Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 215 – Sembilan Gangguan Bagian 8

Saudara se-Dharma sekalian, di musim semi, tanaman tumbuh secara alami, begitu hijau dan rindang. Ini adalah kondisi yang baik. Yang terpenting, batin kita juga demikian, harus seperti musim semi yang penuh sukacita. Jika batin kita selalu penuh sukacita, maka segala kondisi luar yang kita lihat akan bagaikan musim semi. Kebahagiaan bermula dari hati yang terbuka dan lapang. Jika batin tidak terbuka serta lapang dan malah terbelenggu, mana mungkin kita bahagia

 Karena itu, dalam bahasa Mandarin, “gembira” memiliki arti harfiah “membuka hati”. memiliki arti harfiah “membuka hati”. Dengan membuka dan melapangkan hati, kita akan bahagia. Mengenai kebahagiaan, mengapa manusia tidak bahagia? Tentu karena ada yang membelenggu. Batin kita telah terbelenggu. Ini disebut noda batin

 Jika kita bertanya pada orang lain, “Ada apa, mengapa kamu tidak bahagia,” mereka mungkin menjawab tidak tahu. “Seperti ada belenggu di hati saya.” Jika begitu, manusia akan risau. Kerisauan ini pasti memiliki sebab. Apa yang membuat hati tak bisa terbuka? Apa yang membuat batin terbelenggu? Tentu ini sangat rumit. Bukankah saya pernah mengatakan bahwa kesederhanaan adalah keindahan? Saat kita menulis untuk mengungkapkan sebuah makna yang baik, penuh berkah, serta menggambarkan suatu keindahan yang mencakup seluruh dunia, kita hanya perlu membuat satu guratan. Apakah itu? Kita hanya perlu membuat lingkaran. Satu guratan itu saja sudah cukup. Lingkaran melambangkan kesempurnaan. Jadi, kita sering membahas bahwa jika masalah dan hubungan antarmanusia bisa ditangani dengan sempurna, berarti kebenaran telah dijalankan. Jika kita bisa menyelesaikan masalah dengan sempurna, inilah keberhasilan

 Terhadap hal dan masalah apa pun, asalkan kita menggunakan hati yang sederhana dan penuh cinta kasih untuk menghadapinya, maka semuanya akan selesai dengan sempurna. Inilah kesederhanaan yang indah. Sebagai manusia, kualitas sebagai manusia harus sempurna. Menjadi manusia sangat sederhana, cukup menjalankan lima sila dan sepuluh kebajikan. Sesederhana itu. Dengan begitu, manusia tak akan saling melukai, sebaliknya akan saling peduli dan mengasihi. Inilah manfaat lima sila dan sepuluh kebajikan. Buddha memberi kita ajaran yang demikian sederhana untuk menyempurnakan kualitas sebagai manusia. Jika kualitas sebagai manusia sempurna, masalah apa pun dapat diselesaikan dengan sempurna. Jika begitu, berarti kebenaran telah dijalankan dengan sempurna

 Jika kebenaran dijalankan dengan sempurna, kesadaran juga akan sempurna, berarti kita mencapai pencerahan. Dengan memiliki kesadaran, kita baru bisa melihat segala kebenaran. Jika bisa melihat kebenaran, kita tidak akan tersesat. Jadi, ini adalah hal yang sederhana. Jika masalah bisa diatasi dengan sempurna, kualitas sebagai manusia sempurna, dan kebenaran dijalankan dengan sempurna, maka kita disebut orang bijak yang sadar, orang yang mencapai kesempurnaan. Suatu hari ada seorang bapak datang berkunjung dan berkata pada saya bahwa dia memiliki seorang teman yang bekerja di stasiun luar angkasa Amerika Serikat. Saat terjadi bencana tsunami di Asia, stasiun luar angkasa juga mendeteksi tsunami dan gempa itu. Saat gelombang gempa baru terjadi, seismogram yang tadinya menunjukkan garis lurus seismogram yang tadinya menunjukkan garis lurus tiba-tiba menunjukkan adanya gelombang. Dia yang berada di ruang kerja melihat alat seismograf terus menggoreskan garis-garis terus menggoreskan garis-garis dan tiba-tiba garis-garis itu menjadi sangat rumit. Jarum seismograf itu bergerak ke sana kemari. Jarum seismograf itu bergerak ke sana kemari

 Bisa dikatakan, garis-garis itu sangat kacau bagai benang kusut. Namun, jika diamati lebih detail, ia hanya berupa garis-garis lurus yang tak ada bedanya dengan goresan pena. Dengan niat yang baik dan sederhana, dengan sebatang pena kita bisa menggambar lingkaran kita bisa menggambar lingkaran yang terlihat indah dan sempurna. Saat garis-garis terlihat rumit tidak beraturan ke atas dan ke bawah, tidak beraturan ke atas dan ke bawah, itu bagai seismogram yang menandakan adanya tsunami dan gempa. Gempa itu menyebabkan terpisahnya patahan di laut yang lalu menyatu kembali, yang akhirnya membuat air terdorong. Melihatnya, kita sungguh harus meningkatkan kewaspadaan. Sama-sama digambarkan dengan garis, tetapi lingkaran melambangkan kesempurnaan yang begitu sederhana, sedangkan garis-garis pada seismogram menunjukkan getaran dan ketidakselarasan. Ia tidak beraturan. Ini membawa belenggu, sungguh menakutkan

 Saudara sekalian, dalam melatih diri, kita harus selalu mengendalikan batin kita. Jangan sampai batin kita mengalami gejolak sehingga tidak beraturan. mengalami gejolak sehingga tidak beraturan. Jika batin kita bergejolak, maka kegelapan dan noda batin akan sulit dikendalikan. Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran kita. Semoga pikiran dan batin kita dapat senantiasa selaras, bagaikan tanah di musim semi. Dengan demikian, hati kita akan selalu terbuka dan lapang sehingga kita akan bahagia. Dalam menghadapi hal apa pun, kita akan tetap bahagia dalam Dharma. Kita dapat mengamati segala sesuatu dengan kebijaksanaan

 Segala sesuatu mengandung prinsip kebenaran. Saat memahami prinsip kebenaran itu, kita akan merasakan kebahagiaan dari dalam hati. Inilah yang disebut bahagia. Akan tetapi, makhluk awam kerap terbelenggu, terbelenggu oleh materi, terbelenggu oleh noda batin, maka menjadi tidak bahagia. Kegelapan batin pun bangkit. Jadi, di dalam Sutra ada sebuah penggalan yang berbunyi, “Batin yang penuh kemelekatan disebut ketamakan

” Ketamakan timbul akibat objek luar yang merangsang. Merangsang apa? Kemelekatan. Inilah ketamakan. Semua makhluk bersentuhan dengan lima objek. Saat bersentuhan dengan sesuatu yang kita anggap menarik, hati kita merasa gembira. Terhadap objek itu, timbullah ketamakan kita. Kita merasa senang

 Senang atas apa? Atas objek-objek tadi. Kita tamak terhadap lima objek. Salah satu dari lima objek adalah rupa. Apa lagi? Suara, aroma, rasa, dan sentuhan. Benar. Kita tamak terhadap lima objek. Mengenai rupa, segala sesuatu yang terlihat disebut rupa. Terlebih lagi, dalam hubungan antarmanusia, ketamakan terhadap rupa bagaikan pisau. Ketamakan akan materi itu sangat banyak

 Ketamakan terhadap materi berlangsung satu arah, sedangkan nafsu keinginan terhadap rupa manusia bisa berlangsung dua arah atau tiga arah dan lebih rumit. Ada istilah cinta segitiga. Ada orang berselisih karena cinta. Banyak sekali kasus seperti ini. Inilah rupa yang mengacaukan pikiran dan batin manusia. Jadi, saat menyukai sesuatu, Jadi, saat menyukai sesuatu, kita ingin menguasainya. Kita ingin mendapatkan sesuatu yang kita sukai. Asalkan kita menyukainya, kita tidak ingin orang lain menguasainya. Karena itu, pertikaian dapat timbul. Pertikaian skala besar terjadi antarnegara, skala menengah terjadi di masyarakat, sedangkan skala kecil terjadi antarindividu

 Demi menguasai sesuatu, manusia ingin menyingkirkan orang lain. Pikiran seperti ini sungguh menakutkan. Pikiran kita sebagai makhluk awam sering bergejolak tanpa henti. sering bergejolak tanpa henti. Jadi, ketamakan menumbuhkan kemelekatan. Jika tamak dan melekat terhadap lima objek, kita akan menciptakan segala karma buruk akibat noda batin. Saat diliputi noda batin, meski melakukan kesalahan, diri sendiri tidak tahu. Jadi, noda dan kegelapan batin bermula dari sebersit ketamakan. Akibatnya, berbagai kesesatan pun timbul

 Inilah karma buruk. Begitu kita berbuat kesalahan sedikit saja, kesalahan itu akan terus membelenggu dan membuat kita sulit terbebas darinya sehingga sangat menderita. Sebersit pikiran salah dalam diri manusia dapat menimbulkan ketertarikan pada lima objek. Sekali terbelenggu, manusia akan benar-benar tersesat dan mulai mengalami kerumitan. Kerumitan ini akan terus membelenggu sehingga manusia sulit terbebas. Inilah yang disebut belenggu ketamakan. Artinya, ketamakan telah mengikat kita. Artinya, ketamakan telah mengikat kita

 Semua ini disebabkan oleh pikiran tamak. Saat mata melihat suatu objek luar, pikiran kita mulai bergejolak dan sulit dikendalikan. Kita pun mulai menciptakan karma buruk. Demikianlah makhluk awam. Makhluk awam masih berada dalam kesesatan. Namun, Buddha mulanya juga merupakan makhluk awam. Sebelum mencapai pencerahan, Beliau juga pernah melakukan kesalahan dan tersesat. Karena itu, Buddha menceritakan Sembilan Gangguan yang pernah dialami-Nya. Sembilan Gangguan yang pernah dialami-Nya. Ini adalah contoh bagi kita agar kita tahu bahwa dalam proses pelatihan diri, dalam proses pelatihan diri, kita juga bisa mengalami gangguan

 Dari kehidupan ke kehidupan, mungkin di salah satu kehidupan kita pernah berbuat karma buruk sehingga karma ini terus mengikuti kita dan entah kapan baru berbuah. Jadi, kita harus memahami hukum karma. Hukum karma harus kita pahami. Kita telah membahas hingga yang kedelapan dari Sembilan Gangguan, yakni Buddha pernah hampir celaka karena batu besar yang digulingkan Devadatta. Buddha bercerita, di Rajagrha pada masa lampau ada seorang tetua bernama Sudana. Keluarganya sangat kaya dan berada. Tetua ini sangat kaya. Dia memiliki dua orang istri. Putra sulung dari istri pertamanya bernama Sumati. Putra dari istri keduanya bernama Suyasamati. Jadi, kedua anak itu adalah kakak beradik

 Tetua ini lambat laun semakin tua. Meski sangat kaya, dia tetap tak dapat menghindari usia tua. Setelah berusia lanjut, saat ajalnya menjelang, dia memanggil kedua putranya, lalu berkata, “Aku mewariskan banyak harta bagi kalian.” “Kau adalah anak sulung, harus mengerti untuk menyayangi adikmu.” “Kelak, saat akan tinggal terpisah, kalian harus membagi harta ini dengan adil.” Tetua ini lalu meninggal. Namun, harta warisannya sangat banyak. Dibagi dua pun jumlahnya masih sangat besar. Karena itu, si putra sulung, Sumati, merasa tidak rela jika harus berbagi

 merasa tidak rela jika harus berbagi. Jadi, suatu hari, dia mengajak adiknya keluar. Mulanya hubungan mereka terasa baik-baik saja. Dia mengajak adiknya melihat-lihat pemandangan. Dia juga masih menggandeng tangan adiknya. Kelihatannya dia sangat baik terhadap adiknya

 Mereka bergandengan tangan naik ke atas gunung. Akan tetapi, setibanya di atas gunung, di tepi jurang yang curam, saat adiknya lengah, dia mendorongnya. Dia juga menggulingkan batu. Tentu, setelah jatuh ke jurang, adiknya juga tertimpa batu. Adiknya ini lalu meninggal. Demikianlah kisah yang diceritakan Buddha. Buddha berkata, “Sariputra, tahukah engkau?” “Tetua bernama Sudana pada masa itu adalah ayah-Ku pada masa kini, Raja Suddhodana.” “Sang putra sulung, Sumati, “Sang putra sulung, Sumati, sekarang adalah Aku.” “Suyasamati pada saat itu sekarang adalah Devadatta

