Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-268-Menunaikan Kewajiban dan Menuai Berkah

Saudara se-Dharma sekalian, apakah kita senantiasa meningkatkan kewaspadaan dalam tindakan, ucapan, dan pikiran kita? Ajaran Buddha mengajarkan kepada kita untuk senantiasa merenungkan Buddha dan Dharma. Yang terpenting, kita harus merenungkan batin sendiri. Batin adalah sumber dari segala Dharma. Setiap hari kita membabarkan Dharma dan mendengar Dharma, apakah Dharma telah meresap ke dalam hati kita? Setelah meresap ke dalam hati, apakah kita mempraktikkannya? Kita harus bertanya ke dalam hati sendiri dan waspada terhadap perilaku kita dalam keseharian. Ini sangat penting. Di zaman Buddha hidup, ada sepasang sahabat yang selalu bersama-sama. ada sepasang sahabat yang selalu bersama-sama. Meski mereka selalu bersama-sama, tetapi arah pikiran mereka berbeda. Artinya, kebiasaan mereka juga berbeda. Suatu hari, Raja Prasenajit dari Sravasti mengundang Buddha ke jalan di tengah kota. mengundang Buddha ke jalan di tengah kota. Sebelumnya, Raja selalu mengundang Buddha ke istana, tetapi kali ini, dia mengundang Buddha ke tengah kota. Jika Buddha membabarkan Dharma di istana, yang mendengar hanya raja dan para pejabat.

Kesempatan bagi rakyat biasa sangat jarang. Karena itu, Raja Prasenajit yang ingin menyebarkan Dharma mengundang Buddha untuk datang ke tengah kota. agar rakyat biasa dapat bertemu Buddha dan mendengar Dharma. Buddha sangat gembira mendengarnya dan menerima undangan itu. Buddha melihat Raja sangat mengasihi rakyat, maka menerima undangan dengan sukacita. Pada hari itu, Raja menjemput Buddha dari vihara dengan barisan yang agung dengan barisan yang agung di empat sisi jalan. Jalan itu sangat lapang. Di tengah-tengah jalan itu, disediakan tempat pembabaran Dharma. Orang yang mendengar Dharma saat itu sangat banyak. Sepasang sahabat tadi pun turut hadir. Mereka duduk di kejauhan. Salah satu dari mereka melihat Buddha dan mendengarkan pembabaran Dharma. Melihat kondisi saat itu, timbul rasa sukacita dalam hatinya. Dia terus mengeluarkan pujian. Dia memuji Raja yang begitu bijaksana dan penuh welas asih. Bukan hanya memikirkan kehidupan rakyat, Raja juga memikirkan batin rakyat. Salah seorang dari sepasang sahabat ini terus mengeluarkan pujian.

Akan tetapi, teman yang berada di sebelahnya, saat mendengar sahabatnya terus mengeluarkan pujian dan penuh kegembiraan, dia merasa sahabatnya itu terlalu berlebihan. Dia merasa tiada yang perlu dibesar-besarkan. Dia berkata, “Saya rasa Raja sangat bodoh, untuk apa dihormati?” “Petapa Gautama bagaikan seekor sapi.” “Para pengikutnya bagai pedati.” “Para pengikutnya bagai pedati.” “Si sapi menarik pedati ke mana pun pergi.” “Si sapi menarik pedati ke mana pun pergi.” “Raja sungguh bodoh.” “Dia mengeluarkan banyak uang untuk memberi persembahan dan begitu menghormati Petapa Gautama, bahkan berlutut di sisinya untuk mendengarkan Dharma.” “Mengapa Raja tidak menikmati saja istananya yang indah dan menggunakan uangnya untuk kesenangan sendiri?” “Mengapa dia harus memberi persembahan kepada begitu banyak orang?” Intinya, makian terus keluar dari mulutnya. Sahabatnya menasihatinya, “Jangan berkata begitu, kemunculan seorang Buddha sangat langka.” “Lagi pula, setiap ucapan-Nya bagai permata.” “Semuanya sangat inspiratif, mengajarkan setiap orang untuk berbuat baik dan dapat mengenal rasa puas.” “Ini adalah sumber kebahagiaan.” Namun, orang ini tidak peduli. Berhubung sahabatnya takut dia terus menciptakan karma buruk lewat ucapan, maka sahabatnya ini mengajaknya pergi. Mereka menuju ke pusat kota. Setelah masuk ke kota, tengah hari sudah berlalu, mereka pun merasa lapar. Mereka lalu singgauh di sebuah rumah makan. Salah seorang dari mereka memilih makanan sederhana. Berhubung sudah mendengar Dharma batinnya dipenuhi ketulusan, maka memilih makanan yang sederhana. Sebaliknya, sahabatnya memilih makanan mewah. Entah mengapa, orang yang memakan makanan mewah ini tiba-tiba meninggal dunia. Sahabatnya menyaksikan bahwa kehidupan sungguh tidak kekal. Karena itu, dia merasa bahwa ajaran Buddha merupakan kebenaran. Sejak saat itu, dia menaruh rasa hormat kepada terhadap Buddha. Setiap kali bertemu orang, dia berkata, “Buddha menerima siapa saja.” “Raja sangat bijaksana.” “Raja mengundang Buddha untuk membabarkan Dharma di tempat umum.” Setiap kali bertemu orang, dia selalu memuji kebijaksanaan raja dan keindahan ajaran Buddha. Suatu ketika dia pergi ke negeri tetangga. Suatu ketika dia pergi ke negeri tetangga. Di sana dia juga menyebarkan ajaran Buddha. Di sana dia juga menyebarkan ajaran Buddha. Raja kerajaan tersebut tidak memiliki penerus. Raja kerajaan tersebut tidak memiliki penerus.

Namun, raja ini sudah tua dan sakit. Beliau khawatir tiada yang mewarisi takhtanya. Beliau mengamati para menterinya Beliau mengamati para menterinya dan mencari manakah yang punya cinta kasih tertulus. Agar sebuah negeri bisa makmur dan rakyatnya hidup bahagia, dibutuhkan pemimpin yang penuh cinta kasih. Jadi, suatu hari sang raja memerintahkan seluruh rakyat memilih seseorang yang paling penuh cinta kasih. Begitu perintah ini dikeluarkan, seluruh rakyat sangat bersukacita. Mereka menemukan seorang warga negeri tetangga yang gemar bertutur kata baik dan mengajarkan untuk berbuat baik. Setelah mendengar ucapannya, semua orang merasa gembira dan diliputi kebahagiaan. Jadi, rakyat merasa orang tersebut layak menjadi raja di sana dan memimpin rakyat. Dia dianggap bisa membawa kebahagiaan bagi rakyat. Jadi, rakyat mengajukan namanya. Raja pun bertemu dengannya. Saat berbincang dengannya, Raja sangat gembira. Beliau merasa orang ini adalah orang bijak dan penuh cinta kasih. Lagi pula, negeri yang mewarisi ajaran Buddha, rakyatnya tentu akan bahagia. Akhirnya, pada hari itu, sang raja menyerahkan takhtanya kepada orang dari negeri tetangga itu. Orang dari negeri tetangga itu bagai mendapat durian runtuh. Dia begitu dihormati oleh raja. Dia lalu berlutut menghadap arah timur sebagai ungkapan syukur kepada Buddha. Dia berkata, “Jika suatu hari aku naik takhta, Dia berkata, “Jika suatu hari aku naik takhta, aku akan memimpin negeri sesuai ajaran Buddha.”

