Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-283-Membangun Empat Keyakinan Bagian 5

Saudara se-Dharma sekalian, kita telah membahas keyakinan pada akar. Apa sesungguhnya yang dimaksud akar? Di dalam hati setiap orang terdapat hakikat kebuddhaan. Hakikat kebuddhaan paling murni, sangat cemerlang tanpa noda. Dengan kemurnian tanpa noda ini, maka kejahatan dan keburukan tidak akan ada. Yang ada hanyalah kebajikan. Himpunan kebajikan disebut pahala. Inilah keyakinan pada Buddha dan keyakinan pada akar. Jika yakin pada Buddha, kita harus berusaha dekat dengan hati Buddha. Berikutnya adalah keyakinan pada Dharma. Ajaran yang dibabarkan Buddha juga harus kita yakini. Selama lebih dari dua ribu tahun ini, zaman terus berubah dan terus mengalami kemajuan. Teknologi pun semakin berkembang. Namun, nilai moralitas manusia terus merosot. Jadi, kini kita harus sangat aktif menyebarkan ajaran Buddha. Buddha adalah Yang Mahasadar Di Alam Semesta. Yang Mahasadar ini telah membabarkan kebenaran dari segala sesuatu. Jadi, kita harus senantiasa mengingat ajaran Buddha senantiasa mengingat ajaran Buddha dan menerapkannya di dalam kehidupan. Jika kita tidak dapat menyatu dengan hati Buddha dan menerapkan ajaran-Nya di tengah masyarakat, maka meski kita hidup mengikuti perubahan zaman, kemajuan teknologi juga tidak ada gunanya. Sebagai praktisi, kita tidak semata-mata mengejar kemajuan teknologi, melainkan batin kita haruslah berpegang pada hakikat kebuddhaan yang murni. Untuk semakin dekat dengan hati Buddha, kita terlebih harus menggunakan ajaran Buddha di dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, memegang teguh Dharma, haruslah tidak tergoyahkan dalam masa tak terhingga. Seberapa pun lamanya, tekad kita harus tetap luas dan luhur. Sejak zaman dahulu saat Buddha membabarkan Dharma hingga saat ini, inti sari Dharma harus kita yakini. Kita juga harus berusaha mendekat pada kualitas Buddha. Hidup di dalam ajaran Buddha, kita harus berpegang pada sila dan ajaran. Sila adalah sesuatu yang harus kita taati sebagai anggota Sangha. Terlebih lagi, ladang pelatihan memiliki aturan hidup suci. Kita harus menjalankan hidup suci dan menerima ajaran. Jika kita tidak memegang teguh aturan hidup suci, bagaimana kita dapat menerima ajaran? Jadi, Sangha memiliki aturan Sangha. Aturan Sangha berlaku di dalam vihara. Jadi, semua harus menaatinya. Kita juga harus menjalankan ajaran guru. Dengan demikian, inilah yang disebut keyakinan pada Sangha. Kita harus selalu berlatih di dalam kebenaran. Dengan begitu, barulah kita dapat memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, barulah kita dapat senantiasa bersukacita. Dengan berada dekat dengan mereka yang penuh kualitas dan kebajikan, belajar bersama mereka, menyebarkan kebenaran, dan menjalankan ajaran, maka pelatihan kita pun akan semakin maju. Jika sebaliknya, di zaman sekarang ini, meski zaman dikatakan sudah maju, moralitas akan merosot. Ini sangat berbahaya. Karena itu, kita harus menjaga moralitas. Untuk itu, diperlukan empat keyakinan, yaitu keyakinan pada akar, Buddha, Dharma, dan Sangha. Dengan demikian, dengan sendirinya kita akan dapat memadamkan empat alam rendah. Kalian semua tahu apa itu empat alam rendah. Yang sering kita bahas adalah enam alam. Enam alam adalah enam jalur kelahiran. Dari enam alam ini, di sini disebutkan tentang empat alam rendah. Mengapa? Enam alam mencakup alam surga dan manusia. Tentu para dewa di surga menikmati berkah. Ini termasuk alam baik. Di alam manusia, suka duka silih berganti. Untuk dapat terlahir di alam surga, kita harus mempraktikkan sepuluh kebajikan.

