Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 218 – Sembilan Belenggu

Saudara se-Dharma sekalian, pikiran kita bagai sebuah cermin. Cermin ini mulanya sangat jernih. Ia bisa merefleksikan siapa pun dengan jelas, begitu pula dengan segala kondisi luar. Gunung direfleksikan sebagai gunung. Air direfleksikan sebagai air. Begitulah kualitas cermin ini. Namun, jika cermin ini terkena kotoran, maka akan menjadi buram

 Kita tidak dapat menyadari kotornya tujuh lubang pada tubuh manusia. Karena itu, kita sebagai praktisi harus selalu menjaga pikiran kita. Jika pikiran kita jernih, barulah kita bisa memahami segala sesuatu. Jika pikiran tidak jernih, jalan pelatihan kita akan menjadi kabur. Jadi, kita harus selalu bersungguh-sungguh dan menjaga kemurnian hati. Dalam Dharmasamgiti Sutra, Buddha juga membabarkan sebuah ungkapan. Buddha berkata, Melihat kutipan ini, kita dapat memahami kebenarannya. Makhluk hidup seperti kita memiliki kebijaksanaan hakiki. Hanya saja, makhluk hidup telah membalikkan kebijaksanaan ini

 Karena itu, berbagai noda batin timbul. Dapat juga dikatakan bahwa berbagai noda batin telah membalikkan kebijaksanaan. Bagaimana jika kebijaksanaan terbalik? Kita akan terus tercemar oleh noda batin. Kita semua memiliki kebijaksanaan yang murni, tetapi noda batin telah menutupinya. Jadi, kebijaksanaan kita telah tertutup. Kegelapan dan noda batin telah menutupinya, bagaikan kotoran yang telah mengotori cermin. Karena itu, kita mulai penuh kemelekatan. Buddha berkata, Buddha sangat bekerja keras karena kebijaksanaan semua makhluk telah ternoda kegelapan batin. Akibatnya, kita semua diliputi kekeliruan. Semua manusia bagai tersesat di jalan

 Untuk semua makhluk yang tersesat ini, Buddha harus datang ke dunia. Buddha ingin membebaskan semua makhluk. Jadi, Buddha sangat yakin bahwa Beliau dapat membebaskan semua makhluk. Mengapa Buddha begitu yakin? Karena setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Beliau yakin setiap orang memiliki kebijaksanaan yang sama dengan Buddha. Berhubung kebijaksanaan ini sudah ada sejak awal, maka Buddha yakin dapat membimbing semua makhluk. Inilah ikrar Buddha. Buddha di sini merujuk pada semua Buddha, bukan hanya Buddha Sakyamuni. Jadi,inilah ikrar dan praktik semua Buddha di masa lalu. Setiap Buddha, jika tidak bertekad menyelamatkan semua makhluk, tidak akan mencapai kebuddhaan

 Demi menyelamatkan semua makhluk, barulah Mereka melatih diri hingga mencapai kebuddhaan. Saya sering mengatakan bahwa Buddha mencapai kebuddhaan demi semua makhluk. Untuk membimbing semua makhluk, Beliau harus menggunakan keterampilan. Beliau harus berlatih hingga mencapai kebuddhaan untuk bisa membabarkan segala kebenaran dan membuka jalan untuk ditapaki semua makhluk. Inilah ikrar dan praktik Buddha. Ikrar Buddha demikian besar. Beliau harus mengakomodasi semua makhluk. Berbagai noda batin semua makhluk membawa banyak kekacauan. Ada 84 000 jenis noda batin.

