Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 233 – Sebelas Kecenderungan Umum Bagian 01

Saudara se-Dharma sekalian, saya yakin di dalam hati kita semua terdapat Dharma, terutama bagi kita yang selalu hidup bermandikan Dharma. Dharma bagaikan air. Air dapat membentuk segala sesuatu dan membersihkan segala jenis kotoran. Kehidupan di dunia ini tidak bisa kekurangan air. Batin manusia juga perlu dibersihkan dengan air Dharma. Kita sering mengulas tentang pikiran. Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu. Saat pikiran tercemar, maka semua segala sesuatu akan kehilangan arah. Jika hati bisa jernih dan setiap orang bisa kembali pada sifat hakiki, maka kebenaran yang diajarkan oleh Buddha akan selalu muncul dalam keseharian kita

 Jadi, untuk menjaga kemurnian hati, kita membutuhkan air Dharma. Saat pikiran ternodai, kita juga perlu membersihkannya dengan air Dharma. Sebelumnya kita sudah mengulas tentang Sepuluh Ikatan. Ada 10 jenis hal duniawi yang bisa mengikat hati kita sehingga kita menjadi penuh kerisauan. Ia seperti tali yang mengikat kita hingga kita sulit melepaskan diri. Mengapa ada banyak orang yang tidak bisa berpikiran terbuka dan menjalani kehidupan sehari-hari dalam ketersesatan? Itu karena adanya Sepuluh Ikatan yang membelenggu dan menutupi hakikat murni kita. Hal itu mengakibatkan kondisi batin kita menjadi gelap dan membuat kita sulit melepaskan diri. Sebelumnya kita sudah menghabiskan beberapa waktu untuk mengulas tentang Sepuluh Ikatan. Kini marilah kita mendengar tentang Sebelas Kecenderungan Umum, yaitu noda batin di dalam hati kita. Saat bertemu dengan orang atau menangani suatu masalah, ada 11 jenis noda batin yang sering muncul dalam keseharian kita. Ia terus mengikuti kehidupan kita dan muncul saat manusia merasa risau tentang memperoleh dan kehilangan. Inilah yang disebut umum. Inilah Sebelas Kecenderungan Umum

 Inilah Sebelas Kecenderungan Umum. Sebelas Kecenderungan Umum ini membuat pikiran kita risau akibat kondisi luar, konflik antarmanusia, dan perkara tentang mendapat dan kehilangan. Sebelas Kecenderungan Umum ini bisa memicu kita melakukan banyak perbuatan buruk. Manusia menciptakan karma buruk dalam kehidupan sehari-hari. Setiap ucapan, pikiran, dan tindakan kita, semuanya dipengaruhi oleh Sebelas Kecenderungan Umum itu. Semua perbuatan kita akan menghasilkan buah karma. Jadi, kita harus sangat memperhatikan Sebelas Kecenderungan Umum di dalam hati yang akan membuat kita menciptakan karma buruk. Jadi, kita harus sangat berhati-hati. Sebelas Kecenderungan Umum ini terdiri atas tujuh pandangan, dua keraguan, dan dua kegelapan batin. Gabungan dari semua itu disebut Sebelah Kecenderungan Umum

 Kini kita akan mendalami dengan bersungguh hati tentang apa yang disebut dengan tujuh pandangan. Tujuh pandangan meliputi pandangan salah, pandangan keakuan, eternalisme, nihilisme, kemelekatan pada sila, pandangan salah tentang sebab dan buah, serta pandangan keraguan. Ini yang disebut pandangan. Kondisi luar bisa membangkitkan kegelapan batin yang akan segera kita wujudkan lewat tindakan. Ia akan memengaruhi kita tanpa bisa kita kendalikan. Sekarang kita akan mempelajari apa yang disebut pandangan salah. Pandangan salah berarti tidak memiliki keyakinan benar. Jika tidak memiliki keyakinan benar, maka langkah kita akan menyimpang. Tanpa keyakinan benar, kita akan mudah memfitnah ajaran benar. Segala sesuatu di dunia tak terlepas dari salah dan benar

 Saat memiliki pandangan salah, berarti kita tak memiliki keyakinan benar. Saat memiliki keyakinan benar, berarti kita jauh dari pandangan salah. Pandangan salah membuat kita hidup dalam ketersesatan dan diliputi banyak noda batin. Karena itu, kita sungguh harus memiliki keyakinan. Kita harus memiliki keyakinan yang benar. Bukankah sejak dahulu kita sering berkata bahwa keyakinan adalah ibu dari segala pahala yang menumbuhkan segala akar kebajikan? Akar kebajikan kita harus didasari keyakinan benar. Pandangan salah timbul karena keyakinan tidak benar. Keyakinan tidak benar bisa membuat kita memfitnah ajaran benar. Ini adalah hal yang sudah pasti. Karena itu, kita harus menjaga pikiran dengan baik

 Jangan sampai timbul keyakinan salah. Jadi, kita harus memiliki pandangan benar, keyakinan benar, dan meyakini ajaran benar. Jika tidak memiliki keyakinan benar, kita tak akan yakin pada karma baik dan buruk. Kita akan berpikir bahwa kebaikan belum tentu mendatangkan berkah dan kejahatan belum tentu mendatangkan buah karma buruk. Ini sangat berbahaya. Kita jangan tidak meyakini hukum sebab akibat. Kita jangan tidak meyakini hukum sebab akibat. Kita harus percaya bahwa kebaikan mendatangkan berkah dan kejahatan mendatangkan buah karma buruk. Janganlah kita menyangkal hukum sebab akibat. Janganlah kita menyangkal hukum sebab akibat. Dalam mendalami ajaran Buddha, kita harus yakin pada hukum sebab akibat

 Dengan demikian, barulah dalam kehidupan sehari-hari, setiap perilaku kita tidak menyimpang. Jadi, kita semua harus sangat bersungguh hati. Yang kedua adalah pandangan keakuan. Setiap orang memiliki keakuan. Mereka hanya percaya pada “aku”. “Saya tidak percaya pada orang lain.” “Saya hanya percaya pada diri sendiri.” “Yang saya pikirkan pasti benar.” “Yang saya lakukan pasti benar.” Ini juga merupakan salah satu jenis pandangan salah. Orang seperti ini hanya percaya pada diri sendiri

 Pandangan keakuan mudah membuat orang membangkitkan kesombongan. Kita hendaknya memahami apa yang dimaksud dengan “aku”. Sesungguhnya, Buddha mengajarkan kepada kita bahwa di dalam diri kita tidak ada “aku”. Bukankah saya sering berkata bahwa tubuh ini bagaikan sebuah pohon pisang yang setelah dikupas selapis demi selapis, ia menjadi habis tak bersisa? Sama halnya, seiring berlalunya hari demi hari, dari usia muda, kita menjadi paruh baya, hingga berusia lanjut. Setelah berusia lanjut, lalu bagaimana? Sesungguhnya, tubuh kita ini adalah perpaduan lima agregat, yakni rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat rupa dalam segala sesuatu atau tubuh kita sendiri. Akibat adanya rupa yang mengalami kontak dengan kita setiap hari, maka perasaan kita pun bereaksi sehingga timbullah banyak noda batin. Noda batin mengakibatkan kita menciptakan banyak karma buruk. Rupa dan perasaan membentuk persepsi dan dorongan untuk bertindak sehingga menanam benih karma di dalam kesadaran. Segala sesuatu tidak dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti. Jadi, sesungguhnya di mana “aku” berada? Tanpa siraman air Dharma, Tanpa siraman air Dharma, kita tidak bisa memahami kebenaran ini

 Pandangan keakuan bisa merintangi kita untuk mendalami ajaran Buddha, memiliki pandangan benar, dan keyakinan benar. Karena itu, janganlah kita bersikap sombong dan memiliki pandangan keakuan. Pandangan keakuan bisa membuat kita menjadi malas. Sifat malas membuat kita tidak tekun dan bersemangat. Karena tidak memahami ajaran benar, kita tidak tahu tentang kekuatan karma. Kita tidak dapat memahaminya. Karena itu, ada orang yang sepanjang hari bermabuk-mabukan dan mengejar kenikmatan. Inilah sikap bermalas-malasan. Mereka tidak tahu melakukan kebajikan. Mereka hanya selalu hidup dalam ketersesatan. Di Tiongkok ada sebuah kisah seperti ini

 Sebuah stasiun televisi di Hunan menayangkan sebuah kisah yang sangat menarik. Dahulu ada sebuah film berjudul “Pengemis dan Pangeran”. Kita bisa melihat di masyarakat sekarang ini, ada anak yang hidup sangat berkecukupan. Orang tua mereka membiarkan mereka menikmati hidup. Mereka tidak tahu penderitaan di dunia ini. Ada pula anak yang hidup di pedesaan dan sangat kekurangan. Mereka tak tahu kehidupan masyarakat masa kini sangat makmur. Karena itu, stasiun televisi itu mengadakan sebuah acara pertukaran tempat tinggal anak kurang mampu dan anak berada. Mereka lalu memilih dua anak remaja

 Satu di antaranya adalah orang berada dan yang lainnya hidup kurang mampu. Di dalam program televisi itu, kedua anak itu bertukar tempat tinggal selama 7 hari. Anak muda dari Changsha, Hunan yang berasal dari keluarga yang sangat berada pergi ke Qinghai. Mayoritas warga di Qinghai hidup kurang mampu. Mayoritas warga di Qinghai hidup kurang mampu. Jadi, dia pergi ke Qinghai untuk melihat bagaimana kehidupan orang lain. Bagaimana kehidupan warga di dataran tinggi? Yang pertama adalah kekurangan air. Anak muda yang pergi ke Qinghai itu tetap harus pergi menimba air. Aktivitas turun gunung dan mendaki gunung sungguh sulit. Selama masa itu, dia juga harus berinteraksi dengan kedua orang tua si anak kurang mampu. Dia menyadari kehidupan orang tua itu sangat sulit. Meski demikian, sang ayah tetap bersikeras untuk menyekolahkan anaknya

 Sang ayah adalah seorang tunanetra, sedangkan sang ibu menderita keterbelakangan mental. Selain hidup serba kekurangan, kedua orang tua itu juga menderita penyakit. Bagaimana cara mereka menafkahi anak mereka? Setelah tiba di sana, anak itu hidup bersama mereka. Anak itu berkata bahwa dia tidak pernah melihat Sungai Kuning. Meski hidup serba kekurangan, sang ayah tetap berusaha mengumpulkan uang demi memenuhi harapan anak tersebut untuk melihat Sungai Kuning. Kisah ini sungguh membuat orang tersentuh. Meski kehidupan mereka serba sulit, tetapi mereka rela mengorbankan diri demi anak itu. Mereka rela hidup menderita sendiri, tetapi enggan membiarkan anak mereka menderita. Karena itu, anak itu merasa sangat terharu. Saat hari ketujuh tiba, anak itu bersujud kepada kedua orang tua itu untuk memberi hormat. untuk memberi hormat. Dia merasa kedua orang tua itu sungguh mulia. Mereka begitu bersusah payah demi membesarkan anak mereka

 Mereka sungguh harus bekerja keras. Dia lalu teringat pada dirinya sendiri. Saat duduk di bangku sekolah menengah, dia sangat tidak disiplin. Setiap hari, dia berada di warung internet karena terbuai oleh permainan. Dia juga sering membangkang pada orang tuanya. Dia juga sering membangkang pada orang tuanya. Orang tuanya sangat mengkhawatirkannya. Mereka juga sangat memperhatikannya dan juga selalu menasihatinya. Namun, dia malah marah kepada orang tuanya. Dia tidak suka belajar

 Karena tidak suka belajar, dia pun putus sekolah. Demikianlah dia menjalani hidup tanpa arah. Demikianlah dia menjalani hidup tanpa arah. Setelah hidup di keluarga yang serba minim, dia baru menyadari bahwa ada banyak orang yang hidup menderita. Mereka bahkan sulit untuk memperoleh air. Lingkungan hidup mereka begitu sederhana dan bobrok. Yang terpenting adalah dia merasakan cinta kasih dan harapan orang tua terhadap anaknya. Meski hidup kekurangan, mereka tetap ingin menyekolahkan anak mereka agar anak mereka bisa berpandangan terbuka dan melihat dunia luar. Karena itu, dia mulai memahami harapan orang tua terhadapnya. Mereka begitu berada, kelak siapa yang akan meneruskan bisnis keluarga? Pastilah dirinya. Dia harus belajar dengan baik dan menjadi orang yang berguna

 Dengan begitu, barulah kelak dia bisa meneruskan bisnis keluarganya. Dia telah memahaminya. Saat akan meninggalkan tempat itu, dia bersujud kepada orang tua kurang mampu itu untuk mengucapkan terima kasih. Begitu pula dengan anak dari keluarga kurang mampu itu. Selama beberapa hari itu, dia tinggal di dalam keluarga yang berada. Dia naik pesawat kelas satu, menumpang kereta api kelas satu, dan menggunakan ponsel yang paling canggih. Ponsel itu bisa digunakan untuk menelepon dan menonton televisi. Dia bisa memperoleh minuman dan makanan dengan sangat mudah. Dia menjalani kehidupan yang sangat makmur. Karena itu, dia mulai berpikir, “Saya harus belajar dengan giat.” “Dengan belajar dengan giat, barulah suatu hari nanti, saya bisa memiliki kehidupan seperti ini.” Setelah anak dari keluarga berada kembali, dia mengabarkan bahwa ayah si anak dari Qinghai terjatuh. Anak dari Qinghai ini merasa sangat khawatir. Dia tahu bahwa ayahnya sangat menyayanginya. Meski hidup serba minim, tetapi sang ayah sangat berharap anaknya bisa giat belajar

 Daya penglihatan sang ayah tidak baik dan ibunya mengalami keterbelakangan mental. Saat mendengar ayahnya terjatuh, dia segera pulang untuk menjaga orang tuanya. Dia juga bertekad untuk giat belajar. Lihat, inilah pendidikan yang baik dan merupakan perencanaan yang sangat baik. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus senantiasa melampaui tataran manusia awam. melampaui tataran manusia awam. Kondisi di depan mata mungkin membawa banyak penderitaan bagi kita. Itu karena kita menjalani hidup dengan pikiran manusia awam. Bukankah tujuan kita mempelajari ajaran Buddha adalah demi melepaskan keduniawian? Untuk melepaskan diri dari keduniawian, kondisi batin kita harus bisa melampaui segala yang membelenggu kita. Kita harus bisa melampaui kondisi masyarakat yang penuh kekacauan ini

 Kita harus melampaui noda batin manusia dan kerisauan akan memperoleh dan kehilangan. Bukankah saya sering berkata bahwa kita harus menjadikan masalah sebagai pelajaran? Melihat kondisi masyarakat masa kini, kita harus lebih bersungguh hati dan giat. Kita harus tahu menenangkan hati sendiri, baru bisa menenangkan hati orang di sekitar kita. Jadi, selain mendidik masyarakat Taiwan, kita harus memandang lebih jauh. Pada zaman yang sama ini, di tempat yang berbeda, contohnya di Tiongkok, terdapat kesenjangan sosial yang besar. Gaya hidup anak berada dan kurang mampu memiliki perbedaan yang besar. Memberi kesempatan kepada mereka untuk berinteraksi dan bertukar tempat tinggal sementara, itulah yang disebut dengan melampaui. Anak dari keluarga berada mencoba menetap di rumah keluarga kurang mampu, sebaliknya anak dari keluarga kurang mampu mencoba menetap di rumah keluarga berada. Ini adalah pendidikan jangka pendek. Jika anak dari keluarga kurang mampu menetap di keluarga berada dan mulai terbuai oleh kenikmatan duniawi, maka entah apa yang harus dilakukan

 Intinya, segala sesuatu di masyarakat adalah pendidikan bagi kita. Saudara sekalian, ingatlah bahwa Dharma bagaikan air. Air dapat membersihkan segala sesuatu di alam semesta. Air Dharma dapat membersihkan batin dan menumbuhkan kebijaksanaan kita. Karena itu, kita harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment