku sudah berkali-kali berusaha.” Para bhiksu bertanya kepada Buddha mengapa Buddha tidak bisa menggunakan cara lain
Buddha menjawab, “Ini buah karma.” Berhubung telah menanam karma, maka harus menerima buahnya. Saat itu Maudgalyayana merasa tidak tega dan tidak rela membiarkan Kapilavastu diserang. dan tidak rela membiarkan Kapilavastu diserang. Buddha berkata kepada Maudgalyayana, “Kekuatan karma sulit dihindari.” Namun, Maudgalyayana berpikir paling tidak bisa menyelamatkan beberapa orang. Dia tidak mendengarkan nasihat Buddha. Dia merasa harus berusaha sekuat tenaga untuk melindungi suku Sakya. Dia menggunakan kekuatan batinnya
Dengan mangkuk makannya, dia menolong lima puluh tokoh suku Sakya dari dalam kota dan membawa mereka terbang dengan mangkuknya. Dia mengira 50 orang itu tertolong. Tak disangka, setelah meninggalkan Kapilavastu, dan ingin mengembalikan mangkuknya ke dalam kondisi semula dengan kekuatan batin dan menurunkan orang-orang tadi, ternyata orang-orang itu sudah menjadi darah. Jadi, kekuatan batin juga tak membantu. Ini yang dikisahkan di dalam Sutra. Intinya, Buddha sudah tahu bahwa kekuatan karma tidak dapat dihindari. Sesungguhnya, karma apa yang menyebabkan yang membuat suku Sakya harus musnah di tangan Raja Virudhaka? Buddha mulai membabarkan sebabnya. Pada masa lampau, di Rajagrha terdapat sebuah desa. Warganya pernah menangkap ikan
Pada masa itu, kelaparan tengah melanda. Hasil panen sangat sedikit, maka warga hanya bisa menangkap ikan. Mereka hidup dari hasil tangkapan. Ikan di kolam mereka sangat banyak. Warga mengambil ikan dari sana. Di sana ada dua jenis ikan, yang satu bernama ikan dedak, yang lainnya bernama ikan banyak lidah. Ikan-ikan ini ditangkap dan dibunuh setiap hari. Ikan-ikan ini ditangkap dan dibunuh setiap hari
Ikan-ikan di kolam tidak bisa hidup tenang. Suatu hari, ada seorang anak di tepi kolam yang melihat orang menangkap ikan. Ada ikan yang masih hidup saat ditangkap. Ada pula yang meronta-ronta. Di antaranya, ada dua ekor ikan. Anak itu lalu mengambil sebatang tongkat. Melihat ikan meronta, dia sangat senang. Saat melihat orang menangkap ikan, jika melihat ikan meronta-ronta, dia merasa sangat senang. Dia lalu memukul kepala dua ekor ikan ini
Jika ikan itu meronta, dia akan memukulnya. Jika ikan itu meronta, dia akan memukulnya. Akhirnya, kedua ikan itu pun mati. Akhirnya, kedua ikan itu pun mati. Akan tetapi, kelahiran kembali terus berlanjut. Karena itu, dendam ini pun terus terbawa. Buddha lalu berkata, “Tahukah kalian?” “Warga Rajagrha saat itu adalah suku Sakya.” “Warga Rajagrha saat itu adalah suku Sakya.” “Pada masa itu mereka menangkap dan membunuh ikan setiap hari
” “Raja Virudhaka saat ini adalah seekor ikan dedak pada masa itu, sedangkan pelayannya adalah ikan banyak lidah.” “Di kehidupan ini dia menjadi pelayan Virudhaka.” “Di kehidupan ini dia menjadi pelayan Virudhaka.” “Karena itu, dia mengingatkan Virudhaka tentang dendamnya tiga kali sehari.” Itu karena dalam kehidupan yang lampau, ada anak kecil yang merasa senang saat melihat orang membunuh ikan. Anak itu terus memukuli ikan yang meronta. Meski anak ini tidak mengerti, tetapi ikan yang dipukuli tetap menaruh dendam. Benih kebencian dan dendam ini terus mengikuti dari kehidupan ke kehidupan menanti saatnya untuk berbuah. Jadi, hukum karma sungguh menakutkan
Karena karma itulah suku Sakya binasa. Buddha Sakyamuni pun tak bisa menolong. Ini karena di kehidupan lampau mereka memukuli ikan. Kebencian ikan-ikan itu tidak bisa dipadamkan dengan pembabaran Dharma. tidak bisa dipadamkan dengan pembabaran Dharma. Terlebih lagi, orang-orang itu telah menciptakan karma membunuh yang berat. Jadi, hukum karma tak dapat dihindari. Jadi, kita harus memahami bahwa dalam kehidupan ini, kita harus menjaga pikiran saat menghadapi orang dan masalah. Bukan hanya berhati-hati saat menghadapi orang, saat menghadapi segala sesuatu pun demikian
Dalam menghadapi orang dan masalah di dalam keseharian, kita harus bersungguh hati. Bangkitkanlah rasa hormat. Janganlah mendiskriminasi atau meremehkan. Janganlah ada niat untuk menipu. Ini tidak benar. Hal-hal yang terlihat kecil dapat membawa dampak yang besar. Suku Sakya pun binasa akibat hal sepele. Lihatlah, hukum karma sangat menakutkan. Karena itu, dalam melatih diri, kita harus selalu bersungguh hati.