Jika setiap makhluk memiliki satu jenis noda batin, maka jika dikumpulkan, akan mencapai 84.000 noda batin. Karena bertindak sesuka hati, semua makhluk menciptakan berbagai karma buruk. Buddha harus menyesuaikan ajaran dengan sifat, akar, dan keyakinan semua makhluk. Karena itu, kita sering mengatakan bahwa cinta kasih tidak mengenal batasan agama. Jika hati kita memiliki cinta kasih yang luas hingga dapat merangkul seluruh alam semesta, maka tak akan lagi terbelenggu perbedaan negara, perbedaan suku bangsa, atau perbedaan agama. Berhubung sifat dan akar semua makhluk berbeda-beda, maka minat mereka juga beragam. Mereka memiliki sifat masing-masing. Sifat di sini adalah tabiat, bukan sifat hakiki. Tabiat ini terpupuk di kemudian hari

 Dari kehidupan ke kehidupan, pengaruh kondisi masyarakat membuat tabiat semakin terpupuk. Jadi, akar dan sifat muncul di kemudian hari. Akar yang dimaksud adalah lima indra, termasuk mata, telinga, hidung, lidah. Sifat yang dimaksud adalah tabiat. Ini adalah kebiasaan makhluk awam. Pikiran awam bergejolak mengikuti kondisi luar. Contohnya, dalam kepercayaan tradisional, misalnya kepercayaan masyarakat Tionghoa, misalnya kepercayaan masyarakat Tionghoa, banyak orang menggantungkan nasib pada dewa pohon, dewa batu, dewa air, dewa gunung, dewa tanah, dll. Dalam Sutra Ksitigarbha juga disebutkan tentang banyak dewa. Namun, para penganut kepercayaan tradisional malah menggantungkan nasib pada dewa-dewa ini. malah menggantungkan nasib pada dewa-dewa ini

 Kita sering mendengar saat ada yang sakit, orang di daerah terpencil akan meminta petunjuk dewa, “Di mana penyelamat saya?” “Ke mana saya harus mencari dokter?” Ada juga orang yang mencari ramalan dan meminta petunjuk dewa. Begitu merasa mendapat petunjuk dewa, mereka langsung melaksanakannya. Mereka percaya semua itu ada, bukan tidak ada. Mungkin saja petunjuk itu kebetulan benar. Ini memperkuat keyakinan mereka yang didasari tabiat itu. Akibat pengaruh kondisi luar, keyakinan mereka menjadi tidak jelas. Ini juga termasuk tabiat. Karena itu, Buddha harus datang ke dunia untuk membimbing manusia satu demi satu. Selain kepercayaan tradisional, ada pula keyakinan lain, seperti Kristen Protestan dan Katolik. Mereka percaya Tuhan. Mereka percaya kuasa Tuhan

 Karena itu, mereka menerima nasib sebagai kehendak Tuhan. Saat orang yang mereka kasihi meninggal, Saat orang yang mereka kasihi meninggal, meski merasa kehilangan, mereka menganggap orang itu telah dipanggil Tuhan. mereka menganggap orang itu telah dipanggil Tuhan. Ini adalah bentuk keyakinan yang lain lagi. Ini mirip dengan yang sering kita katakan bahwa manusia hanya berusaha, langit yang menentukan; saat buah karma habis, orang harus pergi. Ini kita sebut sebagai hukum alam, meliputi lahir, tua, sakit, dan mati. Kita harus membuka hati kita. Jangan berpikir, “Ini orang yang paling saya kasihi, mengapa dia harus pergi?” Sesungguhnya, ini akan membuat kita sedikit meningkat dalam memahami hukum alam. Demikianlah, Buddha menyelami kondisi semua makhluk dan bermanifestasi dalam berbagai wujud. Jika membaca Bab Pintu Universal, kita tahu Bodhisattva Avalokitesvara memiliki 32 perwujudan

 Saat bertemu orang kaya, Dia mewujud sebagai orang kaya. Saat dibutuhkan wujud tetua, pejabat, atau wujud lainnya, Bodhisattva akan mewujud sesuai kebutuhan semua makhluk dan memberikan Dharma yang sesuai, terlebih lagi Buddha. Jadi, di tengah semua makhluk, Buddha mengakomodasi beragam sifat dan keyakinan. Terhadap tindakan semua makhluk, Beliau tidak membedakan. Segala tindakan yang dimaksud adalah berbagai karma, akar, sifat, dan keyakinan semua makhluk. Setiap orang memiliki beragam pemikiran, perilaku, dan karma. Terhadap semua ini, Buddha tetap penuh welas asih dan tidak membedakan. Inilah yang biasa kita sebut memiliki hati seluas jagat raya, tidak membedakan negara, suku bangsa, ataupun keyakinan. Kita merangkul semuanya. Berhubung kita semua adalah praktisi Buddhis, maka kita harus meneladani kelapangan hati Buddha. Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran kita

 Niat pikiran kita harus benar. Dengan begitu, barulah kita tidak akan membalikkan kebijaksanaan kita di tengah berbagai perilaku, karma, di tengah berbagai perilaku, karma, dan tabiat semua makhluk. dan tabiat semua makhluk. Jika tercemar oleh noda batin, kita akan sangat menderita. Sebelumnya kita membahas Sembilan Belenggu. Semua makhluk awam terus memupuk karma terus memupuk karma sehingga dari kehidupan ke kehidupan kita semua terus menerima buahnya. Akibatnya, kita diliputi penderitaan. Begitulah makhluk awam. Buddha berkata bahwa bukan hanya makhluk awam yang harus menerima buah karma yang sudah terakumulasi. Bukan hanya makhluk awam, bahkan Buddha juga demikian. Kekuatan karma ini terus mengikuti

 Saat sebab dan kondisi matang, bahkan Buddha pun harus menerima buah karma. Inilah yang kita bahas dalam Sembilan Gangguan. Berikutnya, bagaimana semua gangguan ini bisa terbentuk? Selanjutnya kita akan lebih mendalami, selain Sembilan Gangguan, ada Sembilan Belenggu. ada Sembilan Belenggu. Gangguan adalah buahnya, sedangkan belenggu di sini adalah benih awalnya. Mengapa belenggu karma terus berlanjut? Karena batin kita semua telah terbelenggu. Mulanya, hati kita sangat murni, bagai lingkaran yang sederhana dan sempurna. Jika kita melihat alam semesta, semua planet di angkasa berbentuk bulat. Lihatlah, baik Bumi, Bulan, Mars, Merkurius, Jupiter, dll

, semuanya berbentuk bulat, begitu sederhana. Seluruh sistem tata surya memiliki bentuk yang bulat. Manusia pun seharusnya demikian. Batin kita juga harus bagaikan jagat raya. Karena itu, saya terus berpesan untuk melapangkan hati seluas jagat raya. Ini adalah dunia batin kita, sebuah mikrokosmos. Alam semesta adalah makrokosmos. Masing-masing dari kita adalah sebuah mikrokosmos. Mikrokosmos ini berada di dalam batin kita. Jadi, jika batin dan pikiran kita sederhana, jika batin kita harmonis, maka segala hal juga akan harmonis. Jika semua orang dan masalah dapat dihadapi dengan harmonis, berarti kita telah selaras dengan kebenaran

 Jika selaras dengan kebenaran, batin juga akan harmonis. Jadi, ini sangat sederhana. Jika kita membuatnya menjadi rumit, maka akibatnya juga akan rumit dan kacau. Kekacauan ini akan membelenggu kita. Bukan hanya akan membelenggu, Bukan hanya akan membelenggu, ia juga akan membawa ketakutan. Beginilah pikiran. Jika pikiran terus bergejolak, maka batin kita bagai dilanda gempa. Ini sama halnya dengan saat kita mendengar terjadinya gempa di suatu tempat. Akibat gejolak pada lempeng daratan, Akibat gejolak pada lempeng daratan, maka terjadilah gempa bumi. Jadi, kita berharap agar batin kita tetap sederhana dan murni

 Jika batin menjadi rumit, Sembilan Belenggu akan muncul. Secara umum dan sederhana, Secara umum dan sederhana, ada sembilan jenis belenggu. Sembilan Belenggu ini adalah ikatan yang membuat kita tak dapat melepaskan diri. yang membuat kita tak dapat melepaskan diri. Belenggu ini terus mengikat kita. Ini adalah nama lain dari noda batin. Belenggu ini adalah noda batin. Apa saja sembilan jenis noda batin ini? Belenggu cinta, belenggu kebencian, belenggu kesombongan, belenggu kegelapan batin, belenggu pandangan, belenggu kemelekatan, belenggu keraguan, belenggu kedengkian, dan belenggu kekikiran. Semuanya berjumlah sembilan. Sembilan hal ini membelenggu kita hingga membuat kita menderita

 Karena itu, Buddha berkata bahwa karena delusi inilah semua makhluk menciptakan segala karma buruk. Kegelapan dan noda batin adalah delusi. Belenggu adalah noda batin. Noda batin adalah delusi. Delusi berarti kesesatan. Segala kebenaran tak dapat dilihat dengan jelas. Jika manusia gelap batin, semua akan dianggap sebagai masalah. Jika batin kacau, setiap ucapan orang akan dianggap masalah. Jika batin kita jernih, maka apa pun masalah yang ada, begitu sampai pada diri kita, semuanya menjadi damai, tiada lagi pergolakan

 Namun, masalah harus dibicarakan dengan jelas, tetapi batin kita tidak terseret ke dalam pertikaian. Jika ada pandangan menyimpang, noda dalam batin kita akan bangkit. Jika begitu, kita akan mulai merasa tidak senang, kemudian berkeluh kesah. Selain berkeluh kesah, kita merasa dengki. Jadi, ini bisa berbuntut panjang. Sembilan belenggu ini terus membelenggu dan saling menyambung. Inilah Sembilan Belenggu. Semua berawal dari sebersit delusi. Jika noda batin bangkit karena masalah sederhana, maka kebencian akan membelenggu

 Dendam pun akan muncul, sungguh menderita. Jadi, akibat delusi, terciptalah banyak karma buruk. terciptalah banyak karma buruk. Karma buruk akan terus tercipta. Adakalanya kita merasa, “Aneh, jelas-jelas tidak ada masalah, mengapa bisa jadi begini?” “Aneh, dalam hubungan antarmanusia, apa yang perlu dikejar?” “Hati yang murni, mengapa dengan begitu aneh, secara sengaja dicemari?” Orang yang mengamati dari samping akan merasa tidak mengerti dan merasa aneh. Apa yang membuat aneh? Belenggu. Belenggu ini tidak hanya menyesatkan orang yang terlibat, tetapi juga orang-orang yang mengamati di sekitarnya. “Apa yang sedang kamu pikirkan?” Orang yang mengamati pun turut merasa bingung, bagai melihat bunga di tengah kabut. bagai melihat bunga di tengah kabut. Namun, tak apa jika tak jelas melihat orang lain, asalkan jelas melihat diri sendiri. Inilah yang disebut berintrospeksi. Ada noda batin apa di dalam hati kita? Ada noda batin apa di dalam hati kita? Dari melihat orang lain, kita beralih ke diri sendiri

 Kita harus menjaga diri sendiri. Jika hanya melihat orang lain mengapa begitu aneh, mengapa begitu aneh, maka akan bagai melihat bunga di tengah kabut. Kita harus segera melihat diri sendiri. Jadi, kita harus tahu bahwa pikiran membangkitkan delusi, semua makhluk menderita akibat delusi. Saat noda batin dan delusi timbul, Saat noda batin dan delusi timbul, manusia mulai memfitnah, dengki, membenci, dan mendendam. Jika begitu, manusia akan menderita. Jika batinnya tidak menderita, manusia tidak akan mendendam, tidak akan membenci, dan tidak akan dengki. Dia tidak akan berkeinginan balas dendam. Ini tentu menderita. Jadi, karena belenggu yang mengikat batin kita ini, yang mengikat batin kita ini, kita tak dapat terbebas dari Tiga Alam

 Ini adalah belenggu. Jika belenggu batin ini tak dapat terurai, kita akan sangat menderita. Saudara sekalian, kita harus meneladani kelapangan hati Buddha yang luas bagai lautan dan langit. Mikrokosmos di dalam batin kita Mikrokosmos di dalam batin kita harus selalu sederhana, bulat, dan harmonis. Jika semua masalah dan orang dapat dihadapi dengan harmonis, berarti kita sudah selaras dengan kebenaran. Saudara sekalian, segala sesuatu terakumulasi seiring waktu. Jika noda batin timbul dalam diri kita, maka kita akan mengakumulasi karma buruk. Namun, pelatihan diri juga disempurnakan seiring waktu. Kita harus sungguh-sungguh meneladani Buddha dan berjalan menuju kesadaran. Harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment