Sanubari Teduh-306-Setulus Hati Melenyapkan Kekeliruan
Saudara se-Dharma sekalian, sudahkah kita menjaga pikiran dengan baik? Sudahkah kita membersihkan noda masa lalu? Jika sudah, apakah kita sudah mempertahankannya? Ini sangatlah penting. Ini adalah pintu pertama dalam pelatihan diri. Jadi, jika kita dapat sungguh-sungguh menjaga pikiran yang murni, inilah yang disebut pengakuan dan penyesalan. Menyesal berarti bertekaduntuk membina masa depan, mengaku berarti memperbaiki masa lalu. Kesalahan masa lalu harus kita hilangkan seluruhnya. Menyesal berarti kita bertekad untuk sungguh-sungguh berlatih di masa depan. Jika kita tidak berlatih dengan baik, kita tetap akan mengulangi kesalahan. Jadi, jika kita selalu memiliki hati yang penuh pertobatan ini, maka kita tidak akan mengulangi kesalahan masa lalu. Dengan demikian, tidak akan ada lagi penyesalan yang sia-sia. tidak akan ada lagi penyesalan yang sia-sia. Kita sering mengatakan bahwa hukuman terbesar manusia adalah penyesalan
Setelah melakukan baru menyesal, itu disebut menyesal kemudian. Jika semangat penyesalan ini kita letakkan di awal, maka tidak akan ada penyesalan di kemudian hari karena kita membuat kesalahan. Tidak akan. Jadi, dengan adanya semangat pertobatan di awal,seumur hidup tak akan ada penyesalan. Dengan begitu, kita akan tenang dan damai. Saya teringat lansia berusia 104 tahun di Jiaoxi. Dia meninggal dengan tenang dan damai karena seumur hidupnya lansia ini selalu berlapang dada dan berpikiran murni. Pada usia 88 tahun,dia mulai menjadi relawan daur ulang. Dia menjalankannya dengan tenang dan damai. Saat anak cucunya sedang berkumpul, dia pergi begitu saja dengan tenang. Lihatlah, bukankah hidupnya sangat damai? Seumur hidupnya tiada penyesalan, tiada berbuat kesalahan, hanya terus berlatih dengan semangat. Orang zaman sekarang mungkin berkata, “Saya sudah berumur, saya ingin pensiun, ingin bersantai-santai, dan lain-lain.” Lihatlah Bodhisattva lansia tadi. Pada usia 83 tahun dia baru mulaibergabung dengan Tzu Chi sebagai donatur. Dia menghemat pengeluaran untuk membantu saya membangun RSdemi menolong orang. Begitulah dia mulai bergabung. Saat bertemu orang, dia selalu berceritatentang Tzu Chi
Pada usia 88 tahun,dia mulai menjadi relawan daur ulang. Tiada penyesalan dalam hidupnya. Dengan begitu, hidupnya sangat damai. Sulit untuk terlahir sebagai manusia. Di dalam enam alam kehidupan, sungguh sulit untuk terlahir di alam manusia. Terlahir dengan tubuh manusia dengan enam indra yang lengkap dan pikiran yang sehat juga tidak mudah. Kini kita juga telah mendapatkannya. Namun, dapat bertemu Dharma lebih sulit. Kita juga telah mendapatkannya. Kita dapat memasuki pintu ajaran Buddha dan mempraktikkan Jalan Bodhisattva, berarti kita sangatlah penuh berkah. Karena itu, kita semua harus berpuas hati. Kita harus menghargai berkah. Karena itu, kita harus menciptakan berkah karena kita telah memperoleh tubuh manusia yang sulit didapat dan telah mendapat Dharma yang langka. Kini kita dapat berjalan sesuai Dharma ini. Karena itu, kita harus sangat menghargainya. Sebelumnya kita sudah membahas bahwa kita harus bertobat secara terbuka
Jika memiliki kesalahan, kita harus membangkitkan ketulusan untuk mengakui kesalahan kita. Salah tetap salah, tidak benar ya tidak benar. Tidak hanya di hadapan rupang Buddha, kita juga harus bertobat secara terbuka di hadapan orang lain. Bertobat di hadapan Buddha tidaklah cukup karena Buddha sudah wafatlebih dari 2.000 tahun lalu. Kini yang kita jadikan objek penghormatan hanyalah ukiran rupang-Nya. Kita memang menghormati Buddhaseakan Beliau masih ada. Ini tidak salah. Kita tetap membangkitkan rasa hormat bagaikan Buddha masih berada bersama kita. Namun, dalam hal pertobatan, bagaimana pun, rupang Buddha hanyalah ukiran, tidak bisa mendengar. Sebagai manusia, kita cenderung lebih mudah menyadari kesalahan besar, sebaliknya sering melakukan kesalahan kecil. Jadi, kita harus mengakui tabiat buruk dan berbagai kesalahan kecil yang sering kita lakukan di hadapan orang lain. Di zaman Buddha, setengah bulan sekali anggota Sangha membacakan sila Pratimoksa. Semua orang akan berkumpul dan menyatakan pertobatan secara terbuka atas kesalahan yang diperbuat selama setengah bulan. Jika kesalahan tidak diutarakan, maka orang lain boleh mengingatkan. maka orang lain boleh mengingatkan.
