Sanubari Teduh – 235 – Sebelas Kecenderungan Umum Bagian 03
Saudara se-Dharma sekalian, setiap pagi kita selalu menghormat kepada Buddha dengan tulus dan bermeditasi. Apakah kita selalu merenungkan peristiwa yang terjadi kemarin atau ajaran Buddha yang telah kita dengar terus-menerus di dalam hati? terus-menerus di dalam hati? Di dalam kehidupan kita, sesungguhnya berapa banyak ajaran Buddha yang dapat kita pahami? Apakah kita bisa menggunakan Dharma dan ajaran saat menghadapi orang dan masalah sehari-hari? Jika bisa, berarti batin kita sudah mendapatkan sumsum Dharma, jiwa kebijaksanaan kita telah bertumbuh. Jika Dharma yang kita dengar tidak bisa kita terapkan di dalam hubungan antarmanusia sehari-hari, berarti kita harus kembali berintrospeksi atas cara hidup kita. Sebelumnya kita telah membahas yang ketiga dari Sebelas Kecenderungan Umum, yakni eternalisme. Kita jelas-jelas tahu Buddha mengajarkan ketidakkekalan kepada kita.
Segala sesuatu di dunia ini tidak kekal. Sebagai contoh, saat bekerja di ladang, kita bisa melihat sayuran dan rumput di kebun. Sejak dua hari lalu, kemarin, sampai hari ini, apakah sayur dan rumput telah tumbuh? Kemarin kita sudah membajak sawah. Dua hari lalu atau beberapa hari yang lalu, kita juga sudah mencabut habis rumput-rumput hingga tanah menjadi rata. Dua tiga hari kemudian, kita tengok kembali, apakah di atas permukaan tanah telah tumbuh rumput yang berwarna kehijauan? Ternyata memang tumbuh kembali. Ini menunjukkan ketidakkekalan. Kita jelas-jelas telah mencabuti rumput, tetapi rumput dapat tumbuh kembali. Ini harus disebut kekal ataukah tidak kekal? Jika kekal, kita tidak perlu mencabutinya.
Jika kita menyebutnya tidak kekal,nyatanya rumput itu tumbuh kembali. Sesungguhnya, kekal atau tidak kekal? Buddha mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu tidaklah kekal. Seluruh fenomena eksternal, Seluruh fenomena eksternal, seperti daun yang berguguran pada musim gugur seperti daun yang berguguran pada musim gugur dan bunga yang mekar pada musim semi, menunjukkan ketidakkekalan. Layu dan mekar, itulah ketidakkekalan. Hanya saja, hukumnya bersifat kekal. Jadi, jika kita melekat pada kekekalan, itu juga tidak benar. Yang keempat adalah nihilisme. Pandangan nihilisme adalah paham ketiadaan. Meski sekarang ada, tetapi nantinya akan hilang sama sekali. Ini yang disebut pandangan nihilisme.
Sesuatu yang tidak ada, tidak akan pernah ada. Lalu mengapa rumput yang sudah dicabut bisa tumbuh kembali setelah beberapa hari? Karena bibitnya masih ada. Sama halnya dengan manusia. Kini ilmu kedokteran sudah maju. Saat seorang dokter memeriksa pasien untuk mencari tahu penyakitnya, dia akan bertanya apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit serupa. “Apakah ayah Anda menderita penyakit ini?” “Bagaimana dengan kakek Anda?” “Ayah tidak, tetapi sepertinya Kakek ada.” Inilah yang disebut penyakit keturunan. Ini diwariskan lewat gen, yaitu benih karma manusia. Jadi, benih karma tidak bisa diputus. Akan tetapi, ada orang berkata, “Saya ingin berbuat sesuka hati.” “Saya akan berbuat sesuai kehendak saya.” “Toh setelah meninggal semuanya selesai.” “Tiada apa-apa lagi.” Inilah yang disebut pandangan nihilisme. Dia tidak tahu bahwa “seluruh Dharma pada hakikatnya kekal dan tak akan lapuk.” Segala sesuatu pada dasarnya memiliki hakikat. Hakikat ini tidak pernah lapuk.
Misalnya, kini kita berada di dunia dengan empat musim. Di alam semesta ini, dingin dan panas ini adalah sifat dasar alam ini. Sifat ini berganti mengikuti perputaran tata surya. Kita tentu dapat membedakan dingin dan panas. Ini adalah sifat yang selalu ada. Begitu pula manusia.Kekuatan karma selalu mengikuti. Meski kita melewati kehidupan demi kehidupan di masa yang berbeda-beda, tetapi memiliki hakikat dasar yang sama. Kita mungkin terlahir di berbagai zaman dan di tengah pengaruh lingkungan. Makhluk awam terikat pada masa, yaitu masa lampau, masa kini, dan masa depan. Tidak peduli masa lampau, masa kini, atau masa depan, karena pengaruh lingkungan di masa lampau, karena pengaruh lingkungan di masa lampau, kita mungkin melakukan perbuatan buruk yang menjadi benih dan tabiat yang tertanam pada kesadaran kedelapan kita. yang tertanam pada kesadaran kedelapan kita. Setelah masa kehidupan kita berakhir pada kehidupan lampau akibat habisnya jalinan jodoh, akibat habisnya jalinan jodoh, karma yang tertanam di dalam kesadaran kedelapan tidak hilang begitu saja. Karena itu, kita terlahir kembali ke kehidupan berikutnya.
Dalam kehidupan kita yang sekarang, mungkin tempat kita dilahirkan, kondisi keluarga, dan lingkungan masyarakat memengaruhi pertumbuhan kita dan membuat kita memiliki tabiat yang beragam. Meski kini kita memiliki tekad yang sama, yakni bertekad menjadi anggota Sangha atau memiliki tekad yang sama untuk bergabung dengan Tzu Chi, tetapi insan Tzu Chi yang banyak itu juga memiliki tabiat yang berbeda-beda. Meskipun kita bertekad menjadi anggota Sangha, memiliki niat untuk meninggalkan keduniawian, dan tinggal di tempat ini, tetapi saya percaya kita semua masih membawa tabiat yang dilatari kehidupan masa lalu kita ke tempat pelatihan diri ini. Tabiat setiap orang berbeda-beda. Ada yang memiliki tabiat baik, tidak perhitungan terhadap orang lain, atau memiliki kemampuan yang dalam. Ada pula yang bertabiat tidak baik sejak masa lampau dan bertemperamen buruk, tetapi kini bertekad menjadi anggota Sangha. Setelah mendengar ucapan saya, dia ingin berubah. Lalu, dia benar-benar berubah. Dia bisa mengubah tabiatnya lamanya. Kini dia dapat melatih diri. Ini membutuhkan tekad. Kini dia dapat menunaikan kewajiban dengan baik. Inilah yang disebut hakikat. Hakikat ini pada mulanya sangat murni. Hakikat ini sangat dekat dengan Buddha. Hanya saja, dari kehidupan ke kehidupan, kita terus terpengaruh oleh lingkungan sehingga memiliki tabiat buruk dan menciptakan banyak karma buruk.
Jadi, dari kehidupan ke kehidupan, kita mungkin telah merasakan banyak penderitaan. Mungkin juga dari kehidupan ke kehidupan kita telah menikmati banyak berkah. Namun, meski pada masa lampau kita didera banyak penderitaan, penderitaan itu suatu saat pasti berakhir. Berkah yang kita nikmati pun suatu saat pasti akan habis. Akan tetapi, kita tidak tahu di kehidupan lalu Akan tetapi, kita tidak tahu di kehidupan lalu kita telah membentuk tabiat seperti apa. Hakikat kita pun ikut tercemar. Hakikat yang tadinya murni, kini terkubur dalam kesadaran karma. Hakikat sejati kita telah tersembunyi di balik kesadaran karma. Dahulu saya pernah memberi tahu kalian bahwa biasanya orang hanya membahas hingga kesadaran ke-8, tetapi saya sering mengingatkan kalian bahwa kita masih memiliki kesadaran ke-9. Kesadaran ke-9 ini ada di balik kesadaran ke-8. Ini adalah hakikat sejati yang murni. Namun, yang biasa kita fungsikan adalah kesadaran karma. Akibatnya, hakikat kebuddhaan kita ikut tercemar seiring bekerjanya kesadaran karma sehingga kita pun terbawa ke kehidupan ini. Di kehidupan ini, kita berjodoh dengan orang tua kita dan lingkungan kita. Ini yang disebut buah karma pengondisi. Dengan adanya buah karma pengondisi ini, kita terkondisi untuk bertemu dengan orang tua dan lingkungan saat ini dan terlahir dalam kondisi ini.Karena faktor-faktor ini, kita lahir dalam lingkungan yang berbeda-beda dan mengembangkan tabiat yang berbeda-beda pula. Saat berkumpul menjadi satu, maka sulit dihindari terjadinya masalah antarsesama.
Dalam pelatihan diri, kita harus bisa membedakan eternalisme dan nihilisme dengan jelas. Dunia ini pada dasarnya tidak kekal. Asalkan itu benda materi, termasuk jasmani kita, semuanya adalah tidak kekal. Buddha memberi tahu kita bahwa bumi bersifat rentan dan kehidupan tidaklah kekal. Kehidupan manusia hanyalah sebatas tarikan napas. Tiada yang kekal di dunia ini. Namun, adakalanya kita tidak merasakan ketidakkekalan ini. Karena itu, kita sering berselisih dengan orang lain. Kita sudah membahas bahwa akibat kepentingan pribadi, manusia saling bertikai sehingga menciptakan berbagai malapetaka. Bukan hanya antarmanusia, manusia juga berselisih dengan hewan. Kita juga sudah membahas gajah yang mengamuk di Bangladesh. Mereka memiliki habitat sendiri. Mereka juga adalah hewan yang dilindungi manusia saat ini.Gajah dahulu dimanfaatkan orang untuk mengangkut dan memindahkan barang. Di India, pada masa-masa perang, manusia juga mengandalkan gajah. Jadi, saat itu kehidupan manusia dengan gajah terkait erat. Manusia memanfaatkan gajah, tetapi kini hewan tidak lagi diperlukan untuk menggantikan pekerjaan manusia. Tidak lagi. Kini gajah sudah masuk daftar hewan yang harus dilindungi oleh manusia. Akan tetapi, demi keuntungan pribadi, manusia zaman sekarang merusak hutan dan membunuh hewan. Akan tetapi, apakah hewan tidak memiliki kecerdasan? Mereka memiliki kepintaran. Gajah memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi serta memiliki perasaan. Mereka bisa mengenali tuan mereka dan bisa mengenali orang yang menyiksa mereka. Jadi, jika mereka terus dipancing hingga menjadi marah, mereka akan seperti manusia yang kehilangan kesabaran dan akan menyerang balik. Lihatlah, manusia membuat banyak pabrik yang menyebabkan polusi udara. Akibatnya, kini iklim juga menyerang balik. Jadi, hakikat dasar selalu ada. Jika manusia terus merusak keseimbangan, maka ketidakkekalan akan terjadi. Sesuatu yang tidak kekal pasti mengalami kerusakan. Akan tetapi, kita harus tahu bahwa di tengah kerusakan dan kehancuran, ada hakikat sejati yang kekal. Jadi, kita harus memahaminya setiap saat.
Kita tidak lepas dari hukum sebab akibat. Segala sesuatu juga tidak lepas dari hukum ini. Empat musim selalu berganti setiap tahun. Pohon dan alam juga memiliki fase periodik, apalagi manusia. Manusia tak luput dari enam alam kehidupan. Buddha berkata bahwa jika kita berbuat baik, menjalankan lima sila, dan melaksanakan sepuluh kebajikan, maka kita bisa terlahir di alam surga. Namun, kita yang mempelajari ajaran Buddha bukan hanya menaati lima sila dan melaksanakan sepuluh kebajikan. Kita harus melampauinya. Apa yang disebut melampaui? Yaitu bersumbangsih tanpa mengharapkan imbalan. Kita yang menapaki Jalan Bodhisattva hanya bersumbangsih demi semua makhluk. Kita tidak mengharapkan imbalan apa pun. Jika tidak mengharapkan imbalan, maka dengan sendirinya kita akan kembali pada hakikat sejati yang murni yang juga merupakan hakikat kebuddhaan. Inilah yang kita sebut meneladani Buddha.
Tujuan mempelajari ajaran Buddha adalah menjadi Buddha. Jika ingin menjadi Buddha, mengapa kita masih perhitungan dengan makhluk lain? Setelah bersumbangsih, apa yang masih kita perhitungkan? Demikianlah jika kita bisa membuang tabiat buruk Demikianlah jika kita bisa membuang tabiat buruk dan kembali pada hakikat sejati. Jadi, janganlah melekat pada nihilism ataupun eternalisme. Sebelumnya kita membahas eternalisme dan kini kita membahas nihilisme. Jangan beranggapan, “Yang penting saya senang.” “Memangnya kenapa jika bertengkar denganmu?” “Menjalin jodoh buruk denganmu juga tak apa.” “Saya bisa bersenang-senang seumur hidup dan bergembira melewati hari-hari.” “Saya adalah tuan bagi diri sendiri.” Semuanya diukur dari “aku”. “Saya tidak mau memikirkan masa depan.” “Saya tidak mau memikirkan masa depan.” “Jika sekarang menjalin jodoh buruk, memangnya kelak akan kenapa?” “Saya tidak mau memikirkan itu.” Orang seperti ini tidak memiliki rasa malu. Mereka melakukan kejahatan dan tidak malu. Perbuatan seperti ini terus mereka lakukan. Jadi, kita harus tahu bahwa hendaknya kita jangan menganggap tiada kehidupan lagi setelah kematian. Tentu bukan seperti itu.Meski tidak terlahir sebagai manusia, kita mungkin terlahir sebagai binatang. Hakikat ini tidak berakhir.
Di dalam enam alam kehidupan, jika kita tidak dapat terlahir di surga, maka mungkin terlahir di alam neraka. Jika tidak dapat terlahir di alam manusia, maka kita mungkin terlahir di alam binatang. Jangan mengira bahwa binatang dan manusia tidak punya kaitan apa-apa. Sesungguhnya ada. Lihatlah gajah. Saat manusia mengusir dan membunuh mereka, mereka bisa menyerang balik. Mereka juga bisa mencari orang yang mengusir mereka, orang yang menganiaya mereka, dan orang yang merusak keluarga mereka. Saat manusia merusak hutan yang merupakan tempat tinggal para gajah, para gajah pun bisa berbalik menyerang permukiman manusia dan menghancurkannya. Saat manusia menganiaya para gajah, para gajah bisa berbalik menyerang manusia. Mereka bisa mengenali orang yang menyiksa mereka.
Akibatnya, ada orang yang terluka dan tewas. Lihatlah, bukankah ini rangkaian sebab akibat? Jadi, asalkan ada fungsi kesadaran pikiran yang membedakan, maka kita tak akan luput dari hukum sebab akibat. Ada kehidupan sekarang, pasti ada kehidupan selanjutnya. Pasti ada. Jadi, kita hendaknya tahu bahwa kita tak seharusnya berpandangan nihilisme. Dalam kehidupan sehari-hari kita harus sangat memperhatikan perbuatan kita. Jika kini kita menjalin jodoh buruk dengan orang, maka kelak kita akan menerima akibatnya. Jodoh buruk yang dijalin pada kehidupan ini akan terus terbawa ke kehidupan berikutnya. Akibatnya, kelak kita akan menghadapi rintangan yang besar darinya. Ini bagai bayangan yang mengikuti benda.
Karma bagaikan tubuh yang berjalan di bawah cahaya matahari. Ke mana pun kita berjalan, bayangan akan selalu mengikuti. Kita tidak boleh meremehkan kekuatan karma. Jadi, di dalam kehidupan sehari-hari, kita harus menggunakan kebijaksanaan. Jangan menganggap masalah sebagai rintangan. Meski ada masalah, hendaknya itu kita anggap sebagai pelajaran. Lewat masalah yang dihadapi, kita menempa batin kita dan menumbuhkan kebijaksanaan. Inilah yang disebut melatih diri. Jadi, kita semua harus bersungguh hati. Janganlah melekat pada eternalisme, juga jangan melekat pada nihilisme. Jadi, kita harus melatih diri setiap saat, mawas diri, dan bersungguh hati di dalam kehidupan sehari-hari.