Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-267-Mengikuti Jejak Bodhisattva

Saudara se-Dharma sekalian, dalam kegiatan pelatihan relawan dokumentasi kita, kita melihat keindahan dari masing-masing orang yang terhimpun menjadi keindahan kelompok. Mereka sungguh menampilkan sesuai nama kelompok mereka, yakni kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Saat saya masuk ke ruang kelas mereka, mereka sedang berbagi tentang semangat menjalankan kewajiban insan Tzu Chi untuk terjun ke tengah masyarakat. Setiap orang mungkin pernah mengalami kesesatan di masa lalu, baik dalam kehidupan pribadi, dalam hubungan keluarga, maupun dalam interaksi di masyarakat. Kini, berhubung telah berjodoh dengan Tzu Chi, mereka mulai belajar mengendalikan pikiran sendiri. Kemudian, mereka memperbaiki diri dalam hal memperlakukan keluarga. Dengan sendirinya, kondisi keluarga mereka pun berubah. Keluarga mereka kini juga mendukung mereka. Antara anggota keluarga kini dapat saling menghormati. Jadi, saat seseorang dalam keluarga telah bertekad menjadi Bodhisattva dunia, maka seluruh anggota keluarga turut menjadi Bodhisattva. Mendengar mereka berbagi tentang hal ini, mendengar mereka terjun ke masyarakat dan bersumbangsih tanpa pamrih, saya sungguh merasa masyarakat, terutama di Taiwan sungguh dipenuhi orang yang memiliki cinta kasih. Banyak orang yang dahulu pernah tersesat, tetapi setelah bergabung di Tzu Chi, setelah dibimbing dengan berbagai cara, mereka mulai menapaki Jalan Bodhisattva.

Setelah pelatihan selesai pada siang hari, relawan Tzu Chi dari wilayah selatan menemui saya untuk melaporkan bahwa di Meiling terjadi kecelakaan lalu lintas yang besar dan bagaimana insan Tzu Chi bersumbangsih. Mendengar laporan mereka satu per satu, saya sangat bersyukur dan terharu. saya sangat bersyukur dan terharu. Ini sungguh membuat saya kagum. Ada sepasang suami istri yang merupakan anggota Tzu Cheng dan komite. Sekitar pukul empat sore, mereka Sekitar pukul empat sore, mereka tiba-tiba mendengar banyak suara ambulans. Satu per satu ambulans lewat di depan mereka. Sebagai insan Tzu Chi yang merupakan Bodhisattva dunia, kepekaan mereka terhadap penderitaan langsung muncul. Mereka tahu pasti telah terjadi sesuatu. Jadi, kewaspadaan mereka sangat tinggi. Suami istri ini segera mengganti pakaian dengan seragam Tzu Chi. Istrinya segera merapikan rambut sesuai cara Tzu Chi dan suaminya segera menelepon untuk menyebarkan informasi. Dalam tiga sampai lima menit, mereka berangkat mengikuti arah ambulans. Tidak sampai lima belas menit, mereka tiba di lokasi kejadian. Setibanya di sana, mereka mendapati bahwa ternyata ada sebuah bus pariwisata yang terperosok ke jurang sedalam lima tingkat bangunan. Sulit sekali untuk menolong para korban. Orang pertama yang pergi menolong adalah dua orang relawan Tzu Chi ini. Saat mereka mulai berusaha menolong, tim penyelamat baru berangsur-angsur datang. Tak lama kemudian, insan Tzu Chi di daerah itu juga terus berdatangan. Mereka yang mengerahkan usaha maksimal untuk terlebih dahulu menolong orang-orang yang masih meminta tolong, masih sadar, dan masih bernapas, selain para anggota tim penyelamat, juga ada insan Tzu Chi. Meski mereka melihat darah bercucuran dan melihat korban dalam kondisi kurang baik, tetapi welas asih mereka tetap teguh. Para relawan perempuan pun demikian.

Mereka segera membungkukkan badan dan segera membantu penyelamatan. dan segera membantu penyelamatan. Selain membantu penyelamatan, mereka juga membantu mengangkat tandu. Di saat yang sama, mereka bergerak bersama tim penyelamat. Selain itu, mereka juga membantu memanggil-manggil dan menggoyang-goyangkan para korban agar yang tak sadarkan diri kembali sadar dan tidak tertidur. Saat melihat darah mengalir, mereka berusaha menghentikannya. Mereka juga  membantu mengangkut korban ke atas. Ada korban yang sudah tak bernyawa. Para relawan pun segera mencari selimut di toko-toko terdekat. Berhubung lokasi kejadian adalah daerah wisata, di sana terdapat hotel. Karena itu, tidak sulit mencari selimut. Di sana juga banyak rumah warga. Jadi, insan Tzu Chi mengerahkan potensi bajik mereka. Jadi, insan Tzu Chi berinisiatif untuk mengumpulkan selimut bagi belasan korban meninggal bagi belasan korban meninggal dari warga sekitar. Selimut-selimut itu digunakan untuk menyelimuti para korban agar jenazah mereka tidak terekspos keluar. Mendengarnya, saya pun beryukur dan terharu. Tentu, berikutnya, para relawan juga bercerita tentang kondisi di lokasi kejadian, di rumah sakit, dan di rumah duka, semuanya sangat mengharukan. Orang-orang yang mendengarnya dan melihatnya merasa sangat kagum dan berterima kasih. Di akhir acara, setelah mendengar mereka berbagi, orang yang terharu sangat banyak. Insan Tzu Chi telah menghibur banyak keluarga, bahkan menenangkan mereka. Setelah kejadian itu berlalu, para anggota keluarga berkata kepada para relawan, “Jika tidak ada kalian kemarin, saya tidak tahu bagaimana kondisi saya saat ini.” Banyak keluarga yang berduka sangat berterima kasih kepada insan Tzu Chi. Orang-orang yang mendengar dan melihat hal ini saja merasa berterima kasih, apalagi para keluarga korban. Jadi, dunia ini sungguh membutuhkan Bodhisattva. Bodhisattva bukan berada di altar persembahan untuk kita puja. Bukan. Bodhisattva yang sesungguhnya harus menerapkan semangat Bodhisattva di dalam kehidupan sehari-hari. Rupang Buddha dan Bodhisattva yang kita puja hanyalah pengingat bagi kita bahwa Mereka adalah teladan hidup kita. Menghormati para Buddha dan Bodhisattva berarti kita harus menerima ajaran Mereka.

Selain berusaha mendalami ajaran Mereka, Selain berusaha mendalami ajaran Mereka, kita juga harus mempraktikkannya. Kita harus mengikuti jejak langkah Buddha dan Bodhisattva. Meski ajaran Buddha telah berusia lebih dari 2.000 tahun, kita tetap harus mengikuti ajaran ini dan mempraktikkannya secara nyata saat ini. Kini saya membicarakan hal ini. Kalian yang mendengar sebagian besar adalah insan Tzu Chi, bahkan semuanya adalah insan Tzu Chi. Di dalam benak kalian mungkin terpikir, “Benar, suatu saat, saya juga pernah pergi ke suatu rumah sakit untuk menghibur orang tertentu yang juga penuh dengan darah.” Kalian teringat bahwa di suatu waktu, di suatu tempat, terjadi bencana apa. Kita datang lebih awal daripada tim penyelamat atau polisi. Mungkin masih banyak kejadian lainnya di mana kita datang paling awal. Bukankah begitu? Ini karena kita berpikir cepat. Kita segera mengerahkan potensi bajik kita. Karena itu, Buddha berkata bahwa kekuatan batin tidak terintangi. Apa yang dimaksud kekuatan batin? Yaitu semangat kita, seperti yang telah banyak kita bahas ini. Berdasarkan cerita para relawan, kapan kejadian itu terjadi? 3 Desember 2006. Kejadian itu terjadi pada siang hari. Kejadian ini tercatat dengan sangat jelas. Mereka juga menggunakan komputer untuk menampilkan lembar demi lembar foto. Melihatnya, saya sungguh tak sampai hati. Mereka juga memiliki rekaman video. Mereka juga memiliki rekaman video. Kita dapat melihat bus itu terperosok sangat dalam. Kita juga melihat tim penyelamat sangat bersusah payah. Kita juga melihat relawan Tzu Chi sangat menghormati para korban meninggal.

Mereka segera mengumpulkan selimut Mereka segera mengumpulkan selimut dari warga sekitar. Mereka begitu penuh rasa hormat. Di rumah sakit, para relawan juga menenangkan keluarga korban. Mereka mendampingi keluarga korban dengan penuh kasih sayang. Mereka merangkul dan menghibur keluarga korban. Bahkan sebelum keluarga korban tiba di rumah sakit, insan Tzu Chi sudah mendampingi para korban, membantu mereka membersihkan badan, dan memberi penghiburan. Para korban mendapat penghiburan, dan para keluarga mendapat perhatian. Melihat pemandangan itu, saya sungguh bersyukur. Jadi, relawan dokumentasi setiap saat merekam dan mencatat kitab sejarah zaman ini. Setiap catatan dan rekaman adalah permata berharga. Setiap catatan dan rekaman adalah permata berharga. Setiap kisah yang mereka bagikan bagaikan perwujudan dari setiap huruf bagaikan perwujudan dari setiap huruf Sutra Bunga Teratai yang bagaikan permata. yang bagaikan permata. Sesungguhnya, dari segi suara, dalam semua kisah dan kesan yang mereka bagikan, setiap kalimat merupakan permata berharga. Ini sungguh merupakan kitab bagi kita. Setelah mereka semua berbagi kisah, acara pun usai dan para relawan pun pulang. Saya tetap tinggal di sana untuk mengurus beberapa hal. Sebagian relawan datang melaporkan keputusan-keputusan yang akan dijalankan kelak. Karena itu, saya lupa bahwa di lantai bawah masih ada ratusan calon anggota komite akan harus dilantik. Saya lupa dan terus berada di lantai atas. Sebelum menuju lantai atas, saya berjanji kepada mereka bahwa saya akan turun pada pukul lima sore. bahwa saya akan turun pada pukul lima sore. Namun, saya lupa. Terkadang semangat kita sangat besar. Sebersit pikiran dapat membuat kita teringat kejadian di masa lalu. Kita mampu menggambarkan kondisi kemarin, tetapi malah lupa janji yang dibuat beberapa jam lalu. tetapi malah lupa janji yang dibuat beberapa jam lalu. Saat tiba waktunya bagi saya untuk pulang, Saat tiba waktunya bagi saya untuk pulang, saat sedang berjalan turun ke lantai bawah, saya melihat masih banyak orang menunggu di sana. Saya sadar bahwa saya telah lupa akan janji yang saya buat dengan mereka. Ini karena adakalanya indra pikiran menjadi tumpul. Dalam waktu lima menit, saya segera meminta maaf kepada semua orang karena saya telah lupa. Ini sama dengan pertobatan saya kepada semua orang. Inilah pertobatan.

Jika saya tidak bertobat di hadapan semua orang, mungkin orang-orang akan merasa ucapan saya tidak dapat dipercaya. Ini akan menjadi masalah besar. Beruntung, saya masih punya waktu lima menit. Jadi, saya pun menyampaikan pertobatan. Jadi, saya pun menyampaikan pertobatan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus mawas diri dan tulus. Kita harus tulus terhadap semua orang. Jika tidak, adakalanya kita akan mudah berpikiran negatif. adakalanya kita akan mudah berpikiran negatif. Jika memiliki nurani, kita seharusnya bertobat. Namun, kita yang berdaya tangkap rendah kadang merasa sombong. Kita bisa menghakimi bahwa orang lain salah. Saya pun bisa melakukan kesalahan ini. Jadi, saya mengatakan ini sebagai pertobatan terhadap kalian. Pertobatan adalah pemurnian. Jadi, noda batin memenuhi enam alam. Jadi, noda batin memenuhi enam alam. Meski bertemu Bodhisattva dunia, kita tetap memiliki ego, tetap memiliki kesombongan. Kita tetap menunjukkan ego kita. Ini sangat menakutkan. Alam manusia dan alam dewa pasti dipenuhi noda batin. Tiada tempat bagi kita untuk bersembunyi. Saya pun tak bisa bersembunyi di hadapan begitu banyak Bodhisattva dunia. Sulit dihindari saat noda batin sudah timbul. Kita tak dapat bersembunyi darinya, terlebih lagi di alam neraka, setan kelaparan, dan binatang. Noda batin di alam menderita ini tentu lebih banyak. Intinya, noda batin sangat mengerikan. Sulit untuk menghindar darinya. Namun, kita harus selalu waspada. Jadi, saat kita berbuat sedikit kesalahan dan menyadarinya, maka kita harus segera memperbaiki diri. Kita harus mawas diri dan tulus terhadap setiap orang dan dalam setiap hal. Saya sudah pernah membahas ini. Kita harus bertobat secara terbuka terhadap Buddha, Dharma, dan para suciwan di sepuluh penjuru. Saya melihat setiap orang bagaikan Buddha, juga bagaikan Bodhisattva. Saya menganggap kalian sebagai Buddha dan Bodhisattva. Saya menganggap semua yang hadir di Aula Jing Si bagaikan para Buddha dari sepuluh penjuru.

Jadi, saya bertobat di hadapan mereka. Saya mengakui kesalahan saya di hadapan kalian. Ini juga bagaikan bertobat di hadapan para Buddha, Dharma, dan para Bodhisattva. Semua Dharma ini tertulis di dalam Sutra, lalu saya babarkan kembali kepada kalian, tetapi adakalanya saya sendiri juga lengah. Jadi, saya bertobat secara terbuka di hadapan Dharma dan para suciwan. Sekarang saya sedang bertobat secara terbuka. Sekarang saya sedang bertobat secara terbuka. Dengan begitu, kesalahan yang saya buat tidak akan mengendap di dalam batin saya dan tidak menanam benih noda batin baru karena setelah bertobat, saya merasakan sukacita, sangat tenang dan damai. Benih noda batin tidak lagi mengotori kesadaran kedelapan saya. tidak lagi mengotori kesadaran kedelapan saya. Jadi, Saudara sekalian, kita semua harus seperti ini. Pertobatan bagaikan seember air yang dapat membersihkan segala jenis kotoran. segala jenis kotoran. Jadi, Saudara sekalian, hidup kita tidak boleh lepas dari Dharma. Dharma harus ada di dalam kehidupan kita. Hidup kita pun harus berada di dalam Dharma. Karena itu, saya sering berkata bahwa ajaran Buddha harus diterapkan dalam keseharian dan semangat Bodhisattva harus diwujudkan di dunia. Kita sungguh dapat melihat para Bodhisattva dunia berada di sekeliling kita dan ajaran Buddha selamanya berada di dalam hati dan kehidupan kita. Harap semua lebih bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

Juragan28

MPO88ASIA