Sanubari Teduh – 214 – Sembilan Gangguan Bagian 7
Saudara se-Dharma sekalian, kita harus selalu menjaga pikiran dengan baik. sepatah kata dapat membangkitkan noda batin dan mudah membuat kita berpikiran keliru. Kita sering membahas tentang kebocoran atau yang disebut noda batin. Noda batin sama dengan kegelapan batin
Gelap batin berarti tidak dapat membedakan benar salah. Mungkin juga kita tidak memperhatikan tubuh, ucapan, dan pikiran kita meski kita berkata kita sedang melatih diri. Melatih diri berarti melatih tubuh, ucapan, dan pikiran. Kegelapan ini bersumber dari pikiran. Kita sering membahas bahwa hati kita dan hati Buddha seharusnya adalah sama. Dikatakan bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada dasarnya tiada perbedaan. Hati kita pada dasarnya tidak berbeda dari Buddha. Hati yang murni barulah sama dengan Buddha
Batin kita sebagai makhluk awam tercemar oleh noda batin, maka kita disebut makhluk awam. Meski sebagai makhluk awam kita sudah bertekad untuk melatih diri, tetapi pikiran ini adakalanya tidak dijaga baik sehingga pikiran keliru timbul. Dengan begitu, tabiat buruk kita kembali muncul. Jadi, dalam melatih diri, kita harus membina tabiat kita. Ada orang berkata, “Temperamen orang itu baik, kebiasaannya baik.” Benar, dalam kebiasaan hidup sehari-hari, dalam sikap saat menghadapi orang dan masalah, kita harus mengendalikan diri. Kita harus mengembangkan kebiasaan hidup yang baik. Baik dalam bekerja, membereskan barang, maupun menghadapi orang, kita harus bersungguh hati. Dengan demikian, secara alami lingkungan kita akan sangat teratur dan bersih. Ini karena kita punya kebiasaan baik
Terhadap orang lain, mungkin kita tak berniat buruk, hanya saja temperamen kita sedikit buruk. Saat orang lain berbicara sedikit, raut wajah kita langsung berubah. Saat bertemu suatu hal yang tidak disukai, raut wajah kita langsung berubah seakan semua orang bersalah terhadap kita. Saudara sekalian, dalam melatih diri, Buddha membimbing kita dengan sangat jelas bahwa kita harus menjaga pikiran kita dengan baik. Jika pikiran tidak dijaga dengan baik, kita tak akan bisa bertutur kata baik. Dengan begitu, kita menciptakan karma buruk ucapan. Kita mudah menciptakan karma buruk ucapan akibat tabiat buruk kita, kebiasaan kita. Karena pikiran tidak dijaga dengan baik, kebiasaan buruk ini terwujud dalam perbuatan. Jadi, kita harus menjaga baik-baik pintu pikiran kita, jangan sampai kita mengeluarkan kata-kata buruk dari pagi hingga malam sehingga menciptakan karma buruk ucapan
Jika pintu pikiran tidak dijaga baik, maka akan berdampak pada tindakan kita maka akan berdampak pada tindakan kita yang juga bermula pada pikiran. Ini juga tak lepas dari kebiasaan dan pikiran. Jadi, hati dan pikiran kita harus selalu dijaga dengan baik. Jadi, belakangan kita kita terus membahas Sembilan Gangguan. Bahkan Buddha juga mengalami sembilan gangguan. Beberapa hari ini kita terus membahas gangguan yang pernah dialami Buddha. Buddha juga mengalami gangguan akibat sisa karma kehidupan lampau-Nya. Pada kehidupan lampau, Beliau juga menciptakan karma lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Jadi, akumulasi dari karma ini terbawa dari kehidupan ke kehidupan
Buddha sudah mencapai pencerahan, tetapi sisa karma-Nya masih ada. Beliau mencapai kebuddhaan di alam manusia. Sebelum meninggalkan istana, Beliau mengalami gangguan. Saat melatih diri, Beliau juga mengalami gangguan dan kesulitan. Setelah mencapai kebuddhaan, Beliau juga masih mengalami gangguan, seperti menerima fitnahan atau rintangan tertentu. Buddha terus mengingatkan kita dengan contoh yang Beliau alami sendiri. Kesalahan yang terpupuk tidak hilang begitu saja. Ini tetap berlaku pada Buddha, terlebih lagi kita makhluk awam
