Sanubari Teduh-275-Praktek dalam Mempelajari Agama Buddha
Saudara se-Dharma sekalian, waktu terus berlalu tanpa henti. Segala sesuatu di alam semesta juga terus berubah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak sadar terhadap segala perubahan ini. terhadap segala perubahan ini. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita hendaknya senantiasa meningkatkan hati yang penuh kewaspadaan. Di mana tujuan kita mempelajari ajaran Buddha? Batin kita harus sangat terfokus dan senantiasa waspada atas berlalunya hari-hari. Dengan demikian, kita dapat menghargai waktu. Dengan menghargai waktu, barulah kita bisa tekun dan bersemangat. Seiring berlalunya hari ini, usia pun berkurang. Ini mengingatkan kita tentang ketidakkekalan. Jika tidak dapat memahami ketidakkekalan, kita tak akan dapat tekun dan bersemangat, juga tidak akan dapat menyerap ajaran Buddha ke dalam hati. Jadi, kita harus senantiasa memiliki kewaspadaan. Sebelumnya kita sudah membahas tentang tiga racun penyebab noda batin. Cahaya hakikat sejati kita telah ditutupi oleh kegelapan akibat racun batin. Karena itu, kita harus melenyapkan kegelapan batin, baru dapat membangkitkan hakikat sejati.
Jadi, tiga kebijaksanaan dan tiga penembusan adalah tujuan yang hendak kita capai. Harapan kita tak lain adalah hakikat sejati kita yang murni tanpa noda dapat muncul. Jika bisa mencapai tiga kebijaksanaan dan tiga penembusan, dengan sendirinya tiga penderitaan akan lenyap. Kita semua pasti masih ingat mengenai derita sengsara, derita kelapukan, dan derita perubahan. Wujud penderitaan di dunia sangat beragam dan tak akan habis dibahas. Wujud penderitaan yang tak terungkap sesungguhnya sangat banyak. Namun, secara umum tak lepas dari tiga jenis tadi. Derita sengsara adalah derita di tengah derita. Dunia Saha adalah dunia yang makhluknya harus menahan derita. Seiring waktu dalam perjalanan hidup, segala yang kita temui baik lingkungan maupun manusia, mungkin menambah penderitaan, belum lagi usia tua dan penyakit. Terutama penyakit, tanpa disadari dapat menimbulkan kerusakan pada tubuh kita. Selain segala sesuatu yang dapat kita lihat, sesungguhnya proses di dalam tubuh kita juga tidak pernah berhenti. Metabolisme terus berlangsung. Di dalam tubuh kita juga terdapat banyak bakteri. Berbagai jenis bakteri juga bisa saling menyerang, begitu pula berbagai jenis sel yang ada sehingga membuat tubuh kita tidak selaras. Inilah kondisi saat kita menderita penyakit. Belakangan ini isu polusi udara atau pemanasan global sedang hangat. Akibat pencemaran udara, terjadilah pemanasan global yang menyebabkan ketidakselarasan iklim. Lebih jauh lagi, ini membuat kondisi alam terus berubah dan semakin rusak. Kita sendiri pun demikian. Tubuh setiap orang juga memiliki banyak kotoran, mulai dari napas, makanan yang dimakan, dan masih banyak lagi.
Semua itu dapat menjembatani masuknya virus dan bakteri ke dalam tubuh kita yang akhirnya membuat kita jatuh sakit. Sakit tidak hanya dialami orang tua. Orang muda juga bisa sakit. Jadi, kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Pikiran kita harus memahami perubahan kondisi dengan sungguh-sungguh. Dari segi waktu, waktu terus berlalu tanpa peringatan dan tanpa kita sadari. Segala kondisi di alam semesta juga terus berubah dan mengalami pelapukan. Semua ini adalah proses perubahan. Ini yang disebut derita perubahan. Tiga penderitaan ini mencakup seluruh penderitaan semua makhluk di dunia. Jika kita dapat sungguh-sungguh memahami ini dengan saksama dan sepenuh hati, maka meski waktu terus berlalu dan meski kehidupan kita terus menua, jiwa kebijaksanaan kita akan terus bertumbuh. Dengan demikian, tiga kebijaksanaan dan tiga penembusan pun tercapai. Dengan mencapai semua ini, tiga penderitaan pun lenyap. Dua hal ini saling berhubungan. Setiap orang memiliki keinginan. Mengapa kita punya banyak noda batin? Karena setiap orang memiliki keinginan. Keinginan setiap orang berbeda-beda. Keinginan setiap orang berbeda-beda. Namun, yang kita bahas di sini adalah tiga ikrar. Tiga ikrar ini adalah ikrar Bodhisattva. Seperti dalam Sutra Bhaisajyaguru, terdapat dua belas ikrar agung. Di antaranya, ikrar ketiga sangat penting bagi semua makhluk. “Semoga kelak, saat aku mencapai kebuddhaan…” Apakah kalian ingat? Bhaisajyaguru memiliki 12 ikrar yang semuanya diawali dengan kalimat “Semoga kelak, saat aku mencapai Bodhi…” Dalam Sutra Bhaisajyaguru, ikrar agung ketiga berbunyi, “Dengan kebijaksanaan dan metode terampil tanpa batas…” Bodhi berarti kesadaran. Hakikat dari kesadaran adalah kebijaksanaan. Kebijaksanaan dikembangkan di tengah masyarakat. Berhubung semua makhluk memiliki noda batin yang tak terhitung, maka untuk terjun ke tengah semua makhluk demi menyelamatkan mereka, dibutuhkan kebijaksanaan dan metode terampil yang tanpa batas. Metode terampil adalah kebijaksanaan yang dikembangkan di tengah masyarakat.
