Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-260-Enam Puluh Dua Pandangan

  Saudara se-Dharma sekalian, dalam kehidupan kita sehari-hari, pada dasarnya terkandung banyak prinsip kebenaran. Segala tindakan kita pada dasarnya tercakup di dalam berbagai fenomena dan prinsip itu, hanya saja di dalam kehidupan sehari-hari, kita tersesat di tengah berbagai hal tersebut. Jadi, kita harus berintrospeksi. Kita harus berusaha untuk menemukan kembali kebenaran yang mulanya sudah kita pahami

 Apakah ini sulit? Sangat sulit. Sebagai makhluk hidup, kita semua memiliki tubuh, pikiran, dan kesadaran. Tubuh fisik kita menemani aktivitas kita setiap hari. Setiap ucapan dan tindakan kita tak lepas dari pikiran kita. Jadi, saya sering berkata kepada kalian bahwa pikiran harus dijaga dengan baik. Di manakah pikiran berada? Apakah pada organ jantung? Apa yang dapat jantung lakukan untuk kita? Selain membantu sirkulasi darah pada tubuh, Selain membantu sirkulasi darah pada tubuh, juga membantu kelancaran pernapasan. Di dalam ajaran Buddha ada dibahas mengenai kesadaran. Di dalam ajaran Buddha ada dibahas mengenai kesadaran. Di dalam ajaran Buddha ada dibahas mengenai kesadaran. Kita sering membahas rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran. Lima agregat ataupun Empat Kebenaran Mulia yang sering kita bahas tak lepas dari kesadaran. Selain itu, masih ada indra dan objek. Semua ini tidak terpisahkan. Namun, kesadaran semua makhluk sangat halus dan tak terbayangkan. sangat halus dan tak terbayangkan. Karena itu, dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak menyadari fungsi kesadaran ini

 kita tidak menyadari fungsi kesadaran ini. Kita terlalu sibuk dalam aktivitas harian. Kita terus melakukan berbagai tindakan tanpa melewati pertimbangan saksama apakah itu baik atau buruk. apakah itu baik atau buruk. Setelah perbuatan dilakukan, ia akan tertanam dalam kesadaran. Karena itu, kesadaran kedelapan atau Alaya-vijnana disebut juga kesadaran gudang. Kita semua sudah tahu istilah ini. Hanya saja, kita tidak memperhatikan mana yang baik dan mana yang buruk. mana yang baik dan mana yang buruk. Setelah melakukan sesuatu, di mana karma itu tertanam, kita tidak merenungkannya dengan sungguh-sungguh. Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang tak terbayangkan. Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang tak terbayangkan

 Kesadaran jelas-jelas ada di dalam diri kita, tetapi kita tidak menyadari dan tak dapat memahaminya. Jadi, sesungguhnya seperti apakah wujudnya? “Diamati tidak berwujud, didengar tidak bersuara.” Mengenai kesadaran atau jiwa, jika kalian ingin melihatnya atau meminta saya menunjukkan atau meminta saya menunjukkan seperti apakah wujud kesadaran atau jiwa, maka ia sungguh tidak terlihat. Dalam kehidupan sehari-hari, ia disebut kesadaran, saat terpisah dari tubuh, ia disebut jiwa. Di mana kesadaran berada? Bagaimana wujudnya? Ini tidak dapat dilihat oleh manusia. “Diamati tidak berwujud, didengar tidak bersuara.” Kita tidak bisa melihatnya. Kalau begitu, apakah kita bisa mendengarnya? Juga tidak bisa. Kesadaran sungguh tak terbayangkan. Jika ingin mendengar suara jantung, dokter bisa melakukannya. Suara organ jantung bisa didengar

 Jantung berwujud dan bisa dilihat. Detaknya pun bisa didengar. Namun, kesadaran tidak berwujud. Jadi, ia tidak bisa dilihat. “Diamati tidak berwujud.” Saat dilihat, tidak terlihat. Saat ingin didengar, tidak terdengar. Jadi, ajaran Buddha membuat kita semua memahami dengan jelas kebenaran di balik segala sesuatu. Ini adalah wawasan yang luas. Seberapa luas? “Luas bagai dunia

