Sanubari Teduh – 234 – Sebelas Kecenderungan Umum Bagian 02
Saudara se-Dharma sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, syarat pertama adalah keyakinan. Kita harus memiliki keyakinan benar. Keyakinan tidak boleh menyimpang sedikit pun. Semua orang tahu bahwa setelah saya selesai berbicara pada kalian, saya akan bertanya, “Apakah kalian memahaminya?” Artinya adalah apakah kalian memahami ucapan saya, apakah kalian memercayainya. Jika dapat memahami seluruh Dharma tanpa menyimpang, itulah yang disebut keyakinan benar. Jika tidak paham, maka menyimpang sedikit saja akan jauh tersesat. maka menyimpang sedikit saja akan jauh tersesat. Jadi, keyakinan sangat penting. Dasar dari kehidupan manusia dan akar dari pelatihan diri adalah keyakinan. Keyakinan harus benar. Inilah keyakinan benar. Setiap hari dan setiap saat kita selalu bersentuhan langsung dengan lingkungan di luar. Sesungguhnya, siapa yang bersentuhan langsung dengan kondisi luar? “Aku.” “Aku ada.” Saya mengucapkan “aku”, kalian juga mengucapkan “aku”. Setiap orang pasti bersentuhan dengan kondisi luar. Meskipun kondisi dan tempatnya berbeda-beda, keakuan akan selalu ada. Jadi, keakuan setiap orang sangat besar. Saya sering mengatakan bahwa kita harus mengecilkan ego, baru bisa mengembangkan potensi nurani. Manusia sangat sombong dalam segala hal. Sering kali, mereka tidak bisa membedakan yang benar dan salah dengan jelas. Oleh karena itu, Buddha mengajarkan kepada kita untuk melepaskan keakuan. Sesungguhnya, inilah yang sering kita bahas.
Ketika Lima Agregat berpadu, di sana muncullah “aku”. Ketika Lima Agregat terpisah-pisah, sesungguhnya apa yang membedakan antara “aku” dan kondisi di luar diri? Jika memahami ini, kita tak akan terganggu noda batin akibat kelakuan. Jadi, terhadap keakuan ini, kita harus selalu ingat apa sesungguhnya “aku” itu. Kita hendaknya bertanya pada diri sendiri. “Aku” hanyalah sebuah label semu. ”Aku” yang sesungguhnya harus dapat menyatu dengan sesama manusia dan segala sesuatu di dunia. Ini disebut “aku universal”. Bukan “kelakuan yang besar”, melainkan “aku universal”yang penuh cinta kasih. Cinta kasih universal mengasihi semua makhluk. “Aku universal” berarti menganggap diri sendiri adalah satu dengan semua makhluk. Jadi, janganlah kita selalu mengumbar ego hanya karena hal kecil. Jika demikian, kita tak bisa harmonis dengan alam. Jadi, harap semua orang bersungguh hati dalam menghadapi keakuan ini. Mengenai Sebelas Kecenderungan Umum, inilah sumber noda batin kita. Sebelas hal ini selalu ada di sekitar kita dan membuat batin kita risau, bergejolak, dan membangkitkan niat buruk. Keyakinan yang kita bahas di awal adalah keyakinan benar. Jika kita menyimpang sedikit saja ke arah ego, maka menjadi tidak benar. Kita harus mengecilkan ego dan keakuan. Kita sungguh harus menyatu dengan segala sesuatu di dunia.
Dengan demikian, kita tidak akan mengundang kerisauan dan karma buruk. Yang akan kita bahas hari ini adalah yang ketiga dari Sebelas Kecenderungan Umum, yaitu eternalisme. Jika tidak memahami kebenaran, manusia akan menganggap segalanya kekal. Kita menganggap segalanya kekal dan tidak berpikir bahwa kehidupan tidaklah kekal. Buddha terus mengajarkan ini kepada kita. Waktu juga terus berlalu. Dari hari kemarin hingga hari esok, sesungguhnya kapankah waktu pernah berhenti? Jangankan selama satu hari, dalam hitungan detik pun waktu tak pernah berhenti. Berhubung tak pernah berhenti bergulir, bagaimana bisa disebut kekal? Dalam hubungan antarmanusia, sebelumnya kita tidak saling mengenal, tetapi sekarang sudah saling mengenal. Ini tak lain merupakan jalinan jodoh. Dahulu kita tidak saling mengenal, sekarang saling mengenal, bagaimana di masa depan? Apakah kita akan selamanya saling kenal? Tidak tahu, karena kehidupan manusia tidaklah kekal. Bukan hanya waktu yang tidak kekal, perasaan manusia juga tidaklah kekal. Dalam hubungan antarmanusia, tidak ada satu pun yang kekal. Pikirkan hubungan kita sendiri dengan yang terdekat, yakni orang tua. dengan yang terdekat, yakni orang tua. Tubuh kita diberikan oleh ibu yang melahirkan kita. Saat masih kecil kita bergantung pada orang tua, tetapi setelah dewasa kita akan meninggalkan mereka. Apakah hubungan dengan orang tua abadi? Meskipun kita sering bersama orang tua, tetapi sesuai hukum alam, perpisahan suatu hari pasti terjadi. Ini adalah hukum alam. Intinya, adakah yang kekal di dunia? Tidak ada. Akan tetapi, di tengah ketidakkekalan, semua makhluk keliru dan menganggap ada yang kekal. Mereka sering melekat pada keberadaan. Keberadaan apa? Keberadaan sesuatu yang bisa dimiliki selamanya. Karena itu, kita selalu ingin menguasai. Nafsu keinginan dan kegelapan batin pun semakin banyak. Jadi, saat menghadapi segala sesuatu yang menggoda di dunia, kita harus segera mengendalikan diri dan ingat bahwa segalanya tidak kekal. Untuk apa kita perhitungan? Kita juga tidak tahu berapa lama tubuh kita dapat bertahan hidup. Jadi, di dalam Sutra ada penggalan yang mengatakan, Orang yang melekat pada kekekalan tidak tahu berapa lama tubuh bisa bertahan. Kita tidak mengetahuinya. Apakah segala sesuatu di luar bisa berada selama-lamanya? Apakah semua itu milik kita? Kita juga tidak tahu. Semuanya tidak kekal.
Lihatlah kondisi dunia saat ini. Dunia terus mengalami kerusakan. Gunung, sungai, dan tanah terus mengalami kerusakan. Jadi, segala sesuatu tidaklah kekal. Pada akhirnya semua akan rusak dan hancur. Jika dapat memahami prinsip ini, maka kita tidak akan perhitungan dalam banyak hal. Jika kita tidak memahaminya, maka akan mudah menganggap keuntungan pribadi sebagai sesuatu yang kekal. Kita mengira bahwa segala milik pribadi akan kita miliki selamanya. Jika demikian, maka manusia akan selalu bersaing, negara-negara di dunia juga akan saling bertikai. Selain persaingan antara sesama manusia, persaingan antara manusia dan hewan persaingan antara manusia dan hewan juga banyak. Kita tidak merasa malu melakukan banyak perbuatan jahat. Ini semua disebabkan penyakit di dalam batin kita. Jadi, tadi saya mengatakan jika tidak memahami ketidakkekalan, kita akan terus bersaing satu sama lain. kita akan terus bersaing satu sama lain. Manusia bersaing dengan sesama, manusia juga bersaing dengan hewan. Dalam kehidupan sehari-hari, yang kuat memakan yang lemah. Manusia memakan daging hewan yang tak berdaya. Lihatlah, ini sungguh menakutkan. Ada hewan yang kelihatannya bertubuh besar. Meskipun manusia tidak memakan mereka, tetapi juga merampas kebebasannya. Hewan yang paling besar saat ini adalah gajah. Tubuh gajah sangat besar. Gajah biasanya tidak berbahaya dan sangat jinak.
Di Thailand, Afrika, atau negara-negara Arab, kita dapat melihat gajah yang jinak. Manusia lalu menungganginya. Sebaliknya, di India gajah sangat dijunjung tinggi dan dihormati. Di dalam Sutra Buddha juga sering kita lihat cerita tentang raja gajah. Namun, di zaman sekarang, pengeksploitasian gajah lebih sedikit. Dahulu kala, gajah diperlukan dalam berperang atau memindahkan barang. Kini teknologi sudah maju. Mesin bisa menggantikan hewan untuk bekerja. Jadi, gajah sudah tidak terlalu digunakan. Kebanyakan gajah hidup di dalam hutan. Di Bangladesh ada sebuah desa kecil yang bernama Kalircharra. Desa ini sangat kecil. Namun, warga desa ini hidup dengan menebang pohon untuk dijual atau mendapatkan upah. Hal ini telah berlangsung selama 40 tahun. Keseharian mereka diisi dengan kegiatan menebang pohon. Di dalam hutan tinggal banyak gajah. Saat manusia memasuki gunung dan hutan, mereka mulai mengusir gajah-gajah tersebut hingga harus keluar dari hutan. Mulanya, para gajah hidup dengan sangat bebas di dalam hutan. Saat manusia datang, mereka mulai mengusir para gajah hingga harus keluar dari hutan. Manusia lalu mulai kembali menebangi pohon. Suatu hari, saat malam tiba, Suatu hari, saat malam tiba, sekelompok gajah tiba-tiba dengan dahsyatnya berlari memasuki desa ini. Di antara para warga, ada seseorang yang menguraikan kejadian malam itu. Dia mengatakan bahwa dia mendengar suara gaduh di luar. Di dalam hati dia berpikir apa yang sedang terjadi. Ketika membuka pintu, dia melihat sekelompok gajah. Di antaranya, ada tiga ekor yang berlari menuju dirinya. Sesungguhnya, tempat tinggal para warga sangat sederhana. Semuanya menggunakan papan kayu yang dibangun menjadi rumah. Bayangkan,rumah yang terbuat dari kayu, bagaimana bisa menahan tiga ekor gajah? Saat pintu dibuka, para gajah tersebut terlihat mengamuk. Tiga ekor gajah yang terlihat mengamuk itu seakan ingin menyerang dirinya. Beruntung, dia sempat menghindar. Rumahnya hancur diinjak-injak para gajah. Setelah menenangkan diri, dia melihat keadaan sekitar. Tidak hanya rumahnya yang hancur, puluhan rumah lainnya juga rata dengan tanah. Kondisi di sana sangat porak-poranda, tiada satu rumah pun yang utuh. Dalam sekejap, tiada lagi rumah di desa itu. Korban jiwa berjumlah tiga orang dan korban luka-luka berjumlah lebih dari 20 orang. Saat batin warga sudah mulai tenang, Saat batin warga sudah mulai tenang, mereka mulai berintrospeksi. Sesungguhnya, selama ini, manusia telah mempersempit ruang gerak gajah, mengusir mereka, dan menduduki wilayah mereka. Ini sudah berlangsung selama 40 tahun lebih. Warga desa ini merenungkan perbuatan mereka. Selama ini mereka telah memperlakukan para gajah dengan kejam. Terhadap para gajah, mereka tidak memiliki cinta kasih sedikit pun. Bukan hanya mengusir para gajah, manusia juga merusak habitat mereka. Selain itu, banyak gajah yang telah dilukai, bahkan dibunuh oleh manusia karena gading gajah sangat berharga. Setelah membunuh gajah, mereka mengambil gadingnya yang kira-kira dapat dijual dengan harga sekitar 1.000 dolar AS. Jumlah ini sangatlah besar bagi mereka. Jadi, manusia terus menganiaya para gajah. Selama puluhan tahun itu, peran gajah dalam melayani manusia telah berkurang. Namun, habitat mereka, bahkan ruang gerak mereka terus dikuasai oleh manusia. Dalam waktu yang sama, mereka dibunuh oleh manusia. Kemarahan selama bertahun-tahun Kemarahan selama bertahun-tahun yang dipendam para gajah sangatlah dalam.
Menurut analisis ahli setempat, Menurut analisis ahli setempat, kecerdasan gajah sangat tinggi. Ingatan mereka sangat kuat. Mereka juga memiliki kebijaksanaan. Mereka dapat mengenali orang, dapat membedakan orang. Mereka mengetahui siapa tuan mereka dan siapa yang bukan tuan mereka. Mereka bisa membedakan orang yang dikenal dan yang tidak dikenal. Mereka juga tahu siapa yang menyayangi mereka dan siapa yang menganiaya mereka. Ingatan mereka sangat dalam. Jadi, ketika manusia menyiksa mereka dengan begitu kejam, mereka mungkin masih bersabar. Akan tetapi, zaman juga berubah. Dahulu hewan bekerja tanpa mengeluh. Mereka menjalankan tugas tanpa memberontak. Namun, sekarang hewan pun bisa memberontak. Jadi, para gajah kali ini mencari rumah orang yang menindas mereka. Seluruh warga desa itu sedang menduduki habitat mereka, menangkap dan melukai mereka. Para gajah akhirnya menyerang warga hingga menyebabkan korban luka-luka dan meninggal. Peristiwa balas dendam ini sudah terjadi. Jadi, selain perselisihan antarmanusia, juga ada perselisihan antara manusia dan hewan. Semua ini bermula dari sebersit kegelapan batin. Manusia memiliki habitat dan alam kehidupan sendiri. Namun, selain menebang pohon serta merusak konservasi air dan tanah, manusia juga merusak habitat makhluk lain. Manusia juga merusak gunung dan hutan yang merupakan tempat hidup hewan. Manusia juga mengusir dan membunuh hewan. Lihatlah, pikiran manusia sungguh menakutkan. Jadi, kita yang mempelajari ajaran Buddha hendaknya belajar cara memperlakukan alam dan menjadi satu kesatuan yang harmonis dengan alam beserta isinya. Manusia memiliki alam kehidupan sendiri, hewan juga memiliki alam kehidupan sendiri. Hubungan antarmanusia haruslah harmonis. Antara manusia dan hewan, Antara manusia dan hewan, juga hendaknya ada cinta kasih.
Jadi, jika manusia berkeyakinan menyimpang, terlalu sombong, atau mengira bahwa manusia memiliki hak untuk menguasai segala sesuatu dan akan memiliki semuanya selamanya, maka kita akan menciptakan karma buruk yang besar. Jadi, manusia harus menyayangi segala sesuatu. Inilah yang semestinya dilakukan. Jika kita tidak bisa menyayangi hewan, bahkan orang tua pun tidak kita hormati, malah hanya selalu berselisih dan bertikai, maka kita akan disebut orang yang tak punya malu. Saudara sekalian, ketika berbuat kesalahan, kita seharusnya merasa malu dan bertobat. Artinya, kita harus tahu kewajiban kita. Jika tidak menunaikan kewajiban dan malah melampaui batas norma, kita akan menjadi orang yang tak punya malu. Jadi, setiap orang harus selalu bersungguh hati.