Sanubari Teduh-304-Orang Bijak Sadar Lebih Awal
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita membahas bahwa pertobatan adalah pemurnian. Seperti saat akan mengisi botol dengan air, kita harus terlebih dahulu mencuci botolnya. Setelah botolnya dicuci bersih, barulah air yang disimpan di sana bisa digunakan. Demikian pula, jika air kotor di dalamnya tidak dikeluarkan, maka botol itu tak dapat dibersihkan. Botol yang sudah dicuci bersih akan dapat diisi kembali dengan air bersih dan dapat kita gunakan. Demikian pula, jika batin kita penuh noda batin, kita harus segera melenyapkannya. Bertobat berarti menyesali perbuatan masa lalu dan membina masa depan. Berhubung telah bertobat, berarti kita sudah membersihkan batin kita. Kini kita harus sungguh-sungguh menerima Dharma. Jika Dharma meresap ke dalam hati kita, maka kita dapat menggunakannyadari kehidupan ke kehidupan. Jadi, pertobatan adalah pemurnian,bagaikan air jernih di botol bersih
Setiap orang hendaknya mengasihi diri sendiri. Jika manusia tidak mengasihi dirinya sendiri, bagaimana bisa dikasihi orang lain? Orang yang mampu mengasihi diri sendiri, meski pernah berbuat salah, juga senantiasa berani memperbaiki diri. Inilah pembahasan kita beberapa hari ini. Jadi, kita harus selalu memiliki hati yang bertobat. Sebelumnya kita juga sudah membahas bahwa semua makhluk awam tak luput dari kesalahan. Bahkan, pada zaman Buddha sekalipun, di dalam Sangha juga ada bhiksu yang melakukan kesalahan. Namun, jika saudara se-Dharma dapat mengingatkan atau dia berterus terang di hadapan Buddha, Buddha akan memberikan ajaran sesuai kondisinya. Kita juga sudah membahas kisah Nanda. Sesungguhnya, tabiat buruk Nanda terpupuk karena dia lahir di istana. Dia hidup di tengah kenikmatan, hubungannya dengan istrinya juga baik, istrinya pun sangat cantik
Buddha mengutamakanpertumbuhan jiwa kebijaksanaan. Buddha dan Nanda adalah saudara tiri. Karena itu, Buddha ingin membimbingnya. Kehidupan setiap orang hanya sementara dan tidak kekal, tetapi jiwa kebijaksanaan adalah abadi. Jadi, Beliau ingin membimbing saudara-Nya untuk memasuki Sangha. Nanda akhirnya meninggalkan keduniawian. Meski telah menjadi anggota Sangha, tetapi nafsu keinginannya belum ditaklukkan. Karena nafsu keinginannya belum ditaklukkan, tabiat buruknya pun masih sering muncul. Karena itu, gaya hidupnya berbeda dari yang lain. Baik dari segi makanan, pakaian,tempat tinggal, maupun transportasi, dia selalu ingin lebih baik dari orang lain. Dia sudah diperingatkan oleh anggota Sangha lainnya, tetapi tidak dapat berubah. Buddha pun harus turun tangan. Dengan didikan Buddha yang ketat, Nanda akhirnya bisa berubah. Nanti kita akan mendengar bagaimana Nanda akhirnya berubah setelah mendapat ajaran dari Buddha. Berikutnya, kita akan melihat di dalam Syair Pertobatan Air Samadhi tertulis, “Namun, orang bijaksana sadar lebih awal dan mampu memperbaiki diri.””Orang bodoh menyembunyikan dan terus mengulangi kesalahan.” Inilah yang tertulis dalam Syair Pertobatan Air Samadhi
Sebagai makhluk awam di dunia, bahkan praktisi pembina diri juga berbeda-beda. Ada orang yang bijaksana. Saat mendengar satu ajaran, dia bisa memahami sepuluh atau seribu kebenaran. Dia dapat mengikuti ajaran Buddha. Setelah mendengar pembabaran dari Buddha, dia dapat segera memahami berbagai hal di dunia ini. Inilah orang bijak yang sadar lebih awal. Begitu mendengar ajaran Buddha, dia dapat segera memperbaiki diri. Sebaliknya, orang bodohmenyembunyikan kesalahan. Orang yang bodoh, meski mendengar Buddha membabarkan Dharma dan sudah tahu bahwa diri sendiri bersalah, tetapi tetap tidak mau bertobat secara terbuka. Karena itu, dia terus mengulangi kesalahan, memupuk tabiat buruk dan tak kunjung sadar. Menutupi kesalahan bagaikan memasuki malam panjang. Malam panjang berarti kehidupan kita berada dalam kegelapan. Malam panjang berarti kegelapan
