Sanubari Teduh-261-Batin yang Murni Melihat Kebenaran
Saudara se-Dharma sekalian, kita hendaknya bersungguh hati setiap hari. Bersungguh hati berarti harus teliti. Namun, kita hendaknya menjunjung tinggi pikiran sederhana yang begitu murni. Jika pikiran kita rumit, maka noda batin akan menjadi banyak. Kita kadang merasa bahwa ajaran Buddha harus dikaji lebih dalam, barulah disebut Dharma. Namun, kadang Dharma yang dalam belum tentu bisa kita praktikkan karena kita belum bisa memahami sepenuhnya. Sesungguhnya, di dalam kehidupan kita sehari-hari, kesederhanaan dan kesesuaian dengan ajaran Buddha, itulah Dharma yang sejati.Kita semua tahu bahwa ada dua hal yang harus kita perhatikan dalam hidup. Dua hal ini dipisahkan garis pemisah. Sisi yang satu adalah kejahatan, sisi yang lain adalah kebajikan. Mempelajari Dharma adalah mencari cara untuk memahami apa yang dimaksud kejahatan. Yang lebih penting adalah cara memupuk kebajikan. Jadi, di tengah garis pemisah ini, kita hendaknya memahami bahwa segala Dharma sesungguhnya berada di sisi kita. Mengenai tiga karma lewat tubuh, kalian seharusnya sudah hafal.Sepuluh karma lewat tiga pintu ini, bukankah ada dalam keseharian kita? Sesungguhnya, apakah kita berbuat baik atau jahat? Jika berbuat jahat, maka kita akan berjalan melawan kebenaran dan tidak sesuai Dharma. Jika berbuat baik, berarti kita mengikuti ajaran orang suci.
Para orang bijak dan orang suci datang ke dunia tidak lain untuk membimbing kita ke arah kebajikan. Sebuah ungkapan berbunyi, “Jangan enggan melakukan perbuatan baik yang kecil, jangan pula melakukan kejahatan meskipun kecil.” Janganlah berpikir dangkal. Janganlah berpikir dangkal. “Untuk apa melakukan kebajikan kecil?” “Hanya kejahatan kecil, tidak apa jika hanya dilakukan sekali.” Meski tetesan air terlihat kecil, tetapi lama-kelamaan juga bisa melubangi batu. Setetes demi setetes air dapat terhimpun menjadi jumlah yang diperhitungkan. Jadi, kita hendaknya menggunakan pikiran murni. Yang seharusnya kita lakukan, harus kita lakukan dengan giat. Yang tidak seharusnya dilakukan, harus kita waspadai. Begitu sederhana. Inilah ajaran para Buddha. Namun, semua makhluk kini telah mengubah hal sederhana menjadi rumit. Mereka mengabaikan hal yang seharusnya dilakukan. Di sebuah sekolah khusus perempuan di Kyushu, Jepang memiliki sebuah ujian masuk yang menguji calon siswa untuk menggunakan sumpit. Kedengarannya sangat luar biasa. Setiap orang Asia bisa menggunakan sumpit. Apa luar biasanya bisa menggunakan sumpit? Mengapa harus diuji? Terus terang, ini adalah dasar untuk menjadi manusia. Saat kita makan, menggunakan sumpit harus dengan indah.
Jika menggunakan sumpit saja tidak indah, berarti caranya tidak sesuai Dharma. Ini menunjukkan watak yang lemah atau semangat belajar yang tidak cukup. Kita lihat orang zaman dahulu sangat memperhatikan cara memegang sumpit. Begitu pula, dalam pelatihan calon komite Tzu Chi, pada sesi tata krama kehidupan, para relawan pasti mendapat pelajaran ini. Kita diajarkan cara memegang mangkuk dan cara memegang sumpit. “Bagai burung hong minum air; bagai naga mengulum mutiara.” Tata krama ini begitu indah. Inilah kehidupan. Makanan membuat kehidupan kita sehat. Selain untuk hidup dan menyerap nutrisi untuk kesehatan, makan juga berkaitan dengan tata krama. makan juga berkaitan dengan tata krama. Keindahan adalah bagian dari kebajikan. Begitu pula dengan kesehatan. Kesehatan adalah bagian dari keindahan. Tubuh kita harus sehat dan citra kita harus indah. Ini yang disebut budaya humanis. Ujian tadi adalah ujian budaya humanis. Untuk mengambil sayur dengan sumpit, orang zaman dahulu juga memiliki cara. Saat mengambil sayur dengan sumpit, jika telapak tangan menghadap ke atas, jika telapak tangan menghadap ke atas, berarti sesuai tata krama. Jika telapak tangan menghadap ke bawah, Jika telapak tangan menghadap ke bawah, berarti tidak sesuai tata krama. Orang zaman sekarang tidak tahu hal ini. Sekarang kita harus mulai dari pendidikan kehidupan dasar. Tentunya, sekolah khusus perempuan di Kyushu ini ingin membangun nilai kehidupan ini sehingga menguji para calon siswanya apakah mereka bisa memegang sumpit dengan benar. apakah mereka bisa memegang sumpit dengan benar.