Jadi, jika bertemu suatu masalah, kita harus berpikiran terbuka dan rela melepas, jangan perhitungan. Terimalah buah karma dengan sukarela. Dengan begitu, masalah akan berlalu. Setelah masalah berlalu, ini yang disebut mengikis karma. Jika kita tidak mau berpikiran terbuka, tidak rela melepas, dan tidak sukarela menerima, maka karma ini akan terus membelenggu. Jika kita rela menerimanya, karma itu akan terkikis. karma itu akan terkikis. Orang berkata, “Utang pasti harus dibayar
” Jika membayarnya dengan tidak rela, maka akan sangat menderita. Utang itu akan terus bertambah. Kita juga sering mendengar orang berkata, “Sesungguhnya, berapa utang saya?” “Mengapa tiada habisnya?” Benar. Ini terjadi dalam hubungan antarmanusia. Jadi, dari Sembilan Gangguan yang dialami Buddha, yang ketujuh adalah fitnahan dari Cinca. Buddha berkata, “Pada masa lampau, berkalpa-kalpa yang lalu, ada seorang Tathagata yang bernama Keunggulan Tertinggi.” Saat berada di dunia, Tathagata ini juga memimpin sebuah Sangha. Di dalam Sangha-Nya ada dua orang bhiksu. Dari dua orang bhiksu ini, yang pertama bernama Tiada Tandingan
Dia melatih diri dengan sangat baik. Noda batin dan kebocorannya sudah berakhir. Kita sudah pernah membahas tentang kebocoran. Apa yang dimaksud kebocoran? Kebocoran artinya tidak dapat menyerap segala ajaran dan kebijaksanaan akibat adanya noda batin. Segala yang baik tidak dapat ditampung, yang buruk malah terus terpupuk. Contohnya, sebuah ember yang bocor. Jika di dalamnya terdapat air yang kotor, airnya pasti akan bocor keluar, tetapi kotorannya akan tetap tinggal. Jika Anda menuangkan air bersih ke dalamnya, kotoran pada ember itu tetap tidak hilang, malah air bersih itu yang akan bocor keluar. Kotoran itu masih tetap berada di dalam ember. Intinya, jika akar noda batin kita masih ada dan belum dilenyapkan, maka noda batin akan terus berkembang dan berujung pada terciptanya karma
Ini karena saat diberi bimbingan, kita mendengar, lalu merenungkannya, tetapi tidak mempraktikkannya secara nyata. Jadi, setelah mendengar Dharma, kita harus merenungkan dan mempraktikkannya. Setelah mendengar Dharma, kita harus sungguh-sungguh merenungkan isi dari ajaran tersebut. isi dari ajaran tersebut. Di masa kini, banyak orang suka mengkaji ajaran, tetapi tidak mempraktikkannya. tetapi tidak mempraktikkannya. Banyak orang suka membaca Sutra, mengerti banyak tentang Buddhisme, tetapi tidak melakukan praktik nyata. Mereka ada mendengar dan merenungkan, tetapi tidak mempraktikkannya. Jika demikian, maka saat noda batin muncul, mereka akan tetap terbelenggu
mereka akan tetap terbelenggu. Noda batin tak akan dapat dilenyapkan. Jadi, tujuan melatih diri adalah mengatasi kebocoran dan melenyapkan noda batin. Bukan hanya membuang kekotoran, noda, dan kesalahan, Bukan hanya membuang kekotoran, noda, dan kesalahan, kita juga harus menyerap ajaran yang baik agar batin yang sudah dibersihkan tidak lagi ternoda oleh kotoran yang baru. Dengan demikian, batin kita baru dapat senantiasa murni. Kembali kepada Bhiksu Tiada Tandingan tadi, dia sudah mengatasi segala kebocoran. Berhubung noda batinnya sudah habis dan pelatihan dirinya begitu baik, dia tidak pernah kekurangan persembahan. Begitulah, dia selalu berpuas diri dan tidak tamak. Dia tidak pernah merasa tidak cukup
Dia merasa sudah puas. Atas segala persembahan yang diterimanya, dia selalu merasa cukup. Ada satu bhiksu lain bernama Sukacita Abadi. Bhiksu ini belum tuntas melenyapkan noda batin. Dia masih memiliki banyak noda batin. Dia masih belum mampu mengikis semuanya. Seperti yang kita katakan tadi, dua bhiksu ini adalah murid Tathagata. Yang satu memiliki batin yang murni, sedangkan yang lain ada mendengar Dharma, ada merenung, tetapi tidak melakukan praktik nyata untuk melenyapkan noda batinnya. Dia belum sanggup. Jadi, noda batinnya belum dilenyapkan
