Sanubari Teduh – 216 – Sembilan Gangguan Bagian 9
Saudara se-Dharma sekalian, saat berjalan di koridor pada pagi hari, saya merasa hangat. Saat menengadah, terlihat langit tanpa awan, sangat cerah. Saat melihat pedesaan di kejauhan, terlihat lampu berkelap-kelip. Terlihat pula lampu-lampu di jalan. Meski langit belum terang, saya tetap merasakan suasana batin yang hening dan jernih. Saat itu, saya terpikir, di waktu yang sama, seharusnya juga banyak orang yang bangun pagi untuk berolahraga. Kondisi cuaca membuat orang-orang merasa nyaman
Semoga lahan batin semua orang juga bagai tanah di musim semi yang penuh gairah hidup. Saya juga berharap setiap orang setiap hari dipenuhi sukacita dalam Dharma. Dari mana sukacita ini datang? Sukacita dalam Dharma datang dari keseharian. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita bertemu orang, masalah, dan segala sesuatu. Dalam menghadapi semua ini, dalam ajaran Buddha kita diajarkan untuk selalu berpengertian dan tahu berpuas diri. Kita harus bersyukur. Yang terpenting, kita harus berlapang dada terhadap semua itu. Jika kita dapat memiliki empat hal ini di dalam hati kita, maka batin kita akan bagai musim semi. Batin kita akan mampu menyuburkan segala sesuatu. Artinya, apa pun yang kita temui akan terasa indah
Kondisi itu bagaikan musim semi. Apa pun masalah yang kita hadapi, apa pun hal yang kita alami, siapa pun orang yang kita temui, batin kita tetap penuh sukacita bagai musim semi. Jika risau dan penuh noda batin, maka batin akan dingin bagai musim dingin. Saat musim dingin tiba, suatu tempat akan menjadi dingin. Daun-daun akan berguguran. Daun-daun terlihat mongering, rumput juga terlihat menguning. Inilah kondisi musim dingin. Kelihatannya tidak ada harapan. Sebagai praktisi Buddhis, selain harus mengikis noda batin dan membersihkan batin setiap hari, kita juga harus berpengertian, tahu berpuas diri, bersyukur, dan berlapang dada
Dengan begitu, apa pun yang kita hadapi, baik yang membawa kerisauan maupun yang ajaran yang murni, semua dapat kita arahkan ke arah Bodhi atau Dharma yang murni. Dengan begitu, batin kita bagaikan musim semi. Benih Bodhi di dalam batin kita terus bertumbuh. Untuk itu, kita harus menjaganya dengan baik. Sesungguhnya, jika pikiran tidak dijaga baik, segala hal yang kita hadapi akan membuat kita risau dan penuh perhitungan. Jika demikian, kekuatan karma buruk kita akan bertambah, terus terpupuk, dan terus berlanjut sehingga dari kehidupan ke kehidupan kita mengalami penderitaan yang tak terkira. Kita sudah membahas bahwa Meski telah mencapai kebuddhaan, Buddha masih harus menerima buah karma sisa. Dalam kehidupan terakhir-Nya, setelah mencapai kebuddhaan, Buddha masih mengalami Sembilan Gangguan. Gangguan ini dialami Buddha akibat sisa benih karma masa lampu-Nya. akibat sisa benih karma masa lampu-Nya
Karena belum habis dituai dalam kehidupan lampau, maka buah karma ini harus dituai pada kehidupan selanjutnya. Kita juga pernah mendengar kisah Bhiksu Wu Da. Bayangkan, meski kisah Yuan Ang mengelabui Chao Cuo di Kota Timur telah berlalu selama 10 kehidupan, Chao Cuo masih mencari kesempatan untuk balas dendam. Kebenciannya terus ada selama 10 kehidupan. Meski Yuan Ang berhenti menjadi pejabat dan menjadi bhiksu serta melatih diri dengan baik selama 10 kehidupan, tetapi dalam kehidupan Yuan Ang ke-10, Kaisar Yi Zong mengangkat dirinya sebagai guru kerajaan. Kaisar Yi Zong sangat menghormati Bhiksu Wu Da. Suatu ketika, Kaisar Yi Zong memohon Bhiksu Wu Da untuk membabarkan Dharma. Untuk membabarkan Dharma, dia disediakan sebuah kursi yang tinggi. dia disediakan sebuah kursi yang tinggi. Kursi tersebut terbuat dari kayu cendana
Kursi itu berbahan kayu cendana seratus persen. Kita tahu betapa mahalnya dupa berbahan kayu cendana. Bayangkan, kayu berkualitas tinggi ini dibuat menjadi sebuah kursi yang besar untuk tempat duduk Bhiksu Wu Da. Saat itu, melihat penghormatan dari kaisar, timbul kegembiraan dalam hati Bhiksu Wu Da. Kegembiraan ini datang dari kesombongan. “Aku adalah guru kaisar.” “Kaisar yang dihormati seluruh rakyat ternyata sangat menghormati diriku.” Niat yang timbul tanpa sengaja ini membuat Bhiksu Wu Da membentur kursi itu tanpa sengaja. Dia mengalami memar. Luka memar itu terus membengkak hingga terkelupas dan membusuk
