Sanubari Teduh

Sanubari Teduh -254-Enam Belas Pandangan Bagian 10

  Saudara se-Dharma sekalian, kita semua hidup di tengah kondisi yang damai dan bahagia. Entah apakah kita tahu perasaan orang yang hidup dalam derita kemiskinan. Tentu, di dalam dunia Tzu Chi, anggota komite dan Tzu Cheng kita sering mengunjungi orang yang kurang mampu dan turut merasakan penderitaan mereka. Saat rasa iba bangkit, mereka dapat memandang orang yang menderita bagaikan keluarga sendiri

 Bagi insan Tzu Chi, ini adalah hal yang biasa dilakukan. Saya sering berkata bahwa kita dapat menyadari berkah setelah melihat penderitaan. Melihat penderitaan orang lain, kita baru tahu kita adalah orang yang penuh berkah. Sesungguhnya, pandangan ini, di dalam masyarakat kita saat ini, bahkan di negara-negara lain, sudah mulai terbangkitkan. Sebuah stasiun televisi di Inggris juga menayangkan sebuah program acara yang menyajikan kisah nyata. Mereka mengundang narasumber untuk berbagi pengalaman hidup. Program acara mereka dinamakan “The Secret Millionaire” (Miliuner Rahasia). Mengapa disebut “rahasia”? Mengapa disebut “rahasia”? Dalam acara itu, mereka mengundang jutawan yang sangat kaya di Inggris mereka mengundang jutawan yang sangat kaya di Inggris untuk berperan menjadi warga tidak mampu. Mereka berperan sebagai warga tidak mampu dan terjun ke daerah kumuh untuk merasakan kehidupan warga di sana. Mereka bahkan harus melakukan pekerjaan kasar untuk merasakan bagaimana orang lain mencari nafkah. Saya rasa kreativitas ini sangat bagus. Mereka bisa meminta orang-orang kaya ini melihat sendiri kondisi orang-orang yang paling kekurangan dan paling sulit mencari nafkah

 Kemudian, orang-orang ini dapat memilih salah satu keluarga untuk mereka bantu. Keluarga yang terpilih dapat memperoleh bantuan 50 ribu pounsterling. Saya rasa ini sangat kreatif. Saat televisi itu membuat pengumuman, ada lima orang miliuner yang sudah terjun ke daerah tidak mampu untuk merasakan. Keluarga yang boleh mereka bantu hanya satu. Keluarga yang boleh mereka bantu hanya satu. Jika semua miliuner dapat terjun ke daerah tidak mampu dan satu orang membantu satu keluarga, maka semua warga di sana dapat terbantu. maka semua warga di sana dapat terbantu. Tentu alangkah baiknya. Namun, jika ada yang memulai, saya percaya banyak orang yang merespons. Dengan cara ini, bukankah pemberantasan kemiskinan tidak sulit? Kebaikan hendaknya dilakukan oleh banyak orang. Semua orang hendaknya menggaungkan kebajikan

 Jadi, Buddha mengatakan kepada kita bahwa baik dan buruk terletak pada sebersit niat. Semua bergantung pada pemahaman kita. Jika memiliki pemahaman yang baik, maka yang kita lakukan juga akan baik. Jika pemahaman kita tidak baik, maka yang kita lakukan juga akan tidak baik. Pemahaman atau pemikiran inilah yang kita sebut enam belas pandangan. Yang kesebelas adalah pandangan tentang pemulai. Kita telah membahas pandangan tentang pelaku dan yang membuat melakukan. Kini kita akan membahas pandangan tentang pemulai

 Pelaku adalah yang sudah melakukan, tetapi pemulai adalah penggagas. Jadi, jika niat tidak baik muncul dan memicu suatu tindakan, maka bagi masyarakat, akan membawa pengaruh yang sangat besar. Sebersit niat baik, seperti ide stasiun televisi di Inggris tadi, dapat menjadi suatu pemicu atau pemulai. Jika gagasan itu disebarkan secara luas di Inggris, maka seluruh orang kaya di sana dapat membantu orang-orang yang kurang mampu. Ini adalah gagasan yang baik. Namun, adakalanya makhluk awam malah memulai hal-hal yang meresahkan masyarakat. Baik demonstrasi, pemogokan oleh mahasiswa, maupun perseteruan antarkelompok, biasa diberitakan dengan sangat besar dan membawa dampak negatif bagi kondisi masyarakat. Jadi, “pemulai” ini sangat menakutkan

 Makhluk awam hanya tahu untuk memulai sesuatu, tetapi jika terjadi sesuatu yang tidak baik, yang disalahkan adalah yang memulai itu. Namun, sesungguhnya, yang membuat memulai atau penggagasnya juga bersalah. Orang yang membuat memulai bukan semata-mata orang yang berpartisipasi, orang yang berpartisipasi, melainkan juga merencanakan untuk menghimpun orang guna membuat kekacauan. Lihatlah, dalam peperangan juga demikian. Satu pemicu saja dapat menyebabkan perang bertahun-tahun tanpa henti. Entah orang yang berperang harus disebut pahlawan atau penyebab masyarakat sulit bertahan hidup. Para penggagas perang tidak hanya bergerak secara individu, melainkan juga memengaruhi pemahaman orang banyak. Jika demikian, karma buruknya sangat berat

 Namun, mereka tidak tahu. Mereka hanya tahu orang lain tidak benar. Sesungguhnya, orang yang ikut-ikutan juga menciptakan karma yang sama. Orang yang mengajak lebih banyak orang menciptakan karma yang lebih berat. Kita seharusnya memahami hal ini. Hukum di alam manusia pun demikian. Dari sisi hukum sebab akibat, sudah jelas demikian. Di dalam Sutra ada sebuah kisah tentang kebijaksanaan anak seorang janda kebijaksanaan anak seorang janda yang mengubah penderitaan rakyat sebuah negeri. yang mengubah penderitaan rakyat sebuah negeri. Penggalan Sutra ini bercerita tentang seorang janda. Dia harus membesarkan seorang anak dengan susah payah

 Namun, ibu ini sangat bijaksana. Dia merasa dalam membesarkan anak, harus mengembangkan kebijaksanaan anak itu agar membawa manfaat bagi masyarakat. Dia tak ingin saat anaknya tumbuh besar, meski tubuhnya sehat, tetapi membahayakan masyarakat. Dia berharap setelah besar, anaknya menjadi orang yang bisa membawa manfaat bagi orang lain. Jadi, dia membesarkan anaknya dengan bijaksana. Dia bahkan datang ke vihara untuk mendengar Sutra dan mempelajari moralitas dan keluhuran orang bijak zaman dahulu. Dia mendidik anaknya dengan penuh tata krama. Dia berharap di tengah masyarakat, anaknya tidak berpandangan keliru anaknya tidak berpandangan keliru atau melakukan perbuatan sesat

 Dia mendidik anaknya untuk selalu memiliki rasa hormat terhadap kebenaran atau hakikat sejati. Dalam batin setiap orang terdapat hakikat sejati yang murni. Artinya, manusia harus bisa mengasihi diri sendiri, Artinya, manusia harus bisa mengasihi diri sendiri, baru bisa mengasihi orang lain. Inilah ibu yang bijaksana. Dia mendidik anaknya sesuai arah yang dia harapkan. Dia sering mendampingi anaknya pergi ke vihara. Jika melihat petapa, mereka akan memberi hormat dengan tulus. Mereka membina tata krama ini. Di vihara, mereka mendengarkan petapa membabarkan Sutra. Setelah mendengarkan pembabaran Sutra di pagi hari, Setelah mendengarkan pembabaran Sutra di pagi hari, mereka akan terus mengulang pembabaran petapa itu pada malam harinya

 pembabaran petapa itu pada malam harinya. Mereka mengulangnya sekali lagi agar anak ini memahami isinya dan dapat menghafalnya. Jadi, ibu dan anak ini sama-sama bertumbuh dalam jiwa kebijaksanaan. sama-sama bertumbuh dalam jiwa kebijaksanaan. Jadi, mereka menyerap ajaran Buddha. Kebijaksanaan Buddha yang tak terkira Kebijaksanaan Buddha yang tak terkira digunakan sang ibu untuk membimbing dan mendidik anaknya. Jadi, ibu ini sangat berharap pada anaknya. Terlebih lagi, pada masa itu, raja yang memerintah negeri mereka sangat tamak, tidak bermoral, tidak bijak dalam memerintah, dan merupakan raja yang serakah. Dia tidak mengasihi rakyatnya dan sangat meremehkan orang bijak

