Sanubari Teduh -252-Enam Belas Pandangan Bagian 08
Saudara se-Dharma sekalian, mempelajari ajaran Buddha tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Huruf manusia dalam aksara Tionghoa terlihat sederhana, hanya terdiri atas dua goresan. Namun, dua goresan ini harus menempel. Mengenai manusia, di dalam ajaran Buddha ada istilah “cinta kasih”. Jika manusia memiliki cinta kasih, maka disebut manusia yang memiliki cinta kasih. Selain cinta kasih, jika ditambah dengan kesadaran, maka akan lebih baik lagi. Mendengar istilah “manusia dengan cinta kasih berkesadaran”, kita merasakan kehangatan. Manusia sesungguhnya begitu sederhana
Ditambah dengan adanya cinta kasih, maka manusia akan dipenuhi kelembutan dan perasaan penuh kehangatan. Namun, kondisi hangat yang semula sederhana ini bisa menjadi sangat kompleks, paling berbahaya, dan penuh kontradiksi. Mulanya ia sangat sederhana, tetapi kemudian menjadi sangat kompleks. Karena itu, timbullah kontradiksi dan bahaya. Buddha adalah Yang Mahasadar. Beliau harus terus datang ke dunia atas dasar cinta kasih. Meski kita tahu bahwa Buddha Sakyamuni lahir di India lebih dari 2.500 tahun yang lalu dan juga sudah wafat, tetapi apakah Buddha sudah meninggalkan kita? Sesungguhnya, sebelum Beliau mencapai kebuddhaan, Beliau sudah terus datang ke dunia ini untuk membimbing semua makhluk. Baik bimbingan batin maupun bantuan fisik, semua terus Beliau berikan di dunia ini. semua terus Beliau berikan di dunia ini. Karena itu, barulah ada Buddha yang datang menyelamatkan semua makhluk. Setelah melewati tiga asamkhyeya kalpa, barulah Beliau bermanifestasi sebagai Buddha Sakyamuni
Dari yang kita lihat di dalam Sutra, kita tahu bahwa sebelum Buddha datang lebih dari 2.500 tahun lalu, sesungguhnya Beliau sudah terus datang ke dunia. Saat jalinan jodoh matang, Beliau menunjukkan manifestasi agung dengan menunjukkan pencapaian kebuddhaan. Buddha membabarkan ajaran agar dapat dijalankan oleh umat manusia di kemudian hari. Jadi, di dalam Sutra, Buddha menyebut Dunia Saha ini sebagai tanah-Nya. Setiap Buddha memiliki tanah-Nya masing-masing. Buddha Amitabha memiliki Tanah Suci Sukhavati di barat, Buddha Bhaisajyaguru memiliki Tanah Suci Lazuardi Murni di timur. Setiap Buddha memiliki dunia tempat-Nya bermanifestasi. Namun, dunia Buddha Sakyamuni adalah Dunia Saha ini. Dunia Saha ini adalah tempat tinggal semua makhluk. Biasanya kita juga membahas tentang sepuluh alam
Baik Buddha, Bodhisattva, Pratyekabuddha, alam dewa, manusia, neraka, setan kelaparan, binatang, maupun asura, semuanya berada di Dunia Saha ini. Jadi, Dunia Saha ini juga disebut sebagai tempat meleburnya lima alam. Kedengarannya sangat kompleks. Semua makhluk tinggal bersama di sini, tetapi semua makhluk ini adalah makhluk berperasaan dan bernyawa. Mereka disebut makhluk hidup. Makhluk yang bernyawa dan berperasaan termasuk dalam kategori makhluk hidup. Jika perasaan ini terjerat oleh kesesatan, maka akan menjadi kompleks. Jika makhluk hidup ini sadar, maka semuanya menjadi sederhana. Perbedaannya hanya terletak pada sadar dan tersesat
Jadi, Buddha menganggap Dunia Saha yang keruh ini sebagai Tanah Buddha-Nya. Beliau tidak takut kekeruhan Dunia Saha. Beliau datang ke dunia ini tanpa henti. Pada waktunya, Beliau memanifestasikan pencapaian kebuddhaan dan mewariskan Dharma agar semua makhluk dapat menjalankannya. Setelah itu, apakah Beliau tidak pernah kembali? Ada. Beliau masih terus kembali ke dunia ini tanpa henti. Di zaman apa pun, Beliau selalu datang sesuai kebutuhan zaman