Ini menggambarkan batin kita yang masih gelap. Jika kegelapan batin kita terus terpupuk, kapankah kita akan memperoleh pencerahan? Kita akan terus berada dalam malam panjang. Jadi, kita harus tahu dan mampu menilai bahwa makhluk awam dibedakan menjadi orang bijak dan orang bodoh. Di antara para murid Buddha pun ada orang bijak dan orang bodoh, terlebih kita makhluk awam. Kita juga harus bisa membedakan Kita juga harus bisa membedakan orang bijak dan orang bodoh. Orang bijak dapat sadar lebih awal dan dapat memperbaiki kesalahan masa laluserta tak mengulanginya lagi. Inilah orang bijak. Orang bijak mampu memahami kebenaran dan mampu menyadarkan diri sendiri setelah melihat ataupun mendengar ajaran. Kita sering membahas tentang Pratyekabuddha. Pratyekabuddha munculdi masa kekosongan Dharma.
Pratyekabuddha mampu tercerahkan lewat pengamatan terhadap perubahan musim. lewat pengamatan terhadap perubahan musim. Melihat perubahan musim, dia mampu menyadarkan diri sendiri bahwa jika musim saja tidak kekal, bahwa jika musim saja tidak kekal, maka terlebih lagi kehidupan manusia. Kehidupan manusia juga tidak kekal serta tak lepas dari fase lahir, tua, sakit, dan mati. Segala sesuatu di dunia memiliki prinsip yang sama seperti iklim dan tubuh manusia tadi. Kehidupan begitu tidak kekal. Begitulah Pratyekabuddha. Dengan mengamati kondisi luar, Dengan mengamati kondisi luar, dia dapat berintrospeksi di dalam hati. dia dapat berintrospeksi di dalam hati. Melihat orang-orang tenggelam dalam kesalahan, kita hendaknya dapat berintrospeksi diri dan menyadarkan diri sendiri. Kita hendaknya dapat menjaga diri sendiri. Hati kita dan watak kita hendaknya dapat kita kendalikan. Inilah orang bijak yang sadar lebih awal
Orang bijak bisa sadar. Orang bijak bisa sadar. Terlebih lagi, saat melakukan kesalahan, dia dapat segera memperbaiki diri, meninggalkan kesalahan masa lalu, meninggalkan kesalahan masa lalu, serta tidak mengulanginya kembali. Kesalahan apa pun hendaknya segera kita akui secara terbuka. Dikatakan bahwa pertobatan adalah pemurnian. Apa yang dimaksud pertobatan? Pertobatan harus diutarakan. Kita harus mengungkapkan kesalahan kita. “Saya bersalah kepadamu, hati saya merasa tidak tenang, saya ingin segera bertobat secara terbuka.” Dengan demikian, belenggu di hati akan terurai. Inilah yang disebut mengurai belenggu. Jika setelah melakukan kesalahan kita tidak mau mengakuinya, maka hati kita akan terus terbelenggu. Dengan begitu, dendam akan terbentuk. Dengan adanya dendam dan kebencian, ikatan dendam ini akan terjalin dari kehidupan ke kehidupan
Jika kini kita dapat menyadari kesalahan, segera mengakuinya kepada pihak lain, dan menyatakan pertobatan yang tulus, maka dengan pertobatan terbuka ini, kita akan memperoleh pemurnian. Berhubung sudah bertobat, kita tak perlu lagi menutupi kesalahan dan ta akan mengulanginya. Inilah orang bijak. Sebaliknya, orang bodoh tidak mau tulus bertobat secara terbuka, menutupi kesalahannya, sehingga kesalahannya semakin dalam. Inilah orang bodoh. Dia memiliki kesalahan. “Saya salah, tetapi jangan sampai orang lain tahu.” “Jika orang lain tahu, saya akan ditertawakan.” “Jika orang lain sampai tahu, saya akan diremehkan.” “Jika saya membiarkan orang lain tahu masa lalu kita, orang lain akan memandang rendah saya.” Akibatnya, orang seperti ini terus menutupi kesalahan masa lalunya. Karena terus menutupi kesalahan, dia akan terus berbohong. Baik lewat tubuh, ucapan, maupun pikiran, dia tak dapat menghadapi orang dengan terus terang. Jadi, jika terus menutupi kesalahan seperti ini, maka kesalahan yang ada akan semakin dalam