Metode ini harus disesuaikan dengan daya tangkap semua makhluk, Baik dari segi waktu, ruang, dan budaya manusia. Kita harus mengakomodasi semua aspek ini dengan kebijaksanaan tanpa batas. Inilah yang disebut metode terampil. Saya selalu merasa bersyukur karena Tzu Chi dapat berdiri di zaman sekarang ini dan dapat menyebar ke seluruh dunia, ke berbagai negara dengan beragam budaya, suku bangsa, dan agama. Bodhisattva dunia mampu menggunakan berbagai metode terampil untuk menyesuaikan diri dengan berbagai budaya dan menyesuaikan ajaran dengan daya tangkap setiap orang. Ini juga disebut metode terampil. Namun, tujuan terpenting dari semua itu adalah membantu semua makhluk. Inilah yang disebut ikrar. Berhubung semua makhluk menderita, maka kita berusaha membantu mereka. Kita membantu kehidupan mereka, dan lebih jauh lagi membantu batin mereka. Kita membuka hati mereka. Saat mereka memiliki kemelekatan terhadap batasan agama, cara hidup, ataupun budaya, kita membuka pintu hati mereka sehingga hati mereka lebih damai dan lapang.
Untuk itu, dibutuhkan kebijaksanaan. Berikutnya dikatakan, “Aku dapat memberi manfaat tak terbatas bagi semua makhluk.” Ini sama dengan yang baru saja kita bahas. Dengan metode terampil, selain memberi manfaat berupa materi berwujud, kita juga berharap semua makhluk memperoleh pembebasan batin. Ini disebut manfaat tak terbatas. Lihatlah semangat celengan bambu kita yang telah menyebar ke seluruh dunia. Dengan semangat ini, selain menolong warga kurang mampu, kita juga membimbing mereka untuk bisa turut membantu sesama. Ini juga yang kita jalankan di Argentina. Saat para relawan membantu di sana, mereka memberi tahu para warga bahwa sumber dana bantuan yang diterima warga berasal dari tetes demi tetes cinta kasih yang dihimpun lewat semangat celengan bambu yang dihimpun lewat semangat celengan bambu bagai tetesan air yang memenuhi lautan sehingga menciptakan pahala yang tak terhingga. Mereka juga berbagi bahwa bisa membantu orang lain adalah sebuah berkah. Mereka membagikan celengan kepada warga. Mereka membagikan celengan kepada warga. Para relawan sangat perhatian. Anggota komite kita menyiapkan koin. Para relawan mengajak warga bersama-sama memasukkan koin ke dalam celengan. Semua orang sangat gembira dapat turut memasukkan koin ke dalam celengan. Mulanya, para relawan merasa sebagian orang masih tidak rela. Karena itu, relawan menyiapkan koin agar warga tetap bisa ikut memasukkannya ke dalam celengan dan turut merasakan kebahagiaan.
Namun, karena semua orang sangat gembira, maka tak ada yang mengambil koin yang disiapkan. Semua orang mengambil koin dari kantong masing-masing. Mereka sangat tulus berharap cinta kasih mereka dapat membantu sesama. Mereka dipenuhi sukacita dan dapat membantu orang lain. Demikian pula di daerah bencana di Filipina. Tzu Chi membagikan barang bantuan dan mengadakan baksos kesehatan. Di saat yang sama, para relawan juga berbagi semangat celengan bambu. Para warga baik korban bencana maupun bukan, semua sangat antusias berpartisipasi baik dengan sepuluh sen maupun satu dolar. Dari sini kita dapat melihat bahwa meski mereka tak berdaya dan menderita karena menjadi korban bencana, tetapi saat turut bersumbangsih, mereka juga bisa tersenyum dengan gembira. Meski sumbangsih mereka sedikit, tetapi mereka semua bersumbangsih dengan sukacita. Intinya, menerima bantuan bukanlah yang paling menggembirakan. Yang paling menggembirakan adalah saat mampu membuka hati dan membangkitkan cinta kasih. Saat cinta kasih bangkit, manusia akan dipenuhi sukacita. Saat bersumbangsih, mereka merasakan adanya pencapaian. Jadi, memberi manfaat tak terbatas bagi semua makhluk adalah ikrar Bodhisattva. Berikutnya dikatakan, “Tidak membiarkan seorang pun kekurangan.” Bodhisattva berharap semua makhluk tercukupi dan tidak kekurangan. Inilah ikrar Bodhisattva. Bodhisattva berharap semua makhluk dipenuhi kelimpahan, bahagia, dan tenteram. Inilah hati penuh cinta kasih dan welas asih. Inilah ikrar penuh cinta kasih dan welas asih. Ikrar Bodhisattva sesungguhnya amat banyak. Selain yang kita bahas tadi, setiap hari kita juga melantunkan Empat Ikrar Agung. Setiap praktisi Jalan Bodhisattva harus membangkitkan Empat Ikrar Agung. Ini adalah yang paling mendasar dalam pelatihan. Kita yang meninggalkan keduniawian juga harus memiliki ikrar. Jika kita melatih diri tanpa ikrar, itu sama dengan tidak memiliki harapan. Jadi, kita semua juga harus memiliki ikrar. Setiap hari kita mengulang Empat Ikrar Agung. Ini sama dengan mengembangkan keberanian. Tanpa kegigihan dan keberanian, Empat Ikrar Agung hanya akan menjadi ucapan di mulut saja dan tidak dapat direalisasikan. Jika begitu, maka meski mengaku mempelajari ajaran Buddha, kita tak dapat mendekat pada kebuddhaan.
Setelah bertekad mempelajari ajaran Buddha, Setelah bertekad mempelajari ajaran Buddha, kita harus meneladani perilaku Buddha. Inilah yang disebut kemajuan. Jika hanya bisa berucap tanpa bertindak; hanya bertekad tanpa praktik nyata, maka kita hanya akan terus berjalan di tempat, tidak dapat memperoleh kemajuan, dan tidak akan mendekat pada tataran Buddha dan Bodhisattva. Jadi, kita harus bertekad, lalu juga harus mengembangkan keberanian untuk bertekad mencapai kebuddhaan dan bukan hanya berlatih demi diri sendiri. Kita harus mencapai pencerahan seperti Buddha dan membimbing semua makhluk. Bukankah saya sering berkata bahwa terdapat sebuah kitab dalam diri setiap orang? Jika kita tidak terjun ke tengah masyarakat, bagaimana kita bisa memahami dan menyelami Dharma dan pencerahan yang tertinggi? Dharma tertinggi diperoleh di tengah masyarakat. “Berbagai pintu Dharma tanpa batas terpapar di hadapan.” Ini terwujud karena kita berusaha membimbing semua makhluk dengan tekad mencapai kebuddhaan. Dengan demikian, pintu Dharma yang tak terbatas sungguh-sungguh terpapar di hadapan kita. Ini adalah pahala yang terunggul. Kita harus tahu bahwa membimbing semua makhluk merupakan pahala yang terunggul. Kita harus memiliki keberanian. Kita harus berusaha untuk sungguh-sungguh mewujudkan ikrar mencapai kebuddhaan.
Empat Ikrar Agung yang biasa kita lantunkan berbunyi, “Berikrar menyelamatkan semua makhluk yang tak terbatas; berikrar memutus noda batin yang tiada akhir; berikrar mempelajari pintu Dharma yang tak terhingga; berikrar mencapai kebuddhaan yang tiada banding.” Inilah ikrar yang kita harus bangun. Ikrar pertama saja, yakni menyelamatkan semua makhluk atau membimbing semua makhluk mengharuskan kita untuk terjun ke masyarakat. mengharuskan kita untuk terjun ke masyarakat. Contohnya, di mana terjadi bencana alam, kita segera pergi ke sana untuk membantu. Saat ada berita gempa bumi di Indonesia, relawan Tzu Chi Indonesia segera melapor ke Taiwan. Mereka berkata bahwa lokasi bencana berjarak sekitar 5 jam perjalanan dari Jakarta. Berhubung telah mendapat informasi, maka mereka berencana untuk segera meninjau. Saya pun berkata kepada mereka agar tetap melapor tentang kondisi setempat lewat telepon. Tentu, jika kondisinya sangat parah, kita harus membantu. Jika tidak terlalu parah, kita akan menentukan tindakan selanjutnya. Intinya, kita terlebih dahulu mencari tahu, baru bertindak. kita terlebih dahulu mencari tahu, baru bertindak. kita terlebih dahulu mencari tahu, baru bertindak. Mereka pun segera menelepon untuk melapor bahwa mereka akan segera berangkat. Bayangkan, saat di sana terjadi bencana, Bodhisattva dunia tidak tega melihat semua makhluk menderita. Karena itu, mereka segera berangkat. Jika tidak terjun ke daerah bencana, bagaimana kita bisa tahu bahwa warga menderita? Jika tidak terjun ke lokasi bencana, dari mana kita tahu bantuan apa yang warga butuhkan? Jadi, ini adalah salah satu pintu Dharma untuk menyelamatkan semua makhluk. untuk menyelamatkan semua makhluk. Semua makhluk diliputi penderitaan. Daerah yang penuh penderitaan membutuhkan Bodhisattva yang dapat mengembangkan cinta kasih tanpa batas. Ikrar dimiliki oleh setiap praktisi pembina diri. Saya pun setiap hari memiliki ikrar. Pada Pemberkahan Akhir Tahun setiap tahunnya, saya juga memiliki harapan. Saya sering berkata bahwa ikrar pertama saya adalah hati manusia tersucikan. Jika hati manusia tersucikan, barulah masyarakat bisa harmonis.
Jadi, ikrar pertama saya adalah semoga hati manusia tersucikan. Ikrar kedua adalah masyarakat harmonis. Tanpa hati yang suci, maka tiada keharmonisan. Dengan adanya keharmonisan masyarakat, barulah setiap keluarga bisa bahagia. Jadi, masyarakat harus harmonis. Ikrar ketiga adalah dunia bebas dari bencana. Kita hendaknya tak hanya peduli masyarakat dan lingkungan sekitar kita. Yang saya kasihi adalah semua orang di seluruh dunia. Yang saya harapkan adalah keharmonisan seluruh masyarakat di dunia. Karena itu, saya berharap dunia bebas dari bencana, barulah semua masyarakat bisa harmonis dan semua orang hidup tenteram. Jadi, berharap semua orang tenteram dan bahagia tidak lepas dari tiga ikrar ini, dimulai dari lingkup kecil di sekeliling kita, lalu meluas hingga seluruh dunia. Saya juga berharap setiap orang membangkitkan Bodhicitta. Setiap hari saya berbagi dengan kalian bahwa saya tidak mengharapkan apa-apa, hanya berharap membangkitkan Bodhicitta atau tekad mencapai pencerahan dalam diri setiap orang. Jika kita tidak berusaha dan hanya melewati hari-hari dengan sia-sia, maka di tengah perubahan dunia yang terus-menerus, kita tidak akan pernah sadar. Kita harus selalu membangkitkan hakikat kesadaran kita dan mengembangkan Bodhicitta. Saya juga berharap hati semua orang di dunia bukan hanya tersucikan, melainkan antarsesama manusia juga dapat harmonis dan saling menghormati bagai satu keluarga. dan saling menghormati bagai satu keluarga.
Karena itu, saya sering mengatakan bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga. Setiap orang adalah anggota keluarga kita. Dengan memiliki pemikiran seperti ini, kita tidak akan melukai orang lain. Jadi, kita harus maju selangkah. Bukan hanya mengasihi, kita juga harus iba melihat penderitaan dan berkeinginan untuk menolong. Tadi kita sudah membahas contoh gempa bumi di Indonesia. Orang yang berada di tempat aman segera meninjau daerah bencana. Ini didasari oleh rasa iba. Karena iba, mereka berniat menolong semua makhluk yang menderita. Setiap orang harus mempelajari hal ini. Lihatlah, rasa iba harus dikembangkan mulai dari cinta kasih. Kita kembali menggaungkan semangat celengan bambu. Dahulu, semangat ini dimulai di Hualien, tetapi kini telah menyebar ke berbagai negara. Dahulu kita “mendidik yang kaya untuk membantu yang kurang mampu”, tetapi kini kita juga membimbing yang kurang mampu untuk turut menciptakan berkah dan menjadi kaya serta berbahagia. Inilah ajaran Buddha humanistik. Ia tidak lepas dari masyarakat. Jadi, kita harus senantiasa berikrar. Selain itu, ikrar kita pun harus ikrar yang baik dan bukan ikrar yang menjauh dari masyarakat. Jadi, semua harus selalu bersungguh hati.