Sanubari Teduh – 219 – Sembilan Belenggu Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, pelatihan diri mencari ketenangan. Ketenangan yang dicari, apakah ketenangan lingkungan, ketenangan manusia, ataukah ketenangan hati? Tentu, pemula seperti kita membutuhkan ketenangan lingkungan, di saat yang sama membutuhkan ketenangan manusia, barulah bisa mewujudkan ketenangan hati. Saat melantunkan Sutra bersama-sama pada kebaktian pagi, batin kalian juga harus tenang. Jadi, di dalam kebaktian, meski ada suara, tetapi suara itu tetap membawa ketenangan. Batin kita juga sangat tenang. Meski kita ada bergerak, kita juga bergerak dengan harmonis saat bersujud
Dengan begitu, pikiran kita juga sangat tulus dan tenang. Kemudian, semua orang bermeditasi. Saat itu, lingkungan dan manusia sangat tenang. Seharusnya, pada saat itu juga, hati kita juga sangat tenang. Dengan hati yang tenang, barulah kita dapat sungguh-sungguh merenungkan perasaan, logika, dan Dharma. Manusia termasuk makhluk hidup berperasaan. Praktisi spiritual harus melatih kesadaran. Kesadaran sama dengan pencerahan, yakni harus memahami kebenaran di balik segala sesuatu secara mendalam. Jika saat menghadapi orang dan masalah, kita dapat selaras dengan kebenaran, inilah yang disebut sadar. Jika sebaliknya, maka disebut tersesat
Orang yang tersesat batinnya akan kacau. Orang yang sadar batinnya akan tenang. Jadi, jika kita dapat menyadari kebenaran di balik segala sesuatu dalam hidup, dunia ini akan terasa lebih luas. Apa lagi yang dapat mengganggu batin kita? Yang dapat mengganggu batin kita adalah nafsu dan keinginan. Semua makhluk di dunia pada dasarnya memiliki kebutuhan hidup yang sederhana dan bersahaja. Hanya saja, saat sebersit keinginan bangkit, Hanya saja, saat sebersit keinginan bangkit, batin kita akan bergejolak. Karena itu, Buddha terus berusaha membimbing dan mendidik kita sesuai kondisi. Dalam Sutra Empat Puluh Dua Bagian, ada sepenggal bagian yang berisi ajaran tentang hal ini. Di sana dikatakan bahwa dalam pikiran kita, begitu nafsu keinginan dan ego bangkit, Begitu nafsu keinginan dan ego bangkit, kita tak akan dapat melihat kebenaran. Kebenaran menjadi kabur hanya karena adanya nafsu dan keinginan
Buaian perasaan dapat menyesatkan segalanya. Nafsu dapat mengacaukan segalanya. Jadi, semuanya bisa menjadi kacau akibat kesesatan. Jika begitu, bagaimana kita bisa melihat kebenaran? Karena itu, Buddha menggunakan sebuah perumpamaan. Ada sebaskom air jernih. Sebaskom air jernih ini, jika tidak kita usik, dapat menjadi bagai cermin yang memantulkan bayangan kita. Lihatlah sebuah danau. Pada sebuah danau yang airnya tenang, jika di sekitarnya ada pohon dan rumah, maka saat kita melihat permukaan air danau, kita dapat melihat bayangan pohon dan rumah. Kita dapat melihat bayangan kondisi sekitar danau
Air di dalam baskom dapat memantulkan bayangan wajah orang, air danau dapat memantulkan kondisi sekitarnya asalkan airnya tenang. Jika ada orang yang mengaduk-aduk airnya, Jika ada orang yang mengaduk-aduk airnya, maka saat kita berdiri di tepi air itu, bayangan wajah kita di permukaan air tidak akan bisa terlihat jelas. Begitu pula dengan air danau. Bayangan kondisi sekitar tak akan terlihat jelas jika air danau bergejolak. Jadi, batin kita juga bagaikan air. Baik air dalam baskom maupun air danau, asalkan tenang, semua akan dapat memantulkan bayangan kondisi sekitar dengan jelas. Kita sering mendengar ungkapan “ribuan sungai memantulkan ribuan rembulan”. Di angkasa hanya ada satu bulan, tetapi selama ada air sungai yang tenang, baik sungai besar maupun kecil, maka di mana pun kita bertemu air tenang itu, kita akan dapat melihat bulan yang terang kita akan dapat melihat bulan yang terang di atas permukaan air itu. Air ini sama halnya dengan manusia
Bulan hanya satu, kebenaran juga hanya satu, tetapi dapat mengakomodasi kemampuan setiap orang. Apa yang dimaksud kemampuan? Yaitu daya serap terhadap ajaran Buddha. Bagaimana agar kita dapat menyerapnya? Batin kita harus tenang. Dengan batin yang tenang, barulah kita bisa melihat kebenaran ajaran Buddha. Ajaran itu baru bisa kita ingat. Apakah ingat saja cukup? Kita juga harus merasakan. Jika hanya mendengar tanpa merasakan, itu juga tak ada manfaatnya. Bagaimana agar bisa merasakan? Anda harus melakukan praktik nyata. Ini yang disebut kontak antara manusia dan kebenaran
Saat Buddha membabarkan kebenaran, kita merasa tersentuh dan menerimanya. Dengan begitu, kita baru bisa menyatu dengan kebenaran. Karena itu, ada istilah kontak antara manusia dan kebenaran. Artinya, saat saya berbicara, kalian mengerti. Bukan hanya mengerti, kalian juga dapat merasakan. Bukan hanya itu, setelah merasakan, kalian juga mempraktikkannya. Dengan begitu, barulah bisa benar-benar memahaminya secara mendalam. Dengan begitu, baru bisa tersadarkan
Perasaan kalian setelah mempraktikkan, barulah benar-benar milik kalian. Tubuh membutuhkan gizi untuk menjadi sehat. Untuk memenuhi asupan gizi, kalian harus menyerap nutrisi, harus makan. Kalian harus makan makanan bergizi. Makanan apa yang bergizi kalian sudah tahu. Meski tahu, jika kita tidak makan, gizi tetap tidak bisa meresap ke dalam tubuh. Demikian pula, saat mendengar ajaran, kita mungkin merasa sudah tahu dan sudah merasakan. dan sudah merasakan. Namun, jika tidak mempraktikkannya, Namun, jika tidak mempraktikkannya, Namun, jika tidak mempraktikkannya, Namun, jika tidak mempraktikkannya, kita tidak akan benar-benar memahami kebenaran. kita tidak akan benar-benar memahami kebenaran. Jika kalian tidak memahaminya, maka tidak akan dapat tersadar. Jadi, semua ini tergantung batin kita
Batin kita paling mudah dikacaukan oleh perasaan dan keinginan. Begitu keinginan muncul, batin kita akan sangat kacau, sungguh menakutkan. Di awal kita telah membahas Sembilan Gangguan yang tak lepas dari hukum sebab akibat. Apa pun yang diperbuat, itulah yang akan diterima. Bukan hanya makhluk awam yang mengalami ini, bahkan Buddha juga demikian. Buddha juga sempat mengalami gangguan. Buddha bercerita bahwa pada kehidupan lampau, Buddha bercerita bahwa pada kehidupan lampau, Beliau juga pernah terbelenggu nafsu keinginan, tamak akan kecantikan, atau melakukan karma membunuh. Meski sudah menerima hukuman, tetapi benih karma itu belum habis. Ia terus berbuah dari kehidupan ke kehidupan
Bukankah saat membahas Sembilan Gangguan, kita banyak mendengar kisah Buddha menceritakan apa yang diri-Nya sendiri perbuat sehingga Beliau menerima berbagai gangguan? sehingga Beliau menerima berbagai gangguan? Jika buah karma belum habis dituai, meski telah mencapai kebuddhaan, masih harus terus menerima buah itu. Karena itu, setelah mencapai kebuddhaan, Beliau masih harus menghadapi sembilan hal yang membawa gangguan bagi-Nya. Semua ini sudah kita bahas sebelumnya. Buddha mengajarkan bahwa bukan berarti setelah mencapai kebuddhaan, manusia dapat bebas dari segala konsekuensi perbuatannya. Tidak. Berhubung sudah menanam benih sebab, Buddha tetap tidak dapat menghindari konsekuensinya dan harus menerima akibatnya. Jadi, mengapa manusia menderita? Penderitaan ini bersumber pada pikiran. Jadi, ini sangat menakutkan. Kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Melatih diri bertujuan memutus nafsu dan keinginan. Jangan sampai nafsu keinginan bangkit
Jangan sampai kemelekatan membelenggu. Jika cinta atau kemelekatan membelenggu, maka sulit untuk melepaskannya. Karena itu, berikutnya dikatakan, Buddha kembali menekankan bahwa Buddha kembali menekankan bahwa akibat keinginan dan nafsu, manusia melakukan banyak kesalahan. Batin mereka penuh kekeruhan, dan kekeruhan ini terus tumbuh. Jadi, dengan bangkitnya kekeruhan dalam batin, manusia tidak dapat melihat kebenaran, bagaikan air yang keruh atau bergejolak. bagaikan air yang keruh atau bergejolak. Jika batin kita bergejolak, maka kita tak bisa merenung dengan tenang. Kita tak bisa membedakan benar dan salah. Jadi, Buddha menasihati kita demikian. Buddha berkata kepada kita bahwa kita harus melepaskan keinginan dan nafsu
Jika keinginan dan nafsu berakhir, batin kita akan jernih. Dengan begitu, tidak sulit untuk melihat kebenaran. Kita akan dapat melihat kebenaran. Jadi, sekarang kita akan membahas Sembilan Belenggu. Kita sudah membahas tentang belenggu, tetapi kita akan membahasnya lebih dalam satu demi satu. Di awal kita sudah membahas keinginan dan nafsu yang dapat memperkeruh batin kita. Jika batin keruh, kita tidak dapat tenang. Jadi, Buddha menjelaskan apa yang disebut belenggu cinta. 00:19:05:02 Jika kata-kata tadi dapat kita resapi, sesungguhnya ini cukup jelas. sesungguhnya ini cukup jelas
Mengenai semua makhluk, semua makhluk yang dimaksud tidak hanya manusia, melainkan semua makhluk hidup di enam alam. Semua makhluk memiliki ketamakan dan keinginan. Tanpa ketamakan dan keinginan, tidak akan ada enam alam. Kelahiran kembali di enam alam terus berlanjut. Semua makhluk di enam alam diliputi kegelapan batin. Contohnya di alam dewa, makhluk alam dewa juga suka kenikmatan. Mereka terlahir di alam dewa hanya karena telah menciptakan banyak berkah, tetapi belum membangkitkan kebijaksanaan. Mereka belum tentu memahami kebenaran. Kita sering melihat orang-orang yang beruntung
Namun, orang-orang yang beruntung ini batinnya masih penuh nafsu terhadap kenikmatan. Meski taraf kehidupan mereka cukup baik, mereka masih sering mengeluh apakah bisnis mereka dapat diteruskan, bagaimana mereka mendapat untung lebih banyak, bagaimana menghasilkan lebih banyak uang. Karena itu, saya sering berkata bahwa banyak orang merasa kurang sembilan saat memiliki satu. Setelah memiliki sesuatu yang baik, mereka masih merasa kurang. Batin seperti ini dipenuhi nafsu keinginan yang besar. Saat berhasil mendapatkan yang diinginkan, pasti ketamakannya semakin bertambah dan menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi. Mereka masih menginginkan sesuatu yang sembilan kali lebih baik. Dengan begitu, hidup akan menderita. Karena itu, semakin banyak uang dan semakin besar berkahnya, noda batin manusia juga semakin banyak
Meski kita melihat hidupnya penuh kenikmatan bagaikan di surga, sesungguhnya kita tidak perlu iri. Semakin banyak kenikmatan yang dimilikinya, semakin besar pula kerisauan batinnya. Intinya, surga juga bukanlah suatu tujuan yang ingin kita kejar. Tujuan yang ingin kita capai melampaui surga, yakni kondisi batin yang bebas dari noda, kesadaran yang murni. Inilah kondisi yang ingin kita capai, tak lain adalah kebuddhaan. Para Buddha dan Bodhisattva memiliki kehidupan yang paling kaya karena Mereka tidak pernah merasa kekurangan. Mereka sangat puas hati. Mereka sungguh mengenal rasa puas. Mereka sangat tahu bersyukur
Mereka bersyukur terhadap semua makhluk. Lihatlah, Buddha sering mengajarkan kepada kita untuk bersyukur dan membalas budi. Empat Budi Besar mencakup semua budi luhur. Kita harus bersyukur atas semuanya. Semua ini didasari oleh rasa puas. Orang yang mengenal rasa puas, baru bisa bersyukur. Semua makhluk masih diliputi kegelapan batin. Baik dewa, manusia, maupun asura, semuanya sama, terlebih lagi makhluk neraka, setan kelaparan, dan binatang. Mereka sudah menciptakan banyak karma buruk. Mereka jelas menderita akibat buah karma buruk
Orang mungkin berkata, “Kita tak bisa melihat dewa.” Bisa. Orang yang hidupnya penuh kenikmatan bagaikan dewa di alam manusia. Apakah asura kelihatan? Ya. Jika tidak ada asura, mana mungkin masyarakat dipenuhi pertikaian? Asura adalah makhluk yang gemar bertikai dan suka melukai makhluk lain. Batin mereka penuh dendam, kebencian, dan kedengkian. Begitulah asura. Dengan adanya kebencian dan kedengkian, batin tidak akan dapat tenang. Mengapa bisa ada kebencian? Mengapa ada kedengkian? Mengapa ada pertikaian? Karena ada belenggu cinta atau keinginan
Saat keinginan tidak tercapai, Saat keinginan tidak tercapai, ia akan membenci, memulai pertikaian, dan membangkitkan rasa dengki. Inilah cinta atau keinginan. Nafsu keinginan sangat menakutkan, membuat batin tak dapat tenang bagai asura, hanya terus berpikir bagaimana melukai orang. Begitulah asura. Berikutnya adalah manusia. Anda, saya, dan dia sama-sama manusia, apakah batin semua orang seimbang? Tidak. Berapa banyak orang yang Anda dengar pernah berkata dirinya puas, dirinya bahagia, dan dirinya sangat bersyukur? Berapa banyak? Orang yang sering mengatakan dirinya bersyukur, bahagia, dan puas, apakah benar-benar bersyukur, bahagia, dan puas? Apakah mereka senantiasa bersyukur? Saya rasa saya selalu bersyukur. Saya rasa saya selalu merasa puas. Apa yang disebut bersyukur? Guru saya memberi enam kata nasihat. Seumur hidup ini saya terus menjalankannya. Inilah cara saya membalas budi guru, yakni menjalankan nasihat guru saya
Berhubung saya sudah bertekad, maka nasihat guru saya untuk saya harus saya jalankan secara nyata. harus saya jalankan secara nyata. Inilah cara membalas budi guru. Berhubung sudah dapat memahami begitu banyak hal, saya harus membalas budi luhur Buddha, Dharma, dan Sangha. Saya juga harus membalas budi luhur semua makhluk. Saya juga harus membalas budi luhur semua makhluk. Karena itu, setiap hari saya harus bersyukur. Mengapa? Karena tidak ada keinginan individu. Berhubung harus membalas budi, maka saya harus melapangkan hati dan memiliki cinta kasih. Membalas budi adalah cinta kasih. Jika kita dapat melampaui cinta individu yang penuh ego, barulah kita dapat bersumbangsih dengan cinta kasih universal demi membalas budi Buddha, budi guru, budi orang tua, dan budi semua makhluk
Berbuat baik juga merupakan wujud balas budi. Jika kita memiliki cinta yang didasari ketamakan, berarti kita mengembangkan ketidakbaikan. Ini sudah terbalik. Orang yang bisa berpuas diri dan bersyukur, barulah bisa mengembangkan cinta kasih universal dan mempraktikkan kebajikan besar. Jika sebaliknya, hanya mengumbar ketamakan diri sendiri, maka akan mengembangkan ketidakbaikan. Ini karena batinnya tidak tenang. Karena batinnya penuh kebencian dan kedengkian, maka dia tak dapat berbuat baik. Bukan hanya tak dapat berbuat baik, tetapi juga mengembangkan ketidakbaikan. Ini akan membawa penderitaan dalam kelahiran kembali. Ia tak akan berakhir dalam satu kehidupan, melainkan akan berlanjut ke kehidupan berikutnya. melainkan akan berlanjut ke kehidupan berikutnya
Saya sering mengulas tentang tiga masa. Tiga masa bukan hanya berarti kehidupan lampau, kehidupan sekarang, dan kehidupan mendatang. Bukan hanya itu. Ia juga mencakup kalpa-kalpa yang tak terhitung di masa lalu hingga waktu-waktu di masa kini. Jika saat ini kita tidak mau merelakan dan menerima kondisi yang ada, pikiran kita akan kembali bergejolak dan akan berlanjut ke waktu yang panjang di masa depan. Dapat dikatakan bahwa tiga masa bukan hanya merujuk pada kehidupan lampau, kehidupan sekarang, dan kehidupan mendatang, juga bukan hanya merujuk pada tahun lalu, tahun ini, dan tahun depan, juga bukan hanya kemarin, hari ini, dan hari esok. Tiga masa berada dekat di depan kita. Contohnya, kini saya sangat senang bisa berbicara dengan kalian. Kalian mendengarkan saya berbicara dengan hati yang tenang. Tak lama setelah ini, suatu hal mungkin terjadi suatu hal mungkin terjadi dan membuat saya risau
Saat timbul kerisauan dalam pikiran dan tidak dapat kita hilangkan, maka kita akan memikirkan cara untuk bertikai dengan orang lain. Bukankah ini akan membawa kerisauan? Jadi, baik hari ini, hari esok, saat ini, maupun beberapa saat lagi, semua ini termasuk dalam tiga masa. Pikiran kita selalu timbul tenggelam. Saat niat baik timbul, niat buruk akan padam. Sebaliknya, saat niat buruk timbul, niat baik pun hilang. Semua ini dapat berlangsung dalam sekejap. Jadi, semua ini membawa penderitaan. Karena itu, kita terus berkutat dalam Tiga Alam
00:30:10:00 00:30:13:26 Alam nafsu adalah di saat ini. Saat melihat segala materi, kita menginginkan ini dan itu. Atau, kita mungkin berpikir ingin memberi sesuatu kepada orang lain. Ini adalah kondisi batin yang berbeda, tetapi tetap disebut nafsu. Dengan adanya rupa, timbullah nafsu. Dengan adanya rupa, timbullah nafsu. Dalam tataran alam rupa, kita tahu bahwa ada begitu banyak benda. Dari begitu banyak benda, yang mana yang kita inginkan? Kondisi ini belum benar-benar terwujud, tetapi kita tahu bahwa itu ada dan kita akan terus mengejarnya. Selain itu, ada alam tanpa rupa
Alam tanpa rupa berkaitan dengan sesuatu yang abstrak. Semua itu ada dalam pemikiran kita. Semua itu ada dalam pemikiran kita. Banyak orang yang berkata diri mereka memiliki cetak biru atau rencana seumur hidup. Inilah Tiga Alam di dalam batin, mencakup pikiran penuh nafsu, materi dengan bentuk atau rupa, dan pemikiran masa depan yang tanpa rupa. Banyak sekali. Jika pikiran kita tidak dapat terbebas dari semua itu, maka kita akan terjerat belenggu cinta atau keinginan
Baik dalam waktu panjang maupun singkat, belenggu cinta dapat menjerat pikiran kita. Begitu terjerat oleh belenggu cinta ini, kita akan menderita. Penderitaan ini sungguh tak terkira. Ini disebabkan oleh keinginan dan nafsu. Jadi, melatih diri bertujuan untuk memahami kebenaran. Jika hati kita senantiasa tenang, maka kita tidak akan perhitungan dan bebas dari ketamakan. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.