Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-309-Membuka Mata Hati

Saudara se-Dharma sekalian, dalam mendalami ajaran Buddha,kita harus senantiasa tahu malu dan memiliki hati yang cemerlang. Kita harus bisa membedakan yang benar dan salahtanpa meninggalkan penyesalan. Untuk itu, dalam keseharian, kita harus menjaga hati dengan baik. Hati kita harus senantiasa mengenal rasa malu. Sebelumnya kita mengulas tentangbertobat dan tahu malu. Kita harus memiliki hati yang bertobatdan tahu malu. Di dalam hati kita harus ada rasa malu. Di dalam hati kita harus ada rasa malu. Di dalam hati kita harus ada rasa malu. Saat kalah dari orang lain, kita harus lebih berusaha keras. Janganlah kita hanya bersikap rajin saat ada orang melihatnya. Saat tidak ada orang yang melihat, kita lalu bersikap malas-malasan. Jangan kita hanya bersikap jujur saat ada orang melihatnya. Saat tidak orang yang melihat, kita lalu bersikap licik. Janganlah kita demikian. Baik di depan maupun di belakang orang, sikap kita harus selalu sama. Kata “malu” dalam aksara Tionghoa amat menarik, yakni terdiri atas aksara “telinga” dan “hati”. Setelah mendengar ajaran kebenaran, kita harus menyerapnya ke dalam hati.

 Janganlah kita hanya mendengarnya sambil lalu saja, melainkan harus menyerapnya ke dalam hati. Jika hari ini kita tidak mengingat apa yang didengar kemarin, itu berarti kita tidak menyerapnya ke dalam hati. Setelah mendengar ajaran kebenaran, kita harus menyimpannya di dalam hati. Hati kita dan ajaran kebenaran harus senantiasa menyatu. Dengan demikian, barulah hati kita dapat lurus. Dengan bersikap sama baik di depanmaupun di belakang orang, barulah mata batin kita dapat jelas. Jika tidak, maka mata batin kita akan menjadi buta. Tindakan yang membabi buta sangatlah menakutkan. Karena itu, mata batin kita harus sangat jelas. Untuk memilki mata hati yang terang, kita harus menyerap Dharma ke dalam hati. Dengan memiliki prinsip kebenaran di dalam hati, barulah arah kita tidak akan menyimpang. Kita harus memiliki mata hati yang terang agar dapat membedakan yang benar dan salah. Selama sesuatu itu benar, kita harus melakukannya dengan giat. Hal yang salah jangan sedikit pun kita lakukan. Jadi, kita harus dapat membedakanyang benar dan salah

 Dengan melakukan hal yang sudah sepatutnya, maka kita tidak akan menyesal di kemudian hari. Jika melakukan segala sesuatu dengan rela, maka kita tidak akan berkeluh kesah. Ini semua bergantung pada pikiran kita. Itulah cara kita untuk menciptakan berkah. Dengan menciptakan berkah bagi masyarakat, setiap hari kita akan dipenuhi sukacita. Dengan menciptakan berkah bagi masyarakat, setiap hari kita bebas dari kerisauan. Selain itu, kita juga harus senantiasa menjadi guru yang tak diundang bagi sesama. Saat ada orang membutuhkan bantuan kita, kita harus segera membantu mereka. Di Taichung ada seorang nenekyang dahulu merupakan panglima tertinggi. Saat masih muda, dia memiliki karier yang baik di Tiongkok. Setelah lulus dari Universitas Tsinghua, dia bergabung dengan akademi militer. Dia bekerja hingga menjadi komandan. Bapak Chiang Kai-shek-lahyang menjadi saksi pernikahannya. Setelah pindah ke Taiwan, banyak perubahan terjadi dalam hidupnya. Saat berusia paruh baya, suaminya meninggal dunia. Kehidupan jasmaninya terus berubah. Dia sudah menginjak usia 80 tahun, Dia sudah menginjak usia 80 tahun, otaknya masih sangat jernih, tetapi kondisi fisiknya sudah lemah. Seluruh rumahnya penuh dengan sampah. Dia menderita penyakit dan sudah berusia lanjut