Buddha ingin kita tidak menutupi kesalahan. Jika kita menutupi kesalahan, maka meski kini batin kita sudah dibersihkan dengan tidak mudah, tetapi tabiat buruk yang diulang dan ditutupi akan membuat noda dan kegelapan batin kembali terpupuk. Karena itu, setengah bulan sekali,Sangha mengulang sila Pratimoksa dan menyatakan pertobatan. Mengikuti teladan ini, kita semua juga hendaknya bertobat. Pertobatan harus dilakukan secara terbuka dengan tulus. Berbuat kesalahan tentu menyedihkan. “Mengapa saya sering berbuat salah?” “Saya ingin berubah, tetapi mengapa masih berbuat salah?” Ini sungguh menyedihkan. Ingin berubah, tetap sangat sulit dan tidak bisa berubah. Ini sungguh menyedihkan. Karena itu, dalam kitab suci sering dikatakan tentang “bertobat dengan penuh kesedihan”. Kita sering melihat kalimat ini. Jadi, bertobat secara terbuka merupakan sebuah Dharma. Bagaimana kita melatih diri? Jika tidak melenyapkan noda batin, tidak benar-benar berubah, dan tidak bertobat, maka jalan ke depannya akan semakin sulit ditempuh
Jadi, jika kita ingin mempraktikkan Dharma pertobatan, kita harus terlebih dahulu merapikan penampilandan menghormat kepada rupang Buddha. Ini adalah sebuah metode. Apakah kita sudah benar-benar bertobat? Langkah pertama adalah memperbaiki penampilan dan sikap kita. kita harus berpenampilan patut. Saat menghormat kepada Buddha, segala tindakan kita tidak boleh sembaranganatau sembrono. Lihatlah diri kalian sendiri. Saat akan memasuki aula setiap pagi, jubah kalian begitu rapi. jubah kalian begitu rapi. Semua orang berbaris dengan teratur. Barisan harus rapi. Ini juga menunjukkan rasa hormat. Saat berdiri atau menghormatdi hadapan rupang Buddha, kita harus menggunakan hati yangpenuh rasa hormat. Dengan pandangan penuh rasa hormat, kita sungguh-sungguh bersujuddi hadapan rupang Buddha. Jika kita memandang rupang Buddhadengan hati yang tulus, rupang Buddha akan terlihat bagai tersenyum. Jka kita tidak memiliki ketulusan, hanya tubuh saja yang menghormat mengikuti gerakan orang lain, sedangkan pikiran memikirkan hal lain atau entah mengembara ke mana, ini berarti pikiran tidak terfokus
Jika pikiran tidak terfokus, mana mungkin ada rasa hormat dan ketulusan? Jadi, kita harus memiliki rasa hormat dan ketulusan. Selain penampilan harus patut dan cara berdiri harus tegap, kita juga harus memandang rupang Buddha dengan hati penuh ketulusan dan sukacita. Jika hati kita penuh sukacita, rupang Buddha juga akan terlihat sukacita. Jika hati kita penuh ketulusan, Buddha juga akan bersukacita. Inilah cara kita menyatakan pertobatan. Sikap dan penampilan kita harus patut dalam memberi penghormatan. Rasa hormat harus timbul dari dalam hati. Berkat adanya jalinan jodoh, setiap pagi kita bisa berkumpul di tempat ini setiap pagi kita bisa berkumpul di tempat ini untuk berlatih bersama, maka kita harus membangkitkan rasa hormat untuk menghargai jalinan jodoh ini dan menghormati ladang pelatihan kita. Kita harus memiliki pemikiran seperti ini. Jadi, kita harus berdoa dengan setulus hati. Jika kita dapat memahami jalinan jodoh yang baik ini, jika saat kita memberi hormat pada Buddha kita dapat membangkitkan pikiran bahwa semua ini adalah berkat berbagai jalinan jodoh, maka coba bayangkan, kita akan dipenuhi rasa syukur. Kita bersyukur atas tubuh pemberian orang tua, bersyukur atas asuhan orang tuayang membuat kita sehat lahir batin dan mengizinkan kita meninggalkan keduniawian, juga bersyukur atas segala jalinan jodohyang mendorong pencapaian kita sehingga dapat memasuki pintu Buddha
Kita bersyukur kepada semua orang yang telahmendorong pencapaian kita dan membuat kita meyakini Tiga Permata, memasuki Dharma yang benar, dan berjalan di Jalan Bodhisattva. Dengan memiliki pemikiran seperti ini, Dengan memiliki pemikiran seperti ini, secara alami kesungguhan akan bangkit. Jalinan jodoh ini tidak datang dengan mudah. Berhubung telah memiliki banyak jalinan jodoh baik, mengapa kita tidak sungguh-sungguh? Sungguh-sungguh berarti sangat tulus dan sangat penuh rasa hormat. dan sangat penuh rasa hormat. Dengan sikap yang penuh ketulusan ini, kita berdoa sepenuh hati. Inilah yang harus kita miliki setiap hari. Di dalam Gatha Pendupaan terdapat ungkapan “berkat ketulusan yang mendalam”. terdapat ungkapan “berkat ketulusan yang mendalam”. Ini adalah salah satu hal terpenting saat memberi hormat kepada Buddha. Ini adalah pintu pertama. Jika kita dapat melewati pintu ini, barulah kita menjadi murid Buddha yang sebenarnya. Jika tidak mampu melewati pintu ini, jika kita tidak memiliki ketulusan, dan hanya menggunakan label “umat Buddha”, maka ini tiada gunanya
Jadi, kita harus memiliki hati yang sangat tulus. Bukan hanya terhadap rupang Buddha, tetapi terhadap semua orang. Terhadap masalah, orang, dan segala sesuatu, kita tetap harus memiliki rasa hormat. Kita harus menghadapi orang dan hal dengan tulus. Inilah sikap batin yang harus kita miliki. Intinya, kita sendiri harus ingat untuk bersungguh hati. Saat memberi hormat kepada Buddha atau dalam segala aktivitas sehari-hari, kita harus memperhatikan setiap pikiran yang muncul. Artinya, kita harus memperhatikan setiap bersit pikiran kita dalam menghadapi orang dan masalah atau saat berada di hadapan rupang Buddha. Pikiran kita inilah Pikiran kita inilah yang membedakan hati kita dengan hati Buddha. Saat berada di hadapan rupang Buddhaatau saat melakukan apa pun, meski tubuh kita ada di sana, tetapi adakalanya pikiran kita adakalanya memikirkan hal lain dan entah mengembara ke mana. dan entah mengembara ke mana. Ini berarti pikiran tidak terfokus. Pada saat-saat itu, pada saat kita berada di hadapan Buddha, kita harus membuang segala pikiran sesat
Jangan biarkan pikiran kita berkeliaran. Jangan biarkan kerisauan bangkit. Kita harus sangat tulus. Batin kita harus bersih dan tulus. Inilah yang disebut rasa hormat dalam batin. Ini adalah sebuah cara. Berikutnya kita akan membahas dua jenis pikiran. Untuk itu, terlebih dahulu kita harus memiliki rasa hormat di dalam diri. Dengan rasa hormat yang sungguh-sungguh, barulah tampak ketulusan di luar. Rasa hormat harus ada luar dalam. Rasa hormat harus ada luar dalam. Kita harus mengingat Dharma para Arya. Hati yang hening dan jernih, tekad yang luas dan luhur, inilah kondisi para Arya. Hanya para Arya atau orang suci yang memiliki batin yang hening dan jernih serta tekad yang luas dan luhur. Jadi, kita harus bersungguh-sungguh. Di dalam kitab suci ada sepenggal cerita. Pada zaman Buddha, di Vihara Hutan Bambu di Rajagrha, ada seorang yang sangat miskin. ada seorang yang sangat miskin. Dia sangat kekurangan dan membuat orang yang melihat merasa iba. dan membuat orang yang melihat merasa iba
Namun, meski sangat miskin, orang ini pernah mendengar ajaran Buddha. Dia memiliki keyakinan murni terhadap ajaran Buddha. Setelah mendengar ajaran Buddha, dia memiliki keyakinan yang mendalam dan teguh. Dia sangat yakin dengan ajaran Buddha. Berkat keyakinan di dalam hatinya, dia pun menjalankan sila dengan murni. dia pun menjalankan sila dengan murni. Dia mampu menjalankan sila murni. Meski kesempatannya mendengar ajaran Buddha sangat sedikit, tetapi dia selalu berusaha untuk mendengarnya. Namun, kedatangan dan kepergian Buddha tidak tentu. Dia sangat miskin, kesempatannya mendengar Dharma juga kurang. Namun, dia selalu mengulang yang telah didengarnya. Satu kalimat yang sama yang diucapkan Buddha Satu kalimat yang sama yang diucapkan Buddha akan selalu diulang dan dihafalnya begitu dia mendengarnya. Jadi, dia mengerti untuk berdana. Kemiskinan adalah akibat benih karma masa lalu, yaitu karena tidak berdana dan menciptakan berkah. Karena itu, terhadap kemiskinannya sendiri, dia sangat memahami. Karena itu, saat mendapat sedikit hasil dari mengemis atau bekerja, dari mengemis atau bekerja, dia selalu menyisihkan sebagian untuk berdana. Meski tidak banyak, tetapi dia telah berusaha. Nilainya tentu tidak berbeda. Dia memperoleh buah dari empat perbuatan baiknya. Setelah mendengar ajaran Buddha, dia bisa membangkitkan keyakinan
Setelah membangkitkan keyakinan, dia bisa menjalankan sila. Selain menjalankan sila, dia bisa menghafal dan melantunkan Sutra. Selain menghafal dan melantunkan Sutra, dia bisa berdana untuk membantu sesama. Empat hal ini membuatnya terlahir di Surga Trayastrimsa membuatnya terlahir di Surga Trayastrimsa setelah meninggal. Berhubung makhluk surga berusia panjang, maka para dewa di sana dapat melihatnya terlahir dan datang ke alam surga. Para dewa sangat menghormatinya. Mereka semua melapor kepada Dewa Sakra bahwa ada orang yang terlahir kembali di Trayaystrimsa dan membuat bangkit rasa hormatmereka yang melihatnya. Dewa Sakra berkata, “Aku sudah tahu.” “Aku sudah tahu lebih dahulu bahwa orang itu akan terlahir di Trayastrimsa.” “Aku sudah tahu karena meski hidup miskin di alam manusia, karena meski hidup miskin di alam manusia, orang ini menaruh keyakinan pada ajaran Buddha.” “Dia mampu menjalankan sila.” “Dia sering melantunkan ajaran Buddha.” “Di dalam kondisi yang serba kekurangan, dia juga bisa berdana”
Jadi, karena menaruh hormat pada Tiga Permata, keyakinannya pun timbul sehingga dia dapat menjalankan sila, dapat melantunkan ajaran Buddha, dan dapat berdana dengan tulus. Semua ini membuatnya terlahir di alam surga. Semua orang yang mendengar hal ini membangkitkan rasa hormat. Saudara sekalian, tidaklah terlalu sulit untuk terlahir di surga. Memasuki pintu ajaran Buddha juga cukup mudah. Asalkan Anda bisa membangkitkan rasa hormatsaat mendengar ajaran, menjunjung sila dalam kehidupan sebagai manusia, tidak pernah meninggalkan Dharma, dan bersedia untuk membantu orang lain, maka empat hal ini dapat membuat Andaterlahir di surga. Terlebih lagi, kini kita berada di jalan benar dan dapat mendengar Dharmasebagai Bodhisattva dunia, bayangkan, bukankah kita begitu penuh berkah? Karena itu, kita semua harus ingat untuk bertobat agar tidak menyesal kemudian. Harap semua selalu bersungguh hati.