Sanubari Teduh-295-Lima Kekeruhan
Saudara se-Dharma sekalian, sejak dahulu hingga sekarang, di dunia ada satu isu global, yaitu bahwa dunia kita sudah mengalami pemanasan global dan perubahan iklim. Dunia ini dipenuhi dengan bencana. Banyak ahli dan ilmuwan dari berbagai negara sudah mencapai kata sepakat bahwa peningkatan kadar karbon dioksida telah menyebabkan pencemaran udara yang memicu pemanasan global ini. Akibat efek rumah kaca ini, gunung es pun mencair. Permukaan air laut pun meningkat. Para ilmuwan mengeluarkan imbauan keras agar semua orang menyayangi diri sendiri dan meningkatkan kewaspadaan. Inilah pandangan bersama para ilmuwan. Kita juga telah melihat bencana terus terjadi di berbagai negara. Saya masih ingat saat Tzu Chi memberi bantuan ke Afrika. Saat itu, terjadi bencana kekeringan di sana. Saat itu pula, di Etiopia dan Somalia perang baru saja usai. Bencana akibat ulah manusia sudah berhenti, tetapi bencana alam masih terjadi, yaitu kekeringan. Tanaman pangan tidak dapat bertumbuh. Pada awalnya, negara itu sudah miskin, rakyatnya sudah sangat menderita, kini ditambah dengan bencana akibat ulah manusia dan bencana alam. Karena itu, Tzu Chi pergi ke sana. Tempat itu bagaikan sebuah dunia yang jauh dari dunia yang kita kenal, bagaikan bukan alam manusia. Kadang kita merasa bukankah tempat itu bagai neraka di alam manusia? Tempat itu penuh penderitaan. Inilah gambaran pada tahun 1996. Pada tahun itu, saat melihat kondisi itu, kita mengira tempat itu sangat jauh dari kita.
Namun, hingga kini, setiap tahun, jalan yang ditempuh insan Tzu Chi semakin lama semakin luas dan yang kita lihat pun semakin banyak. Dengan kemajuan teknologi informasi masa kini, kita dapat terus memperoleh informasi dari berbagai belahan dunia. Semakin banyak mendengar, kita semakin khawatir dan takut serta semakin bisa merasakan kebijaksanaan dan kesadaran agung Buddha. Buddha berkata bahwa di masa depan akan ada lima kekeruhan. Pada zaman-Nya, Buddha sudah mengatakan tentang lima kekeruhan. Lima kekeruhan ini terdiri atas kekeruhan pandangan, kekeruhan makhluk hidup, kekeruhan usia, kekeruhan noda batin, dan kekeruhan kalpa. Keruh berarti tidak bersih atau tercemar. Bukankah selama ini kita telah melihat begitu banyak pencemaran di dalam kehidupan ini? Sungguh, kekotoran ini, selain yang dapat kita lihat dengan mata, juga mencakup yang tak terlihat secara kasatmata. Yang terlihat adalah seperti yang kita bahas tadi, yaitu kondisi orang-orang di Afrika. Jika Anda membuka mata, Anda akan dapat melihat kehidupan mereka yang tidak jauh berbeda kehidupan mereka yang tidak jauh berbeda dengan satwa liar. Dalam kehidupan mereka, mereka tidur di atas rumput. Meski di sekeliling mereka banyak sampah, tetapi mereka tetap tidur tetapi mereka tetap tidur dan beraktivitas di sana. Di sana tentu tidak ada air. Lalat dan nyamuk mengerubungi mereka. Begitulah kondisi di sana. Dengan mata telanjang saja, kita dapat melihat kondisi di sana yang kotor. kita dapat melihat kondisi di sana yang kotor. kita dapat melihat kondisi di sana yang kotor.
Namun, yang membuat mereka lebih menderita sesungguhnya adalah perubahan iklim yang terjadi saat ini. Di mana sumber dari masalah ini? Mereka yang hidup menderita tidak mampu menciptakan pencemaran udara. Sesungguhnya, pencemaran udara ini berasal dari negara yang industrinya maju. Dengan kemajuan industri, manusia terus mengeksploitasi minyak bumi, terus melakukan penambangan, dan terus menebang hutan. Semua ini dilakukan oleh negara industri maju. Aktivitas ini menyebabkan perubahan iklim dan pemanasan global. Sebaliknya, di tempat-tempat yang penuh penderitaan yang kita bahas tadi, misalnya di Afrika, mereka begitu menderita. Jika kita bertanya apa yang telah mereka lakukan? Saya percaya dalam kehidupan ini mereka tak berkesempatan berbuat karma buruk. Mereka hanya mengalami penderitaan, tidak berkesempatan menciptakan karma buruk. Ini karena mereka sangat menderita. Mereka tak berkesempatan menciptakan karma baik. Mereka juga tak berkesempatan menciptakan karma buruk. Namun, mengapa mereka hidup menderita di tempat itu? Jika kita renungkan, bukankah ini akibat buah karma penopang dan buah karma langsung? Mereka tak bisa memilih di mana dilahirkan. Terlahir di tempat itu bukanlah pilihan mereka. Ini adalah akibat dari karma yang mereka ciptakan di kehidupan lampau. Jadi, kita selalu berkata bahwa kita harus yakin bahwa segala sesuatu tak dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti. Tempat itu bagaikan neraka di alam manusia. Terlahir di tempat seperti itu, penderitaan mereka sungguh tak terkira. Mungkin ada orang bertanya, “Jika benar begitu, mengapa orang yang berbuat karma buruk tetap hidup penuh kenikmatan?” Ya, di masa lampau mereka juga pernah menanam karma baik. Jadi, saat ini mereka masih memiliki berkah. Mereka mampu berbuat sesuka hati. Jadi, berkah yang mereka miliki adalah tabungan dari kehidupan lampau. Mereka pernah menciptakan karma baik, maka memiliki berkah. Namun, apakah mereka selamanya akan hidup damai dan tenteram? Tidak. Jika karma buruk mereka berbuah, mereka juga akan menemui masalah. Lihatlah, industri termaju ada di Amerika Serikat. Berapa banyak bencana akibat ulah manusia dan bencana alam yang mereka alami? Namun, mereka tidak kunjung sadar. Kehidupan manusia tetap seperti itu, tenggelam dalam kekeruhan makhluk hidup dan kekeruhan pandangan. Banyak orang berpandangan bahwa kemajuan industri membawa pertumbuhan ekonomi. Apakah pandangan ini benar? Ternyata, sudah banyak terkumpul bukti yang menyatakan bahwa itu tidak benar. Protokol Kyoto yang dicetuskan pada tahun 1997 adalah persetujuan penanganan pemanasan global yang mewajibkan pengurangan emisi.
Namun, Amerika Serikat tidak meratifikasi protokol ini karena dianggap menghambat perkembangan industri. Inilah pandangan. Bumi ini sudah mengalami demam dan sakit, tetapi manusia tidak berpandangan jauh ke depan, malah hanya berpandangan jangka pendek. Manusia hanya mengejar keuntungan di depan mata. Karena itu, karma buruk terus tercipta. Inilah kekeruhan pandangan. Akibatnya, terjadilah kekeruhan makhluk hidup. Jumlah manusia semakin lama semakin banyak. Masih segar dalam ingatan saya, saat Tzu Chi didirikan, populasi Taiwan hanya sekitar 8 juta orang populasi Taiwan hanya sekitar 8 juta orang dan populasi dunia hanya sekitar 3 miliar orang. Kini, populasi dunia telah bertumbuh hingga semakin banyak, tetapi moralitas semakin rusak sehingga antarmanusia sering terjadi perseteruan dan pertikaian. Akibatnya, bencana akibat ulah manusia semakin banyak. Orang yang seusia saya tentu melewati masa Perang Dunia Kedua. Meski pada masa itu usia saya masih kecil, tetapi ingatan saya tentang kondisi saat itu masih segar. Perang itu terasa belum lama terjadi. Perang pada masa itu saja sudah sangat menakutkan, terutama di penghujung Perang Dunia Kedua, bom atom dijatuhkan di Jepang. Bom atom pada masa itu, jika dibandingkan dengan yang ada di masa kini, maka entah bom atom masa kini memiliki kekuatan berapa puluh kali lipat. Radiasi akibat bom atom Perang Dunia Kedua masih meninggalkan pencemaran hingga saat ini masih meninggalkan pencemaran hingga saat ini dan belum benar-benar hilang. dan belum benar-benar hilang. Bayangkan, bagaimana di masa depan nanti? Jika perang kembali terjadi, akan menjadi seperti apa dunia ini? Bagaimana kondisi semua makhluk saat itu? Sungguh menakutkan. Jadi, kekeruhan pandangan, kekeruhan makhluk hidup, dan kekeruhan noda batin akan menyebabkan kekeruhan usia. Selama ini, saya terus mengatakan kepada kalian bahwa manusia tak luput dari kekeruhan noda batin. Semua bersumber dari noda batin. Baik pandangan, kerisauan, maupun pertikaian antarsesama makhluk hidup, semua bermula dari noda batin, yaitu ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, keraguan, dan sebagainya. Semua ini menyebabkan banyak bencana. Bencana-bencana ini membawa ancaman besar bagi kehidupan semua makhluk. Karena itu, semua ini disebut kekeruhan.
Buddha berkata bahwa kekeruhan pandangan, kekeruhan noda batin, kekeruhan makhluk hidup, dan kekeruhan usia terjadi secara bersamaan dan menciptakan kekeruhan Kalpa. Ditambah kekeruhan kalpa, seluruhnya ada lima kekeruhan. Kekeruhan kalpa adalah masa di mana lima kekeruhan terjadi. Kini kita sudah memasuki kekeruhan Kalpa. Di era ini, ada berbagai pandangan dan perseteruan antarsesama makhluk hidup. Ada pula begitu banyak noda batin. Semua ini mengancam kehidupan manusia. Inilah yang terjadi pada masa ini. “Kalpa” merujuk pada suatu masa yang panjang. Ia adalah akumulasi jangka panjang. Akibat akumulasi jangka panjang hingga saat ini, para ilmuwan di dunia telah melihat dengan jelas para ilmuwan di dunia telah melihat dengan jelas bahwa kuncinya ada pada pencemaran yang disebabkan oleh manusia serta pola hidup yang konsumtif. Dikatakan bahwa dalam masa kekeruhan Kalpa, Dharma merosot dan semua makhluk penuh kekeruhan. Era saat ini adalah era penuh kekeruhan. Dharma dan moralitas mulai hilang dari hati manusia. Dharma dan moralitas mulai hilang dari hati manusia. Inilah yang disebut kekeruhan Kalpa dan kemunduran Dharma. Moralitas sudah mulai merosot. Semua makhluk diliputi kekeruhan. Kekeruhan batin semua makhluk semakin tebal. Ini adalah penyakit batin.
Batin manusia masa kini sudah didera penyakit. Bumi sudah jatuh sakit, batin manusia juga sudah jatuh sakit. Sejak masa tanpa awal hingga saat ini, entah berapa lama kekeruhan sudah terakumulasi. Dari sudut pandang Buddha, Yang Mahasadar, dunia mengalami pembentukan, kelangsungan, kerusakan, dan kehancuran. Saat bumi terbentuk, banyak kehidupan tumbuh di bumi. banyak kehidupan tumbuh di bumi. Kondisi ini pun berlangsung lama. Lambat laun, manusia semakin banyak, kerusakan yang timbul pun semakin besar. Kerusakan ini timbul akibat lima kekeruhan. Jadi, empat fase tadi terus berlangsung mulai dari fase pembentukan hingga sampai pada era kekeruhan Kalpa saat ini. Saat ini, dari sudut pandang Buddha, semua makhluk semakin diliputi kekeruhan. Buddha berkata pada pada masa kekeruhan Kalpa ini, Dharma akan mengalami kemunduran di dunia. Terlebih lagi, sekitar dua ribu tahun terakhir ini, kekeruhan yang ada semakin parah. Kerusakan pun semakin banyak terjadi. Bencana alam pun semakin kerap terjadi. Semua ini membuat kita semakin khawatir. Jadi, sejak masa tanpa awal hingga saat ini, pola hidup manusia juga semakin boros. Dahulu, kita hanya menyaring air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Kini kita menggunakan air keran. Pemakaian air keran pun tidak dihemat. Untuk penerangan, dari obor, lilin, dan lampu minyak, kita beralih ke listrik. Kita juga menggunakan pendingin atau penghangat ruangan. Konsumsi manusia semakin banyak. Konsumsi manusia semakin banyak. Akibatnya, sumber daya alam semakin berkurang dan empat unsur alam menjadi tidak selaras. Kita sering membahas tentang unsur tanah, air, api, dan angin yang semakin lama semakin tidak selaras.
Jadi, tak perlu membicarakan masa depan, Jadi, tak perlu membicarakan masa depan, bahkan saat ini sudah banyak terjadi kekeringan, banjir, ataupun wabah penyakit. Semua ini terus terjadi. Terlebih lagi, kita dapat melihat siaran berita yang melaporkan bahwa pada tahun 2007, 2,6 miliar populasi manusia tidak bisa mendapatkan air bersih. tidak bisa mendapatkan air bersih. Rekaman kondisi Etiopia yang pernah kita lihat masih ada. Inilah kondisi yang ada di dunia. Banyak negara dilanda bencana. Kita memiliki rekaman kondisi negara-negara yang pernah insan Tzu Chi kunjungi. Kita juga pernah melihat entah berapa banyak orang di Afrika, terutama Etiopia, yang hidup menderita. di Afrika, terutama Etiopia, yang hidup menderita. Kini, kita dapat melihat data yang melaporkan Kini, kita dapat melihat data yang melaporkan bahwa di dunia ini sudah ada 2,6 miliar orang yang tidak bisa mendapatkan air bersih. Saya sangat khawatir jika memikirkan ini. Dapat kita bayangkan, jika kita tidak memiliki air bersih, jika kita tidak memiliki air bersih, jika kita tidak memiliki air bersih, maka bagaimana kita mencuci muka dan mandi? maka bagaimana kita mencuci muka dan mandi? maka bagaimana kita mencuci muka dan mandi? Terlebih lagi, bagaimana kita minum dan mencuci sayuran? Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Jika air yang digunakan tidak bersih, maka akan mudah memicu timbulnya penyakit yang dapat menular. Tanpa air bersih, bakteri dan serangga akan berkembang pesat. Penyakit menular pun akan semakin banyak. Jadi, tiga bencana kecil, yaitu peperangan, kelaparan, dan wabah penyakit, dapat terjadi akibat kekeringan. Jika tanaman pangan tidak dapat tumbuh, maka kelaparan pasti akan terjadi. Jadi, peperangan, kelaparan, dan wabah penyakit disebut tiga bencana kecil. Apakah bencana yang ada hanya ini? Masih ada bencana besar akibat air, api, dan angin yang semakin sering terjadi. Saudara sekalian, kita harus memahami penderitaan. Selanjutnya kita akan banyak membahas penderitaan. Saat ini, kita terlebih dahulu berusaha memahami penderitaan dalam hidup manusia. Jadi, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Bagaimana agar penderitaan ini berkurang? Semua bergantung pada manusia. Setiap orang adalah bagian dari semua makhluk dan turut andil dalam menciptakan karma, salah satunya dari pola hidup kita sehari-hari. Jadi, setiap orang memiliki tanggung jawab atas hal ini. Selama ini, saya sangat khawatir karena prediksi Buddha terasa semakin menjadi kenyataan. Jadi, kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Harap kalian ketahui bahwa setiap orang bertanggung jawab atas segala yang terjadi di dunia. Harap setiap orang lebih bersungguh hati.