Sanubari Teduh-296-Tiga Kali Pemutaran Roda Dharma Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, untuk mempelajari ajaran Buddha, kita harus tahu prinsip kebenaran. Kita ingin mempelajari prinsip kebenaran, maka kita mempelajari ajaran Buddha. Berbagai metode ajaran Buddha didasari oleh konsep penderitaan. Penderitaan adalah kebenaran di dunia. Jika kita mampu memahami penderitaan, maka jiwa kebijaksanaan kita akan tumbuh. Dalam hidup ini banyak penderitaan yang jenisnya amat beragam. Namun, jika dirangkum, semuanya termasuk penderitaan. Jika kita tidak memahami penderitaan ini, maka kita tidak akan sanggup menghadapinya. Dikatakan bahwa dari 10 hal dalam hidup, ada 9 yang tidak sesuai harapan. Berhubung banyaknya harapan yang tak tercapai, bukankah ini termasuk penderitaan? Jadi, kita harus menyadari penderitaan. Jika kita mampu memahami penderitaan, barulah kita dapat bertahan atas berbagai penderitaan di dunia. Karena itu, dunia ini disebut dunia yang makhluknya harus menahan derita. Jika kita tak mampu bertahan, maka kita tidak akan sanggup menjalani hidup. maka kita tidak akan sanggup menjalani hidup. Jika kita mampu memahami penderitaan, maka meski hidup menderita, kita bisa mengubahnya menjadi kebahagiaan. Dengan begitu, jiwa kebijaksanaan pun tumbuh.
Kita sering pendengar relawan daur ulang lansia berkata bahwa menelan derita bagai minum obat penambah gizi. Dengan berpikir demikian, bukankah kehidupan akan penuh filosofi? Derita bagaikan obat penambah gizi. Bayangkan, artinya adalah jika kita mampu memikul penderitaan kita, maka kebijaksanaan akan bertumbuh. Jika mampu memikul derita, maka kelak yang diperoleh adalah kebahagiaan. Kita sering berkata bahwa penderitaan itu pahit. Seharusnya, kita tidak berpikir demikian. Jika kita berpikir itu pahit, kita akan sulit melewatinya. Kita harus menganggapnya manis. Di tengah kepahitan juga ada rasa manis. Di tengah rasa manis juga ada kepahitan. Minuman akar manis yang kental juga bisa terasa pahit. Jadi, jika kita sukarela, maka sepahit apa pun penderitaan kita, juga akan tetap terasa manis. Jika tidak rela, kita akan sangat menderita. Jadi, dalam hidup ini, kita harus memahami filosofi kehidupan. Kehidupan sungguh penuh penderitaan. Jadi, segala yang sudah kita bahas, seperti sebelas kecenderungan umum, dua belas pintu masuk, dan delapan belas elemen, semuanya adalah noda batin yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari dan di sekitar kita.
Dalam setiap orang, masalah, dan hal yang kita hadapi. pikiran kita mudah terpengaruh oleh kondisi luar. Dengan adanya kontak dengan kondisi luar, kita merasakan banyak hal yang tak sesuai harapan sehingga memupuk noda batin dan kerisauan. Karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan setiap hari, jangan sampai terbelenggu noda batin akibat kontak dengan kondisi luar. Inilah yang harus diingat setiap hari oleh praktisi pembina diri. Sesungguhnya, apa yang perlu diperhitungkan? Kita juga telah membahas sebelas kekosongan. Jika kita dapat melihat jelas bahwa segala sesuatu bersifat semu, maka di manakah letak penderitaan? Kehidupan manusia pada dasarnya bagaikan panggung sandirwara. Di panggung kehidupan ini, jika kita sudah tuntas memainkan peran kita, kita tetap harus turun dari panggung. Peran apa yang akan kita mainkan di kehidupan mendatang, kita belum tahu. Jadi, saat memainkan peran pada kehidupan ini, saat berinteraksi dengan kondisi panggung, kita harus beradaptasi dengan lebih baik, barulah kita dapat menjalin jodoh baik untuk kehidupan mendatang sehingga rintangan dapat diubah menjadi pemicu. Ini juga merupakan hal yang harus kita perhatikan dalam menghadapi orang dan masalah. Ini juga merupakan filosofi penanganan masalah. Ini juga kebenaran tentang kekosongan yang Buddha ajarkan. Jadi, di tengah kekosongan sejati, terdapat eksistensi ajaib. Kosong bukan berarti tidak ada apa-apa. Kosong bukan berarti tidak ada apa-apa. Tidak peduli terhadap apa pun juga tidak benar.
Kita harus harmonis dalam segala kondisi. Setiap orang tak luput dari hukum sebab akibat. Apa pun benih yang tertanam dalam pikiran seseorang, akan terus tersimpan di dalam kesadaran kedelapannya. Saat seseorang melakukan sesuatu terhadap kita, jika kita tidak melepaskan pikiran dendam atau marah, maka benih jalinan jodoh buruk akan tersimpan di dalam pikiran kita dan terus akan terbawa dari kehidupan ke kehidupan. Dengan begitu, kita akan menderita. Meski dalam hubungan antarmanusia kita kadang memiliki jalinan jodoh buruk, tetapi dalam kehidupan ini kita harus berusaha harmonis dan mengubah jodoh buruk menjadi baik. Untuk itu, kita harus percaya bahwa di dunia ini tiada sesuatu pun yang patut diperhitungkan. Kita harus berpegang pada kekosongan. Namun, di balik itu, ada prinsip kebenaran yang ajaib, yaitu hukum sebab akibat. Benih sebab yang kita tanam ini merupakan eksistensi ajaib. Jika kita terus melekat padanya, maka pada kehidupan mendatang, kita tetap akan terbelenggu olehnya. Jadi, di balik kekosongan, masih ada eksistensi ajaib. Jika jalinan jodoh buruk berhasil diselesaikan, maka kelak jodoh baik akan terjalin. Inilah prinsip yang benar. Jika tidak mengikuti prinsip ini, maka sebagai praktisi, kadang kita merasa sudah memahami kekosongan. Berhubung semuanya kosong dan tidak boleh perhitungan, maka kita menjadi tidak peduli. Tidak peduli kita anggap sama dengan tidak perhitungan. Ini tidak benar. Kita harus berusaha mencapai keharmonisan. Dengan begitu, barulah batin kita akan damai dan dapat memutar roda Dharma dengan dua belas aplikasi.
Sebelumnya kita pernah membahas ini. Kita harus terlebih dahulu mengetahui penderitaan. Setelah mengetahui penderitaan, barulah kita dapat memahami sebabnya. Dengan begitu, dalam kehidupan sehari-hari, barulah kita dapat melihat segala sesuatunya dengan jelas. Inilah cara untuk mengurai belenggu dalam hubungan antarmanusia untuk kemudian menyelami kebenaran. Apa yang disebut penderitaan? Apa yang disebut penderitaan? Jika tidak mengetahui penderitaan, kita akan sulit memahami kebenaran lainnya. kita akan sulit memahami kebenaran lainnya. Jika tidak memahami penderitaan, maka saat mendengar tentang sebelas kekosongan, bukankah kita akan melekat padanya? Jika melekat pada kekosongan, kita malah akan kembali menciptakan karma buruk. Kita sudah pernah membahas ini sebelumnya. Jadi, jika ingin berpegang pada jalan tengah dan memahami kebenaran sejati, kita harus memahami penderitaan. Karena itu, setelah mencapai pencerahan, saat pergi ke Taman Rusa Rsipatana dan membabarkan Dharma kepada lima petapa, ajaran pertama yang Buddha babarkan adalah Empat Kebenaran Mulia. yang meliputi penderitaan, sebab penderitaan, akhir penderitaan, jalan mengakhiri penderitaan. Saat Buddha membabarkan kebenaran ini, apakah semua orang langsung paham? Belum. Karena itu, Buddha harus membabarkan Empat Kebenaran Mulia sebanyak tiga kali. Empat Kebenaran Mulia sebanyak tiga kali. Karena itu, ada istilah 12 aplikasi dalam 3 kali pemutaran roda Dharma.
Sebagai praktisi, kita harus memahami ajaran pada pemutaran roda Dharma pertama ini. Setelah mencapai pencerahan, Buddha merenung, “Kepada siapa Aku akan membabarkan ajaran ini?” Beliau kemudian teringat kepada lima orang pemuda yang diutus ayah-Nya kepada lima orang pemuda yang diutus ayah-Nya untuk mengikuti-Nya dalam pertapaan. Mulanya, mereka diutus untuk membujuk-Nya pulang, tetapi tidak berhasil. Kemudian, ayah-Nya meminta lima orang itu untuk mengikuti-Nya bertapa. Lima pengawal ini mengikuti Pangeran Siddhartha berlatih dengan setia. Namun, Pangeran Siddhartha kemudian merasa praktik latihan dengan menyiksa diri bukanlah cara yang tepat untuk memahami kebenaran sejati. Karena itu, Beliau mengubah metode latihan. Praktik menyiksa diri tidaklah tepat. Jadi, Beliau berusaha mencari metode lain agar tidak hanya mengetahui kebenaran, tetapi juga memahaminya. Jika hanya tahu tanpa memahami, itu juga belum sempurna. Oleh karena itu, Beliau meninggalkan Hutan Uruvilva untuk merenungkan metode yang lain. Setelah membersihkan diri, berhubung Beliau menyiksa diri dalam waktu lama, maka tubuhnya sangat lemah. Karena itu, Beliau pingsan setelah mandi, kemudian mendapat pertolongan dari Sujata. Melihat seorang petapa yang pingsan, Sujata mempersembahkan susu kambing Sujata mempersembahkan susu kambing agar petapa ini dapat pulih. Beliau akhirnya duduk sendiri di bawah pohon untuk merenung. Mengapa Beliau hanya sendirian? Karena saat lima petapa tadi mencari sang pangeran, dari kejauhan mereka melihat Pangeran Siddhartha menerima persembahan dari Sujata. Timbul keraguan dalam hati mereka. Mereka mengira pangeran kehilangan tekadnya. Berhubung pangeran sudah kehilangan tekad, mereka merasa tidak perlu mengikutinya. Namun, mereka sendiri berpikir untuk terus melatih diri. Karena itu, mereka pergi menuju Taman Rusa Rsipatana untuk melanjutkan pelatihan diri.
Pangeran Siddhartha duduk sendirian di bawah pohon. Beliau bertekad untuk sungguh-sungguh melakukan perenungan dalam kondisi yang hening dan jernih itu. Meski telah berguru dengan banyak Brahmana Meski telah berguru dengan banyak Brahmana dan telah memahami banyak ajaran India kuno, Beliau merasa semua itu bukanlah yang tertinggi. Jadi, Beliau berharap dapat mencapai kebenaran tertinggi. Beliau akhirnya menemukan sebuah arah, Arah yang dimaksud adalah memulihkan kondisi fisik-Nya terlebih dahulu. Setelah kondisi fisik-Nya pulih, kondisi pikiran-Nya juga ikut pulih. Dalam kondisi itu, Beliau bermeditasi selama dua puluh satu hari. Tiba-tiba, di pada malam penuh cahaya bintang, tepatnya kita semua tahu, yaitu pada tanggal 8 bulan ke-12 penanggalan bulan, Beliau mencapai pencerahan. Pikirannya menyatu dengan alam semesta. Pikirannya menyatu dengan alam semesta. Pada saat itu, batin-Nya sangat cemerlang sehingga mampu memahami segala kebenaran. Beliau sudah tercerahkan. Setelah tercerahkan, Beliau berpikir bahwa kebenaran begitu luar biasa. Beliau melihat bahwa semua makhluk juga memiliki hakikat kesadaran dan kebijaksanaan yang sama dengan Buddha. dan kebijaksanaan yang sama dengan Buddha. Inilah yang disebut hakikat kebuddhaan.
Semua makhluk di alam semesta memiliki hakikat kesadaran Buddha yang sama. Jadi, di bawah cahaya bintang, Beliau berseru, “Sungguh luar biasa, sungguh luar biasa!” “Semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan.” “Hanya karena sebersit kegelapan batin, mereka terjerumus ke tiga alam sengsara.” “Kesadaran dan kegelapan batin hanya bergantung pada pikiran.” Begitu hakikat kesadaran itu bangkit, maka seluruh kebenaran alam semesta bagai terpapar di hadapan Beliau. Beliau bahkan melihat bahwa semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan yang sama-sama cemerlang. Beliau dipenuhi sukacita dalam Dharma. Kita seharusnya bisa membayangkannya. Kepda siapa Beliau harus berbagi kebenaran itu? Beliau juga merasa bahwa Dharma begitu dalam. Siapa yang mampu memahaminya? Berdasarkan catatan di dalam Sutra, setelah Buddha mencapai pencerahan, para dewa dan para Buddha dari 10 penjuru datang untuk memberikan selamat. Namun, saat Buddha membabarkan Dharma bagi para dewa, para dewa pun tidak mengerti, bagai itik mendengar suara petir. Meski suara Dharma begitu menggetarkan, tetapi para dewa tetap tidak mengerti. Mereka tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Seorang Yang Tercerahkan ini.
Buddha kemudian berpikir bahwa jika para dewa saja tidak mengerti, maka siapa yang akan mengerti? Beliau pun berpikir untuk segera parinirvana. Saat itu para Buddha dan Bodhisattva mendorong dan menyemangati Beliau serta mengingatkan tujuan Beliau melatih diri, yaitu untuk menyelamatkan semua makhluk. Semua makhluk diliputi kegelapan batin, maka membutuhkan Seorang Yang Tercerahkan untuk segera membimbing mereka. Seorang Yang Tercerahkan ini adalah Buddha Sakyamuni, guru utama Dunia Saha. Buddha kemudian berpikir, “Kalau begitu, Aku harus segera beranjak dari tempat ini.” “Aku harus membimbing semua makhluk.” “Siapa yang pertama kali harus Kubimbing?” Buddha pun mulai berpikir dan mengingat lima petapa yang mengikuti-Nya berlatih. Beliau ingin berbagi kebenaran kepada mereka, maka segera menuju Taman Rusa Rsipatana. Melihat Buddha Sakyamuni yang dulunya merupakan pangeran mereka, lima petapa itu dari kejauhan memikirkan satu hal yang sama, yaitu Beliau bukanlah petapa yang murni, sudah menyerah terhadap penderitaan, tetapi kini datang kembali mencari mereka, maka mereka tidak ingin menghiraukan. Kelima petapa itu sepakat untuk tidak menghiraukan Buddha yang mereka anggap sudah tercemar dan tidak mampu menahan penderitaan. Inilah yang mereka pikirkan. Jadi, mereka berpikir untuk tidak menghiraukan-Nya saat Beliau datang. Namun, Buddha berjalan mendekat selangkah demi selangkah. Saat Buddha mendekat, lima petapa ini tiba-tiba merasa tergugah tiba-tiba merasa tergugah oleh penampilan-Nya yang terlihat penuh kualitas agung. yang terlihat penuh kualitas agung.
Lima petapa ini merasa tergugah dan secara alami bersujud penuh hormat. dan secara alami bersujud penuh hormat. Mereka terkesan oleh keagungan Buddha. Mereka terkesan oleh keagungan Buddha. Inilah yang terjadi saat Buddha menghampiri lima petapa tadi. Jalinan jodoh mereka terjalin kembali. Kita sering membahas tentang pahala dari pelatihan diri, yaitu pelatihan ke dalam dan kualitas yang tampak ke luar. Jika Anda berlatih ke dalam diri, maka kualitas diri akan tampak di luar. Tanpa perlu berbicara, hanya dengan berjalan saja, keagungan akan terpancar dan mampu menaklukkan hati semua makhluk. Jadi, pelatihan ke dalam dir tak boleh diabaikan. Apa yang harus dilatih di dalam diri? Tadi kita sudah membahasnya. Dalam kehidupan sehari-hari, saat bersentuhan dengan orang dan hal, saat indra mengalami kontak dengan objek, enam kesadaran kita bisa terangsang oleh sebelas kecenderungan umum sehingga noda batin mengotori batin kita.
Dengan adanya noda batin, kita akan menciptakan karma buruk. Jadi, jika kita dapat memahami penderitaan dan berbagai Dharma yang kita bahas di awal, maka kita hendaknya sadar dan waspada saat menghadapi orang dan hal dalam keseharian. Jangan sampai kita berbuat kesalahan. Kita harus terlebih dahulu menyucikan batin kita. Inilah pelatihan ke dalam diri. Saudara sekalian, dengan pelatihan ke dalam, kualitas diri akan tampak di luar. Untuk dapat membimbing semua makhluk, kita memerlukan jalinan jodoh. Kita sudah tahu kisah Buddha Sakyamuni dan Bodhisattva Maitreya saat masih melatih diri. dan Bodhisattva Maitreya saat masih melatih diri. Kisah ini menunjukkan pentingnya menjalin jodoh baik dengan semua makhluk. Pelatihan ke dalam diri juga sangatlah penting. Dengan begitu, barulah kita bisa menginspirasi semua makhluk. Setibanya di Taman Rusa Rsipatana, Buddha memutar roda Dharma tiga kali. Harap semua selalu bersungguh hati.