Sanubari Teduh -255-Enam Belas Pandangan Bagian 11
Saudara se-Dharma sekalian, pada setiap waktu dalam setiap hari, fisik dan batin kita dapat merasakan. Saat cuaca dingin, kita merasa kedinginan. Saat cuaca panas, kita kepanasan. Saat mendengar ketukan kayu di pagi hari, kita merasa bahwa waktu bangun telah tiba dan harus bersiap menuju ruang kebaktian. Jika kita tidak dapat merasakan, maka kita tidak akan tahu kondisi sekitar kita. Jika kita dapat mengetahui kondisi sekitar kita, berarti kita dapat merasakan. Perasaan tidak lepas dari hubungan antarmanusia. Perasaan tidak lepas dari hubungan antarmanusia
Jadi, ada orang yang merasa, “Saya sangat menderita.” “Mengapa yang menderita harus saya?” Saat orang lain menderita, kita sepertinya tak dapat merasakannya. Saat giliran kita yang menderita, kita merasa penderitaan itu tak tertahankan. Inilah yang disebut perasaan. Di dalam enam belas pandangan yang Buddha uraikan, yang ketiga belas dan empat belas adalah pandangan tentang penerima dan pandangan tentang yang membuat menerima. Ini berkaitan dengan perasaan. Kita tahu bahwa perasaan membawa derita
Penderitaan ini bukan hanya ada pada kehidupan ini saja. Jika kita berbuat jahat, kita akan semakin menderita pada kehidupan berikutnya. Kita sudah tahu akan hal ini, tetapi banyak orang masih berpikir, “Saya tidak melakukannya sendiri, melainkan meminta orang melakukannya.” “Saya sudah cukup menderita, kelak saya minta orang lain melakukannya.” Dia tidak tahu bahwa dengan meminta orang lain melakukan, orang lain juga akan menderita. Sesungguhnya, orang yang meminta orang lain melakukan ini berarti membuat orang lain menderita, maka penderitaannya sendiri akan semakin besar. Ini tidak jauh berbeda dengan yang kita bahas dua hari lalu. Baik melakukan sendiri, meminta orang lain melakukan, menerima sendiri, maupun membuat orang lain menerima, semuanya sama. Istilah “menerima” di sini berkaitan dengan perasaan yang diterima. Contohnya, jika kita terserang flu, kita merasa menderita. Kita harus melakukan antisipasi. Pertama, kita harus mencegah agar tidak terserang flu
Jika sudah terserang flu, kita harus segera mengenakan masker agar tidak menulari orang lain. Saat sedang makan dan merasa ingin batuk, dan merasa ingin batuk, kita bisa segera keluar meninggalkan meja makan. Kalian tentu masih ingat masa-masa wabah SARS merebak. bukankah kita sering menyebarkan dan sering mendengar pengetahuan umum bahwa saat batuk, kita dapat menyebarkan bakteri dan virus kepada orang lain dengan kecepatan yang lebih cepat daripada topan. dengan kecepatan yang lebih cepat daripada topan. Jadi, saat wabah SARS merebak, mengapa semua orang sangat panik? Karena lewat interaksi antarmanusia, kuman penyakit mudah menular. Jadi, itulah yang terjadi saat wabah penyakit merebak. Dalam ajaran Buddha ada istilah tiga bencana kecil. 00:06:04:14 00:06:12:00 Peperangan adalah ulah manusia. Kelaparan disebabkan oleh kekeringan atau badai yang merusak tanaman pangan. atau badai yang merusak tanaman pangan. Namun, wabah penyakit berkaitan dengan kebersihan dan sanitasi
Ini berkaitan erat dengan pencegahan. Kita harus waspada dan menjaga pola hidup kita. Pertama, kita harus memperhatikan lingkungan sekitar. Kebersihan lingkungan harus dijaga. Berikutnya adalah menjaga kebersihan diri. Kebersihan diri sendiri juga harus dijaga, baik dari segi makanan, minuman, maupun yang lainnya. Jika kita terserang flu akibat perubahan cuaca ataupun virus penyakit, kita akan menunjukkan gejala flu. Jika gejala flu ini sudah menyerang tubuh kita, maka kita harus melakukan pencegahan, jangan sampai kita menulari orang lain. Saat kita bersin dan batuk, kuman penyakit mudah menyebar lewat udara
Jadi, saat kita menerima dan merasakan penyakit, Jadi, saat kita menerima dan merasakan penyakit, kita hendaknya jangan sampai menulari orang lain. Ini adalah pengetahuan yang sederhana. Artinya, jika melakukan sesuatu yang negatif, kita pasti menerima konsekuensinya. Kita pasti akan merasakan konsekuensi dari segala yang kita lakukan. Berhubung kita sendiri merasakannya, maka janganlah kita membuat orang lain ikut merasakannya. Inilah yang dimaksud penerima dan yang membuat menerima. Ini berkaitan dengan rasa empati. Kita harus mengembangkan cinta dan welas asih. Jika tidak, saat kita menderita, kita juga bisa membuat orang lain turut menderita. Sesungguhnya, karma buruk ini juga berkaitan dengan kita
Di dalam Sutra Seratus Perumpamaan, ada sebuah kisah. Saat Buddha masih berada di dunia, pada saat itu ajaran Buddha sudah menyebar. Meski ada orang yang belum pernah melihat Buddha dan belum pernah mendengar Buddha membabarkan Dharma, tetapi mereka sudah tahu tentang pelatihan diri. Ada seseorang yang sangat berminat pada pelatihan diri. Ada seseorang yang sangat berminat pada pelatihan diri. Dia meninggalkan keluarganya dan pergi ke hutan. Dia berharap dapat melatih diri di sana dan memperoleh pembebasan
Tekad melatih dirinya sangat teguh. Jadi, dia meninggalkan keluarganya, pergi ke hutan, dan tinggal di sana selama dua belas tahun. Dalam dua belas tahun itu, dia menemukan sebuah danau dengan pepohonan yang lebat. Di tempat itu, meski suasanya sangat tenang dan baik, meski dia sendiri juga memiliki tekad berlatih, tetapi gejolak pikirannya tetap tidak sanggup dia taklukkan. Dia yang memilih sendiri tempat itu, tetapi biar bagaimana pun, gejolak pikirannya tetap tak bisa dia kendalikan. Dia sendiri juga sangat risau. Suatu hari, Buddha mengetahui hal ini. Beliau mengetahui ada seorang petapa yang sangat bertekad, tetapi tidak dapat menaklukkan pikirannya sendiri. Jadi, Buddha sengaja datang ke tempat petapa itu
Melihat petapa itu duduk di bawah pohon, Buddha menjelma menjadi seorang bhiksu biasa. Beliau berjalan perlahan-lahan hingga ke bawah pohon itu dan duduk di sebelah petapa itu. dan duduk di sebelah petapa itu. Namun, mereka tidak saling mengganggu. Saat itu, ada seekor kura-kura yang naik dari dalam danau. Ia menjulurkan kepalanya dan terus berjalan maju. Kura-kura memang berjalan dengan lambat. Tiba-tiba ada seekor berang-berang yang terlihat sangat lapar
Melihat kura-kura itu berjalan, berang-berang ini membuka mulutnya dan bersiap untuk menggigit. Kewaspadaan kura-kura ini sangat tinggi. Ia menyusutkan kepala dan anggota geraknya ke dalam cangkangnya. Bagaimana pun si berang-berang membolak-balik cangkang itu, ia tetap tak dapat menggigitnya. Cangkang itu sangat keras. Berang-berang ini pun beristirahat. Ia berdiam di tempat itu sambil tetap mengamati. Kura-kura ini tidak memperhatikan berang-berang itu. Saat keadaan sudah tenang, ia kembali menjulurkan kaki, kepala, dan ekor dan bersiap untuk kembali berjalan. Melihat kura-kura itu menjulurkan kaki dan kepala, berang-berang ini kembali bersiap menggigit. Namun, kura-kura itu kembali menyusutkan kaki dan kepalanya ke dalam cangkang. Tiga kali ia mengulang hal yang sama
Berang-berang ini juga sangat lelah dan tak berdaya. Ia pun pergi. Lalu, kura-kura ini kembali menjulurkan kepala untuk melihat kondisi. Setelah tidak ada si berang-berang di sekitarnya, ia kembali berjalan dengan tenang. Dua orang petapa ini, yang salah satunya adalah penjelmaan Buddha, duduk di sana sambil terus mengamati. Melihat kura-kura ini sudah berjalan cukup jauh, sang bhiksu yang merupakan penjelmaan Buddha ini berkata, penjelmaan Buddha ini berkata, Arti dari kalimat ini adalah meski manusia memiliki tubuh, tetapi berapa lama tubuh ini dapat bertahan? Kehidupan tidaklah kekal. Berapa lama waktu yang kita miliki? Setiap orang pasti akan menghadapi kematian. Jadi, dikatakan, “Akan kembali ke tanah.” Suatu hari tubuh ini akan lenyap
“Saat wujud rusak dan kesadaran pergi, ketamakan apa yang patut dipertahankan?” Jika tubuh atau wujud kita ini rusak, Jika tubuh atau wujud kita ini rusak, batin kita akan terpisah dari tubuh. batin kita akan terpisah dari tubuh. Tubuh ini hanya merupakan tempat bernaung bagi batin dan kesadaran kita, bagaikan sebuah rumah. Jika rumah rusak. manusia harus pergi dari sana. Jadi, ketamakan apa yang patut dipertahankan? “Pikiran terbentuk di dalam batin, terombang-ambing tanpa arah.” Pikiran kita sendiri sering dipenuhi keraguan. Dalam melakukan segala sesuatu, adakalanya kita ingin begini, ingin begitu. Kita tamak akan enam objek di luar atau kondisi-kondisi di masa lalu. Pikiran tentang masa lalu adalah pengganggu, pikiran tentang masa depan adalah ilusi. Pikiran kita, selain melekat pada enam objek di masa kini, juga melekat pada masa lalu
Kita tidak mampu melepas. Banyak juga orang yang terpaku pada masa depan. Dalam batin kita selalu timbul berbagai pemikiran. Pikiran kita selalu melekat pada objek-objek di luar dan terombang-ambing tanpa arah. Sesungguhnya, kapan hal ini dimulai? Kapan pula ia akan berakhir? “Pemikiran yang sesat mengundang derita bagi diri sendiri.” Jika kita mengembangkan pemikiran yang bukan-bukan atau ilusi, maka inilah yang disebut pemikiran sesat. Sesat berarti tidak benar. Kita hanya terus memelihara tabiat buruk. Kadang orang-orang berkata, Kadang orang-orang berkata, “Orang itu sifatnya buruk.” Ini merujuk pada tabiatnya. Berbagai pemikiran keliru membuat kita memelihara banyak tabiat buruk. Ini mendatangkan derita bagi diri sendiri
Segala yang kita lakukan Segala yang kita lakukan bisa mendatangkan bencana. Jadi, semua ini sangat sederhana. Kita sudah tahu bahwa segala pemikiran kita dapat memupuk niat dan tabiat buruk, dan segala yang kita lakukan dapat mendatangkan buah karma di masa depan. Namun, pikiran ini kita ciptakan sendiri, bukan diberikan oleh orang tua. Yang diberikan oleh orang tua adalah tubuh ini, sedangkan segala pikiran keliru bukan diberikan oleh orang tua. Ini adalah tabiat kita sendiri yang kita bawa dari kehidupan lampau. Kini, kegelapan batin ini bangkit kembali dan bertambah tebal. Ini bukan diberikan oleh orang tua. Kitalah yang harus mendisiplinkan diri sendiri. Kita harus mendorong diri sendiri untuk mengasihi diri sendiri dan memicu diri dan memicu diri untuk meluruskan pikiran kita. Kita hendaknya menciptakan berkah agar tidak menyesal
Kita harus menciptakan berkah. Jangan sampai kita menyesal dan berhenti di tempat. Menciptakan berkah adalah demi umat manusia. Jika kita berlatih hanya demi diri sendiri, Jika kita berlatih hanya demi diri sendiri, maka meski lingkungan kita sangat tenang, maka meski lingkungan kita sangat tenang, pikiran pengganggu akan terus muncul. Pikiran ilusif pun akan terus timbul. Jadi, bukan hanya demi diri sendiri, kita hendaknya menciptakan berkah bagi semua makhluk. Saat sebersit niat baik timbul, kita harus bergerak maju, jangan malah berpaling ke belakang. Jadi, kita harus seperti kura-kura tadi. Kita harus bagaikan kura-kura yang menyembunyikan enam anggota tubuh. Enam anggota tubuh di sini melambangkan enam indra kita yang harus dijaga agar tidak terus terpengaruh kondisi luar
Tahukah kalian enam anggota tubuh pada kura-kura? Ada kepala, dua kaki, dua tangan, dan satu ekor. Kura-kura memiliki enam anggota tubuh, sedangkan kita memiliki enam indra yang juga bersentuhan dengan kondisi luar. Jadi, enam indra kita dijaga, maka seperti kura-kura tadi yang menyembunyikan anggota tubuhnya dalam cangkang. Seperti orang yang sedang berperang, kura-kura itu bagai melindungi diri dengan perisai. kura-kura itu bagai melindungi diri dengan perisai. Ia waspada terhadap serangan senjata. Jadi, pikiran kita harus bagaikan sebuah negeri yang memiliki sebuah benteng. Jika benteng ini kokoh, maka serangan dari luar akan sulit masuk. Seperti kura-kura tadi, ia memiliki cangkang yang melindungi. Karena itu, nyawanya pun selamat. Tahukah kalian berapa usia hidup kura-kura? Bisa mencapai ratusan tahun, bahkan ribuan tahun. Usia mereka sangat panjang karena kewaspadaan mereka sangat tinggi
Jadi, jika bertemu kondisi tertentu, ia akan menyembunyikan enam anggota tubuhnya. Sebagai praktisi, kita juga seharusnya demikian. Kita harus menjadi seperti negeri yang memiliki benteng. Kondisi luar bagai sedang menantang kita. Jangan sampai kita terkalahkan oleh kondisi luar. Jangan sampai kita terkalahkan oleh kondisi luar. Ini bagaikan perang antara kebijaksanaan dan Mara. Kita harus membangkitkan kebijaksanaan untuk berperang melawan Mara dalam batin kita. Jangan sampai tekad kita tergoyahkan oleh Mara dalam batin. Hanya kebijaksanaan kitalah yang dapat memerangi Mara dalam batin. Tanpa kebijaksanaan, siapa pun tak dapat memerangi Mara
Seperti yang kita bahas tadi, tabiat buruk kita bukan diberikan oleh orang tua. Dalam melatih diri, tabiat buruk kita harus kita kikis sendiri. Begitulah. Berikutnya dikatakan, “Yang menang akan bebas dari derita.” Jika kita berhasil menaklukkan tabiat buruk, Kita harus membuka hati kita. Jangan hanya mementingkan diri sendiri. Inilah kisah welas asih Buddha yang membimbing petapa yang tak kunjung tercerahkan tadi. Buddha menjelma menjadi seorang bhiksu biasa. Di sana, saat melihat kura-kura dan berang-berang, Beliau memanfaatkan kesempatan untuk membabarkan Dharma. Jadi, setelah petapa ini mendengar pembabaran sang bhiksu, dia tiba-tiba tercerahkan. Ketamakan dan kekeliruannya berhenti. Ketamakan dalam batinnya telah lenyap seluruhnya
Pikiran pengganggu pun sudah berhenti. Melatih diri pada dasarnya sangat sederhana. Selama dua belas tahun dia tak kunjung tercerahkan. Begitu menyadari satu ajaran, dia langsung memahami segala kebenaran. Dia pun akhirnya tercerahkan. Jadi, pelatihan diri memang rumit saat dibahas, tetapi sesungguhnya juga sangat sederhana. Asalkan kita memiliki keteguhan hati, maka tiada yang sulit di dunia ini. Di surat kabar “Berkah di Dunia” Di surat kabar “Berkah di Dunia” ada sebuah kisah. Di Provinsi Liaoning, Tiongkok ada sebuah desa. Di sana ada sebuah keluarga yang tidak terlalu kaya. Namun, mereka sangat baik hati. Keluarga ini membuka sebuah percetakan
Percetakan ini merupakan percetakan kecil, dapat dijalankan oleh dua orang saja. Kondisi ekonomi keluarga ini tergolong menengah. Saat musim tanam, mereka juga bercocok tanam. Meski bisnis mereka kecil dan tanah mereka tidak seberapa, tetapi mereka memiliki cinta kasih yang besar. Di desa ini banyak lansia yang kurang mampu yang tidak memiliki anak dan hidup sebatang kara. Keluarga ini menampung para lansia dan mengajaknya untuk tinggal bersama. Mungkin rumah mereka sebelumnya juga cukup baik. juga cukup baik. Hanya saja, rumah itu sudah tua dan lapuk
Meski rumah itu sudah lapuk dan harus ditutupi dengan triplek, dan harus ditutupi dengan triplek, yang penting masih bisa melindungi dari hujan dan angin. Terhadap para lansia yang hidup sebatang kara di desa itu, keluarga ini merasa tidak tega. Jadi, keluarga ini menampung para lansia dan menganggap mereka sebagai orang tua sendiri. Berapa pun usia para lansia itu, bahkan ada yang mereka rawat hingga meninggal di usia 90-an tahun, keluarga ini menganggap mereka sebagai orang tua. Keluarga ini juga mengurus pemakamannya. Ada pula yang berusia lebih dari 80 tahun. Intinya, para lansia ini sudah sangat berumur. Di rumah itu ada sebanyak 38 orang lansia. Ada pula yang sudah meninggal. Keluarga ini hidup dengan begitu sederhana, tetapi tekad mereka sangat besar. Di halaman rumah, mereka membuka sebuah pondok yang dinamakan “rumah senja”. Senja berarti saat matahari akan terbenam, melambangkan orang-orang yang berusia lanjut. Tempat ini disediakan bagi para lansia
Para lansia pun merasa cukup dan puas. Mereka merasa bahwa tinggal di sana jauh lebih baik daripada di tempat mana pun. Meski rumahnya agak lapuk dan sederhana dengan makanan yang sederhana pula, tetapi di sana ada orang baik tetapi di sana ada orang baik yang mereka anggap sebagai anak berbakti. Pada akhir hayat, juga ada orang yang mengurus pemakaman mereka. Jadi, para lansia merasa tinggal di tempat itu lebih baik daripada memiliki sepuluh anak. Mereka hidup tanpa kerisauan dan tetap dihormati. Pada akhir hayat, masih ada orang yang mengantar mereka. Ini membuat para lansia damai lahir batin. Kita tidak harus banyak uang untuk dapat berbuat baik. Meski hidup kekurangan atau pas-pasan, keluarga ini merasa jika mereka masih dapat melewati hidup, berarti mereka juga dapat menghidupi para lansia. Inilah kebesaran hati mereka. Saat ada lansia yang sakit, mereka juga harus merawatnya dan membersihkan kotorannya agar tubuh lansia itu dapat senantiasa bersih. Ini sungguh tidak mudah
Inilah kehidupan yang sesungguhnya, Bukan menunggu kita memiliki lebih, baru kita berbagi. Demikian pula dalam melatih diri. Kita harus tahan terhadap kesulitan. Kita harus selalu menggunakan kebijaksanaan untuk melawan Mara di dalam batin, bagai orang miskin yang melawan kemiskinan. Seperti keluarga tadi, bukan hanya mereka dapat bertahan hidup, mereka bahkan dapat menghidupi banyak lansia yang sendirian. Bayangkan, semua ini bermula dari pikiran. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus seperti ini. Saat enam indra bertemu enam objek luar, kita harus bisa memilah. Kita harus menciptakan berkah, jangan sampai kita kembali menyesal
Jadi, dikatakan, “Menciptakan berkah tanpa menyesal.” Jangan berpikir untuk mundur. Saat sudah bertekad, kita harus melangkah maju dengan berani. Saudara sekalian, senantiasalah bersungguh hati. Dengan bersungguh hati, segala kesulitan akan dapat diatasi. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.