Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 228 – Sepuluh Ikatan Bagian 01

Saudara se-Dharma sekalian, saya setiap hari berpikir bahwa mengubah pola pikir manusia sangatlah sulit. Lihatlah, Buddha Sakyamuni datang ke dunia ini adalah demi melenyapkan noda batin semua makhluk dan meluruskan pikiran manusia yang keliru. Bicara sangat mudah. Melenyapkan noda batin, meluruskan kekeliruan, kedengarannya sangat mudah. Buddha dengan sabar membimbing semua makhluk selama 49 tahun. Namun, berapa banyak makhluk hidup yang dapat memahami hati Buddha, yang dapat menerima ajaran Buddha, yang dapat mengubah diri menjadi baik? Sesungguhnya, ada berapa banyak? Di dalam Sutra, kita dapat melihat bahwa Buddha memberi ajaran secara terus-menerus dan tanpa henti. Kedengarannya sangat mudah, tetapi sulit untuk mengubah diri. Oleh karena itu, Buddha harus terus memberi ajaran dan terus mengulang. Sebelumnya kita telah membahas Sembilan Belenggu. Sekarang kita akan membahas Sepuluh Ikatan. Sepuluh Ikatan sesungguhnya sama dengan Sembilan Belenggu yang kita bahas sebelumnya. Kalau sama, mengapa harus diulang? Karena makhluk awam mudah lupa, cepat lupa. Jadi, Buddha bagai seorang pencuci.

Saat mencuci sekali dengan sikat dan air, tetapi masih belum bersih, Beliau menyikat sekali lagi dan kembali membilasnya dengan air. Jika belum bersih juga, Beliau akan terus mengulang. Jadi, kotoran yang sama, dibersihkan dengan cara yang sama, yaitu dengan menggunakan air. Hanya saja, harus dilakukan berulang-ulang. Kita telah membahas Sembilan Belenggu. Belenggu yang dimaksud adalah noda batin. Ikatan yang kita bahas pun merujuk pada noda batin. Ikatan yang kita bahas pun merujuk pada noda batin. Semua ini berawal dari kegelapan batin. Jadi, kegelapan batin adalah nama lain dari makhluk awam. Karena merupakan makhluk awam, kita membangkitkan kegelapan batin. Karena adanya kegelapan batin, kita menjadi makhluk awam. Kini kita akan membahas Sepuluh Ikatan. Sesungguhnya, penderitaan ada karena keterikatan. Jika bisa melepas ikatan ini, kita akan mendapat kebahagiaan. Karena kita tidak bisa melepas ikatan, maka kita tidak bisa mendapat kebahagiaan. Apakah yang mengikat kita? Ada sepuluh faktor yang mengikat kita. Ada sepuluh faktor yang mengikat kita. Apa saja sepuluh faktor itu? Berikutnya kita akan membahas lebih terperinci.

Yang pertama berhubungan dengan rasa malu. Jika melakukan kesalahan, kita sebagai umat Buddha sering berkata, “Saya merasa malu.”Saat melakukan sesuatu yang salah, yang biasa kita ucapkan adalah bahwa kita merasa malu. Ya, rasa malu timbul saat kita mengetahui telah melakukan kesalahan sehingga secara alami mengucapkannya. Apakah malu hanya di mulut ataukah dari hati? Apakah kita paham arti dari rasa malu? Malu berarti malu terhadap langit. Kita sebagai manusia telah melakukan segala perbuatan buruk di tempat tersembunyi. Tempat tersembunyi berarti tempat yang tidak terlihat oleh orang lain. Kita banyak melakukan kesalahan. Kita banyak melakukan kesalahan. Saat orang lain tidak melihat, kita melakukannya. Jadi, orang berbudi hendaknya tetap mawas diri meski sendirian. Saat seorang diri, kita tetap harus mawas diri. Jangan mengira tidak ada orang yang melihat, lalu kita melakukan hal buruk dan menganggapnya tak akan diketahui orang lain. Seperti ini tidaklah benar. Inilah orang yang tidak ada rasa malu.

Walaupun kita seorang diri, hendaknya kita menganggap dinding di sekitar kita memiliki mata yang sedang melihat. Di mana pun kita berada, bagai ada orang yang memperingatkan kita, “Itu tidak benar.” Kita hendaknya mawas diri setiap saat. Jika tidak, kita akan sering melakukan kesalahan di tempat yang tidak terlihat orang lain. Jadi, kita “tidak merasa malu pada langit, tidak menyesal pada diri sendiri”. Karena mengira tidak ada orang yang melihat, maka kita tidak merasa malu dan menyesal.Apa yang dimaksud merasa malu pada langit? Langit adalah hati nurani kita sendiri. Orang berkata kita harus membangkitkan hati nurani. Ya, langit adalah hati nurani kita sendiri. Jadi, kita menutupi hati nurani kita sendiri.

Dengan mengira tiada orang yang tahu perbuatan kita, kita bertindak buruk terhadap orang lain. Dengan menganggap tiada orang yang melihat, kita mencuri. Inilah orang yang tidak ada rasa malu. Jadi, “tidak merasa malu pada langit, tidak menyesal pada diri sendiri”. Artinya, Anda tidak mengakui kesalahan karena mengira tidak ada orang yang mendengar. Berhubung tidak ada orang lain yang melihat, maka kita tidak rela mengakui kesalahan. Sikap seperti ini akan mengacaukan batin.

Mengacaukan batin, mengacaukan batin siapa? Batin orang lain dan diri sendiri. Sesungguhnya, ini menyalahi hati nurani. Batin kita sendiri juga bisa mencela kita. Kita sering berkata bahwa hukuman terbesar adalah penyesalan. Kita menyesal, tetapi tak berani mengakui kesalahan. Batin kita juga diliputi ketakutan. Jika ketidakjujuran kita terbongkar dan diketahui orang lain, harus bagaimana? Kita akan merasa khawatir. Jadi, makna dari malu adalah malu terhadap diri sendiri. Kita sendiri juga harus memiliki rasa malu. Jika tidak memiliki rasa malu, kita akan mengatakan hal buruk tentang orang lain dan banyak melakukan hal buruk. Orang lain memang tidak melihatnya, tetapi dalam hati kita sendiri pun tak ada rasa malu. Kita tidak takut. Kita tidak takut integritas kita jatuh. Kita tidak takut integritas kita jatuh. “Biar saja mereka tahu, lalu kenapa?” Inilah orang yang tidak punya rasa malu. Inilah orang yang tidak punya rasa malu. Saat melakukan kesalahan, dia tidak takut orang lain tahu. Yang seperti ini lebih parah. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, jika kita tidak memiliki rasa malu, jika kita tidak memiliki rasa malu, jika hati kita tidak murni, maka kita akan terbelenggu nafsu dan cacat dalam sila. Jadi, kita harus mawas diri. Tidak memiliki rasa malu akan mudah membuat batin praktisi menjadi tak terkendali sehingga dapat bertindak sesuka hatidan terjerumus dalam nafsu keinginan.

Jika begitu, praktik sila kita pasti tidak sempurna. Karena itu, langkah pertama dalam pelatihan diri adalah sebelum langit terang pada pagi hari, kita mulai meningkatkan kesadaran diridengan melantunkan Sutra. Hari ini dimulai dengan mempelajari ajaran Buddha dan menjalankan tata tertib vihara. Dalam kebaktian, kita mengingatkan diri agar memiliki kewaspadaan. Jadi, dalam pelatihan diri, kita harus memiliki rasa malu. Jika kita berada di vihara, tetapi enggan melatih diri, maka ini sangat memalukan. Jadi, dikatakan, “Cacat dalam sila, maka tidak layak dijadikan guru.” Dengan demikian,kita tidak bisa menjadi guru bagi orang lain. Jadi, dalam mempelajari Buddha hendaknya jangan sampai kita tercela di mata orang. Begitu kita menjadi anggota Sangha, orang lain menyebut kita guru. Seorang guru seharusnya dapat mewariskan ajaran Buddha. Jika kita tidak dapat menaati sila dan tidak dapat sungguh-sungguh membersihkan kekeruhan batin, maka berarti kita tidak memiliki rasa malu dan telah kehilangan kualitas luhur. Dengan begitu, kita tidak layak disebut guru, juga tidak bisa mengajarkan tata tertib kepada orang lain. Demikianlah mengenai rasa malu.

