Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-308-Menyucikan Noda Batin, Bebas Dari Keluh Kesah Dan Kerisauan

Saudara se-Dharma sekalian, dalam mendalami ajaran Buddha,kita harus menaati sila. Jadi, kita hendaknya Beberapa kalimat ini bertujuan untukmenyemangati orang-orang. Jadi, kita harus menaati sila. Sila berfungsi untuk mencegah kitadari perbuatan buruk dan mendorong kita untuk melakukan kebaikan. Kita harus bisa memilih melakukan perbuatan baik dan dapat membedakan yang benar dan salah. Selama sesuatu itu baik, kita harusberusaha segenap hati dan tenaga untuk melakukannya. Kita juga harus berhati-hati dalam berbicara. Janganlah kita berbicara sembarangan. Sungguh, ucapan sangatlah penting. Sepatah kata dapat menjalin jodoh baikdengan orang lain dan juga dapat membimbing sesama untuk berjalan ke arah yang benar. Jadi, kita harus sangat bersungguh hati dalam berbicara. Selain itu, pikiran kita juga harus sangat murni. Kita harus senantiasa menghormati ajaran Buddha. Saudara se-Dharma sekalian, dengan demikian, kita tidak akan berkeluh kesah. Apa pun kondisi luar yang dihadapi, janganlah kita bekeluh kesah. Karena itu, kita sering berkatabahwa kita harus memiliki cinta kasih tanpa penyesalandan welas asih tanpa keluh kesah. Dengan demikian, baru kita dapat bebas dari noda batin dan tidak terpaku pada masa lalu.

 Segala yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Janganlah kita menyimpan noda batin di dalam hati. Apakah kalian masih mengingat penggalan ini? Kita harus selalu mengingat bahwa kehidupan jasmani ini sulit dipertahankan. Begitu ia rusak dan terurai, entah kapan tubuh ini bisa diperoleh kembali. Setiap hari terus berlalu. Tanpa disadari, dari masa kanak-kanak,kita bertumbuh menjadi remaja, dewasa, hingga paruh baya. Tanpa disadari, kita memasuki fase tua. Di dalam setiap fase rupa kita berbeda-beda. Inilah ketidakkekalan. Selain ketidakekalan jenis ini, ada pula ketidakkekalan hidup. Belum tentu kita dapat melewati semua fase itu. Belum tentu kita dapat melewati semua fase itu. Saat menjadi relawan di rumah sakit, kita sering melihat baik anak muda maupun lansia yang menderita penyakit ataupun meninggal. Kita sering melihatnya. Setelah meninggal dunia, apakah kita masih dapat terlahir sebagai manusia? Kita sering berkata bahwa sulit untuk terlahir sebagai manusia. Setelah terlahir sebagai manusia, apakah setiap orangdapat mendengar ajaran kebenaran? Setelah mendengar ajaran kebenaran, apakah mereka dapat mempraktikkannya di Jalan Bodhisattva? Sebelumnya kita sudah membahas bahwa kita harus membangkitkan dua jenis pikiran. Yang pertama adalah mengingat bahwa kehidupan jasmani tidaklah kekal. Inilah jenis pikiran yang pertama. Bagaimana dengan jenis pikiran kedua? Penggalan kalimat ini mengingatkan kepada kita bahwa tubuh kita ini didapat dengan tidak mudah. Ia sungguh didapat dengan tidak mudah. Setelah terlahir sebagai manusia, yang lebih sulit dan langkaadalah meninggalkan keduniawian. Selain terlahir sebagai manusia, kita juga harus mendengar ajaran Buddha. Selain mendengar ajaran Buddha, kita juga dapat meninggalkan keduniawian.    Meski sudah mendengar dan mendalami ajaran Buddha, kita juga hendaknya bertobat dan merasa malu

 Mengapa kita harus merasa malu? Meski sudah mendengar ajaran kebenaran, tetapi apakah kita sudah bertindak sesuai ajaran, berdisiplin, dan penuh tata krama? Apakah setiap tindakan kitasudah sesuai ajaran dan tata krama? Kita harus senantiasa membangkitkan rasa malu. Saat melihat pelatihan diri orang yang sangat baik, kita hendaknya berintrospeksi apakah kita sendiri sudah melatih diri dengan baik. Kita harus tahu malu. Kita harus merenung apakah kita sudah senantiasa tekun dan bersemangat? Ada tidak? Ada. Setelah mendengar, apakah kita memahaminya? Meski sudah mendengar Dharma setiap hari, Meski sudah mendengar Dharma setiap hari, Meski sudah mendengar Dharma setiap hari, Meski sudah mendengar Dharma setiap hari, apakah kita sudah mendalaminyadengan sepenuh hati? Saya sering berkata bahwa setelah mendengar Dharma, kita harus merenungkannya. Setelah mendengar sebuah ajaran,kita harus merenungkannya. Kita jangan hanya mendengar Dharmatanpa memahaminya, hanya terlihat berlatih, tetapi tanpa realisasi. Kelihatannya saja kita meninggalkan keduniawian. Apa tujuan kita meninggalkan keduniawian? “Tentu untuk melatih diri.” “Ada, saya ada berlatih.” Sudah melatih diri, tetapi tanpa hasil, karena kita hanya mendengar tanpa memahami. Meski mengaku sudah berlatih, tetapi karena tidak memahaminya, kita tak dapat menyatu dengan ajaran Buddha

 Ini yang disebut berlatih tanpa hasil, mendengar tanpa memahami. Meski sudah mendengar ajaran kebenaran, tetapi kita tidak memahaminya. Meski sudah melatih diri,tetapi kita tidak merealisasikannya. Apakah kita merasa malu atas hal ini? Apakah kita merasa malu atas hal ini? Tahu malu berarti tahu berintrospeksi. Jangan bermalas-malasan dan berbuat sesuka hati. Jika bermalas-malasan dan berbuat sesuka hati, itu berarti kita adalah orang yang tidak tahu malu. Sebagai orang yang tahu malu, kita harus senantiasa berintrospeksi diri. Orang lain melatih diri dengan sungguh-sungguh, apakah kita juga sama? Kita merasa malu karena tidak seperti orang lain dan tidak mengerahkan kekuatan semaksimal mungkin. Jadi, kita harus selalu bertanya pada diri sendiri.   Kita tidak dapat menyebarkan ajaran Buddha

 Saya sering berkata bahwakita harus merekrut Bodhisattva dunia dan lebih banyak berbagi ajaran Buddha dengan banyak orang. Kita harus mengajak orang untuk berbuat baik. Ini yang disebut menyebarkan ajaran Buddha. Artinya, membuat ajaran Buddha berkembang hingga setiap orang dapat mempelajari dan menerima ajaran Buddha. Inilah yang sering kita katakan, yaitu menggunakan aliran jernihuntuk menyucikan hati manusia. Apakah kita sudah membuka mata air jernih ini? Apakah kita sudah menyucikan hati manusia? Ini harus senantiasa kita tanyakan pada diri sendiri. Apakah kita sudah menyucikan tiga pintu karma kita? Tiga pintu karma meliputi tubuh, ucapan, dan pikiran. Apakah tubuh, ucapan, dan pikiran kitasenantiasa dijaga kemurniannya? Apakah tubuh kita melakukan kesalahan dan perbuatan jahat? Apakah kita bertutur kata keliru? Apakah kita sudah senantiasa melenyapkan noda batin? Kita harus senantiasa mengintrospeksi diri. Jika tidak, kita mungkin selalu berpikir, “Saya sudah meninggalkan keduniawian.” “Saya sudah melatih diri.” “Ini berarti saya sudah berada dalam kebaikan.” Kita sering bahwa meninggalkan keduniawianberarti menanam benih baik dan sudah melatih diri

 Dalam pelatihan diri ini, jika kita hanya mendengar tanpa memahami ajaran dan merealisasikannya, maka itu berati kita hanya tahu sebatas kulit. Kita hanya melatih tubuhagar bersikap layaknya seorang praktisi. jIka begitu, janganlah berpikir bahwa kita sudah berada dalam kebaikandan sudah melatih diri.  Kalimat ini berarti bahwa kita berasumsi sudah berada dalam ajaran kebaikan, dan merasa itu sudah cukup. dan merasa itu sudah cukup. Sesungguhnya tidaklah cukup. Apakah pelatihan diri kita hanya sebatas kebaktian di pagi dan malam hari? kebaktian di pagi dan malam hari? Jika kita demikian, bukankah itu berarti sia-sia kita menjadi anggota Sangha? Ini sungguh menyia-nyiakankesempatan kita untuk melatih diri. Sulit untuk terlahir sebagai manusia, sulit untuk mendengar ajaran Buddha, dan sulit untuk meninggalkan keduniawian, tetapi kita tidak menapaki Jalan Bodhisattva. Kita hanya berfokus pada pelatihan pribadi. Di vihara, kita melakukan kebaktiansetiap pagi dan malam. Apakah ini pelatihan diri yang sesungguhnya? Kita hanya mengikuti kebaktian pagi dan malam. Selain itu, apakah kita sungguh-sungguhmengikuti kebaktian tersebut? Pada saat kebaktian pagi dan malam, apakah tubuh dan pikiran kita sudah menyatu pada saat itu? Apakah kita sudah membangkitkanketekunan dan semangat? Ada tidak? Mungkin pikiran kita sudah melayang dan berkeliaran entah ke mana. Kita hanya berpakaian rapi dan datang ke aula setiap kebaktian pagi dan malam

 Hanya begitu saja. Di dalam penggalan ini dikatakan, jika begitu berarti sia-sia menjadi anggota Sangha. Kita menghabiskan waktu dalam wujud sebagai bhiksu-bhiksuni. Ini berarti kita mengecewakan yang kita hormati. Siapa yang kita hormati? Siapa yang kita hormati? Buddha, Dharma, dan Sangha. Kita ingin mempelajari ajaran Buddha. Setelah mendengar ajaran Buddha, karena tidak merenungkannya, kita menjadi tidak memahaminya. Selain itu, kita jugatidak mempraktikkannya secara nyata. Jika demikian, bukankah kita sangatbersalah kepada Sangha dan guru kita? Kita mengecewakan semua yang ktita hormati Kita mengecewakan semua yang ktita hormati karena berlatih dengan mementingkan diri sendiri. Meski tidak menciptakan karma buruklewat tubuh, ucapan, dan pikiran, tetapi kita hanya berlatih demi pencapaian pribadi. Jika demikian,maka sia-sia kita meninggalkan keduniawian. Saat upacara penahbisan untuk menjadi bhiksu-bhiksuni, kita selalu berucap, “Saya bertekad untuk membimbing semua makhluk.” Apakah kita sudah melakukannya? Apakah lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, kita sudah berupaya membimbing semua makhluk agar menuju jalan yang baik? Adakah? Kita harus senantiasa bertanya kepada diri sendiri.  Saudara sekalian, lewat penggalan teks ini kita mengetahui bahwa kita berkumpul di vihara untuk melatih diri. Kita juga sudah ditahbiskan

 Dari luar kita tampak taat,tetapi di dalam batin kita melanggar. Secara kasatmata, kita memang terlihat sedang melatih diri, tetapi di dalam hati kita atau di saat tidak ada orang yang melihat, apakah kita sungguh-sungguh mengikuti ajaran Buddha? Ini tidak terlihat secara kasatmata. Ini tidak terlihat secara kasatmata. Dari luar, orang melihat kita sebagai seorang praktisi, tetapi jauh di dalam lubuk hati yang tidak terlihat, adakah kita melanggar ajaran Buddha? Meski kita sudah menerima sila secara penuh, terlihat taat, tetapi melanggar, tidak menjalankan sila dan malah berbuat jahat, tidak mau mengakui kesalahan, malah menutupi kesalahan. Saat melakukan kesalahan, sering kali kita enggan bertobat secara terbuka di hadapan orang. Kita harus bertobat secara terbuka. Pada kehidupan di dunia ini, siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan? Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Jika melakukan kesalahan, kita harus mengakuinya dari lubuk hati. Dengan demikian, barulah kegelapan batin di dalam hati tidak semakin bertambah tebal. Ada ungkapan berbunyi, “Hukuman terbesar adalah penyesalan.” Berhubung sudah menyesal, Berhubung sudah menyesal, mengapa kita tidak mengakui penyesalan kita dan bertobat secara terbuka? Bertobat berarti memurnikan hati

 Jika benar-benar bertobat, kita tidak akan mengulangi kesalahan. Jika tak mengulangi kesalahan lagi, maka hati kita akan menjadi murni. Akan tetapi, sebagian besar orang enggan mengakui kesalahan secara terbuka. Mereka enggan mengungkapkan kesalahan sendiri. Akibatnya, mereka terus menutupi kesalahan. Mereka berpikir tak ada orang yang mengetahuinya. “Yang penting dia tidak mengetahuinya, saya tidak perlu mengakui kesalahan saya.” “Meski saya melakukan kesalahan, tetapi mereka tidak mengetahuinya.” “Bukan hanya tidak mengetahuinya, mereka juga tidak melihatnya.”      Hati kita masih sangat keruh. Hati kita masih sangat keruh. Hati kita sama sekali tidak murni. Kondisi di dalam batin sangat keruh, hanya di luar kelihatan sangat murni. “Saya ada melatih diri.” Kita berpenampilan praktisi sehingga terlihat murni, tetapi sesungguhnya batin kita masih sangat keruh. Dari luar tampak murni, tetapi batinnya keruh. Selain itu, kita masih sombong dan tidak malu. Sebagian orang berpikir bahwasetelah menjadi bhiksu/bhiksuni, mereka sudah menjadi guru orang lain

 Mereka merasa sangat bangga pada saat terjun ke tengah masyarakat. Mereka menganggap bahwapara umat perumah tangga pasti sangat menghormati dan mengagumi mereka. Apakah ini sikap yang benar? Kita juga harus tahu malu. Jangan tampak murni di luar, tetapi keruh di dalam.    Apakah kita patut menerima penghormatan dari orang lain? Kita harus senantiasa memiliki rasa malu. Penggalan teks hari ini ditujukan untuk para kaum monastik. Jika kita tampak murni di luar, tetapi keruh di dalam, bukankah berarti kita sangat bodoh? Inilah orang yang paling bodoh. Saudara sekalian, pelatihan diri bukan hanya sebatas terlahir sebagai manusia, mendengar ajaran Buddha, dan bertekad meninggalkan keduniawian. Itu tidak menjamin kita menjadi seorang praktisi yang suci. Sebagai seorang praktisi, hati dan perbuatan kita haruslah murni. Jadi, sila dapat mencegah kesalahan. Kita harus menaati sila. Setelah memperbaiki diri dan bertobat, kita harus menaati sila dan tidak mengulangi kesalahan. Dengan begitu, secara alami kita akan berbuat baik dan mengubah kebiasaan buruk. Apa pun kesalahan yang pernah diperbuat, Apa pun kesalahan yang pernah diperbuat, setelah bertobat secara terbuka, kita harus mulai menjalankan sila. Segala yang kita lakukanharus mengandung kebaikan. Kita harus bersumbangsih semaksimal mungkin. Kita harus menjaga ucapan

 Kita harus menjaga ucapan. Kita harus bertutur kata baik dan menjalin jodoh baik agar dapat membimbing orang-orang menuju jalan yang benar. Untuk menyebarkan ajaran Buddha, Untuk menyebarkan ajaran Buddha, kita harus bertutur kata baik dan membimbing orang-orang ke jalan yang benar. Kita harus senantiasa menjaga kemurnian hati. Setelah bertobat, kita harus selalu memiliki rasa malu. Jadi, kita harus berhati lapang dan berpikiran murni serta senantiasa menghormati ajaran Buddha. Apa pun yang dihadapi, kita harus senantiasa mengingatkan diri untuk tidak dipenuhi keluh kesah dan kerisauan. Dengan begitu, barulah kita dapatmembersihkan noda batin dan dapat memiliki kemurnian luar dalam. Inilah yang harus dipraktikkan oleh kaum monastik. Begitu pula dengan umat perumah tangga

 Metode pelatihan diri adalah sama. Ada orang yang melatih diri di rumah. Umat perumah tangga juga bisa bijaksana. Janganlah berpikir, “Yang Master katakan hari ini ditujukan untuk para kaum monastik, tidak ada hubungannya dengan saya.” Setelah mendengar, kita harus memahaminya. Melatih diri berarti harus merealisasikannya. Karena itu, dikatakan bahwa Dharma bagaikan air yang dapat menyucikan kekeruhan batin manusia. Jadi, semua orang haruslah menerimanya, terlebih lagi kaum monastik. Jadi, saya berharap semua orang dapat senantiasa mengingat Dharma di dalam hati; mendengar, merenungkan, dan mempraktikkannya. Kita harus mencapai kemurnian luar dalam. Untuk itu, senantiasalah bersungguh hati.

Leave A Comment