Sanubari Teduh-305-Pahala Yang Dalam dari Pertobatan
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita membahas tentang pikiran. Kita juga sering mendengar insan Tzu Chi mengeluarkan ungkapan “hati lapang dan pikiran murni”, “mawas diri dan tulus”. Sungguh, jika dapat berhati lapang, dunia akan terasa luas dan kita akan dapat merangkul semua makhluktanpa keluh kesah. Jika kita mampu berpikiran murni, maka hati kita akan penuh kebajikan dan keindahan yang tulus. Jika kita dapat mawas diri dan tulus, maka kita tak akan menghadapi orang dan masalahdengan tipu daya. Inilah kehidupan yang kita inginkan, suatu kondisi yang benar, bajik, dan indah. Kita terus membahas rasa malu dan pertobatan. Benar, kita harus selalu memiliki rasa malu. Kadang, saat melakukan sesuatu, jika kita tidak melakukannya dengan baik, kita akan berkata, “Aduh, saya malu.” Saat melihat kemampuan orang lain dan kita tidak sebaik orang itu, kita juga berkata, “Saya malu.” kita harus selalu memiliki rasa malu terhadap diri sendiri dan orang lain
Meski tak sebaik orang lain, tetapi jangan sampai kita memiliki pikiran tetapi jangan sampai kita memiliki pikiran untuk menekan orang lain ataupun menyembunyikan kelemahan sendiri. Misalnya, saat kemampuan kita kurang, kita malah mencari alasan. Ini disebut orang yang tidak punya rasa malu. Kita harus malu terhadap diri sendiri karena melihat kurangnya kemampuan diri karena melihat kurangnya kemampuan diri disebabkan oleh diri sendiri yang kurang tekun. Sesungguhnya, kita kurang tekundan bersungguh hati, bukan karena kemampuan kita kurang. Intinya, kita harus menghormati dan mengasihi diri sendiri. Kita harus bersungguh hati dan tekun. Kita harus bersungguh hati dan tekun. Jangan berkata, “Saya memang tidak bisa.” “Karena itu, saya tak mau melakukannya>” “Saya menyerah.” Ini tidak benar. Kita harus memperbaiki diri sendiri di bagian mana kita lengah dan di bagian mana kita malas. Jika kita malas dan lengah, kita harus segera memicu semangat. Dengan demikian, kita bisa senantiasa berintrospeksi
Inilah yang disebut memiliki rasa malu. Inilah yang disebut memiliki rasa malu. Kita hendaknya memandang orang lain, menghormati orang lain, dan penuh rasa syukur. Diri sendiri haruslah berusaha. Inilah orang yang memiliki rasa malu. Saat melihat orang lain sangat hebat, janganlah timbul rasa irikarena kita belum sehebat orang tiu. Orang seperti ini adalah orang yangtidak punya rasa malu. Berikutnya, kita harus bertobat secara terbuka. Di dalam kitab suci dikatakan, Lihatlah, asalkan kita memiliki rasa malu, kita dapat tulus bertobat secara terbuka. Kita juga sudah pernah membahas bahwa kesalahan hendaknya tidak ditutupi. Jika kita menutupi kesalahan, Jika kita menutupi kesalahan, maka akan merugikan diri kita sendiri. Jadi, dapat dikatakan bahwa jika kita selalu memiliki rasa malu dan mampu berterus terang serta mengakui segala kesalahan kita, serta mengakui segala kesalahan kita, kita tidak akan menutupi kesalahan kita. Jika kita memiliki rasa malu, maka ibarat sebuah botol yang terisi kotoran, tentu tidak dapat digunakan
Kita harus segera membersihkan kotoran itu sehingga botol ini dapat kembali bersih botol ini dapat kembali bersih dan dapat digunakan kembali untuk diisi air bersih untuk diisi air bersih yang dapat kita minum. Kalian seharusnya masih ingat sebuah kisah tentang Rahula yang nakal. Sejak dia kecil, ayahnya mengajaknya masuk ke dalam Sangha. Saat Buddha Sakyamuni kembali ke istana, Beliau membimbing ayah-Nyahingga menjadi penyokong, lalu membimbing bibi-Nya, istri-Nya, dan putra-Nya hingga menjadi anggota Sangha. Saat itu usia Rahula masih kecil. Buddha menyerahkan Rahula kepada Sariputra untuk dibimbing dengan baik. Namun, Rahula juga sangat nakal. Kadang, saat Buddha tidak ada di vihara, jika ada orang yang bertanya pada Rahula apakah Buddha ada di vihara, dia menjawab, “Ada, ada.” “Buddha ada di vihara.” Orang itu pun segera bergegas pergi, tetapi setibanya di vihara, dia tak dapat menemukan Buddha. Orang itu pun berkata, “Rahula berkata ada
” Adakalanya, saat orang bertanya kepada Rahula mengenai keberadaan Buddha, dia menjawab bahwa Buddha sedang keluar, padahal Buddha jelas-jelas ada di vihara. Dia berkata, “Tidak ada, Buddha sedang keluar.” Melihat orang lain tak dapat menemukan Buddha, dia sangat senang. Buddha ada di vihara, tetapi dia bilang tidak ada sehingga orang lain kecewa. Namun, Rahula merasa senang. Rahula memang tidak berniat apa-apa, hanya suka mengerjai orang. Dia hanya sedikit nakal. Hal ini diketahui oleh seseorang di dalam Sangha. Dia merasa ini tidak boleh dibiarkan karena termasuk berbohong. Mengerjai orang bukanlah perbuatan baik. Namun, Rahula tidak mau berubah. Dia masih kecil, orang-orang menyayanginya, tetapi semua orang juga tahu bahwa Buddha harus diberi tahu tentang masalah ini karena tabiat anak-Nya ini mungkin akan membawa masalah. Mereka pun segera memberi tahu Buddha tentang kebiasaan Rahula itu. Buddha lalu memanggil Rahula, “Rahula, kemarilah.” “Aku baru kembali dari perjalanan, ambilkan Aku sebaskom air.” Rahula sangat senang dapat berada dekat Buddha dan melayani-Nya
Dengan gembira, Rahula mengambilkan sebaskom air. Buddha lalu mencuci kaki. Setelah selesai, Beliau bertanya kepada Rahula, “Rahula, air bekas mencuci kaki ini, dapatkah diminum?” Rahula menatap Buddha dan berkata, “Yang Dijunjung, sebelum digunakan, air itu bersih dan bisa diminum, tetapi setelah digunakan untuk mencuci kaki, air itu sudah kotor, bagaimana mungkin bisa diminum?” Buddha berkata, “Kalau begitu buanglah airnya.” Rahula kemudian membuang air itu. Setelah itu, Buddha kembali berkata, “Mari, bawa kemari baskom itu.” bawa kemari baskom itu.” Buddha lalu menendang baskom tersebut hingga terbalik. Rahula pun terkejut melihat yang Buddha lakukan. Dia bertanya-tanya kesalahan apayang telah dia lakukan. Buddha memberi tahu Rahula, “Ayo, Rahula, ambillah air untuk mengisi baskom yang terbalik itu.” “Isilah baskom yang terbalik itu dengan air.” Rahula menjawab, “Yang Dijunjung, untuk mengisinya, saya harus membalikkan baskomnya terlebih dahulu.” Buddha berkata, “Benar, sifatmu saat ini bagaikan baskom itu.” “Mulanya engkau sangat murni dan bersih, bagai baskom berisi air bersih yang bisa diminum.” “Hatimu pada mulanya sangat bersih, mengapa kau harus membohongi orang?” “Ini berarti pikiranmu sudah tidak bersih.” “Engkau bisa berbohong, berarti pikiranmu telah tercemar, bagai air kotor di dalam baskom tadi, tidak dapat lagi digunakan.” Rahula menjawab,”Tetapi saya sudah membuang airnya, saya mau berubah.” Buddha berkata, “Benar, engkau telah membuang airnya, engkau telah membuang airnya, tetapi baskomnya terbalik, engkau tidak dapat mengisinya.” “Artinya, jika engkau tidak sungguh-sungguh bertobat, tidak membangkitkan rasa malu, dan tidak segera membersihkan batin, maka bagai ember yang terbalik itu, tidak dapat diisi oleh air bersih.” “Meskipun sudah dibalikkan kembali, jika tidak dibersihkan, air yang diisikan kembali pun tak dapat digunakan.” “Jadi, engkau harus sungguh-sungguh bertobat.” Rahula menundukkan kepala dan berintrospeksi.
Dengan penuh rasa bertobat, dia berkata kepada Buddha, “Yang Dijunjung, meski aku membohongi orang dengan berkata tidak ada saat Yang Dijunjung adadan berkata ada saat Yang Dijunjung tidak ada, tetapi aku hanya merasa itu menyenangkan, aku sama sekali tidak berniat jahat.” Buddha berkata, “Meski tidak berniat jahat, tetapi engkau telah memupuk kebiasaan buruk.” tetapi engkau telah memupuk kebiasaan buruk.” “Ketahuilah, sekali engkau berbohong, kelak saat orang lain bertemu denganmu, dia tak akan percaya ucapanmu.” “Saat kau bilang Aku tak ada, mereka akan tahu bahwa Aku ada.” “Ucapanmu akan selalu dianggap terbalik.” “Ibarat tangan, sisi yang satu disebut telapak tangan, sisi yang lain disebut punggung tangan.” “Keduanya memang sama-sama tangan, hanya saja berlainan sisi.” “Punggung tangan tidak dapat memegang benda.” “Telapak tangan baru bisa memegang benda.” “Sama-sama bagian dari tangan, tetapi fungsinya berbeda.” “Demikian pula, kau berkata bahwa kau tidak memiliki niat buruk, tetapi kau bagaikan membalikkan tangan sehingga tidak bisa memegang benda.” Pada saat itu Rahula pun sadar. “Kini aku sudah tahu.” “Aku tahu bahwa pikiran harus dikendalikan.” “Aku tidak akan berbohong lagi dan akan menghindari perbuatan salah.” Rahula akhirnya memperbaiki diri
Inilah cara Buddha mendidik Rahula. Buddha membimbing semua makhluk bagai mendidik putra-Nya sendiri, Rahula. bagai mendidik putra-Nya sendiri, Rahula. Beliau memandang semua makhlukbagai anak tunggal-Nya. Karena itu, kita disebut anak Buddha. Meski kita menyebut diri sebagai anak Buddha, kita tidak seharusnya mengulangi kesalahan, menutupi kesalahan, atau tidak mau bertobat secara terbuka. atau tidak mau bertobat secara terbuka. Jika demikian, kita tidak akan dapat berlapang dada. Jika kita tidak mampu berlapang dada, maka kita tak dapat merangkul segala sesuatu. Tadi kita sudah membahas bahwa jika hati lapang, dunia terasa luaskarena kita dapat merangkul semua makhluk. Jika kita menutupi kesalahan, maka seharusnya seperti yang dikatakan orang, “Jika tidak ingin orang lain tahu kesalahan kita,maka jangan lakukan kesalahan.” Meski kita tidak mau mengatakan kesalahan kita, apakah orang lain tidak tahu? Jika orang lain membicarakannya di belakang kita, kita juga merasa khawatir
Kita khawatir bertemu orang yang kita kenal, khawatir kesalahan kita diketahui orang lain, lalu disebarkan. Dengan begitu, hati kita akan semakin sempit. Hati kita tidak bisa lapang dan terbuka. Jika kita ingin memiliki hati yang lapang, kita harus memiliki rasa maludan bertobat secara terbuka. Dengan hati lapang, barulah dunia terasa luas dan kita mampu merangkul semua makhluk. Kita juga harus berpikiran murni. Dengan pikiran murni, barulah kita bisa tulus tanpa gangguan. Rahula mulanya memiliki hati yang murni. Jika dia dapat memperbaiki diri, dia akan kembali pada kemurnian anak kecil. Jadi, pikiran yang murni adalah kebajikan dan keindahan yang paling tulus. Yang terbaik dan terindahadalah pikran tanpa noda. Jadi, saat menghadapi orang atau masalah, kita harus sangat tulus. Kita bukan hanya tulus di hadapan rupang Buddha. Jika kita memandang semua orang denganhati Buddha, maka semua orang adalah Buddha. Terhadap setiap orang, kita harus tulus dan penuh rasa hormat. Di dalam pikiran kita harus selalu ada sila. Kita harus mawas diri. Dalam menghadapi orang dan masalah, pikiran kita tidak menyimpan kepalsuan, inilah orang yang benar-benar memiliki rasa malu dan pertobatan. Jadi, kita harus memiliki rasa malu dan mengakui kesalahan yang telah kita perbuat. dan mengakui kesalahan yang telah kita perbuat
Jika kita dapat sungguh-sungguh bertobat atas segala kesalahan masa lalu kita, maka kita tidak akan mengulangi kesalahan. Jangan berkata, “Saya sudah pernah bertobat, saya sudah pernah mengaku.” Namun, jika kembali mengulangi kesalahan, berarti Anda belum menyesal. Jadi, pengakuan harus dibarengi penyesalan. Pengakuan adalah mengakui masa lalu, yakni bertekad memperbaiki kesalahan, sedangkan penyesalan adalah tekad untuk berlatih di masa depan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ini sangat penting. Dikatakan, “Mengakui kesalahan masa lalu,menyesal dan bertekad tidak mengulangi.” Dengan mempraktikkan pertobatan seperti ini Dengan mempraktikkan pertobatan seperti ini Dengan mempraktikkan pertobatan seperti ini dan senantiasa menjaga pikiran, maka bukan hanya akan mengikis karma buruk. Berhubung sudah menyadari kesalahan masa lalu, kita harus menerima akibatnya dengan ikhlas. Kelak, kita jangan lagi mengulanginya. Dengan begitu, karma buruk akan lenyap. Jadi, pertobatan dapat mengikis karma. Bukan hanya itu. Perhatikan baik-baik. Jangan berkata, “Saya sudah bertobat, mengapa hal yang buruk masih terjadi pada diri saya?” Semua yang sudah berlalu harus kita terima akibatnya dengan ikhlas, tetapi jangan langi mengulangi kesalahan itu. Dengan begitu, karma buruk akan lenyap. Dengan demikian, selain dapat mengikis karma buruk karena tidak lagi melakukan kesalahan, kita juga akan menumbuhkan pahala yang tidak terhingga. Kita juga dapat membangun kebodhian yang tiada banding. Arti dari membangun di sini adalah mengakar ke bawah dan berkembang ke atas. Kualitas diri kita haruslah mencapai jalan Bodhi yang tiada banding. Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddhaharuslah sepenuh hati. Memperlakukan setiap orang haruslahdengan lapang dada. Jika ada suatu masalah, janganlah kita bertikai atau perhitungan. Jika dapat mundur selangkah,dunia akan terasa luas
Suatu ketika, saat Buddhaberada di Taman Anathapindada, Beliau bercerita tentang peperangan antara Dewa Sakra dan asura. Di alam surga juga ada asura. Asura adalah makhluk yang selalu mencari masalah. Karena itu, Dewa Sakra berperang dengan asura. Saat itu, kekuatan Dewa Sakra tidak sebesar asura itu. Karena itu, dia mundur. Mengetahui kekuatannya tidak cukup, dia memilih untuk segera mundur. Saat Dewa Sakra memilih mundur, pengawalnya segera memacu kereta kuda sehingga berlari kencang. Kemudian, dari jauh Dewa Sakra melihat ada sarang burung garuda di atas pohon. melihat ada sarang burung garuda di atas pohon. Di dalam sarang yang besar ituterdapat dua butir telur. Kita tahu bahwa burung garuda sangat besar. Sayapnya mampu menutupi matahari dan bulan. Sarangnya pun sangat besar. Di dalamnya ada dua butir telur. Dewa Sakra segera meminta kusirnya untuk menghentikan kereta. “Jangan bergerak maju lagi.” “Jika kita terus maju, sarang burung itu akan jatuh dan telur di dalamnya akan pecah.” “Kita tidak bisa terus bergerak karena akan mengguncang sarang burung, dan jika sarang burung itu jatuh, telur di dalamnya akan pecah.” “Ini berarti kita mencelakai dua nyawa.” Setelah berhenti, Dewa Sakra berkata, “Berhubung tidak bisa bergerak maju, maka kita berbalik saja.” Namun, di arah sebaliknya, ada pasukan asura sedang mengejar. Bagaimana? Dewa Sakra memilih berkorban demi menyelamatkan dua nyawa burung itu. Jadi, dia memilih untuk tetap berbalik. Saat Dewa Sakra memilih mundur tadi, para asura bergerak mengejar
Namun, saat Dewa Sakra memilih berbalik, para asura malah terkejut. Mereka mengira Dewa Sakra memiliki siasat. “Sebelumnya dia mundur karena tidak cukup kuat, tetapi sekarang malah berbalik, dia pasti mendapat tambahan kekuatan.” Jadi, para asura malah takut dan segera mundur. Para asura pergi dan istana langit pun aman. Para dewa bisa memasuki istana dengan aman. Setelah menceritakan kisah ini, Buddha berkata kepada para bhiksu, “Demi menyelamatkan dua butir telur, Dewa Sakra rela memilih untuk berkorban.” “Dengan cinta kasih yang besar, beliau rela mengambil risiko dan menempuh bahaya. “Demi menyelamatkan makhluk lain, beliau tidak memedulikan nyawanya sendiri.” Beliau memegang teguh kebenarantanpa peduli nyawa sendiri. Demi menjunjung kebenaran, beliau mengesampingkan keselamatan diri. Keluhurannya ini malah membuat para asura lari ketakutan. Saudara sekalian, kita harus meneladani hal ini. Di dalam batin kita juga sering terjadi pergumulan antara kebaikan dan kejahatan. Jika kita dapat mengembangkan sedikit kebaikan, maka kejahatan akan berkurang. Jadi, kita harus memiliki rasa maludan bertobat secara terbuka. Ini adalah kekuatan bagi kita. Harap semua selalu bersungguh hati, mawas diri, dan tulus.