 Rumahnya juga dipenuhi tumpukan sampah. Relawan Tzu Chi menjadi guru tak diundang. Mereka terus mencurahkan perhatian dan berkomunikasi dengannya. Mereka ingin membantunya membersihkan rumah. Mereka menghabiskan waktu hampir satu bulan untuk membina hubungan baik dengannya agar memperoleh kepercayaan darinya. Hingga suatu hari, dengan penuh kebijaksanaan,mereka berkata, “Lapor, Komandan.” “Besok Presiden Chiang ingin bertemu Anda.” “Beliau memerintahkan kamiuntuk membersihkan rumah Anda.” Saat itu, sang nenek memberi hormat dan berkata, “Presiden akan kemari.” “Sungguh baik kalian datang membantu sayamembersihkan rumah.” Demikianlah relawan Tzu Chimulai membantunya membersihkan rumah. Mereka mengeluarkan empat truk sampah sehingga rumah sang nenek menjadi bersih. Mereka membuang barangyang sudah tidak terpakai dan menyusun kembali barang-barang yang masih dapat dipakai. Rumah itu lebih terlihat seperti rumah baru. Nenek ini merawat seorang cicit, tetapi tidak bersekolah meski sudah berusia hampir 10 tahun. Kita kembali mencari cara untuk membantunya. Para guru Asosiasi Guru Tzu Chi dan para relawan mencari cara agar anak itu dapatmendengar pelajaran untuk mengejar ketinggalan dari anak lain. Kemudian, mereka mengurus surat kependudukanagar dia dapat masuk sekolah

 Relawan juga memperhatikan sang nenek setiap hari. Selain itu, para relawan setiap hari bergantian mengantar anak ini ke sekolah. Para guru juga memberinya pelajaran tambahan. Dengan demikian, bukankah kita menciptakan berkah di masyarakatdan membawa kebahagiaan? Kita membantu nenek itu membersihkan rumah dan semua orang sangat gembira. Setiap orang menjadi bagai guru yang tak diundang dan bersumbangsih tanpa pamrih. Sesungguhnya, apa yang kita harapkan dari nenek mantan komandan itu? Tidak ada. Kita hanya berharap dia dapat hidup tenang, dapat tersenyum, dan cicitnya dapat bersekolah. Cicitnya juga sangat pandai. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus mempraktikkan Empat Pikiran Tanpa Batas. Cinta kasih tanpa penyesalan,welas asih tanpa keluh kesah, sukacita tanpa kerisauan,keseimbangan batin tanpa pamrih. Inilah yang harus selalu diingat oleh insan Tzu Chi. diingat oleh insan Tzu Chi. Jadi, di dalam syair pertobatan diingatkan tentang rasa malu. Mata Dharma mampu melihat segalanya.  Bayangkan,  dalam kehidupan kita sehari-hari, jika di dalam hati kita tak ada rasa malu, lalu melakukan kesalahan tanpa diketahui orang, kita pun harus tetap percaya bahwa tanpa kita sadari masih ada yang melihat kita, yaitu mata Dharma para Buddha dan Bodhisattva. Kita harus tahu bahwa ke mana pun kita pergi, mata para Buddha dan Bodhisattva mengkuti kita

 Bukan hanya para Buddha dan Bodhisattva, mata para dewa pun demikian. Mata mereka telah bebas dari nafsu dan tabir ilusi. Baik para Buddha, Bodhisattva, maupun para dewa, matanya sangat tajam, tidak seperti kita manusia awam. Mata kita bagai ditutupi tabir ilusi, bagai menderita katarak, tidak jelas saat melihat benda. Benda yang bagus terlihat tidak bagus. Yang tidak bagus malah terlihat bagus. Inilah yang terjadi jika mata hati kita tertutupi. Jadi, cara pandang kita sebagai makhluk awam mengandung ego dan kekeliruan. Sebaliknya, penglihatan para dewa sudah lebih suci dan bebas dari nafsu. Nafsu mereka sudah padam, batin mereka sudah suci, dan tabir ilusi sudah lenyap. Kegelapan batin sudah tidak ada lagi. Jadi, mata dewa dapat melihat jelas kesalahan kita. Mereka dapat melihatnya dengan jelas. Pepatah berbunyi, “Manusia berbuat, langit melihat.” Artinya sama. Dengan mata mereka, para dewa Dengan mata mereka, para dewa dapat melihat dengan jelas segala kesalahan yang kita lakukan, baik yang dilakukan terang-terangan maupun yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Karena itulah, orang zaman dahulu berkata, Saat kita berbisik dan berkata, “Mari mendekat, biar saya beri tahu,” “Mari mendekat, biar saya beri tahu,” saat kita menyebarkan gosip tentang orang lain, meski kita melakukannya dengan berbisik, tetapi telinga para dewa mendengarnya bagai suara petir yang sangat besar. Meski kita membicarakan orang laindengan suara kecil, sesungguhnya para dewa dapat mendengarnya sesungguhnya para dewa dapat mendengarnya dengan jelas bagai suara petir