Lukanya terus membesar tanpa bisa diobati. Luka di lututnya itu menyerupai wajah manusia sehingga disebut luka wajah manusia. Luka itu tidak dapat disembuhkan. Rasa sakit yang dialami Bhiksu Wu Da sungguh menembus tulang. Dalam waktu yang lama, kaisar mencari berbagai tabib terkenal untuk mengobati luka itu, tetapi semuanya sia-sia. Kemudian, Bhiksu Wu Da teringat saat beliau masih muda dan tengah menuntut ilmu, dirinya pernah bermalam di sebuah vihara. dirinya pernah bermalam di sebuah vihara. Saat itu ada bhiksu lain yang juga bermalam di sana. Namun, bhiksu ini menderita penyakit berat entah sudah berapa lama. Tubuhnya penuh kotoran, penyakitnya juga parah
Saat dia bermalam di vihara, orang-orang pun merasa terganggu. Akan tetapi, Bhiksu Wu Da muda membangkitkan belas kasihnya dan berkata, “Tak apa, biar aku yang menemaninya, biar aku yang merawatnya.” Bhiksu Wu Da lalu menemani bhiksu sakit itu dan merawatnya hingga kondisinya membaik. Begitulah, mereka akhirnya tetap harus berpisah. Bhiksu tua tadi berkata kepada Bhiksu Wu Da, “Aku adalah Kanaka.” “Dalam pertemuan kali ini, aku sakit, dan engkau yang merawatku.” “Kelak, saat kau menemui kesulitan, datanglah mencariku.” Bhiksu itu memberi tahu di mana dia tinggal. Kemudian, mereka berpisah. Mereka pergi menuju tujuan masing-masing. Bhiksu Wu Da muda sangat giat melatih diri di berbagai tempat
Dia kemudian menjadi bhiksu yang berkualitas luhur dan membuat Kaisar Yi Zong merasa gembira saat mendengar namanya. Kaisar sangat menghormatinya dan memintanya membabarkan Dharma di istana. Kaisar juga menyatakan berguru padanya. Setelah berselang beberapa waktu, beliau tetap tekun dan bersemangat. Hanya saja, akibat sebersit kesombongan, kakinya terbentur dan lukanya semakin membesar. Para tabib di seluruh negeri pun tak berdaya. Bhiksu Wu Da sadar bahwa ini adalah karma. Penyakit akibat karma ini harus diobati dengan Dharma. Beliau pun teringat pesan Yang Arya Kanaka saat akan berpisah. “Kelak, saat kau menemui kesulitan, datanglah mencariku
” Bhiksu Wu Da mulai menceritakan pertemuannya dan perjanjiannya dengan seorang bhiksu tua kepada kaisar. Bhiksu Wu Da berencana pergi ke Gunung Jiulong untuk menemui bhiksu itu. Mendengar hal ini, kaisar pun mengizinkan karena tabib di seluruh negeri tidak berdaya. Satu-satunya harapan ada di Gunung Jiulong. Jadi, kaisar mengutus orang mengantar Bhiksu Wu Da. Gunung itu begitu besar. Di mana sebenarnya bhiksu itu? Bhiksu Wu Da tahu bahwa beliau harus menggunakan hati yang tulus untuk menemukan Yang Arya Kanaka. Jadi, beliau meminta para pengawalnya pulang. Beliau naik ke atas gunung seorang diri
Di mana bhiksu tua itu berada? Gunung itu begitu besar. Bhiksu Wu Da teringat dua batang pohon pinus yang dijadikan penanda. Dari jauh beliau melihat dua batang pohon pinus. Beliau berjalan menuju pohon itu. Ternyata, di sana ada sebuah vihara. Meski vihara itu tidak begitu besar, tetapi setelah melihatnya, hati Bhiksu Wu Da pun menjadi tenang. Beliau disambut oleh seorang sramanera kecil. Setelah masuk, beliau benar-benar melihat Yang Arya Kanaka yang dahulu pernah beliau rawat
Beliau sangat gembira dan segera menceritakan kesulitannya. Yang Arya Kanaka berkata, “Tak apa, berhubung sudah datang, bermalamlah di sini, hari sudah gelap.” “Istirahatlah dengan tenang.” “Besok pagi aku akan membantumu.” Keesokan harinya, Yang Arya Kanaka meminta sang sramanera untuk membawa Bhiksu Wu Da ke sebuah kolam di lereng gunung. ke sebuah kolam di lereng gunung. Sramanera kecil itu berkata, “Guru berpesan agar Anda mengambil air kolam untuk mencuci kaki.” Bhiksu Wu Da melakukan seperti yang dipesankan. Airnya sangat dingin, tetapi kakinya terasa sangat sakit. Saat akan mencuci lukanya, tiba-tiba terdengar suara
Suara ini berkata, “Jangan dicuci dulu.” “Dengarkan dulu aku bicara.” “Kita memiliki dendam 10 kehidupan, tetapi setelah bertemu Yang Arya Kanaka, belenggu dendam ini aku lepaskan.” belenggu dendam ini aku lepaskan.” “Dendam harus diakhiri, bukan diciptakan.” “Sesungguhnya, 10 kehidupan ini, aku juga sangat menderita.” “Namun, 10 kehidupan ini, engkau adalah bhiksu agung.” “Pintu pikiranmu terjaga dengan baik, sehingga aku tak punya celah untuk balas dendam.” “Kali ini, karena sedikit kesombonganmu, pintu karmamu terbuka sehingga ada celah bagiku
” “Karena pintu karmamu terbuka, maka aku bisa membalas dendam.” “Kini aku sudah memutus ikatan dendam denganmu.” Setelah ucapan itu selesai, suara tadi pun menghilang. Setelah mendengarnya, Bhiksu Wu Da sangat terkejut. Beliau segera mencuci luka di kakinya. Sakitnya sungguh menusuk tulang hingga beliau pun pingsan. hingga beliau pun pingsan. Setelah siuman, lukanya yang bagai tumor sudah hilang. Akumulasi karma sungguh menakutkan. Sejak saat itu, beliau menetap di sana
Beliau membangun pondok di tepi kolam yang ditunjukkan oleh Yang Arya Kanaka. Kisah ini cukup panjang jika diceritakan. Namun, intinya adalah jangan sampai kita menciptakan karma buruk. Inilah asal mula Syair Pertobatan Air Samadhi. Di pondoknya di tepi kolam, Bhiksu Wu Da menulis syair pertobatan ini. Jadi, Dharma sungguh bagaikan air. Dharma dari Yang Arya Kanaka bagai air jernih yang dapat membersihkan bukan hanya rasa sakit pada tubuh, tetapi juga akumulasi karma masa lampau. tetapi juga akumulasi karma masa lampau. Sesungguhnya, begitu pula pada zaman Buddha
Meski Buddha telah mencapai kebuddhaan, Beliau tetap tak terhindar dari buah karma. Karena itu, pada kehidupan terakhir-Nya, Buddha juga mengalami Sembilan Gangguan. Yang kesembilan adalah menahan dingin hanya dengan tiga helai jubah. India juga merupakan wilayah beriklim tropis, tetapi saat Buddha melakukan perjalanan, Beliau juga pernah menghadapi musim dingin. Saat Buddha berada di Hutan Aravaga, kebetulan terjadi puncak musim dingin. Musim dingin tahun itu sangat dingin. Karena itu, selama delapan malam, cuaca sangat dingin menusuk tulang. cuaca sangat dingin menusuk tulang. Pada malam hari, cuaca sangat dingin dan angin bertiup kencang. Dingin dan kencangnya angin digambarkan dapat memecah bambu
Dapat kita bayangkan betapa dinginnya. Pada saat itu, Buddha sulit untuk menahan dingin. Yang Arya Ananda segera membantu-Nya dengan mengumpulkan tiga helai jubah. Buddha menahan dingin dengan tiga helai jubah. Di dunia ini, Buddha juga bisa merasa kedinginan. Cuaca di india biasanya cukup panas. Saat cuaca panas, panasnya pun tak terkira. Selain kepanasan akibat cuaca, Buddha juga pernah mengalami demam. Ananda adalah pelayan Buddha. Beliau selalu berada di sisi Buddha untuk berusaha meredakan demam yang dialami Buddha baik dengan air maupun dengan kipas
Intinya, Buddha juga manusia, sama seperti kita. Ketika cuaca dingin, Beliau juga harus menambah pakaian. Saat cuaca panas atau saat empat unsur tubuh-Nya tidak selaras, Beliau juga bisa mengalami demam, sama seperti kita. Jadi, “Demikianlah berbagai hal kecil di dunia juga dialami oleh Buddha.” Cuaca dingin atau panas di dunia harus dihadapi oleh semua orang. Jadi, Sembilan Gangguan sungguh membawa kesulitan bagi Buddha. Jadi, tiga masa meliputi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Yang dimaksud masa lalu adalah waktu yang sudah berlalu berapa lama pun yang berlanjut ke masa kini hingga masa depan. Jadi, kita harus terus menjaga pikiran dengan baik. Jika pikiran tidak dijaga dengan baik, maka karma dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan akan terus membelenggu. Karma bagaikan bayangan
Karena itu, dalam keseharian kita harus ingat untuk selalu menerapkan empat hal. Kita harus selalu ingat sikap penuh pengertian, tahu berpuas diri, bersyukur, dan berlapang dada. Dengan begitu, barulah batin kita senantiasa bagaikan musim semi, apa pun yang kita hadapi, segala noda batin akan dapat diubah menjadi Bodhi. Untuk itu, harap semua selalu bersungguh hati.