Sesuai dengan jalinan jodoh, Beliau terus datang untuk memberi bimbingan. Namun, rintangan karma semua makhluk sangat berat. Karma setiap orang terus merintangi. Sesungguhnya, apa yang merintangi? Noda batin. Akibatnya, manusia terus menciptakan karma buruk dan mempertebal noda batin. Karma akibat noda batin ini terus menjerumuskan manusia. Akibatnya, kerumitan pun bertambah. Manusia semakin lama semakin banyak, lingkungan semakin lama semakin buruk. Jadi, saya percaya, terhadap makhluk hidup masa kini, Buddha juga sangat prihatin. Sebagai murid Buddha, kita harus bêtekad dan berikrar. Kita harus hidup sesuai ajaran Buddha
Berhubung ajaran Buddha memiliki pedoman yang jelas, maka kita harus mengikutinya. Kita harus menjalankan ajaran Buddha. Bukan hanya menyatakan dukungan, melainkan harus menjalankannya. melainkan harus menjalankannya. Di jalan ini, kita tidak berjalan sendirian, kita juga harus membimbing orang lain. Ajaran Buddha dikategorikan menjadi kereta besar, sedang, dan kecil. Kereta adalah kendaraan. Kendaraan adalah alat transportasi. Ada kendaraan besar, ada kendaraan kecil. Di masa kini kita ada sepeda, ada sepeda kayuh dan sepeda motor. Keduanya adalah kendaraan. Kendaraan adalah alat untuk berpindah dari tempat satu ke tempat lain. Sebuah sepeda kayuh dikendarai oleh satu orang
Sebuah sepeda motor bisa mengangkut dua hingga tiga orang. Sebuah mobil taksi bisa mengangkut empat sampai lima orang. Yang lebih besar lagi Yang lebih besar lagi adalah bus atau kereta api. Semua kendaraan ini digunakan untuk mengangkut orang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Jadi, kita sering menyebut, “Naik kendaraan.” “Naik kendaraan.” “Kamu naik kereta api atau pesawat terbang?” “Tergantung kamu, ingin lebih cepat atau lebih lambat?” “Ingin mengangkut lebih banyak orang atau lebih sedikit orang?” Sama halnya, dari tataran awam menuju kebuddhaan, Buddha ingin kita mengambil kendaraan besar. Jalan yang harus ditempuh memang sama. Kita sendiri tetap akan sampai di sana, tetapi ada banyak orang yang berjalan bersama kita. Kita kita hanya berlatih sendirian, Kita kita hanya berlatih sendirian, maka kita hanya akan membimbing satu dua orang. Terlalu sedikit. Jika hanya sedikit orang yang menjalankan ajaran Buddha, sedangkan sebagian besar orang terus menciptakan noda batin dan karma buruk, bayangkan, dengan bertambahnya populasi manusia, noda batin ini noda batin ini akan membuat masyarakat semakin menyimpang. Jika kita dapat bertekad menjadi manusia yang baik. Sebagai manusia, kita dapat menggunakan metode manusia untuk menjalankan ajaran Buddha
Antarsesama manusia hendaknya saling membimbing. Satu orang, sepuluh orang, seratus orang, ribuan orang, ataupun puluhan ribu orang, selain saling membimbing juga harus mewariskan. Artinya, bukan hanya mengucapkannya saja, tetapi kita juga harus mempraktikkannya. Jika ucapan dan perilaku sejalan, kita akan bisa memengaruhi banyak orang agar noda batin yang kompleks dalam diri semua orang dapat dikembalikan ke arah kesederhanaan. Inilah yang disebut manusia yang penuh cinta kasih berkesadaran. Dengan begitu, kita telah menjadi makhluk hidup yang sadar. Makhluk hidup memiliki perasaan di dalam batin. Ada orang yang gembira setelah berbuat baik dan merasa itu adalah misinya. “Saya bersumbangsih tanpa pamrih.” “Melihat orang lain tertolong, saya sangat gembira.” Ini juga disebut perasaan. Dengan adanya rasa empati yang memahami penderitaan semua makhluk, kita merasa tidak sampai hati, Kita pun bersumbangsih
Kini kita sering melihat banyak manusia yang memiliki cinta kasih berkesadaran. Mereka disebut Bodhisattva dunia. Kita sering melihat dan mendengar banyak kisah yang mengharukan. Namun, apakah benar-benar banyak? Jika dibandingkan dengan semua makhluk di dunia Jika dibandingkan dengan semua makhluk di dunia dan populasi manusia yang terus bertambah, sesungguhnya yang belum pernah mendengar ajaran Buddha dan belum pernah bertemu ajaran Buddha tentu lebih banyak lagi. Meski sudah pernah mendengar ajaran Buddha atau bertemu hal-hal baik, apakah mereka bisa ikut melakukannya? Banyak orang bisa bicara, tetapi