Sanubari Teduh – 243 – Dua Belas Pintu Masuk Bagian 02
Saudara se-Dharma sekalian, saat kita duduk sekarang, apakah mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran kita telah berfungsi? Saya tidak tahu apakah kalian merasa jika kita menutup kedua mata, dengan apakah indra mata kita bersentuhan? Dengan kegelapan. Saat mata tertutup, maka kondisi luar tidak tampak. Namun, meski kita tidak melihat benda di luar dan terasa sangat gelap, bukankah gelap juga termasuk kondisi? Seharusnya ya. Karena di dalam batin dan pikiran kita pasti ada gambaran. Gambaran ini bisa diam, bisa pula bergerak. Ini juga berkaitan dengan kondisi kita. Saat duduk di sini, saya bisa terlihat tenang atau tidak terlalu nyaman. Di dalam otak saya terdapat banyak gambaran. Gambaran ini menggambarkan kondisi saat ini. Jadi, Saudara sekalian, saat enam indra kita bersentuhan langsung dengan enam objek, maka akan membangkitkan sebuah pikiran. maka akan membangkitkan sebuah pikiran. Jadi, pikiran kita berada di antara enam objek dan enam indra. Ia bagaikan perantara. Ia bagaikan perantara. Jadi, kita bersinggungan. Bersinggungan dengan apa? Segala suara yang didengar telinga, benda yang dilihat mata, aroma yang dihirup hidung, atau makanan pahit dan manis yang dikecap lidah. Ini semua tak lepas dari persinggungan dua hal. Di tengah keduanya ada pikiran. Pikiran adalah fenomena. Jadi, fenomena dan objek bersatu. Objek adalah rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan. Objek-objek ini, Objek-objek ini, setelah melewati saringan oleh mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh kita, akan membuat pikiran bereaksi. Karena itu, menjadi Dua Belas Pintu Masuk. Indra mata memiliki kesadaran penglihatan. Indra telinga memiliki kesadaran pendengaran.
Sesungguhnya, semua kesadaran ini berpulang pada pikiran karena setelah segala hal diserap, kita menyimpannya di perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. Jadi, kita bertindak sesuai empat hal ini. Jadi, ini disebut Dua Belas Pintu Masuk. Setiap orang hendaknya tahu jelas tentang ini. Pikiran adalah Dharma atau fenomena batin. Makhluk awam mengklaim bahwa mereka bersungguh hati. Namun, apakah hati dan pikiran adalah sama? Seharusnya sama, tetapi di dalam penggunaannya sedikit berbeda. Jadi, kita harus tahu bahwa fenomena batin juga adalah Dharma. Pikiran kita bergejolak. Kita bertindak sesuai pikiran. Ini yang dinamakan Dharma hati. Dharma hati pada tubuh Buddha adalah tubuh Dharma. Tubuh Dharma pada hakikatnya murni. Bagaimana dengan makhluk awam? Hakikat tidak hilang pada makhluk awam. Kita masih memiliki hakikat murni. Jadi, saya sering berkata, “Hati, Buddha, dan makhluk hidup adalah setara.” Hakikat ini tidak berkurang pada makhluk awam, dan tidak bertambah pada orang suci. Hakikat Buddha yang murni dan hakikat makhluk awam adalah sama. Kemurnian ini tidak berkurang pada makhluk awam. Kemurnian dalam diri kita tak lebih sedikit dari Buddha. Ketika seseorang menjadi Buddha, hakikatnya pun tidak bertambah murni dari makhluk awam.
Jadi, kita hendaknya tahu bahwa setiap orang memiliki tubuh Dharma. Jika tubuh Dharma berkaitan dengan hakikat, yaitu kondisi yang murni, maka pada makhluk awam ia masih terbelenggu. Buddha sendiri memiliki tiga tubuh, yakni tubuh Dharma, tubuh pahala, dan tubuh perwujudan. Tubuh Dharma Buddha adalah tubuh yang benar-benar murni. Berhubung hakikat tidak berkurang pada makhluk awam, maka dengan apa kita menyebutnya? Disebut tubuh Dharma hati. Hati dan Dharma tetap ada dalam diri kita, hanya saja kita tidak murni. Karena itu, disebut Buddha yang masih terbelenggu. Terbelenggu oleh apa? Oleh noda batin yang berlapis-lapis. Oleh noda batin yang berlapis-lapis. Namun, di tengah belenggu ini, masih ada tubuh Dharma. Dharma masih ada di dalam hati kita. Tubuh Dharma masih ada. Jadi, di tengah belenggu noda batin, kita masih memiliki hakikat yang murni. Inilah Buddha yang terbelenggu. Inilah Buddha yang terbelenggu. Makhluk awam terbelenggu oleh noda batin. Jadi, disebut Tubuh Dharma hati, karena makhluk awam masih berkutat pada hati. Karena itu, saya sering berkata kepada kalian untuk lebih bersungguh hati, bukan meminta kalian terlalu banyak berpikir. Saya ingin kalian bersungguh hati, tetapi bukan terlalu banyak berpikir. Ada orang berkata, “Kamu terlalu banyak berpikir.” “Kamu curiga berlebihan.” Ini adalah noda batin. Untuk menyelami pikiran dan hakikat, kita harus bersungguh hati. Setiap orang memiliki hakikat yang murni. Dalam keseharian, pikiran kita terus bergejolak. Dalam gejolak ini, bagaimana kita membuatnya tenang? Kita harus bersungguh hati untuk memahami kemurnian hakikat setiap orang. Karena itu, saya ingin kalian bersungguh hati. Bagaimana cara bersungguh hati? Di dalam Sutra Samadhi Bunga Teratai, dibahas mengenai Samadhi. Kalian seharusnya tahu bahwa Samadhi berkaitan dengan perhatian benar, yakni berusaha menenangkan batin kita. Inilah yang disebut Samadhi. Dharma mengajarkan kita demikian. Ada penggalan yang berbunyi, “Makhluk awam harus berlindung kepada diri sendiri.” Maksudnya berlindung kepada apa? Kepada hakikat Buddha, Dharma, dan Sangha dalam diri sendiri.
Setiap orang memiliki hakikat sejati yang murni. Jadi, janganlah meremehkan diri sendiri. Kita harus selalu berlindung kepada diri sendiri, yakni berlindung pada tubuh Dharma diri sendiri. Setiap orang tidak lebih rendah dari Buddha. Jadi, tidak perlu jauh-jauh mencari Buddha di Puncak Burung Nasar. Puncak Burung Nasar ada di dalam hati kita. Jadi, jika setiap orang bisa mencari hakikat Buddha dalam diri, maka tidak perlu pergi ke tempat yang jauh. Ini bermakna sama dengan yang tadi kita bahas. Jadi, setiap hari kita hendaknya berlindung dan bertekad mempersembahkan jiwa raga. Kita harus sungguh-sungguh berlindung pada tubuh Dharma di dalam hati. Setiap orang memiliki kesadaran akar dan tubuh Dharma di dalam hati. Hanya saja, kita harus membuka belenggu batin selapis demi selapis. Jika noda batin terbuka, maka kesadaran akar dan tubuh Dharma dalam hati akan terkuak. Jadi, “Singgasana teratai hati selalu ada.” Ada singgasana teratai di dalam hati setiap orang. Lihatlah, semua rupang Buddha terlihat duduk di atas singgasana teratai. Sesungguhnya, setiap orang memiliki singgasana teratai yang abadi di dalam hati. Jadi, kita harus selalu berlindung pada diri sendiri. Kita harus sepenuh jiwa raga berlindung pada kesadaran akar dan tubuh Dharma. Kita harus selalu menghormati diri sendiri. Ada sebuah singgasana teratai yang abadi di dalam hati kita. Karena itu, kita harus selalu bersungguh hati.
Di dalam kehidupan sehari-hari, saat mata melihat, telinga mendengar, atau hidung menghirup aroma, jika kita memiliki pikiran yang baik, maka aroma tidak sedap juga terasa harum. Insan Tzu Chi sering mengunjungi orang miskin dan sakit serta para lansia yang hidup sebatang kara. Kita membantu mereka membersihkan rumah. Ada orang tua yang hanya terbaring di tempat tidur. Air besar dan kecilnya sudah menumpuk lama. Setelah insan Tzu Chi menemukannya, mereka membersihkannya. Apakah mereka tidak mencium bau tak sedap? Tentu mencium. Namun, dengan hati Bodhisattva, mereka menyingkirkan pikiran akan bau itu. Orang pada umumnya tidak berani mendekat, tetapi para Bodhisattva dunia ini mengubah bau menjadi keharuman. Ini adalah keharuman kebajikan. Dengan memiliki kualitas bajik, mereka menganggap bau tak sedap sebagai aroma harum, sehingga berani mendekat untuk bersumbangsih serta menghibur dan membantu para lansia. Inilah hakikat murni yang kita miliki. Di dalam keseharian, saat mencium aroma, bagaimana kita mengubah bau menjadi harum? Ini tentu bergantung pada pikiran. Ini adalah Dharma, yaitu cara untuk mengatasi kondisi. Tubuh kita juga demikian. Apakah kini kita merasa dingin atau panas? Saat duduk, apakah kita merasa nyaman atau merasa pinggang dan punggung sakit? Ini semua adalah perasaan kita. Kondisi pikiran seperti ini terus memengaruhi kondisi hati kita.
Jika kita membangkitkan niat untuk belajar Dharma, maka meski merasa sakit, kita tetap bertahan. Kita bersungguh hati mengubah rasa sakit menjadi sukacita. Inilah Dharma hati. Jadi, ada dua belas hal. Seluruh rupa, seluruh suara yang didengar, benda yang dilihat, segala yang dirasakan, dll., semua berpulang pada pikiran dan fenomena. Ada sebuah kisah saat murid Buddha masih ada di dunia. Dharma yang dibabarkan Buddha saat itu sangat banyak dan jelas. Akan tetapi, murid-Nya malah semakin bingung. Mereka mempelajari banyak Dharma, tetapi tidak bisa menerapkannya. Jadi, Buddha berkata dengan sederhana, “Dharma sangat banyak, jika kalian tidak bisa memahami seluruhnya, maka pelajari dua hal sudah cukup.” “Mata bersentuhan dengan rupa, telinga bersentuhan dengan suara.” Ini adalah dua hal yang saling bersinggungan. Objek tidak lepas dari kesadaran. Kesadaran dan objek tidak lepas dari Dharma atau fenomena. Jadi, ini adalah sebuah interaksi. Saya berharap kita semua bisa bersungguh hati. Di dalam kehidupan sehari-hari, segalanya adalah Dharma. Jadi, segala yang kita pungut, setiap batang rumput dan setiap kuntum bunga merupakan dunia Buddha. Semuanya mengandung hati Buddha yang murni. Jadi, setiap orang harus bersungguh hati. Sesungguhnya, pikiran dan fenomena mencakup seluruh Dharma. Seluruh Dharma hanya terbagi atas rupa dan fenomena. Dua kategori ini mengandung banyak hal. Jadi, kita hanya perlu memahami dua hal ini. Jadi, kita semua harus selalu bersungguh hati. Jika kita menggunakan pikiran dengan benar, maka setiap hari akan indah. Jika kita tidak menggunakan pikiran dengan baik, maka setiap hari akan merisaukan.
Dalam masyarakat awam, juga ada kehidupan yang indah. Ada sebuah cerita indah yang dimuat di sebuah majalah. Di New York, Amerika Serikat ada seorang anak muda di pintu masuk stasiun kereta bawah tanah. Anak muda itu hampir setiap hari datang ke pintu masuk stasiun kereta bawah tanah dan berdiri di titik yang sama. Saat sore hari, kira-kira saat menjelang malam, dia tiba di depan pintu stasiun. Setelah tiba di tempat, dia mulai membuka topi yang dikenakannya dan menaruhnya di lantai. Kemudian dia mengambil sebuah biola dan memainkannya dengan sepenuh hati. Saat dia memainkan biola, berhubung alunannya sangat merdu dan terdengar hingga kejauhan, maka banyak orang yang lewat mulai berhenti untuk mendengarkan. Semakin banyak orang yang berhenti untuk mendengar dia memainkan biola dengan merdu. Orang yang datang sangat banyak. Mereka terharu mendengar alunan musiknya. Setelah permainan musiknya selesai, setiap orang mengeluarkan uang dan menaruhnya di topinya. Jadi, suatu hari, dia melakukan pertunjukan yang sama. Seusai pertunjukan, saat dia menyimpan uang dari dalam topinya, orang-orang telah bubar.
Keesokan harinya, pada waktu yang sama, anak muda itu datang lagi. anak muda itu datang lagi. Kali ini, dia membawa secarik kertas. Di atas kertas itu tertulis tulisan besar yang berbunyi, “Kemarin, pada saat yang sama, ada seorang pria bernama George.” “Dia menaruh sebuah benda yang sangat penting di dalam topi saya.” “Mungkin pria in sangat panik.” “Jika Anda adalah pria ini, segeralah mengambil kembali barang Anda.” “Barangnya ada pada saya.” Di atas kertas yang besar itu tertulis demikian. Di tempat yang sama, dia memainkan biola dan menaruh topi di atas kertas tersebut. Semuanya sama dengan hari sebelumnya, hanya saja ada tambahan secarik kertas tadi. Setiap orang yang lewat juga sangat terpukau mendengar alunan musiknya. Setelah itu, mereka juga menaruh uang di dalam topinya. Pada saat itu, ada seorang pria yang segera menghampiri anak muda ini. Dia menarik tangan anak muda itu. Dia menggenggamnya dengan kuat dan berkata kepadanya, “Saya tahu kamu adalah anak muda yang tulus.” Anak muda ini bersentuhan dengan pria tadi dan melihat dia sangat gelisah. Anak muda ini bertanya kepadanya, “Benda apa yang Anda taruh ke dalam topi?” Ternyata jawabannya benar. Ternyata ada selembar undian yang sudah menang. Undian ini memenangkan hadiah 500.000 dolar AS. Ini adalah jumlah yang sangat besar. Pemilik lembaran itu menaruhnya ke topi tersebut. Jadi, saat anak muda ini melihatnya, dia percaya bahwa pemilik undian ini telah tidak sengaja memasukkannya ke dalam topinya. Anak muda ini khawatir pada pemilik undian ini. Jika si pemilik tahu bahwa kertasnya telah hilang, dia pasti akan risau.
Jadi, seusai pertunjukan sehari sebelumnya, awalnya anak muda ini akan berangkat ke Wina, Austria untuk melanjutkan studi. Namun, setelah pulang dan merapikan uang pada topinya, dia melihat selembar kertas yang tergulung. selembar kertas yang tergulung. Setelah dibuka, tercantum nama pada kertas itu. Karena itu, dia membatalkan tiket pesawatnya ke Wina. Keesokan harinya, pada waktu yang sama, dia kembali ke pintu stasiun. Dia percaya bahwa si pemilik kertas undian itu akan kembali. Jadi, dia mencari si pemilik itu. Si pemilik yang kehilangan kertasnya ternyata berhasil ditemukan. Anak muda ini sangat gembira. Si pemilik pun lebih gembira. Jadi, mereka berdua sangat gembira dan saling berterima kasih. Orang-orang yang lewat pun ikut berkumpul dan melihat dua orang itu sangat gembira. Setelah mengetahui hal ini, si pemilik menceritakan kepada semua orang bahwa sehari sebelumnya dia telah memenangkan undian sebesar 500.000 dolar AS. Dia sendiri sangat senang. Berapakah nilai 500.000 dolar AS? Dia sangat senang, maka segera menuliskan namanya di atas kertas undian itu dan berencana melakukan klaim keesokan harinya. dan berencana melakukan klaim keesokan harinya. Saat sadar bahwa kertasnya hilang, dia sangat khawatir. Dia berkata kepada semua orang di sana, Dia berkata kepada semua orang di sana, “Saya percaya anak muda ini pasti akan kembali, maka saya menunggunya di sini.” Semua orang yang mendengarnya sangat terharu. Pemilik undian berkata kepada anak muda itu, “Lima ratus ribu dolar sangat besar.” “Anak muda, ambillah kupon undian ini.”
“Dengan demikian, selamanya kamu tidak perlu lagi mengamen di sini.” kamu tidak perlu lagi mengamen di sini.” Anak muda ini lalu berkata, “Ini bukan sesuatu yang saya inginkan.” “Di kehidupan ini, saya hanya mencari satu hal, yaitu kebahagiaan.” “Saya tahu orang yang kehilangan undian ini sangat khawatir.” “Namun, yang saya inginkan adalah sesuatu yang sesuai hati nurani.” “Inilah yang membuat saya paling bahagia.” “Jadi, undian ini saya kembalikan pada Anda.” “Saya tidak menginginkan banyak uang, hanya menginginkan kebahagiaan.” “Jadi, undian ini saya kembalikan pada Anda.” Lihatlah, si pemilik menemukan kembali kuponnya. Dia pasti sangat senang. Anak muda itu berkata, “Melihat orang lain bahagia adalah kebahagiaan terbesar bagi saya.” “Jadi, saya tidak menginginkan uang.” “Yang saya inginkan hanyalah kebahagiaan.” Karena itu, anak muda itu setiap hari memainkan biolanya dengan sepenuh hati di sana. Dia berharap orang lain juga dapat saling berbagi. Dia berkata, “Saya hanya ingin kebahagiaan.” Lihatlah, dia sangat murni. “Jadi, hari ini juga adalah hari yang paling bahagia bagi saya.” “Kebahagiaan ini tidak bisa dibeli dengan uang.” Benar sekali. Kehidupan manusia memang demikian. Apakah yang membawa kebahagiaan terbesar? Kebahagiaan terbesar adalah hati yang paling tulus. Keyakinan, kesungguhan, ketulusan, dan kebenaran. Bukankah ini yang insan Tzu Chi inginkan? Di dalam hati, kita hendaknya terus membangun keyakinan yang benar, menghadapi orang dan masalah dengan sungguh hati, dan melakukan segala sesuatu dengan jujur. Jika dapat melakukan segala sesuatu dengan jujur, bukankah ini merupakan wujud ketulusan hati? Jadi, keyakinan, kesungguhan, ketulusan, dan kebenaran adalah yang kita cari dalam hidup ini.
Dalam mempelajari ajaran Buddha dan melatih diri, kita tak boleh lepas dari Delapan Ruas Jalan Mulia. Kebenaran ini adalah tujuan dari praktisi Buddhis. Ia adalah jalan yang harus kita tapaki. Jadi, di dalam keseharian, baik dengan objek maupun kondisi, enam indra kita terus terlibat kontak. Apakah kita telah menjaga pikiran dengan baik? Apakah pikiran kita telah sesuai dengan keyakinan, kesungguhan, ketulusan, dan kebenaran? Praktisi Buddhis hendaknya berlatih dengan jujur dan selalu membina pikiran yang tulus. Dengan demikian, barulah kita bisa mendapat sukacita. Inilah yang disebut sumbangsih tanpa pamrih. Ada orang yang berhitungan, “Saya meminjamkan Anda uang.” Di dalam Sutra ada sebuah cerita. Ada seseorang yang meminjamkan sedikit uang. Namun,si peminjam tidak mengembalikannya hingga sangat lama. Untuk menagih uang ini, penagih utang harus menyeberangi sungai. Sekali perjalanan memerlukan dua keping uang untuk berlayar. Setibanya di sana, orangnya tidak dapat ditemukan. Untuk kembali, diperlukan dua keping uang lagi. Jadi, pulang pergi membutuhkan empat keping uang. Ini sungguh menghabiskan banyak waktu, mengesalkan, serta merisaukan. Setengah keping uang pun tidak kembali, malah menghabiskan empat keping uang. Maksud dari cerita ini adalah empat unsur dalam hidup harus selaras. Jika tidak, satu masalah kecil akan membawa kekacauan. Karena itu, kita disebut Buddha yang terbelenggu. Tadi kita sudah membahas bahwa makhluk awam adalah Buddha yang terbelenggu, yaitu terbelenggu oleh hal ini. Kita selalu perhitungan terhadap hal kecil. Seperti cerita tadi, sekeping uang tidak didapat, malah harus menghabiskan empat keping. Bukankah ini terbalik? Saudara sekalian, kita hendaknya tidak terlalu perhitungan. Lakukanlah segala hal dengan sepenuh hati. Jadi, jangan terlalu banyak berprasangka, tetapi bersungguh hatilah selalu.