Dia masih memiliki banyak belenggu di batinnya. Karena itu, persembahan yang didapatnya selalu terasa kurang. Meski tetap mendapat persembahan dalam jumlah yang sama dengan orang lain, dia tetap merasa tidak cukup. Dia merasa persembahan baginya terlalu sedikit. Saat Sangha tiba di Varanasi, ada seorang penyokong. Dia adalah istri dari seorang dermawan. Kondisi keluarganya sangat baik. Dia sangat meyakini ajaran Buddha. Dia sangat suka memberi persembahan kepada Buddha dan Sangha
Dia bernama Kebajikan Maya. Pada saat itu, Bhiksu Sukacita Abadi melihat Kebajikan Maya sedang memberi persembahan. Sesungguhnya, setiap anggota Sangha mendapat persembahan yang sama. Akan tetapi, Bhiksu Sukacita Abadi tetap merasa iri. Dia iri karena persembahan yang diberikan kepada Bhiksu Tiada Tandingan lebih baik. Karena pelatihan diri dan keagungan Bhiksu Tiada Tandingan sangat baik, maka setiap umat selalu merasa sukacita saat melihatnya. Terlebih lagi, saat memberi persembahan, umat selalu memberi hormat padanya. Sebaliknya, Bhiksu Sukacita Abadi selalu mengumbar rasa iri. Jadi, dia membangkitkan niat tidak baik
Dia lalu memfitnah. Dia berkata bahwa dalam memberi persembahan, Kebajikan Maya tidak sesuai Dharma. Artinya, dia tidak menjunjung kesetaraan. Sukacita Abadi menganggap Kebajikan Maya memiliki hubungan dengan Tiada Tandingan. Jadi, dia mulai menyebarkan gosip ini. Dia memfitnah Kebajikan Maya. Penghormatannya terhadap Tiada Tandingan dilihat Sukacita Abadi sebagai perasaan cinta. Inilah yang terjadi berkalpa-kalpa yang lampau di dalam Sangha yang dipimpin Tathagata Keunggulan Tertinggi. Di sana ada dua orang yang istimewa, yang satu memiliki pelatihan diri yang tinggi, sedangkan yang lain belum melenyapkan noda batin
Saat Tiada Tandingan menerima persembahan, Sukacita Abadi merasa iri. Saat rasa irinya timbul, dia mengucapkan ucapan yang tidak benar, sesuatu yang sesungguhnya tidak ada. Dia memfitnah orang lain dan menyebarkan gosip. Inilah yang terjadi di masa lampau. Kemudian Buddha berkata, “Tahukah kalian?” “Meski kisah ini terjadi jauh sebelum zaman ini, tetapi kalian hendaknya mengetahui bahwa Sukacita Abadi pada masa itu adalah Aku yang sekarang.” “Kebajikan Maya si pemberi persembahan sekarang adalah Cinca.” Cinca memfitnah Buddha setelah Beliau mencapai kebuddhaan. Jadi, Buddha berkata, “Pada masa lampau Aku memfitnah Tiada Tandingan memiliki hubungan dengan istri seorang dermawan.” “Karena itu, kini aku menerima akibatnya
” “Ini adalah buah karma sisa.” Sisa berarti yang belum terkikis habis. “Kini, Aku masih harus menerima akibat dari perbuatan itu.” Jadi, ini adalah buah penderitaan. Buddha harus bertemu Cinca yang membawa masalah bagi Sangha. Dia menyebarkan gosip ke mana-mana. “Meski Aku telah mencapai kebuddhaan, Aku masih harus tetap menghadapi gangguan ini.” Jadi, Buddha menceritakan bagaimana Cinca membawa gangguan bagi Sangha. Buddha berkata, “Kini, saat Aku membabarkan Dharma baik bagi para penganut ajaran luar, bagi para bhiksu, maupun bagi raja dan para menteri, selalu diganggu oleh wanita ini
” “Wanita ini bernama Cinca.” “Dia sering datang membuat keributan.” Sebentar dia berkata bahwa bhiksu di dalam Sangha berbuat sesuatu padanya, sebentar lagi dia menyebarkan suatu gosip yang seharusnya tidak ada untuk memfitnah dan mencemarkan Sangha. Inilah gangguan yang dialami Buddha. Lihatlah, saat Buddha berada di dunia, ada pula enam kelompok dalam Sangha dengan jumlah orang yang cukup banyak yang memiliki perilaku tidak patut. Mereka membawa gangguan bagi Buddha. Selain itu, ada pula wanita bernama Cinca ini yang sering datang mengganggu. Inilah salah satu dari Sembilan Gangguan yang dialami Buddha. Jadi, kita harus tahu bahwa saat menghadapi segala sesuatu dalam keseharian, batin kita harus selalu mengarah pada kebajikan
Bukankah ini yang dikatakan Buddha? “Jangan berbuat jahat, lakukan segala kebajikan.” Meski kebajikan itu kecil, kita juga harus segera melakukannya. Ini menunjukkan batin kita dipenuhi kebajikan. Jika tidak bersedia berbuat baik dan tidak bersedia membantu orang yang kesulitan, dan tidak bersedia membantu orang yang kesulitan, hanya berkata diri sendiri penuh cinta kasih, hanya berkata diri sendiri penuh cinta kasih, tetapi tidak mau berpartisipasi berbuat baik, apakah ini benar? Kita harus mempertahankan kebajikan. Namun, setelah berbuat baik, kita tidak mengharapkan balasan. Bukankah insan Tzu Chi seperti ini? Mereka bersumbangsih tanpa pamrih. Bukan hanya tanpa pamrtih, mereka juga berterima kasih kepada penerima. Lihatlah, bersumbangsih tanpa pamrih adalah kewajiban bagi kita yang melatih diri. Berterima kasih adalah cara kita menjalin jodoh baik. Setelah berbuat baik dan menjalin jodoh baik, batin kita tidak diliputi kemelekatan, tetap sangat murni
Kita tidak mengharapkan balasan setelah bersumbangsih. Tidak. Kita tidak memikirkan balasan apa pun. Kita hanya berusaha untuk bersumbangsih. Saat bisa bersumbangsih, hati kita merasa bersyukur. Ini yang disebut mempertahankan kebajikan dan Dharma yang murni, membawa kepuasan bagi diri sendiri. Jika dapat berpartisipasi, kita sudah puas. Saat bisa berpartisipasi dalam kebajikan, kita sudah merasa puas. Dalam hal apa pun, kita harus bisa merasa puas. Lihatlah Bhiksu Tiada Tandingan tadi, dia selalu menerima persembahan dan penghormatan dari orang lain
Sebaliknya, Bhiksu Sukacita Abadi selalu merasa tidak puas. Dia tidak mempertahankan kebajikan, batinnya tidak pernah puas. Lihatlah, akibatnya dia menciptakan karma buruk ucapan. Batinnya pun penuh noda batin. Karena batinnya penuh noda, dia menciptakan karma buruk ucapan. Karena itu, dalam melatih diri, kita harus memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain serta tidak membedakan. Kita tidak membedakan diri sendiri dan orang lain. Kita tidak membedakan diri sendiri dan orang lain. Kita tidak membedakan diri sendiri dan orang lain. Kita harus mengembangkan kebersamaan
Kita harus mengembangkan kebersamaan. Saudara sekalian, saat melakukan suatu hal, jika kita dapat bersukacita, bersatu hati, harmonis, saling mengasihi, dan bergotong royong, bukankah ini merupakan kebersamaan? Di dalam organisasi Tzu Chi, saya sering meminta kalian mengembangkan kebersamaan. Lebih jelas lagi, saya berharap semua orang dapat bersatu hati. Kesatuan hati tidak dapat dilihat, kecuali diwujudkan dalam keharmonisan. Keharmonisan bagaikan jembatan. Namun, keharmonisan saja tidak cukup, dibutuhkan sikap saling mengasihi. Setiap orang harus saling mengasihi dan peduli. Inilah jalan yang ingin kita tapaki. Dalam melatih diri di Jalan Bodhisattva, kita harus membuka jalan. Jalan ini membutuhkan cinta kasih antarsesama
Jalan ini membutuhkan cinta kasih antarsesama. Inilah yang disebut Jalan Bodhisattva. Inilah yang disebut Jalan Bodhisattva. Dengan adanya sikap saling mengasihi, barulah kita bisa bergotong royong. Dengan bergotong royong, barulah kita bisa menyelamatkan hati manusia dan menyelamatkan dunia. Saudara sekalian, kunci dalam mempelajari ajaran Buddha ada pada pikiran. Batin kita harus diselimuti ajaran Buddha
Kita juga harus menyelamatkan batin orang lain. Akan tetapi, kita harus terlebih dahulu melenyapkan noda batin dalam pikiran kita. Jika noda batin tidak dilenyapkan, tabiat buruk akan terus muncul. Jika demikian, meski kita sedang melatih diri, pikiran kita tetap akan bergejolak dan menimbulkan masalah. Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha berarti belajar untuk memperbaiki tabiat buruk dan menjaga pikiran kita dengan baik. Kita harus menutup batin kita dari noda batin. Dengan demikian, kita tidak akan tanpa sengaja melakukan sesuatu yang membawa penyesalan. Kuncinya terletak pada pikiran. Harap semua lebih bersungguh hati.