 Raja seperti ini membuat rakyat di negeri itu sangat menderita. Raja ini biasa bertindak semena-mena. Dia sendiri juga tahu bahwa dia kejam terhadap rakyatnya. Dia sendiri berpikir, “Saya hanya bersenang-senang.” “Akibat perbuatan ini, akankah saya lahir di neraka setelah meninggal?” “Kehidupan tidak kekal.” “Jika saya lahir ke neraka setelah meninggal, maka saya akan sangat menderita.” Dia sendiri berpikir begitu. Dia jelas-jelas tahu bahwa dirinya berbuat jahat, tetapi tidak segera memperbaiki diri. Dia hanya terus berpikir bagaimana jika dia terlahir di neraka setelah meninggal. Lalu, dia terpikir satu cara. Dia ingin memberi persembahan bagi Raja Yama. Dia berpikir, di neraka, segala keputusan berada di tangan Raja Yama. Jika Raja Yama dapat melepaskannya, maka dia tak perlu menderita di neraka. Jadi, dia mengeluarkan perintah bagi rakyat untuk mengumpulkan emas yang mereka simpan di rumah sebagai upeti. sebagai upeti

 Dia bahkan mengeluarkan ancaman Dia bahkan mengeluarkan ancaman bahwa rakyat yang menyembunyikan emas meski sedikit, akan dijatuhi hukuman mati. akan dijatuhi hukuman mati. Artinya, setiap keluarga yang memiliki emas, Artinya, setiap keluarga yang memiliki emas, berapa pun jumlahnya, harus memberikannya pada raja. harus memberikannya pada raja. Raja lalu mengumpulkan semua emas itu Raja lalu mengumpulkan semua emas itu untuk diberikan kepada Raja Yama kelak. Perintah ini membuat rakyat sangat menderita. Selain itu, hati setiap orang juga penuh kebencian terhadap sang raja. Namun, mereka tidak berdaya. Mereka hidup bergantung pada negeri itu. Mereka hanya membenci, tetapi tidak berani bersuara. Tiga tahun kemudian, kondisi rakyat tidak berubah. Jadi, anak ini merasa rakyat negerinya sangat menderita. Dia berpikir dirinya harus mencari cara untuk menghentikan raja yang terus menindas rakyat

 Jadi, suatu hari, dia berkata kepada ibunya, “Saat saya masih kecil, Ayah sudah meninggal.” “Saat itu, bukankah pada mulut Ayah diletakkan sebatang emas?” Ini berkenaan dengan tradisi pada masa itu. Saat seseorang meninggal, di dalam mulutnya diletakkan sebatang emas. Ini adalah tradisi di daerah mereka pada masa itu. Jadi, anak ini ingat bahwa saat dia masih kecil, ada hal seperti itu. Kemudian, dia bertanya pada ibunya. Ibunya pun menjawab ada. Ibunya pun menjawab ada. Anak ini lalu berkata, “Perlukah kita mengambil emas di dalam mulut Ayah?” Ibunya berkata, “Seharusnya begitu

” Anak ini berkata pada ibunya, “Kita seharusnya mengambil emas di dalam mulut Ayah untuk diberikan kepada Raja.” Di dalam hati, ibunya tahu bahwa anaknya memiliki kebijaksanaan dan pasti memiliki rencana. Ibunya pun berkata, “Baik, jalankanlah sesuai pemikiranmu.” Dia lalu menggali makam ayahnya dan membuka peti jenazahnya. Dia benar-benar mengambil emas di dalam mulut ayahnya. Demikianlah, anak ini lalu pergi ke gerbang istana dan berkata kepada pengawal, “Saya ingin memberi persembahan kepada Raja.” Pengawal itu melapor kepada raja. Saat mendengarnya, raja berpikir, “Dia adalah anak kecil, dari mana dia bisa mendapatkan emas?” Jadi, raja sangat ingin tahu. Dia memerintahkan agar anak itu dibawa masuk. Melihat anak ini mempersembahkan emas, raja pun menerimanya. Saat itu rakyat tidak lagi memiliki sedikit pun emas. Jangankan emas, besi pun mereka tidak punya. Bagaimana anak ini bisa memiliki emas? Dengan penuh rasa ingin tahu, raja bertanya, “Dari mana kau dapatkan emas ini?” Anak ini menjawab, Anak ini menjawab, “Dari mulut ayahku, emas ini diletakkan di sana saat beliau meninggal.” “Aku mengambilnya

” Raja bertanya, “Untuk apa di mulut ayahmu diletakkan sebatang emas?” Anak ini menjawab bahwa saat ayahnya meninggal, emas diletakkan di mulutnya untuk menyogok Raja Yama. Raja kembali bertanya, “Kamu sekarang mengambil emas ini, lalu apakah ayahmu tidak jadi menyogok Raja Yama?” Anak ini menjawab, “Tubuh manusia adalah perpaduan semu empat unsur.” “Saat kesadaran meninggalkan tubuh, apa pun tidak berguna lagi.” “Bagaimana mungkin Raja Yama bisa menerima sogokan itu.” “Lihatlah, bukankah emas itu masih ada di mulut ayahku?” “Tidak ada sesuatu pun yang bisa digunakan untuk menyogok.” yang bisa digunakan untuk menyogok.” “Ketahuilah bahwa ada suatu ungkapan di dalam Sutra Buddha.” Anak ini memberi tahu raja bahwa di dalam Sutra Buddha dikatakan, “Berbuat baik akan mendatangkan berkah.” “Jika kita berbuat baik, berkah dengan sendirinya akan bertumbuh.” Jadi, “berbuat baik mendatangkan berkah, berbuat jahat mendatangkan bencana

” Jika kita berbuat jahat, bencana selamanya akan membayangi kita. Jika kita berbuat baik, berkah dalam diri kita pasti bertambah. Jadi, “Bencana dan berkah bagai bayangan dan gema.” Bayangan senantiasa mengikuti bendanya. Gema selalu mengikuti sumber suara. Jika kita memukul suatu benda, pasti akan timbul bunyi. pasti akan timbul bunyi. Asalkan ada benda yang berbenturan, pasti ada suara yang keluar. Saat kita berjalan, jika ada bayangan, bayangan itu pasti mengikuti kita. Jadi, bencana dan berkah bagai bayangan dan gema. Ia bagai bayangan mengikuti bentuk, bagai gema yang mengikuti sumber suara. Ini adalah prinsip kebenaran yang pasti. Jika kita ingin menghindar dari bayangan kita, itu pasti tidak mungkin. “Bagaimana mungkin tubuh menghindari bayangan?” Mungkinkah? Saat tubuh Anda berjalan, apakah mungkin bayangan Anda tidak bergerak? Tentu tidak mungkin. Jika kita berada di bawah sinar mentari atau di bawah sinar lampu, ke mana pun Anda berjalan, ke mana pun Anda berjalan, bayangan pasti mengikuti Anda

 Jika Anda berlari lebih cepat, bayangan juga bergerak lebih cepat. Jadi, tidak mungkin tubuh menghindar dari bayangan. Jadi, pada akhir hayat, kesadaran kita akan berubah. Kesadaran kita akan melemah dan terpisah dari tubuh. Mengikuti apa ia akan pergi? Ia berubah mengikuti kekuatan karma. Jika begitu, bagaimana mungkin kita bisa menyogok Raja Yama? Anak ini berkata, “Setelah meninggal, Anda akan mengikuti karma Anda.” “Anda tidak mungkin menyogok Raja Yama.” “Paduka, mengapa Paduka hari ini dapat menjadi raja?” “Karena pada masa lampau Paduka pernah menciptakan berkah.” “Karena memiliki berkah, barulah Anda bisa hidup penuh kenikmatan.” “Jadi, Paduka harus bijak terhadap rakyat.” “Jika sebagai raja, Paduka bisa menciptakan lebih banyak berkah, maka Paduka bisa menolong banyak orang yang menderita.” “Dengan demikian, berkah Paduka akan bertambah.” “Paduka tidak perlu menyogok Raja Yama.” Mendengar hal ini, sang raja tiba-tiba tersadarkan. Selain tersadarkan, kebijaksanaannya juga bertumbuh. Dia segera mengeluarkan perintah untuk membatalkan perintah sebelumnya

 Sang raja bahkan memerintahkan orang-orang yang ditangkap karena ketahuan menyembunyikan emas karena ketahuan menyembunyikan emas untuk dibebaskan. untuk dibebaskan. Dengan begitu, bidang pendidikan, pertanian, industri, dan perdagangan kembali bergairah. Raja bahkan membuka gudang kerajaan untuk membantu fakir miskin. Kebijaksanaan seorang anak dapat memengaruhi seluruh negeri serta raja yang berpandangan salah ini. Lihatlah, gagasan yang dia mulai ini sungguh membawa berkah yang besar. Pahalanya sungguh tak terhingga. Singkat kata, baik melakukan sendiri, meminta orang lain melakukan, memulai sendiri, maupun meminta orang lain memulai, Baik atau buruk, semuanya bergantung pada pandangan kita. Jika pandangan mengarah pada kebajikan, pahalanya akan tak terhingga. Jika pandangan mengarah pada kejahatan, karma buruknya akan berat. Bukan hanya pada kehidupan ini, karma ini juga akan terbawa ke kehidupan mendatang. Saudara sekalian, melatih diri adalah hal yang sederhana, kuncinya terletak pada sebersit niat. Sebersit niat baik dapat menghasilkan segala hal baik. Sebersit niat jahat akan dapat menghasilkan segala kejahatan. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

Juragan28