Sanubari Teduh – 238 – Sebelas Kecenderungan Umum Bagian 06
Saudara se-Dharma sekalian, saat melihat tanah dan pepohonan yang subur, kita merasa sangat nyaman. Hidup di dalam lingkungan yang nyaman, apakah di hati setiap orang tumbuh rasa syukur? Dalam kehidupan ini, kita kerap mengabaikan rasa syukur dan balas budi. Semua makhluk mudah mengabaikan hal ini. Bodhisattva tidak meminta balasan pada semua makhluk. Namun, semua makhluk pun hendaknya selalu bersyukur kepada Bodhisattva. Orang seperti apa yang disebut Bodhisattva? Orang yang membawa manfaat bagi hidup kita harus kita sebut sebagai Bodhisattva. Orang seperti apa yang memberi manfaat bagi kehidupan kita? Dimulai dari orang tua kita. Orang tua adalah Bodhisattva di dalam kehidupan kita. Mereka melahirkan, memelihara, membesarkan, dan melindungi kita sehingga kita tumbuh tanpa kerisauan. Mereka bahkan menyekolahkan kita. Di sekolah, guru juga adalah Bodhisattva kita. Guru adalah Bodhisattva yang membangkitkan kebijaksanaan kita. Jadi, guru juga adalah Bodhisattva. Selain guru, juga ada sahabat yang membawa manfaat. Sahabat baik dapat saling mendukung dan saling mendampingi. Tentunya, di tengah orang banyak, selain teman yang membawa manfaat, juga ada teman yang tidak baik atau tidak kita senangi. Namun, saya sering berkata, “Di antara tiga orang, kita pasti dapat menemukan guru.” Meski ada orang yang bersikap tidak baik terhadap kita, kita harus tetap bersyukur. Meskipun mereka melukai kita, tetapi karena adanya pengalaman ini, kebijaksanaan kita juga bertumbuh. Ada juga orang yang membawa manfaat bagi kita. Jika kelak di dalam masyarakat, kita mengenal banyak orang yang membantu memajukan usaha, melancarkan pekerjaan, atau memperbaiki kehidupan kita, ini juga adalah Bodhisattva di dalam kehidupan kita.
Apabila ada orang yang melukai kita, kita juga harus tahu bahwa ini merupakan pelatihan untuk kita. Karena itu, kita juga harus menganggapnya sebagai orang yang menempa kita di dalam hidup, orang yang menumbuhkan pengetahuan kita. Terhadap orang yang membantu kita dan membuat kita berhasil, kita harus bersyukur. Jika memiliki kekuatan untuk membantu orang lain, kita juga harus bersyukur. Insan Tzu Chi sering mengatakan, “Bersumbangsih tanpa pamrih.” Tidak hanya tanpa pamrih, tetapi juga sambil mengucap syukur. Selain tidak mengharapkan balasan, kita berterima kasih kepada orang yang mau menerima bantuan kita. Saya sering berkata, “Melihat penderitaan baru bisa menghargai berkah.” Jika kita tidak pernah melihat makhluk yang menderita, bagaimana kita tahu bahwa kita lebih memiliki berkah dibanding orang lain? Jadi, “Melihat penderitaan baru bisa menghargai berkah.” Orang yang menerima bantuan kita, bukankah sedang memberi manfaat bagi kita? Ya, mereka juga adalah Bodhisattva di dalam hidup kita. Jika hidup di dalam kondisi seperti ini, kita tidak hanya bersyukur atas segala sesuatu di alam, bahkan semua orang di sekitar kita juga dapat membuat kita bersyukur. Namun, banyak orang kekurangan satu hal ini, yaitu kurang dapat senantiasa bersyukur terhadap segala hal dan semua orang. Kita ambil contoh segala tanaman di alam. Di alam semesta ini, segala tanaman tumbuh di tanah. Tanah memperlakukan semuanya dengan setara. Bumi ini penuh kesetaraan. Benih apa pun yang ditanam, tanah tetap membuatnya tumbuh. Saat benih yang tidak baik ditanam, tanah juga akan membuatnya tumbuh. Orang baik yang hidup di atas tanah juga akan tumbuh. Orang jahat yang hidup di atas tanah juga akan tumbuh. Tanah juga adalah Bodhisattva di dalam hidup kita. Kita bergantung pada tanah untuk hidup. Akan tetapi, apakah tanah saja cukup? Tidak. Kita juga memerlukan air. Jadi, kita harus selalu bersyukur pada air. Selain bersyukur pada tanah dan menyayangi bumi, kita juga harus bersyukur pada air dan menghargai air. Jika bisa seperti ini, maka dalam kehidupan sehari-hari, kita akan selalu memiliki rasa syukur.
Jika kita dapat memahami bumi ini dan sifat air yang dapat mengairi semuanya… Bumi menumbuhkan semuanya dengan adil. Dengan adanya air, baik air hujan yang turun, embun yang timbul, maupun dari sumber yang ada di bawah tanah, makhluk hidup tidak kekurangan air. Jadi, air dan tanah membuat segala sesuatu dapat tumbuh dengan subur di muka bumi dengan subur di muka bumi sehingga seluruh makhluk hidup di bumi bisa tumbuh subur. Bumi tidak mengharap imbalan pada makhluk hidup, bagai Bodhisattva yang tidak mengharapkan imbalan pada makhluk hidup. Bersumbangsih tanpa pamrih seperti inilah yang disebut Bodhisattva. Namun, kita sebagai manusia, hendaknya tahu bersyukur. Meskipun mereka tidak mengharap, kita sendiri harus tahu bersyukur. Kita harus bersyukur kepada seluruh makhluk hidup yang telah mendukung kital. Jadi, jika hati kita bisa selalu bersyukur, bukankah ini sangat baik? Segala sesuatu tumbuh subur di bumi, iklim berjalan selaras, dan semua orang hidup damai, bukankah ini merupakan gambaran yang indah? Suasana yang indah seperti ini, bukankah ini yang disebut tanah suci? Berhubung setiap orang berada di suasana yang indah ini, mengapa bisa timbul banyak noda batin dan kemelekatan? Bukankah sangat menderita? Ini disebabkan oleh kurangnya rasa syukur. Penderitaan yang begitu banyak berasal dari hakikat kita yang tercemar. Jadi, yang seharusnya bersyukur, kita malah tidak tahu untuk bersyukur.
Oleh karena itu, timbul banyak noda batin. Cinta duniawi, permusuhan, dendam, dan kebencian timbul dari pikiran kita. Jadi, kita membahas Sebelas Kecenderungan Umum. Kondisi pikiran seperti ini kekurangan rasa syukur seperti yang kita bahas tadi. kekurangan rasa syukur seperti yang kita bahas tadi. kekurangan rasa syukur seperti yang kita bahas tadi. Sebelumnya kita telah membahas pandangan keakuan. Lawan dari keakuan adalah ketanpaakuan. Ada pula eternalisme dan nihilisme. Ada pula pandangan salah tentang sila, yakni mengambil sila sesat orang lain untuk digunakan pada kehidupan kita. Selain itu, ada pula orang yang tidak menanam benih sebab yang benar. Mereka hanya mengejar hasil yang instan. Ini semua adalah yang kita bahas sebelumnya, yaitu praktik yang tidak sesuai kebenaran. Dengan begitu, kita akan menciptakan banyak karma buruk. Kini kita akan membahas pandangan keraguan. Keraguan mudah menimbulkan kebodohan karena ragu berarti tidak memahami kebenaran. Walau kebenaran yang sesungguhnya ada di depan kita, tetapi kita tidak bisa mempraktikkannya sesuai ajaran. Kita ragu. Keraguan dapat menyebabkan penyimpangan. Jadi, keraguan membahayakan dan tidak bermanfaat bagi semua makhluk. Terutama kita praktisi Buddhis, jangan sampai memiliki keraguan. Misalnya, kita melekat pada keakuan. Di dalam seluruh Dharma, apakah ada “aku”? Tidak. Kita telah memahaminya dan sering berkata, “Semua Dharma tanpa inti.” Sama seperti pohon pisang raja. Jika kita terus mengupasnya sampai habis, di dalamnya sama sekali tidak ada satu inti yang solid. Semua hanyalah lapisan-lapisan kulit. Bukankah kita seperti itu? Terhadap sesuatu yang berwujud di dunia, kita menganggapnya milik kita atau menginginkannya. Semua ini adalah keakuan. “Jabatan ini seharusnya milikku.” “Keuntungan itu seharusnya milikku.” Mengapa ada begitu banyak keakuan? “Benda ini milikku, reputasi ini dan keuntungan ini juga milikku.” Kehidupan manusia hanya beberapa puluh tahun.
Setelah napas berhenti, apa gunanya semua ini? Tidak ada. Yang ada hanya karma yang kita ciptakan. Jadi, di dunia ini, kita harus memahami kebenaran dengan jelas bahwa segalanya adalah tanpa inti. bahwa segalanya adalah tanpa inti. Namun, jika melekat pada ketiadaan, apakah ini benar? Tidak benar. Jelas-jelas ada. Lihat, kini banyak tunawisma di jalan, terutama di luar negeri. Mereka merasa hidup bukanlah apa-apa. “Mengapa saya harus lelah bekerja?” “Saya mau bersantai saja.” Mereka enggan bertanggung jawab dan tidak mau melakukan pekerjaan apa pun. Mereka tidak mau berusaha, maka terus berkeliaran di jalan. Orang seperti ini juga ada. Apakah sikap ini benar? Tidak benar. Ada orang berkata, “Saya mau bersantai sedikit.” Ini juga sama. Sikap tidak takut merusak integritas diri ini berarti tidak menghargai diri sendiri. Ada orang yang berpakaian tidak senonoh. Mereka tidak memikirkan martabat diri. Bagaimana bersikap layaknya manusia? Manusia zaman sekarang kadang berpakaian tidak senonoh. Mereka berkata, “Manusia datang ke dunia sama dengan makhluk hidup lainnya.” “Hewan saja tidak mengenakan pakaian, mengapa kita harus begitu repot mengenakan pakaian?” Ada juga olahraga yang tidak berpakaian. Inilah paham ketiadaan, yaitu mengabaikan segala sesuatu. Artinya, juga tidak tahu malu Artinya, juga tidak tahu malu dan tidak tahu tata krama. Mereka penuh ketidaktahuan. Banyak hal yang memang benar-benar ada, bagaimana bisa dikatakan tidak ada? Berhubung kita lahir sebagai manusia yang memiliki akal budi, maka kita harus memiliki tata krama dan tahu malu. Kita harus memiliki tata krama terhadap orang. Kita harus tahu bagaimana mengasihi, menghormati, dan bersyukur pada orang lain.
Inilah yang harus dimiliki oleh manusia, yaitu tata krama. “Inilah jalan yang ingin ‘aku’ tapaki.” Siapa bilang tiada “aku”? Setiap orang memiliki “aku” dan harus menaati tata krama yang “ada”. Inilah yang seharusnya ada di dalam kehidupan. Jika dikatakan tiada “aku”, buktinya kita harus hidup, harus “ada” makanan bergizi, harus “ada” tubuh, harus “ada” tenaga, bagaimana bisa dikatakan semuanya tidak ada? Ada. “Saya ingin ‘ada’ tubuh yang sehat, saya ingin ‘ada’ tenaga yang cukup, saya ingin ‘ada’ pemikiran yang benar, dan sebagainya.” Ada. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita tidak boleh melekat. Kita harus berpegang pada Jalan Tengah. Kita juga tak boleh melekat pada kekekalan. “Ada.” “Master berkata jangan melekat pada ketiadaan, karena segala sesuatu memang ada.” “Ada berarti kekal.” Jika begini, bukankah berarti kita kembali melekat pada keakuan dan keberadaan? Dunia sungguh tidak kekal meskipun ada alam manusia, ada kehidupan kita, ada kehidupan di sekitar kita, dll.
Tadi saya telah mengatakan bahwa segala sesuatu di alam ini merupakan Bodhisattva yang harus kita syukuri. Bumi juga memberi kita kehidupan. Kita harus bersyukur. Begitu pula terhadap air. Kita harus bersyukur atas semua ini. Begitu pula terhadap manusia. Mulai dari orang tua hingga orang yang bersentuhan langsung dengan kita, semuanya benar-benar ada. Namun, meski ada, tetapi semuanya tidak kekal. Begitu pula kalian dan saya. Walaupun saya adalah guru kalian dan kalian harus ada tata krama terhadap saya, harus ada rasa hormat, harus ada rasa syukur. Dari sisi kalian, kalian pasti menganggap saya ada, tetapi apakah saya dapat hidup selamanya? Tidak. Saya juga tidak luput dari hukum alam. Suatu hari saya juga tiada. Meski saat ini saya masih ada di sini dan memiliki banyak murid, sesungguhnya para murid saya pun sama, suatu hari, baik karena masalah perasaan maupun jalinan jodoh kehidupan, hubungan mereka dengan saya juga tidak kekal. Jadi, jika memahami ketidakkekalan, kita harus lebih menghargai saat ini. Jadi, kita harus memahami ketidakkekalan.
Jangan melekat pada kekekalan. Jangan berpikir, “Saya hari ini tidak bersumbangsih dan tidak bersyukur, tidak apa-apa, masih ada hari esok.” “Hari ini saya bersikap tidak baik, besok baru saya perbaiki.” Ini tidak mungkin. Kita harus selalu tahu untuk segera bertobat. Kita harus bertobat dan segera memperbaiki diri. Jangan menunggu hari esok untuk berubah. Sesungguhnya, kita tak tahu apakah masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Jadi, kita harus selalu memiliki pandangan ketidakkekalan. Jangan melekat pada kekekalan. Saat diajarkan untuk tak melekat pada kekekalan, kadang manusia malah melekat pada ketidakkekalan. “Bukankah semuanya tidak kekal?” “Kalau begitu, untuk apa saya banyak bersumbangsih?” “Di dunia ini segalanya tidak kekal.” “Apa lagi yang perlu saya lindungi?” Ini juga tidak benar. Intinya, kita harus berjalan di Jalan Tengah. Kita harus sungguh-sungguh menjaga kehidupan kita dan pikiran kita saat ini. Kita juga harus menjaga dengan baik sikap kita saat menghadapi segala hal dan semua orang. Saat menghadapi suatu hal, sikap apa yang harus kita miliki? Bersyukur. Saat menghadapi orang, sikap apa yang harus kita miliki? Menghormati. Jadi, bersyukur, menghormati, mengasihi tumbuh dari pikiran kita. Saudara sekalian, sungguh, jangan kita memiliki keraguan.
Dari pandangan ketujuh, yakni keraguan hingga semua yang akan kita bahas tidak lepas dari kehidupan kita, juga tidak lepas dari ajaran yang kita terima. Mana yang benar dan mana yang tidak benar, semua sudah dibabarkan dengan jelas. “Ini tidak benar.” “Ini benar.” “Ini disebut menyimpang.” “Menyimpang disebut sesat.” “Yang benar disebut kebenaran.” Apakah setiap orang memahaminya? Jadi, berbicara mengenai keraguan, kita harus melakukan penelusuran kembali. Jika kita memiliki keraguan, hati kita akan diliputi kebimbangan dan tidak bisa mengambil keputusan. Saat ada Dharma yang benar di hadapan kita, kita tidak mengerti untuk segera menyerapnya dan memanfaatkannya, inilah yang disebut keraguan. Jika timbul keraguan dalam batin, kita tak akan dapat memegang teguh tekad dan ajaran. Jika tekad tidak teguh, kita akan mudah ragu. Jika tekad tidak teguh, keraguan akan mudah timbul. Dari keraguan, timbullah kebodohan. Jika kita diliputi keraguan, maka kebodohan akan semakin tebal. Huruf “bodoh” dalam bahasa Mandarin terdiri atas huruf “ragu” dan “penyakit”. Akibat adanya keraguan, batin kita bagai didera penyakit sehingga terjadilah kebodohan. Bodoh berarti tidak memahami kebenaran. Jika kita tidak memahami kebenaran, perbuatan kita akan menanam benih buruk.
Karena itu, kita harus bersungguh hati. Jika kita diliputi banyak kebodohan, bagaimana kita dapat mengembangkan berbagai cara untuk menjalani kehidupan? Kini kita sudah hidup di dunia, maka kita tak dapat mengabaikan Dharma duniawi. maka kita tak dapat mengabaikan Dharma duniawi. Kita harus memahami prinsip yang saya babarkan tadi. Hidup di bumi ini, kita harus memiliki rasa syukur sejak awal, dimulai dengan bersyukur kepada orang tua. Ini yang dinamakan Dharma duniawi. Tata krama dan rasa malu juga merupakan Dharma duniawi. Jadi, Dharma duniawi harus kita pahami dengan baik. Selain memahami, kita harus menerapkannya. Terlebih lagi, kita yang mempelajari ajaran Buddha harus melampaui keduniawian. Selain menjalani hidup dengan baik, kita juga harus melampaui keduniawian. Jadi, kita harus menjalankan misi di dunia dengan semangat nonduniawi. Apa yang dimaksud semangat nonduniawi? Hal-hal dalam hidup dan prinsip kebenaran harus selaras. Semangat nonduniawi adalah prinsip kebenaran. Kita tidak boleh menyimpang dari jalur ini, barulah bisa bersumbangsih di tengah masyarakat. Jadi, prinsip dan hal harus bisa menyatu. Namun, yang paling penting adalah sikap kita. Masih ingatkah kalian, saya pernah mengatakan bahwa jika hubungan antarmanusia dan segala hal harmonis, barulah kita disebut selaras dengan kebenaran? Tujuan kita melatih diri adalah menjadi orang yang sempurna. Untuk menjadi orang yang sempurna, kita harus memiliki pandangan, pemahaman, dan perilaku yang benar. Dengan demikian, secara alami, di dalam segala hal dan prinsip, kita akan sempurna. Jadi, Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha tidak lepas dari segala hal ini. Kita harus selalu menghadapi segala hal dengan rasa syukur dan pikiran yang benar. Jika bisa seperti ini, hubungan antarmanusia dan segala hal akan harmonis, dan berarti telah selaras dengan kebenaran. Janganlah selalu ragu dalam segala hal. Kita harus memilih dengan bijaksana. Jangan ragu terhadap ajaran yang benar. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.