Beberapa hari kemudian, raja baru ini memimpin para menterinya untuk pergi ke negeri tetangga demi memberi penghormatan kepada Buddha. Mengetahui hal ini, orang-orang bertanya kepada Buddha mengapa warga biasa seperti orang tadi bisa tiba-tiba diangkat menjadi raja baru. Buddha tersenyum dan memberi jawaban yang intinya adalah segala sesuatu dipelopori oleh pikiran. Pikiran adalah sumber dari segala Dharma. Bukankah kita sering mengatakan bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada dasarnya tiada perbedaan? Bukankah kita sering mengatakan bahwa di dalam hati setiap orang terdapat hakikat kebuddhaan yang murni? Inilah yang disebut sumber Dharma. Sumber Dharma ini sangat murni. Pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Jika berpikiran baik, dengan sendirinya tindakan akan baik. Di awal kita sudah membahas hal ini. Jadi, pikiran bisa mengarahkan kita ke arah kebaikan, juga mengarahkan kita ke arah kejahatan. Jika pikiran selalu dipenuhi rasa hormat terhadap orang lain, terhadap Buddha, dan terhadap Dharma, maka tindakan kita akan mengarah pada Dharma. Jadi, pikiran adalah pemimpin dan pembentuk. Jika kita selalu menyimpan pikiran baik dan selalu berbicara dan bertindak berdasarkan pikiran baik itu, maka baik ucapan maupun tindakan kita maka baik ucapan maupun tindakan kita akan selaras dengan Dharma. akan selaras dengan Dharma.

Inilah yang disebut ada Buddha di dalam hati. Kebahagiaan akan mengikuti orang seperti ini. Dia tak perlu mencari kebahagiaan. Kebahagiaan akan mengikuti dengan sendirinya. Kebahagiaan ini akan datang tanpa dicari. Orang zaman dahulu mengatakan bahwa manusia berkaki dua, tetapi berkah berkaki empat. manusia berkaki dua, tetapi berkah berkaki empat. Jika kita memiliki berkah, bagaimana pun kita menghindar, berkah tetap akan mengikuti kita. Sebaliknya, jika manusia ingin mengejar berkah, maka akan sangat menderita. Yang terpenting adalah menjalankan kewajiban dengan baik, seperti orang tadi yang bersukacita setelah bertemu Buddha. Pikirannya terpusat pada Buddha dan Dharma, perbuatannya sesuai Dharma. Dia selalu bertutur kata baik dan membimbing orang ke arah kebajikan. dan membimbing orang ke arah kebajikan. Dengan menjalankan ini, dia merasakan sukacita dalam hati. Jadi, “Kebahagiaan akan mengikutinya bagai bayangan mengikuti wujud.” Jika seseorang berdiri di bawah sinar matahari, pasti timbul bayangan berbentuk orang. Jika seekor anjing berdiri di bawah sinar matahari, pasti timbul bayangan berbentuk anjing. bagaimana pun kita menghindar, bayangan manusia tak akan berbentuk anjing. Pasti tidak bisa. Intinya, berkah dan bencana dipelopori pikiran, ucapan, dan tindakan. Sahabat orang tadi juga tidak berpikiran baik. Karena itu, ucapannya berisi kata-kata negatif. Ini adalah tabiat buruk. Jika dalam keseharian kita memupuk kebiasaan baik, seperti bertutur kata baik dan menghormati orang lain, maka kebiasaan ini akan menjadi kualitas diri. maka kebiasaan ini akan menjadi kualitas diri. Saya sering berkata kepada kalian bahwa melatih diri sesungguhnya adalah memupuk kebiasaan baik dan mengikis tabiat buruk. Ini sangat penting. Jadi, sebagai murid Buddha, setiap orang harus tahu hal ini. Di masa lalu, apakah kita pernah merasa tidak senang saat melihat orang lain? Apakah kita pernah merasa iri dan tidak suka saat mendengar orang memuji orang lain? saat mendengar orang memuji orang lain? Pernahkah kita merasa begitu? Jika pernah, kita harus mawas diri. Terhadap orang lain, kita harus selalu tulus. Jika timbul rasa tidak hormat terhadap orang lain atau niat untuk memfitnah, kita harus segera bertobat karena ini bersumber dari tiga racun batin kita. Apa yang dimaksud tiga racun batin? Sumber dari segala noda batin. Sumber dari segala noda batin adalah ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Di antara ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan, ketamakan adalah sumbernya. Dari sana tumbuhlah kebencian. Saat mendengar orang memuji orang lain, kita tidak bisa turut bergembira. Saat melihat orang lain berbuat baik, bukan hanya tidak memuji, kita malah menentangnya. Inilah kebencian dan kebodohan. Jika di antara orang banyak kita sombong dan ragu, ini juga merupakan racun. Jadi, tiga racun ini adalah sumber segala noda batin.