apakah mereka bisa memegang sumpit dengan benar. Lihatlah, saya terkejut mendengar berita ini. Walau ini adalah hal kecil, tetapi saya merasa ini benar. Jika arah pendidikan kita benar tanpa menyimpang sedikit pun, maka ini adalah pendidikan yang terbaik, karena jika arah kehidupan menyimpang sedikit saja, manusia akan jauh tersesat. Langkah awal dalam hidup benar-benar tidak boleh menyimpang.
Demikian pula dengan pelatihan diri. Kita yang memasuki pintu ajaran Buddha tidak boleh menyimpang. Jika menyimpang, kemelekatan akan semakin banyak. Jadi, Dharma bagaikan air. Dharma mengandung banyak bilangan. Dharma mengandung banyak bilangan. Kita membahasnya dalam waktu panjang mulai dari yang berbilangan satu hingga sekarang. Bagaimana pun, semuanya tak lepas dari kebajikan dan kejahatan. Contohnya, dua puluh lima aku dan enam puluh dua pandangan, semuanya dapat menciptakan banyak karma buruk. semuanya dapat menciptakan banyak karma buruk. Kebajikan dan kejahatan hanya terpisah garis tipis. Sedikit saja menyimpang dan melewati garis ini, berarti kita telah berbuat kesalahan. Jadi, kita hendaknya berhati-hati. Selain enam puluh dua pandangan, masih ada sembilan puluh delapan kecenderungan dan seratus delapan noda batin. Renungkanlah, bukankah sangat rumit? Rumit sekali. Apakah hanya ini? Buddha berkata bahwa makhluk hidup memiliki 84.000 noda batin. Jika noda batin ini dijabarkan satu per satu, maka tak akan habis dalam tiga masa.
Jadi, saya beri tahu kalian bahwa kita hendaknya bersungguh hati dan berpikiran sederhana. Jika kita bisa berpikiran murni dan sederhana, maka Dharma apa pun akan ada di hati kita. Berpikiran sederhana dalam kehidupan sehari-hari termasuk kebajikan. Berikutnya kita akan membahas delusi pandangan dalam melihat kebenaran dan delusi pikiran. Ini tidak luput dari pandangan dan pemahaman. Saudara sekalian, berbagai kesalahan bermula dari pandangan kita. Enam puluh dua pandangan telah kita ulas dengan jelas sebelumnya. Kita seharusnya tahu bahwa baik sebelas kecenderungan umum maupun dua puluh lima aku, semua tidak lepas dari pandangan dan pikiran kita. Kita kini mengulangnya agar benar-benar paham terhadap pandangan ini. Apa yang harus kita pahami? Pahami kebenaran. Dahulu kita mungkin tidak memahami prinsip kebenaran. Jika sedikit saja pandangan menyimpang, maka segalanya akan salah. Ini berarti kita tidak melihat kebenaran, tidak bersentuhan langsung dengan kebenaran yang sesungguhnya. Meski kebenaran berada di depan kita, kita tetap tidak merasakannya. Jadi, kita selalu tersesat dan tidak dapat melihat kebenaran. Karena itu, kita kini ingin memahaminya dengan baik.
Siapa yang bisa melihat kebenaran? Orang yang bisa melihat kebenaran sejati adalah meereka yang telah memasuki tingkat kesucian dalamĀ Sravakayana. Para pemasuk arus dalam Sravakayana Para pemasuk arus dalam Sravakayana baru bisa melihat kebenaran yang sesungguhnya. Pemasuk arus atau Srotapanna masih harus mempelajari banyak Dharma. Artinya, kita dapat memurnikan pikiran dan melenyapkan segala nafsu keinginan. Dengan begitu, batin masuk kondisi yang tak tergoyahkan. Ini adalah awal pembebasan dari tataran makhluk awam dan memasuki tataran kesucian. Ini disebut pemasuk arus, yakni mulai memasuki tingkat kesucian dan melihat kebenaran. Kebenaran ini bisa dilihat dan ditemukan oleh mereka yang telah mencapai tingkatan pemasuk arus ke atas. Sedangkan, bagi Bodhisattva, yang melihat kebenaran adalah yang telah memasuki bhumi pertama. Pemahaman terhadap kebenaran ini memiliki kedalaman berbeda-beda. Ada kebenaran kendaraan kecil, ada kebenaran kendaraan agung. Kebenaran kendaraan kecil dimulai dari tingkat pemasuk arus hingga tingkat Arhat. Tingkatan awal dalam kesucian kendaraan kecil disebut pemasuk arus atau Srotapanna. Mereka mulai memasuki tingkat kesucian.
Inilah kendaraan kecil. Kita ingin menaiki kendaraan agung, yaitu Jalan Bodhisattva. Orang yang bisa memasuki bhumi pertama Bodhisattva akan mulai melihat kebenaran. Jika kita bisa menemukan kebenaran kendaraan besar, berarti kita sudah memasuki tingkatan kesucian Bodhisattva. Untuk itu, kita harus menapaki Jalan Bodhisattva. Dengan membangkitkan tekad Bodhisattva dan memasuki tingkatan pertama, seseorang bisa melihat kebenaran sejati. Kita mungkin bertanya-tanya, seperti apa kebenaran yang sesungguhnya? Kembali pada kemurnian dan kesederhanaan, tidak terpengaruh kondisi dan nafsu. Jangan ada nafsu keinginan, juga jangan melakukan karma buruk akibat nafsu. Kita hendaknya hidup sederhana, melaksanakan kewajiban kita, dan tidak tamak akan hal yang bukan hak kita. Jika bisa menjaga pikiran ini, maka jalan yang kita tempuh akan lapang. Bukankah saya pernah memberi tahu kalian bahwa jika kita dapat menjaga tekad, maka jalan akan terasa lapang. Kita harus menjaga tekad dengan kuat. Berhubung kita telah bertekad untuk menapaki Jalan Bodhisattva, maka kita harus memegang teguh tekad ini. Apa yang disebut Jalan Bodhisattva? Iba melihat semua makhluk yang menderita dan berusaha melapangkan hati. Jika kita bisa melapangkan hati dan tidak tega melihat penderitaan semua makhluk, maka kita akan menyatu dengan semua makhluk dan merasa senasib sepenanggungan. Kita berharap semua makhluk bahagia. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita.
Saat melihat makhluk hidup menderita, kita juga bisa merasakan penderitaannya. Berhubung tidak tega melihat penderitaan semua makhluk, maka kita bersumbangsih melalui tindakan nyata, memberi manfaat bagi semua makhluk dan masyarakat. Inilah Jalan Bodhisattva. Inilah yang disebut membangkitkan hati Bodhisattva. Jika kita bisa menjaga tekad Bodhisattva ini, kita akan melihat kebenaran sejati. Inilah kebenaran. Kehidupan manusia di dunia tidaklah kekal. Untuk apa memperebutkan sesuatu demi diri sendiri? Kita harus memberi manfaat bagi semua orang di dunia. Ini yang disebut tekad luhur Ini yang disebut tekad luhur atau tekad Bodhisattva. Inilah kebenaran yang dilihat oleh praktisi kendaraan agung. Inilah yang disebut melihat kebenaran. Selanjutnya adalah pikiran. Setelah melihat kebenaran, mana yang benar dan mana yang salah harus sungguh-sungguh kita renungkan. Melihat orang membawa manfaat bagi orang banyak dan melakukan hal yang benar, kita harus memuji dan turut bersukacita. Orang yang melakukan perbuatan tidak benar harus kita hindari. Kita harus segera berintrospeksi. Bukan hanya menghindari mereka, kita juga harus merenungkan apakah sikap kita sama seperti mereka. Ini harus direnungkan. Jika bertemu hal yang tidak baik, kita harus berintrospeksi.
Saat melihat hal yang tidak baik, apakah kita bisa berintrospeksi? Saat melihat sebuah kelompok yang tertib dengan jumlah orang yang banyak, yang semuanya penuh rasa sukacita, kita harus merenungkan apakah kelompok ini mendidik masyarakat. Apakah mereka membawa manfaat? Jika mereka membawa nilai pendidikan, mendatangkan manfaat bagi masyarakat, serta membimbing masyarakat ke jalan yang benar dan tidak menyimpang, maka kita harus memuji dan turut bersukacita, bahkan berkumpul bersama mereka. Jadi, saat melihat kebajikan, kita harus meneladani. Jika kita melihat kelompok yang begitu baik, kita hendaknya segera meneladani mereka karena kita sudah tahu bahwa kelompok ini sangat indah dan baik. Demi pendidikan dan kebaikan, tentu tidak boleh kurang diri kita seorang. Kita harus segera turut menyumbangkan kekuatan. Kita harus meneladani orang bijak. Kita harus menyumbangkan kemampuan kita. Inilah pembahasan tentang pikiran. Dengan pikiran, kita baru bisa memilih yang baik dan yang tidak baik. Yang baik harus kita lakukan dengan giat dan yang tidak baik harus kita jauhi. Selain itu juga hendaknya senantiasa merenungkan apakah diri sendiri seperti ini. Dengan pikiran benar, barulah kita dapat melihat kebenaran. Jadi, pikiran ini sangat penting.
Di dalam Sutra dikatakan bahwa praktisi hendaknya mengamati dengan kebijaksanaan. Kita yang melatih diri hendaknya senantiasa menggunakan kebijaksanaan untuk mengamati yang benar dan yang tidak benar. yang benar dan yang tidak benar. Ini hendaknya selalu kita amati. Jangan mengatakan bahwa ini tidak ada hubungannya dengan kita. Jangan mengatakan bahwa ini tidak ada hubungannya dengan kita. Janganlah seperti itu. Kita harus mengamati sendiri secara langsung. “Dalam kelompok bertiga, kita pasti dapat menemukan guru.” “Mengapa dia berbuat begitu?” “Mengapa dia melakukan kesalahan itu?” Jika kita dapat memahami mengapa orang lain bisa berbuat salah, barulah kita bisa mengingatkan diri sendiri. Jadi, pembina diri harus memperhatikan hal ini. Kita harus mengamati dengan kebijaksanaan untuk bisa memahami jalan pembebasan, barulah kita bisa mengetahui mana yang salah. barulah kita bisa mengetahui mana yang salah. Dengan begitu, jalan yang kita tapaki tidak akan salah. Dengan mampu berpikir dan menganalisis, Dengan mampu berpikir dan menganalisis, barulah kita dapat menjauhi segala gangguan duniawi. Kita tentu masih ingat istilah “Buddha yang masih terbelenggu”. Kita masih terbelenggu oleh berbagai objek dan kondisi luar. oleh berbagai objek dan kondisi luar. oleh berbagai objek dan kondisi luar. Berhubung terbelenggu objek luar, pikiran kita menjadi kacau dan terus memikirkan hal yang telah berlalu. Noda batin kita semakin banyak. Kita memikirkan masalah-masalah masa lalu. Kita memikirkan masalah-masalah masa lalu.
Pikiran pengganggu tentang masa lalu dan khayalan akan masa depan seperti inilah dan khayalan akan masa depan seperti inilah yang membelenggu batin kita. yang membelenggu batin kita. Karena itu, kita tidak dapat melihat kebenaran. Jadi, setiap orang hendaknya senantiasa mawas diri. Kita harus mengamati dengan kebijaksanaan. Bagaimana cara untuk memiliki kebijaksanaan? Batin kita harus jernih dan bersih. Jika batin kita bersih bagai cermin yang jernih, barulah kita dapat mengamati dengan jelas. Jadi, untuk menciptakan berkah yang melampaui keduniawian, kuncinya juga terletak pada apakah pikiran kita benar. Intinya, benar atau salah terletak pada pikiran. benar atau salah terletak pada pikiran. Niat pikiran inilah pelopor perbuatan kita. Perbuatan digolongkan menjadi tiga, yaitu tubuh, ucapan, dan pikiran. Begitu sederhana, hanya tubuh, ucapan, dan pikiran.
Dari ketiganya, bisa tercipta sepuluh kejahatan dan sepuluh kebajikan. Dengan sepuluh kejahatan, kita dapat menciptakan banyak karma buruk yang tak terhingga. Dengan adanya karma buruk, kita bisa terjerumus ke dalam tiga alam rendah. Ini sungguh merupakan penderitaan yang tak terkira. Jadi, kita harus selalu waspada. Bagaimana agar dapat melihat kebenaran? Kita harus mengamati dengan kebijaksanaan. Saudara sekalian, saya sering memberi tahu kalian agar berpikiran sederhana dan murni. Jangan biarkan pikiran kita menjadi rumit. Namun, kebenaran harus dipahami dengan jelas. Saya sering mengatakan bahwa saya iba dan sedih karena manusia tidak memahami kebenaran. Jadi, yang paling saya khawatirkan adalah manusia tidak bisa membedakan benar dan salah dengan jelas. Dengan begitu, berarti mereka tidak melihat kebenaran. Akibatnya, dunia akan kacau. Jadi, saya berharap kita senantiasa bersungguh hati serta meningkatkan kebijaksanaan kita untuk mengamati segala sesuatu.