Sanubari Teduh-284-Empat Ketidakgentaran Bodhisattva Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, kita harus menggenggam waktu untuk melatih diri. Setiap hari kita terus membahas tentang pikiran. Pembabaran Buddha dalam 12 bagian Tripitaka tak lepas dari pikiran dan kesadaran. Karena itu, sebelumnya membahas tentang membangun empat keyakinan. Alangkah baiknya jika kita dapat membangun empat keyakinan. Keyakinan adalah ibu dari segala pahala di ladang pelatihan. Kita hendaknya memiliki keyakinan yang benar dan dalam. Kita harus memilih keyakinan yang benar. Setelah memilih keyakinan, kita harus yakin terhadap ajaran Buddha. Buddha telah memberi tahu kita bahwa setiap orang pada hakikatnya sama dengan Buddha. Kita memiliki hakikat yang murni dan sama dengan Buddha. Kita harus meyakini ini secara mendalam. Hanya saja, akibat berbagai kontak dengan objek luar, hakikat sejati kita perlahan-lahan tertutupi dan kita mulai menumbuhkan tabiat. Namun, hakikat kebuddhaan ini tetap ada. Jadi, kita harus yakin bahwa setiap orang memiliki hakikat sama dengan Buddha. Berhubung sudah yakin, maka tentu kita harus terus berusaha mendekat pada tingkatan kebuddhaan. Meski kini kita adalah makhluk awam, tetapi asalkan kita giat berlatih, dari tataran makhluk awam ini, kita akan dapat mempraktikkan Jalan Bodhisattva dan semakin dekat dengan kebuddhaan. Kita yakin bahwa pahala Buddha tidak terhingga, tetapi juga juga harus yakin pada ajaran-Nya. Jika kita tidak yakin pada ajaran-Nya, maka kita tak akan dapat berjalan di Jalan Bodhisattva. Jadi, kita harus yakin pada ajaran Buddha. Ada banyak pintu Dharma dalam pelatihan diri.
Namun, untuk mencapai kebuddhaan, kita telah memilih kehidupan monastik dan berusaha membersihkan batin serta menumbuhkan pahala yang sama dengan Buddha. Untuk itu, kita harus membuang cinta individu untuk mendorong pencapaian diri sendiri. Di saat yang sama, kita melepaskan kemelekatan. Tanpa kemelekatan, kita terjun ke masyarakat untuk memberi manfaat bagi orang banyak. Inilah alasan kita memilih untuk meninggalkan keduniawian dalam melatih diri. Dalam prosesnya, kita harus terlebih dahulu meningkakan pemahaman kita bahwa kita harus membuang cinta yang egosentris. Jika kita tidak meninggalkan keduniawian, maka cinta yang penuh ego tak dapat dilepaskan. Karena itu, kita meninggalkan keluarga kecil dan membuang cinta individu dan terjun ke dalam cinta kasih universal yang berkesadaran. Jadi, di dalam Sangha, kita terlebih dahulu harus belajar rukun dengan sesama. Kita harus menyatukan hati kita dengan hati semua orang. Kita harus mampu berlapang dada terhadap tabiat semua orang. Latar belakang keluarga semua orang berbeda-beda. Budaya pun berbeda-beda. Kita harus bersikap penuh pengertian. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita hendaknya dapat berpuas diri dalam kesederhanaan. Dengan demikian, tidaklah sulit untuk terjun ke masyarakat untuk bersumbangsih. Empat alam rendah sangat menakutkan. Kita harus percaya ini. Memang ada, ada alam setan kelaparan, ada alam asura, ada alam binatang, ada alam neraka. Akan tetapi, semua ini seakan jauh dari kita dan tak dapat kita lihat. Namun, kita juga percaya bahwa di alam manusia juga ada wujud asura, setan kelaparan, binatang, dan makhluk neraka, yaitu orang-orang yang sangat menderita. Jadi, Buddha berkata bahwa Dunia Saha ini begitu penuh penderitaan. Suka duka silih berganti di dunia ini.
Dengan begitu, kita berkesempatan untuk menyadari berkah setelah melihat penderitaan. Kita pun berkesempatan untuk terjun ke masyarakat dan menghimpun kekuatan bersama dan menghimpun kekuatan bersama untuk menolong mereka yang menderita. Inilah Jalan Bodhisattva di dunia. Dunia ini adalah tempat terbaik untuk berlatih. Asalkan kita yakin, dengan sendirinya pahala dan akar kebajikan akan bertumbuh. Akar kebajikan kita akan tumbuh dalam jangka panjang. Inilah keyakinan. Keyakinan ini sangat luas dan dalam. Jika kita memiliki keyakinan yang bijaksana, memiliki keyakinan terhadap Tiga Permata, dan yakin bahwa setiap orang memiliki hakikat yang sama dengan Buddha, maka kita akan dapat terbebas dari kebodohan dan ketamakan. Kelahiran di empat alam rendah berawal dari kebodohan dan ketamakan yang menciptakan banyak karma buruk. Jadi, kita harus membangun empat keyakinan, barulah dapat memadamkan empat alam rendah. Dengan demikian, barulah kita dapat memperoleh empat ketidakgentaran. Empat ketidakgentaran sangat penting bagi praktisi pembina diri yang telah bertekad dan berikrar. Kita semua harus sungguh-sungguh menerima empat Dharma ini. Kita semua harus bersungguh hati, Empat ketidakgentaran harus dimiliki Bodhisattva dalam membimbing semua makhluk. Tidak gentar berarti tidak takut. Bagaimana agar kita tidak takut saat terjun ke tengah masyarakat untuk menginspirasi dan menolong semua orang? untuk menginspirasi dan menolong semua orang? Bagaimana agar kita tetap damai saat berada di tengah masyarakat?
Ada orang berkata, “Awalnya ingin membimbing semua makhluk, tetapi malah terpengaruh oleh semua makhluk.”: Ini akibat keyakinan kita tidak cukup kuat. Akibatnya, kita tidak cukup berani dan teguh. Jika keyakinan cukup, kita pasti akan teguh. Setelah dengan teguh menyelami Dharma, kita akan dapat menyerap banyak ajaran Buddha. Dunia ini penuh dengan berbagai hal. Kita sudah mengetahuinya dan sudah merasakannya. Karena itu, keyakinan kita harus dalam dan teguh. Kita harus yakin terhadap diri sendiri, barulah tidak gentar menghadapi masyarakat. Misalnya, pertama, kita harus menjunjung dan mengingat segala Dharma. Untuk membimbing semua makhluk, kita harus menggunakan banyak cara. Bayangkan, Buddha membabarkan Dharma 49 tahun. Dari 49 tahun ini, 42 tahun pertama sebelum periode Sutra Teratai, Buddha membabarkan metode terampil. Untuk apa Buddha menggunakan metode terampil? Mengapa tidak langsung mengatakan bahwa semua makhluk bisa menjadi Buddha? Buddha melihat kemampuan dan daya tangkap semua makhluk belum mampu menerimanya. Karena itu, dengan kesabaran dan cinta kasih, Buddha tetap tidak meninggalkan semua makhluk dan memberi ajaran sesuai kondisi. Beliau menggunakan berbagai metode sesuai daya tangkap semua makhluk untuk membimbing mereka. Setelah mereka semua membangun keyakinan, barulah Buddha membabarkan kebenaran tertinggi. Jadi, Buddha telah menghabiskan 42 tahun sebelum benar-benar meninggalkan metode terampil dan membabarkan kebenaran tertinggi, yaitu Sutra Bunga Teratai. Sutra Bunga Teratai mengajarkan agar kita berjalan di Jalan Bodhisattva. Dapat kita lihat bahwa selama 40-an tahun, dengan kebijaksanaan dan kekuatan Buddha, untuk membimbing semua makhluk juga tidak semudah itu, apalagi kita yang masih makhluk awam. Kita masih berada dalam tataran awam.
Namun, tak apa meski kita masih jauh dari kebuddhaan. Buddha adalah Yang Mahasadar Di Alam Semesta, sedangkan kita makhluk awam yang baru bertekad. Namun, pelatihan diri memang diawali dari tekad. Buddha telah membuka jalan bagi kita. Selama 40-an tahun membabarkan Dharma, Buddha telah memberikan satu per satu metode terampil. Jadi, kita dapat mempersingkat waktu. Kita sudah mengetahui Dharma. Setelah mengetahui, kita harus bertekad dan berikrar. Selain bertekad dan berikrar, kita juga harus melakukan praktik nyata. Jadi, semuanya harus dijalankan bersamaan. Jadi, setelah mengetahui Dharma, kita harus membabarkan Dharma. Kita harus terjun ke masyarakat untuk membimbing semua makhluk. Pertama, kita harus menjunjung penuh Dharma. Dahulu kita pernah membahas tentang menjunjung semua Dharma dan memegang segala kebajikan. Inilah yang disebut menjunjung penuh. Kita harus tahu segala kebenaran di dunia. Setiap hari kita juga harus berbuat kebajikan. Inilah yang disebut menjunjung semua Dharma. Di dunia ini banyak Dharma yang tak terhingga. Kita harus berusaha memahami semuanya. Kita harus berusaha memahami semuanya. Contohnya, Tzu Chi memiliki empat misi. Salah satunya adalah misi amal. Kita harus memahami kondisi seluruh dunia, setiap negara dan rakyatnya, apakah miskin, makmur, baik, atau buruk. Kita harus berusaha memahami semuanya. Seperti perang antara Amerika Serikat dan Irak, sebelum perang dimulai, kita terus berusaha mencari berbagai informasi jika perang benar-benar terjadi dan terjadi gelombang pengungsi, dan terjadi gelombang pengungsi, bagaimana kita harus membantu para pengungsi itu.
Kita segera mempersiapkan barang-barang kebutuhan. Kita segera mempersiapkan puluhan ribu helai selimut. Pada saat-saat itu, sejak awal tahun kita terus mempersiapkan berbagai barang kebutuhan dan makanan sesuai kebiasaaan dan makanan sesuai kebiasaaan serta selera mereka. Makanan itu juga bergizi. Kita segera melakukan penelitian dan memproduksi makanan dengan berbagai rasa sesuai selera orang Timur Tengah. Kita bahkan meminta orang yang lebih paham untuk mencicipi apakah rasa makanan itu bisa diterima warga setempat. Jadi, pada masa-masa itu, kita segera mempersiapkan makanan bergizi yang juga sesuai dengan selera mereka. Dengan kata lain, dalam menjalankan misi amal, kita harus sangat memperhatikan kondisi dunia. Kita harus tahu sesungguhnya apa yang tengah terjadi di dunia ini, apa yang tengah terjadi antarnegara, negara mana yang akan menyerang negara mana, berapa banyak rakyat tak berdosa yang menjadi korban, dan bagaimana kita harus membantu mereka. Kita masih ingat gempa yang mengguncang Iran pada tahun 2003. Kita juga menyalurkan bantuan ke sana.
Dalam penyaluran bantuan pertama, Dalam penyaluran bantuan pertama, kita memberikan obat-obatan dan makanan. Inilah yang kita berikan di saat-saat darurat. Dalam waktu 37 jam, kita mempersiapkan semuanya. Setelah tim dan barang bantuan siap, kita segera berangkat ke Iran. Dari Taiwan ke Iran, semua proses tidak lebih dari 30 jam. Ini adalah proses penyaluran bantuan yang cepat. Tim medis kita juga sudah terbiasa melakukan persiapan dengan cepat. Di mana dibutuhkan, kita segera bergerak ke sana. Inilah bantuan bencana internasional kita. Kita harus terlebih dahulu memahami kondisi sebelum sesuatu terjadi. Jadi, kita harus mengetahui kondisi dunia. Kita harus menjunjung segala Dharma dan mengetahui segala kondisi di dunia. Kita juga harus mempertahankan kebajikan. Kebajikan ini adalah demi semua makhluk. Kebajikan ini adalah demi semua makhluk. Kita harus bersumbangsih. Jadi, kita harus selalu menjunjung dan ingat terhadap segala Dharma. Selain memahami segala hal di dunia, kita juga tidak boleh lupa melakukan kebajikan. Kita harus berbuat kebajikan. Meski kondisi di sana sangat menegangkan, misi kebajikan kita tidak boleh berhenti.
Jadi, inilah yang disebut menjunjung semua Dharma dan memegang segala kebajikan. Jika kita dapat mewujudkan ini, berarti kita dapat membabarkan Dharma tanpa gentar. Sama halnya, jika kita mengetahui segala yang terjadi di dunia dan dapat berpegang teguh pada kebajikan, maka secara alami semua ajaran Buddha dan segala kebenaran di dunia ini akan dapat kita pahami. Selain kebajikan dalam misi amal, misi kesehatan juga demikian. Untuk mengobati pasien, dokter harus memiliki keyakinan diri. Untuk itu, dokter harus terlebih dahulu belajar, dimulai dari berkuliah di fakultas kedokteran. Mereka harus sungguh-sungguh memahami ilmu kedokteran. Tahu saja tidak cukup. Setelah lulus, mereka harus magang dan didampingi oleh dokter senior. Mereka harus belajar memahami cara dokter menangani pasien. Kemudian, mereka menjadi dokter residen. Pada masa ini, mereka belajar menangani pasien dan mendiagnosis penyakit dengan didampingi dokter senior. Lima tahun kemudian, mereka mulai memilih spesialisasi yang mereka minati dan yakini. Jadi, mereka harus sungguh-sungguh belajar agar saat sudah benar-benar menjadi dokter mereka percaya diri dalam menghadapi pasien, mendiagnosis penyakit, dan menentukan langkah penanganannya. Ini juga termasuk menjunjung segala Dharma.
Demikianlah dalam misi kesehatan, begitu pula dalam misi pendidikan dan misi budaya humanis. Bidang apa pun yang kita geluti, berusahalah untuk terus menggali pengetahuan. Singkat kata, untuk melakukan kebajikan dibutuhkan ketidakgentaran. Untuk memiliki ketidakgentaran, kita harus memiliki kepercayaan diri. Dengan begitu, barulah kita tidak mudah goyah dan tekad kita tetap teguh. Demikianlah, saat memahami satu hal, kita dapat memahami banyak kebenaran. Jadi, kita semua harus berusaha meningkatkan pemahaman. Keyakinan dapat memadamkan keburukan dan dapat membangun empat ketidakgentaran. Jadi, Saudara sekalian, hari ini hendaknya kita terlebih dahulu merenungkan apa yang dimaksud menjunjung segala Dharma, bagaimana cara mempertahankan segala kebajikan, bagaimana membangkitkan keyakinan dan ketidakgentaran, bagaimana kita dapat terjun ke tengah masyarakat tanpa rasa gentar, dan bagaimana kita dapat membabarkan Dharma tanpa rasa gentar pula. Untuk itu, kita semua harus selalu bersungguh hati.