untuk benar-benar mempraktikkan, tidaklah mudah. Jadi, Buddha memberi tahu kita bahwa manusia terjerat ke dalam suatu pandangan. Di dalam enam belas pandangan, sebelumnya kita membahas pandangan tentang ras manusia. Ras merujuk pada jumlah yang banyak. Noda batin dan pandangan manusia pun sungguh tak terbatas. Kini kita akan membahas yang kedelapan, yaitu pandangan tentang manusia. Di dalam Sutra Intan juga dibahas pandangan tentang manusia, makhluk hidup, dan rentang usia, banyak sekali. Benar, mengenai pandangan tentang manusia, berapa pun banyaknya pandangan yang dibahas dalam Sutra, semuanya tak lepas dari manusia
Manusia tidak luput dari lingkungan sekitar. Dalam kehidupan sehari-hari, segala yang kita lihat, segala yang kita rasakan, atau yang kita lakukan setelah merasakan sesuatu, semuanya tak lepas dari manusia. Ini berkaitan dengan noda batin dan ketidaksadaran batin manusia. Manusia tersesat. Mereka tersesat dalam kehidupan sehari-hari. Begitu tersesat, kita terus meninggikan diri sendiri kita terus meninggikan diri sendiri dan menjadi sombong, bahkan kita salah mengira bahwa kita adalah orang yang mampu melatih diri, sedangkan orang lain tidak. “Saya memiliki jalinan jodoh istimewa, bisa mendengar Dharma.” “Yang lebih luar biasa lagi, saya bisa membabarkan Dharma, juga bisa melatih diri.” Kesombongan dan keangkuhan pun timbul. Ini juga termasuk kekeliruan praktisi pembina diri
Dengan kesombongan seperti ini, kita mengira kita piawai dalam melatih diri. “Saat melihat saya, kalian harus menghormati saya.” Apakah begini benar? Melatih diri berarti kita harus berlatih untuk mengecilkan ego, berusaha melayani masyarakat, dan masuk ke dalam hati orang untuk membimbing batin semua orang ke arah yang benar. Jika kita tidak dapat mengecilkan ego, bagaimana bisa masuk ke dalam hati orang? Jika kita mengaku tengah melatih diri, tetapi sombong, ini berarti kita tidak mengasihi diri sendiri. Kita harus tahu untuk mengasihi diri sendiri. Kita harus mengerti untuk merendahkan hati. Ini barulah disebut memiliki pelatihan diri. Kita harus selalu rendah hati. Rendah hati berarti melapangkan hati kita hingga seluas jagat raya agar kita dapat merangkul segala sesuatu. Kita kita meninggikan diri, maka hati kita akan menjadi sempit. Jadi, kita harus tahu bahwa kita tidak boleh memiliki pandangan tentang manusia. Kita tidak boleh membedakan. “Saya adalah orang yang bisa melatih diri, orang lain tidak bisa
” “Saya bisa membabarkan Dharma, kalian tidak bisa.” Kesombongan seperti ini menciptakan noda batin yang kompleks bagi diri sendiri. Berjalan di jalan seperti ini sangat berbahaya. Buddha juga mengatakan bahwa Alam manusia adalah jalan berbahaya yang memiliki banyak jebakan. Jalan berbahaya ini memiliki banyak jebakan. Jika kita tidak hati-hati, di dalam hubungan antarmanusia, kita akan terjerumus ke dalam jebakan dan bahaya. Pada saat itu, ingin melepaskan diri pun tiada lagi kesempatan. Semuanya berawal pada sebersit niat. Keakuan dan kesombongan karena terlahir sebagai manusia ini membuat manusia merasa luar biasa. Mereka menindas makhluk hidup lain
Mereka menindas makhluk hidup lain. Lihatlah, hanya demi memenuhi nafsu makan, manusia memakan segala jenis daging makhluk hidup. Mereka menganggap bahwa hewan diciptakan memang untuk dimanfaatkan oleh manusia. Demikianlah kesombongan manusia. Bukan hanya tidak melatih diri, tetapi juga merasa diri paling hebat, bisa membuat segala sesuatu dan boleh menindas makhluk lain. Terhadap binatang, mereka sangat tidak hormat. Sesungguhnya, binatang juga berperasaan. Saat Buddha masih ada di dunia, saat Beliau masih melatih diri sebagai petapa, suatu waktu terjadi kekeringan. suatu waktu terjadi kekeringan. Di dalam hutan, rumput dan air sudah tidak ada, banyak binatang yang mati kelaparan. Ini terjadi akibat kekeringan. Tidak ada air, tidak ada rumput