 Jadi, jangan berpikir, “Saya hanya bersuara pelan dan hanya satu orang yang mendengarnya.” “Mengapa orang lain juga bisa mengetahuinya?” Jangan berpikir demikian. Dalam interaksi antarmanusia, meski kita hanya berbicara kepada satu orang, tetapi orang awam bisa khilaf dan menyebarkannya dengan cepat. Makhluk awam diliputi kegelapan batin. Selain itu, para dewa juga melihat kita. Terlebih lagi, para Buddha dan Bodhisattvayang telah suci dan bebas dari nafsu. Mata para Buddha dan Bodhisattva serta telinga Mereka sangatlah peka. Mereka mampu mendengar suara hati kita. Suara hati kita juga dapat menjangkau para Buddha. Demikian pula dengan para dewa. Demikian pula dengan para dewa. Jangan mengira kita berbicara cukup pelan. Para dewa mendengarnya dengan jelas. Jangan mengira saat kita melakukan sesuatu tiada orang yang melihat karena kondisi yang gelap. “Tidak ada yang melihat, saya melakukannya di tempat gelap.” Sesungguhnya, kesalahan yang dilakukansecara sembunyi-sembunyi juga tidak dapat membohongi hati nurani. Akan ada perasaan bersalah di dalam hati kita. Mata dewa dikatakan bagai listrik, bagai lampu yang menyala terang. Meski kita berbuat secara sembunyi-sembunyi, kita tak dapat membohongi hati nurani, mata para dewa pun tetap dapat melihatnya dengan jelas. Jadi, para Buddha selalu mengajarkan kepada kita untuk berkata jujur. Jangan mengira perkataan dalam hati kita atau yang kita ucapkan dengan suara pelan tidak akan berdampak apa-apa. Segala pikiran juga dapat menciptakan karma

 Segala tindakan juga dapat menciptakan karma. Inilah yang dimaksud segala pikiran dan tindakan kita diketahui oleh para Buddha dan dewa. Jadi, jangan berkata, “Saya tidak takut.” Sebagai makhluk awam,kita kadang tidak takut apa pun, seperti anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Saat kita memberi tahu sesuatu kepadanya, dia tidak takut. Begitulah anak nakal. Saat dinasihati, dia tetap tidak takut. Jangan berkata kita tidak takut. Hukum karma tetap berlangsung. Kita tidak bisa tidak waspada terhadap hukum karma. Kita harus takut akan hukum karma.  Saat kita melakukan kesalahan atau menciptakan berkah, baik terlihat maupun tidak, secara diam-diam ataupun secara terbuka, secara sembunyi-sembunyi ataupun secara terang-terangan, semuanya akan “dicatat”, karena di sekeliling kitabanyak makhluk yang terlihat ataupun tidak. Jangan mengira di siang haritak ada dewa atau setan. Ada. Bukankah saya pernah membahas bahwa setan, dewa, dan makhluk pelindung Dharma setiap saat ada di sekeliling kita? setiap saat ada di sekeliling kita? Saat kita membahas Sutra Ksitigarbha, saya ingat dengan jelas bahwa hal ini tercantum di dalam Sutra. Saya juga pernah membabarkannya. Makhluk yang terlihat ataupun tidakselalu “mencatat” perbuatan kita tanpa salah sedikit pun. Baik atau buruk, tiada yang tidak dicatat

 Kita sering membahas bahwa sebagaimana sebab atau benih yang ditanam, demikianlah buah dan akibat yang akan dituai. Semua akibat harus kita tanggung sendiri. Akibat perbuatan buruk harus diterima sendiri, buah perbuatan baik juga diterima sendiri. Jadi, kita harus selalu ingat bahwa di tempat segelap apa pun, para dewa, setan, dan makhluk lainnya selalu mengamati kita dan “mencatat” perbuatan kita tanpa ada yang kurang sedikit pun. Karena itu, kita harus sangat bersungguh hati. Kita harus percaya bahwa segala niat pikiran dan tindakan kita harus selalu kita jaga dan mengandung rasa malu. Ajaran kebenaran harus meresap ke dalam hati. Kita harus percaya “tiga inci di atas kepala ada dewa”. Kita harus percaya bahwa makhluk pelindung Dharma, setan, dan dewa selalu ada di sekeliling kita. Kita harus ingat semua ini. Setelah mendengar,kita harus mengingatnya dalam hati.  Segala yang kita lakukan, semuanya “dicatat”. Saat ajal menjemput, segala catatan perbuatan baik dan buruk kita akan sampai pada Raja Yama. Sulit bagi kita untuk mengelak. Jadi, segalanya bergantung pada pikiran dan perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari. Tidak peduli orang lain tahu atau tidak, kita hendaknya bertanya ke dalam hati sendiri. Kita seharusnya sudah memahami kebenaran ini. Jadi, sesungguhnya hati kita dan mata dewa adalah hal yang sama, yaitu hati nurani kita sendiri. Kita seharusnya sudah tahu hal ini. Jika kita berbuat jahat di dalam hidup ini Jika kita berbuat jahat di dalam hidup ini maka saat ajal tiba, kita akan melihat kondisi yang buruk. Jika ada orang yang penahmelakukan kejahatan berat, maka saat ajalnya tiba, kita akan melihatkondisi yang menakutkan. Setelah meninggal, wajahnya akan terlihat buruk. Dari sana kita tahu bahwa saat kesadaran terpisah dari tubuhnya, kesadarannya itu diseret oleh petugas neraka yang kejam. Kondisi itu tentu sangat menakutkan. Jadi, saya juga sering berkata bahwa jika saat seseorang meninggal wajahnya dipenuhi senyuman, berarti dia meninggal dengan tenang. Atas segala perbuatan atau kesalahan semasa hidupnya, dia sudah bertobat. Pertobatan adalah pemurnian. Ditambah lagi, banyak orang mendoakannya. Ditambah lagi, banyak orang mendoakannya. Saat itu kita dapat melihat wajahnya terlihat puas dan bahagia. Dia pergi dengan senyuman. Kita juga harus percaya bahwa jika kita sering menjalin jodoh buruk dengan orang, maka kita akan menderita saat ajal menjemput. Jadi, kita harus tahu bahwa segala kejahatan dan kebaikan memiliki buahnya masing-masing

 Karena itu, kita harus selalu bersungguh hati. Kita harus selalu ingat rasa malu. Kita harus selalu ingat rasa malu. Di dalam hati kita harus ada rasa malu karena para Buddha, Bodhisattva, dan para dewa tengah mengamati kita, terlebih lagi para makhluk di alam-alam lain, seperti setan di neraka dan sebagainya. Para dewa dan setan selalu “mencatat” perbuatan kita. Jangan mengira saat kita melakukan sesuatu, tiada orang yang melihat. Di dalam hati kita sendiri harus ada rasa malu. Dengan begitu, barulah kita dapat memiliki mata hati yang terang dan mampu membedakan yang benar dan salah. Yang sepatutnya dilakukan hendaknya kita lakukan. Dengan begitu, kita menciptakan berkah setiap hari. Dengan menciptakan berkah bagi masyarakat, setiap hari hati kita akan bebas dari kerisauan. Kita akan dipenuhi rasa sukacita. Dengan demikian, setiap hari kita akan berinisiatif membantu orang, menjadi guru yang tak diundang bagi sesama, dan dapat bersumbangsih tanpa pamrih. Demikianlah kehidupan kita seharusnya. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus berusaha dekat dengan hati Buddha. Kita harus selalu mengembangkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Dengan begitu, kita akan jauh dari kesalahan. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment