Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-274-Memahami Kebenaran dengan Kebijaksanaan Murni

Saudara se-Dharma sekalian, kita sudah membahas pengakhiran kebocoran. Artinya, jika noda batin sudah semakin berkurang dan kegelapan batin sudah dibersihkan seluruhnya, maka dengan sendirinya batin kita akan semakin cemerlang. Tentu, agar kondisi batin suci dan kebijaksanaan cemerlang, kita harus membenahi pikiran kita. Jadi, mendengar, merenung, dan praktik sangat penting. Kita bisa mendengar berbagai suara. Contohnya, di Aula Jing Si kita tengah diadakan pelatihan tentang ajaran Jing Si dan mazhab Tzu Chi yang diikuti oleh para kepala dan staf badan misi selama dua hari. Dua hari ini, segala yang mereka dengar berkaitan dengan Dharma, dimulai dari menenangkan diri di pagi hari, melakukan kebaktian, dan melantunkan Sutra. Yang terdengar adalah lantunan Sutra atau isi pembabaran Dharma. Dharma mazhab Tzu Chi agak berbeda dan cukup segar. Saat berjalan pun tiap langkah mengandung Dharma. Mereka melakukan pradaksina sesuai alunan lagu. Mereka berjalan selangkah demi selagkah sambil melantunkan Dharma sesuai irama. Saat gerakan mereka menyatu dengan semua kondisi itu, batin mereka pun tanpa disadari telah menyelami makna Dharma. Saya mendengar mereka berbagi kesan. Dahulu mereka tidak memahami ajaran Buddha dan tidak memahami Tzu Chi. Dalam kegiatan kali ini, mereka merasakan kesan yang mendalam. Jadi, Dharma harus dibangun dalam ladang pelatihan. Dengan terbangunnya suasana pelatihan, semua orang akan memahami makna yang terkandung di dalam setiap kondisi.

Jadi, selain mendengar irama atau lantunan Sutra, kita juga dapat menyelami Dharma saat bergerak bersama. Saat berdiam dan menenangkan diri, setiap orang hendaknya sungguh-sungguh merenung. Kemudian, kita kembali mendengar pembabaran Sutra. Di manakah pintu Dharma tanpa batas yang terpapar? Di dalam kesaksian oleh setiap kasus. Setiap badan misi, baik amal, kesehatan, pendidikan, maupun budaya humanis, masing-masing membagikan kisah yang berbeda. Semua ini adalah Dharma. Jadi, lantunan irama lagu apa pun yang mereka gunakan untuk pradaksina, lirik lagu di dalamnya mengandung semangat mazhab Tzu Chi. Dari sana, setiap orang dapat belajar bersama-sama dan saling memahami. Ini adalah Dharma yang sama. Jadi, kita harus mendengar, merenung, dan praktik baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam ladang pelatihan. Setiap orang saling menginspirasi dan saling membimbing. Meski mulanya banyak orang yang tidak memahami ajaran Buddha ataupun Tzu Chi, tetapi akhirnya mereka dapat lebih memahami dan mendalaminya. Setelah memahami, mereka dapat mempraktikkannya tanpa ada kesulitan. Saat tindakan dan pandangan kita sejalan dengan Dharma yang kita dengar, maka kita akan memperoleh kebijaksanaan. Saya mendengar cerita dokter patologi anatomi kita, Saya mendengar cerita dokter patologi anatomi kita, Dokter Xu Yong-xiang. Beliau berkata, “Ternyata, kata-kata Pintu Dharma tanpa batas terpapar di hadapan; memperoleh kebijaksanaan agung, memahami segala kebenaran’ sangat berkesan mendalam.” Di dalam ilmu patologi anatomi, dokter harus berusaha menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan penyakit pasien. yang menyebabkan penyakit pasien. Karena itu, beliau merasa kata-kata tadi bermakna sangat dalam baginya. Ini adalah Dharma. Setelah mendengar Dharma dan merenungkan aktivitas hariannya, beliau memperoleh pemahaman yang sama artinya dengan membuka pintu Dharma, Beliau telah memahami tujuan hidupnya. Kita harus tekun dan bersemangat setiap hari. Agar kebijaksanaan kita memancar dengan cemerlang, kita harus melenyapkan banyak keraguan. Dengan begitu, barulah kita bisa yakin terhadap kebenaran Dharma yang kita praktikkan. Untuk itu, kita harus mendengar, merenung, dan menjalankan praktik.