Mengenai pahala, bagaimana cara mengembangkan pahala? Jika kita tidak bertobat atas tiga racun batin dan tidak mengikis berbagai noda batin, maka segala pahala juga akan tergerus. Bukankah kita sudah pernah membahas bahwa adakalanya saat ingin bertutur kata baik dan berbuat kebajikan, tanpa sadar kita lupa atau silap. tanpa sadar kita lupa atau silap. Bahkan, adakalanya saat jelas-jelas ingin bertobat di hadapan orang banyak, tabiat kita masih membuat kita berpikir bahwa orang-orang itu juga memiliki kesalahan. Ini tidak benar. Ini tidak benar. Kita sendiri tahu akan hal ini. Bertobat harus sepenuh hati. Bertobat harus sepenuh hati. Kita harus mengakui kesalahan kita dengan tulus. Kita harus meminta maaf. Ada pula orang yang berkata maaf, tetapi tetap menyalahkan orang lain. Ini tidak benar. Kita meminta maaf, tetapi juga menyalahkan orang lain. Ini berarti kebaikan dan keburukan kita berimbang, tidak ada pahala. Artinya, pelatihan diri kita masih belum cukup. Jadi, kita harus senantiasa bertobat. Pertobatan haruslah menyeluruh. Akan tetapi, semangat pertobatan makhluk hidup masa kini kadang naik kadang turun. Karena itu, kita perlu berbuat baik di tengah masyarakat dan membina tabiat kita. Kita harus terus memupuk tabiat baik dimulai dari bersumbangsih tanpa pamrih. Insan Tzu Chi di Kanada sering mengadakan kegiatan dalam rangka Hari Natal pada bulan Desember setiap tahunnya. Pada bulan Desember tahun 2006,

Pada bulan Desember tahun 2006, insan Tzu Chi mengunjungi pusat rehabilitasi pengguna narkoba. Di sana terdapat tiga puluh orang pasien. Para pengguna narkoba mengalami ketergantungan dan memiliki catatan kriminal. Sulit bagi mereka untuk lepas dari narkoba. Karena itu, The Salvation Army mendirikan pusat rehabilitasi. Di dalamnya ada tiga puluh orang yang menjalani rehabilitasi. Insan Tzu Chi menyiapkan tiga puluh helai jaket tahan air dan barang-barang kebutuhan untuk dibagikan kepada mereka. Saat insan Tzu Chi tiba di sana, penanggung jawab dari The Salvation Army menerima mereka dengan gembira karena Tzu Chi dan organisasi ini telah menjalin hubungan baik selama sebelas tahun. Dalam sebelas tahun ini, mereka selalu bekerja sama mengadakan acara tahunan. Sekali dalam sebulan, insan Tzu Chi juga memasak makanan untuk para pasien. Insan Tzu Chi melakukannya dengan tulus dan penuh rasa hormat. Setiap kali tiba giliran untuk menyediakan makanan, insan Tzu Chi selalu mendekor ruang makan hingga seperti restoran bintang lima. Insan Tzu Chi memasang taplak pada semua meja dan menaruh vas bunga kecil di atasnya. Alat makan yang digunakan juga sangat baik. Dalam jangka panjang, insan Tzu Chi terus menjalankan ini. Karena itu, pihak The Salvation Army sangat senang saat melihat insan Tzu Chi, terutama saat melihat insan Tzu Chi membawa banyak hadiah berupa jaket berkualitas baik yang dapat melindungi tubuh dari air hujan dan menjaga kehangatan serta berbagai barang kebutuhan bagi para pasien. Mereka sangat berterima kasih. Tentu, pasien yang menerima juga sangat gembira. Mereka menganggap insan Tzu Chi sebagai penyelamat dalam kehidupan mereka. Sesungguhnya, keterharuan penanggung jawab The Salvation Army terhadap insan Tzu Chi bermula pada bertahun-tahun yang lalu, saat insan Tzu Chi bekerja sama dengan mereka. saat insan Tzu Chi bekerja sama dengan mereka. Insan Tzu Chi memperagakan isyarat tangan lagu Tiga Tiada. Lirik lagu Tiga Tiada ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, lalu dinyanyikan. “Di dunia ini tiada yang tak kukasihi.” “Di dunia ini tiada yang tak kupercaya.” “Di dunia ini tiada yang tak kumaafkan.” Lirik ini diterjemahkan dan dinyanyikan sesuai irama. Mereka sangat terharu. Selain itu, kata-kata “lepaskan risau gelisah, bergembiralah” juga meresap ke dalam hati mereka. juga meresap ke dalam hati mereka. Di pusat rehabilitasi tersebut terdapat orang-orang yang membuat tak berdaya.

Mereka awalnya sudah berhasil melepaskan diri dari narkoba setelah melewati pendidikan dan pendampingan. Setelah sembuh dan keluar, tak lama mereka masuk lagi. Ini sungguh membuat orang tak berdaya. Demi para pasien yang tiada habisnya keluar dan masuk, yang tiada habisnya keluar dan masuk, para personel The Salvation Army harus bekerja keras. Kadang dalam hati mereka juga timbul kerisauan. Namun, lagu Tiga Tiada ini mengajarkan bahwa tiada orang yang tidak kita kasihi. Kadang melihat pasien yang keluar masuk, mereka merasa marah, tetapi lagu ini mengingatkan bahwa tiada orang yang tidak kita maafkan. Saat melihat pasien keluar masuk pusat rehabilitasi, para personel mungkin kehilangan kepercayaan diri. Namun, lagu ini mengingatkan agar tiada orang yang tidak kita percayai. Suatu hari nanti, para pasien pasti benar-benar bebas dari narkoba. Jadi, lagu ini sangat berpengaruh bagi para personel. Saat timbul kerisauan dalam hati mereka, Saat timbul kerisauan dalam hati mereka, mereka mampu melepaskannya saat mendengar lagu ini. Lihatlah, di mana pun berada, Lihatlah, di mana pun berada, insan Tzu Chi selalu bersumbangsih dan menyebarkan Kata Renungan Jing Si.

Mereka terjun ke pusat rehabilitasi dengan tulus. Mereka sangat mawas diri dan berhati-hati, tetapi mereka juga menunjukkan ketulusan dan membawakan lagu dan membawakan lagu yang penuh semangat budaya humanis. Lihatlah, ini dapat membuat orang yang berada dalam kondisi sulit mampu membersihkan batin setiap hari mampu membersihkan batin setiap hari dan mengikis kerisauan serta kegelisahan dan mengikis kerisauan serta kegelisahan sesuai ajaran dalam lagu tersebut. Saudara sekalian, batin manusia penuh ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan. Inilah racun di dalam batin semua makhluk. Bagaimana kita mengikis semua ini? Pikiran kita harus berada dalam Dharma. Setelah mendengar Dharma, perbuatan kita harus sesuai Dharma. Kita harus mewujudkan Dharma dalam perbuatan kita. Jadi, setiap orang harus menjaga pikiran dengan baik.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

Juragan28

MPO88ASIA