Sanubari Teduh – 239 – Sebelas Kecenderungan Umum Bagian 07
Saudara se-Dharma sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Saya sudah mengatakan ini ribuan kali. Namun, apakah kita sudah menjaga pikiran dengan baik? Sebagai manusia, kita harus melatih diri. Karena sudah bertekad untuk melatih diri, kita harus mengejar prinsip kebenaran. Prinsip kebenaran bisa membantu kita mengikis kegelapan batin. Makhluk awam diliputi kegelapan batin karena tidak memahami kebenaran. Saya sering berkata bahwa Sutra menunjukkan jalan, dan jalan harus dipraktikkan. Kita harus menapaki jalan yang tepat
Jalan itu bisa membimbing kita menuju tataran kebuddhaan. Karena itu, kita disebut sebagai praktisi Buddhis. Dengan berpegang pada prinsip ini, kita terus melangkah maju menuju tataran kebuddhaan. Inilah tujuan kita. Akan tetapi, banyak orang diliputi kegelapan batin dan kehilangan nilai moralitas. Karena itulah, kita harus terus mencari prinsip kebenaran dan mencari jalan kebenaran yang lapang. Kita mencarinya dengan bersusah payah. Setelah menemukannya, kita hendaknya membangun tekad dan ikrar luhur untuk terus melangkah maju tanpa ada keraguan. Manusia selalu memiliki keraguan
Kecenderungan ketujuh dari Sebelah Kecenderungan adalah keraguan. Keraguan bisa menimbulkan kegelapan. Sama seperti matahari di langit. Begitu awan gelap datang, matahari akan tertutup awan. Sinar matahari tidak dapat memancar keluar. Bulan juga berada di langit. Bulan juga berada di langit. Saat tertutup awan, sinar rembulan juga tidak dapat memancar keluar. Kegelapan batin manusia bagaikan awan gelap yang menutupi cahaya kebijaksanaan kita. Awan gelap yang menutupi itu bagaikan kegelapan batin kita. Keraguan paling mudah Keraguan paling mudah menutupi cahaya kebijaksanaan kita
Dari 7 Pandangan dalam Sebelas Kecenderungan, terdapat keraguan dan noda batin. Keraguan terdiri atas keraguan terhadap prinsip dan keraguan terhadap hal. Noda batin terdiri atas noda batin akar dan noda batin turunan. Jumlah keseluruhannya adalah sebelah jenis. Sebelah jenis noda batin ini ada di dalam keseharian kita dan pikiran kita. Mereka ada di dalam kehidupan sehari-hari kita. Saat kita kurang berhati-hati, Tujuh Pandangan, Dua Keraguan, dan Dua Noda Batin akan muncul. Kini kita akan membahas tentang Dua Keraguan. Di dalam Sebelas Kecenderungan, dua jenis keraguan ini termasuk kecenderungan yang kedelapan
Keraguan ini terbagi dua, Keraguan ini terbagi dua, yakni keraguan terhadap prinsip dan keraguan terhadap hal. Keraguan terhadap hal bagaikan kabut. Ini bisa kita umpamakan bagai seseorang yang duduk lama di dalam bukit gua yang gelap. Potensi bajiknya bagai terkubur, enggan bergerak demi kebenaran. “Kabut” berarti tidak tekun dan bersemangat. Banyak kebenaran menjadi menyimpang akibat kondisi duniawi yang diliputi kegelapan batin. Akibatnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita menjadi tidak bisa membedakan yang benar dan salah dan terus terjerat konflik. Kita tidak tahu memilih jalan yang tepat dan membangkitkan keuletan untuk terus melangkah maju
Karena timbul keraguan di dalam hati, kita terus terjerat konflik dan masalah. Inilah “kabut”. Kita tidak bisa melihat prinsip kebenaran. Kondisi ini bagaikan seseorang yang duduk di dalam bukit gua yang gelap. Kondisi ini bagaikan seseorang yang duduk di dalam bukit gua yang gelap. Manusia hendaknya berani melakukan hal yang benar. Selama itu adalah hal baik, kita harus berani dan terus melangkah maju untuk melakukannya. Namun, keraguan membuat kita tidak bisa membangkitkan keberanian. Ini bagaikan seseorang yang duduk di dalam gua yang berkabut
Ini terjadi karena kebijaksanaan kita telah tertutup oleh awan gelap. Inilah keraguan terhadap hal. Inilah keraguan terhadap hal. Di dalam hubungan antarmanusia, ada banyak hal yang perlu kita lakukan. Kita sering berkata, “Memiliki perasaan senasib dan sepenanggungan.” Di dunia ini ada banyak orang yang hidup menderita. Kita harus berpikir bagaimana cara untuk membantu dan mendukung mereka. Setiap hari insan Tzu Chi sangat sibuk. Lihatlah di RS Tzu Chi
Setiap hari relawan kita siap sedia di sana, baik di klinik maupun di kamar pasien. Mereka menghadapi pasien, membantu pasien membersihkan tubuh, memapah pasien berjalan, dan membantu pasien menjalani fisioterapi. Saat ada pasien yang berpikiran tidak terbuka, mereka juga akan memberi bimbingan dan lain-lain. Ini semua membutuhkan keberanian. Saat ada makhluk yang membutuhkan bantuan, kita harus membangun tekad dan kekuatan ikrar. Setelah bertekad, jika kita tidak mengembangkan kekuatan ikrar, maka semua makhluk akan sulit mendapatkan bantuan. Jadi, Bodhisattva harus menghadapi makhluk yang menderita. Selain membangkitkan tekad, juga diperlukan ikrar dan praktik. Jika kita hanya bertekad tanpa disertai ikrar dan praktik, maka para makhluk yang menderita tetap tidak dapat menerima bantuan. Jelas-jelas kita melihat ada orang yang membutuhkan dukungan dan bantuan dari kita, tetapi kita tidak mengambil tindakan karena merasa ragu. “Apakah penyakitnya akan menular kepada kita?” “Jika kita berkata demikian, “Jika kita berkata demikian, apakah orang itu akan salah paham terhadap kita?” Kita tidak bersedia memberi bantuan berupa tenaga dan tidak berani berbagi kebenaran. dan tidak berani berbagi kebenaran
Jika demikian, bukankah kita bagaikan duduk di bukit gua yang gelap? Kita hanya terus merasa ragu tanpa mengembangkan kegigihan kita. Jadi, saat memiliki keraguan, meski jalan yang lapang ada di depan mata, kita tetap tidak bisa menapakinya. Jadi, janganlah kita memiliki keraguan. Inilah keraguan terhadap hal. Selain keraguan terhadap orang dan hal, ada pula keraguan terhadap prinsip. Apa yang disebut keraguan terhadap prinsip? Ini terjadi pada orang-orang yang hidup sembrono dan tidak mendalami kebenaran. Sebelumnya kita sudah membahas orang-orang yang tidak berani membantu orang lain
Kini kita membahas orang-orang yang hidup sembrono. Sikap sembrono dan bermabuk-mabukan sungguh menyia-nyiakan kehidupan. Selain menyia-nyiakan hidup, mereka juga bersikap sesuka hati dan tidak tahu menerapkan kemurahan hati, keadilan, tata krama, dan kebijaksanaan. Mereka bersikap lalai dan tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Mereka berpikir, “Selama saya menyukainya, mengapa tidak boleh?” Karena itulah, mereka mudah berjalan menyimpang. Inilah keraguan terhadap prinsip. Kita harus mendalami kebenaran, baru memiliki jalan untuk ditapaki. Kita harus memegang teguh kebenaran dan berjalan di jalan yang benar. Kita harus menaati norma dan prinsip kebenaran. dan prinsip kebenaran. Orang yang memiliki keraguan tidak dapat menaati norma dan kebenaran
Mereka akan bertindak sesuka hati. Kehidupan seperti ini sungguh sia-sia. Selain tidak memiliki pencapaian apa pun, mereka juga menciptakan karma buruk. Selain tidak bersedia membantu orang, mereka juga banyak melakukan kesalahan karena enggan menaati aturan. Di Meksiko bagian selatan, ada sekelompok pengajar yang melakukan aksi unjuk rasa. Mengapa mereka melakukan aksi unjuk rasa? Mengapa sekelompok kaum intelektual itu Mengapa sekelompok kaum intelektual itu melakukan aksi unjuk rasa? Demi meminta kenaikan upah. Karena merasa upah mereka terlalu sedikit, mereka meminta kenaikan upah. Para guru itu adalah pegawai pemerintah. Para guru itu adalah pegawai pemerintah. Upah mereka tidak bisa dinaikkan sesuka hati. Upah mereka tidak bisa dinaikkan sesuka hati
Harus ada persetujuan badan legislatif dan gubernur untuk bisa menaikkan kenaikan upah. Namun, karena tidak mendapat persetujuan, mereka melakukan aksi unjuk rasa. Selain melakukan aksi unjuk rasa, mereka juga menguasai delapan stasiun radio. Mereka ingin menyiarkan Mereka ingin menyiarkan aktivitas mereka ke seluruh dunia. Mulanya, aksi unjuk rasa itu dimulai oleh segelintir orang. Namun, semakin lama, guru yang ikut serta semakin banyak. Hampir seluruh kegiatan belajar mengajar di wilayah selatan Meksiko terhenti. Aksi itu bahkan berujung pada kerusuhan. Ini membawa kekacauan masyarakat
Dari mana kekacauan itu bermula? Dari pikiran manusia. Sebagai guru, mereka hendaknya mewariskan kebenaran dan keterampilan. Profesi seorang guru sangat mulia. Harapan masa depan terletak pada pendidikan. Pendidikan bertujuan untuk membina insan berbakat. Namun, insan berbakat itu malah menerima pendidikan dari orang seperti itu. Para guru itu saling memengaruhi dan menghasut sehingga kondisi seluruh masyarakat menjadi sangat kacau. Mereka adalah kaum intelektual. Mereka yang menjadi guru adalah kaum intelektual. Sebagai kaum intelektual, hati mereka malah tertutup kegelapan batin. Kegelapan batin apa? Keuntungan
Keuntungan pribadi dan pandangan keakuan. Jadi, pandangan keakuan dan kemelekatan pada keberadaan sangatlah menakutkan. Inilah kegelapan batin. Kegelapan batin dari segelintir orang itu terus memengaruhi banyak orang. Apakah kalian masih ingat ada berapa jenis kegelapan batin? Ada tujuh jenis kegelapan batin atau yang disebut Tujuh Pandangan. Pandangan adalah kegelapan batin. Tujuh pandangan itu meliputi Tujuh pandangan itu meliputi pandangan keakuan, ego, kemelekatan, eternalisme, nihilisme, keraguan, dll. Himpunan sedikit demi sedikit kegelapan batin membuat kita bersikap lalai. membuat kita bersikap lalai. Sebagai guru, mereka memiliki misi untuk membimbing para siswa. Mereka hendaknya mewariskan semangat kemanusiaan dan pengetahuan kepada para siswa agar anak-anak memahami kebenaran dan bisa berjalan ke arah yang benar. Inilah yang disebut mewariskan semangat kemanusiaan dan pengetahuan. Mereka hendaknya juga mempraktikkannya sendiri
Akan tetapi, para guru itu malah kehilangan kualitas moral sendiri. Mereka bagaikan orang yang duduk di gua yang gelap yang potensi bajiknya tertutup. Meski memiliki kekuatan, tetapi mereka menggunakannya di tempat yang salah. Selain menciptakan masalah, mereka juga membangkitkan keraguan. Mereka juga tidak memahami kebenaran dan tidak tahu misi dari profesi mereka. Karena tidak memahami kebenaran, mereka lalai dan berjalan menyimpang. Karena bersikap lalai dan berjalan menyimpang, mereka menciptakan pergolakan di masyarakat. Ini sungguh menakutkan. Jadi, kita semua hendaknya menunaikan kewajiban sendiri dan menjaga pikiran dengan baik. Semua kewajiban kita harus kita jalankan dengan bersungguh hati. Kita harus membangun tekad dan ikrar luhur
Saat menangani masalah atau berinteraksi dengan orang, prinsip kebenaran dan pikiran kita harus selaras. Jadi, untuk sempurna dalam segala hal dan prinsip, kita harus menunaikan kewajiban sendiri dengan baik. Jika hubungan antarmanusia harmonis, baru segala hal bisa selesai dengan sempurna. Dengan begitu, berarti kebenaran telah dijalankan. Ini semua bersumber dari sebersit niat kita. Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus lebih bersungguh hati.