Sanubari Teduh -253-Enam Belas Pandangan Bagian 09
Saudara se-Dharma sekalian, hidup di tengah masyarakat, pikiran kita terus bergejolak. Penderitaan dalam hidup sungguh banyak. Jadi, Buddha senantiasa mengatakan bahwa Jadi, Buddha senantiasa mengatakan bahwa karena kebanyakan manusia memiliki kekeliruan “Semua makhluk dipenuhi kekeliruan membedakan ini dan itu, untung dan rugi, sehingga membangkitkan niat tidak baik dan menciptakan berbagai karma buruk.” Bukankah ini ada dalam keseharian kita? Kita sering berada dalam kekeliruan. Akibat adanya lima agregat, yakni rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran, saat indra bersentuhan dengan objek luar, kita terdorong untuk berpikiran keliru. Jadi, tanpa bisa mengendalikan diri, makhluk awam membangkitkan kekeliruan. Artinya, kita tidak bisa mengendalikan diri
Kita harus terus melangkah di jalan yang kita pilih. Setelah menemukan jalan yang benar, kita jangan sampai menyimpang. Kita harus melangkah maju. Inilah yang benar. Namun, sebagai makhluk awam, meski telah menemukan jalan dan tahu bahwa jalan ini menuju akhir yang benar, tetapi di tengah jalan ini, masih bisa timbul pikiran yang keliru. Timbul pertentangan dalam batin kita. Pikiran kita tidak lagi lurus. Jadi, dalam pikiran kita timbul berbagai hal Jadi, dalam pikiran kita timbul berbagai hal yang membuat kita tak dapat terus melangkah maju. Kita mudah untuk memikirkan untung rugi. Kita mulai membedakan
Setelah itu, mulailah timbul pikiran tidak baik. Saat niat tidak baik timbul, kita akan menciptakan banyak karma buruk. Setelah karma buruk tercipta, apa akibatnya? “Terombang-ambing dalam enam alam, dipenuhi racun penderitaan.” Setelah menciptakan benih karma buruk, buah atau akibatnya tentu saja penderitaan. Sulit untuk terlepas dari penderitaan ini. Berapa lama waktu yang diperlukan? “Tidak dapat membebaskan diri selama ratusan juta kalpa yang tak terhingga.” Jadi, dunia ini penuh jebakan. Begitu kita menyimpang selangkah saja dan terjerumus ke dalam jebakan itu, maka ingin melepaskan diri pun sangat sulit. Kita tak mampu membebaskan diri. Di saat itu, dibutuhkan Bodhisattva. Bodhisattva memandang dunia dari lensa kebenaran
Karena itu, saya sering berkata, “Bodhisattva datang karena adanya makhluk yang menderita.” Begitu banyak makhluk hidup yang berpikiran menyimpang, membangkitkan kekeliruan, dan mulai tersesat, sehingga mudah untuk masuk ke dalam jebakan. Saat itu, kadang kita tak dapat membebaskan diri. Karena itu, harus ada Bodhisattva. Bodhisattva membangkitkan empati, cinta kasih, dan welas asih sehingga terjun ke tengah umat manusia untuk melakukan penyelamatan. Di dalam enam belas pandangan, yang kesembilan adalah pandangan tentang pelaku. Pandangan kesembilan adalah tentang pelaku. Melakukan berarti berbuat baik atau buruk. Kebanyakan makhluk awam memiliki kekeliruan
Makhluk awam lebih memilih jalan yang menyimpang. Dalam hubungan antarmanusia, saat batin seseorang tidak seimbang, dia dapat menjalin dendam dan kebencian dengan orang lain, lalu melakukan suatu tindakan yang merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Orang ini adalah pelaku yang harus menerima konsekuensi. Kita sudah tahu prinsip sederhana ini. Selain itu, adakalanya orang lain tidak bermasalah dengan kita, tetapi kita malah melakukan hal yang merugikan mereka. Mengapa ini bisa terjadi? Ini karena ada yang membuat melakukan. Ini adalah yang kesepuluh. Kadang kita benci atau merasa dendam terhadap seseorang, tetapi kita sendiri tidak melakukan apa-apa. Kita menyuruh orang lain
“Saya tidak suka terhadap orang ini, tetapi saya tidak akan langsung mengatakannya.” “Saya akan mengatakannya pada orang lain agar orang lain ikut benci terhadapnya.” Ini disebut memanfaatkan orang lain untuk berbuat jahat. Di dalam masyarakat juga ada orang yang memanfaatkan orang lain untuk merampok, membunuh, dll. Mereka berpikir tak apa jika orang lain yang melakukannya. Sesungguhnya, bukan begitu. Meminta orang lain melakukan, berarti kita juga terlibat. Ini jika dilihat dari sisi hukum manusia
Sesungguhnya, begitu pula dari sisi hukum karma. Untuk keluar dari penderitaan di dunia, kita harus melampaui keduniawian. Segala bentuk kekeliruan, segala perhitungan untung rugi, semua harus terlebih dahulu kita lenyapkan. Dengan begitu, kita tak akan perhitungan dengan orang lain atau membedakan mana orang yang saya suka dan yang saya tidak suka. Jika pikiran seperti itu tidak timbul, Jika pikiran seperti itu tidak timbul, kita tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain dan diri sendiri. Kita juga tidak akan menyuruh orang lain meski kita sendiri tidak melakukannya. Semua keburukan tadi menciptakan karma buruk. Semua itu adalah kekeliruan. Semua itu tidaklah benar
Jadi, Buddha datang ke dunia untuk terus membimbing kita agar membangkitkan hati Bodhisattva. Hati Bodhisattva sangat dekat dengan kebenaran. Jadi, Bodhisattva mengamati kebenaran ini. Kita semua hendaknya menjadi Bodhisattva yang menerapkan kebenaran di dalam setiap perilaku kita. Jika kita memiliki hati Bodhisattva, Berkenaan dengan rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran, kita harus berpegang pada kebenaran. Rupa seperti apa pun yang kita lihat atau orang seperti apa pun yang kita temui, jika di dalam hati kita terdapat kebenaran, indra kita tidak akan terpengaruh oleh kondisi yang tidak baik di luar. Perasaan kita dengan sendirinya akan tenang. Inilah hati Bodhisattva kita. Jika menyatu dengan kebenaran, kita tidak akan terjerat lima agregat, juga tidak akan terjerumus dalam enam belas pandangan. Singkat kata, Dalam mempelajari ajaran Buddha, banyak aspek halus yang harus diperhatikan
Dalam kehidupan sehari-hari, selama kita memiliki kebenaran yang ada di dalam hati kita dan memiliki hati yang menyatu dengan segala sesuatu yang ada di dalam keseharian, maka dengan sendirinya kita akan dapat merasakan saat ada orang yang menderita dan merasa ingin untuk berusaha membantunya. Inilah Bodhisattva yang mengamati penderitaan semua makhluk. Kita akan dapat bertekad untuk menolong mereka. Bukankah di dunia ini banyak kisah seperti ini? Terutama di dalam organisasi Tzu Chi, kita sering melihat kisah orang-orang yang pernah melakukan kesalahan. Berhubung kita semua adalah makhluk awam, maka pasti pernah melakukan kesalahan. Setelah melakukan kesalahan, menanam benih sebab, dan menerima akibatnya, maka perlu ada orang yang membimbing ke jalan yang benar. Dalam organisasi Tzu Chi banyak kisah seperti ini. Dalam program acara “People” di Da Ai TV, ada sebuah kisah yang penuh pelajaran hidup. Sehari sebelum saya melantik anggota komite di Taichung pada tahun 2006, para anggota komite di komunitas setempat membawa para calon anggota komite yang keesokan harinya akan dilantik
Salah satunya adalah Relawan Cai. Dia terlihat gagah dan berwibawa. Dia juga terlihat sangat berbudaya. Di sana dia bertobat dengan tulus. Dia menceritakan bahwa dahulu, sejak usia belasan tahun, dia sudah memakai narkoba dan gemar berkelahi. Selain memakai narkoba, dia juga menjadi pengedar. Setelah berulang kali melakukan kejahatan itu, dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Saat jalinan jodoh matang, di dalam penjara dia melihat satu jilid buku Empat Ajaran Liaofan. Setelah membaca buku ini, dia sadar bahwa hukum sebab akibat sangat menakutkan
Dia lalu mulai berintrospeksi dan menyadari bahwa segala yang dia lakukan di masa lalu adalah salah. Bukan hanya itu, dia juga mencelakai banyak orang. Akibat narkoba yang dia edarkan, banyak orang yang terjerumus dan menderita. Jadi, dia ingin bertobat secara menyeluruh. Pada saat itu, ada orang yang memberinya majalah Tzu Chi. Dalam majalah itu, dia melihat banyak orang baik. Dia bertanya-tanya mengapa ada begitu banyak orang baik yang melakukan banyak kebajikan di dunia. Bukan hanya di Taiwan, mereka juga menyebarkan kebaikan di seluruh dunia. Dia lalu berpikir apa yang telah dia lakukan sepanjang hidupnya. Dia membandingkan dirinya dengan orang-orang ini. Dia juga merasa Kata Renungan Jing Si sangat mudah dipahami, juga tidak sulit untuk dihafalkan
Ini karena di dalam setiap edisi majalah kita terdapat Kata Renungan Jing Si. Lihatlah. Kemudian, ada orang lain yang memberinya buku Kata Renungan Jing Si. Buku Kata Renungan Jing Si ini dia jadikan pedoman sederhana dalam menghadapi orang dan masalah dalam keseharian. Jadi, dia berkelakuan baik di dalam penjara. Meski dijatuhi hukuman seumur hidup, tetapi berkat kelakuan baiknya ini, akhirnya dia menerima pengurangan masa hukuman hingga hanya tersisa delapan tahun. Delapan tahun pun berlalu. Dalam waktu delapan tahun itu, dia sangat giat dan bersemangat. Dia banyak membantu orang di dalam penjara. Dengan tekad yang kokoh, setelah keluar dari penjara, setelah keluar dari penjara, dia berniat bergabung ke dalam Tzu Chi. Namun, dia merasa rendah diri
Dia pun sempat bimbang. Kemudian, relawan kita, Qiu-xia, melihatnya. Qiu-xia berinisiatif menyapanya dan bertanya mengapa tidak masuk ke dalam. Di luar kantor Tzu Chi, dia bertanya, “Apakah saya boleh masuk?” “Saya pernah melakukan banyak kesalahan dan hal-hal yang tidak benar.” “Saya baru keluar dari penjara.” Mendengar dia berkata bahwa dia telah melakukan banyak kesalahan, anggota komite kita berkata, “Itu belum apa-apa.” “Saya pernah bekerja di dunia malam
” “Saya pernah menjadi manajer sebuah klub malam.” “Saya pernah membawa banyak gadis.” “Saya juga berjudi dan minum alcohol.” “Intinya, apa pun pernah saya lakukan.” “Saya tidak berbeda jauh dengan Anfa.” “Anda juga tidak lebih jahat dari saya
” “Lihat, kini saya sudah berada di dalam Tzu Chi.” “Saya sudah menjadi anggota komite.” “Jadi, di Tzu Chi banyak bermekaran bunga teratai.” “Master berkata, ‘Mengajak insan berhati mulai di dunia untuk menggarap ladang berkah; puluhan ribu kuntum teratai hati menciptakan dunia Tzu Chi.’” “Asalkan mau berubah secara total, “Asalkan mau berubah secara total, teratai hati Anda juga akan mekar.” Jadi, Qiu-xia mulai membimbingnya. Tentu, dia sangat tekun dan bersemangat. Budi pekertinya juga sangat baik
Dia adalah pekerja keras. Apa pun rela dia lakukan. Baik dalam mendaur ulang maupun melakukan kegiatan lain, dia mengikuti relawan lain dengan giat. Dia sangat bersungguh hati. Beberapa tahun dia di Tzu Chi, semua orang terus mengamatinya. Dia bersumbangsih dengan sepenuh hati. Orang-orang sudah memahaminya. Dia pun ikut dalam pelatihan dan akhirnya siap untuk dilantik
Jadi, saat itu dia menceritakan banyak kisah. Dia bahkan membimbing banyak orang yang pernah menempuh jalan yang sama dengannya. Di hadapan banyak orang yang pernah tersesat, relawan kita memintanya bercerita tentang perjalanan hidupnya. Jadi, dia juga membimbing banyak orang dari kesesatan. Saat itu, dia juga mengajak empat orang dari mereka untuk bertemu dengan saya. Mulanya, empat orang ini juga tenggelam dalam kesesatan. Orang pertama yang dia bimbing adalah Hong Song-yuan. Anak muda ini baru berusia tiga puluhan tahun. Kondisi keluarganya sangat baik. Ibunya hanya memiliki seorang anak, yaitu dirinya. Ibunya menaruh segala harapan padanya. Dia diberikan lingkungan yang baik
Namun, saat berusia 17 tahun, dia terbawa pergaulan dan akhirnya menggunakan narkoba. Selama enam belas tahun sejak dia berusia tujuh belas tahun hingga berusia tiga puluhan tahun, hingga berusia tiga puluhan tahun, dia telah menghabiskan tiga puluhan juta dolar NT hanya untuk membeli narkoba. Demi anak ini, ibunya harus mengeluarkan banyak uang. Hanya untuk narkoba, dia sudah menghabiskan lebih dari tiga puluh juta dolar, belum lagi untuk kebutuhan lainnya. Ibunya terus menaruh harapan. Ibunya mencarikan istri untuknya. Dia lalu menikah dan telah memiliki anak. Namun, kebiasaannya memakai narkoba belum berubah. Ibunya berusaha keras ingin mengetuk hatinya dengan kasih sayang Kadang dia sendiri juga merasa harus berubah. “Saya sudah menikah, juga sudah memiliki anak
” “Saya tidak boleh jadi contoh yang tidak baik bagi anak saya.” Namun, dia berkali-kali gagal mengubah kebiasaannya. Suatu kali, dia juga menyetujui keluarganya menguncinya di dalam rumah. keluarganya menguncinya di dalam rumah. Pintu rumahnya benar-benar dikunci agar saat dia kambuh, dia tidak bisa lari keluar rumah dan pengaruh narkobanya bisa hilang. Kali itu, dia benar-benar dikunci di dalam rumah. Saat dia kambuh, dia berlari ke sana kemari untuk mencari narkoba. untuk mencari narkoba. Dia berusaha mendobrak pintu seperti orang gila. Dia merasa tidak tahan dan akhirnya melompat ke lantai bawah sehingga kakinya patah
Dia akhirnya dilarikan ke rumah sakit karena kakinya yang patah. Setelah beberapa bulan pascaoperasi, lukanya tidak kunjung sembuh. Dia dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan. Yang paling menderita adalah ibunya. Beliau tidak tahu harus bagaimana dan tidak tahu ke mana harus meminta pertolongan. Jadi, di komunitas tempat tinggalnya, ada seorang anggota komite kita yang merasa kasihan melihat ibu ini. Dia juga melihat anak ibu tersebut selama belasan tahun itu terlihat sangat menakutkan saat kambuh. terlihat sangat menakutkan saat kambuh. Ada seorang pemakai narkoba di komunitas juga mengkhawatirkan
Anggota komite ini juga kasihan terhadap sang ibu, Anggota komite ini juga kasihan terhadap sang ibu, belum lagi anak muda itu sudah memiliki anak dan istri. Jadi, anggota komite kita di komunitas itu menggunakan kesempatan untuk terus menjenguknya, mendampingi ibunya, dan mendampingi istri serta anaknya. dan mendampingi istri serta anaknya. Di saat yang sama, ada Relawan Cai yang di masa lalu juga pernah memakai dan mengedarkan narkoba serta melakukan berbagai kejahatan lain. Berhubung Relawan Cai telah bertobat dan bertekad untuk membimbing orang lain, maka kasus anak muda ini diperkenalkan kepada Relawan Cai. Relawan Cai setiap hari mendampinginya dan membimbingnya. Dia juga menceritakan penderitaan dan pergumulan saat dirinya masih memakai narkoba. saat dirinya masih memakai narkoba. Mereka berdua saling berbagi cerita
Lambat laun, di rumah sakit, anak muda itu berhasil berhenti memakai narkoba, tetapi kakinya tak kunjung sembuh. Insan Tzu Chi sering menjenguknya. Suatu hari, dia memohon ibunya untuk pergi ke cabang Tzu Chi di Taichung untuk pergi ke cabang Tzu Chi di Taichung untuk memohon kepada Bodhisattva. Jika dia berhasil sembuh, dia bertekad untuk menjadi relawan. Ibunya sangat gembira dan pergi ke kantor cabang di Taichung bersama anggota komite kita. Berselang beberapa waktu, dia diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Setelah keluar dari RS, dia menjadi sangat baik. Dia ikut dalam kegiatan daur ulang
Baik mencuci kamar mandi maupun pekerjaan lainnya, semua rela dia lakukan. Dia bahkan juga bertekad untuk ikut mendoakan orang yang meninggal. Di mana pun dibutuhkan, baik daur ulang, berdoa, maupun membersihkan lingkungan, semua rela dia lakukan. Dengan adanya sekelompok insan Tzu Chi yang terus mendampinginya, dia sangat tersentuh. Jadi, dia berkata bahwa dia berikrar untuk menjadi insan Tzu Chi yang baik, juga menjadi murid saya yang baik. Jadi, setiap kali diadakan kebaktian di kantor cabang Taichung, ibunya, istrinya, dan anaknya pasti mendampinginya untuk mengikuti kebaktian Sutra Bunga Teratai. Dia sudah memulai hidup baru. Ibunya pun mulai merasa bahagia dan mengikuti pelatihan sebagai relawan komunitas dan relawan daur ulang. Ibunya sudah dilantik sebagai relawan daur ulang
Beliau juga berikrar untuk menjadi anggota komite. Jadi, beliau menjadi relawan penggalang dana dengan bimbingan Relawan Cai. Inilah caranya membalas budi Relawan Cai yang telah membimbing putranya. Sejak saat itu, putranya ini juga bertekad untuk mengikuti pelatihan. Dalam proses ini, anaknya juga merasa ayahnya menjadi sangat baik. Dahulu, saat sang ayah kambuh, Dahulu, saat sang ayah kambuh, anaknya bisa berkata pada neneknya, “Nek, panggil polisi untuk menangkap Ayah.” Begitulah dahulu. Kini, anaknya bisa berkata, “Nenek, Bodhisattva membantu kita menemukan Ayah.” Kehidupannya sudah berubah. Lihatlah, keluarga ini pun tertolong
Intinya, Bodhisattva harus memiliki kebenaran. Sebagai manusia, kita tak luput dari kesalahan. Namun, jika kita dapat menyatu dengan kebenaran dan berjalan sesuai kebenaran, maka kehidupan kita juga bisa berubah. Selain diri kita yang berubah, kita juga bisa menginspirasi orang lain. Jadi, dalam berbuat baik, apakah kita melakukannya sendiri ataukah meminta orang lain melakukannya, keduanya sama-sama mengandung pahala. Kita sendiri bisa melakukannya, lalu kita mengajak orang lain ikut melakukannya. Ini juga termasuk menjadi yang membuat melakukan. Jika kita meninggalkan kebenaran dan berlaku tidak baik terhadap orang lain, maka saat pikiran jahat timbul, kita dapat mencelakai orang lain atau meminta orang mencelakai orang itu. Baik meminta orang lain melakukan maupun melakukan sendiri, semua tetap memiliki konsekuensi
Semua ini termasuk karma buruk. Intinya, semua bergantung pada pikiran. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati. Hati kita harus menyatu dengan kebenaran, barulah kita tidak akan tersesat atau melakukan kesalahan. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.