Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 244 – Dua Belas Pintu Masuk Bagian 03

Saudara se-Dharma sekalian, Dharma bagaikan air. Air bagaikan Dharma. Seluruh kekotoran di dunia memerlukan air untuk dapat membersihkannya. Dengan begitu, kekotoran baru akan hilang. Batin makhluk awam juga demikian. Kumpulan Sutra dan Sastra, semuanya mengulas tentang pikiran. Dalam kehidupan, pikiran menentukan cara kita dalam menghadapi orang, masalah, dan segala sesuatu. Bagaimana kita melakukan sesuatu, menghadapi orang, dan meningkatkan kualitas kita, semua ditentukan oleh pikiran. Karena itu, ada istilah tubuh Dharma dalam pikiran. Pikiran juga merupakan tubuh dari Dharma. Kita sering membahas tubuh Dharma yang murni. Tubuh Dharma adalah hakikat Buddha. Sesungguhnya, hakikat Buddha pada makhluk awam tak berkurang. Jadi, setiap makhluk awam masih memiliki tubuh Dharma ini. Namun, tubuh Dharma makhluk awam telah tercemar, maka disebut makhluk awam. Akan tetapi, hakikat setiap makhluk adalah tubuh Dharma. Di mana tubuh Dharma makhluk awam? Di dalam hakikat pikiran. Tubuh Dharma dalam hakikat pikiran ini telah tertutupi oleh noda batin. Karena itu, makhluk awam disebut Buddha yang terbelenggu. Hati Buddha adalah murni tanpa noda. Hati yang murni tanpa tercemar ini telah terbelenggu, terjerat, dan tertutup, maka ia dinamakan tubuh Dharma dalam hati atau pikiran. Disebut dalam pikiran karena pikiran kita selalu membedakan, yakni membedakan segalanya. Kita selalu tercemar oleh hal-hal di luar. Jadi, berbagai pikiran keliru dapat muncul. Jadi, berbagai pikiran keliru dapat muncul. Ini semua adalah belenggu. Namun, hakikat murni tetap tidak hilang dan masih ada. Karena itu, makhluk awam disebut Buddha yang terbelenggu. Setiap orang masih memiliki hakikat kebuddhaan. Karena itu, di dalam Sutra Samadhi Bunga Teratai dikatakan bahwa setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan.

Jadi, kita memiliki Buddha, Dharma, dan Sangha yang hakiki di dalam diri kita. Oleh karena itu, kita harus berlindung. Namun, di mana kita berlindung? Yang paling penting adalah berlindung pada Tiga Permata di dalam diri kita. Jadi, di dalam Sutra Samadhi Bunga Teratai dikatakan, “Berlindung pada kesadaran akar pada tubuh Dharma di hati, selalu berdiam di atas singgasana teratai hati.” Dari penggalan ini kita dapat memahami bahwa Dari penggalan ini kita dapat memahami bahwa setiap orang memiliki kesadaran akar, tubuh Dharma di hati. Hanya saja, kita selalu mencari di luar. Jika kita dapat menyadari hakikat kebuddhaan kita dan berlindung kepada kesadaran akar diri sendiri, maka tubuh Dharma dalam hati akan selalu ada tanpa pernah hilang. Ini yang dinamakan singgasana bunga teratai hati. Meski pikiran setiap orang terbelenggu atau terjerat, tetapi jika kita dapat menyelami secara mendalam, maka sesungguhnya singgasana teratai dalam hati atau tubuh Dharma di dalam hati tidak akan tercemar noda dari luar, tidak akan tercemar noda dari luar, hanya tertutup oleh noda dari luar, tetapi tidak tercemar. masih memiliki hakikat yang murni di dalam diri. Jadi, kita harus percaya bahwa setiap orang dalam dirinya memiliki kesadaran akar yang murni. Setiap orang memiliki singgasana teratai hati yang tetap, yaitu meski berada di lumpur yang kotor, bunga teratai di hati ini tidak akan tercemar. Jadi, kita harus berlindung pada diri sendiri, harus sungguh-sungguh yakin bahwa hakikat kebuddhaan pada diri kita tidak lenyap. Ini yang disebut Dharma hati. Apakah kalian semua paham? Saya sering mengulas kekosongan empat unsur. Kosong berarti tidak ada. Apa yang ada? Kekosongan yang diulas adalah kekosongan pada rupa. Rupa adalah benda di luar yang dapat dilihat mata. Suatu hari, rupa akan kembali pada kekosongan. Saat berkunjung ke RS Tzu Chi Dalin, saya mendengar laporan dari dokter setiap departemen tentang pengobatan yang mereka lakukan. Pengobatan tentu tidak lepas dari alat.

Untuk memeriksa pasien, Untuk memeriksa pasien, dokter juga harus menggunakan alat. Kini teknologi medis sangat maju. Di antaranya ada satu kasus. Seorang pasien mengalami kesakitan terus-menerus. Sakit di bagian mana? Di perutnya. Apa penyebabnya? Tidak tahu. Dia sudah dirawat di rumah sakit dan diperiksa dokter, bahkan setelah dioperasi pun penyakitnya tidak diketahui. Akhirnya, dokter mengatakan bahwa penyakit yang dideritanya tidak bisa disembuhkan, akan berbahaya jika kembali dioperasi. Jadi, tak ada satu RS pun yang bersedia menerimanya. Akhirnya, dia dipindahkan ke RS Tzu Chi Dalin. Sesungguhnya, penyakit apa yang dideritanya? Menurut rekam jejak medisnya selama beberapa tahun, tiada satu rumah sakit pun yang pernah mendiagnosis dengan pasti penyakitnya. Lalu, dengan alat yang baru, kita mengambil foto 3D dari pasien tersebut dan memeriksanya. Dari gambar tersebut, seluruh tubuh dapat terlihat, seluruh tubuh dapat terlihat, bahkan hingga organ dalam sekalipun. bahkan hingga organ dalam sekalipun. Ia terlihat bagai kaca Ia terlihat bagai kaca yang berbentuk manusia. Yang terlihat adalah lapisan luar tubuh dengan bagian dalam yang berwarna transparan. dengan bagian dalam yang berwarna transparan. Hanya saja, permukaan luar gambar transparan ini berbentuk manusia. Setelah dianalisis, terlihat sebuah benda di dalam tubuh pasien itu. Benda itu berwarna hitam dan berbentuk tidak beraturan. Ternyata, di sanalah sumber penyakitnya. Sumber penyakitnya dapat terlihat.

Kini teknologi medis sangat maju. Awalnya, pada pemindaian 3D itu hanya terlihat bentuk manusia tanpa terlihat benda apa pun. Di mana letak organ tubuh? Tidak bisa dilihat. Yang telihat hanyalah bentuk tubuh manusia, tidak ada apa pun. Kemudian, setelah instruksi berikutnya diinput ke dalam mesin, tampaklah sumber penyakit tersebut. Pada gambar tubuh tadi, tampak tanda yang menunjukkan sumber penyakit. Begitu luar biasa. Itu membuat saya berpikir, “Bukankah ini adalah ajaran Buddha kepada kita?” Empat unsur berpadu secara semu. Empat unsur pada dasarnya adalah kosong. Sesungguhnya, apa yang benar-benar ada? Saat satu unsur tidak selaras, semuanya akan kembali pada kosong, tiada apa pun. Pada alat tersebut kita dapat melihat tampilan seperti itu. Dimulai dari kekosongan, kita mencari sumber penyakit pasien. Karena itu, saya merasa ajaran Buddha luar biasa. Buddha adalah Yang Mahabijaksana di alam semesta. Lebih dari 2.000 tahun lalu, Beliau telah mengajarkan kepada kita bahwa tubuh tidaklah bersih. Karena tersusun atas materi, maka tidak bersih. Kita hendaknya merenungkan bahwa tubuh tidak bersih. Dengan memiliki tubuh ini, maka di dalam keseharian, kita tidak luput dari kekotoran. Setiap orang membawa tubuh yang tidak bersih. Saat menghadapi orang atau masalah, pikiran kita bergejolak dan segala yang kita lakukan menciptakan karma yang tidak murni. Ini membuat kita menyimpan noda batin yang juga tidak murni. Benih karma tercipta oleh tubuh yang tidak bersih ini. Apa lagi yang ada? Jadi, kita sangat beruntung dapat bertemu ajaran Buddha pada zaman majunya teknologi seperti ini. Kita dapat membuktikan ajaran Buddha lewat ilmu pengetahuan.

Seperti pada pemindaian tubuh tadi, pada awalnya semua terlihat kosong, tidak ada apa pun. Jika ada sesuatu, ia malah menandakan penyakit. Dari manakah sumber penyakit? Berasal dari gen kehidupan yang terakumulasi. Orang zaman sekarang menyebutnya sebagai gen. Ia tak lain adalah karma yang terakumulasi, yang terwujud ke dalam bentuk penyakit. Baik penyakit lambung, penyakit usus, penyakit jantung, penyakit paru-paru, maupun yang lainnya, bukankah semuanya ada dalam kehidupan manusia? Tentu ada beberapa penyakit yang merupakan penyakit keturunan. Selain penyakit keturunan, ada pula penyakit yang bermula dari akumulasi dan interaksi bakteri dalam kehidupan sehari-hari. Bakteri-bakteri ini saling mengeliminasi dan saling menjangkiti, sehingga terbentuklah penyakit. Ada sesuatu yang terlihat yang dapat menjadi sumber penyakit. Ada pula sesuatu yang tak terlihat yang kita akumulasi. Kita lahir tidak membawa apa-apa, begitu pula saat kita meninggal. Namun, sesuatu yang tak terlihat, yakni pikiran, terus terbawa dan mengakumulasi karma, tabiat, dan noda batin. Ini terbawa dari kehidupan ke kehidupan. Tabiat dan noda batin seperti ini tidak bisa dijabarkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi masa kini memang bisa membantu kita untuk menjabarkan kondisi medis. Sebelumnya kita sudah membahas Dua Belas Pintu Masuk. Lalu, kita membahas istilah Buddha yang terbelenggu, yaitu tubuh Dharma dalam hati. yaitu tubuh Dharma dalam hati. Saat saya berkunjung ke Aula Jing Si, kebetulan di sana ada pameran alat bedah saraf otak. Ada beberapa gambar yang ditampilkan di sana. Seorang profesor berkata kepada saya, “Master, apakah Anda bisa meluangkan waktu untuk melihat pameran kami?” “Master datanglah untuk melihat.” Lalu saya mengikutinya dan melihat beberapa contoh belahan otak manusia asli. Beliau memperlihatkan anatomi otak kepada saya. Potongan demi potongan ditampilkan di sana. Lalu, saya bertanya kepadanya, “Ada apa dengan otak ini?” “Sepertinya sama dengan yang lainnya.” Beliau menjawab, “Tidak sama.” “Lihatlah, kerutan otak ini lebih banyak.” “Orang dengan otak seperti ini lebih pandai.” “Jika permukaan otak lebih halus, maka orang yang memilikinya akan mengalami keterbelakangan mental, hampir tidak bisa membedakan dan memilah segala sesuatu yang ditemuinya.” memilah segala sesuatu yang ditemuinya.” Begitulah orang dengan permukaan otak yang halus. Sebaliknya, jika permukaan otaknya penuh kerutan, berarti orangnya cerdas dan cepat tanggap. Melihat ini, saya merasa inilah manfaat analisis dengan teknologi.

Selain itu, beliau membawa saya untuk melihat gambar. Beliau memberi tahu saya apa yang disebut neuron pada otak. apa yang disebut neuron pada otak. Saya lalu bertanya apa fungsinya. Beliau berkata jika seseorang melihat sebuah benda, Beliau berkata jika seseorang melihat sebuah benda, dia akan menganalisisnya dengan cepat dan tahu bagaimana memberi reaksi.” Ini bergantung pada neuron. Jika neuron rusak, maka dalam kehidupan sehari-hari, reaksi kita akan terganggu. Sesungguhnya, berapa banyak neuron yang dimiliki manusia? Dokter membawa saya untuk melihat sebuah gambar. Saya bertanya, “Neuron seperti ini, berapa jumlahnya?” Beliau menjawab, “Banyak sekali, ada ratusan miliar.” “Sel-sel neuron seperti ini bekerja meneruskan pesan.” Saya berkata, “Mengapa begitu banyak?” Dia menjawab, “Tidak hanya ini, masih ada neuroglia.” “Selain neuron, masih ada neuroglia.” Saya bertanya, “Ada berapa?” Dia menjawab, “Lebih dari 10 kali lebih banyak.” Bayangkan, jika satu otak memiliki 10 kali seratus miliar, maka berapa jumlah dari sel-sel neuroglia ini? Tidak hanya demikian, neuroglia juga menjadi pemasok nutrisi bagi neuron.

Jadi, apakah neuroglia dapat meneruskan informasi kepada saraf? Secara teori, tidak bisa. Namun, ia memasok kemampuan untuk meneruskan informasi. Jadi, kadang kita berkata, jika menggunakan otak secara berlebihan maka saraf otak bisa rusak. Sepuluh hingga dua puluh tahun lalu, saya mendengar seorang profesor berkata bahwa semua itu adalah bohong. Sesungguhnya, meski digunakan hingga beberapa kehidupan, saraf otak juga tidak akan habis. Digunakan ratusan tahun pun tidak masalah. Saya berkata, “Mengapa tidak habis?” Beliau menjawab, “Sel otak ada banyak, meski sehari dipakai jutaan sel, digunakan hingga tiga generasi pun tak akan habis.” Saat itu saya sedikit ragu. Hal ini saya dengar Sepuluh hingga dua puluh tahun lalu. Namun, kini saya kembali mendengar ternyata sel otak begitu banyak, ada lebih dari seratus miliar sel Sesungguhnya, jika manusia selalu menggunakan otak, maka kerutan otak akan lebih banyak. Tentu, di dalam otak, selain neuron, juga ada neuroglia yang menjadi penyokong. dan sel dorongan. Selain itu, masih ada banyak sel-sel lainnya. Beliau juga membawa saya melihat sesuatu. Beliau berkata, “Master, saya ajak Anda melihat gambar yang sangat menarik, yaitu gambaran di mana tempat pengendali emosi pada otak.” Saya lalu berjalan mengikutinya.

Bagian inilah yang membuat kita memiliki beragam emosi. Mengapa ada orang yang cepat marah? Mengapa ada orang yang cepat marah? Saat melihat sesuatu, dia langsung bereaksi. Ada pula orang yang suka memaki, ada orang yang suka marah-marah, ada yang sikapnya kasar, dan sebagainya. Ini semua adalah emosi. Saat emosi tidak bisa dikendalikan, misalnya saat seseorang melihat sesuatu, misalnya saat seseorang melihat sesuatu, maka saraf otak akan segera bereaksi. Bagian otak yang bereaksi itu akan menyala pada gambar. Artinya, saraf otak bagian itu bereaksi setelah bersentuhan dengan kondisi luar. Gambar bagian otak tersebut akan menyala, menandakan kontak dengan kondisi luar. Saat indra kita dan objek luar mengalami kontak, Saat indra kita dan objek luar mengalami kontak, maka emosi akan bereaksi. Bagian otak yang berkaitan pun akan menyala pada gambar. Artinya, sel otak di bagian itu menjadi aktif. Artinya, sel otak di bagian itu menjadi aktif. Kita hendaknya tahu hal ini. Saya sering membahas tentang tabiat. Apa yang seharusnya kita latih dalam pelatihan diri? Kita harus berlatih bagaimana agar saat bersentuhan dengan kondisi luar, saraf otak kita tidak terlalu reaktif. Ini bergantung pada pelatihan diri kita. Pelatihan ini bertujuan untuk mengendalikan tabiat. Manusia pada hakikatnya adalah bajik. Hakikat manusia pada dasarnya murni. Lalu, bagaimana bisa kini, saat indra kita bersentuhan dengan objek luar, saraf otak kita menjadi sangat reaktif? saraf otak kita menjadi sangat reaktif? Ini karena kita selalu mengondisikan bagian otak itu untuk bereaksi demikian. Jadi, bagian otak itu bekerja lebih aktif. Ini yang dinamakan tabiat. Inilah yang sering saya katakan. Jika tidak, bagaimana bisa bagian otak pengontrol emosi Jika tidak, bagaimana bisa bagian otak pengontrol emosi bekerja lebih aktif dari bagian lain? bekerja lebih aktif dari bagian lain? Itu karena kita sering menggunakannya. Contohnya, saat kita beraktivitas, seperti berbicara, semua adalah kebiasaan. Jika kita memelihara kebiasaan ini, maka secara alami ucapan dan sikap kita akan semakin terbentuk tanpa disadari. Ini disebabkan oleh aktivitas saraf otak. Semua ini juga berpulang pada Dharma hati.

Dharma atau fenomena terbagi atas rupa dan hati atau batin. Rupa adalah semua yang dapat dilihat oleh mata. Setelah kita melihat, pikiran akan bereaksi. Sebenarnya, aktivitas pikiran harus melewati otak. Jadi, saraf otak dan saraf mata bersentuhan dengan objek luar. Begitu pula dengan saraf pendengaran. Kini kita belum mendengar suara burung. Namun, saat suara burung terdengar, kita merasa kondisi itu sangat indah. Jika kita selalu mengembangkan perasaan tentang keindahan, maka dengan sendirinya kita akan merasa bahwa suara burung itu sangat indah dan sangat selaras dengan pemandangan yang kita lihat. Kita merasa suara itu sangat merdu, lembut, dan harmonis. Ini juga melibatkan aktivitas emosi. Intinya, kita tidak luput dari dua jenis Dharma. Yang pertama adalah Dharma rupa, yang kedua adalah Dharma hati. Dharma rupa merujuk pada sesuatu yang berwujud. Dharma hati merujuk pada pikiran yang diliputi kegelapan batin. pikiran yang diliputi kegelapan batin. Inilah kegelapan batin. Kita tak dapat melihat pikiran kita. Saat saya sudah bertindak, kalian baru bisa melihatnya. Kita baru bisa menilai suatu kondisi sesuai dengan orang tertentu, tetapi belum tentu sesuai dengan yang lain. tetapi belum tentu sesuai dengan yang lain. Kita pernah melihat orang yang pembinaannya baik. Saat orang lain memakinya, dia tetap tersenyum. Dia tidak akan bereaksi berlebihan atau membalas. Tidak akan. Orang seperti ini telah melatih kelembutan dalam emosinya. Dia tidak akan bertindak reaktif mengikuti emosi sesaat. Inilah yang disebut tabiat. Kita hendaknya menggunakan Dharma hati kita dengan baik. Kita harus berintrospeksi secara mendalam. Buddha yang terbelenggu dan noda batin akar dalam diri kita terus mengikuti dari kehidupan lampau. Noda batin turunan kita juga terus muncul seiring kondisi luar. Ini yang disebut noda batin turunan. Noda batin bagaikan pohon, memiliki akar, batang, cabang, ranting, dan daun. Noda batin turunan bagaikan cabang, tetapi ia juga berasal dari noda batin akar.

Noda batinĀ  ini telah kita pupuk dari kehidupan ke kehidupan. Tabiat ini menentukan cara kita bereaksi terhadap kondisi luar. Dari sana, ia kembali terakumulasi dan mempertebal noda batin akar. dan mempertebal noda batin akar. Saudara sekalian, sebelumnya kita mengulas Sebelas Kecenderungan Umum. Sebelas Kecenderungan itu ada dalam keseharian kita. Semua itu terus mendorong kita bereaksi terhadap kondisi yang kita hadapi. Kecenderungan itu menjadikan kita sangat reaktif. Karena itu, disebut Sebelas Kecenderungan Umum. Ia adalah sebelas hal atau sebelas faktor yang menentukan kecenderungan kita dalam keseharian. Dalam melatih diri, jangan sampai kita terbawa olehnya. Kita harus kembali pada hakikat sejati. Kita harus menyelami Buddha yang terbelenggu dalam diri dan berusaha untuk melepaskan belenggu tersebut selapis demi selapis. Dengan demikian, kita akan dapat menggunakan hakikat yang murni ini. Secara alami, setiap hari yang kita lalui akan menjadi hari yang penuh kehangatan dan jalinan jodoh yang kita jalin adalah jalinan jodoh baik. Jadi, Saudara sekalian, setelah membahas kembali Sebelas Kecenderungan Umum, penjelasan selama ini tak lain berharap agar semua orang bersungguh hati. Kita harus memahami dua Dharma. Yang satu adalah Dharma rupa, yang lainnya adalah Dharma hati. Dharma rupa juga mencakup hal-hal yang bisa didengar. Dharma rupa juga mencakup hal-hal yang bisa didengar. Ia juga mencakup hal-hal yang bisa dilihat. Sebaliknya, Dharma hati tak bisa didengar ataupun dilihat. Namun, semuanya ada di dalam pikiran kita dan mengendalikan mental kita. Jadi, kita harus mengembangkan mental kita agar mengarah pada kebajikan. Hindari kejahatan, perbanyak kebajikan. Dalam hubungan antarsesama, senantiasalah bersungguh hati. Dengan demikian, inilah metode pelatihan tertinggi kita. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment