Sanubari Teduh – 237 – Sebelas Kecenderungan Umum Bagian 05
Saudara se-Dharma sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, saat bertemu suatu kondisi di jalan pelatihan diri, cara apa yang harus kita gunakan untuk menyelaraskan pikiran kita? Inilah poin ajaran yang Buddha berikan berdasarkan kemampuan masing-masing makhluk. Kita mengklaim bahwa kita mempelajari ajaran Buddha. Benar, kita mempelajari ajaran Buddha. Namun, kita juga harus tahu tahapannya. Saya sering berkata kepada kalian, “Jika tidak menapaki Jalan Bodhisattva, maka tingkatan kita akan tetap jauh dari Buddha.” Jadi, kita harus menjalankan praktik nyata dengan tekun di Jalan Bodhisattva. Arah kita tak boleh menyimpang sedikit pun. Jadi, bagaimana menapaki Jalan Bodhisattva? Sesuai tahapannya, yang pertama adalah demi makhluk hidup. Makhluk hidup memiliki penderitaan yang berwujud, juga memiliki penderitaan yang tidak berwujud. Demi melenyapkan semua ini, kita harus bertekad dan berikrar. Akan tetapi, kita juga merupakan makhluk hidup. Kita juga memiliki penderitaan yang berwujud. Yang berwujud maksudnya adalah yang bisa dilihat, bisa didengar, dan bisa dirasakan. Dalam kehidupan sehari-hari, bukankah aktivitas melihat, mendengar, dan merasakan yang membuat pikiran kita bergejolak? Seluruh noda batin dan rintangan karma dipicu oleh segala yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Jadi, ini adalah penderitaan yang berwujud.
Jika orang lain memiliki penderitaan ini, maka sesungguhnya kita juga sama. Jika kita ingin melenyapkan penderitaan orang lain, yaitu penderitaan yang berwujud, bukankah penderitaan yang kita miliki juga harus dilenyapkan? Jika kita sendiri tidak melenyapkannya, Jika kita sendiri tidak melenyapkannya, bagaimana kita membantu orang lain bebas dari derita yang berwujud? Namun, berhubung kondisi yang ada bersifat nyata, bagaimana kita bisa menyelamatkan diri sendiri? Hanya satu cara, yakni mengubah kondisi pikiran. Pelatihan diri adalah mengubah kondisi pikiran. Kita memiliki suatu lingkungan dan selalu berhubungan dengan orang yang sama, juga selalu bertemu dengan banyak hal. Ini adalah derita. Namun, kita tahu jelas ini adalah derita, kita tahu pandangan semua makhluk beragam, tabiat semua makhluk pun berbeda-beda. Di tengah pandangan yang beragam dan tabiat yang berbeda-beda, kita bersentuhan langsung dengan banyak orang. Kita tahu inilah yang disebut ladang pelatihan diri. Saya sering berkata kepada kalian, “Semua makhluk adalah sarana pelatihan diri kita.” Jadi, jika kita mengubah kondisi pikiran, bersyukur atas segala kondisi yang ada untuk berlatih, kita akan dapat menaklukkan pikiran kita. Jadi, dari sepuluh gelar Buddha, salah satunya adalah “Penakluk”. “Penakluk” di sini menggambarkan penjinak yang dibutuhkan untuk menaklukkan binatang buas. Sesungguhnya, di dunia juga banyak orang yang khusus melatih binatang buas. Sesungguhnya, kita sebagai praktisi Buddhis juga hendaknya menjadi “Penakluk” untuk menjinakkan diri sendiri. Kita sendiri memiliki tabiat buruk yang keras.
Tabiat buruk yang keras tidak hanya melukai orang lain, tetapi juga melukai diri sendiri. Jadi, kita melatih diri adalah demi makhluk hidup. Kita sendiri harus terlebih dahulu menaklukkan tabiat buruk kita yang keras. Sesungguhnya, hakikat sejati kita bersifat murni, penuh welas asih, dan lembut. Namun, tabiat yang sudah terpupuk harus kita atasi karena tabiat ini telah menutupi hakikat kita. Akibatnya, kita tidak suka melihat orang lain, tidak nyaman melihat suatu hal. Jadi, kita melatih diri untuk menerima ajaran Buddha dan berusaha berada dekat dengan semua makhluk agar saat melihat kita atau mendengar suara kita, semua makhluk dapat membuka hati dan menerima bimbingan dengan sukacita. Untuk itu, kita harus terlebih dahulu menaklukkan diri sendiri. Jadi, setiap orang adalah wadah pelatihan diri bagi kita. Jika kita malah melekat dalam pelatihan diri, maka penderitaan berwujud saja tak akan dapat kita atasi, terlebih lagi selain penderitaan berwujud, masih ada penderitaan batin yang tak berwujud, baik batin kita, batin orang lain, maupun batin semua makhluk, banyak sekali. Bagaimana kita menaklukkan semuanya? Untuk itu, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus menaklukkan diri sendiri terlebih dahulu agar tekad kita teguh dan pemikiran kita benar. Dengan begitu, barulah kita bisa membimbing orang lain. Di dalam 11 Kecenderungan Umum, ada 7 Pandangan. Kita sebelumnya telah mengulas hingga pandangan ke-5. Sekarang kita akan mengulas pandangan yang ke-6, yaitu pandangan salah tentang sebab dan buah. Mengenai pandangan salah tentang sebab dan buah, jika kita tamak akan buah dan terus mendambakan hasil dalam melatih diri, seperti ingin cepat mencapai pencerahan, maka kita harus tahu bahwa dalam pelatihan ini, Buddha saja harus melewati tiga asamkhyeya kalpa. Kita merasa waktu tersebut amat panjang. Sesungguhnya, sampai kapan kita harus berlatih? Buddha berkata bahwa kita harus berlatih hingga batin tidak tergoyahkan, mulai dari satu hari, tujuh hari, bahkan hingga 49 hari, batin kita tidak tergoyahkan. Bukankah Sutra Amitabha ada mengulas hal ini? Namun, apakah kita mampu, dalam waktu yang lama, seraya menghadapi semua makhluk, menjaga batin kita tetap teguh?
Apakah begitu mudah? Sangat sulit. Jika begitu sulit, bagaimana buah bisa dicapai? Jadi, banyak orang mencoba mencari jalan pintas untuk lebih cepat sampai pada tujuan. untuk lebih cepat sampai pada tujuan. untuk lebih cepat sampai pada tujuan. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus berpegang pada tekad dan menjalankan ajaran. Kita harus mempertahankan tekad untuk berjalan di Jalan Bodhisattva. Banyak orang merasa ini sangat sulit, maka mudah menyimpang dan mengikuti ajaran luar. dan mengikuti ajaran luar. Dengan begitu, mereka pun menyimpang dengan cepat. Mereka tidak memahami hukum sebab akibat. Mereka tidak tahu bahwa benih harus ditanam dengan baik. Benih atau sebab adalah langkah kita dan arah yang kita tuju. Ini yang disebut benih atau sebab awal. Ini sangat penting. Namun, banyak orang tidak tahu titik awal ini dan bagaimana harus memulai. Walaupun berdiri di titik awal itu, mereka juga tidak tahu arah yang dituju. Jadi, mereka tidak membina sebab yang benar. Jadi, mereka tidak membina sebab yang benar. Dengan kata lain, mereka tidak memahami rangkaian sebab akibat. Mereka tidak mengerti cara menanam sebab dan tidak memahami bahwa sebab tertentu akan menghasilkan buah tertentu. Mereka juga tidak berpikir sejauh itu. Karena itu, mereka tidak memahami sebab akibat. Terhadap hal yang tidak baik, mereka malah memandangnya baik. Jadi, kini kita sering mendengar konflik agama. Agama dijadikan sumber konflik. Sebagian orang merasa, “Jika saya yakin pada kepercayaan ini, berarti figur dalam kepercayaan ini menjadi pelindung saya.” “Asalkan menjalankan ajarannya, saya akan mendapat karunianya.” “Saya akan selamanya menikmati kebahagiaan surgawi.” Ini adalah pandangan keliru. Sesungguhnya, setiap agama di dunia pada awalnya adalah benar.
Namun, seiring berjalannya waktu, karena kita semua adalah makhluk awam, maka apa pun keyakinannya, kita tetaplah makhluk awam. Sebagai makhluk awam, kita bisa sedikit menyimpang dan akhirnya jauh tersesat. Jika kita berpandangan menyimpang sedikit saja dan mengatakan prinsip yang salah, maka kesalahan ini bisa semakin besar dan membuat kita semakin menyimpang. Jadi, saat mendengar hal yang menyimpang ini di kemudian hari, orang lain mengira bahwa itu adalah ajaran orang suci di masa lampau. Karena itu, mereka asal percaya saja, mengira bahwa itu adalah hal baik. Dengan mengabaikan kondisi saat ini, mereka melukai orang lain. Mereka tidak mempertimbangkan ini. Jadi, mereka hanya berpikir cara itu akan mendatangkan buah yang baik, mengira bahwa dengan begitu mereka akan dilindungi dan akan hidup abadi. Saya teringat seorang dosen dari Amerika Serikat. Saat kami berdiskusi, beliau membicarakan penyimpangan keyakinan. Beliau bercerita bahwa ada keyakinan yang mengajarkan untuk berkorban. Umat diajarkan untuk membela keyakinan mereka. Lalu, muncul penafsiran bahwa jika dapat berkorban bagi keyakinan itu, maka bisa segera terlahir di surga. Di sana mereka akan disambut dengan pesta mewah Di sana mereka akan disambut dengan pesta mewah dan dilayani oleh banyak perempuan cantik. Istana yang megah juga menanti mereka. Jadi, sebagian orang berpikir bahwa dengan berkorban demi kepercayaan itu, kelak mereka pasti mendapat kebahagiaan abadi. Ini adalah pandangan menyimpang dalam keyakinan. Mendengar ucapan dosen ini, saya merasa di sini ada penyimpangan pemahaman. saya merasa di sini ada penyimpangan pemahaman. Jika demikian, maka sungguh mengerikan. Mereka menganggap hal yang tidak baik akan membawa kebaikan. Pandangan ini jelas-jelas tidak baik karena bisa merusak dunia dan membinasakan kehidupan. Menurut ajaran Buddha, ini adalah kejahatan. Berhubung itu adalah hal buruk, bagaimana bisa membawa kebaikan? Jadi, jika pemahaman terhadap keyakinan menyimpang sedikit saja, maka akan membawa keburukan. Jika menganggap keburukan dapat membawa kebaikan, bukankah ini pemikiran yang menyimpang? Anak muda zaman sekarang, meski bukan karena pandangan salah terhadap agama, pandangan mereka juga tercemar oleh media massa. Mereka disesatkan oleh media massa dan terbuai oleh program televisi. Karena itu, pikiran anak muda mulai kacau. Ini adalah masalah psikologis. Ajaran Buddha berharap kita bisa berpengetahuan dan berpandangan benar, serta memahami sebab akibat. Jika tidak memahami sebab akibat dengan benar, lalu melekat pada ajaran sesat, dan merasa bahwa praktik ajaran tersebut dapat segera membawa pada pencapaian buah, maka ini adalah keliru.
Kalian seharusnya masih ingat sebuah cerita yang saya ulas tentang Buddha yang membawa Nanda. Karena Nanda selalu ingin kembali ke keduniawian, maka Buddha membawanya ke neraka, lalu ke surga. Di surga dia melihat perempuan cantik dan bangunan indah, lalu berkata kepada Buddha, “Istana di sini sangat megah dan begitu indah.” “Banyak pekerja sedang mendekorasi bangunan itu dan begitu banyak perempuan cantik di dalamnya.” Buddha lalu berkata, “Cobalah engkau tanya mereka.” Nanda lalu bertanya kepada mereka. Mereka menjawab, “Kami menyiapkan ini bagi seorang murid Buddha yang bernama Nanda.” “Sekarang dia sedang melatih diri dan kelak akan terlahir di sini.” Nanda lalu bertanya kepada para perempuan cantik. Mereka menjawab, “Kami di sini akan melayani Nanda.” Nanda sangat senang. Dia berpikir, “Kelak istana ini milikku, kelak para perempuan ini akan melayaniku.” Jadi, Nanda sangat senang. Kemudian, Buddha membawa Nanda ke neraka. Di neraka, Nanda melihat kobaran api yang begitu besar serta minyak yang mendidih. Nanda bertanya, “Apa yang tengah kalian lakukan?” “Mengapa kalian di sini menyalakan api dan menyiapkan minyak mendidih di dalam kuali yang besar?” Para penjaga menjawab, “Kami tengah menunggu Nanda.” “Dia melatih diri dengan pandangan menyimpang, kelak kuali ini adalah miliknya.” “Jadi, kami sekarang tengah mempersiapkan api.” Ini bergantung hanya pada pikiran. Nanda terkejut setelah melihatnya.
Di perjalanan pulang, Nanda melihat sekumpulan kera. Dia lalu bertanya, “Mengapa ada begitu banyak kera?” Buddha menjawab, “Tahukah engkau para kera ini jantan atau betina?” Nanda menjawab, “Tidak tahu.” Buddha berkata, “Dekatilah dan lihat lebih jelas.” Nanda lalu berkata, “Kebanyakan adalah betina.” Kemudian Buddha bertanya, “Lihatlah, apakah kera-kera ini cantik?” Nanda menjawab, “Tidak.” Buddha kembali bertanya, “Mana lebih cantik, para perempuan surga ataukah kera-kera ini?” Nanda menjawab, “Tentu saja perempuan surga.” Buddha melanjutkan, “Tahukah engkau, setelah berkah para perempuan surga itu habis, mereka terlahir sebagai kera-kera ini?” Nanda merenung, “Rupanya manusia seperti ini.” Jadi, Nanda bertekad untuk bersungguh-sungguh melatih diri. Karena itu, di antara murid Buddha, Nanda terkenal teguh pada sila. Berpegang teguh pada tekad dan ajaran sangat penting. Intinya, jika keyakinan kita menyimpang, maka akan membawa pada banyak kesalahan. Pelatihan diri seperti ini akan mudah membangkitkan kebencian. Tanpa kebencian, kita tak akan melukai orang lain. Jadi, keyakinan seperti ini akan membina orang untuk melukai orang lain. Demi diri sendiri, mereka melukai orang lain. Ini yang disebut pandangan salah tentang sebab dan buah. Suatu buah atau akibat disebabkan oleh benih dan proses yang dijalani. Jika pemikiran menyimpang dan melekat pada buah pencapaian, maka ia dapat memicu tindakan yang menakutkan, seperti bangkitnya kebencian dan niat untuk membunuh orang. Jadi, akibatnya akan sangat mengerikan. Praktisi Buddhis harus melatih pikiran dan perilaku dengan baik. Pikiran dan perilaku harus benar. Tabiat keras kita harus ditaklukkan. Jadi, kita tidak boleh menyimpang sedikit pun. Apabila kita mudah marah ketika melihat suatu hal, maka akumulasi dari kemarahan ini akan mendatangkan akibat yang tak terbayangkan. Jadi, pandangan salah tentang sebab dan buah berarti melekat pada tujuan yang salah. Dengan adanya kemelekatan ini, manusia akan mudah memupuk kebencian dan melukai orang lain. Karena itu, kita harus selalu menjaga hati dengan baik. Jika bisa memegang teguh tekad dan ajaran, jalan akan terasa lapang. Harap semua selalu bersungguh hati.