Malu di sini berarti malu pada langit. Malu di sini berarti malu pada langit. Kita hendaknya berintrospeksi dan mendengarkan hati nurani. Jika tidak berintrospeksi, kita akan menjadi orang yang tidak punya malu. Intinya, jangan mengira bahwa semua baik-baik saja saat orang lain tidak melihat keburukan kita. Ketika ada orang yang melihat, kita pun tidak peduli. Ini sungguh merusak kualitas dan moral kita. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, manusia kehilangan integritas. Makna dari rasa malu adalah seperti ini. Banyak orang mudah berkata, “Saya malu, saya malu.” Sesungguhnya, kata malu memiliki makna yang dalam. Kita harus sering mengingatkan diri. Yang kedua adalah tidak merasa bersalah. Yang pertama adalah tidak merasa malu, yakni tidak bisa berintrospeksi sehingga banyak melakukan keburukan di belakang orang. Yang kita bahas sekarang adalah tiada rasa bersalah. Yang pertama melakukan keburukan di belakang orang, tidak bisa mengingatkan diri sendiri, juga menyalahi hati nurani sendiri. Yang sekarang kita bahas adalah orang yang meski berada di depan orang, dia tidak takut melakukan keburukan. Dia tidak segan terhadap orang lain. Ini lebih parah. Dia tidak sadar bahwa saat orang lain melihat kita melakukan keburukan, itu adalah hal yang memalukan. Kita mungkin merasa mengapa orang zaman sekarang seperti itu, tidak memiliki rasa malu dan rasa bersalah. Ini sungguh mengkhawatirkan. Akan menjadi seperti apakah masyarakat di masa depan? Di mana-mana kita bisa melihat pelanggaran dalam hubungan pria dan perempuan. Banyak pula orang yang berbuat jahat.

Orang banyak melihat dan mengetahuinya, tetapi mereka tidak takut. Inilah yang disebut tidak merasa bersalah. Dikatakan, “Menutupi ketidakbaikan dan tidak merasa bersalah.” Tak peduli ada orang yang melihat atau tidak, orang ini tidak segan melakukan kesalahan. Semua yang dia lakukan tidak baik. Dia tidak mengerti rasa malu dan rasa bersalah. Orang seperti ini tidak bisa merasa menyesal. Karena tidak mengerti rasa malu dan rasa bersalah, maka sulit baginya untuk menyesal. Rasa malu yang tadi kita bahas ada saat seseorang mengakui kesalahan. Namun, yang kita bahas sekarang adalah tidak merasa bersalah. Berhubung berani melakukannya di depan orang lain, maka segala yang dia lakukan,baik secara terang-terangan maupun tersembunyi, semuanya adalah tidak baik. Orang seperti ini tidak mengenal rasa bersalah dan tidak mengerti rasa menyesal. Dengan begitu, noda batin akan mengacaukan pikirannya. Orang-orang mungkin berkata, “Kamu tidak benar, kamu tidak benar,” tetapi dia menjawab, “Memang kenapa?” “Yang penting saya senang, apa yang tidak boleh?”

Meski banyak orang mengatakan dia salah,dia sendiri tidak merasa terbebani. Jika begitu, dia sulit untuk berubah. Sejujurnya, pikirannya sendiri pun risau. Ditambah lagi, orang lain telah melihatnya, maka orang-orang pun ikut risau. maka orang-orang pun ikut risau. “Jelas-jelas kamu yang tidak benar, jelas-jelas kamu yang berbuat salah, tetapi malah menyeret orang banyak.” Ini sungguh membawa penderitaan. Orang yang bersamanya juga menderita. Mereka akan menjadi orang yang tak disukai orang lain. Begitulah orang yang tidak mengasihi diri sendiri. Orang seperti ini akan terus diikuti oleh kerisauan. Kerisauan akan terus mengikuti kehidupannya. Kerisauan akan terus mengikuti kehidupannya. Demikianlah orang yang tiada rasa malu dan rasa bersalah. Rasa malu dan bersalah ini memiliki dua aspek. Pertama adalah menyalahi hati nurani, kedua adalah berbuat salah terang-terangan. Jadi, orang yang tak punya rasa malu dan rasa bersalah akan semakin banyak melakukan kesalahan. akan semakin banyak melakukan kesalahan. Kehidupan penuh penderitaan. Buddha memberi ajaran kepada kita dengan harapan setiap orang dapat kembali pada kemurnian hati awal. Apa yang disebut awal? Yakni sifat hakiki yang bajik. Buddha ingin setiap orang kembali pada hati yang bajik. Namun, itu sulit. Setiap hari di rumah sakit kita bisa melihat para lansia. Saat kita bertanya, “Kakek, apakah Kakek memiliki anak?” Dia menjawab, “Punya.” “Apakah mereka ada datang menjenguk?” “Tidak ada.” Jadi, sang kakek sangat gundah.

Sebuah ungkapan berbunyi, “Berbakti adalah kebajikan yang utama.” Saat seseorang berbuat baik atau buruk, mungkin ada yang melihat dan ada yang tidak. mungkin ada yang melihat dan ada yang tidak. Namun, ada satu hal yang bisa terlihat jelas, Namun, ada satu hal yang bisa terlihat jelas, yaitu apakah dia berbakti atau tidak. Pada zaman Buddha hidup, saat Buddha sedang berjalan, Beliau melihat seorang lansia yang berpunggung bungkukdan membawa tongkat. Dia berjalan tertatih-tatih sambil memegang sebuah mangkuk untuk meminta sedekah kepada setiap orang. Ketika Buddha melihatnya, Beliau bertanya kepadanya, “Mengapa Anda yang telah berusia lanjut tidak beristirahat di rumah?” “Apakah Anda tidak memiliki putra?” Dia menjawab, “Ada, saya memiliki seorang putra.” “Jika Anda memiliki putra, mengapa Anda harus meminta sedekah?” “Anda tidak leluasa berjalan, juga telah berusia lanjut.” Lansia itu menjawab, “Ada, saya memiliki seorang putra, juga memiliki sebuah rumah, saya memiliki segalanya.” “Namun, putra saya tidak berbakti.” “Setelah menikah, dia mengusir saya keluar.” Setelah Buddha mendengarnya, Beliau merasa amat kasihan. Jadi, Buddha berkata kepada orang tua ini, “Mari, saya ajari Anda.””Hafalkan kata-kata ini.” “Di mana pun Anda meminta sedekah, ulangi kata-kata ini.” Dia bertanya, “Kata-kata apa?” Buddha menjawab, “Anda harus mengingatnya.” “Dengar baik-baik dan ingatlah.” Perkataan itu berbunyi, Dia dibuang oleh putranya,maka harus meninggalkan rumah.”Setelah menikmati kekayaan, sang anak berpaling dari ayahnya.”Si orang tua berkata, “Saya hari ini bisa seperti inikarena selama hidup saya bersungguh-sungguhdalam mengurus keluarga hingga memiliki segalanya.” “Saya mencarikan istri untuk putra saya.” “Ketika dia menikah, saya sangat gembira dan memberinya banyak harta.” “Namun, sekarang saya sudah tua, putra saya sudah tidak menginginkan saya lagi, sehingga dia mengusir saya.” “Putra saya tinggal di rumah yang saya berikan.” “Aku telah memberinya banyak tanah, tetapi dia malah tidak berbakti dan melawanku.” Lansia ini diusir oleh putranya. “Bagai raksasa berwujud manusia, ia mencampakkan ayahnya.” Wujudnya adalah manusia, tetapi sesungguhnya berhati raksasa. Dia mencampakkan ayahnya yang sudah lanjut usia dan patut dihormati. Dia mengusir ayahnya. Putranya ini masih muda, sedangkan ayahnya sudah tua. Ayahnya masih harus keluar untuk meminta sedekah kepada setiap orang. “Tongkatku adalah yang terbaik.” “Tongkatku adalah yang terbaik.” “Tidak seperti anak yang meninggalkanku.” “Tongkat ini tidak akan seperti anak saya yang menyia-nyiakan cinta kasih saya.” “Ia menjaga saya dari lembu yang jahat dan tempat-tempat berbahaya.” “Tongkat ini bisa menjaga saya dari lembu yang jahat.” “Jika lembut jahat datang, saya menggunakan tongkat ini untuk mengusirnya.” “Anjing liar ataupun lembu bisa saya usir.”

“Di tempat berbahaya pun saya bisa tenang asalkan ada tongkat ini.” “Ia bisa mengusir anjing liardan menopang saya di jalan gelap.” dan menopang saya di jalan gelap.” Ketika orang tua ini meminta sedekah, dia berbicara seperti itu. Kemudian, seluruh warga desa menyebarkan hal ini sehingga sang putra pun mendengarnya. Dia berintrospeksi, merasa malu dan bersalah karena telah menyalahi hati nurani. Jadi, dia segera menjemput ayahnya. Setelah membawanya pulang, dia memandikan dan menggantikan baju ayahnya, lalu dengan sikap bakti, dia melayani ayahnya sebagaimana mestinya.

Jadi, orangnya sama. Sang putra dibesarkan dari kecil oleh sang ayah sampai dia menikah, lalu tiba-tiba melakukan hal yang melanggar hati nurani. Namun, setelah orang lain tahu dan menyebarkannya, akhirnya dia bisa berintrospeksi serta membangkitkan rasa malu dan rasa bersalah. Dia akhirnya berubah, membawa pulang ayahnya dan berbakti kepadanya. Jika melakukan kesalahan manusia hendaknya memperbaiki diri. Jika tidak mau berubah setelah melakukan kesalahan, maka kita akan selamanya menyalahi hati nurani. Hukuman terbesar dalam hidup adalah penyesalan. Kita akan mengacaukan batin sendiri dan membuat risau orang lain. Inilah penderitaan. Jadi, Buddha ingin kita melepaskan satu demi satu belenggu. Kesalahan tidaklah menakutkan, yang menakutkan adalah tidak mau memperbaiki diri. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

Juragan28