Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 232 – Sepuluh Ikatan Bagian 05

Saudara se-Dharma sekalian, di dalam kehidupan organisasi, kita harus memiliki kedisiplinan. Ketika mendengar suara ketukan kayu, kita harus segera bangun, bersiap menuju aula, dan berbaris dalam kelompok dengan rapi. Ini menunjukkan rasa hormat terhadap ajaran. Mempelajari Buddha adalah demi kedisiplinan dalam hidup. Pola dan aturan hidup harus rapi. Jadi, kita harus memiliki peraturan hidup di vihara. Selain itu, dalam kegiatan kamp, saat jam masuk dan pulang sekolah, dll. pasti ada penanda waktu, seperti kita yang menggunakan ketukan kayu. Penyalaan dupa dan pelita juga harus tepat waktu. Atau, ketika mengadakan kamp, kita hendaknya memanfaatkan waktu dengan baik. Ketika lonceng di kampus berbunyi dan sudah tiba saatnya untuk masuk kelas, kita juga harus tepat waktu. Pola hidup yang tepat waktu mengikuti jadwal yang telah dibuat dengan baik. Begitulah kehidupan dalam organisasi. Bukan hanya di dalam organisasi atau di dalam kelompok, kehidupan kita pribadi pun harus memiliki aturan. Kita juga harus tepat waktu dalam beraktivitas. Ini juga merupakan aturan sebagai manusia.

Namun, ada orang yang tidak mematuhi aturan. Pola hidupnya kacau. Jika ada satu orang seperti ini dalam organisasi, maka seluruh organisasi akan terpengaruh. Orang seperti ini akan membangkitkan kebencian orang lain. akan membangkitkan kebencian orang lain. Sesungguhnya, ini tak hanya terjadi pada saat ini. Ketika Buddha masih hidup, para anggota Sangha juga harus mengikuti aturan yang sangat rapi. Mereka juga mirip seperti kita, yakni harus menyalakan dupa dan pelita, dan ketika waktunya tiba, mereka mulai memanggil. Mereka memanggil untuk membangunkan semua orang. Mereka melakukannya secara bergiliran. Di antara mereka,ada seorang bhiksu yang baru bergabung dan bertekad mengikuti Buddha. Tidak lama kemudian, dia mendapat giliran untuk memanggil agar setiap orang tahu bahwa waktu untuk bangun telah tiba. Karena setiap orang harus melatih diri, maka ada aturan kehidupan untuk pagi, siang, sore, dan terutama pada malam hari. Apa yang Buddha ajarkan hari itu, semua orang harus mengulangnya. Berhubung saat Buddha berada di dunia, tidak ada lampu seperti sekarang dan setiap orang memiliki pena dan kertas. Tidak ada.

Jadi, saat itu semuanya bergantung pada ingatan. Apa yang Buddha babarkan kepada mereka pada pagi dan siang hari pada pagi dan siang hari harus mereka ulang pada malam hari. harus mereka ulang pada malam hari. Mereka harus bersungguh hati mengulangnya agar dapat mengingat ajaran Buddha. Namun, pada awal, tengah, dan larut malam, ada murid yang lebih tekun belajar hingga larut malam menjelang subuh. Jika menggunakan waktu sekarang, kira-kira pada pukul 11 sampai 2 pagi, mereka baru pergi tidur. Saat awal malam, mungkin orang yang bertugas sudah memanggil sehingga orang yang hendak tidur sudah terbangun karena panggilannya dan kembali mulai mengulang ajaran. Ini karena waktu yang tidak tepat karena pada saat itu tidak ada jam.

Semua bergantung pada matahari. Saat langit belum terang, matahari tidak terlihat, maka mereka harus bergantung pada perasaan. Jadi, saat giliran bhiksu ini membangunkan yang lainnya, dia tidak bisa merasakan pukul berapa saat itu, haruskah dia membangunkan yang lainnya? Dia tidak bisa merasakannya. Jadi, begitu dia bangun, tidak peduli apakah masih malam atau sudah pagi, dia mulai memanggil sehingga mengacaukan kelompok Sangha. Waktu istirahat telah dikacaukan olehnya. Pada siang harinya, ketika Buddha membabarkan Sutra, banyak orang yang mengantuk. Suatu ketika, pada pagi hari, saat semua orang sudah merasa lelah, hati mereka diliputi kemarahan. hati mereka diliputi kemarahan. Semua orang berkumpul untuk berdiskusi. Buddha pun menghampiri dan bertanya, “Apa yang tengah kalian diskusikan sehingga semuanya berkumpul seperti ini?” “Sesungguhnya, apa yang terjadi?” Para bhiksu melaporkan bhiksu baru tadi kepada Buddha.