Kesalahan akan terus bertumbuh dan berkembang. Kesalahan ini akan terus tumbuh bagaikan rumput liar. Lewat siaran berita Da Ai TV, kita melihat para mahasiswa Universitas Tzu Chi dan universitas lainnya dan universitas lainnya yang tergabung menjadi anggota Tzu Ching memanfaatkan hari Sabtu dan Minggu untuk mencabuti rumput liar di Meilunshan. Rumput liar yang tumbuh bisa mengganggu pertumbuhan pohon di sana sehingga pohon-pohon menjadi kering. Jadi, dengan bersungguh hati, anak-anak itu bersama para relawan Tzu Chi bersama para relawan Tzu Chi mencabuti rumput liar di sana untuk menyelamatkan pohon-pohon, agar pohon-pohon itu bisa tumbuh dengan baik karena pohon berguna untuk memproduksi oksigen. Manusia telah membuat kadar karbon dioksida meningkat. Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus meningkatkan kesadaran lingkungan. kita harus meningkatkan kesadaran lingkungan
Dalam segala aktivitas harian kita, baik berjalan, berdiam, duduk, tidur, dll., kita harus memperhatikan penghematan. Kita harus menghargai barang yang kita gunakan. Semua ini berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Jadi, kita tidak boleh menganggap bahwa kesalahan kecil tidak membawa dampak apa-apa, terlebih saat orang lain tidak melihatnya. Ketika kita membuka keran air sebentar saja, sudah berapa banyak sumber daya yang terbuang? Dalam keseharian, kita menggunakan air dan listrik. Jika kita mematikan lampu yang tidak terpakai, ini juga merupakan bentuk penghematan. Demikianlah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus selaras dengan pola hidup yang benar. Demikian pula, jika aktivitas tubuh harus selaras, bagaimana dengan batin? Pikiran dan batin kita, jika terus menyembunyikan dan memupuk kekotoran tanpa segera dibersihkan, maka keburukan yang ada akan semakin dalam. Ia akan seperti rumput yang terus tumbuh dan memanjang
Ini mengakibatkan terciptanya kesalahan-kesalahan berikutnya. Inilah yang disebut memupuk tabiat buruk. Tabiat buruk berawal dari kehidupan sehari-hari. Tabiat buruk yang terus dipupuk dan tidak diperbaiki mengakibatkan kita tidak kunjung sadar. Bagaimana kita bisa sadar? Kita dengarkan kisah Yang Arya Nanda. Meski beliau memiliki tabiat buruk, tetapi setelah mendapat didikan dari Buddha, beliau bisa memperbaiki diri. Kalian tentu ingat bahwa Buddha memintanya melatih diri dengan praktik Aranya. Aranya berarti berlatih keras di tempat sunyi. Buddha memintanya tinggal di pemakaman untuk merenung dengan sungguh-sungguh. Di sana Nanda hidup dengan keras dan sederhana. Beliau kembali berintrospeksi atas kesalahan-kesalahannya. Nanda benar-benar menuruti nasihat Buddha. Setelah beberapa waktu, beliau datang menemui Buddha. Beliau datang ke hadapan Buddha. Meski mengenakan pakaian yang kasar
Meski mengenakan pakaian yang kasar yang dibuat dengan ratusan tambalan, tetapi begitu beliau datang ke hadapan Buddha, para bhiksu yang melihat merasa para bhiksu yang melihat merasa tindak tanduk Nanda telah berubah. tindak tanduk Nanda telah berubah. tindak tanduk Nanda telah berubah. Buddha pun turut bergembira atas pencapaian Bhiksu Nanda. Buddha mulai memujinya. “Bhiksu Nanda telah bersikap patut.” Bhiksu Nanda berasal dari keluarga bangsawan. Bhiksu Nanda berasal dari keluarga bangsawan. Beliau adalah pangeran. Nanda unggul dalam sikap dan tindak tanduk. Di antara banyak bhiksu, Di antara banyak bhiksu, sikap dan tindak tanduk Bhiksu Nanda unggul. Di antara anggota keluarga bangsawanyang menjadi bhiksu, Nanda adalah yang terunggul. Ini karena beliau mampu melepaskan nafsu keinginannya yang kuat. Mulanya, nafsu keinginannya sangat kuat, tetapi akhirnya tidak lagi. Beliau telah mampu melepaskan semuanya. Inilah keunggulan Nanda. Beliau mampu mengendalikan indranyadan makan secukupnya. Pada malam hari, beliau berlatih dengan tekun. Beliau melatih pikirannya dengan saksama. Beliau mampu mengendalikan pikirannya, bukan hanya tubuh atau indranya.
Sebelumnya, saat melihat perempuan, matanya langsung berbinar. Beliau sangat suka melihat perempuan. Kini, indra mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuhnya Kini, indra mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuhnya sudah mampu beliau kendalikan. Bahkan, dalam hal makan, beliau juga hanya makan secukupnya beliau juga hanya makan secukupnya dan tidak memilih-milih makanan. dan tidak memilih-milih makanan. Pada awal malam setelah matahari terbenam, Pada awal malam setelah matahari terbenam, Pada awal malam setelah matahari terbenam, beliau mulai membersihkan kakinya dan mulai berlatih. dan mulai berlatih. Dimulai dari senja hari, beliau mulai berlatih dengan tekun. Beliau sungguh-sungguh mengamati dan menyadari pikirannya, sehingga keluhurannya pun tampak. Beliau mengamati dan mengendalikan batinnya, sehingga dapat menampakkan tindak tanduk praktisi yang patut. Karena itulah, Nanda disebut unggul
Singkat kata, Nanda telah menjadi pribadi yang baru. Tindak tanduknya sudah berubah, indranya terkendali, dan batinnya pun murni. Jadi, kehidupannya benar-benar berubah. Karena itu, Buddha sangat memujinya. Buddha memujinya dengan sebuah gatha. “Berlatih dengan tekun, siang hari bermeditasi jalan, malam hari bermeditasi duduk; pada awal malam seusai membersihkan kaki, duduk dengan postur tegap, memperhatikan pikiran, dan memasuki samadhi.” “Selepas awal malam, pada tengah malam, tubuh berbaring ke kanan, kaki saling bertumpu, menjaga kejernihan pikiran, melatih perhatian.” “Pada akhir malam, kembali duduk dengan tegap dan memperhatikan pikiran.” “Demikianlah sepanjang malam Nanda sepenuh hati berlatih tanpa henti.” “Di antara warga suku Sakya, perhatian dan kesadaran Nanda-lah yang terunggul.” Inilah pujian Buddha bagi Nanda. Buddha memuji Nanda bahwa pada siang hari, selain berpindapatra, beliau juga melakukan meditasi berjalan dengan pikiran yang terpusat
Pada awal malam, beliau duduk bermeditasi. Pada tengah malam, beliau berbaring dengan batin yang tenang dengan posisi kaki saling bertumpu. Tindak tanduknya sangat baik. Pada akhir malam atau subuh, beliau kembali melatih kesadaran pikiran. Demikianlah, dari awal malam, tengah malam, akhir malam, hingga pagi hari, beliau melatih diri dengan baik, tidak lain untuk membersihkan kekotoran batin dan kegelapan batinnya sehingga Dharma yang murni dapat meresap. Inilah Nanda. Saat berlatih di dalam Sangha, beliau pernah melakukan banyak pelanggaran, tetapi setelah dinasihati oleh Buddha, beliau segera memperbaiki diri. Inilah orang yang sadar. Saudara sekalian, dalam melatih diri, kita berharap dapat memahami banyak hal setelah mendengar ajaran. Dengan demikian, baru kita dapat mengasihi diri sendiri dan orang lain. Jadi, bersungguh-sungguhlah setiap saat.