” Akibat jalinan jodoh yang tercipta berkalpa-kalpa yang lampau yang tercipta berkalpa-kalpa yang lampau karena Sumati mendorong Suyasamati ke jurang dan membunuhnya dengan menggulingkan batu itulah, dari kehidupan ke kehidupan Devadatta terus ingin mencelakai Buddha. Jadi, dia terus mengikuti Buddha dari kehidupan ke kehidupan untuk membalas dendam. Belenggu sebab akibat ini terus berlanjut. “Kini, meski Aku telah mencapai penerangan sempurna, tetapi benih karma sisa ini masih ada.” tetapi benih karma sisa ini masih ada.” Buddha kemudian bercerita tentang kejadian saat Beliau berada di Puncak Burung Nasar saat Beliau berada di Puncak Burung Nasar dengan medan yang naik turun. Saat Buddha sedang berjalan di sana, Saat Buddha sedang berjalan di sana, tiba-tiba Devadatta menggulingkan batu dari tempat yang tinggi dengan maksud mencelakai Buddha. Mulanya batu itu hampir mengenai Buddha, tetapi seorang dewa gunung segera meninju batu itu

 Saat batu itu menggelinding, seorang dewa gunung meninjunya dengan kuat. Batu itu akhirnya hancur berkeping-keping dan salah satu kepingannya sempat melukai kaki Buddha hingga berdarah. Inilah buah karma sisa. Beruntung, ada seorang dewa gunung di sana. Jika tidak, batu yang menggelinding itu mungkin sudah membunuh Buddha. Beruntung Buddha dilindungi dewa gunung. Akhirnya, Buddha pun selamat. Buddha berkata, “Inilah sisa buah karma yang belum dituai.” Intinya, sebagai praktisi Buddhis, kita harus hati-hati

 Di dalam Dharmasamgiti Sutra, Buddha berkata, “Fenomena dunia mengandung banyak kesalahan.” Di dunia ini terdapat banyak kesalahan. Lihatlah, Buddha juga memiliki kesalahan di masa lampau. Sebagai makhluk awam, banyak hal yang bisa menjerat kita sehingga batin kita terus bergejolak tanpa henti. Saat batin bergejolak dan tidak tenang, kita mudah menciptakan karma buruk. Sampai kapan kita harus menunggu? Hingga mencapai keheningan Nirvana dan pahala tak terhingga. Untuk mencapai keheningan Nirvana, batin kita harus sangat hening. Nirvana berarti cahaya keheningan. Dengan batin yang tenang dan damai, kita memupuk banyak pahala. Saat mencapai kebuddhaan di dunia ini, Tathagata sudah merealisasi keheningan Nirvana

 Karena itu, batin-Nya selalu seimbang. Bukan berarti menghindar atau menjauhkan diri dari segala hal di dunia, itu baru disebut Nirvana. Bukan. Buddha berkata, “Mencapai Nirvana di dunia ini, merealisasi keseimbangan batin.” Batin-Nya sangat seimbang. Kalimat penting berikutnya berbunyi, “Tidak berdiam dalam keduniawian, juga tidak berdiam dalam keheningan Nirvana.” “Tidak pernah lelah memberi manfaat bagi semua makhluk.” Buddha tidak berkata, “Aku sudah mencapai Nirvana, Aku akan berdiam dalam keheningan, jangan ada orang yang datang mengganggu-Ku.” Bukan ini yang disebut Nirvana

 Buddha juga tidak berpikir, “Aku sudah melatih diri, maka Aku harus mengasingkan diri dari dunia,” atau, “Aku akan terus berdiam di dunia agar mendapat ketenaran dan keuntungan.” Tidak. Buddha tidak berdiam dalam keduniawian, juga tidak berdiam dalam Nirvana. Jadi, batin-Nya bebas dari kemelekatan. Dia tidak melekat pada salah satu kondisi. Akan tetapi, tekad Beliau hanya satu, yakni “tidak kenal lelah memberi manfaat bagi semua makhluk”. Beliau tidak pernah menyerah dalam memberi manfaat bagi semua makhluk. Inilah keheningan Nirvana

 Kondisi batin Buddha disebut penerangan sempurna. Kondisi ini begitu sederhana dan bebas dari kemelekatan. Inilah penerangan sempurna. Jadi, saya berharap semua orang setiap hari dapat memiliki batin yang sederhana dan memiliki pikiran yang baik. Dengan guratan sederhana, kita menggambar sebuah lingkaran. Bukankah ini melambangkan kesempurnaan? Jangan biarkan pikiran kita terus bergejolak

 Saat batin bergejolak, kekacauan akan terjadi. kekacauan akan terjadi. Inilah yang disebut noda dan kegelapan batin. Saudara sekalian, kita harus selalu bersungguh hati. Tak ada kunci lain dalam melatih diri selain menjaga kemurnian pikiran. selain menjaga kemurnian pikiran. Untuk itu, harap semua lebih bersungguh hati.

Leave A Comment