” “Tinggi tanpa batas.” Sungguh tinggi tanpa batas. Saat membahas alam semesta, kita menyebutnya tanpa batas dan tak terukur. Demikian pula kebenaran yang mencakup seluruh alam semesta. Sungguh banyak. Banyak prinsip kebenaran di balik segala sesuatu. Bagaimana kita dapat memahami semuanya? Jadi, yang perlu untuk kita mengerti adalah sebanyak apa pun yang kita pahami, semuanya kembali pada kekosongan. Ini mengajarkan kepada kita agar tidak melekat. Segala yang dilekati akan kembali pada kekosongan. Segala sesuatu yang sekarang terlihat ada, apakah dapat bertahan lama atau akan ada selamanya? Meski sesuatu itu bisa bertahan lama, Meski sesuatu itu bisa bertahan lama, tetapi kita sendiri tetapi suatu  hari nanti kita sendiri akan mengalami kematian

 Kini, meski para arkeolong Kini, meski para arkeolog berhasil menemukan piramida atau istana kuno yang telah terkubur, tetapi semua benda ini terlihat sudah sangat lapuk dan pasti berbeda dengan bentuk aslinya. Kita juga melihat di Museum Istana dipamerkan mumi kaisar dan permaisuri. mumi kaisar dan permaisuri. Meski benda berusia itu berusia tahun, Meski benda itu berusia ribuan tahun, tetapi seperti apa rupanya saat ditemukan? Sesungguhnya, di dunia ini tiada satu benda pun yang abadi. “Segala sesuatu yang ada saat ini akan kembali pada kekosongan.” Contohnya, seperti dua batang pohon yang terus bergesekan, akhirnya mengeluarkan api. Orang zaman dahulu menggesekkan kayu untuk membuat api. Kita tahu hal ini. Api pun akan kembali membakar kayu. Api yang yang dihasilkan akan berbalik membakar kayu. Pada akhirnya, api dan kayu sama-sama habis. Api dihasilkan oleh kayu yang digesekkan

 Api dihasilkan oleh kayu yang digesekkan. Api dihasilkan oleh kayu yang digesekkan. Karena adanya panas, api muncul. Api lalu kembali membakar kayu itu. Api lalu kembali membakar kayu itu. Pada akhirnya, api dan kayu sama-sama habis. Bukankah kehidupan kita juga demikian? Begitu banyak hal di dunia ini, tetapi semuanya tidak ada yang kekal. Sesuatu yang mulanya sangat sederhana bisa bergabung menjadi satu dan menghasilkan sesuatu yang kompleks. Dengan demikian, kesederhanaan pun lenyap. Jadi, di mana kebenaran yang sesungguhnya? Seperti yang tadi kita bahas, ia tidak terlihat dan tidak bisa didengar

 Ia bagaikan tersembunyi. Seperti yang ada dalam diri Anda dan saya. Kita memiliki sesuatu yang tak terdengar dan tak terlihat, yaitu kesadaran. Namun, segala tindakan kita, diawali dari kesadaran dan akan kembali pada kesadaran. dan akan kembali pada kesadaran. Saat Anda melakukan perbuatan, indra, objek, dan kesadaran bereaksi. Jadi, enam kesadaran kita memicu perbuatan. Setelah perbuatan dilakukan atau sesaat sebelum perbuatan dilakukan, kesadaran ketujuh membuat pertimbangan. Sebelum perbuatan dilakukan atau setelah perbuatan dilakukan, apakah kita merasa senang, risau, dan sebagainya, ini berkaitan dengan kesadaran ketujuh. Namun, setelah perbuatan dilakukan, ia akan dimasukkan ke dalam gudang yang tak lain adalah kesadaran kedelapan

