Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 226 – Sembilan Belenggu Bagian 8

Saudara se-Dharma sekalian, dalam kondisi yang hening, batin kita tentu merasa sangat damai. Dengan batin yang damai, barulah kita bisa mawas diri dan tulus. Jika batin damai, dengan sendirinya kita akan lebih waspada. Kita akan lebih sadar apakah batin kita terus mengembara ke arah kondisi luar. Jika timbul pikiran negatif, dapatkah kita menyesal dan bertobat? Untuk dapat membangkitkan pikiran seperti itu, dibutuhkan kewaspadaan diri. Sikap mawas diri harus dimulai dari kondisi batin yang hening. Kita harus selalu menjaga keheningan batin agar noda batin tidak mencemari batin kita. agar noda batin tidak mencemari batin kita. Inilah yang harus kita latih setiap saat. Sebelumnya kita terus membahas tentang “membuka pintu celah”. Artinya adalah pikiran yang penuh noda batin. Kita selalu membuka pintu celah batin kita dan membiarkan banyak noda batin masuk. Berhubung banyak noda di dalam batin kita, maka kita sering merasa risau dan tak dapat mengendalikan diri. Kita tak dapat menjaga kemurnian hati. Ini karena kita telah mengundang berbagai noda batin masuk. Akibatnya, perbuatan kita dalam keseharian banyak dipenuhi kesalahan. Ini yang disebut membuka pintu celah.

Dengan banyaknya noda batin, noda batin ini tidak hanya mengganggu diri sendiri, tetapi juga para orang bijak dan suci, bahkan semua makhluk di tiga alam. Yang paling menakutkan adalah terus terlahir di enam alam. Jadi, dikatakan, “Terus berada di enam alam, tiada tempat untuk bersembunyi.” Noda batin kita serta karma buruk kita memengaruhi segala aspek kehidupan kita. Kita terus terjebak di dalam enam alam. Jika menciptakan banyak berkah, kita bisa terlahir di alam dewa atau manusia. Ini bergantung pada berkah yang kita buat. Namun, meski kita menciptakan banyak berkah, meski terlahir sebagai dewa di alam surga, meski terlahir sebagai dewa di alam surga, kita masih bisa jatuh ke alam lain setelah berkah itu habis. Ini akibat noda batin yang tak kunjung berakhir. Kita mungkin hanya tahu menciptakan berkah, tetapi tidak mengerti untuk menyucikan batin. Insan Tzu Chi memiliki satu niat dan tekad, yaitu bersumbangsih tanpa pamrih. Ini bagaikan sebuah pintu yang mencegah kita membangkitkan ketamakan. Ada orang yang tamak akan berkah. Insan Tzu Chi bersumbangsih demi menciptakan berkah, tetapi tidak tamak. Ini disebut bersumbangsih tanpa pamrih. Bukan hanya tanpa pamrih, tetapi juga penuh rasa syukur, rasa hormat, dan cinta kasih. Semua ini adalah alat yang dapat mencegah timbulnya ketamakan. Jadi, saat berbuat baik, kita tidak boleh tamak. Untuk melakukan ini, sesungguhnya sulit bagi makhluk awam seperti kita. Hanya Bodhisattva yang mampu melakukannya. Jadi, yang diciptakan bukan hanya berkah untuk lahir di alam manusia atau dewa, tetapi melampaui itu semua.

Dalam melatih diri, kita harus berlatih untuk melampaui enam alam kelahiran kembali. Alam dewa masih termasuk dalam enam alam. Jadi, meski telah berbuat baik dan menciptakan banyak berkah, kita tetap belum akan bebas dari enam alam. Inilah yang disebut selamanya berada di enam alam. Begitu pintu noda batin terbuka, meski Anda berbuat baik, tetapi kebaikan Anda masih diliputi noda batin karena Anda masih tamak akan berkah. Jadi, enam alam kelahiran kembali adalah tempat yang penuh kejahatan. Jika kita memiliki pamrih saat bersumbangsih, maka saat keinginan tak tercapai, niat buruk bisa timbul. Ini sangat menakutkan. Jadi, di dalam enam alam, kesempatan berbuat jahat sangat banyak. Karena itu, dikatakan, “Tiada tempat untuk bersembunyi.” Selama kita tetap berada di enam alam, selama batin kita belum bebas dari noda, maka di enam alam ini tiada tempat bagi kita untuk bersembunyi. Di mana kita mau bersembunyi? Saat ini seharusnya kita bisa bersembunyi. Tadi saya mengatakan bahwa di dalam mazhab Tzu Chi, ada begitu banyak insan Tzu Chi yang bersumbangsih dengan tekad teguh dan tanpa pamrih. Inilah cara untuk menghindar dari enam alam. Jika sebaliknya, maka kita hanya menciptakan berkah, tetapi masih diliputi pikiran negatif, ketamakan, dan sikap perhitungan. Jadi, di dalam Syair Pertobatan Air Samadhi dikatakan bahwa kita harus selalu bertobat dengan hati yang paling tulus. Dengan hati yang tulus, kita berdoa dan membangkitkan tekad untuk selalu mawas diri. Jadi, dalam Syair Pertobatan Air Samadhi tertulis, “Hari ini berdoa dengan tulus.” Arti dari penggalan ini adalah setiap saat dan setiap waktu kita harus berintrospeksi apakah yang kita lakukan hari ini melukai orang lain, apakah kita mengacaukan batin orang lain, apakah yang kita lakukan mengandung pamrih, apakah ada ketamakan, dll. Jadi, setiap hari kita harus berintrospeksi, barulah kewaspadaan diri bisa terbentuk, barulah ketulusan bisa bangkit. Berintrospeksi berarti membangkitkan rasa malu dan bertobat. Kita memeriksa apakah diri kita merugikan orang lain atau keluar dari jalur yang seharusnya. Inilah rasa malu dan bertobat. Dengan sikap seperti ini, barulah kita dapat membangkitkan niat untuk berubah. Jika dapat berubah dan memperbaiki diri, barulah ketulusan dapat terbangun. Jika tidak, kita akan terus melanggar kebenaran. Kita mungkin terus mengatakan diri tulus, selalu berdoa dan bertobat, tetapi niat baik itu hanya sesaat dan cepat kita lupakan. Jadi, kita harus memperbaiki kesalahan masa lalu, baru bisa membangun kewaspadaan dan ketulusan untuk melindungi batin kita.

Dengan begitu, barulah dalam keseharian kita tidak akan mengalami kebocoran yang artinya sambil berbuat baik, tetapi noda batin terus bangkit. Inilah yang disebut kebocoran. Karena itu, ada istilah “gali lubang tutup lubang”. Apakah Anda sudah berbuat baik? Sudah, tetapi gali lubang tutup lubang. Artinya, setelah berbuat baik sedikit, noda batin juga bertambah sedikit. Dengan begitu, perbuatan baik berkurang, sedangkan noda batin malah bertambah. Jadi, ini bagaikan gali lubang tutup lubang. Meski kita menciptakan berkah, tetapi berkah kita juga bocor kembali. Jadi, saat berbuat baik, jika timbul ketamakan atau noda batin, kita tetap tak akan bebas dari enam alam. Di enam alam, kita bergantung pada berkah. Jika berkah untuk menjadi dewa atau manusia habis, kita bisa jatuh ke alam-alam lainnya. Jatuh ke mana? Ke alam asura, alam neraka, alam setan kelaparan, atau alam binatang. Kita terus berputar-putar di dalam beberapa alam ini tanpa henti dan mengalami penderitaan tak terkira. Karena itu, kita harus mawas diri dan selalu mengingatkan diri sendiri. Dengan memiliki rasa malu dan rasa bertobat, barulah dalam kehidupan sehari-hari kita dapat selalu meningkatkan kewaspadaan. Dengan begitu, barulah kita memiliki ketulusan. Baik terhadap orang maupun masalah, kita tidak boleh kehilangan kewaspadaan dan ketulusan. Dengan demikian, barulah kita bisa membangkitkan rasa malu dan bertobat memiliki rasa malu dan bertobat di hadapan Buddha, Dharma, dan para suciwan di sepuluh penjuru. Jika tidak, sambil menciptakan berkah, kita juga menambah noda batin. Jadi, harap semua menjaga pikiran dengan baik. Membangkitkan pikiran negatif sangat mudah. Pada zaman Buddha juga ada sebuah kisah. Saat itu ada orang yang bertekad untuk melatih diri, maka meninggalkan rumah dan pergi ke hutan. Dia tekun dan tulus berlatih selama tujuh tahun. Dari luar dia terlihat sangat tulus. Namun, di dalam hati, dia tidak dapat tenang. Tujuh tahun pun berlalu, tetapi sedikit pun dia tidak tercerahkan. Dia sama sekali tidak dapat merealisasi kesucian yang dibabarkan Buddha. Pikirannya masih terus bergejolak. Pada saat itu, ada sekelompok pedagang yang akan berdagang ke luar negeri.

Pada zaman itu, di India, setiap kota merupakan negeri tersendiri. Jadi, semuanya berstatus negeri. Artinya, mereka meninggalkan kampung halaman untuk berdagang di kota lain. Mereka menghasilkan banyak uang. Dalam perjalanan pulang, pemimpin rombongan ini sakit dan meninggal. Berhubung pemimpinnya sudah meninggal, maka sekelompok pedagang ini berpikir bagaimana melanjutkan perjalanan dengan banyak bawaan. Saat itu tiada yang mengenal jalan. Mereka harus melewati banyak gunung dan hutan. Meski mereka berkelompok, Meski mereka berkelompok, tetapi masih bisa tersesat. Mereka berjalan semakin jauh. Persediaan makanan mereka terbatas. Jadi, dalam perjalanan, mereka mulai kekurangan makanan. Tenaga mereka pun semakin terkuras. Satu per satu dari mereka tak mampu lagi bertahan. Akhirnya, harta mereka tetap ada, tetapi mereka semua meninggal. Pada saat itu, petapa tadi kebetulan keluar dari hutan. petapa tadi kebetulan keluar dari hutan. Dia bertanya-tanya mengapa bisa ada begitu banyak permata dan harta yang diangkut oleh banyak kereta. Namun, dia juga melihat banyak orang mati kelaparan di sana. Jadi, di sana dia berpikir, Jadi, di sana dia berpikir, “Dalam hidup ini saya bertekad melatih diri dan hidup berdiam di dalam hutan.” “Waktu tujuh tahun telah terbuang sia-sia tanpa mendapat hasil apa-apa.” Berhubung tidak berhasil melatih diri, maka saat melihat banyak permata, ketamakannya pun bangkit. “Berhubung tidak berhasil melatih diri, lebih baik saya ambil semua harta ini agar saya bisa hidup nikmat di masyarakat.” Setelah membuat keputusan, dia segera mengambil barang-barang itu dan segera mencari tempat terpencil untuk mengubur semuanya. Kemudian, dia bersiap meninggalkan hutan dan kembali ke rumah lamanya untuk meminta saudaranya membantu mengangkut permata-permata itu. Dia berencana untuk membuka usaha dan menikmati keduniawian. Setelah memutuskan ide ini, dia meninggalkan tempatnya melatih diri. Saat itu, Buddha mengetahui hal ini. Buddha sangat menyayangkan keputusan petapa ini. Mulanya, saat memutuskan untuk melatih diri, tekad petapa ini sangat teguh. Dia telah berlatih selama tujuh tahun. Kini, dia ingin mundur karena ketamakan sesaat. Buddha merasa iba dan tak sampai hati jika petapa ini kehilangan tekadnya. Jadi, Buddha menjelma menjadi seorang bhiksuni yang mengenakan jubah dan berpenampilan layaknya petapa, tetapi memakai riasan wajah dan anting-anting, lalu berjalan-jalan dengan santai.

Bhiksuni ini lalu bertemu dengan petapa tadi. Petapa itu melihat si bhiksuni berpenampilan tidak layak, lalu membuka mulut dan memakinya, “Bukankah kamu telah bertekad untuk melatih diri?” “Berhubung telah mencukur rambut, lalu mengapa kamu masih memakai riasan?” “Ini tidak patut bagi seorang petapa.” Petapa itu terus memaki. Bhiksuni ini lalu menjawab, “Saya memang tidak terlihat layaknya bhiksuni, tetapi kamu adalah bhiksu.” “Kamu telah bertekad melatih diri, tetapi dalam batinmu ada ketamakan yang tak berwujud dan tak terlihat oleh orang lain.” “Kalau begitu, bukankah batinmu dan penampilanku sama tidak layaknya?” “Penampilanku hanyalah wujud luar, sedangkan batinmu tidak terlihat.” “Penampilanmu bagai seorang bhiksu.” “Kamu pernah bertekad untuk berlatih.” “Lalu dengan batin seperti itu, apakah kamu dapat disebut benar?” Petapa ini terkejut. Buddha pun menunjukkan wujud asli-Nya dan berkata kepada petapa ini, “Sebagai petapa, seseorang harus mawas diri dalam sila.” “Tidak boleh lengah sedikit pun.” “Saat pikiran sembrono muncul, engkau akan menciptakan banyak ketidakpastian dan kerisauan.” Begitu pikiran Anda lengah sedikit, Begitu pikiran Anda lengah sedikit, Anda akan berubah ke arah bencana yang penuh ketidakpastian. ke arah bencana yang penuh ketidakpastian. Jadi, pikiran tidak boleh bergejolak Gejolak pikiran menandakan ketidakmurnian. Petapa ini berdialog dengan pikirannya sendiri. Di satu sisi, dia ingin melatih diri, tetapi di sisi lain, dia tidak memperoleh keberhasilan, sehingga berpikir untuk kembali pada keduniawian. Pergumulan terjadi di dalam batinnya. Jadi, terjadi dialog dalam batinnya. Begitu gejolak kecil terjadi dalam batin, banyak keburukan akan terakumulasi. Keburukan atau kejahatan ini bisa menjadi besar. Karena itu, jangan sampai timbul gejolak negatif dalam batin. Saat pemikiran menyimpang timbul, kejahatan yang ditimbulkan bisa sangat besar, bagai api yang bisa membakar hutan pahala.

Jadi, begitulah Buddha memberitahunya. Kemudian, Buddha berkata, “Memegang sila membawa berkah dan kebahagiaan.” Jika kita bisa berpegang pada sila setiap hari dan melatih diri sesuai jalan yang diajarkan, maka saat berada dalam kondisi yang hening, batin juga akan ikut hening. “Memegang sila membawa berkah dan kebahagiaan.” “Asalkan sungguh-sungguh berpegang pada sila, Anda akan dipenuhi berkah dan dipenuhi sukacita dalam Dharma setiap hari.” “Jika engkau melanggar sila, maka meski memiliki permata yang telah engkau kubur tanpa seorang pun yang tahu, tetapi kelak setelah menikmati semua permata itu, pikiranmu tetap tidak akan tenang selamanya.” Jadi, melanggar sila akan membawa ketakutan. “Jika engkau melanggar sila, ketakutan selamanya akan menyertaimu.” Jadi, kita melatih diri, hendaknya memutus kebocoran dan noda batin tiga alam. Kita tidak boleh memiliki nafsu dari alam nafsu, juga tidak boleh terbuai rupa, apalagi terjerat noda batin yang tak berwujud. apalagi terjerat noda batin yang tak berwujud. Konflik atau gejolak dalam batin tidak boleh ada. Dengan begitu, barulah kita bisa memperoleh sukacita selamanya. Inilah sukacita dalam Dharma. Inilah yang disebut memegang sila membawa berkah dan kebahagiaan. Kita yang dapat berpegang pada sila, dengan sendirinya akan memperoleh berkah kedamaian. Meski hidup kita terlihat sederhana dan sulit, tetapi batin kita sangat kaya. Melihat Buddha ada di hadapannya dan membabarkan Dharma baginya, petapa ini merasa malu dan bertobat di hadapan Buddha, lalu masuk ke dalam persamuhan Sangha. Inilah sikap petapa yang seharusnya. Dengan welas asih-Nya, Buddha muncul membabarkan Dharma. Keburukan yang berwujud dapat dilihat dan diingatkan oleh orang lain, seperti bhiksuni penjelmaan Buddha tadi. Bhiksuni harus mencukur rambut Bhiksuni harus mencukur rambut dan mengenakan jubah Dharma. Bhiksuni harus berpenampilan baik di luar dan memiliki batin yang tanpa noda. Inilah bhiksuni yang sesungguhnya.

Namun, bhiksuni tadi berbeda. Dia memang telah mencukur rambut dan mengenakan jubah Dharma, tetapi masih memakai riasan. Apakah ini sesuai dengan pedoman yang ada? Tentu tidak. Petapa yang sudah berlatih selama 7 tahun tadi langsung mengingatkan saat melihatnya. Ini menunjukkan bahwa petapa itu masih memiliki tekad pelatihan, hanya saja tekad itu tidak teguh. Jika tekad itu teguh, maka dia tidak akan tamak saat melihat harta dan tidak akan melakukan kesalahan. Intinya, pikiran kita yang tak berwujud ini harus sungguh-sungguh kita jaga. Beruntung Buddha memahami pikiran dan iba terhadap makhluk yang tidak teguh, lalu muncul memberi ajaran atas dasar welas asih, barulah petapa tadi bisa tertolong. Saudara sekalian, di mana Buddha saat ini? Buddha adalah Yang Mahasadar di alam semesta, juga merupakan hakikat kesadaran di dalam batin kita. juga merupakan hakikat kesadaran di dalam batin kita. juga merupakan hakikat kesadaran di dalam batin kita. Jadi, “Tathagata yang terbelenggu” masih tersimpan di balik noda batin kita. Ia adalah hakikat kesadaran yang cemerlang. Jadi, ini bergantung pada diri kita sendiri. Semoga hakikat kebuddhaan di dalam hati kita selalu muncul untuk mengingatkan kita, baik terhadap kesalahan yang berwujud maupun gejolak pikiran yang tak berwujud. Hakikat kesadaran kitayang sejati ini hendaknya dapat selalu mengingatkan kita. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

Juragan28