Akibatnya, banyak binatang yang mati. Di dalam hutan, meski Beliau sudah bersungguh-sungguh berusaha menolong binatang-binatan itu, tetapi kekeringan sangat parah. Semua rerumputan mongering. Pada saat itu banyak binatang yang mati. Suatu hari, Beliau sendiri sudah beranjak tua. Kondisi tubuhnya juga tidak begitu baik karena saat itu kondisi alam sudah benar-benar kering. Bagaimana bisa manusia dan binatang bertahan hidup? Suatu hari Beliau melihat induk harimau melahirkan anak. Saat binatang-binatang lain mati, induk harimau ini malah melahirkan anak. Ia sendiri sudah tidak bertenaga. Saat anaknya lahir, tentu harus disusui. Namun, induk harimau ini sangat lemah karena kekurangan nutrisi. Anaknya pun tidak bisa menyusu
Saat itu, induk harimau ini tiba-tiba tidak bisa lagi menahan lapar. Ditambah lagi, anaknya terus meminta susu. Akibatnya, naluri buasnya bangkit. Ia ingin memakan anaknya sendiri. Pada saat itu, petapa ini merasa tidak sampai hati. Jadi, Beliau terus berpikir untuk mencari sesuatu untuk makan induk harimau, tetapi tidak juga bisa menemukannya. Beliau lalu berpikir, “Harimau adalah hewan pemakan daging, meski Aku bisa menemukan air, rumput, atau padi-padian, ia juga tidak akan mau memakannya.” Jadi, Beliau berpikir, “Hidup suatu saat juga pasti berakhir.” Berhubung melatih diri di hutan, Aku ingin bersumbangsih di sini.” “Namun, di hutan ini semua makhluk adalah sama.” “Semua makhluk adalah setara.” “Nyawa induk harimau dan anak harimau berada dalam bahaya.” “Aku harus menolong mereka.” “Selain si induk harimau akan kenyang, “Selain si induk harimau akan kenyang, ia juga akan merasa tenang ia juga akan merasa tenang dan tidak akan memakan anaknya sendiri.” “Dengan begitu, Aku juga menolong anaknya
” Inilah yang Beliau pikirkan. Beliau memutuskan untuk mengorbankan diri untuk menolong induk dan anak harimau. Jadi, setelah memutuskan, Beliau segera datang ke hadapan induk harimau. Saat melihat manusia, si induk harimau melepaskan anaknya dan bersiap menerkam si manusia. Beliau menjulurkan kepalanya ke mulut harimau. Beliau merasa, meski mengorbankan diri untuk harimau, Beliau juga harus memilih cara mati yang tidak begitu tersiksa. Jadi, dia terlebih dahulu menjulurkan kepala. Jadi, dia terlebih dahulu menjulurkan kepala. Inilah kisah yang ada dalam Sutra. Para dewa pun tersentuh. Jadi, meski petapa ini menjulurkan kepala ke mulut harimau dan tidak mungkin selamat, tetapi karena para dewa tersentuh, mereka pun menurunkan hujan yang membasahi hutan dan gunung. Hujan ini mampu membuat hutan dan gunung kembali memiliki tanda-tanda kehidupan. Jadi, demikianlah Buddha terus datang ke dunia dalam berbagai wujud
Saat bermanifestasi sebagai petama di hutan, Beliau juga dapat menolong hutan itu pada saat hutan mengalami masa terkering dan hewan-hewan di sana sangat menderita. Di masa-masa yang baik, Beliau terus mengasihi semua makhluk. Saat terjadi kekeringan yang menyebabkan para binatang mati kelaparan, yang menyebabkan para binatang mati kelaparan, Beliau akhirnya mengorbankan nyawa untuk menolong harimau. Tekad luhur-Nya ini menyentuh para dewa. Kita tahu bahwa Buddha melatih diri bukan hanya dalam satu kehidupan. Jadi, kita harus menjalani hidup dengan sederhana. Alangkah baiknya jika bisa kembali pada hakikat kebuddhaan yang pada dasarnya dimiliki semua orang. Dengan demikian, kita menjadi manusia dengan cinta kasih berkesadaran. Dengan demikian, dunia kita akan penuh kehangatan. Jika antarmanusia ataupun antara manusia dan hewan dapat berinteraksi dengan harmonis, bukankah kehidupan ini menjadi kehidupan yang terbaik? Saudara sekalian, kita harus selalu menjaga pikiran dengan baik. Jika pikiran dapat dijaga dengan baik, maka setiap tempat akan menjadi Tanah Suci
Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.