Mereka melaporkan bahwa bhiksu baru itu telah mengacaukan waktu aktivitas dan istirahat mereka sehingga mereka tidak bersemangat mendengarkan Dharma. Buddha lalu mendekat dan duduk di antara mereka sambil tersenyum. Para bhiksu segera mengelilingi Buddha untuk mendengarkan cerita tentang jalinan jodoh bhiksu ini. Buddha mulai bercerita.  Pada zaman dahulu, ada sekelompok praktisi yang menganut ajaran Brahmana. Guru ajaran Brahmana pada saat itu memiliki reputasi yang sangat tinggi. Semua orang tahu guru yang baik ini, bahkan orang-orang dari daerah yang jauh pun mengirimkan anaknya untuk belajar. Muridnya berjumlah 500 orang. Mereka juga memiliki aturan kehidupan. Saat itu, bagaimana cara mereka  mengetahui bahwa tiba saatnya untuk bangun dan beraktivitas? Mereka memelihara seekor ayam. Ayam jantan itu bisa berkokok tepat waktu. Jadi, semua orang mengikuti tanda dari ayam ini. Saat ia berkokok, semua orang mulai bangun untuk memulai aktivitas. Selama bertahun-tahun, mereka mengandalkan ayam ini.

Namun, suatu hari, ayam ini tiba-tiba mati. Apa yang harus mereka lakukan? Semua orang terlihat bingung. Sekali tidur, mereka tidak tahu kapan harus bangun. Saat mau bangun, mereka juga tidak tahu waktu. Jadi, mereka mencari pengganti ayam itu. Kebetulan, ada seorang murid yang ingin memahami kelahiran dan kematian. Dia pergi ke kuburan untuk memahami keadaan dan keberadaan orang yang sudah meninggal. Di pemakaman, dia melihat seekor ayam jantan yang berlari-lari. Kemudian, dia menangkap ayam jantan tersebut dengan jarring dan mengurungnya di dalam kandang ayam. Dia berharap ayam ini dapat berkokok di pagi hari. Namun, karena ayam ini dikurung di dalam kandang, ia tidak mengetahui waktu. Kapan saja ia ingin berkokok, ia akan berkokok, tak peduli pada siang hari, malam hari, atau pagi hari. Saat waktunya berkokok, ia tidak berkokok. Saat bukan waktunya berkokok, ia malah berkokok. Selama itu, ayam ini telah mengacaukan para petapa hingga pada suatu saat semua orang sudah tidak tahan lagi dan tidak memiliki semangat pada siang hari. Kemudian, suatu hari, ia kembali berkokok. Seseorang di antara para petapa itu membuka kandang ayam, mengambil ayam tersebut, lalu mencekik lehernya hingga mati. Pada saat itu, sang guru keluar dan bertanya, “Ada apa ribut-ribut?” Mereka menjelaskan, “Ayam ini berkokok tidak pada waktunya sehingga pikiran kami tidak dapat tenang.” “Kami tidak tahu kapan harus bangun dan kapan harus beristirahat, sehingga mengantuk saat belajar, menderita sekali.”

Jadi, ayam itu telah dicekik oleh seseorang di sana hingga mati. Sang guru berdiri di samping ayam itu. Dia menggeleng dan menghela napas, lalu berkata kepada murid-muridnya, “Kalian seharusnya tahu bahwa ayam ini besar di pemakaman dan tidak pernah diajari.” “Ia adalah hewan liar yang tinggal di pemakaman dan tak ada yang pernah mengajarinya.” “Tidak disangka, ia mengacaukan waktu kalian di sini.” “Ia sendiri tidak tahu mengapa ia dibunuh.” “Tak ada yang penah mengajarinya.” Berbicara sampai sini, sang guru melihat ayam tersebut dan menyayangkan bahwa manusia tidak bisa menumbuhkan kesabaran dan meredam amarah. Tanpa kebencian, tidak akan timbul niat membunuh. Ketika tangan mencekik leher ayam, sesuatu akan terasa mengganjal di dalam hati. Setelah bercerita sampai di sini, Buddha berkata kepada para bhiksu, “Ketahuilah, bhiksu yang baru bergabung, belum pernah menerima pendidikan vihara, dan tidak memahami aturan ini sesungguhnya adalah ayam itu.” “Ia tinggal di pemakaman dan tidak pernah mendapat didikan.” “Kini dia baru bergabung dengan kita dan belum menerima didikan.” “Praktisi brahmana yang marah pada ayam itu adalah kalian di masa lampau.” “Karena dia berkokok pada waktu yang salah, maka amarah kalian bangkit.” “Guru pada saat itu adalah Aku.” “Melihat ayam itu dibunuh, Aku merasakan ganjalan di hati dan merasa tidak tega.”

“Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kalian harus melatih diri untuk mengendalikan kebencian di dalam batin.” “Kalian harus bergaul dengan dilandasi cinta kasih dan saling mendidik.” Ini adalah kisah di masa lampau. Kini kita juga tengah mempelajari ajaran Buddha. Di dalam Sepuluh Ikatan, yang kesembilan adalah kebencian. Benci berarti mudah marah. Marah sama dengan murka. Marah berarti di dalam batin ada ketidaksenangan. Perasaan dalam batin ini mudah berubah menjadi tindakan. Inilah kemarahan. Bukankah manusia sering seperti itu? Jika ada hal yang tidak sesuai kehendak kita, kita akan marah. Penyakit di dalam batin akan membangkitkan pikiran untuk meluapkan emosi. Emosi ini akan terwujud lewat sikap kita. Inilah yang dinamakan kemarahan. Meskipun kita juga ada mendengarkan Dharma, bisa saling membimbing, dan merasa sudah paham, dan merasa sudah paham, tetapi saat suatu kondisi datang, kita belum tentu dapat mengendalikan diri. Seperti para murid brahmana tadi, Seperti para murid brahmana tadi, hanya karena suara ayam, timbul niat mereka untuk membunuh. Ini semua adalah sebersit pikiran yang tidak dikendalikan. Inilah Ikatan Kebencian. Ia telah mengikat kita sehingga kita tidak bisa benar-benar bahagia. Ini membuat kita tak bisa berpikiran terbuka dan tak bisa bersabar dalam keadaan apa pun. Kita tidak tahan saat suatu kondisi berlangsung tidak sesuai harapan kita. Ini bagaikan belenggu yang mengikat kita. Kebencian membuat kita terjerat. Jadi, “Hati yang penuh amarah disebut kebencian.” Tabiat buruk ini terpendam di dalam hati, sehingga mudah bangkit. Jadi, dikatakan, “Saat lima objek tidak sesuai yang dipikirkan, semua makhluk…”

Mengenai lima objek, lima objek meliputi rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan. Dari lima hal ini, jika ada satu saja yang tidak sesuai harapan, maka kita akan merasa benci dan marah. Kebencian di dalam batin akan membangkitkan kemarahan dan membawa pada perbuatan bodoh. Bukan hanya marah, sesungguhnya saat emosi meluap, kita tak lagi memahami kebenaran apa pun. Akibatnya, karma akibat noda batin akan tercipta. Saat batin kita tenang, kita dapat memahami segala prinsip kebenaran. Namun, ketika kita sedang marah, segala prinsip akan sulit dicerna. Ada seorang anggota komite di rumah berkata, “Master mengajarkan begini dan begitu, maka sekarang saya akan baik terhadapmu.” Akan tetapi, suatu hari, saat terjadi suatu hal yang tak diinginkan, dia mulai marah. Suaminya lalu berkata, “Ingat apa yang Master ajarkan?” Dia menjawab, “Hari ini saya minta cuti pada Master.” Begitulah, meski sudah diingatkan, tetapi berhubung tidak mampu menahan amarah, dia malah dengan cerdik menjawab bahwa hari itu dia cuti. Inilah noda batin. Dia tidak mampu segera mengubah pola pikir. Jadi, kebencian ini membelenggu kita hingga tak dapat membebaskan diri. Dikatakan, “Karena terikat, maka tak dapat membebaskan diri.” Itulah sebabnya ini disebut Ikatan Kebencian.

Saudara sekalian, kita harus sungguh-sungguh mengendalikan pikiran kita. Jika tidak, maka seperti para petapa tadi, saat ayam berkokok tidak sesuai waktu, mereka mulai merasa terganggu dan mulai bergunjing. Kita seharusnya tahu cara mengajari orang yang bersalah agar kita juga dapat menjadikan tabiat buruk orang itu sebagai pelajaran bagi diri sendiri. Kita harus membimbingnya dengan sabar. Inilah yang seharusnya kita lakukan. Dengan begitu, barulah sebuah organisasi dapat bertambah maju. Inilah yang disebut pelatihan diri berkelompok. Kita harus terlebih dahulu mengatasi kebencian. Saya percaya semua pernah melakukan ini, baik ringan maupun berat. Ketika kita berbuat kesalahan, kita ingin menutupinya dan tidak ingin orang lain mengetahuinya. Karena takut malu, maka kita tidak mau memberi tahu orang lain. Rasa malu yang kita bahas sebelumnya adalah tiadanya rasa penyesalan. Rasa malu yang sesungguhnya adalah setelah melakukan kesalahan, kita segera bertobat. Ada orang yang tidak memiliki rasa malu dan selalu melakukan kesalahan terus-menerus. “Memangnya kenapa?” “Saya tidak takut orang lain tahu.” Ini juga tidaklah benar.

Namun, penyembunyian di sini adalah menutupi kesalahan sendiri. Kita tidak ingin kesalahan kita diketahui orang lain. Karena tiada orang lain yang tahu, maka kita melakukannya lagi. Kesalahan ini diulangi terus-menerus dan terus ditutup-tutupi. Berhubung telah menyembunyikan kesalahan, maka walaupun tidak ada orang yang mengetahuinya, karma buruk tetap mengikuti kita. Kelak kita tetap akan menerima akibatnya. Menyembunyikan di sini berhubungan dengan kesadaran kita. Meski orang lain tidak tahu, tetapi kita tahu. Dahulu saya pernah bercerita tentang seorang ayah yang mengajak anaknya untuk mencuri sebuah labu. Setelah memetik labu, sang ayah berkata, “Mari segera taruh labu ini di dalam kantong, tiada orang yang melihatnya.” Sang anak lalu menarik ayahnya, “Ayah, ada orang yang melihatnya.” Sang ayah menjawab, “Tidak ada, di sekeliling kita tidak ada orang.” Sang anak berkata, “Ada, bulan sedang melihatnya.” Lihat, anak kecil yang polos merasa bulan sedang melihat mereka. Ini adalah hati nurani yang murni. Meski ada bulan di angkasa yang sedang menyinari kita, adakalanya kita tetap berbuat jahat. Kita menganggap orang lain tidak melihatnya, tetapi bulan melihatnya. Bagaimana saat tidak ada bulan? Saat tidak ada bulan, hati nurani kita melihatnya. Jadi, kita tetap tak boleh melakukan hal yang melawan hati nurani. Menutupi kesalahan sama dengan menutupi hati nurani. Jika hati nurani tertutup, kita akan selalu mencari kesempatan untuk berbuat hal yang tidak benar. Kita sering membahas tentang pertobatan terbuka.

Di kalangan insan Tzu Chi ada ungkapan berbunyi, “Mengaku salah membawa kemajuan.” “Dahulu saya melakukan banyak kesalahan, sekarang saya ingin semua orang tahu bahwa saya pernah melakukan kesalahan.” Dengan begitu, kita sendiri sama dengan menganggap orang lain bagai sebuah cermin. “Dahulu saya bagai tertutup kegelapan, tetapi sekarang saya telah bertobat.” Pertobatan adalah pemurnian. Kita tidak takut orang lain membicarakan kita di belakang karena kita sudah mengakuinya. Jika ada orang yang bergosip di belakang, orang lain akan berkata, “Saya sudah pernah dengar, dia sendiri yang mengakuinya.” Dengan begitu, ke mana pun kita tak akan terbebani. “Semua orang sudah tahu kesalahan masa lalu saya, tetapi sekarang saya telah berubah.” “Semua orang sudah tahu, tidak ada lagi yang perlu saya tutup-tutupi.” Jika kita menutupi kesalahan, maka akan mudah bagi kita untuk mengulanginya. Ini menjadi benih yang tersimpan dalam kesadaran kedelapan kita. “Segala sesuatu tidak dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti.” Jadi, janganlah kita menutupi kesalahan. Begitulah makhluk hidup. Jika melakukan perbuatan buruk, maka sangat takut diketahui orang lain. Ada orang yang merasa, “Apakah mereka sedang membicarakan saya?” “Apakah mereka sedang membicarakan saya?” Kecurigaan terus muncul dalam pikirannya.

Jadi, kita semua harus tahu untuk segera mengakui kesalahan dan bertobat secara terbuka. Pertobatan adalah pemurnian. Jadi, kita harus bertobat atas masa lalu dan memperbaiki diri. Kita harus berubah. Dengan demikian, kita tak akan terus berkutat dalam kelahiran kembali. Saudara sekalian, semua ini disebabkan oleh tabiat buruk. Namun, tabiat buruk dapat diubah. Kita harus bersungguh hati untuk mengubah tabiat masa lalu yang tidak baik. Dengan demikian, saya yakin pelatihan diri kita bisa maju. Jadi, kita harus tekun melatih diri setiap hari. Pelatihan diri haruslah dijalankan di tengah orang banyak agar kita dapat belajar memahami orang lain yang belum terbimbing atau masih memiliki tabiat buruk. Kita harus berusaha untuk berlapang dada dan memaafkan. Jangan karena orang lain, timbul kebencian dalam hati kita. Jangan pula kita terus menutupi dan memupuk tabiat buruk. Jika seperti ini, yang rugi adalah diri sendiri. Jadi, setiap orang harus lebih bersungguh hati.

 

Leave A Comment