Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 229 – Sepuluh Ikatan Bagian 02

Saudara se-Dharma sekalian, jika kondisi sekitar bisa selalu sesuai dengan keinginan kita, maka alangkah baiknya. Namun, banyak hal yang di luar kendali kita. Meski berada di lingkungan yang baik, kita juga tak bisa membuat pilihan dengan baik. Meski sudah membuat pilihan, terkadang kita enggan menjalankannya. Lingkungan itu sangat baik dan merupakan pilihan kita, tetapi jika kita enggan tekun dan bersemangat, maka itu bukanlah kesalahan lingkungan, melainkan kesalahan kita sendiri. Contohnya seseorang yang berada di tengah tempat yang kotor

 Di tempat itu, dia melihat mata air yang bersih dan bunga teratai yang indah. Dia lalu mulai berpikir, “Tempat saya ini begitu kotor dan berbau tidak sedap.” “Alangkah baiknya jika saya bisa ke sana yang terdapat mata air jernih dan bunga teratai yang indah.” dan bunga teratai yang indah.” Dia hanya terus memohon. Sesungguhnya, dia tak perlu memohon. Pemandangan itu ada di depan mata, asalkan bersedia melangkah, maka dia bisa tiba di tempat itu. Tempat itu sangat indah dan memiliki banyak bunga teratai

 Yang perlu dia lakukan hanyalah melangkah maju ke depan. Namun, orang ini hanya berdiri di tempat untuk berkeluh kesah. Dia hanya terus berpikir, “Di sana ada, mengapa tempat saya tidak ada?” “Tempat itu begitu indah, sedangkan tempat saya begitu buruk.” Dia hanya terus mengeluh. Sesungguhnya, itu bukan tempat yang tak boleh dikunjungi, tetapi dia sendiri yang enggan melangkah. Begitu pula dengan pelatihan diri kita. Begitu pula dengan pelatihan diri kita

 Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu. Buddha menggunakan perumpamaan untuk membimbing kita. Sesungguhnya, cara-Nya tidak banyak. Akan tetapi, noda dan kegelapan batin makhluk awam sangatlah banyak. Dengan menggunakan cara yang sama di kondisi yang berbeda-beda, Buddha membabarkan Dharma untuk menyucikan hati kita. Kita harus menyucikan batin sendiri dengan baik. Kita harus menyucikan batin sendiri dengan baik. Buddha telah mengajarkan cara kepada kita untuk menyucikan batin dengan baik. Seperti yang pernah saya katakan bahwa hanya ada satu cara untuk membersihkan kekotoran, yakni dengan menggunakan air. Hanya air yang bisa membersihkan barang yang kotor. Satu-satunya cara untuk membersihkan kegelapan batin makhluk awam adalah hanya dengan Dharma

 Buddha terus mengajar sesuai kondisi dan membabarkan banyak Dharma. Akan tetapi, makhluk hidup hanya mendengar dan mengetahuinya, dan mengetahuinya, tetapi tidak sungguh-sungguh menyadarinya. Karena itulah, makhluk awam tidak bisa menjalani hidup dengan penuh ketenangan dan kedamaian. Hati mereka dipenuhi kemelekatan dan noda batin. Kita mengulas tentang Sepuluh Ikatan. Sebelumnya kita membahas tentang belenggu. Sebelumnya lagi kita membahas kegelapan batin. Sesungguhnya, baik kegelapan batin, belenggu, maupun ikatan, semua itu adalah nama lain dari noda batin. Jadi, Buddha ingin kita paham tentang noda batin. ingin kita paham tentang noda batin. Noda batin membawa penderitaan. Noda batin membuat hati kita terikat dan terbelenggu dan terbelenggu sehingga kita merasa merasa menderita

 Penderitaan ini bukan diberikan orang lain, melainkan bersumber dari diri sendiri yang terjebak masalah antarmanusia. Saya sering berkata bahwa kita jangan menganggap masalah sebagai sumber konflik. Kita hendaknya menganggapnya sebagai pendidikan. Di antara tiga orang pasti ada satu yang merupakan guru kita. Setiap orang adalah guru bagi kita. Kita hendaknya bersyukur. Tak peduli bagaimana sikap mereka terhadap kita, baik yang datang membimbing kita maupun datang memfitnah kita, kita harus selalu bersyukur. Senantiasa memiliki rasa syukur adalah cara untuk memperoleh kebahagiaan. Jika bisa memahami bahwa setiap orang adalah guru bagi kita, maka kita akan senantiasa membangkitkan rasa hormat. Kita harus tahu untuk tidak menganggap masalah sebagai sumber konflik, melainkan harus menganggapnya sebagai pendidikan. Dengan menerapkan beberapa ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari, maka kita akan tahu merasa bersalah dan malu. Jika memiliki rasa malu, kita akan bisa berubah. Tanpa rasa malu dan bersalah, kita tidak akan menyadari kesalahan sehingga tidak akan berubah

 Inilah akar terciptanya karma buruk. Hari ini kita akan membahas ikatan yang ketiga, Hari ini kita akan membahas ikatan yang ketiga, yaitu kedengkian. Dengki berarti iri hati. Sebagian besar rasa iri hati dibawa oleh kita sejak lahir. Mungkin kalian berpikir, “Bukankah Master bilang sifat hakiki setiap orang adalah bajik dan murni?” “Bukankah Master berkata bahwa sifat hakiki kita adalah murni?” “Apakah di dalam sifat yang murni ini terkandung rasa iri hati?” Saya pernah berkata kepada kalian bahwa selama tabiat buruk tidak dilenyapkan, maka dari kehidupan ke kehidupan, rasa iri hati ini akan terus mengikuti kehidupan kita. Noda batin ini terus mengikuti kita. Ini yang disebut noda batin turunan. Noda batin ini terus mengikuti kita dari kehidupan ke kehidupan karena tabiat buruk kita tidak dilenyapkan. Karena itu, kita menyebutnya terbawa sejak lahir. Kita bisa melihat anak yang masih kecil Kita bisa melihat anak yang masih kecil sudah bisa cemburu pada adiknya. Seorang anak yang baru belajar berjalan sudah tahu merasa cemburu saat melihat ibunya menggendong adiknya yang masih bayi

 Anak yang berusia dua atau tiga tahun itu sudah merasa cemburu terhadap adiknya yang digendong oleh sang ibu. Ini membuktikan bahwa noda batin kita bawa sejak lahir. Anak kecil itu tidak paham banyak hal, tetapi dia tahu merasa cemburu. Sifat itu terbawa olehnya sejak lahir. Sekarang kita sudah dewasa, sudah menjalani hidup di masyarakat, bahkan sudah berkeluarga. Apakah kecemburuan kita masih ada? Semakin berat. Saat mendengar ada orang yang berhasil, cekatan dalam bekerja, sangat bijaksana, dan mendapat pujian dari orang, kita merasa tidak senang. Kita merasa tidak senang karena yang dipuji bukan kita. “Anda bukan memuji saya, tetap orang lain.” “Bagaimana saya bisa merasa gembira?” Selain merasa tidak senang mendengar orang lain memberi pujian, kita juga menunjukkan kemarahan secara terang-terangan. Ini karena kita iri terhadap kepintaran dan kemampuan orang lain. Inilah tabiat buruk makhluk hidup. Sama halnya dengan saat melihat orang hidup dalam kekayaan, kita juga tidak merasa gembira. “Dia yang menikmati kekayaan, apa hubungannya dengan saya?” Bahkan kita mungkin berpikir, “Dia memiliki uang.” “Karena itu, dia bisa menikmati hidup

” Di dalam ucapan itu sedikit banyak terkandung rasa iri hati. sedikit banyak terkandung rasa iri hati. Itu membuat kita merasa marah. Saat mendengar hal tentang orang itu, kita merasa marah. Ini karena kadar kecemburuan yang tinggi. Jika hanya merasa tidak senang, maka itu karena kecemburuan yang ringan. Inilah tabiat buruk yang terbawa oleh kita sejak lahir. Buddha mengajarkan kepada kita untuk selalu turut bergembira. Pencapaian orang lain juga adalah pencapaian kita. Karena itu, kita harus turut bergembira. Lihatlah tempat penampungan anak-anak di Thailand. Insan Tzu Chi di Thailand pergi ke sana untuk memperhatikan, merawat, mendampingi, dan mengasihi anak-anak di sana. Anak-anak di panti itu berusia mulai dari 5 tahun hingga 18 tahun

 Anak-anak di panti itu berusia mulai dari 5 tahun hingga 18 tahun. Insan Tzu Chi menganggap anak-anak itu bagai anak sendiri. Coba pikirkan, jika saat kita memberi bantuan di sana, mereka duduk di bangku sekolah dasar, maka kini mereka pasti sudah duduk di bangku sekolah menengah atau universitas. Anak-anak yang saat itu berusia belasan tahun, kini sudah berusia 20-an tahun. Waktu terus berlalu tanpa henti. Usia orang juga terus bertambah. Anak-anak di sana memiliki sandaran batin dan menerima dukungan penuh cinta kasih. Karena itu, kini sudah ada belasan anak yang sudah berkuliah. Mereka bergabung menjadi anggota Tzu Ching, bahkan menjadi fungsionaris. Insan Tzu Chi di Thailand bersumbangsih dengan penuh cinta kasih, dengan tulus, benar, yakin, dan sungguh-sungguh. Mereka bersumbangsih dengan hati yang murni dan cinta kasih yang tulus. Mereka mempraktikkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Setiap kali teringat mereka, saya merasa sangat gembira

 Meski masih manusia awam dan belum melenyapkan semua noda batin, tetapi setidaknya mereka tahu berbuat baik. Mereka telah mencapainya. Tekad mereka bukan bersifat sesaat, melainkan selamanya. Di tengah begitu banyak kekurangan manusia awam, mereka memunculkan kelebihan itu. Melihat pencapaian mereka, saya turut bergembira. Ini adalah hal yang sangat menggembirakan. Ini merupakan salah satu bentuk pahala. Hanya dengan turut bergembira, kita sudah menciptakan pahala? Benar. Pahala seperti apa? Ia adalah pelatihan di dalam diri. Saat mendengar ada orang yang sangat giat dan melakukan banyak kebaikan serta mendengar saya memuji mereka, kalian tidak merasa iri. Itu berarti di dalam hati kita sudah timbul rasa kagum. Mengapa kita bisa merasa kagum? Karena kita rendah hati

 “Saya sangat rendah hati.” “Saya belum mencapainya, sedangkan mereka sudah.” “Sudah selayaknya mereka dipuji orang.” “Saya belum mencapainya.” Karena kita belum mencapainya dan orang lain sudah mencapainya, sudah seharusnya kita turut bergembira. Inilah kebajikan dalam kerendahan hati. Kepada orang di luar, kita hendaknya bertata krama. Sudah seharusnya mereka mendapat pujian karena itu merupakan pencapaian mereka. karena itu merupakan pencapaian mereka

 Orang yang bisa memuji orang lain adalah orang yang terpuji. Orang yang tahu mengasihi orang lain adalah orang yang patut dikasihi. Jika bisa dikasihi orang dan dipuji orang atau tahu mengasihi orang dan memuji orang, maka rasa iri hati kita akan lenyap. Melihat pencapaian anak-anak di Thailand tadi, kita juga turut bergembira. Ini juga merupakan bentuk pahala. Meski mereka bukan anak kita, tetapi kita turut bergembira. Kita bisa melihat anak-anak itu bertumbuh dewasa dan sudah bisa hidup mandiri. Selain itu, di dalam hati mereka penuh dengan begitu banyak benih cinta kasih yang kelak akan dikembangkan untuk bersumbangsih bagi masyarakat. Karena itu, kita harus bergembira. Ini yang disebut turut bergembira. Ini merupakan pahala

 Bergembira lebih baik daripada merasa marah. Inilah yang harus kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Noda batin dapat membuat kita tamak akan keuntungan dan persembahan. Kita berpikir, “Yang seharusnya menikmati hidup adalah saya.” “Yang seharusnya mendapat pujian adalah saya.” “Ketenaran ini seharusnya milik saya.” Inilah sifat yang tidak mengenal rasa puas dalam mengejar kekayaan, keuntungan, ketenaran, dan lain-lain. Inilah sifat tidak tahu berpuas diri. Saat melihat orang lain bergembira karena harapannya terpenuhi, kita merasa tidak gembira. Ini sangat menderita. Saat merasa tidak gembira, kita pasti menampakkannya lewat tindakan. Saat mendengar orang mendapat pujian, kita akan berusaha untuk merusak nama baik orang tersebut. Ini adalah cara yang tidak baik

 Kita menciptakan karma negatif lewat mulut. Saat orang lain berbuat baik, kita malah menjatuhkannya. Kita juga melakukan tindakan yang tidak baik. Dengan begitu, kita menciptakan karma buruk lewat tubuh dan ucapan. Dari manakah sumber semua itu? Dari pikiran. Di dalam setiap pikiran kita, jika kita tidak mengembangkan rasa sukacita dan malah terus membangkitkan noda batin, maka kita akan terus menciptakan karma buruk. Dengan begitu, kita sulit melepaskan diri dari penderitaan makhluk awam. Jadi, inilah belenggu kebencian dan ikatan kedengkian. Kedengkian termasuk dalam Sembilan Belenggu, juga termasuk dalam Sepuluh Ikatan. Berikutnya adalah kekikiran. Kekikiran juga termasuk ketamakan, yakni tidak rela melepas karena ingin terus menikmati keuntungan dan persembahan. Diri sendiri ingin memiliki banyak. Jadi, meski sudah memiliki banyak harta, kita tidak rela memberi. Ini karena kekikiran di dalam hati

 Hati yang penuh kekikiran ingin menguasai segalanya. Jadi, dia ingin menguasai semuanya, sama sekali tidak mau merelakan. Ini yang disebut kekikiran. Mereka tidak rela berdana pada fakir miskin. Begitulah, mereka tidak mau merelakan. Jelas-jelas melihat orang yang sakit, tua, atau kekurangan, mereka tidak bersedia bersumbangsih. Mereka kikir dan tamak. Orang seperti ini mudah menginginkan harta yang tidak halal karena meski memiliki, dia tidak rela melepas. Dia tega melihat orang menderita dan tetap tidak bersedia bersumbangsih. Orang seperti ini adalah orang yang tamak

 Orang yang tamak selalu mengejar kekayaan tanpa henti. Dengan begitu, dia akan mengembangkan ketidakbaikan. Kelak, hal itu akan membawa penderitaan. Di dalam Sutra ada sepenggal kisah. Pada masa lampau, Pada masa lampau, ada sebuah kota. Kota ini sangat makmur dan dikelilingi pemandangan indah. Di sana ada sebuah keluarga. Keluarga ini sangat kaya raya, bisa dikatakan yang terkaya di seluruh negeri. Meski keluarga itu kaya, di rumahnya hanya ada sedikit penghuni. Di sana hanya ada seorang umat brahmana muda. Dia sangat tekun mendalami ajaran brahmana. Bagaimana dengan ayah dan ibunya? Bagaimana dengan ayah dan ibunya? Ayah ibunya sudah lama meninggal dunia. Sejak dia kecil, ayah ibunya sudah meninggal. Meski mereka sangat kaya, tetap tidak bisa membeli usia

 Jadi, anak ini diasuh oleh seorang pengasuh yang juga menjaga harta kekayaannya. Melihat anak muda ini telah menjadi orang dewasa, suatu hari pengasuh ini membawa seluruh harta kekayaan keluarga itu, termasuk uang dan permata di dalam sebuah peti besar ke hadapan si pemuda. Saat peti itu dibuka, segala jenis permata ada di dalamnya. Sang pengasuh berkata kepada tuan mudanya, “Kamu sudah dewasa, selama puluhan tahun ini, aku sudah menjaga harta kekayaanmu.” “Kini kamu sudah dewasa, sudah seharusnya aku memperlihatkan dan memberitahumu jumlah kekayaanmu.” dan memberitahumu jumlah kekayaanmu.” Dia lalu berkata, “Semua ini adalah milik ayahmu, sedangkan yang itu adalah milik ibumu.” “Yang ini warisan dari kakek dan nenekmu.” “Yang itu warisan dari kakek buyutmu.” Dihitung-hitung, dia memiliki warisan dari tujuh generasi. Permatanya sangat banyak. Setelah selesai bicara, sang pengasuh kembali berkata, “Bagaimana?” “Aku harus menyerahkan barang-barang ini agar bisa kamu kelola sendiri agar bisa kamu kelola sendiri ataukah aku harus terus mengelolanya?” Saat itu, anak muda ini mulai berpikir. “Tujuh generasi terdahulu mewariskan harta dari generasi ke generasi

” “Mereka tentu sangat kaya raya.” “Mereka tentu sangat kaya raya.” “Namun, sekarang bagaimana?” “Mereka tidak bisa membawa semua ini.” “Semuanya terkunci di dalam peti besi.” “Mereka tetap tak dapat membawanya.” “Tiada yang tahu panjang pendeknya usia.” “Ayah dan ibuku meninggal di usia muda.” “Ayah dan ibuku meninggal di usia muda.” “Apa yang bisa diperbuat bagi kehidupan dengan harta sebanyak ini?” “Tidak ada.” “Waktu meninggal pun, harta tidak terbawa.” Saat itu, dia berpikir, “Saya harus membuat semua harta ini “Saya harus membuat semua harta ini dapat saya bawa saat meninggal.” Setelah berpikir matang, dia mengumumkan kepada orang di rumahnya, pengasuhnya, dan pelayannya, pengasuhnya, dan pelayannya, pengasuhnya, dan pelayannya, “Sejak hari ini, harta saya yang banyak ini akan saya gunakan sendiri dan kelak harus bisa saya bawa mati

” Semua orang saling memandang dan bergumam, “Mana mungkin?” “Kini kamu punya banyak harta yang bisa kamu gunakan sendiri, tetapi mana mungkin bisa dibawa mati?” Sang pemuda lalu berkata, “Cepat, Sang pemuda lalu berkata, “Cepat, pergilah kalian menghadap raja dan sampaikan bahwa aku memiliki banyak harta untuk dibagikan kepada fakir miskin.” Dia ingin menyampaikan kepada raja bahwa dia ingin menyumbangkan seluruh hartanya. Dia juga memerintahkan pelayannya Dia juga memerintahkan pelayannya untuk membuat pengumuman agar orang-orang yang tidak memiliki beras, tidak memiliki pakaian, dan hidup kekurangan, dan hidup kekurangan, dan hidup kekurangan, dapat datang ke rumahnya. Dia menukarkan hartanya dengan beras dan emas untuk dibagikan dalam jangka waktu panjang. Setiap hari ada orang yang mengangkut beras dan emas.  Setiap hari ada orang yang mengangkut beras dan emas. Orang yang tidak mampu akan diberikan uang dan beras, sedangkan yang sakit diberi obat, dll. Diperlukan waktu yang cukup panjang untuk membagikan hartanya itu. Setelah pembagian selesai, pemuda ini merasa dia tak lagi memiliki beban. Dia lalu menjalani pelatihan diri dengan tenang dan damai. Kisah ini menggambarkan makhluk awam yang berdiri di atas limbah, lalu melihat mata air jernih dan melangkah ke sana

 Batinnya tidak diliputi kekeruhan. Air jernih bagai terus memancar dari hatinya. Dengan begini, bukankah bunga teratai dalam hatinya dapat berkembang? Inilah cara untuk melenyapkan kekikiran dan kedengkian. Dengan melenyapkan kekikiran dan kedengkian di dalam batin, kita akan merasakan sukacita, ketenangan, dan kedamaian. Inilah cara yang Buddha ajarkan kepada kita. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

Juragan28