Jika bisa banyak berbuat kebajikan, banyak bersumbangsih, atau banyak berdana, kita dapat terlahir di alam surga dan menikmati berkah. Namun, alam surga juga tidak kekal. Alam surga juga memiliki batas. Meski makhluk di sana berusia panjang dan mengalami banyak kebahagiaan, tetapi ini juga masih terbatas dan suatu saat pasti berakhir. Jika berkah itu habis, makhluk alam surga juga akan jatuh ke alam lain, seperti alam manusia. Jika karma baik lebih banyak dan karma buruk lebih sedikit, maka kekuatan baik akan lebih kuat dan kita akan terlahir di alam surga. Namun, berkah ini bisa habis dinikmati karena di alam surga tiada kesempatan untuk menciptakan berkah. Di alam surga, semua makhluk hidup berkelimpahan. Semua makhluk di sana hanya menikmati kebahagiaan. Lihatlah di alam manusia. Di alam manusia juga ada orang bagai hidup di surga. Lihatlah, banyak orang hidup dalam kelimpahan. Namun, sulit bagi orang berada untuk mempelajari kebenaran. Kesempatan untuk mereka mempelajari kebenaran sangat langka. Banyak dari mereka yang berlomba siapa yang lebih banyak uang, siapa yang rumahnya lebih mewah, siapa yang pakaian dan makanannya lebih mewah, dll. Mereka saling membandingkan harta kekayaan dan gemar berfoya-foya. Mereka tidak menyadari penderitaan di dunia. Mereka sungguh tengah menikmati berkah, juga tengah menghabiskan berkah. Saya juga melihat laporan berita. Ada sejenis masakan yang disajikan dengan bungkusan emas. Kabarnya, kandungan emas yang pas membuat masakan itu lezat dan baik bagi kesehatan.

Makanan ini pun mulai diiklankan. Satu porsi makanan itu berharga dua ratus ribu dolar. Banyak orang memesan tempat untuk mencicipinya. Bayangkan, dua ratus ribu dolar NT dapat menolong berapa banyak orang? dapat menolong berapa banyak orang? Namun, nyatanya hanya uang itu hanya digunakan untuk sekali makan demi kenikmatan beberapa orang. Mereka hidup berfoya-foya, bahkan dapat membeli pakaian dengan harga puluhan ribu dolar. Gaya hidup mereka yang saling beradu kekayaan ini sungguh menghabiskan berkah. Karena itu, dalam Dua Puluh Kesulitan dalam Kehidupan, Buddha berkata bahwa sulit bagi orang kaya untuk mempelajari jalan kebenaran. Mengandalkan berkah masa lampau, mereka hidup di alam surga. Jika berkah habis dinikmati, mereka tetap akan jatuh ke alam lain. Jadi, alam surga bukanlah tujuan akhir. Bagaimana dengan alam manusia? Alam manusia juga termasuk alam baik karena suka dan duka masih silih berganti. Alam manusia lebih baik daripada alam dewa karena di alam manusia ada kesempatan melatih diri. Di sini ada penderitaan, ada kebahagiaan, ada kejahatan, ada kebajikan. Meski di alam manusia banyak orang yang hidup menderita, tetapi ada juga orang yang kehidupannya sangat baik. Ada orang yang melakukan segala kejahatan, ada pula orang yang gemar berbuat kebajikan. Jadi, di alam manusia kebajikan, kejahatan, suka, dan duka saling bercampur. Ada kebajikan, ada kejahatan, ada penderitaan, ada kebahagiaan dan kekayaan. Kondisi seperti ini, menurut Buddha adalah kondisi yang baik untuk memahami ajaran. Jika terlahir di alam surga, lalu tersesat, maka sulit untuk tersadar kembali. Di neraka pun penderitaan ekstrem, tentu tiada kesempatan melatih diri. Jadi, di alam manusia ada kebajikan dan kejahatan. Yang bajik bisa membimbing yang jahat. Di alam manusia juga ada penderitaan dan kebahagiaan. Orang yang mampu dapat menolong yang menderita. Ini adalah cara untuk mendidik. Karena itu, Buddha memilih alam manusia untuk misi-Nya membimbing semua makhluk.

Jadi, Buddha mengajar di alam manusia, kita pun menerima ajaran di alam manusia. Kita bertekad melatih diri juga di alam manusia. Kita sering berkata, “Menyadari berkah setelah melihat penderitaan.” Banyak orang yang tidak menyadari berkah. Hidup penuh berkah, mereka tidak menyadarinya. Ini sama seperti makhluk di alam surga. Mereka menikmati berkah di alam surga, tetapi tidak sadar bahwa mereka penuh berkah. Mereka hanya terus beradu harta kekayaan. Tanpa sadar, mereka juga menderita. Namun, di alam manusia, kita dapat melihat, apakah kita benar-benar menderita? Apakah kita semenderita itu? Kita hendaknya melihat-lihat orang lain yang lebih menderita. Mereka benar-benar menderita. Dengan melihat orang yang menderita, kita akan bisa membandingkan bahwa ternyata kita jauh lebih beruntung dan tidak perlu berkeluh kesah. Selain tidak mengeluh, kita dapat menciptakan berkah. Berhubung kita penuh berkah, maka kita harus menghargai berkah ini. Kita harus segera menciptakan berkah kembali. Kalian seharusnya masih ingat kisah Buddha yang mengajak Nanda berkunjung ke neraka dan melihat penderitaan ekstrem untuk membimbingnya. Saat melihat neraka, Nanda sangat terkejut. Karena itu, dia kembali meneguhkan tekadnya. Awalnya, batinnya masih melekat pada kenikmatan istana dan kecantikan istrinya. Dia masih belum bisa melepaskan semuanya, baik harta kekayaan maupun perasaan terhadap istrinya. Namun, dia pernah bertekad meninggalkan keduniawian. Setelah meninggalkan keduniawian, batinnya kembali bergejolak. Jadi, Buddha membawanya untuk melihat-lihat kondisi neraka. untuk melihat-lihat kondisi neraka sambil berpesan bahwa jika Nanda tidak berlatih dengan sungguh-sungguh, dia tidak akan bisa mencapai pembebasan. Buddha hanya menunjukkan jalan, tetapi pelatihan bergantung pada masing-masing murid.

Jika Nanda tidak berlatih, maka dia akan terjatuh ke neraka. Nanda tidak begitu percaya pada nasihat ini. Buddha kemudian membawanya melihat-lihat secara langsung. Dengan kekuatan-Nya, Buddha membawa Nanda ke neraka untuk melihat-lihat. Saat dibawa ke sana, Nanda melihat makhluk neraka. Di sana ada sebuah tungku. Di atas tungku itu terdapat sebuah kuali. Kuali ini terisi minyak hingga penuh. Nanda hanya berdiri dan terus melihat. Di alam manusia, dia belum pernah melihat kuali sebesar itu dengan minyak sebanyak itu. Dia bertanya kepada penjaga di sana sampai kapan kuali itu akan dipanaskan. sampai kapan kuali itu akan dipanaskan. sampai kapan kuali itu akan dipanaskan. Setan penjaga di sana menjawab, “Kami sedang mempersiapkan minyak ini.” Setelah api dinyalakan, minyak itu pun mulai panas dan mendidih. Lalu, Nanda kembali bertanya, “Untuk apa minyak mendidih ini?” “Kami sedang menunggu manusia yang berbuat jahat,” jawabnya. “Manusia yang berbuat jahat?” “Siapa yang berbuat jahat?” Setan ini menjawab, “Kini Buddha sedang mengajar di dunia.” “Jika di antara siswa-Nya, ada yang tidak menaati sila, ajaran, dan Dharma, berarti orang itu telah bersalah dan akan jatuh ke neraka.” “Kuali ini diperuntukkan bagi praktisi yang tidak menaati sila.” “Minyak di kuali ini khusus diperuntukkan bagi orang-orang itu.” Nanda bertanya, “Apakah ada?” “Di dalam Sangha, semua orang berlatih dengan baik dan selalu berada di sisi Buddha.” “Keluhuran pahala Buddha begitu besar.” “Semua orang begitu bertekad.” “Apakah ada yang tidak menaati sila?” Setan itu menjawab, “Ada.” “Di sisi Buddha ada siswa bernama Nanda.” “Meski merupakan adik dari Buddha, tetapi dia masih melekat pada kenikmatan.” “Meski dia sudah meninggalkan rumah dan terus berada di sisi Buddha, tetapi hatinya belum teguh.” “Melihat keadaannya, jika nafsu keinginannya itu masih kuat, sangat mungkin dia akan berpaling untuk mengejar kenikmatan duniawi.” “Ini berarti tidak menaati sila.” “Dengan begini, berkahnya akan habis sehingga dia akan jatuh ke kuali ini.” “Kuali ini dipersiapkan untuk Nanda.”

“Jika pikirannya menyimpang, besar kemungkinannya dia akan jatuh ke tempat ini.” Nanda yang mendengar langsung sangat ketakutan. Dia segera bertobat di hadapan Buddha. “Yang Dijunjung, aku tidak berani.” “Batinku masih penuh gejolak.” “Meski Yang Dijunjung begitu luhur, tetapi aku masih ragu.” “Kini aku sudah melihat sendiri.” “Kini aku sudah mantap.” “Aku tidak berani lagi.” “Aku akan sungguh-sungguh berlatih.” Nanda bertobat secara terbuka dan mengutarakan isi hatinya kepada Buddha. Buddha lalu berkata, “Benar, jangan mengandalkan hubungan kita.” “Kita memang berjodoh.” “Kita memang berjodoh.” “Kita sama-sama lahir di istana, dari satu ayah lain ibu.” “Meski hubungan kekerabatan kita dekat, tetapi karma ditentukan masing-masing individu.” “Jangan mengira bahwa dengan hubungan darah, engkau akan tertolong.” “Belum tentu.” “Jangan pula mengira bahwa berhubung Aku sebagai saudaramu telah mencapai kebuddhaan, maka engkau akan mendapat perlindungan.” “Ini juga tidak mungkin.” “Siapa pun yang makan, dialah yang akan kenyang.” “Siapa yang berlatih, dialah yang mendapat manfaatnya.” “Jadi, engkau harus selalu mawas diri.” Nanda telah melihat sendiri kondisi menderita dan menakutkan di neraka. Karena itu, dia tidak berani lagi berbuat salah. Meski dia telah menjadi anggota Sangha, tetapi tabiat buruknya belum hilang. Jadi, banyak Sutra yang menceritakan pelanggaran dari kelompok enam bhiksu. Intinya, meski tabiat buruknya belum hilang, Nanda tidak berani lagi mengejar kenikmatan duniawi. Jadi, tabiat buruk harus terus dikikis. Buddha sendiri tidak dapat langsung menghilangkan tabiat orang lain. Ini harus mengandalkan usaha sendiri. Intinya, Buddha lahir di alam manusia karena di alam ini ada penderitaan dan ada kebahagiaan. Meski di masa kini tiada lagi Buddha yang membawa kita melihat-lihat alam neraka, tetapi kini kita juga dapat melihat gambaran neraka di alam manusia, seperti kemiskinan, penyakit, usia tua, dan kesendirian. Betapa banyak orang yang hidup bagai di neraka, salah satunya Neraka Kotoran. Banyak pula orang yang bagai hidup di neraka dengan tangan dan kaki dipotong. Banyak pula orang yang mengalami luka bakar bagai hidup di neraka yang penuh kobaran api. Mereka sungguh menderita. Inilah gambaran neraka di alam manusia. Neraka di alam manusia ini saja sudah begitu penuh penderitaan, apalagi neraka yang sesungguhnya.

Jadi, setelah melihat penderitaan, kita dapat menyadari berkah dan kembali menciptakan berkah. Jadi, empat alam rendah adalah alam-alam selain alam surga dan manusia, termasuk alam asura. Lihatlah, di alam manusia, juga banyak orang yang mudah marah, berkelahi, bertengkar, lalu membunuh. Seperti inilah asura. Di alam manusia juga ada alam setan kelaparan. Kita juga melihat banyak orang menderita sakit hingga tidak bisa makan meski lapar. Orang-orang yang kelaparan ini bagai berada di alam setan kelaparan. Ada juga alam binatang. Alam binatang tentu bisa kita lihat. Ada binatang yang menggemaskan. Namun, bagaimana pun menggemaskannya, binatang tetap hidup dengan tidak berdaya. Banyak binatang yang hidup liar Banyak binatang yang hidup liar di jalan tanpa ada yang peduli. Tubuh dan kulit mereka penuh penyakit. Tubuh dan kulit mereka penuh penyakit. Ada pula yang hidup di jalan tanpa makanan. Di alam binatang pun ada asura. Di alam binatang pun ada asura. Di alam binatang juga ada setan kelaparan. Di alam binatang juga ada alam neraka. Semua ini dapat kita lihat. Dari berbagai makhluk hidup, betapa banyak yang kita lihat hidup menderita. betapa banyak yang kita lihat hidup menderita.

Jadi, dengan melihat kondisi mereka, kita dapat membayangkan kondisi empat alam rendah. Kita dapat membayangkan kondisi neraka. Makhluk di neraka sungguh menderita. Makhluk asura pun pada saatnya juga bisa jatuh ke alam neraka. Begitu pula dengan setan kelaparan. Begitu pula dengan setan kelaparan. Saat menderita, binatang pun dapat merasakan kondisi neraka. Neraka adalah tempat yang penuh penderitaan ekstrem. Neraka adalah tempat yang penuh penderitaan ekstrem. Jadi, alam neraka, binatang, setan kelaparan, dan asura, semuanya disebut empat alam rendah. Semua ini tercipta akibat karma buruk yang bersumber dari kebodohan, ketamakan, dll. Kita tentu tak akan luput dari buah karma. Jika berbuat baik, kita akan menuai berkah. Jika berbuat jahat, kita akan menuai buah karma buruk. Berkah tidak bisa menghilangkan karma buruk. Karena itu, dikatakan bahwa jika berkah habis, makhluk surga pun bisa jatuh ke alam lain, bahkan mungkin ke neraka. Intinya, karma bagai bayangan yang mengikuti wujud. karma bagai bayangan yang mengikuti wujud. Jika kita menyinari jari-jari kita, bayangan yang terbentuk akan menyerupai jari. Intinya, kita harus tahu bahwa empat alam rendah penuh penderitaan tak terkira. Untuk terbebas dari empat alam rendah ini, kita harus membangun empat keyakinan. Kita perlu memiliki keyakinan yang benar. Kita yakin setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan yang murni, yakin pada kualitas pahala Buddha, yakin bahwa ajaran Buddha membawa manfaat bagi kita dan orang lain, serta yakin pada keluhuran Sangha. Intinya, kita harus membangun empat keyakinan, barulah dapat terbebas dari empat alam rendah. Saudara sekalian, dalam aktivitas sehari-hari, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Nanda yang merupakan adik tiri Buddha pun tidak dapat menghindar. Dia tetap harus mengandalkan diri sendiri. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888