Dengan demikian, barulah kita dapat mencapai tiga penembusan, yakni mengetahui masa lalu, mengetahui masa depan, dan mengetahui noda batin kita saat ini. Inilah yang disebut penembusan. Sebelumnya kita membahas bahwa kita harus mengikis tiga racun sumber noda batin. Dengan begitu, pahala akan tumbuh dari kehidupan ke kehidupan. Maksud “dari kehidupan ke kehidupan” adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan. Setiap hari mengandung masa lalu, masa kini, dan masa depan. Setiap hari siklus ini terus berulang. Kehidupan manusia juga memiliki masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dari kehidupan ke kehidupan, kita memiliki masa lalu. Dari kehidupan ke kehidupan, kita memiliki masa kini. Dari kehidupan ke kehidupan, kita memiliki masa depan. Tak peduli waktunya panjang atau pendek, pasti mengandung masa lalu, masa kini, dan masa depan. Inilah yang dimaksud dari kehidupan ke kehidupan. Bagaimana pun masa lalu kita, kita harus mengasah keterampilan. Jika tidak giat, maka di masa kini kita tidak akan memahami apa pun. Seperti saat sekarang saya berbicara kepada kalian, saya juga harus memupuk sedikit demi sedikit pengalaman dari hari kemarin, dua hari lalu, bahkan hingga masa lalu. bahkan hingga masa lalu. Demikianlah ajaran Buddha dibabarkan dengan mengambil contoh dari hal-hal duniawi. Lewat hal-hal duniawi dalam keseharian, kita memahami ajaran Buddha. Semua pemahaman ini juga dipupuk sejak masa lalu. Kini, saya menggabungkan berbagai pengalaman itu dan membagikannya dengan kalian semua. Kalian dapat menganggap hal ini benar dan meyakini pengetahuan ini. Di masa lalu, masa kini, dan masa depan, jika batin kita tidak ditutupi noda batin, yaitu ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan, maka pengetahuan yang kita pahami ini akan menjadi kebijaksanaan.

Namun, jika setelah dipahami, hal ini tetap tidak merasuk ke dalam hati, maka ia tetap hanya menjadi sebatas wawasan. Jika kita mengetahui kebenaran, tidak terpengaruh oleh noda batin, dan mampu menyelami kebenaran ini dengan hati yang murni, maka ini disebut kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah pahala. Ini adalah pahala yang kita kembangkan. Untuk itu, kita harus giat. Setelah giat, kita akan mendapat buahnya. Kita tidak hanya mengerti setelah mendengar atau hanya sebatas tahu. Jika hanya sebatas tahu dan tidak menyelaminya, maka itu tidak jauh berbeda dengan tidak tahu. Jadi, kita harus memupuk kebijaksanaan ini. Kita harus terus mendengar, terus merenung, dan terus menjalankan praktik. dan terus menjalankan praktik. Inilah kualitas pelatihan. Kualitas pelatihan ini juga harus terus dipupuk untuk dapat terwujud. Dengan demikian, dari kehidupan ke kehidupan, apa yang akan kita dapatkan? Tiga kebijaksanaan dan tiga penembusan. Jadi, kita harus tahu bahwa memiliki kebijaksanaan yang menembus masa lalu, masa kini, dan masa depan bukan berarti memiliki kesaktian, melainkan memiliki pemahaman yang jelas. Untuk memiliki pemahaman yang jelas, kita harus melenyapkan noda batin. Dengan begitu, kita bisa mencapai tiga kebijaksanaan dan tiga penembusan. Kita harus memiliki pemahaman, baru dapat terbebas dari penderitaan. Dengan begitu, barulah tiga penderitaan lenyap dan tiga ikrar terpenuhi. Yang pertama dari tiga penderitaan adalah derita sengsara. Ia adalah penderitaan di tengah penderitaan. Ia adalah penderitaan di tengah penderitaan. Ini disebut derita sengsara, disebabkan oleh kebocoran lima agregat. Kebocoran sama dengan noda batin.

Kita datang ke dunia dengan terus membawa kekuatan karma akibat noda batin. Kekuatan karma ini memicu terbentuknya lima agregat. Lima agregat meliputi rupa, perasaan, persepsi, dorongan karma, dan kesadaran. Inilah yang disebut lima agregat. Tubuh bentukan lima agregat ini senantiasa merasakan tekanan. Saat tidak cukup pakaian dalam cuaca dingin, tubuh juga tidak tahan. Saat orang yang hidup kekurangan harus menghadapi dinginnya cuaca, bukankah dia sangat menderita? Kedinginan membawa penderitaan, kepanasan juga membawa penderitaan. Dalam interaksi dengan orang lain, adakalanya ucapan orang lain membuat kita merasa menderita. Betapa banyak penderitaan di dunia. Inilah yang disebut tekanan. Banyak hal yang tidak sesuai harapan kita, contohnya dari segi fisik. Setelah berjalan lama sedikit, kaki terasa pegal. Setelah bekerja lama sedikit, tubuh merasa lelah. Saat ada barang yang sedikit berat, kita tak mampu mengangkatnya. Saat terlalu senggang, kita merasa bosan. Jadi, yang dirasakan tubuh fisik juga mengandung tekanan. Tekanan atau paksaan berarti bukan keinginan kita, tidak sesuai harapan kita. Saat terlalu santai, kita tidak senang. Saat terlalu sibuk, kita juga lelah. Belum lagi saat tubuh kita mengalami kontak dengan rupa, suara, aroma, bau, dan sentuhan, dengan rupa, suara, aroma, bau, dan sentuhan, entah apakah segala kondisi ini sesuai harapan kita. Jika tidak, kita juga tertekan dan menderita. Manusia terlahir ke dunia memang menderita. Saat kondisi tidak sesuai harapan kita, kita akan mengalami tekanan penderitaan. Karena itu, kita juga sering mendengar banyak orang yang dari muda hingga tua selalu menderita; terlahir di dalam keluarga kurang mampu, setelah besar tidak dapat mengenyam pendidikan, setelah dewasa dan berkeluarga, setelah dewasa dan berkeluarga, harus membanting tulang demi keluarga, terlebih lagi jika mendapat suami yang tidak baik atau istri yang tidak baik, lalu melahirkan anak yang tidak berbakti. Ini semua membawa kesengsaraan. Saat ingin berusaha memperbaiki hubungan keluarga dan mulai mengatasi penderitaan, ketidakkekalan tiba-tiba datang. Inilah penderitaan di tengah penderitaan. Penderitaan yang ada sungguh banyak. Jika kita tidak menyadari ini, kita tak akan mampu memahami kebenaran hidup.

Dengan memahami kebenaran tentang penderitaan, barulah kita dapat memahami kebenaran sejati. Jika manusia tidak menyadari penderitaan, dia tak akan memahami kebenaran. Yang pertama tadi disebut derita sengsara. Di dalam kehidupan, semua makhluk di enam alam mengalami kelahiran kembali dan memupuk banyak kekuatan karma. dan memupuk banyak kekuatan karma. Semua ini terpupuk seiring waktu. Dengan demikian, noda batin terus bertambah selapis demi selapis dan memupuk penderitaan dari kehidupan ke kehidupan. Inilah derita sengsara. Inilah derita sengsara. Yang kedua adalah derita kelapukan. Apa yang dimaksud kelapukan? Dunia pada dasarnya tidaklah kekal. Ada orang yang terlahir dengan nasib baik, mendapat pendidikan yang baik, dan dapat membangun keluarga yang baik sehingga dapat menikmati kehidupan yang baik pula. Segala hal dalam hidupnya berjalan sesuai harapan. Namun, semua itu tetap tidak kekal. Suatu hari, ketidakkekalan tetap akan datang. Segala kenikmatan pasti ada batasnya. Saat ketidakkekalan terjadi, saat berkah habis dinikmati, dengan sendirinya penderitaan juga akan datang. Sebuah ungkapan berbunyi, “Kegembiraan yang berlebihan membawa duka.” Terlebih lagi, dunia penuh ketidakkekalan. Segala sesuatu yang berwujud pasti mengalami perubahan dan terus berproses. Sama halnya, alam ini pun memiliki empat fase, yaitu pembentukan, keberlangsungan, kerusakan, kehancuran. Iklim juga memiliki musim semi, panas, gugur, dan dingin. Tiada sesuatu pun yang tetap dan tak berubah. Tubuh manusia memiliki fase lahir, tua, sakit, mati. Jadi, segala wujud dan fenomena pasti berubah. Begitu pula dengan kenikmatan. Meski kini menikmati reputasi, keuntungan, dan kedudukan, tetapi begitu penyakit datang mendera, manusia juga akan merasa risau. “Harta saya begini banyak.” “Saya masih memiliki istri dan anak.” “Saya masih memiliki suami, anak, dan orang-orang terkasih.” Selain mengalami penderitaan fisik, manusia juga tak rela berpisah dengan yang dikasihi. Ini sungguh membawa penderitaan yang tak terkira, maka disebut derita kelapukan. Kehidupan tidak bisa selamanya berisi sukacita. Sebaik apa pun nasib seseorang, seberuntung apa pun seseorang, pada akhirnya juga akan mengalami derita kelapukan.

Contohnya, ada seorang hartawan yang menderita penyakit kanker. Dia tersiksa selama bertahun-tahun. Meski memiliki uang, saat penyakit datang mendera, saat penyakit datang mendera, dia bagai berada di alam neraka atau alam setan kelaparan. Dia memang memiliki banyak harta. Suaminya sangat mengasihinya. Anak-anaknya juga sangat berbakti. Akan tetapi, tubuhnya didera penyakit dan bergerak menuju kelapukan. Dia tersiksa dalam waktu panjang. Berbagai penderitaan telah dia rasakan. Meski hidup, dia tidak sehat dan tidak bisa sembuh. Namun, dia juga belum meninggal. Dia sangat tersiksa. Bayangkan, bukankah ini yang disebut derita kelapukan? Benar. Inilah derita kelapukan. Berikutnya adalah derita perubahan. Perubahan berkaitan dengan segala yang berkondisi. Saya sering berkata kepada kalian bahwa sejak kita lahir hingga saat ini, bahkan hingga masa depan, hingga kehidupan kita berakhir, hingga kehidupan selanjutnya, kita mengalami proses perubahan. Segala yang kondisi tidak akan hilang begitu saja. Semuanya memiliki proses. Salah satu dari lima agregat adalah dorongan karma. Salah satu dari lima agregat adalah dorongan karma. Dorongan inilah yang menggerakkan proses dalam keseharian kita. Tanpa terasa, berbagai hal terus timbul. Tanpa terasa, berbagai hal terus timbul. Tanpa terasa pula, berbagai hal lenyap. Contohnya diri kita. Kita dilahirkan oleh orang tua. Mulanya, sel sperma dan telur dari orang tua bersatu. Mulanya, sel sperma dan telur dari orang tua bersatu. Kemudian, dalam rahim ibu mulai terjadi proses. Lambat laun, janin mulai terbentuk. Lambat laun, janin mulai terbentuk. Ini adalah awal dari kehidupan kita. Kita pun tidak menyadarinya. Mulanya, ibu juga tidak menyadarinya. Hingga saat janin telah terbentuk, tubuh ibu mulai mengalami perubahan. Kini, berkat kemajuan ilmu kedokteran, kehamilan dapat diperiksa dan diketahui lebih awal. kehamilan dapat diperiksa dan diketahui lebih awal. Pada zaman dahulu, seorang ibu harus menunggu beberapa bulan untuk dapat yakin dirinya benar-benar mengandung. Kini, semuanya dapat diketahui lebih awal. Sang ibu tahu bahwa janinnya terus bertumbuh setiap saat. janinnya terus bertumbuh setiap saat. Namun, sang ibu tetap menjalani keseharian dengan sebagaimana adanya. Dia tahu bahwa ada janin dalam rahimnya, tetapi tidak dapat melihat proses perkembangannya. tetapi tidak dapat melihat proses perkembangannya. Rupa dari anak itu baru terlihat setelah dilahirkan. baru terlihat setelah dilahirkan. Inilah yang disebut proses.

Sejak kehidupan dimulai, segala sesuatunya terus berposes. Hingga seorang anak lahir dan tumbuh besar, proses itu juga terus berlanjut. Jadi, sejak lahir hingga saat ini, kondisi setiap orang tidaklah tetap. Segalanya terus berubah dan berposes, mulai dari masa kecil, masa remaja, masa muda, hingga masa tua. Kondisi manusia terus berubah dalam fase-fase itu. Kondisi manusia terus berubah dalam fase-fase itu. Perubahan juga memungkinkan kita untuk memupuk segala sesuatu. Perubahan memungkinkan sesuatu menjadi ada. Sesuatu yang ada atau dimiliki dapat memicu ketamakan. Ketamakan akan memicu pengejaran keinginan. Pengejaran keinginan akan menimbulkan kemelekatan yang kemudian memupuk banyak karma. Dalam proses ini, manusia mengalami fase tua, sakit, mati, fase timbul, berlangsung, berubah, lenyap, serta pembentukan, keberlangsungan, kerusakan, kehancuran. Fase-fase ini terus berjalan dan membawa dunia ke arah kerusakan, membawa bumi ke arah kerusakan, serta membawa manusia ke arah penyakit dan kematian. Inilah proses dari segala yang berkondisi. Inilah derita perubahan. Tiada yang tetap dan abadi di dunia ini. Jadi, setelah mengetahui kebenaran ini dan memahami penderitaan, kita hendaknya selalu meningkatkan kewaspadaan dan bersungguh hati dalam menyelami kebenaran.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

Juragan28