Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 220 – Sembilan Belenggu Bagian 2

Saudara se-Dharma sekalian, di dalam kondisi yang hening, batin kita pun kosong dari kerisauan, tidak ada noda batin, tidak ada kemelekatan. Kepala dan wakil kepala RS Tzu Chi Hualien Kepala dan wakil kepala RS Tzu Chi Hualien mendampingi sekelompok mahasiswa kedokteran yang akan magang di rumah sakit. Setelah melewati praktik kerja, mereka akan mengenakan jubah dokter. mereka akan mengenakan jubah dokter. Untuk itu, diadakan sebuah upacara. Dalam waktu dua hari satu malam, anak muda yang memiliki misi menjadi dokter ini merasakan cara hidup dan semangat Tzu Chi

 cara hidup dan semangat Tzu Chi. Dalam dua hari satu malam ini, kita melihat anak-anak ini siap untuk beranjak dari pintu kampus menuju pintu rumah sakit. Mereka akan belajar dari para dokter dan berinteraksi dengan pasien. Saya rasa pendidikan ini sangat penting. Anak muda zaman sekarang, sepenglihatan saya, kebanyakan sangat beruntung. Anak-anak yang beruntung ini, apakah dapat menyadari berkah? Apakah dapat menghargai berkah? Terutama mereka yang memilih bidang kedokteran

 Dokter adalah profesi yang dihormati masyarakat, juga membutuhkan cinta kasih yang besar. Terhadap pasien, dokter harus memiliki kesungguhan hati yang sangat dalam. Mereka harus merawat pasien bagai keluarga sendiri. Cinta kasih seperti ini harus dibarengi kesungguhan hati. Ini harus dibina lewat interaksi antarmanusia. Pertama-tama, dibutuhkan adanya guru yang mendidik mereka. Lewat teladan ucapan dan tindakan, guru mewariskan pengetahuan. Anak murid harus bisa rendah hati dan dapat membuka pintu hati

 Dengan sikap yang penuh kesungguhan, barulah murid dapat menyerap wawasan yang diajarkan guru. Kemudian, mereka harus merasakan kondisi kerja di lapangan. Salah satu yang terpenting adalah berinteraksi dengan pasien. Mereka juga harus penuh kesungguhan hati dan rasa hormat saat guru membawa mereka menghadapi pasien. Mereka harus mengamati dengan saksama dan mendengar dengan sungguh-sungguh. Mereka harus mengamati bagaimana guru mereka menghadapi pasien, bagaimana guru mereka memperhatikan pasien. Para murid harus mendengar dan melihat. Untuk berinteraksi dengan pasien, dibutuhkan kebijaksanaan. Di rumah sakit mana pun, mahasiswa kedokteran harus menggunakan kebijaksanaan

 Metode pengobatan yang baik harus dibarengi cara memperlakukan orang yang baik. Mereka harus dapat membedakan yang baik dan tidak baik. Kita pernah mendengar seorang dokter yang baik seorang dokter yang baik berbagi tentang perjalanannya sebagai dokter. Dia berkata bahwa dia bertekad menjadi dokter. dia bertekad menjadi dokter. Di sekolah, dia sangat bersungguh hati. Dia bertemu guru dengan beragam temperamen. Dia bertemu guru dengan beragam temperamen. Perilaku guru yang baik terus dia ingat di dalam hati

 Perilaku guru yang tidak baik dia jadikan peringatan. Saat magang di rumah sakit, dia juga mengamati dengan sungguh-sungguh. Sejak masih magang, dia sudah melakukan persiapan mental dan mulai memilih spesialisasi. Terlebih lagi, setelah bekerja di rumah sakit, dia teguh dalam membuat pilihan spesialisasi yang akan ditekuninya. Sebelum memilih spesialisasi, dia pernah merasakan kondisi di setiap departemen. Dia berkata kepada saya bahwa Dia berkata kepada saya bahwa saat menyerap ilmu dari gurunya, dia bertemu guru yang baik dan tidak baik. Dia belajar di rumah sakit dengan hati yang waspada. Dia mengikuti dokter dari semua departemen. Dia tahu dokter mana yang perhatian terhadap pasien. Dia tahu dengan jelas dokter mana yang harus dia teladani

 Dia menganalisis setiap spesialisasi hingga akhirnya menetapkan pilihan. Dia tahu bahwa dia ingin menggunakan hidupnya untuk menolong hidup orang lain. Jadi, dia memutuskan spesialisasi yang ingin ditekuninya. Ini yang terjadi di masa lalu. Perbincangan ini berlangsung lama. Saat saya berbincang dengannya, dia mengutarakan pemikirannya. Belakangan, sekolah kedokteran kita pun berdiri. Saya melihat mahasiswa kedokteran zaman sekarang berbeda dengan zaman dahulu. Dokter zaman dahulu sangat segan terhadap gurunya

 Di rumah sakit, mereka juga sangat menghormati dokter pembimbing. Mereka takut jika pembimbing tak memberi mereka kesempatan merawat pasien. Inilah yang terjadi di zaman dahulu. Bagaimana dengan sekarang? Bedanya jauh sekali. Banyak mahasiswa zaman sekarang malah takut jika diberi tugas merawat pasien dan takut jika harus piket. Mereka merasa itu semua menyusahkan. Akan tetapi, kita juga melihat para mahasiswa kita akan menerima jubah dokter dan akan menyatakan ikrar dan akan menyatakan ikrar untuk menggunakan cinta kasih dalam menjalankan misi profesi mereka. dalam menjalankan misi profesi mereka. Mereka harus menghormati pasien. Mereka harus menghormati pasien

 Mereka harus merawat tubuh dan batin pasien. Mereka mengucapkan ikrar dengan begitu kompak. Saya merasa masa depan memiliki harapan. Namun, saya pun terus berkata bahwa setiap orang harus menghormati diri sendiri. Kita harus menghormati diri sendiri. Ini jugalah yang diajarkan Buddha. Kita harus menghormati diri sendiri, tetapi kita harus lebih menghormati orang lain. Selain menghormati orang lain, kita juga harus menghormati keyakinan orang lain. Bukankah insan Tzu Chi seperti itu? Bukankah insan Tzu Chi seperti itu? Insan Tzu Chi tidak membedakan agama. Mereka selalu menghormati orang lain dan menghormati keyakinan orang lain. Jika kita hanya peduli pada martabat diri sendiri dan tidak bisa menghormati orang lain, maka inilah yang disebut kesombongan

 Kesombongan ini bisa bangkit. Jika kesombongan bangkit, kelak saat keterampilannya semakin baik dan kedudukannya semkin tinggi, maka kesombongan akan semakin besar. Ini sungguh menakutkan. Jadi, teladan guru sangat penting. Saat guru membimbing murid, pendampingan langsung sangat penting. Saat melihat murid tidak berkonsentrasi, pikiran guru mungkin juga bisa bergejolak dan membanding-bandingkan. “Yang ini lebih baik.” “Yang ini…” Dengan begitu, kerisauan muncul

 Jadi, dokter ini berpikir, “Tidak perlu berpikir terlalu banyak, yang penting jalankan kewajiban, mengikis noda batin, dan berusaha sepenuh hati.” “Yang lainnya serahkan pada diri mereka masing-masing.” Benar. Setiap orang harus bertanggung jawab atas diri sendiri. Guru harus bertanggung jawab mengajar dengan sepenuh hati, murid harus belajar dengan sungguh-sungguh. Ada ungkapan berbunyi, “Guru membimbing masuk, pelatihan bergantung pada masing-masing murid.” Jadi, kita sendiri harus paham kebenaran. Kita harus bisa mengecilkan ego

 Dengan begitu, barulah kita bisa bahagia. Jadi, dikatakan, “Selain menghormati diri sendiri, juga harus mengasihi diri sendiri.” Jika menghormati diri sendiri, tetapi tidak mengasihi diri sendiri, maka kita akan terlihat sombong. Jika kita tidak mengasihi diri sendiri, orang lain tidak akan suka melihat kita. orang lain tidak akan suka melihat kita. Jadi, selain menghormati diri sendiri, kita harus mengasihi diri sendiri. Selain menghormati orang lain, kita juga harus mengasihi diri sendiri. Orang yang mengasihi diri sendiri berarti mampu untuk mengasihi orang lain

 Prinsip ini sangat sederhana. Orang yang benar-benar mengasihi diri sendiri akan mampu mengecilkan egonya. Orang yang dapat mengecilkan ego akan dapat menghormati orang lain. Orang yang dapat mengasihi diri sendiri akan menjaga tubuh, ucapan, dan pikirannya. akan menjaga tubuh, ucapan, dan pikirannya. Dengan begitu, barulah kita bisa rendah hati dan mengasihi orang lain. Dengan demikian, kita akan penuh berkah dan kebijaksanaan. Intinya, kehidupan memiliki prinsip yang begitu sederhana. Asalkan memiliki batin yang tak ternoda, kita akan bebas dari kebencian. Jadi, kita hendaknya mengosongkan pikiran dari noda batin. Buanglah segala kerisauan kita. Dengan begitu, batin kita tak akan ternoda dan tak akan menjalin kebencian dengan orang lain

 Setiap kali mendengar orang lain berbicara seperti ini, ini akan menambah Dharma di dunia. Jadi, pelatihan diri bukan berarti mengasingkan diri dari dunia. Ajaran Buddha diajarkan bagi dunia. Kita sudah membahas tentang belenggu cinta. Nafsu dan keinginan atau cinta ini dapat membelenggu batin kita bagai tali. Ia terus mengikat batin kita hingga tak mampu dilepaskan. Dengan demikian, kita tak mampu mengosongkan noda batin kita. Noda batin ini akan terus ada dalam hati kita. Akibatnya, kegelapan batin terus berkembang. Belenggu ini sungguh membawa penderitaan. Berikutnya adalah belenggu kebencian. Benci berarti bertemperamen buruk. Mengapa? Mengapa orang sering mengumbar emosi? Bertemperamen buruk sangat menderita

 Orang sering berkata, “Saya marah sampai ingin mati.” “Saya marah sampai ingin mati.” Artinya, marah sangatlah menderita. marah sangatlah menderita. Ini membuat kita tidak berdaya. Karena itu, marah membuat kita seakan ingin mati. Bukankah kematian paling menakutkan? Ungkapan “saya marah sampai ingin mati” sungguh menggambarkan penderitaan yang tidak terkira. penderitaan yang tidak terkira. Sungguh, belenggu kebencian ini membawa penderitaan. Melihat apa pun, batin kita tak dapat tenang, karena pikiran terus bergejolak

 Melihat orang lain, kita merasa tidak suka. Mendengar suatu ucapan, kita juga merasa tidak senang. Inilah yang disebut kebencian. Saat kemarahan memuncak, pikiran kita tidak dapat tenang. Akibatnya, kebencian semakin bertambah. Terhadap segala hal dan semua orang, baik yang benar maupun salah, kita akan mudah marah. Ini karena kita tidak mengendalikan pikiran. Orang seperti ini sangat menderita. Dikatakan, Penggalan ini mengatakan kepada kita bahwa akibat tidak mengendalikan pikiran, semua makhluk sulit untuk menenangkan batin. Banyak orang yang saat mendengar sesuatu, meski tak ada hubungan dengannya, dia ikut campur atas nama keadilan. Saat merasa itu tidak adil, dia marah serasa ingin mati. Inilah yang dikatakan di sini

 Meski masalah itu tak berhubungan dengannya, dia tetap bersikeras untuk ikut campur. Orang seperti ini sungguh menderita. Orang dengan batin tidak tenang seperti ini akan mudah memicu masalah. Di dalam Sutra ada sebuah cerita. Alkisah ada seseorang berkata, “Saya adalah orang baik.” Orang kedua membalas, “Kamu orang jahat.” Dia bertanya, “Dari sisi mana saya jahat?” Dia bertanya, “Dari sisi mana saya jahat?” Orang kedua itu membalas, “Kamu suka marah-marah.” Mendengar dirinya disebut suka marah-marah, orang pertama tadi langsung mengangkat kursi dan ingin memukul orang. Orang kedua berkata, “Kamu memang suka marah.” “Lihat saja, bukankah sekarang kamu sedang marah?” Orang pertama menjawab, “Siapa bilang?” “Kamu yang menyebut saya jahat

” Lihatlah, disebut sebagai orang yang jahat, orang ini langsung ingin memukul orang. Bukankah temperamennya tidak baik? Bukankah dia tidak bisa membedakan benar salah? Jadi, saat percakapan yang baik berubah buruk, orang akan mulai menderita. Ini akibat temperamen dan tabiatnya sendiri. Jika tabiat ini terus dipupuk, dia tak akan dapat membedakan benar salah. Orang seperti ini kebanyakan sangat gegabah dan mudah melakukan hal yang tidak baik. Bukankah kita sering mendengar tentang cerita di jalan di mana hanya karena melihat seseorang, seorang anak bisa dikeroyok anak lain? Gerombolan anak ini tak bisa membedakan benar salah. Akibatnya, batin mereka pun kacau sehingga mereka melukai orang lain dan mengacaukan masyarakat. Inilah belenggu kebencian. Kebencian membuat orang mudah marah. Kebencian membuat orang mudah marah

 Kebencian membuat orang mudah marah. Saat melihat suatu hal, dia tak mampu menahan diri sehingga bertindak gegabah. Banyak hal yang dilakukannya tidak benar. Dia mengembangkan ketidakbaikan. Jika terus begitu, meski itu hanya tabiat, tetapi tabiat yang terus dilakukan akan membuatnya menjadi orang yang tidak baik. Jadi, kita harus mulai mengubah tabiat buruk. Jika tidak, maka begitu karma buruk tercipta, sulit untuk terlepas dari belenggu ini dari kehidupan ke kehidupan. Sulit untuk melepaskan belenggu ini. Jika tabiat buruk tidak segera diubah, maka begitu benih karma tertanam dan kondisi pendukung matang, buahnya akan datang

 Kita pun akan menerima akibatnya. Ini akan membawa penderitaan kelahiran kembali. Manusia akan terus terombang-ambing di enam alam kelahiran dalam Tiga Alam, sungguh menderita. Saya sudah mengulas tentang Tiga Alam yang juga meliputi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tiga masa ini bisa mencakup waktu yang panjang, bisa juga mencakup waktu yang singkat. Pada saat ini, saat saya berbicara, jika kamu memelototi saya, jalinan jodoh buruk pun segera terjalin. Saya langsung tahu bahwa Anda tidak suka mendengar ucapan saya. Lalu, saya akan mengingat Anda. Dengan demikian, dendam pun terjalin. Nanti, saat Anda ingin berbicara pada saya, saya tak akan menghiraukan

 Sebaliknya, saat saya berbicara, jika kalian tersenyum, mengangguk, dan merasa kata-kata ini benar dan mengena, nanti saya akan mencari kalian untuk bertanya apakah kalian senang mendengar ucapan saya dan apakah kalian satu misi dengan saya. Dengan begitu, mungkin kita menjalin jodoh baik. Singkat kata, di masa lalu, masa kini, dan masa depan, kita harus tahu bahwa kelahiran kita di Tiga Alam bergantung pada jalinan jodoh dan benih karma yang dapat kita tanam dengan cepat. Jadi, kita harus waspada terhadap tabiat kita. Janganlah kita selalu meminta orang lain untuk memaklumi kebiasaan buruk kita dan tidak berusaha memperbaiki diri. Jika hanya terus meminta dimaklumi orang lain, maka ini adalah masalah besar. Belenggu ini tidak akan bisa terlepas. Jadi, kita harus memperbaiki diri, barulah pandangan orang terhadap kita bisa berubah. Dengan berubahnya pandangan orang terhadap kita, belenggu dalam batin kita juga akan terurai. Jadi, Saudara sekalian, ingatlah, belenggu apa pun dimulai dari ucapan, tindakan, dan pikiran kita

 Yang kecil dapat menjalin jodoh buruk, sedangkan yang besar dapat melukai diri sendiri dan orang lain. Semua ini berawal dari kebencian yang membuat pikiran tak dapat tenang. Jadi, kita semua harus selalu menjaga pikiran dengan baik dan waspada dalam menghadapi setiap orang dan masalah. Jadi, kita harus lebih bersungguh hati.

Leave A Comment