Sanubari Teduh – 236 – Sebelas Kecenderungan Umum Bagian 04
Saudara se-Dharma sekalian, inti mempelajari ajaran Buddha terletak pada pemahaman pikiran kita. Pemahaman ini harus selalu kita pertahankan agar tidak menyimpang. Penyimpangan sedikit saja dapat membuat kita jauh tersesat. Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran dengan baik. Sebelumnya kita telah mengulas yang keempat dari Sebelas Kecenderungan Umum, yaitu nihilisme. Janganlah kita melekat pada eternalisme ataupun nihilisme. Kita harus sungguh-sungguh memahami bahwa dunia pada dasarnya tidak kekal. Namun, kita juga harus memahami bahwa ada hakikat sejati yang kekal. Terhadap prinsip kebenaran, kita ragu karena kadang disebut tidak kekal, kadang disebut kekal. Sesungguhnya, apa maksudnya? Maksudnya adalah kita harus bersungguh hati. Sesuatu yang berwujud pasti tidak kekal. Sesuatu yang tak berwujud tidak timbul dan tidak lenyap, selamanya tidak lapuk. Kita harus merenungkannya dengan kebijaksanaan. Jangan sampai kita melekat pada ilusi. Kini kita akan membahas yang kelima, yaitu kemelekatan pada sila atau kemelekatan pada pandangan pribadi.
Setelah mempelajari ajaran Buddha, kita harus membuat diri kita dapat menggunakan ajaran ini dalam interaksi dengan manusia ataupun dengan segala sesuatu. Hidup kita harus sesuai dengan ajaran Buddha. Ajaran Buddha harus diterapkan dalam keseharian, terutama bagi kita, praktisi di vihara. Kita harus tahu apa yang dimaksud dengan sila. Sila adalah cara untuk mencegah kesalahan dan menghentikan keburukan. Kita harus mencegah diri kita dari melakukan sesuatu yang tidak benar. Sesuatu yang tidak benar janganlah kita lekati dan lakukan. Jika kita terus berbuat hal yang tidak benar, itu akan berakibat buruk. Inilah pentingnya sila. Namun, ada orang yang tidak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Melihat orang lain melakukan kekeliruan, mereka mengira itu adalah pelatihan diri dan mulai mengambil metode orang itu dan mengikuti silanya. Dia tidak bisa membedakan benar dan salah. Kita tidak boleh mengambil atau mencuri kepunyaan orang lain. Tindakan ini tidak benar. Jika kita masih mengambil milik orang lain, maka menurut ajaran Buddha, itu tidaklah benar. Jadi, ini yang disebut “mengambil”. Ini bukan ajaran benar yang diajarkan Buddha. Ini bukan ajaran benar yang diajarkan Buddha. Jika kita mengadopsi sila ajaran luar, maka ini juga tidak benar seperti mengambil. Inilah yang disebut “mengambil”.
Kemelekatan pada sila atau pandangan pribadi adalah mengadopsi kesesatan orang lain. Ajaran Buddha sangatlah benar. Jika kita bisa menjalankan praktik sesuai ajaran Buddha, maka kita tidak akan salah. Ajaran ini bagai sebuah jalan yang benar dan tepat. Dengan adanya panduan di jalan ini, kita dapat menapakinya dengan benar. Ini yang disebut praktik sesuai sila. Jika kita menyimpang dari sila yang benar dan mengambil sila sesat milik orang lain, itu tidaklah benar.Dikatakan, “Tidak memahami sila Tathagata, menyesatkan diri sendiri dengan sila sesat.” Perbedaan antara sila sesat dan sila benaradalah jika sila sesat dipraktikkan, maka akan terus menjerumuskan ke arah kesalahan. Contohnya, pada zaman Buddha hidup, di India terdapat banyak ajaran luar yang dipraktikkan oleh para brahmana. Mereka memiliki metode praktik yang beragam. Ada yang berlatih menggunakan api, air, ada pula yang mengikuti cara hidup sapi dan anjing. Saat melihat cara hidup sapi dan cara hidup anjing, mereka mengira dengan mengikuti cara itu, berarti mereka menjalankan sila yang benar. Ini juga salah.Yang seperti ini bukanlah ajaran Buddha. Jika begini, kita sudah keluar jalur. Dengan mempraktikkan sila yang sesat,kita disebut mengambil pemahaman sesat. Ini adalah pemahaman kita sendiri, bukan ajaran Buddha. Kita mengambil sila sesat yang dipraktikkan orang lain.
Dengan demikian, kita tidak menanam sebab yang benar. Ini juga disebut pandangan salah tentang sila. Kita tidak mau memahami sebab yang benar. Kita enggan menaati sila yang benar. Ini tidak benar. Contohnya, masyarakat masa kini sangat kacau. Dari mana sumber kekacauan masyarakat? Saya sering berkata bahwa semua berawal dari pikiran.Contohnya, perihal berbicara dengan yang lebih tua. Orang tua zaman sekarang menghela napas saat melihat anak muda masa kini. “Mengapa anak muda sekarang bisa seperti ini?” “Tidak paham etika.” Artinya, anak muda zaman sekarang telah menyimpang dari etika. Mengapa bisa begitu? Etika antarmanusia mengapa bisa menyimpang? Mungkin disebabkan oleh lingkungan, mungkin juga karena dalam jangka waktu yang lama, dalam jangka waktu yang lama, yakni selama puluhan hingga ratusan tahun, tepatnya di awal abad ke-20, dunia sudah dilanda perang besar. Mulanya, tiada dendam antarsesama manusia, tetapi mereka saling membunuh. Mereka membunuh orang yang tak berdosa. Saat peperangan terjadi, banyak orang yang tidak bersalah ikut terbunuh. Pada masa Perang Dunia ke-2, kita tahu ada sebuah peristiwa yang kini diperingati setiap tahun, yakni pengeboman Hiroshima.
Saat itu banyak orang menjadi korban. Zat radioaktif menyebar di udara dan tidak hilang dalam waktu lama. Ini membawa luka fisik dan batin bagi banyak orang. Ini akan menciptakan rantai sebab akibat. Tubuh dan batin warga di sana amat tersiksa selama puluhan tahun. Akibatnya, batin orang di masyarakat terus mengalami penyakit. Tubuh didera penyakit langka, sedangkan batin didera penyakit psikologis. Berbagai penyakit terus bermunculan. Berbagai penyakit terus bermunculan. Jadi, kita harus memperhatikan hal ini. Di suatu surat kabar, salah satu halamannya memuat bahwa di Taiwan ditemukan “penyakit ayam sabung”. Kita seharusnya tahu apa itu ayam sabung. Kita seharusnya tahu apa itu ayam sabung. Saat melihat lawannya, ayam sabung selalu ingin berkelahi. Ada pula sejenis penyakit psikologis yang juga dialami manusia masa kini. Penyakit ini disebut “gangguan tingkah laku dissosial agresif akut”. Ini adalah nama yang sangat panjang. Penyakit ini tergolong langka. Kini penyakit seperti ini mulai bermunculan. Penyakit ini sudah ditemukan di Nantou.
Ada seorang siswa kelas 2 SMP yang perangainya terus berubah. Berubah bagaimana? Berubah mendekati “penyakit ayam sabung”. Ketika melihat orang lain, dia ingin berkelahi atau ingin memukul orang itu. Karena ada pemikiran seperti ini, dia tidak bisa tinggal diam di rumah. Kemudian, tiba-tiba dia meninggalkan rumah. Semua orang terus mencarinya. Setelah ditemukan, dia akan mengulanginya kembali. Begitu melihat orang, dia ingin memukulnya. Begitu melihat orang, dia ingin berkelahi. Dia bahkan bisa mengacungkan pisau. Hal ini membuat ibunya, ayahnya, dan anggota keluarganya sangat menderita. Mereka khawatir akan dilukai anak ini, juga takut jika anak ini membuat onar di luar atau melakukan kesalahan besar yang melukai orang lain dan membawa gangguan bagi masyarakat. Jadi, ibunya sangat khawatir. Ibunya sudah berusaha mengajari dan membimbingnya, tetapi dia tidak mendengar nasihat ibunya. Dia bahkan membanting ibunya. Dia bahkan membanting ibunya. Ibunya entah harus bagaimana. Ibunya meminta tolong ke mana-mana, tetapi tak ada yang berhasil. Dia juga sudah meminta dokter memeriksa anaknya, Dia juga sudah meminta dokter memeriksa anaknya, tetapi dokter juga tak berdaya. Ibunya sangat ketakutan. Dia juga meminta bantuan kepada polisi agar dapat memberi pendidikan yang aman bagi anaknya, tetapi juga tidak berhasil. Jadi, ibunya ini sungguh menderita, bahkan sempat berniat untuk bunuh diri.Melihat kondisi putranya yang seperti itu, sang ibu merasa tidak tahan.
Namun, dia tidak rela meninggalkan keluarganya sehingga membatalkan niat bunuh diri. Kemudian, dia segera menulis surat untuk memohon bantuan kepada seorang hakim. Berhubung polisi tidak bisa membantu, sang ibu menulis surat kepada seorang hakimdengan harapan agar hakim ini dapat memberi anaknya pendidikan yang sesuai agar bisa kembali ke arah yang benar. Sang ibu sudah meminta bantuan ke banyak institusi. Berhubung anaknya tidak berhasil dinasihati dan tidak bisa dididik, maka dia meminta bantuan pihak luar. Namun, sang anak tetap bertindak semaunya. Sang ibu sudah tak berdaya.Di rumah, anak ini biasanya hanya terpaku pada televisi. Saat penyakitnya belum kambuh, dia selalu menonton televisi, terutama melihat tayangan kekerasan. Jadi, ibunya menasihati, “Kamu jangan menonton acara seperti ini lagi.” Sang anak malah menjawab ibunya, Sang anak malah menjawab ibunya, “Saya merasa diri saya belum cukup jahat.” “Saya ingin menonton televisi untuk belajar untuk menjadi lebih jahat.” Lihatlah, dia merasa dirinya belum cukup jahat. Dia ingin menonton televisi untuk belajar lebih banyak kejahatan. lebih banyak kejahatan.
Masalah seperti ini, sesungguhnya adalah masalah masyarakat ataukah masalah keluarga? Kita sungguh sulit memahaminya. Keluarganya adalah keluarga biasa. Mereka tinggal di Nantou. Nantou seharusnya merupakan daerah yang sederhana. Namun, mengapa di sana ada anak seperti ini? Arah pikirannya sangat menyimpang sehingga para psikolog yang menganalisis kecenderungan sikap yang menganalisis kecenderungan sikapnya menyatakan bahwa dia mengidap penyakit. Dengan kata lain, dia menderita “penyakit ayam sabung”. Ini sungguh mengkhawatirkan. Jika penyakit ini terus berkembang, maka bukan hanya menambah kekhawatiran orang tuanya, melainkan juga menjadi kekhawatiran masyarakat. Masyarakat adalah gabungan dari banyak keluarga yang menjadi satu keluarga besar. Jika banyak orang yang pikirannya menyimpang, maka masyarakat tentu akan khawatir. Jadi, kita harus tahu bahwa ini didasari oleh kesesatan, ketamakan, dan kemelekatan. Pikiran seperti ini adalah pikiran keliru.
Keliru berarti tidak berpijak pada kenyataan. Orang seperti ini melekat pada hal-hal yang tidak nyata.Acara televisi zaman sekarang Acara televisi zaman sekarang mengandung banyak kekerasan dan mengarahkan pada ketamakan semu. Jadi, media massa zaman sekarang sungguh dapat mengarahkan orang ke arah yang menyimpang. Kita mempelajari ajaran Buddha demi menenangkan batin kita. Batin kita harus jernih, tekad kita harus luhur, serta teguh tak tergoyahkan. Batin kita harus dijaga kemurniannya. Bagaimana pun kondisi di luar, batin kita jangan sampai terpengaruh. Melihat dunia yang penuh gejolak dan banyak orang yang menderita di masyarakat, kita harus memperkuat tekad kita. Jadi, tekad kita harus luas dan luhur. Kita harus memperbesar tekad kita. Ikrar kita pun harus diperkokoh. Kita harus berusaha menenangkan hati seitap orang agar masyarakat menjadi lebih damai. Jika bertambah satu orang yang batinnya tenang, maka keharmonisan pun akan bertambah. Jika semua orang dapat menenangkan batin dan hidup dalam keharmonisan, bukankah akan tercipta masyarakat dan dunia yang damai? Jadi, yang paling mengkhawatirkan adalah pikiran manusia. Saat ketamakan dan kekeliruan timbul, pikiran manusia akan penuh kemelekatan. Dengan begitu, pikiran pun menjadi sakit.
Melekat berarti keras kepala. Saat kemelekatan ini mencapai tahap ekstrem, siapa pun tak mampu menasihati. Orang seperti ini bahkan tidak akanĀ bertindak patut terhadap orang tua sendiri. Dengan begitu, dia tak akan bosan-bosannya melakukan hal-hal yang tidak pantas. Jadi, Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus bersungguh hati. Jangan biarkan pikiran kita bergejolak karena pikiran yang begejolak akan sulit ditenangkan kembali. Dalam kehidupan sehari-hari, orang dan masalah yang kita hadapi adalah kondisi yang menjadi tempat bagi kita untuk menempa batin. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.