Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 227 – Sembilan Belenggu Bagian 9

Saudara se-Dharma sekalian, pada pagi hari, hati saya selalu terasa tenang dan damai. Ini adalah awal dari semua aktivitas satu hari. Kita yang melatih diri dan tinggal di vihara memiliki aktivitas pertama yang disebut kebaktian pagi. yang disebut kebaktian pagi. Di dalam vihara, jika tidak mengikuti kebaktian pagi, tidak bisa disebut melatih diri. Sesungguhnya, saat cuaca dingin di musim dingin, saat kita harus beranjak dari selimut, itu adalah momen pelatihan diri. Jika tidak rela meninggalkan tempat tidur yang hangat, Jika tidak rela meninggalkan tempat tidur yang hangat, Jika tidak rela meninggalkan tempat tidur yang hangat, berarti pada awal hari kita saja kita sudah membangkitkan ketamakan. Tamak dalam hal apa? Tamak dalam tidur. Ini adalah ujian pertama yang harus kita hadapi sebelum memulai keseharian. yang harus kita hadapi sebelum memulai keseharian. Oleh karena itu, dahulu ada seorang sesepuh yang membahas tentang tamak tidur. yang membahas tentang tamak tidur. Dengan begitu, timbunan karma sulit terkikis. Beliau mengatakan jika kita terus tidur Beliau mengatakan jika kita terus tidur dan berbaring di atas tempat tidur; saat orang lain mulai melatih diri dan mengikuti kebaktian pada pagi hari, kita malah masih terbaring di tempat tidur, maka apakah masih bisa disebut melatih diri? Pada awal aktivitas dan pelatihan diri harian saja kita sudah menyerah. Jika demikian, hidup 100 tahun pun kita selamanya akan tetap tenggelam di dalam ketamakan akan tidur.

Karena tidak melatih diri, selain hanya tidur, kita juga kehilangan waktu dan kehilangan makna pelatihan diri. Jika begini, apakah kita bisa tekun dalam keseharian? Kita hanya akan menghabiskan waktu di vihara. Saat sudah berusia lanjut atau berusia 100 tahun, mungkin kita baru menyadarinya,dan semua itu sudah terlambat. Kita akan terus terbelenggu di dalam jaring karma buruk. Jaring ini terus menjerat kita sehingga kita tidak dapat membebaskan diri. Mengapa? Karena kita tidak sadar. Kapan kita tidak sadar? Saat melatih diri kita sudah tidak sadar. Ada orang yang mengatakan bahwa dirinya terlalu letih sehingga tidak bisa bangun untuk mengikuti kebaktian pagi. Ada yang mengatakan tubuhnya lemah sehingga dia tidak bisa ikut kebaktian pagi. Itu semua bermula dari pikiran. Belenggu pikiran mengikat kita semua sehingga membuat kita malas dan merosot. Orang seperti ini tidak mencari pembebasan. Setiap kali kita mengadakan kamp Jing Si, baik bagi staf badan misi maupun para pengusaha, mereka harus sama seperti kita, yaitu bangun sekitar pukul tiga pagi.

Saat mendengar mereka berbagi kesan tentang apa yang telah mereka dapatkan, maka mayoritas akan mengungkit tentang pukul berapa tidur malam dan pukul berapa bangun pagi. Ini adalah yang paling berat. Setelah mereka berbagi kesan, saya sangat gembira. Kemudian, giliran saya berkata kepada mereka Kemudian, giliran saya berkata kepada mereka bahwa kita di Griya Jing Si selama-lamanya selalu bangun pagi seperti ini. Kita pun merasa tenang dan damai. Mendengar ada orang merasa sulit untuk bangun pagi, saya teringat bahwa saya juga bangun begitu pagi dan merasa tenang dan damai. Saudara sekalian, kapankah kita disebut hidup? Saat memiliki perasaan. Di manakah nilainya? Bisa bersumbangsih, bisa rukun di dalam masyarakat, inilah yang dinamakan bernilai. Jika hidup hanya demi diri sendiri dan selalu tamak akan kenikmatan, maka kita sulit untuk berbaur di masyarakat karena ini menunjukkan bahwa Anda hanya memikirkan diri sendiri. Jika tidak berniat membuang tabiat buruk serta memasuki ladang pelatihan diri untuk bersama-sama melatih diri dengan rukun, bagaimana mungkin mencapai keberhasilan? Tidak mungkin. Contohnya saya, setelah meninggalkan keduniawian, Contohnya saya, setelah meninggalkan keduniawian, saya harus menggenggam waktu dengan baik.

Puluhan tahun ini tekad saya tetap sama. Ini baru benar. Saudara sekalian, setiap hari, kita hendaknya membuat langkah pertama untuk melatih diri. Aktivitas di vihara diawali lonceng dan diakhiri genderang. Suara lonceng di pagi hari menandakan awal aktivitas satu hari. Momen ini sangatlah penting. Saat terdengar suara genderang pada malam hari, itulah waktunya kita tidur. itulah waktunya kita tidur. Antara suara lonceng dan gendering adalah waktu bagi kita untuk sama-sama melatih kesatuan hati, keharmonisan, sikap saling mengasihi, dan gotong royong guna menjalankan ladang pelatihan diri kita. Inilah pelatihan diri yang benar. Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha dimulai dari pikiran. Jangan sampai pikiran ini terbelenggu. Jangan sampai kita yang berada di ladang pelatihan tidak ingin mencari jalan pembebasan. Jika begitu, maka timbunan karma buruk akan selalu membelenggu kita tanpa henti dan tidak dapat dikikis. Bukan hanya tidak dapat dikikis, timbunan karma ini juga membelenggu kita. Kita harus sangat memperhatikan kehidupan kita. Jadi, kita tidak boleh memiliki ketamakan karena ketamakan dapat membuat kita tidak bisa melangkah maju. Kini kita akan membahas belenggu ke Sembilan yang berhubungan dengan ketamakan. Belenggu ke sembilan adalah kekikiran. Kikir berarti pelit. Ini juga termasuk bentuk ketamakan. Jadi, dalam melatih diri, langkah pertama adalah melepaskan tabiat buruk. langkah pertama adalah melepaskan tabiat buruk. Kita dapat mengetahui bahwa jika kita tidak rela melepas tabiat buruk dan berjalan di jalan benar, maka tiada lagi yang bisa dibahas. Jadi, sekarang kita akan membahas tentang kekikiran. Dikatakan, “Melekat pada keuntungan dan persembahan.” Apakah yang dimaksud dengan pelatihan diri adalah menjalani hidup dengan penuh kenikmatan dari hari ke hari? Bukan. Sebagai manusia, apakah kita hidup hanya demi kenikmatan?

Mencari banyak uang, memakai pakaian yang bagus, memakan makanan yang enak, tinggal di rumah yang mewah, apakah demikian? Jika hanya menjalani hidup seperti ini, maka kita menjadi bagai orang yang tertidur selama-lamanya di dalam jaring karma. Ini adalah penderitaan yang tak terkira. Jadi, kita harus tahu untuk tidak melekat pada keuntungan dan persembahan. “Alat penyokong kehidupan” adalah barang kebutuhan sehari-hari. Apakah kita mau menggunakan segala sesuatu yang terbaik? Pakaian yang baik, makanan yang baik, dan sebagainya, apakah semua ini adalah sesuatu yang seharusnya kita kejar? Mungkin banyak orang telah memilikinya, tetapi apakah kita rela melepaskannya? Saya sering mengatakan bahwa manusia merasa kurang sembilan saat memiliki satu. Manusia cenderung tidak rela melepas. Begitulah kehidupan manusia. Melatih diri berarti di dalam ketidakrelaan untuk melepas ini kita harus belajar untuk merelakan dan melepas.

Inilah yang  dinamakan pelatihan diri. Baik umat awam maupun kaum monastik, harus melatih pikiran untuk melepas. Jika bisa merelakan, kita baru bisa memperoleh. Dengan melepas noda batin, barulah kita bisa mendapat kemurnian hati. Dengan merelakan kekayaan, barulah kita bisa mendapat ketenangan. Jadi, jika kita tidak melepas,kerisauan akibat tamak menumpuk di dalam hati. Jika kita tidak mampu merelakan, maka saat melihat banyak makhluk yang menderita, kita tidak dapat mengembangkan cinta kasih. Jadi, kita harus belajar untuk melepas. Jangan hanya memikirkan kesenangan sendiri atau hanya mencari banyak materi bagi diri sendiri sehingga tidak bisa merelakan sedikit pun. Jika demikian, kita akan mengembangkan ketidakbaikan. Jika kita tidak melakukan kebajikan, maka akan mengarah pada kejahatan. Jika tidak mau tekun dan bersemangat, kita akan menjadi malas dan mengalami kemunduran.Semuanya memiliki konsekuensi.Jika tidak sedang duduk di sini, kita mungkin masih berada di atas tempat tidur. Ini memang terkesan dualistik. Kita sedang duduk di sini. Saat saya mengatakan semua ini, kalian mungkin merasa sangat senang karena kalian sudah setiap hari duduk di sini dan mengelilingi saya. Hati kalian terasa tenang dan damai.Sebaliknya, jika masih berada di tempat tidur, kita akan merasa, “Mengapa saya begini?” “Apakah saya akan terus mundur?” Benar, kita akan terus mundur. Jadi, maju dan mundur adalah dua hal yang berlawanan.

Jika tidak tekun, maka kita akan mundur. Jika tidak rela melepas, kita akan tamak dan kikir. Ini adalah kebenaran yang pasti. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus maju selangkah demi selangkah, bukan malah terus mundur. Dalam Sutra Agama juga tertulis demikian. Teksnya sangat sederhana. Buddha mengatakan bahwa demikianlah manusia, memiliki kekayaan dan memiliki banyak benda, tetapi dipenuhi kebodohan. Mengenai ketamakan, kebencian, dan kebodohan, bodoh berarti tidak memiliki kebijaksanaan. Manusia mengira harta kekayaan duniawi bisa selamanya dimiliki. Kehidupan manusia tidaklah kekal. Dalam kehidupan manusia, jarang ada orang yang mencapai usia seratus tahun. Walaupun bisa hidup sampai 100 tahun, tetapi sesungguhnya berapa banyak waktu yang dapat benar-benar kita gunakan? Jadi, apakah kekayaan selama-lamanya milik kita? Saya pernah bercerita saat ayah saya meninggal dunia, saya terus bertanya-tanya ke mana ayah saya pergi. Beliau meninggal pada usia 51 tahun. Di mana dia berada setelah itu? Bhiksu Miao Guang  memberi saya buku yang berjudul “Cara Bebas dari Belenggu”.Setelah berkali-kali membaca buku itu, saya merasa bahwa seorang yang kaya suatu saat juga akan meninggal.

Seorang raja yang memiliki kekuasaan suatu saat juga akan meninggal. Chang’e yang berparas cantik pada akhirnya juga harus meninggal. Peng Zu yang berumur panjang hingga 800 tahun pada akhirnya juga meninggal dunia. Semua orang harus menghadapi kematian. Mati berarti tidak lagi bernyawa. Apa yang diperlukan saat sudah tidak bernyawa? Tidak perlu apa-apa. Untuk apa kita tamak akan sesuatu? Qin Shih-huang menyadari negerinya sangat besar. Dia berpikir jika dia tidak bernyawa, bagaimana mungkin dapat menguasai wilayah yang luas. Karena itu, dia memohon panjang usia. Bagaimana agar berusia panjang? Dengan menutup lewatnya matahari dan bulan. Karena itu, dia membangun Tembok Besar. Ini untuk menutupi matahari dan bulan. Tentu, ini mungkin hanya dongeng.

Namun, Tembok Besar memang ada di Tiongkok, ditujukan untuk menjaga wilayah. Jadi, di mana Kaisar Qin sekarang berada? Dia juga sudah meninggal. Bagaimana dia bisa melindungi negerinya? Intinya, ketika manusia awam memiliki harta, mereka diliputi kebodohan sehingga tidak rela berdana. Karena tidak memiliki kebijaksanaan, mereka akhirnya menjadi sangat kikir. Orang kikir adalah orang yang tidak rela bersumbangsih. Setelah mendapat harta, mereka menginginkan lebih banyak. Setelah mendapat kekayaan, manusia ingin mengejar lebih banyak lagi. Inilah yang saya sering katakan. Saat memperoleh satu, manusia ingin memiliki sepuluh, selamanya selalu kekurangan sembilan. Bayangkan, bukankah ini kebodohan? Bodoh karena tidak rela bersumbangsih. Jika memiliki sepuluh dolar, alangkah baiknya jika dapat merelakan satu dolar. Coba bayangkan, saat memiliki sepuluh dolar, kita menyumbangkan satu dolar. Saat memiliki seratus dolar, kita menyumbangkan sepuluh dolar. Jika memiliki seribu dolar, maka kita akan dapat menyumbangkan 100 dolar. Lebih baik lagi, saat memiliki sepuluh ribu, kita dapat menyumbangkan seribu. Jika dapat melakukan ini, maka termasuk baik. Jadi, kita harus menginspirasi hati orang. Meski sedikit demi sedikit, niat baik yang terhimpun dapat mewujudkan banyak hal bagi orang yang menderita di dunia. Janganlah meremehkan sedikit sumbangsih.Setetes sumbangsih juga dapat membawa manfaat besar dan mendukung pencapaian pelatihan diri. Kita juga hendaknya turut berbahagia atas kebajikan orang lain. Memahami bahwa Tzu Chi berbuat baik, kita bisa berniatmenyumbang seratus dolar setiap bulan. Begitu timbul pikiran, “Tzu Chi berbuat baik,” Begitu timbul pikiran, “Tzu Chi berbuat baik,” maka niat ini akan membangkitkan hati untuk merelakan dan melepas. Walaupun tidak banyak, tetapi niat baik itu sudah ada. Jika dapat berdana, maka akan lebih baik. Apa yang dapat dilakukan dengan kekayaan materi? Kita menggunakannya untuk diri sendiri. “Saya bisa banyak makan, membeli pakaian, dan sebagainya.

“Selain itu, masih banyak sisa. Jika memang berlebih, mengapa tidak membantu orang yang membutuhkan? mengapa tidak membantu orang yang membutuhkan? Jadi, manusia sering bersifat tamak dan kikir. Berapa banyak materi yang bisa kita kumpulkan? Saudara sekalian, insan Tzu Chi sering pergi  membantu lansia membersihkan rumah. Benar? Mereka tidak bisa merelakan barang, tidak rela melepaskannya, selalu membawa pulang barang, terus mengumpulkannya selama bertahun-tahun. Semuanya adalah barang yang tidak berharga. Semua adalah sampah. Bahkan sampah di dalam batin pun tidak rela dilepaskan. Bukankah manusia awam seperti itu? Begitu ketamakan timbul sesaat, manusia tidak akan rela melepaskan. Ini akan membawa sifat kikir. Jika para lansia tadi memiliki insan Tzu Chi yang membantu mereka,maka jika kita memiliki sampah di dalam batin, siapa yang dapat membantu kita membersihkannya? Jika terdapat sampah dalam batin kita, siapa yang dapat membantu kita membersihkannya? Siapa pun tidak dapat membantu kita. Jadi, kita harus membersihkannya sendiri. Jika tidak, sampah akan tetap menumpuk. Sesuatu yang tidak berharga akan terus tertumpuk. Tabiat buruk pun akan terus terpupuk. Begitu pula dalam pelatihan diri. Adakalanya kita tidak rela melepas. Salah satu contohnya, saya teringat sebuah kisah tentang seorang nenek yang memiliki toko. Ada orang yang membeli barang, tetapi nenek itu tidak bisa menghitung kembalian. Jika seseorang menanyakan harga satu kilo gula, dia menjawab, “Lima dolar.” “Eh bukan, 10 dolar.” “Eh bukan, 15 dolar.” Setelah pembeli itu membeli sekilo gula, dia membayar dengan uang 20 dolar. Seharusnya, berapa kembalinya? Nenek itu mengembalikan 50 dolar. Si pembeli berkata, “Nenek salah mengembalikan uang.” Nenek itu lalu mengembalikannya 100 dolar. “Lebih salah.” “Nenek salah.” “Mari saya beri tahu nenek.” “Saya memberi nenek 20 dolar, sedangkan harga sekilo gula adalah 15 dolar, maka nenek hanya perlu kembalikan 5 dolar.” Si pembeli sangat baik hati. Dia mengambil lima dolar dan mengembalikan 50 dolar itu. Dia juga menjelaskan bahwa dirinya membayar 20 dolar, maka hanya perlu kembali lima dolar. Hal seperti ini sering terjadi di toko itu setiap hari. sering terjadi di toko itu setiap hari.

Bahkan, ada juga orang yang senang jika si nenek salah mengembalikan uang yang senang jika si nenek salah mengembalikan uang dan pergi begitu saja sambil membawa barang. Suatu hari, teman lama si nenek yang merupakan pensiunan guru datang bertamu. Melihat si nenek sudah agak pikun, suatu hari temannya ini berkata kepadanya, suatu hari temannya ini berkata kepadanya, “Kamu tidak bisa berdagang seperti ini, lebih baik tutup saja.” “Kita orang tua sudah pikun, jangan berbisnis lagi.” “Jika terus seperti ini, kamu akan rugi.” Nenek bertanya, “Kenapa saya bisa rugi?” Temannya menjawab, “Karena kamu tidak bisa menghitung.” “Siapa bilang saya tidak bisa menghitung?” Temannya berkata, “Orang seperti kamu, setiap hari salah mengembalikan uang.” “Kamu akan rugi kalau seperti itu.” Nenek kemudian mengambil buku keuangan dan berkata, “Saya tidak hanya bisa menghitung, tetapi juga bisa mencatat.” “Coba kamu lihat buku ini.” Temannya melihat buku catatannya dan sama sekali tidak mengerti. Isinya hanya goresan-goresan angka satu. Buku itu dipenuhi dengan angka satu.

Ada yang ditulis di bagian atas, ada pula yang ditulis di bagian bawah. Semuanya adalah angka satu. Semuanya adalah angka satu.Buku itu pun telah berminyak dan lusuh. Dari halaman pertama sampai belakang semuanya adalah angka satu. Temannya bertanya kepada si nenek, “Saya sama sekali tidak paham.” Nenek berkata, “Bagaimana bisa tidak paham?” Saya sangat bisa menghitung dan mencatat. Kemarilah, saya akan beri tahu kamu. Jika saya senang, berarti saya telah untung. Temannya bertanya, “Kenapa kamu senang?” Nenek berkata, “Saya di sini melihat banyak orang yang dating memasuki toko saya dan membeli barang.” “Kadang kala, ketika mereka membayar 10 dolar, saya mengembalikan 50 dolar, ada orang yang mengembalikannya, lalu hanya mengambil lima dolar.” “Tahukah kamu, jika bertemu yang seperti itu saya sangat senang, lalu menulis angka satu di bagian atas.” “Seperti itulah.” “Kamu lihat, coba kamu bandingkan dengan yang di bawah, pengeluaran saya lebih banyak ataukah pemasukan lebih banyak?”

Apa yang dimaksud pengeluaran? Si nenek berkata, “Pengeluaran adalah ketika saya memberi kembalian lebih, mereka sangat senang, lalu pergi begitu saja.” “Ada pula orang yang mengambil rokok atau minuman soda tanpa membayar.” “Saya tidak senang dengan semua ini, maka saya menggambar angka satu di bawah.” “Coba kamu lihat dan bandingkan apakah pemasukan saya lebih banyak ataukah pengeluaran lebih banyak.” Pemasukannya ternyata lebih besar.

Setiap hari si nenek menerima banyak pemasukan. Bagian atas telah diisi penuh, sebaliknya bagian bawah masih kosong, hanya ada beberapa angka satu. Temannya berkata, “Rupanya begitu filosofi hidupmu.” Si nenek menjawab, “Ya, saya melihat semua orang di dunia sebagai orang baik dan berhati nurani.”

“Jika di dunia ini ada banyak orang baik, maka tidak akan ada ketamakan.” maka tidak akan ada ketamakan.” “Dengan begitu, dunia ini akan kaya.” “Karena itu, setiap hari saya merasa senang.” Saudara sekalian, begitu seharusnya filosofi kehidupan manusia. Bukan hanya kita sendiri yang perlu untuk tidak tamak, kita juga berharap orang lain tidak tamak. Bukan hanya diri sendiri yang perlu tekun, kita juga berharap orang lain tekun. Saudara sekalian, untuk memperindah ladang pelatihan, setiap orang harus tekun dan bersemangat. Jika berharap masyarakat harmonis, maka kita harus bebas dari ketamakan. Jadi, jangan ada ketamakan dan kekikiran dalam diri kita. Saudara sekalian, satu kata tamak bisa ada pada saat tidur hingga berbisnis. Benar, semua ini ada dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, kita harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

Juragan28