 Saat ditanya mengerti atau tidak, kita menjawab, “Mengerti.” Mengerti sampai tahap mana? Sesungguhnya, kita tidak tahu. Karena itu, kita harus mempelajari ajaran Buddha. Dalam hidup ini sungguh banyak kesulitan. Berhubung kesulitan begitu banyak, mengapa kita tidak berusaha menyederhanakannya? Karena jika kita ingin menjabarkannya lebih jauh, kita akan menemukan kerumitan yang tak terbatas. kita akan menemukan kerumitan yang tak terbatas. Sebelas kecenderungan umum, dua belas pintu masuk, delapan belas elemen, dua puluh lima aku, setelah kita menganalisis semua ini, manakah yang akan kita gunakan? Biar saya beri tahu kalian, semuanya berguna. Semua ini kita temui setiap hari, tetapi apakah kita merasakannya? Tidak tahu. Jadi, begitulah kita berada di tengah fenomena yang tak terbayangkan yang tidak kita pahami setiap hari. Kini, jika kita melanjutkan pembahasan, kita akan sampai pada enam puluh dua pandangan

 Mengenai enam puluh dua pandangan, kita akan membahasnya dengan cara yang sederhana, jelas, dan gamblang. Enam puluh dua pandangan ini terbagi menjadi dua kelompok, yakni pandangan nihilisme dan eternalisme. yakni pandangan nihilisme dan eternalisme. yakni pandangan nihilisme dan eternalisme. Ini adalah pengelompokan paling dasar. Manusia dikendalikan oleh pandangan sendiri, baik nihilisme maupun eternalisme. Para nihilis juga dapat melakukan banyak kesalahan. Mereka menganggap pada akhirnya semuanya tidak ada, maka mereka tidak takut terhadap apa pun. Mereka tidak meyakini adanya hukum sebab akibat

 Karena itu, mereka dapat menciptakan banyak karma buruk. Sebaliknya, para eternalis memiliki kemelekatan yang besar. Dengan kemelekatan yang besar, mereka juga akan menciptakan banyak karma buruk. Kita pernah membahas ini sebelumnya. Jadi, pandangan nihilisme dan eternalisme adalah akar dari noda batin. Kita terikat oleh pandangan diri kita sendiri. Ini karena kita melekat pada diri. Karena kita lahir sebagai manusia dan memiliki tubuh ini, Jadi, dengan adanya tubuh ini, dalam  hidup ini kita terjebak dalam nihilisme atau eternalisme. Karena itu, orang zaman dahulu berkata bahwa bencana dalam kehidupan manusia disebabkan oleh adanya tubuh ini. Jadi, dengan adanya tubuh ini, kita mengakumulasi banyak kegelapan dan noda batin

 Kegelapan dan noda batin ini tak lepas dari pandangan nihilisme dan eternalisme. Jadi, kita terikat oleh tubuh atau diri kita. Jadi, kita terikat oleh tubuh atau diri kita. Kita memiliki kemelekatan terhadap lima agregat. Sebelumnya kita juga sudah membahas tentang ini. Di dalam enam belas pandangan, juga dibahas mengenai lima agregat. Kemelekatan terbentuk akibat adanya lima agregat. Kemelekatan terbentuk akibat adanya lima agregat. Kemelekatan ini terbagi ke dalam empat kategori

 Semuanya berkaitan dengan lima agregat. Setiap agregat digambarkan dengan empat kalimat. Jadi, ada lima dikali empat. Pandangan pertama berbunyi, “Agregat besar, diri kecil, diri berada dalam agregat.” Agregat adalah Skandha atau unsur pembentuk kehidupan. Diri kita berada di dalam lima agregat. Kalimat-kalimat berikutnya menjabarkan agregat rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dll. yang masing-masing dikatakan besar. Jadi, sesungguhnya mana yang lebih besar? Pandangan pertama menganggap agregat besar, sedangkan diri kecil

 Karena itu, kita berada di dalam lima agregat. Baik rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, maupun kesadaran, semuanya menguasai diri kita. Baik rupa maupun perasaan, Baik rupa maupun perasaan, dikatakan lebih besar dari aku atau diri. Agregat besar, sedangkan diri kecil. Diri kita dikendalikan oleh agregat. Ada orang yang melekat terhadap kekekalan atau pandangan pribadi. Mereka begitu melekat. Diri mereka terjerat oleh rupa. Di dalam sebelas kecenderungan umum, kita telah membahas bagaimana diri terjerat rupa

 Inilah mengapa dikatakan agregat rupa besar, sedangkan diri kecil. Kita ambil contoh, mengapa suatu hal yang sepele membuat kita risau? Ini karena kita terbelenggu perasaan. Di sinilah “perasaan besar, sedangkan diri kecil”. Dengan contoh seperti ini, kita dapat memahami. Ini sangat sederhana. Kita hanya perlu bersungguh hati. Pandangan kedua berbunyi, “Diri besar, agregat kecil, agregat berada dalam diri.” Lalu mengapa kita dikendalikan oleh agregat? Diri kitalah yang seharusnya memanfaatkan agregat, Diri kitalah yang seharusnya memanfaatkan agregat, bukan malah dikendalikan oleh agregat. Semua ini juga berkaitan dengan lima agregat. Sesungguhnya, diri yang berada dalam agregat ataukah agregat yang berada dalam diri? Apakah lima kesadaran berada di dalam diri Apakah lima kesadaran berada di dalam diri dan dikendalikan oleh diri ataukah diri yang dikendalikan lima agregat? Ini bergantung pada diri kita sendiri, apakah kita dikendalikan oleh rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran apakah kita dikendalikan oleh rupa, perasaan, persepsi, dorongan pikiran, dan kesadaran ataukah diri kita demikian besar sehingga kita dapat menguasai semua agregat ini

 Kita sendiri harus memahami dan mengetahui ini dengan jelas. Pandangan berikutnya berbunyi, “Agregat sama dengan diri.” Diri kita ada bersama-sama agregat, saling berdampingan. Pandangan selanjutnya berbunyi, “Diri terpisah dari agregat.” Jadi, ada beberapa pandangan, yaitu agregat adalah diri, diri adalah agregat, diri sama dengan lima agregat, lima agregat sama dengan diri, diri ada bersama lima agregat, dan diri adalah yang tersisa saat lima agregat terpisah. Penjelasan ini paling sederhana. Semoga semua orang dapat memahami hubungan antara agregat rupa dengan diri atau keakuan kita, begitu pula dengan agregat lainnya. Setelah memahami satu, kalian akan dapat memahami empat lainnya. kalian akan dapat memahami empat lainnya

 Semoga semua dapat memahami empat pandangan ini. Jadi, setiap agregat mengandung empat pandangan. Dengan begitu, kita tahu bahwa jika dikalikan, jumlahnya menjadi dua puluh. Empat pandangan yang berhubungan dengan lima agregat tadi, jika dijumlahkan menjadi dua puluh pandangan. Setiap agregat mengandung empat pandangan. Empat pandangan di dalam lima agregat, saat dikalikan tentu berjumlah dua puluh. Benar? Berikutnya, dua puluh pandangan ini juga mencakup tiga masa. Masa lalu, masa kini, dan masa depan tidak hanya merujuk pada kehidupan lampau, kehidupan sekarang, dan kehidupan selanjutnya. Tidak hanya itu. Jika rentang waktunya dipersempit sedikit, tiga masa juga mencakup kejadian masa lalu, kejadian saat ini, dan kejadian di masa depan

 Dengan adanya tiga masa, maka dua puluh pandangan dikalikan tiga menjadi enam puluh. Benar? Benar. Kemudian, ditambah lagi dengan dua pandangan akar, yakni nihilisme dan eternalisme. Jika pandangan akar dan pandangan cabang tadi dijumlahkan, jumlahnya adalah enam puluh dua. Saudara sekalian, ajaran Buddha mencakup seluruh alam semesta. Sesungguhnya, ia bagaikan teleskop. Sesungguhnya, ia bagaikan teleskop. Jika kita menggunakan teleskop Jika kita menggunakan teleskop dan mendekatkan lensanya ke mata, dan mendekatkan lensanya ke mata, kita dapat melihat hingga kejauhan. Namun, saat kita menjauh dari lensanya, yang kita lihat hanyalah sebuah tabung kecil. yang kita lihat hanyalah sebuah tabung kecil. Jadi, kita hendaknya dapat mengakomodasi segala sesuatu di dunia dengan pikiran yang sederhana

 dengan pikiran yang sederhana. Sebagai manusia, yang penting kita dapat mengendalikan pikiran kita. Kita tidak perlu dikendalikan oleh kondisi luar ataupun mengendalikan kondisi luar. Kita tidak perlu terus melekat kepada keberadaan atau ketiadaan. Jangan melekat terhadap apakah kita mengendalikan kondisi atau dikendalikan oleh kondisi. Semua ini tidak perlu. Kita harus seperti air. Dharma bagaikan air. Di wadah yang bundar, air akan ikut berbentuk bundar

 Di wadah yang panjang atau persegi, bentuk air juga akan mengikuti menjadi panjang atau persegi. Ajaran Buddha bertujuan untuk membuat kita mampu melepaskan kerisauan dalam batin dan tidak terpengaruh oleh segala kondisi luar yang mengganggu. segala kondisi luar yang mengganggu. Seperti yang sebelumnya kita bahas, saat permukaan air tenang, air terlihat sangat jernih dan mampu memantulkan bayangan kondisi sekitarnya. Seperti kisah bayangan emas pada air yang pernah saya ceritakan. Emas itu berada di atas pohon, tetapi anak lugu malah mencarinya di dalam air karena melihat bayangannya di permukaan air. Dia tidak sadar bahwa itu hanya bayangan. Dia menganggap bayangan itu nyata. Kita makhluk awam sama seperti anak lugu ini. Kita terus melekat pada hal-hal yang pada dasarnya kosong

 Seperti kayu dan api, meski saling berlawanan, tetapi keduanya harus bersatu untuk bisa membawa manfaat. Jadi, apakah di dalam kayu ada api? Ada. Jika tidak, bagaimana bisa saat kayu disulut, api kemudian muncul? Kayu memang mengandung api. Apakah di dalam kayu ada air? Ada. Lihatlah batang pohon. Suatu hari, saya berjalan ke belakang dan melihat pohon kamper kita tengah ditebang. Saya berkata, “Wah, harum sekali.” Di dalam pohon itu terdapat minyak. Seorang bhiksuni kita menjawab, “Relawan kita dari Taichung akan mengambilnya untuk dibuat minyak ekstrak kamper.” Sesampainya di tempat tujuan, pohon itu akan diambil minyaknya

 pohon itu akan diambil minyaknya. Jadi, pohon juga mengandung air. Jadi, pohon juga mengandung air. Apakah di dalam pohon juga ada unsur tanah? Ada. Suatu hari, seorang direktur pabrik makanan datang. seorang direktur pabrik makanan datang. Saya bertanya, “Usaha apa yang Anda jalankan?” Dia menjawab, “Saya memproduksi makanan, tetapi tidak menggunakan bahan kimia buatan, semuanya menggunakan bahan alami.” semuanya menggunakan bahan alami

” Bahan alami juga dapat diolah menjadi obat dan bahan baku makanan. Saya bertanya tentang suatu bahan. Dia memberi tahu saya, “Ini dibuat dari pulp.” Saya bertanya, “Bukankah pulp dibuat dari pohon?” “Bukankah pulp dibuat dari pohon?” Dia menjawab, “Benar.” “Itu diambil dari pohon.” “Saya membeli pulp untuk diolah menjadi bahan baku makanan.” “Bahkan pabrik farmasi juga menggunakan bahan ini.” “Banyak produk makanan terbuat dari bahan ini.” Lihatlah, bukankah segala sesuatu di dunia luar biasa? Sungguh ajaib dan luar biasa. Yang kita lihat hanyalah pohon, tetapi sesungguhnya mengandung banyak prinsip di dalamnya. Saudara sekalian, harap kita semua menggunakan kesungguhan hati dalam menjalani keseharian agar bisa merasakan prinsip kebenaran yang terkandung di dalam segala sesuatu. Harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888